Parenting

Mommychi: Demi Anak dan Waktu Yang Tidak Akan Pernah Kembali

Sejak umur 12 bulanan, Naia memiliki berat badan jauh di bawah rata-rata berat badan anak seusianya. Saat itu saya dan suami masih tenang-tenang saja karena orangtua saya mengatakan saya pun dulu seperti itu. Jadi, saya dan suami menganggapnya hal genetik yang mungkin diturunkan oleh saya.

Tapi nyatanya hal tersebut salah. Kami (saya dan suami) mulai menyadari kalau Naia ‘ada apa-apa’ pada saat usianya menginjak 16 bulan. Memang sih, porsi makan Naia sangat imut dan sedikit sekali. Awalnya dokter hanya memberi vitamin penambah nafsu makan dan menyarankan untuk memberinya susu tambahan. Tapi akhirnya kamipun mulai mengikuti prosedur dari dokter untuk mencari tau ada apa sebenarnya di dalam tubuh Naia yang membuat beratnya jauh di bawah rata-rata itu, mulai dari tes urin, tes feses, sampai tes mantu (tes untuk melihat ada atau tidaknya penyakit TBC). Alhamdulillah tes mantunya ternyata negatif. Namun, dari tes feses, ternyata Naia mengalami penyerapan gizi yang kurang, karena terlihat dari banyaknya serat dan lemak baik yang keluar lagi melalui fesesnya. Akhirnya, selain diberi vitamin penambah nafsu makan, Naia juga diberi enzim tambahan untuk membantunya menyerap gizi dengan sempurna.
Pertanyaannya adalah, kenapa bisa sampai terjadi hal demikian?

Pribadi

Keluarga Bahagia

Hihi, ini sih dari status facebook. Saya copy paste, jadi credit bukan di saya lhoo.. ^^

[Serial Motivasi Islami]

Keluarga Bahagia Itu Sederhana Saja….

Keluarga mesra itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat bilang sama isterinya, “Bu pijitin bapak dong.. pegel neh kerja seharian.” Sementara sang isteri di lain waktu juga dapat dengan ringan bilang, “Pak, pijitan ibu dong, pegel neh seharian bersihin rumah…”

Keluarga rukun itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat melihat akun FB, Twitter atau HP isterinya tanpa isteri merasa dicurigai dan isteri dengan ringan dapat melihat akun FB, Twitter atau HP suaminya tanpa suami merasa dimata-matai….

Keluarga hangat itu sederhana saja; Kalau suami dan isteri dapat ngobrol panjang lebar berduaan dengan tema apa saja, dapat diselingi joke ringan sampai bercanda hingga ‘tonjok-tonjokan’….

Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dengan tulus memuji masakan isterinya yang sedap sedangkan di lain waktu dengan ringan dapat menegur makanannya yang kurang garam…. Sementara isteri tidak terlalu khawatir jika makanan yang dia sediakan membuat suaminya marah, atau bahkan dengan ringan suatu saat dia mengatakan, “Pak, hari ini ibu tidak masak, kita beli saja yak…”

Keluarga akrab itu

Lifestyle & Beauty

ODOJ (One Day One Juz)

ODOJ, atau One Day One Juz. Yap, begitu denger juz-nya udah tau kan ini apa? hihi. ODOJ ini adalah program yang berisi sekumpulan orang-orang yang bersemangat menyelesaikan satu juz Al Qur’an setiap harinya. Mereka lalu membuat group di whatsapp, setiap grup terdiri dari 30 orang, yang setiap orangnya kebagian satu juz. Jadi, sebisa mungkin group itu mengkhatamkan Al-Qur’an deh setiap hari 😀

Gerakan ini cukup serius lho. Terbukti dari terpusatnya kepengurusan, website yang sudah dibuat dan launching yang sudah direncanakan, yaitu pada 11 Mei 2014 nanti di Masjid Istiqlal.

Dalam pemikiran saya waktu pertama kali denger program ini, “waah, hebat banget yaa, banyak banget orang yang bisa baca Al Quran 1 juz setiap hari. Saya? seumur-umur gak pernah deh, di bulan Ramadhan aja gak kekejar bisa khatam, apalagi hari biasa. Beraaat bok”. Maka pupuslah niat untuk masuk group ini. Iya, karena saya merasa keberatan sangat dengan satu juz setiap harinya. Lha wong baca Al Qur’an aja jarang, sukur-sukur dapet 2 lembar setiap harinya.

Bener-bener gak terpikir kalau saya mau-maunya daftar atau gabung di group ini. Tapi tiba-tiba, sekonyong-konyong, dalam group lain yang saya ikuti ada seorang teman mencari satu peserta wanita yang mau ikutan ODOJ karena di groupnya kekurangan satu orang. Entah kenapa rasanya hati ini terpanggil untuk akhirnya mencoba mengikuti program ini. Yasudahlah, saya bilang deh ke temen saya itu. Tapi ternyata groupnya sudah penuh, telat sayah 🙁

Tapi akhirnya saya bisa masuk ke group selanjutnya, horee.. Dan hasil dari tempaan di group itu adalah semangat saya masih terjaga sampai saat ini, Alhamdulillah. Semoga selalu terjaga dan istiqomah, Aamiin

Nah, ada yang bilang kalau yang ikut ODOJ ini terkesan riya dan munafik. Riya atau tidak, munafik atau tidak, saya percaya semua itu kembali pada niat pribadi masing-masing.

Niat awal melakukan kebaikan yang tidak tulus masih lebih baik lho dibanding orang yang malah sama sekali gak mau melakukan kebaikan itu 😀

Jangan meninggalkan amal krn takut tdk ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripda tdk beramal sama sekali.

