Pribadi

It’s All About Giving

Have we already give something today? Giving is not only about thing. What I mean with giving is much more than that.

I have just realized that this life is all about giving. Giving your best smile, giving your precious time to precious people, giving your maximum energy to do the office work, or just giving your best potential to do the things you can do with the best result.

Focusing on giving will make us live the better life. It could be more peaceful and we could be more grateful. What’s the connection about giving and grateful, you asked? When we giving something with our heart, we will not really care what we can get. We don’t really care if we get nothing from giving. But we will be soo much grateful if we get something unexpectedly. Yea, just care about giving. Anywhere. Anytime. Would you?

giving
giving

image credits

When we have no intention in always giving, we will be live in sorrow. Also, we will always be envious in what other people can get. On the other hand, if we always giving, the blessed that we can get from Allah SWT will always be seen. So that, there is no sorrow or feeling envy. It’s a better life, isn’t it?

Hope I could always be giving the best of me. To my family, my environment and my only one God, Allah SWT 🙂

Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 11, Hadiah untuk Perilaku Buruk Anak

Pernah gak sih kita lagi asik-asik belanja eh “direcokin” sama bocil alias anak kita? Kita sih berharap bocil yang kita ajak itu gak minta macem-macem saat kita belanja ya dan sudah memberi pengertian padanya. Etapi tiba-tiba di supermarket saat si bocil itu liat mainan dan sesuatu  yang menarik matanya dia malah merengek-rengek minta mainan itu. Dan kalau tidak kita turuti, dia akan menangis sejadi-jadinya. Kalau sudah menangis begini kita biasanya ngapain sih?

6149793560_0b279ca83d_o

 image credits

Kayanya kebanyakan dari kita biasanya langsung memberi apa yang dia minta tadi lah yaa, hehe. Padahal, ternyata hal itu malah salah loh. Karena kalau kita menuruti, sama saja si bocil akhirnya dapet hadiah atas rengekannya itu alias perilaku buruknya. Dan, ya gak heran kalau nanti dia bakal begitu lagi begitu lagi di kesempatan selanjutnya.

Terus gimana donk? Intinya sih balik lagi tentang kesepakatan ortu dan anak. Kalau sebelum ke supermarket kita sudah bersepakat dengan anak apa yang mau dibeli dan apa yang gak mau dibeli, si anak akan mengerti kalau dia nantinya tidak akan dibelikan hal yang gak mau dibeli tadi.

Misalnya, tujuan kita ke supermarket adalah untuk belanja bulanan dan bukan untuk membeli mainan. Jadi, nantinya si anak mengerti kalau kita tidak akan membelikannya mainan karena bukan itu tujuan ke supermarket saat itu. Kecuali ya di rumah bersepakat setelah belanja bulanan atau selama belanja bulanan, si anak boleh membeli 1 mainan saja. Intinya sih, tergantung gimana isi kesepakatan ortu dan anak lagi yaa 😀

Nah, kalau ternyata anaknya minta terus dengan merengek dan belum biasa bersepakat gimana? Permulaan pembiasaan bersepakat perlu sedikit rasa “tega” sih menurut saya. Karena sebaiknya saat dia merengek, kita tidak menghiraukannya alias “nyuekin”. Kalau dicuekin seperti itu, memang sih berisik dan akan membuat kita jadi pusat perhatian, tapi percaya deh, anak akan capek sendiri dan menyadari kalau rengekannya tersebut tidak berhasil. Atau malah akan terjadi kesepakatan baru. Misalnya, kalau dia benar2 mau apa yang diinginkan, buat ia bersabar sampai urusan kita selesai. Kalau ia mau bersabar, maka ia akan mendapat apa yang diinginkannya, tapi kalau tetap merengek, ya dia tidak akan mendapat apa2.

