Beberapa hari lalu tidak sengaja lewat di timeline IG mengenai traveling bisa membuat anak lebih cerdas. Terus ya aku jadi mengingat-ingat pengalaman traveling kami sambil juga membuat pertanyaan “Apa bener begitu ya?”
Aku sih pernah menuliskan Manfaat Traveling untuk Anak, tapi bukan yang benar-benar menyebutkan kalau traveling itu mempengaruhi kecerdasan mereka juga.
Setelah baca-baca beberapa riset dan membandingkan dengan pengalaman pribadi, aku jadi berpikir “Hmm, iya juga sih, traveling bersama anak memang sedikit banyak ada manfaatnya untuk perkembangan kognitif mereka.”

Tapi bukan berarti traveling otomatis bikin anak langsung lebih pintar ya. Yang lebih tepat: ada korelasi kuat antara pengalaman traveling dengan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak gitu.
Yuk, coba yaaaku ceritakan lebih detail biar kalian bisa dapat gambaran jelas.
Bukan Travelingnya, Tapi Pengalaman di Dalamnya
Jadi begini, riset-riset yang aku baca menunjukkan kalau yang bikin anak berkembang itu pengalaman baru, stimulasi sensorik, aktivitas fisik, dan interaksi sosial. Nah, kebetulan semua itu bisa banget terjadi saat traveling.
Contohnya, waktu kami ke Jacob Ballas Children’s Garden, Singapura. Anak-anak langsung semangat karena diberi peta khusus yang berisi tantangan-tantangan kecil untuk dilakukan selama berada di dalam taman.

Ada misi mencari tanaman tertentu, menyeberangi jembatan, sampai mencoba beberapa yang ada di peta. Aku bisa lihat bagaimana mereka bukan hanya bermain, tapi juga aktif memecahkan masalah dan belajar mengikuti petunjuk. Peta sederhana itu mengubah pengalaman main jadi petualangan belajar yang menyenangkan.
Jadi, traveling tuh ibarat “panggung besar” buat anak-anak mengalami hal baru.
Etapi kalau sehari-hari di rumah juga kita kasih pengalaman yang juga kaya, efeknya sebenarnya mirip kok. Hanya saja traveling sering memberikan pengalaman yang lebih intens dan berkesan, apalagi kalau ke wisata alam ya.
Beberapa Riset yang Aku Temukan (Cieh)
Dari beberapa riset yang aku temui (sumber ada di bagian bawah ya), hal-hal ini yang aku pikir menarik dan membuktikan adanya korelasi antara traveling dan kecerdasan nih:
Ruang hijau meningkatkan daya ingat dan fokus

Ada penelitian besar di Barcelona dengan ribuan anak sekolah. Hasilnya, anak-anak yang sering terekspos ruang hijau (taman, hutan kota, ruang terbuka) punya working memory lebih baik dan lebih fokus dibanding yang lingkungannya dikelilingi tembok tanpa adanya ruang terbuka yang sehat.
Nah, saat traveling biasanya kita otomatis lebih banyak bersentuhan dengan alam kan? Entah itu pantai, gunung, atau sekadar taman kota. Jadi karena terpapar dengan ruang hijau tersebutlah yang menjadikan traveling erat kaitannya dengan meningkatkan daya ingat dan fokus anak.
Field trip meningkatkan pemahaman dan memori jangka panjang
Studi tentang kegiatan field trip sekolah menemukan anak-anak yang diajak ke museum, kebun binatang, atau tempat bersejarah lebih bisa menghubungkan teori dengan praktik. Mereka juga lebih ingat karena belajar lewat pengalaman nyata, bukan cuma lewat buku.

