Traveling

Serunya Mengajak Anak Trekking ke Curug Leuwi Hejo Sentul

Ah, rasanya puas dan menyenangkan banget akhirnya kesampaian untuk mengajak suami dan anak-anak untuk trekking lagi di Sentul, kali ini yang rute Curug Leuwi Hejo. Puas karena Alhamdulillah semuanya senang dan menikmati trekking kami kali itu.

Setelah bulan Oktober lalu aku merasa recharge banget ikut trekking bareng temen-temen FBI (Food Blogger Indonesia), aku lalu berniat banget untuk mengajak keluarga sendiri, suami dan anak-anak, untuk trekking juga.

Foto di Curug Leuwi Hejo

Yasudah aku menghubungi vendor yang sama deh dengan yang kami ikuti untuk trekking Oktober lalu itu. Setelah diperlihatkan paket-paket yang ada, aku mencari rute yang kira-kira masih aman dan lumayan ramah anak lah yaa. Soalnya memang akan mengajak Nara yang masih 6,5 tahun juga kan.

Berhubung ternyata kami sudah pernah trekking ke rute yang Curug Leuwi Asih, jadi kali ini mau ke rute yang berbeda, jadilah aku pilih rute Curug Leuwi Hejo. Kalau dikira-kira, panjang rute trekkingnya masih sangat bisa dilakukan oleh anak-anak gitu.

Nah, sini aku ceritakan gimana serunya trekking bersama anak-anak ke Curug Leuwi Hejo ini ya.Semoga bisa jadi inspirasi buat kalian yang juga mau mengajak anaknya trekking di Sentul, hehehe.

Lokasi

Lokasi pintu masuk Curug Leuwi Hejo

Lokasinya sendiri tentu ada di daerah Sentul lah ya. Saat hari H, kami diminta untuk menuju titik temu, yaitu di Weekend.ers Backyard, lagi-lagi di Taman Budaya Sentul.

Berhubung rute Leuwi Hejo ini termasuk rute yang cukup favorit, jadi kemungkinan akan ada banyak rombongan yang melalui rute yang sama seperti kami, jadi aku minta untuk bisa bertemu lebih pagi. Alhamdulillahnya, kami bisa sampai di titik temu sekitar jam 6.30 pagi dan para guide dari @zonatrekkingsentul sudah bersiap menunggu para tamu, termasuk kami ini.

Rupanya, dari Taman Budaya Sentul ini menuju tempat parkir trekking ini memakan waktu cukup lama juga lho. Soalnya kami harus melewati rumah-rumah penduduk juga dan melewati pintu masuk Leuwi Hejo-nya.

Sepertinya sih kalau kalian mau berkunjung sendiri ke sini bisa juga ya tanpa guide. Namun kalau aku, guide kemarin tuh oke banget soalnya kami jadi punya foto dan video sekeluarga yang lengkap, ihihi.

Drama Trekking

Sesampainya kami di parkiran, guide yang mendampingi, mas Sopyan, segera mengajak kami untuk melakukan pemanasan terlebih dulu. Supaya otot otot kaki dan badan kita siap gitu sebelum melakukan trekking yang lumayan jauh.

Pemanasan sebelum trekking

Guide kami juga menjelaskan rute Leuwi Hejo ini akan melewati beberapa curug, salah satunya (dan yang pertama kami lewati) adalah Curug Leuwi Hejo itu sendiri. Berikutnya ke Curug Leuwi Benjol, Curug Cepet, Leuwi Liek, dan juga Curug Bagong.

Kami lalu berfoto sedikit juga di lahan parkir ini dengan latar belakang pemandangan yang cukup memanjakan mata.

Foto dulu sebelum trekking

Pusing dan Gak Kuat Jalan

Sebetulnya setelah kami sampai di parkiran ini dan turun dari mobil, anak ketiga kami, Nara, mulai mengeluh pusing. Sepertinya karena perjalanan yang lumayan bergelombang dan memakan waktu lama ya, jadi dia agak pusing.