Hadiah untuk perilaku buruk ini juga gak melulu terjadi di tempat keramaian lho ya. Di rumah juga bisa. Contohnya sih kalau dia ingin jajan tapi karena kita tau itu jajanan yang tidak sehat kita tidak akan membelikannya. Nah, si anak juga bisa merengek karena hal ini. Kalau akhirnya kita berikan jajanan tersebut, jajanan itulah yang menjadi hadiah rengekannya itu. 😀

So, intinya, biasakan bersepakat yuk! Dan, jangan cepat menuruti keinginan anak saat perilaku buruknya muncul. Happy Parenting 😉

Kid's Activity

Naia Meniru Ekspresi

Suatu hari, Naia lagi iseng nyari-nyari buku buat dibaca dari lemari bukunya ~yap, saya memberi satu ruang di lemari buku yang saya punya khusus untuk buku2nya Naia, hihi~. Eh, bukannya ngambil buku, dia malah nemu sesuatu. Saya tau dia gak ngambil buku karena tiba-tiba dia mengangkat satu tangannya dan bilang “ama” *maksudnya “sama”*. Saya bertanya, “Apa yang sama?” dia lalu menunjuk ke salah satu cover VCD lalu mengangkat tangannya lagi. Ternyata dia sedang menirukan gayanya Ujo yang ada di cover film Mengejar Matahari bagian belakang, hahaha.

Ujo paling belakang :D
Ujo paling belakang 😀

gambar dari sini

Setelah itu, tanpa diminta, Naia menirukan semua gaya yang ada di cover bagian belakang itu, hihihi.

Di kemudian hari lagi, saya membaca buku Raditya Dika yang “Marmut Merah Jambu” di rumah Yangtinya Naia *alias rumah mertua*. Tiba-tiba Naia menghampiri dan meragakan apa yang dilakukan oleh Raditya Dika di cover buku itu. Saya lalu tertawa dan adik ipar saya lalu mengambil buku lain, yaitu buku “Akhirnya Tertawa Juga” dan meminta Naia meragakan kembali gaya cover buku tersebut. Dan sekali lagi, walaupun sedikit lebih sulit dan dia perlu bersusah payah, Naia berhasil meragakan gaya itu, hehe.

Gambar dari goodreads

Baru-baru ini dia lagi keranjingan film Frozen. Jadi hampir tiap hari nonton ituuuu terus. Nah, di situ, dia paling ingat dengan kata-kata “Yoohoo” yang big summer blowout serta paling faseh meragakan gaya Anna saat jalan cepat-cepat sambil kedinginan setelah sebelumnya jatuh ke sungai.

[youtube url=”http://www.youtube.com/watch?v=lpzvS0ATxB4″]

Lucunya kamu nak, ciuum :-*

Btw, kalau lagi senang2 begitu, saya memang suka lupa untuk mengambil fotonya, jadilah gak ada foto Naia sama sekali di bagian meniru ekspresi ini, hee.

Hobi

Naia dan Dinosaurus

Suatu hari, datanglah para Dinosaurus ke kehidupan Naia. Mereka berwarna-warni dan bermacam-macam jenisnya. Ada yang makan daging, ada juga yang makan tumbuhan. Ia senang sekali karena mendapat teman baru. Bahkan hampir setiap hari para Dinosaurus itu diajak menemani mandi, sesi paling santai baginya. Hal itu menandakan kalau mereka sangat penting untuk hidupnya.

Tapii… Kok ya para Dinosaurus ini malah menyerang Naia yaa?

DSC_2228

Naia jadi sebel dan marah pada mereka. Tapi, Naia gak bisa berbuat apa-apa, karena dia bingung harus melakukan apa terhadap mereka. Walhasil ya tetap saja Naia mengajak mereka bermain saat mandi. Baiknya kamu nak *ciuum*

Lalu, tiba-tiba datanglah kandang mainan yang diberikan oleh yangtinya. Tepatnya, teman dari yangti sih. Kandang mainan itu adalah semacam goodie bag dari cucunya yang berulang tahun ke-1. Mungkin Naia berpikir, “wah, bisa nih digunakan untuk mengurung para Dinosaurus itu kalau mereka nakal, hihihi.”