Setelah membacanya di buku, mereka bisa melihat secara langsung di museum. Bahkan replikanya saja juga sudah sangat bermanfaat buat mereka. Terlebih lagi, kalau misalnya ke museum ditemani oleh guide, mereka bisa menceritakan kepada pengunjung secara lebih lengkap dan lebih jelas kan ya?
Nah, hal-hal tersebut memperkaya pengalaman belajar yang membuat mereka memiliki daya ingat yang lebih kuat.
Jadi kalau saat liburan kita bawa anak ke museum atau tempat bersejarah, manfaatnya mirip dengan field trip.
Interaksi sosial & emosional
Traveling bareng keluarga itu sebenarnya “kelas kehidupan”. Anak belajar cara komunikasi, bersabar, kompromi dengan saudara, sampai memahami budaya baru.
Aku pun pernah merangkum apa-apa saja yang bisa kami ajarkan ke anak saat traveling pada postingan Adab-adab di Tempat Wisata yang Perlu Kita Ajarkan ke Anak ini.
Penelitian juga bilang, hubungan emosional yang erat dengan orangtua saat liburan bisa meningkatkan regulasi emosi anak, yang pada akhirnya mendukung kemampuan belajar.
Perjalanan aktif = otak lebih sehat
Beberapa riset menemukan bahwa anak yang berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah cenderung punya kemampuan akademik lebih baik.
Kenapa? Karena aktivitas fisik ternyata mendukung kesehatan otak.
Lho, kan lagi ngomongin liburan, kok jadi jalan kaki ke sekolah?
Maksudnya, kita tuh jangan meremehkan sesi jalan kaki jauh saat liburan ya. Kayak di Singapura misalnya, yang ke mana-mana memang lebih enak jalan kaki karena transportasi mereka sudah sebaik itu.
Memang sih, aktivitas fisik atau jalan kaki itu bikin anak-anak capek (yang dewasa aja juga capek lah ya xp), tapi nyatanya itu juga menjadi “vitamin” untuk otak mereka. 😉
Momen Traveling yang Meningkatkan Kecerdasan Anak

Setelah diingat-ingat, riset di atas memang terjadi setiap kali kita traveling sih. Ini beberapa contohnya:
- Di Gunung Batur, Bali. Setelah kami mencapai puncak, untunglah matahari masih bersembunyi. Soalnya tujuan kami memang mau melihat sunrise kan. Nah, kami berdiam beberapa waktu sambil memperhatikan indahnya matahari yang perlahan-lahan muncul. Di sini mereka bisa mendapat udara segar yang jauh dari polusi serta pemandangan yang sangat memuaskan mata.
Selain itu, anak-anak juga jadi beraktivitas fisik dengan hiking selama 1 jam untuk mencapai puncak Gunung Batur ini. - Di Lovina, Bali, kami pernah bangun pagi-pagi sekali untuk mencari lumba-lumba saat matahari terbit. Sambil menunggu lumba-lumba muncul, kami jadi memperhatikan langit dengan gradasi warnanya yang indah, juga lautan yang terasa begitu luas. Begitu selesai, anak pertamaku langsung menggambarkan pengalaman itu di bukunya. Menurutku, itu tanda jelas kalau otaknya sedang bekerja aktif menyerap dan merekam informasi dengan cara mereka sendiri.
- Di S.E.A Aquarium. Naia yang kami ajak berkeliling sudah menyiapkan buku kecil yang ditulis sepanjang perjalanan kami di dalam. Rupanya dia sedang mencatat ada binatang apa saja di dalam akuarium ini. Kemudian dia menghitung ada berapa totalnya. Hal yang menurut aku sangat niat, tapi dari situ dia jadi belajar observasi sosial, plus latihan berhitung tanpa disadari.
Semua momen itu sederhana, tapi kalau dikumpulkan, sebenarnya seperti kepingan puzzle yang membentuk cara berpikir anak.
Jadi, Apakah Traveling = Anak Lebih Cerdas?