Nah, beramal atau melakukan kebaikan sambil meluruskan niat jauh lebih baik daripada tidak melakukan sama sekali. Bahkan niat awal yang tidak tulus bisa berangsur-angsur pudar lho, tergantikan dengan keasikan melakukan kebaikan itu dan jadi terasa mengganjal kalau tidak melakukannya lagi. Bukankah dengan begini dia sudah mencapai tahap ikhlas melakukan kebaikan itu? Benar-benar perlu pembiasaan diri saja! 😉

Saya pribadi sih sampai saat ini tetap memandang group ini sebagai sarana pengingat dan penjaga semangat. Bukan hanya semangat saya, tapi juga semangat orang-orang lain yang ingin selalu mengamalkan kebaikan dengan membaca Al Qur’an dan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan itu. Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan itu adalah perintah langsung dari Allah SWT?

 فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ

Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. (QS Al- Baqarah : 148)

Nah, buat yang mau berlomba-lomba dalam kebaikan juga, bisa banget kan mulai dengan ikutan ODOJ? Bisa daftar di sini lho 😀

Happy tilawah ^^

Parenting

[Parenting] Kalimat Positif

Buat para orangtua, pasti udah pada engeh kan kalo kita sebaiknya menghindari kalimat negatif ke anak kita. Yaa, kalau anak dilarang melakukan sesuatu, dia bingung sebaiknya bagaimana, maka dari itu sebaiknya justru berilah kalimat saran atau kalimat positif yang baik. Ya simple banget kok, cuman mengganti kata ‘Jangan …’ menjadi lawan katanya.

Kenapa sebisa mungkin harus menghindari penggunaan kata ‘jangan’? Karenaa, anak-anak itu cenderung akan mengabaikan kata jangan dan malah melakukan hal negatif yang kita bilang tadi. Atau, karena dilarang melakukan ini itu, anak malah bingung sebaiknya ia harus ngapain. Untuk itulah perlunya penggunaan kalimat positif. Kalimat positif ini bisa berfungsi juga sebagai ‘saran’ kepada anak apa yang sebaiknya ia harus lakukan, instead of melarangnya, hehehe.

Barusan banget dapet dari status sepupu saya di Facebook mengenai daftar kalimat negatif yang diubah menjadi kalimat positif. Bisa digunakan sebagai panduan nih, para ibu-ibu dan ayah-ayah, dalam membiasakan menggunakan kalimat positif dalam berkomunikasi 😉

kalimatpositif

Semudah ini kok, bener deh. Asal mau mencoba dan membiasakannya. Yang bener-bener perlu dilatih itu adalah kebiasaan. Ingat lho, kebiasaan..!! Jadi sering-seringlah berlatih mengganti kata jangan dengan kalimat  yang lebih positif yaa.

Happy Parenting ^^

Pribadi

Al-Qur’an itu terlalu mulia kawan

Al-Qur’an itu terlalu mulia kawan

Terlalu mulia jika kau sanding dengan kesibukanmu..

Aku tuh harus bangun pagi. Hrs sekolah, ada ulangan, byk PR, tugas, huhu 🙁 . Waktuku itu gak ada jedanya pokoknya!

Jadi…. Al-Qur’an harus ngertiin kesibukanmu, begitu?

Al-Qur’an terlalu agung teman…
Terlalu agung jika kau bandingkan dengan target harianmu..

Hari ini skripsian 5 jam, ke perpus, trus mampir ke toko buku, baca jurnal bahasa inggris minimal 2 jurnal, ngikut seminar dan persiapan lomba debat. Aku tuh padet banget agendanya…

So what??

Al-Qur’an itu terlalu suci kawan…
Terlalu suci untuk kau balap-balap dengan mimpimu..

2 tahun ke depan harus mendapat beasiswa S2 di Jerman, pada tahun yang sama keliling 3 negara. Setelah wisuda menikah (berharap dapat suami/istri yang hafidz atau minimal punya hafalan agar bisa mengingatkanku untuk menghafal) dan 2 tahun kedepan pindah bersama keluarga ke Amrik. Mapan. Beli rumah. Beli BMW. Anak belajar disekolah internasional
(tak ada target dirinya pribadi untuk menghafal)

Sungguh!!

Meski tak kau baca, tak kau hafalkan, tak kau tadabburi apalagi tak kau amalkan, Al-Qur’an tak merugi!!
Tak terhinakan.
Sama sekali!!!

Hey! Tapi lihat…
Lihat siapa nanti yang kelak akan menangis tersedu..
Meraung-raung meminta dikembalikan dalam keadaan semula agar punya kesempatan membersamai Al-Qur’an..
Bermesra dengan Al-Qur’an..
Benar-benar menjadikannya sahabat..

Nanti….
Suatu saat nanti…
Di saat semuanya tak mungkin kembali lagi….
:'(

(Sumber: grup di WA dan Al-Quran)

*Nasihat yang sangat tepat ditunjukkan ke diri ini, astaghfirulloh.

Pribadi

Jangan Meninggalkan Kebaikan

Jangan meninggalkan amal krn takut tdk ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripda tdk beramal sama sekali.

Jangan meninggalkan zikir krn ketidakhadiran hati. Kelalaian kita dari zikir lebih buruk daripada kelalaian kita saat berzikir.

Jangan meninggalkan tilawah karna tak tau maknanya. Ketidaktauan makna dalam tilawah masih lebih baik daripada ketidak mauan membaca firman-Nya.

Jangan meninggalkan dakwah karna kecewa. Kesabaran kita bersama orang2 shalih lebih baik daripada kesenangan kita bersama orang2 yg tidak shalih.