DSC_2899

Daan, benar saja, dia memasukkan para Dinosaurus itu ke kandangnya dan keadaan jadi aman dan damai deh untuk Naia karena tidak lagi diserang oleh mereka. Hahaha

Terus, teruus, itu mau dibawa kemana yaa? XP

DSC_2919

Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 10, Ucapan dan Tindakan Tidak Sesuai

Sebenarnya tanpa kita sadari, sebagai orang tua kita cukup sering melakukan hal yang tidak sesuai dengan yang kita katakan. Misalnya, kita melarang atau tidak menyetujui anak untuk membeli sesuatu dengan alasan sudah tidak punya uang lagi. Tapi, ternyata kita sendiri malah lagi asik milih-milih baju dan akhirnya membeli banyak baju. Wuih, anak akan merasa kita membohongi mereka. Dan mereka akan belajar kalau bohong adalah sesuatu yang lumrah, bukan perbuatan yang salah. Anak nantinya akan suliiit sekali untuk percaya pada kita. *contoh ini diambil dari buku Amazing Parenting karya Rani Razak Noe’man*

17448714

gambar dari sini

Saya pernah menyaksikan langsung si anak sudah meminta pulang kepada ibunya saat menjenguk teman yang sakit. Lalu si ibu berjanji kalau benar mereka akan pulang setelah tayangan di tv selesai *saat itu ada tayangan spongebob*. Si anak sampai berkali-kali menegaskan kalau mereka pasti akan pulang setelah spongebob habis dan si ibu benar-benar memastikannya. Tapi, saat tayangan tersebut sudah habis, apa yang dilakukan si ibu? Bukannya bergegas pulang, tapi mengulur-ulur waktu lagi dengan alasan yang tidak bisa diterima. Anaknya? Akhirnya dia gegulingan ngambek dan nangis.

Jadi harus gimana?

Parenting

Sudah 9 Bulan

9 bulan sudah Naia resmi copot pampers kalau di rumah alias melakukan toilet training. Alhamdulillah sekarang udah lancar dan dia selalu bilang kalau mau pipis. Walaupun ada yang kebablasan sih, dia bilang pipis sambil pipisnya ngocor, hihihi. Tapi, Ahamdulillah banget Naia bener2 pinter dan ngerti kalau diberi pengertian apapun.

Awalnya, saya selalu pakai popok kain juga ke Naia sejak lahir. Tadinya mau selalu pakai popok kain atau celana kain aja, bukan pampers kalau di rumah. Tapi sejak dia bisa gangsrot *apa dah bahasa halusnya??* sekitar umurnya 6 bulanan, saya jadi takut kalau dia pipis di mana-mana, jadilah saya pakaikan pampers juga walupun di rumah. Nah, sejak 9 bulan yang lalu, tepatnya waktu Naia berumur 15 bulan *iyap, berarti dia sekarang tepat 24 bulan alias 2 tahun, huaah, cepatnyaaa* tekad saya sangat kuat untuk mengajarkan dia toilet training. Saya jadi benar-benar siap banget kalau dia bakal pipis di mana-mana dan sudah siap mengamati tanda-tanda dia mau pipis juga sambil terus memberi arahan dan pengertian kalau seharusnya pipis atau BAB itu di kamar mandi.

Lalu bagaimana hasil toilet trainingnya?

Parenting

Balita Senang, Kita Nyaman

Sewaktu umur keponakan saya belum menginjak usia 5 tahun alias masih balita, saya menyaksikan sendiri bagaimana keingintahuannya dan kreativitasnya berkembang. Apalagi saat mereka baru pertama kali diberi pulpen atau semacamnya. Mereka jadi berpikir bisa corat-coret seenaknya deh di mana-mana. Tembok rumah ibu saya pun bisa jadi korban. Dan saya yang tinggal di dalamnya jadi risih sendiri melihat tembok yang tidak bersih rapi. Tapi mau diapain lagi, namanya juga balita yang masih suka corat-coret di mana-mana.