Jawaban singkatnya sih tidak sesederhana itu. Karena memang kecerdasan kan bisa diperoleh dari banyak faktor ya. Faktor yang membuat anak berkembang dan menjadi cerdas tersebut seperti:
- Novelty & curiosity-nya. Anak-anak kan memang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi ya. Nah tempat baru bisa memicu rasa ingin tahu mereka, yang nantinya bisa membuat otak lebih siap menyerap informasi.
- Sensorik yang kaya. Traveling itu kayak memenuhi banyak sekali rangsang sensori pada anak, seperti bau, suara, tekstur, serta pemandangan. Stimulasi multisensor inilah yang bisa membuat memori lebih kuat.
- Bahasa & komunikasi. Berinteraksi dengan orang lain/penjual/pemandu bisa membuat anak juga akhirnya mendengar kata-kata baru. Kosakata dan kemampuan bahasanya pun tumbuh.
- Problem solving. Traveling itu mungkin sekali menjadi sangat fleksibel. Jadwal yang berubah, cari jalan, juga adaptasi cuaca. Hal-hal ini bisa melatih fleksibilitas berpikir.
- Aktivitas fisik & alam. Dengan berjalan, bermain di alam, dan polusi yang lebih rendah bisa meningkatkan perhatian dan mood.
- Quality family time. Salah satu tujuan utama kami mengajak anak-anak traveling tentu untuk membangun bonding. Dukungan emosional dari orangtua membuat anak lebih aman mencoba hal baru dan membuat proses belajar menjadi lebih efektif soalnya.
Tips Supaya Traveling Benar-Benar Jadi “Vitamin Otak”
Supaya liburan bareng anak makin bermakna, ada beberapa hal kecil yang bisa kalian lakukan nih.
Dekat namun bermakna. Traveling tidak selalu perlu ke tempat yang jauh, bisa dengan keliling kota saja. Tapi siapkan 1–2 aktivitas singkat yang edukatif seperti menghitung mobil berwarna tertentu, memperhatikan bentuk awan, juga mengumpulkan biji-bijian tertentu yang jatuh.
Briefing dan refleksi. Jelaskan sedikit sebelum pergi (apa yang akan dilihat dan bagaimana tempat yang akan kita datangi nanti), dan sesudahnya ajak anak cerita: “apa yang paling kamu ingat?”. Aku pernah menuliskan juga pentingnya briefing di The Power of Briefing.
Gunakan alam. Jika memungkinkan, sisipkan waktu di ruang terbuka/hutan kota/pantai. Kegiatan sederhana memperhatikan suara burung, warna daun, atau bentuk awan dapat melatih fokus mereka.
Jangan membuat itinerary terlalu padat. Kami jadi terbiasa tidak lagi membuat itinerary yang terlalu padat. Soalnya pengalaman yang tenang dan fokus lebih efektif daripada itinerary yang membuat anak kelelahan.

Libatkan anak dalam perjalanan. Misalnya kasih mereka peta sederhana, atau minta bantu memilih makanan di hawker center. Dengan begitu, mereka merasa jadi “aktor utama” dan bukan sekedar penonton.
Ceritakan kisah di balik tempat. Anak suka cerita dan mendengarkan cerita kan yaa. Jadi sambil jalan-jalan, selipkan kisah singkat tentang sejarah, budaya, atau tokoh. Ini membuat mereka lebih mudah mengingat.
Traveling Bisa Mempengaruhi Kecerdasan Anak
Jadi, traveling memang bisa mempengaruhi kecerdasan anak, tapi bukan satu-satunya faktor yang bisa membuat anak lebih cerdas. Tapi traveling bisa jadi salah satu cara terbaik untuk menstimulasi otak dan hati mereka.

Dari pengalaman pribadi, aku melihat sendiri bagaimana anak-anakku tumbuh rasa ingin tahunya setiap kali kami pergi ke tempat baru. Dan ketika aku membaca riset-risetnya, ternyata masuk akal sekali kenapa hal itu bisa terjadi.
Jadi jangan ragu untuk mengajak anak traveling, entah jauh atau dekat. Yang penting bukan jaraknya, tapi bagaimana kita mendampingi mereka mengalami perjalanan itu.
Kalau kalian gimana? Pernah nggak melihat perubahan positif pada anak setelah diajak liburan atau sekadar jalan-jalan? Ceritain ya di kolom komentar.
Sumber pendukung:
https://www.pnas.org/doi/10.1073/pnas.1503402112
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S221197362400103X
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10040056/