Jangan meninggalkan amanah karna berat. Beratnya amanah yg kita emban insya Allah sebanding dengan beratnya timbangan amal yg akan kita dapatkan.

Jangan meninggalkan medan juang karna terluka. Kematian di medan juang lebih baik daripada hidup dalam keterlenaan.

Jangan meninggalkan kesantunan karna lingkungan kasar. Santun kita saat dikasari hanya akan menambah kemuliaan dan mengundang simpati-Nya.

Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubana ‘ala tho’atik.
Yaa muqollibal quluub tsabbit quluubanaa ‘alaa diinik.

Ya Allah yg memalingkan hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan pd-Mu.
Wahai yg membolak balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.

~ Renungan Tarbiyah Dzatiyah ~

Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 2, Sering Berbohong

Pernah gak sih kita sebagai ibu melakukan kebohongan-kebohongan. Misalnya saja saat ada telpon yang tidak ingin diterima oleh Ibu lalu kita bilang ke anak “Nak,bilang ibu sedang pergi ya”. Nah lhoo, berbohongnya memang bukan termasuk kebohongan besar sih, tapi tetap saja anak akan belajar kalau berbohong itu hal yang wajar dan diperbolehkan. Toh, itu dicontohkan oleh si Ibu sendiri. Jadi wajar saja kalau suatu saat si anak bisa menjadi pembohong yang baik, ya karena itu hasil didikan orangtua.

Nah, di buku Ayah Edi yang pernah saya baca, ini termasuk kebiasaan buruk yang sering tidak disadari oleh orangtua. Berbohong kecil dan sering. Iya, gak cuma sekali dua kali kan berbohong seperti itu? Bahkan sering demi menenangkan anak yang melarang ibu atau ayah untuk pergi kerja, kita bilang “Nak, ayah/ibu perginya cuma sebentar kok, gak lama, jadi kamu tenang ya”. Lah, kalo ternyata ibu atau ayahnya kerja sampai larut malam gimana? Atau sampai waktu normal aja deh, jam 5 sore misalnya. Apakah itu waktu yang sebentar? Nanti akan tertanam juga deh di benak anak kalau pergi seharian termasuk waktu yang sebentar.

Kata sebentar atau lama sebenarnya juga kurang dianjurkan sih, karena itu termasuk waktu yang relatif. Ada yang menganggap 1 jam itu lama, ada yang menganggap 1 jam itu sebentar. Maka, untuk mengajarkan anak mengenai waktu, disaat anak belum bisa mengenal jam atau menit, sebaiknya pakai batas waktu yang pasti. Misalnya, “Kamu ditemani ibu setelah ibu selesai menggosok”. Nah, jelas batas waktunya, yaitu selesai menggosok! Anak akan belajar sabar dan akan mengenal batas waktu. Tapi disaat anak sudah mulai mengenal waktu, jam, menit, dsb, penting untuk selalu menggunakan batas waktu yang pasti tersebut. 15 menit lah, 30 menit lah, bahkan 8 jam kalau akan pergi bekerja. 

Balik lagi ke bohong. Sebagai orangtua, selalu lah usahakan untuk tidak berbohong, baik kebohongannya hanya kebohongan kecil seperti yang telah disampaikan. Mulailah selalu bicara jujur dan selalu membiasakan hal tersebut ke anak sejak anak lahir. Lebih baik bicara jujur mau ke mana, bersama siapa, dan akan pulang jam berapa nantinya ke anak. Walaupun anak nangis dan merengek, peluk dan tenangkan dulu. Kalau masih merengek, coba diajak mengantar sampai depan pintu, depan gang, atau depan komplek. Dengan begitu anak juga akan belajar berkomunikasi dengan baik kepada orangtua.

Saya pernah membuktikannya lho. Ceritanya ada di postingan saya yang ini, hehe.

Begitulah, semoga berguna dan bisa menghindari kebohongan-kebohongan kecil ini ya para orangtua 😉

Parenting

[Parenting] Biarkan Anak Menanggung Konsekuensi Perbuatannya

Postingan ini betul-betul reblog dari artikel di Parents Guide dengan judul yang sama. Hal ini juga yang ditekankan oleh Toge Aprilianto, agar anak menjadi mandiri dengan mengatasi masalahnya sendiri.

“Bermain air basah, bermain api hangus.” Masih ingatkah pada pepatah lama ini? Benar, tiap perbuatan manusia memang selalu diikuti akibat. Datang terlambat di kantor ditegur. Telat bayar tagihan kartu kredit didenda. Kadang kita berusaha tidak peduli. Tapi setelah satu-dua kali terantuk akibat – apalagi kalau akibatnya berat – biasanya kita jera.

Hal serupa berlaku di dunia anak-anak. Tulisan ini membahas bagaimana membuat anak mengambil pelajaran dari konsekuensi perbuatannya. Ada dua jenis konsekuensi tiap perbuatan: alamiah dan logis.

Konsekuensi Alamiah

Pribadi

Solo di Hati Suami

Sekembalinya suami dari Solo beberapa bulan lalu, dia terlihat begitu berseri-seri tanda bahwa dia sangat senang. Salah satu alasannya sih karena tulisan untuk bukunya sudah berkembang pesat, walaupun masih menyisakan sedikit bagian yang akhirnya dikerjakan di Jakarta. Tapi ada hal lebih besar yang membuat dia sampai terlalu senang seperti itu. Dia sangat terpesona dengan kota Solo! Sampai-sampai dia mengajak saya untuk menghabiskan masa tua di sana kelak, huaah. Saat itu saya benar-benar penasaran. Ada apa ini? Kenapa dia sampai sebegitu terpesonanya dengan kota Solo?