524606342_2a788d5da9

Image by Toni Verdú Carbó on Flickr

Saya jadi berpikir gimana supaya anak saya nanti gak corat-coret sembarangan di tembok begitu. Bikin saya gak nyamaaan euy rumah penuh coretan, huhu. Bagusnya sih diberi arahan sebaiknya mereka boleh nulis itu di mana saja. Saya pernah lho mempraktekkannya langsung ke anak tetangga, itung-itung uji coba lah sebelum ke anak sendiri, hihi. Dia meminta pulpen karena ingin menulis-nulis sesuatu. Saya kasih deh dia pulpen tapi dengan perjanjian kalau hanya boleh menulis di kertas atau buku yang saya kasih aja *alias buku kakaknya* dan kalau dia menulis di tempat selain itu, pulpennya saya ambil lagi. Dia setuju dan berhasil, gak ada tuh coretan di tembok.

Tapii coretan di tembok kan bisa jadi bagus juga yaa

Pribadi

Sabar dan Pengendalian Emosi

sabar

Image by Montecruz Foto on Flickr

Punya anak ituh yah seakan-akan kita belajar mengenai diri kita sendiri juga. Bagaimana tidak, kita sebagai orangtua biasanya menuntut anak untuk bisa ini itu dan untuk punya segala kebiasaan baik. Sedangkan kita sendiri gimana? Apa kita udah punya kebiasaan baik yang kita inginkan dari anak kita?

Walaupun saya baru punya anak 1 dan itu juga baru mau 2 tahun, saya udah sering banget nulis hal-hal tentang parenting. Bukan karena saya udah jadi orangtua yang segitu sempurnanya banget. Belum. Sama sekali belum. Masih jauh banget malah dari sempurna. Saya memang gak mencari kesempurnaan sih, saya mencari kebahagiaan. #asseek

Saya hanya mau menuliskan hasil yang saya pelajari saja dari buku-buku yang saya baca, milis yang saya ikuti, sampai seminar yang saya datangi. Dan ditambah lagi dengan pengalaman yang masih jauh dari cukup ini. Dan hal itu bukan untuk menggurui siapa-siapa, tapi saya gunakan sebagai pengingat diri pribadi. Sukur-sukur tulisan saya ada yang baca jadi bisa menjaring lebih banyak orang lagi yang sadar akan pentingnya hal yang namanya pengasuhan anak ini.

Saya juga orangtua yang sering kesal dan pernah marah kok.

Parenting

[Parenting] Perhatian itu Penting!

Baru saja kemarin saya membaca sebuah artikel yang menyebutkan kalau kasus pembunuhan yang baru-baru ini ramai terdengar merupakan ketidaksengajaan. Yap, pembunuhan remaja perempuan yang bernama Ade Sara Angelina (18) yang itu. Yang dibunuh oleh mantan pacar dengan pacar barunya si mantan, yang ternyata adalah teman satu SMA.

Memang saya menyetujui kalau terbunuhnya Sara mungkin ketidaksengajaan. Namun saya tetap tidak bisa membenarkan tindakan penganiayaan terhadapnya. Bahkan bisa dibilang saya mengutuk tindakan seperti itu. Walaupun mungkin Sara tidak sengaja terbunuh, mereka tetap merencanakan tindakan kejahatan untuk menyiksanya. Dan hal itu adalah tindakan yang sangat buruk. Mereka tidak bisa memperkirakan apa dampak negatif dari rencana jahat mereka. Mereka tidak bisa memperkirakan konsekuensi dari tindakannya.

Dan, beberapa waktu yang lalu saya membatin kalau…

Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 9, Menakuti Anak

Terkadang demi membuat anak kita diam dan tenang dari tangisannya, kita malah menakut-nakutinya dengan hal yang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Seperti saat anak tidak henti-hentinya menangis, orangtua malah bilang padanya “Diem gak? Nanti mama bawa ke dokter ya biar disuntik” atau “Hadeuh, nanti mama panggil polisi nih ya biar kamu diem”. Atau malah ada yang menakut-nakutinya dengan hantu-hantuan atau hal-hal yang berbau mistis, hiiy.

scaring (1)