Aku percaya kalau traveling bisa bikin anak cerdas
Setidaknya mereka bisa belajar empati dengan kehidupan orang lain yang berbeda
Budaya yang berbeda bahkan cara hidup yang juga berbeda
Selama itu baik, akan dijelaskan bahwa memang hidup itu sekompleks yang mereka lihat
Sayangnya, aku tidak seperti Mbak Isti yang bisa bawa anak keluar kota dengan waktu yang lebih sering
Aku cuma bawa anak anak ke tempat yang ramai seperti taman dan tempat wisata karena itu yang mampu saat ini dengan keterbatasanku sebagai anak rantau tanpa ART
Setuju mbaaaa…travelling bukan yang meningkatkan kecerdasan secara langsung yaaa tapi dengan travelling mereka bisa melihat dan merasakan langsung gak hanya terpaku pada tulisan teks book saja..kalo bisa selalu libatkan anak dalam memilih tempat travelling dan selipkan salah satu diantaranya adalah wisata alan dan wisata sejarah agar mereka bisa sembari belajar gak hanya have fun di tempat bermain saja kan..
Dan travelling juga gak harus yg perjalanan jauh luar kota bahkan luar pulau cukup di kota sekiatr saja kalo memang ada yang menarik bisa tuhh kita sambangi bersama anak2
Cakepp banget tipsnya. Jangan membuat itinerary terlalu padat. Tentu traveling bareng anak beda dengan solo traveling. Jadi ortu yg ngalah dan menyesuaikan itinerary dengan kebutuhan dan stamina anak.
Setuju sih kalau traveling bikin cerdas karena anak belajar dari tempatnya langsung plus latihan sensory.
Bisa dikatakan, intinya traveling adalah salah satu yang menbuat anak cerdas ya, Mbak. Karena travelig itu menyenangkan. Banyak hal baru yang dilihat. Anak jad ingin tahu lalu aktif bertanya apa ini apa itu? Nah, karena dalam suasana hati gembira, maka apayang dijelaskan, akan bisa segera masuk dan dipahami oleh anak. Anak banyak tahu ini itu, jadinya pengetahuan anak bertambah dan jadi cerdas.
Relate sih menurutku. Soalnya banyak banget hal yang bisa didapat saat mengajak anak traveling, kek salah satunya wawasan mereka jadi terbuka lebar dan selalu ingin tahu, juga berusaha belajar terus yaa. Apalagi sekarang zamannya dikit2 gugling atau nanya AI, kadang mereka juga suka nyari2 sendiri tentang apa atau siapa yang mungkin ditemui ketika traveling. Mereka juga jadi kaya pengalaman yang didapat selama traveling, bisa jadi bahan ide atau apa gitu sekembalinya ke rumah. Nggak ketinggalan manfaat nyata traveling, tentu saja melatih keterampilan sosial anak2 ketika bertemu dengan orang2 asing selama perjalanan.
Insightful banget artikelnya, sangat kasih pencerahan nih mba. Aku meski belum punya anak, karena ada keponakan di rumah. Sering ku ajak Travelling jarak dekat, tujuannya supaya dia familiar sama banyak hal dan bener sih dia dapet beragam manfaat. Apalagi kalau diajak ke ruang terbuka hijau.
Sama dengan yang mba Isti sampaikan, kurang lebih manfaat yang terasa begitu. Meski nggak serta-merta alias ada proses yang panjang juga yes. But, happy jaman now banyak ortu bisa menyempatkan waktu ajak anak jalan-jalan sejak dini. Bukan sekedar Hedon malah kasih manfaat luar biasa buat perkembangannya.
Berarti traveling gak hanya membuat orang dewasa lebih happy ya mbak, tapi ternyata punya pengaruh signifikan untuk anak-anak. Mereka bisa belajar banyak hal dengan melihat hal-hal baru di luar ruangan/rumah. Apalagi bisa dikatakan ketika si anak di ajak jalan keluar umumnya bakalan ngoceh terus hehe, kayak ponakan daku, yang menjadi pertanda dari antusiasnya itu bahwa daya pikirnya mulai belajar banyak hal.
Travelling belum tentu bikin lebih cerdas, tapi anak menjadi lebih kaya pengalaman. Mengenal tempat baru. Misal diajak ke gunung dan ke pantai, mereka bakal belajar kalau karakteristik pegunungan dan pesisir itu beda. Atau diajak mengunjungi kota-kota l, mereka bisa tahu kota satu dan lainnya bisa jadi punya ciri khas masing-masing, makanan khas, bahas daerah dan lain sebagainya. Belum lagi pengetahuan tentang moda transportasi.
Selain itu travelling juga secara tidak langsung melatih anak beradaptasi dengan lingkungan-lingkungan baru.