Continue reading “Solo di Hati Suami”
Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 1, Menyalahkan Orang Lain

Saat Naia berumur 10 bulan pernah dia main di rumah ibu saya. Saking asiknya bermain, kepalanya sampai kejedot *bahasa bagusnya sih terbentur, hehee* lemari lalu menangis. Ibu saya lalu mendiamkannya sambil memukul2kan lemari itu dan bilang “lemarinya nakal ya, uh, uh. dah, udah dipukul ya lemarinya”.

Miris ya dengan pola pengasuhan yang sebagian besar ada di Indonesia ini. Dari kecil sudah diajarkan untuk selalu menyalahkan orang lain atau menyalahkan keadaan, bukannya introspeksi diri. Saat sudah dewasa, ya mau menyadari kesalahan bagaimana, lha wong dari kecil sudah terbentuk bahwa dirinya gak pernah salah kok.

Walaupun saya gak tau kata-kata yang seharusnya itu bagaimana, tapi saya selalu menghindari dan menjelaskan kalau tidak ada yang bisa disalahkan. Jadi saat itu saya langsung bilang gak ada yang nakal dan gak ada yang bisa disalahkan. Lemari kan gak bisa kemana-mana dan gak bisa memukul Naia, jadi lemari gak salah. Sakit? Ya sakit kalau kepala kita terbentur sesuatu yang keras.

Di lain waktu saat Naia bermain dengan senang baru saya “iklanin” pentingnya berhati-hati. Ya mengajarkan kehati-hatian ini memang tidak mudah juga dan tidak cukup sekali sih, perlu di”iklan”kan berulang-ulang kali, maka itu kita perlu cadangan sabar yang tak terhingga, hehe. Sampai sekarang walaupun Naia terkadang masih terjatuh dan kejedot, dia cuma cerita tanpa menyalahkan hal lain dan saya juga cuma bilang sakit sambil mengobati yang sakit tadi.

Tidak lupa saya juga bicara baik-baik dengan ibu saya kalau tindakannya bisa mengakibatkan Naia selalu menyalahkan orang lain. Pelan-pelan ibu saya mengerti juga dan Alhamdulillah sekarang sudah tidak seperti itu terhadap Naia :).

Mengajarkan untuk menjadi orang yang tidak pernah salah ini termasuk salah satu kebiasaan salah orangtua di buku karangan Ayah Edi berjudul “Mengapa anak saya suka melawan dan susah diatur?”. Di postingan 37 kebiasaan saya sudah menyebutkan apa-apa saja kebiasaan-kebiasaan yang salah itu dan kebiasaan ini disebut paling pertama dengan judul “Raja yang tak pernah salah”.

Berjudul seperti itu karena kebiasaan kecil yang sering tidak kita (orangtua) sadari bisa menjadikan dia seperti raja yang sombong yang tidak pernah mau disalahkan. Jadi yuk, para orangtua, hindarkan kebiasaan kecil yang menyebabkan anak selalu menyalahkan orang lain atau keadaan ini. Saat menjadi orangtua saatnya berhati-hati dengan segala yang kita lakukan :D.

Parenting

[Parenting] Cara Berjuang

Mengajari anak cara berjuang adalah dengan memperlihatkan kemampuan terbaik kita sebagai orangtua. Disaat kita melakukan segalanya secara maksimal, barulah kita mengerti dan tau bagaimana cara mengembangkan dan mengajarkan anak kita bagaimana cara berjuang. Di milis yang saya ikuti ada kata-kata dari admin yang saya sukai.

Orang tua yang gak mau berjuang untuk dirinya sendiri, gak bisa diandalkan untuk menemani anaknya berjuang.

Berjuang untuk diri sendiri adalah awal untuk bisa mengajarkan dan menemani anak berjuang. Kalau kita tidak pernah tau rasanya berjuang secara maksimal, kita tidak akan pernah bisa mengajarkan hal itu pada anak kita kan?

Beberapa hari yang lalu juga saya melihat ada iklan komersial yang maknanya sangat bagus. Iklan tersebut akhirnya menjadi video favorit saya sekarang karena secara tidak langsung memberikan pengajaran parenting bagi kita para orangtua. Disaat anak ingin berkompetisi, baik dalam hal olahraga atau sekedar permainan biasa, saya ingin kita (saya dan suami) tidak mengalah. Ada kan orangtua yang mengalah demi anaknya senang? Saya tidak mau begitu. Saya ingin dia merasakan rasa kecewa karena kalah dan rasa ingin terus berjuang agar akhirnya berhasil mengalahkan kita. Disaat dia sudah memiliki karakter berjuang, karakter itu akan dibawanya di lingkungan yang akan dihadapi kelak.

Saat dia berhasil mengalahkanku, saat itulah aku menang.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=C0ayAGh8o6Q]

Pertama kali saya belajar agar tidak mengalah dengan anak adalah saat saya menonton video nina from japan. Sampai saat ini cara pengasuhan ayah dan ibunya masih kami jadikan salah satu role model dalam gaya pengasuhan kami.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=6vgIoXlSZm0]

Jadi orangtua memang jadi punya banyak kesempatan untuk belajar banyak lagi.

Hobi

Ngeblog Membuat Notebook Tipis

Siapa yang masih ingat pengalaman pertama punya notebook? Saya masih lhoo, karena notebook yang saya punya sekarang ya notebook pertama saya, ihihi. Apapun yang pertama pasti diingat kan, seperti cinta pertama laah #eh.

first love
cinta pertama

image credit

Sama dengan saya, saya juga selalu mengingat apapun yang serba pertama. Pertama kali punya hape, pertama kali punya penghasilan sendiri, termasuk pertama kali punya notebook. Nah, notebook saya ini saya dapatkan dari tempat terakhir saya bekerja. Bukan, bukan dengan menabung lalu membelinya, bukan juga melalui doorprize. Tapi dengan metode kredit yang diberikan oleh kantor selama 6 bulan, ihihi.