Image by Beth Jusino on Flickr

Mungkin memang dengan begitu anak akan berhenti menangis, tapi

Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 8, Campur Tangan Pihak Lain

Ada yang masih tinggal dengan orangtua walaupun sudah punya 1 atau 2 anak? Pasti ada lah yaa, hehe. Tapi sering gak sih kita gak kompak sama orangtua masalah pengasuhan anak kita? Misalnya saja, kita sedang mengajarkan anak bertanggung jawab dengan membiarkannya mengambil lap dan membersihkan sendiri tumpahan susu yang tadi diminumnya. Tapi tiba-tiba si nenek *ibu mertua atau ibu kita sendiri* melihat itu dan langsung menghentikan aksi cucu kecilnya itu. Beliau berkata, “ealah, mau ngapain bawa2 lap itu? udah, nanti biar bibi aja yang beresin, kamu main aja gih sana”. Nah lho, padahal kitanya ada di situ, tapi si nenek “mengambil alih” kewenangan kita terhadap anak.

Kita biasanya ya cuman ngedumel dalem hati karena gak enak untuk menegurnya. Atau merasa capek untuk sekedar menjelaskan alasan kita. Siapapun yang tinggal di rumah sebetulnya bisa banget melakukan ini. Mereka ngerasa gak tega, kok ya anak kecil disuruh-suruh ngerjain kerjaan rumah gitu atau kok ya anak kecil gak dibantu. Padahal maksud kita kan baik, demi mengajarkannya tanggung jawab dan kemandirian. Tapi kok ya pihak lain rasanya gak mau tinggal diam dan selalu mau menginterupsi cara kita.

Gangguan Pihak Lain

Image by Wayne Large on Flickr

Terus gimana donk menyikapi hal ini?

Parenting

Happy Mom Raise Happy Kids

Postingan ini hanya ingin membicarakan sedikit sekali tentang sebutan ibu-ibu. Ada SAHM atau Stay At Home Mother, ada WM atau Working Mother, dan yang sekarang sedang ‘ngetrend’, WAHM alias Working At Home Mother. Sebenarnya saya agak risih juga sih sama orang yang membeda-bedakan status ibu. Mau dia SAHM, mau WM, atau WAHM, dia tetap menyandang kata “Mother”. Jadi kayanya gak ada tuh istilah ibu mana yang derajatnya lebih terhormat atau lebih tinggi. Semua lebih karena pilihan mana yang membuat mereka menjadi lebih bahagia, hihi.

Bener kan? Yang terpenting adalah kebahagian agar tidak terjadi kasus-kasus seperti Andrea Yates atau kasus-kasus lain yang serupa dimana penyebab hal tersebut adalah seorang ibu yang depresi.

Mari saya jabarkan satu persatu

Parenting

Weaning Alias Menyapih

Entah cara menyapih yang saya lakukan ini bisa disebut WWL (Weaning With Love) atau tidak, yang jelas penyapihan ini didasari oleh rasa cinta, hihi.

Walaupun Naia belum berumur 2 tahun *sebentar lagi siih*, saya dianjurkan untuk menyapihnya. Hal ini dikarenakan demi memperbaiki gizi Naia.

Proses penyapihan ini diawali dari kunjungan kami ke dokter gizi menyangkut BB Naia yang jauh dibawah garis normal BB batita seusianya *kasus BB kurang ini pernah saya ceritakan di sini*. Nah, saat kunjungan ke dokter itu, dokter bertanya akan seringnya Naia ‘nenen’ sehari-harinya. Lalu, saat saya mengutarakan betapa sering dan lamanya Naia nenen itu dokter lalu berkata kalau Naia ternyata ‘nyandu’ nenen dan malah asik menjadikan itu sebagai mainan alias ngempeng! Hiks, saya sediiih sekali saat mendengar ini. Saya gak mau anak saya ngempeng tapi secara tidak sadar selama ini Naia ternyata ngempeng T_T Belum adanya pengalaman sebagai ibu sebelumnya *yaiyalaah* ikut serta membuat saya jadi tidak bisa membedakan apakah anak saya ngempeng atau bukan. 