Kalau aku setuju sih meski tidak sesederhana itu bahwa traveling dapat meningkatkan kecerdasan otak anak. Tapi seperti yang Mbak bilang, dengan sedikit tips traveling bisa benar-benar bermakna dan menjadi vitamin otak anak. Ibaratnya mah dengan traveling jalannya sudah terbuka lebar tinggal bagaimana kita mengarahkan agar bisa maksimal nggak sih? Banyak hal juga yang anak-anak bisa pelajari ketika traveling, tentu itu pengalaman otentik yang tidak didapat hanya dari belajar dari rumah saja. Aku juga bakal ada di tim ortu yang sering-sering ngajak anak traveling sih Mb 🙂
Menurutku juga, traveling itu sedikit banyak mempengaruhi kepandaian anak2. Tiap kali traveling bareng, aku ngobrol dengan mereka mba, yg berkaitan dengan destinasi, tapi membuat mereka semangat utk cari tahu.
semisal ibu kotanya , tempat2 menarik dan bersejarah. Budayanya, kebiasaan orang2 di sana, mata uangnya apa, musimnya gimana etc.
Anak2 lebih bagus pengetahuan geografis
mereka. Drpd hanya sekedar dihapal lewat buku, lebih mudah mengingat ibukota suatu tempat ketika didatangi langsung.
Dari musem juga. Mereka jadi lebih paham sejarahnya, ketika lihat langsung dari museums. Makanya aku pernah bilang, museum itu tempat terbaik untuk belajar sejarah. Jd ga membosankan.
Aku juga nunjukin langsung ke mereka, bagaimana anak kecil di jepang belajar antri dan menjaga kebersihan sejak kecil banget. Jd mereka tahu kebiasaan antri yg bagus, dan prinsip menjaga kebersihan, yg sampai rela sampahnya dibawa dulu kalo memang ga ketemu tong sampah.
Jd aku yakin kalo traveling pasti ada membawa knowledge yg bagus utk anak2.
Ini juga kulakukan sih ama anakku walaupun masih kecil yah, korelasi-nya kuat banget, bukan cuma sekadar bikin anak pintar instan. Justru pengalaman baru itu yang kayak ‘vitamin otak’ ya. Aku paling relate sama poin aktivitas fisik pas traveling. Abis hiking atau jalan jauh, anak-anakku emang kelihatan capek, tapi tidurnya nyenyak dan besoknya jadi lebih aware! Quality time sambil belajar problem-solving di tempat baru itu memang nggak ada duanya.
Setuju banget.. travelling atau liburan pastinya bisa membantu daya ingat dan emoaional seorang anak.. memorinya terisi hal-hal baik, pengalaman seru dan interaksi penuh cinta dan keriangan. Sudah pasti outputnya adalah anak jadi lebih percaya diri dan berprestasi
Karakter anak masing-masing banget yaa..
Respon mereka saat melihat, mendengar dan merasakan itu sangat priceless sekali. BUkan hanya tergantung usia, tapi juga penting dari stimulus yang orangtua berikan. Karena ka Is dari kecil banget, anak-anak selain cerdas juga kritis saat exploring suatu tempat baru yang mereka datangi.
Kereen, ka Is…
MashaAllaa~
Keren banget anak-anakmu say sudah travelling ke mana-mana sejak dini, anak-anakku selalu excited untuk bepergian karena memang menambah pengalaman baru ya di kota yang belum pernah dikunjungi.. ternyata travelling bikin cerdas ya..
setuju mba Isti, karena dengan traveling anak-anak bertambah pengetahuannya dan membuat mereka jadi lebih berani dan kreatif karena mendapat pengetahuan baru.
Menurut saya sih lebih ke pengalamannya selama traveling, anak lebih bisa melihat alam dan sekelilingnya. Anak juga belajar banyak hal, bergerak aktif, bisa meningkatkan bonding dengan orang tuanya. Lebih ke bikin anak happy dengan traveling Mba.
Bener ini mbak, anak jadi lebih kritis, mulai persiapan barang yang akan dibawa, mempelajari sekitar selama di perjalanan, mengetahui adab saat makan sarapan di hotel, banyak la
Lama-kelamaan mereka juga akan belajar mengatur itenary selama perjalanan
aku baru tau kalau kita rajin jalan kaki ternyata bisa mempengaruhi kecerdasan otak dan aku setuju banget kalau anak-anak diajak traveling atau bepergian biasanya mereka suka penasaran akan apa aja yang nantinya bakalan mereka temui. Dan secara nggak langsung membuat anak-anak berpikir kritis juga ya
masuk ke museum, atau ke tempat sejarah misalnya, memang membuat kita dan bahkan anak-anak jadi flashback lagi, mungkin flashback ke pelajaran sekolah yang pernah dipelajarinya, atau jadi tau gimana perjuangan pahlawan zaman dulu
Betul ya Mba
memang tidak sesederhana membuat lebih pintar, tapi meningkatkan semangat untuk mencari tahu dan tidak mudah menyerah dalam belajar.