Jadi, di tempat saya terakhir bekerja itu ingin agar karyawannya merasa memiliki fasilitas kantor agar selalu menjaganya dengan baik. Maka dari itu alih-alih dipinjamkan fasilitas kantor (termasuk notebook), karyawannya ya diberikan dahulu lalu kemudian menggantinya melalui uang gaji. Jadi gajinya dipotong sesuai dengan kesepakatan kantor dan si karyawan tersebut. Berapa besar yang ingin dikurangi dari gaji dan berapa lama ingin melunasinya tergantung kesepakatan tadi. Kebetulan waktu itu saya memilih waktu 6 bulan karena gak mau ngutang lama-lama sisa gaji masih mencukupi hidup saya, terlebih karena saya sudah menikah XP.

Ada perasaan yang sangat tidak tergambarkan saat akhirnya gaji saya tidak dipotong lagi, seperti baru saja terbebas dari belenggu hitam *lebay*, hehe. Itu karena artinya notebook yang saya pakai telah lunas dan telah sepenuhnya menjadi milik saya, horeee! #lompatgirang

freedom
bebaas..!!

ballheads_freedom by sheldon

Tetapi notebook saya ini setelah dipakai selama 2,5 tahun ini kok ya lama-lama bikin saya capek juga yaa. Capek selain karena tampilan fisiknya berat, juga karena tidak tahan panas. Baru dinyalakan sebentar saja tanpa diberi kipas sudah langsung panas dan jadi lemot. Yap, rasanya saya butuh notebook baru yang lebih bisa memenuhi kebutuhan saya yang aktif. Dan iya, saya selalu ngiler kalau sudah membicarakan notebook Acer seri terbaru, yaitu Acer Aspire E1 Series.

Kenapa saya bisa sengiler ini? Kalau tentang merk Acer-nya sendiri sih karena melihat pengalaman suami yang memang punya netbook Acer dan masih awet sampai sekarang. Sudah sekitar 4 tahun umur netbook yang dimiliki suami dan masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan suami yang tidak ringan setiap harinya.

Nah, kalau untuk seri E1-nya sih karena itu merupakan seri notebook yang paling terbaru yang dikeluarkan oleh Acer. Dan seperti telah saya ceritakan di sini, Acer E1 Slim Series bisa membuat saya lebih produktif dengan mudahnya dibawa kemana saja. Dengan pekerjaan freelance yang bisa dikerjakan dari mana saja, saya bisa seenaknya berganti suasana, dan pergantian suasana tersebut bisa membuat otak saya refresh sehingga saya bisa lebih produktif dan semangat saya bisa ngeboost lagi dalam ngeblog bekerja. 

Kalau di rumah, hiburan utama saya adalah tidur, selain bermain dengan anak tentunya. Jadilah berhubung saya orangnya juga cepat bosan, saya bisa lebih banyak tidur malahan daripada kerjanya #ups. Maka dari itu, dengan asiknya notebook yang bisa ditenteng kemana-mana, saya bisa sering-sering berganti suasana dan jadi tidak cepat bosan deh. *hehe, ngiler kan tuh*(¯﹃¯)

lebih tipis dan ringan
lebih tipis dan ringan lebih enak ditenteng

Terlebih lagi saya ingin bisa tampil lebih profesional. Hal-hal yang mendukung agar bisa tampil lebih profesional telah saya jelaskan pada tulisan saya sebelumnya di sini. Singkatnya, tampilan profesional tersebut bisa saya dapatkan dengan menampilkan first impression yang baik dan dengan menggunakan senjata yang elegan, yang bisa saya dapat dengan membawa Acer Aspire E1-432. First impression yang baik itu bisa saya dapatkan kalau penampilan saya bisa terjaga saat dari rumah hingga di tempat tujuan saat bertemu klien. Yang menambah lebih profesional lagi adalah dengan bisa langsung mencolokkan kabel proyektor ke notebook untuk proses presentasi yang lebih cepat. Mantap lah pokoknya si notebook tipis yang didukung performa Intel® Processor di dalamnya inih.

Selain membuat saya bisa lebih produktif dan lebih profesional lagi, saya bisa membuat keluarga lebih harmonis dengan bisa menonton film lebih tenang. Lebih tenang karena punya banyak pilihan film *psst, sudah sering saya sebut kan kalau Acer Aspire E1 Series, khususnya E1-432 dilengkapi harddisk SATA berukuran 500GB* dan lebih tenang kalau saya lupa mencolokkan charger baterai. Yap, kalau lupa mencolokkan charger baterai kita bisa lebih tenang karena baterainya bisa tahan sampai 6 jam (359 menit) untuk memutar konten multimedia (film HD). Terlebih notebook yang saya pakai sekarang itu sangat cepat panas, makanya harus selalu diberi kipas angin seperti di postingan yang ini.

kipas laptop saya
kipas laptop saya

Untung notebook gk bisa masuk angin yak, kalau bisa isinya sudah angin semua kayak gini deh, :P.

*ceritanya* notebook masuk angin
*ceritanya* notebook masuk angin

Maka dari itu, saya kok ya merasa pantas untuk memiliki notebook baru sekelas Acer Slim Aspire E1, yang didukung oleh  prosesor Intel®, mulai dari Intel® Celeron® dan Core™ i3, dan 30% lebih tipis  ya. Tapi mau minta ke suami gak enak karena beliau sedang sibuk banget memikirkan tesis yang sedang dikerjakan, terlebih karena biaya S2nya tidak sedikit sehingga harus menyelesaikan S2 secepatnya, jadi saya tidak mau menambah kepusingan suami. Tapi sekarang saya juga sudah tidak bekerja lagi di kantor, jadi ya gak bisa kredit lagi deh, huhu.