Oke, itu prolognya, sekarang bagian bagaimana proses penyapihan tersebut

Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 7, Papa dan Mama Tidak Kompak

Alkisah *elah, kok pake alkisah yak*. oke, saya ganti..

Suatu malam Bela (bukan nama sebenarnya *halah) ingin menonton televisi dan membujuk sang Ibu agar ia diperbolehkan menonton. Tapi ternyata si Ibu melihat kalau Bela ini belum makan, jadilah ia memberi syarat Bela harus makan dulu sampai habis baru bisa menonton. Tentunya dengan bahasa yang telah diatur sedemikian rupa sehingga penyampaiannya baik. Tapi Bela malah tetap gak mau makan dan langsung merengek yang lama kelamaan jadi menangis kencang. Karena si Ibu tau itu hanya strategi, ya dibiarkan saja Bela menumpahkan tangisannya. Toh, Ibu tau kalau tangisan strategi itu biasanya gak bertahan lama. Kalau dia sangat ingin menonton televisi, toh dia pada akhirnya mau makan.
Tapi ternyata Ayahnya Bela kasihan dengannya dan akhirnya mengabulkan permintaannya untuk menonton televisi. Walhasil tangisan berhenti, Bela menonton televisi namun tidak jadi makan. Si Ibu jadi bingung dengan Ayah yang gak kompak itu dan akhirnya hanya geleng-geleng kepala sendiri.

Pernah mendengar kisah serupa? Atau kisah lain dimana Ayah tidak mau membelikan mainan karena bulan itu telah dibelikan mainan namun Ibu tetap membelikannya dengan alasan takut nangis dan mengganggu pengunjung toko lain?

Itu tandanya pengaasuhan Ayah – Ibu yang masih belum kompak.

Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 6, Merendahkan Diri Sendiri

Pernah mengatakan ke anak setiap kali anak itu tidak mau menurut dengan perkataan seperti ini: ?

nanti mama bilangin papa lho” atau “biarin, begitu mama pulang nanti kamu pasti dimarahi

Kalau pernah, SELAMAT! Kalian telah merendahkan diri kalian sendiri di hadapan anak. Iya, kalau salah satu saja dari orangtua yang berwenang dan berkuasa atas segala peraturan di rumah, lantas kita sebagai pasangan bagaimana? Bukankah yang berwenang dan berhak mengasuh anak adalah kita berdua sebagai orangtua?

Dan, komunikasi yang paling baik adalah tetap dimana terjadi kesepakatan antara orangtua dan anak. Kesepakatan tersebut bisa dibuat oleh ibu maupun ayah karena kedua-duanya sama-sama berwenang, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah kuasanya di hadapan anak.

Buat kesepakatan

Jadi, kalau anak mau menurut, ya buatlah kesepakatan dan patuhilah kesepakatan tersebut. Misal, si anak tidak mau mandi karena masih asik menonton. Tentukan pilihan dan beri batasan waktu untuk disepakati berdua. Minta ia untuk mandi sekarang agar nanti malam bisa menonton lagi atau mandi 10 menit lagi namun setelah itu tidak bisa menonton TV di malam nanti. Apabila ia lebih memilih mandi 10 menit lagi, tepat 10 menit kemudian datangi anak dan ajak mandi saat itu juga tanpa ada kompromi lebih lanjut. Karena itu adalah pilihannya tadi, dan dia harus menepati janjinya untuk tidak menonton TV nanti malam sebagaimana kita menepatinya untuk menunggu 10 menit.

Memang untuk membuat suatu kesepakatan seperti itu, kita sebagai orangtua harus sangat kreatif dan memiliki banyak ide. Namun, sesungguhnya tidak menjadi sulit ketika kita sangat mengenal anak kita. Apa kesukaannya dan apa yang yang tidak disukainya. Hal itu akan sangat memudahkan orangtua untuk memberinya hadiah atau hukuman yang tepat di isi kesepakatan.

Happy parenting ^^