Dasar ya emak-emak, demennya kredit. Karenaa kalau kredit kan setidaknya pengeluaran kita per bulan masih bisa dikontrol, kalau ujug-ujug mengeluarkan uang yang tidak sedikit bisa kacau deh siklus keuangan keluarga, hehehe. Iya sih, notebook Acer Aspire E1 Series tergolong murah untuk ukuran notebook yang bisa memenuhi kebutuhan saya untuk bisa tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya. Tapii dengan harga yang berkisar antara 4,7 sampai 7,6  jutaan (mengacu pada daftar harga notebook Acer E1 slim series di sini) untuk keluarga kecil kan lumayaan. Maka dari itu alangkah lebih baik enak kalau bisa mendapatkannya secara gratis, ehehe. #berdoasungguh-sungguhsambil*pastinya*ngilerr XP

Semoga saja tulisan ini bisa menghantarkan notebook Acer E1 slim series itu ke tangan saya sehingga keinginan saya memiliki notebook baru yang slim, praktis, canggih, dan bisa memenuhi segala kebutuhan saya bisa tercapai. Aamiin 😀

Note: ada yang engeh gak yaa kalau tulisan saya selau berjudul _ _ _ membuat _ _ _, hihihi. #pentingbanget 😛

Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia

Hobi

Performa Maksimal Membuat Keluarga Harmonis

Yak, lagi-lagi saya melanjutkan tulisan mengenai Acer. Sudah ketiga kalinya ini saya menuliskan mengenai produk Acer terbaru, sebelumnya ada di sini dan sini 😀

Berhubung saya freelancer, ya jadinya saya lebih sering untuk bekerja di rumah sambil jagain Naia. Iya, masih kepengen kok bisa sering-sering kerja di mana saja tapi ya alasannya sudah saya kemukakan di tulisan sebelumnya toh?, hehe. Nah, kalau di rumah gini, untuk bekerja di depan laptop saya harus mencuri-curi waktu *mencuri waktu halal kok XP*. Soalnya, Naia (19m) itu kalau belum tidur ya dia gak mau berhenti bergerak, apalagi kalau saya sudah mulai membuka notebook saat dia bermain sendiri. Walaupun bermain sendiri, dia itu maunya saya perhatikan, jadi saat melihat notebook saya terbuka dan saya mulai sedikit bekerja biasanya dia menghampiri lalu menutup notebook saya sambil memasang muka lucu, hahaha. Yaudah, gagal deh pencurian waktu di saat dia bermain sendiri ini. Maka dari itu biasanya saya menunggu dia sampai tertidur saja.

Tapi suatu hari belum lama ini, saat saya bekerja *baru sebentaaar banget*, Naia terbangun dan tidak lama hujan turun begitu derasnya diiringi dengan petir dan gledek. Biasanya kalau Naia tertidur pulas dalam keadaan capek, dia gak peduli tuh dengan suara sebising dan seramai apapun, termasuk petir dan gledek yang saling menyambar. Tapi kali ini berhubung dia baru bangun, jadilah dia menangis keras karena takut akan petir dan gledek itu.

Nah, berhubung notebook belum saya matikan, akhirnya saya ajak dia untuk menonton film kartun. Saya itu punya kebiasaan menghapus film yang sudah selesai saya tonton demi menjaga tersedianya tempat penyimpanan. Tapi untungnya film-film kartun tersebut masih saya simpan jadi bisa dipakai untuk menenangkan Naia deh *Alhamdulillah yah*. Saya lalu memutar film Ratatouile saat itu, kartun seekor tikus yang menjadi juru masak. Di adegan awal terdapat rumah yang diguyur hujan besar dan diiringi petir dan gledek. Nah, saat itulah dia berhenti menangis lalu mengatakan “ama”, yang maksudnya sama sambil menunjuk-nunjuk keluar rumah. Huaa, dia sudah bisa menyamakan keadaan ternyata. Dan yes, saya berhasil menenangkan Naia. *senyum puas*

Jadilah akhir-akhir ini saat saya ingin bekerja disaat Naia bangun, saya lalu memutar film tersebut di setengah layar notebook, dan setengahnya lagi saya lanjut bekerja, hihihi.

Berbagi Notebook
Berbagi Notebook

Tapiii, notebook saya ini gak tahan kalau lama-lama mengerjakan banyak hal sekaligus begitu. Pasalnya, suhu notebook saya cepat sekali menjadi panas, terlebih lagi kalau multitasking yang memang membutuhkan kinerja maksimal. Jadilah kalau suara atau gambar di film sudah mulai sedikit melambat, yang bisa saya lakukan adalah mematikan notebooknya lalu lanjut bermain dengan Naia. Pekerjaan, yaa gampanglah nanti lagi, sekarang saatnya mengistirahatkan laptop dulu, pikir saya. Nah, begitu pula kejadiannya saat saya dan suami sedang menikmati waktu berdua untuk menonton film romantis action di notebook saya ini. Film belum habis, e laptop sudah keburu panas, huaa. Yasudah terpaksa disambung nanti deh nontonnya *gak enak yeuh* :(.

Biasanya sih sekarang untuk mensiasati suhu yang panas itu, saya akhirnya memberi kipas di samping laptop. Bukan, bukan kipas khusus untuk laptop kayak gini.

kipas laptop seharusnya
kipas laptop seharusnya

credit

Tapi kipas angin kayak gini XP.

kipas laptop saya
kipas laptop saya

Soalnya pakai kipas angin kayak gini lebih langsung memberi angin di prosesornya, hehehe. Padahal gak punya kipas khusus laptop.

Apalagi kalau saya kelupaan untuk mencolokkan charger. Baru sebentar menonton bisa-bisa sudah kehabisan baterai. Apalagi kalau sedang menonton begitu, biasanya ya tidak terdengar peringatan baterainya sudah mau habis, hiks. Naia bisa marah lagi kalau film yang asik-asik ditonton eh selesai di tengah jalan, huhu. Enak banget yah kalau hidup notebook bisa tahan lama dan bisa menjaga suhu sedemikian rupa. Sifat pelupa saya ini kan bisa sedikit terobati gitu dengan daya yang lebih tahan lama. Jadi ya begitu film selesai baru deh baterai kedap-kedip *mengkhayal sambil ngiler*.

Ah, jadi inget Acer Aspire E1-432 lagi deh. Dengan didukung performa Intel® Processor di dalamnya, yaitu Intel 4th Gen terbaru (Haswell) yang dikombinasikan dengan baterai 4-cell (2500mAh), daya tahan baterai notebook Acer Aspire E1-432 dipastikan akan menjadi jauh lebih maksimal lho. Bayangkan saja, notebook ini bertahan hingga 6 jam (359 menit) untuk memutar konten multimedia (film HD), dan berkisar 3-4 jam saat menjalankan game. See, saya tidak perlu khawatir lagi kan kalau saya kelupaan mencolokkan charger. Selesai sudah, ketemu deh solusinya, saya harus punya Acer E1 Slim Series ini. *semangat berkobar*

Apalagi kalau lama-lama dipakai multitasking, saya bekerja sambil Naia menonton, Acer E1 Slim Series sangat bisa diandalkan. Pasalnya, notebook Acer Aspire E1 Series ini tidak cepat panas. Selain bisa tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya, dengan dimensi yang tipis itu, notebook Acer memberikan solusi pendinginan yang memadai. Yaa, asalkan ditempatkan di tempat-tempat rata dan menghantarkan panas sih (seperti meja kayu atau lantai, bukannya di atas kain atau karpet), suhu kerjanya dapat terjaga dengan baik. Jadi, jauh-jauh deh gambar dan suara yang tiba-tiba melambat disaat saya sekeluarga menonton :D.

Nah, menonton film juga enaknya yang HD kan? HD itu dari segi gambar dan kualitas videonya lebih bagus, maka dari itu biasanya film-film HD membutuhkan space yang cukup banyak juga di harddisk, maka dari itu juga saya suka menghapus film yang telah saya tonton, takut harddisknya kepenuhan euy. Tapi kalau saya punya space yang lebih banyak, ya gak usah pusing-pusing menghapusnya kan? Saya jadi bisa menyimpan film-film favorit deh. Btw, Acer Aspire E1-432 dilengkapi harddisk SATA berukuran 500GB. Huwhuw, saya jadi tenang menyimpan file film HD itu, hehehe. Apalagi ya, Acer Aspire E1 Series ini bisa tetap menampilkan film HD yang saya simpan dengan tajam dan terang dengan resolusi yang tinggi. Wajar sih, itu karena Acer Aspire E1-432 menggunakan monitor LED berukuran 14” dengan resolusi 1366×768 px. *tuh kan ngiler lagi*(¯﹃¯)

Tuh kan saya jadi gak henti-hentinya ngiler akan kehandalan notebook Acer E1 Slim Series. Selain handal untuk kerja dengan membuat saya semakin terlihat profesional, asik juga untuk bermain bersama keluarga dengan menonton. Naia bisa menonton disaat saya kerja, suami pun senang saat menonton tidak diganggu oleh gambar yang tiba-tiba melambat atau mati saat film belum selesai. Keluarga jadi lebih harmonis deh, hehehe. *PD*

Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia

Pribadi

Hargailah

Lagi baca-baca postingan lama e terpaku sama postingan saya yang ini.

Berhubung kemarin abis ngadain GA dan mendapat banyak tulisan (32) mengenai hijab, saya jadi pengen juga deh mengeluarkan pemikiran saya. Oiya, ini menyangkut adanya pro kontra mengenai penggunaan jilbab yang ada sekarang. Dan ketika saya membaca kembali postingan itu, menurut saya kita sebagai sesama muslimah harusnya menghargai setiap perbaikan diri yang dilakukan, apalagi perbaikan yang dilakukan merupakan kewajiban. Jadi, ya hargai saja orang yang berusaha memenuhi kewajibannya itu. Tentang pemakaian jilbabnya yang belum syar’i, trust me, itu bisa dan akan terus menerus diperbaiki seiring pengetahuan tentang islamnya meningkat.

bukan kesiapan hati, tapi kewajiban diri

Yaa, saya sih begitu pendapatnya. Dan saya memang pernah mengalaminya sendiri sih. Sahabat saya yang berjilbab panjang sangat menerima saya, mendengarkan segala keluh kesah saat kegalauan datang, dan mengajak saya untuk terus melakukan perbaikan tanpa membuat saya gerah dan jengah *alias tidak menggurui* walaupun penampilan saya masih jauh dari sempurna *jilbab masih tipis, kadang2 tidak sedada, dan malah tidak pernah menggunakan rok saat itu*. Sangat jauh lebih enak untuk bisa diterima dan disambut secara baik dibanding masih dipermasalahkan akan penampilannya, terutama jilbabnya.

Menurut saya, setiap orang yang kontra akan perkembangan jilbab modern seperti sekarang malah terkesan menggurui dan mengoreksi, bukannya mengajak menuju perbaikan yang lebih. Seakan-akan mereka mempermasalahkan perbaikan diri yang dilakukan dan menuntut untuk bisa langsung mengulurkan jilbabnya sepanjang yang disyari’atkan.

Jadi ya hargailah mereka yang *masih* berjilbab sekedar untuk gaya. Mereka telah melakukan perbaikan diri berupa memenuhi kewajibannya. Tugas kalian-kalian yang sudah paham benar akan pentingnya menggunakan jilbab sesuai syariat, ajaklah mereka secara baik, terima, sambut kemauannya memenuhi kewajibannya, bukan mengguruinya dan memicingkan sebelah mata akan penampilannya. 😉

Hihi, maaf ya kalau terkesan sangat provokatif, ini murni pendapat saya yang sebenarnya ingin saya tumpahkan sejak lama XP

Kid's Activity

Kotornya Mencuci Sepeda

Tulisan ini diikutsertakan dalam Laiqa & Rinso Writing Competition

Suatu hari Minggu di bulan Juni *hayah* saya, suami, dan Naia berdiam diri di rumah sekedar bersantai untuk merecharge kembali tenaga kami untuk menghadapi minggu berikutnya, family time laah istilah kerennya 😀

Etapi bersantai dan family time itu juga diisi dengan membereskan rumah dan mengerjakan segala sesuatu yang berguna kok, hehe. Jadi ya gak nganggur-nganggur banget gituu. Saya sekalian membereskan cucian dan tumpukan pakaian serta membereskan rumah, si suami juga gak ketinggalan untuk mencuci sepeda yang biasa digunakannya untuk kerja. Iya, suami pulang pergi kantor naik sepeda lho, cuma 15 menit soalnya, hihi.

Nah, di saat suami mencuci sepeda itu, Naia kepo *seperti anak kecil lainnya yang serba ingin tahu* papanya itu sedang apa dan kalau bisa dia ikutan deh. Berhubung saya dan suami memiliki pemahaman yang sama, tidak melarang segala kegiatan  yang dilakukan Naia kecuali yang berbahaya, jadi ya kita mempersilakan saja dia kalau ingin main membantu, hehe. Dan berhubung waktu itu juga si Naia belum mandi ya sekalian saja deh. Bukan sekalian mandinya lho, tapi sekalian kotornya 😀 Iya, kita tau dia pasti akan terkena kotoran, terlebih dia memakai celana putih waktu itu. Tapi, apalah artinya pakaian kotor kalau dibandingkan dengan kebahagiaan anak *lebay*. Berani kotor itu baik kan? Gak kotor gak belajar 😀

nyuci sepeda
nyuci sepeda

Dan  hasilnyaa, ya sepedanya bersih doonk *bangga*. Nih terlihat foto sepedanya dengan si Naia yang seneng dan bangga sudah membantu ngerecokin papanya nyuci sepeda. Berhasil deh membuat Naia senang sekaligus belajar caranya merawat barang yang kita punya, hehehe.

Tapi gimana dengan celananya yang super duper kotor itu? Nah, kali ini giliran saya deh yang berperan. Saya tidak khawatir mencucinya akan susah lho, berhubung saya menggunakan Rinso cair, ya langsung saja saya oleskan di celananya yang kotor itu lalu direndam selama 15 sampai 30 menit. Selanjutnya saya tinggal menguceknya sebentar saja *tanpa kekuatan penuh juga XP* dan hasilnya langsung kelihatan bersih. Benar-benar tidak tertinggal lho nodanya *banggalagi*

image

Ah iya, saya dan suami juga cukup sering membiarkan Naia bermain di luar. Karena dengan begitu dia bisa bergerak dan tidak selalu berdiam diri di depan TV *gak punya TV juga sih, hihi*. Kami berpikir dengan membiarkannya bermain di luar, dia bisa belajar banyak, belajar tentang alam, binatang, juga permainan fisik seperti bermain pasir, ayunan, juga bola. Saya benar-benar tidak peduli dengan pakaiannya yang akan menjadi kotor nantinya. Ya karena nantinya akan diatasi dengan Rinso cair, karena Rinso cair 2x lebih efektif, meresap lebih ke dalam serat kain saat perendaman, untuk seluruh cucian sehari-hari. Jadi, buat apa khawatir kan? 😀

Sebelum menikah sih saya belum menggunakan Rinso cair jadi sewaktu mencuci pakaian yang terkena lumpur tidak bisa sebersih celana Naia itu. Jadi, saya pernah mengikuti reli sepeda dan kebetulan saat itu hujan deras mengguyur saat kira-kira baru 45 menit start. Nah, karena sepeda saya tidak berbemper belakang, jadilah kaos putih yang saya kenakan saat itu penuh dengan cipratan lumpur. Tidak tanggung-tanggung, cipratannya sampai kerah *hiks, nangis T_T*. Tapi karena waktu itu saya mencuci masih dengan deterjen bubuk, ya noda lumpurnya masih aja ada walaupun sudah dicuci berkali-kali. *mau ngasih gambarnya e kaosnya udah gak ada XP*.

Begitu nikah, saya kok ya tertarik sama Rinso cair, yaudah ampe sekarang pakainya itu deh. Apalagi sekarang tersedia web http://www.rinso.co.id/ tempat mencari segala info dan tips mencuci, jadi makin cinta deh sama Rinso :*

image

*yak, hari ini hari paling produktif ngeblog kayaknya. udah 3 postingan diposting pada hari yang sama, ahaha. 2 untuk lomba, 1 pengumuman lomba, fyuh*