Ditambah, dia baru sarapan sedikit saja. Berhubung kami berangkat sejak pagi, jadi kami hanya sempat sarapan onigiri yang dibeli di minimarket. Lumayan sih ya makan nasi dan isian lauknya, tapi entah ya kenapa dia masih pusing sedangkan kakak-kakaknya enggak.

Akhirnya kami sempat beberapa kali berhenti dan istirahat sambil Nara makan cemilan yang sudah aku siapkan. Seperti biasa, kalau pergi sama anak-anak, memang HARUS banget ada cemilan ya, ahaha.

Anw, setelah mengeluh pusing dan gak kuat untuk berjalan, akhirnya Nara sempat digendong oleh papanya sedikit. Lumayan ya, suami jadi bisa melatih hasil latihan bebannya di rumah xp

Sekitar 15 menit berjalan, kami akhirnya sampai di curug pertama, yaitu curug Leuwi Hejo

Papa gendong anaknya saat trekking

Bertemu Curug Leuwi Hejo

Begitu sampai di Curug Leuwi Hejo ini, anak-anak jadi “Hijau” matanya untuk bisa segera nyemplung dan main air, termasuk si anak terakhir Nara yang mengeluh pusing-pusing tadi, ihihi.

Awalnya mereka ragu-ragu untuk menyusuri sungainya. Namun setelah aku mencontohkan dan memperlihatkan kalau sungainya gak terlalu dalam, mereka baru deh semangat untuk mengeksplor sungainya juga. Bahkan pergi ke bagian yang lain sampai aku gak sadar, ahaha.

Aku kemudian menyusul anak-anak ke bagian yang lebih besar dan lebar itu. Bahkan sampai ke bagian yang cukup banyak jeramnya, karena di sana sepertinya bisa duduk bersantai sedikit, ehehe.

Saat di sinilah anak-anak pun menghampiri dan semuanya mengikuti untuk duduk bersantai di jeram kecil ini. Sambil menikmati aliran air yang membasuh punggung dan menyegarkan badan, kami jadi bisa sambil bercengkerama di sana. Ah, masyaAllah ya, Fabiayyi ‘alaa i rabbikuma tukadzidzibaann ya Allah.

Anak pertama yang awalnya juga menolak keras ajakan trekking ini pun senang sekali saat bermain air di sini. Kami hampir terlalu lama dan gak lanjut berjalan karena anak-anak udah keasikan. Bahkan saat aku bilang “yuk, kita lanjut!”, Nara yang menolak dengan cukup keras karena dia masih menyegarkan diri di sini, ahaha.

Akhirnya kami berikan waktu beberapa menit lagi supaya dia cukup puas berendam dan main airnya, karena di tujuan berikutnya pun kami masih bisa nyemplung-nyemplung dan main air lagi.

Setelah sekitar 15 menitan, kami pun bergegas untuk lanjut trekking. Takut makin ramai ya kan ke atasnya. Soalnya hari semakin siang, jadi memang semakin banyak orang yang terlihat trekking di jalur yang sama ini.

Curug Leuwi Benjol

Setelah anak-anak cukup puas bermain di Leuwi Hejo, kami lalu lanjut trekking dan menuju curug selanjutnya.

Hal yang cukup membuat kami tenang adalah, walaupun harus melalui jalanan yang cukup menantang dengan jalur yang terjal dan tanjakan yang cukup curam, Nara tetap semangat dan kali ini tidak mengeluh pusing ataupun lelah.

Kata dia sih, karena tadi sudah bertemu dengan air dan merasa segar, jadi dia kuat lagi untuk berjalan dan siap menghadapi rute selanjutnya, ihihi.

Aku dan suami lirik-lirikan dan merasa bangga serta terselip kelucuan dengan tingkah anaknya 😀

anak trekking

Anw, setelah berjalan beberapa menit, kami sampai di curug yang selanjutnya, yaitu curug Leuwi Bejol. Kali ini curugnya berbentuk lebih panjang dengan 2 bagian. Bagian atas terdapat Leuwi alias kolam air di bawah curug kecil, bagian bawah lebih seperti sungai dengan bebatuan yang banyak.

Anak-anak langsung mau berloncatan lagi di antara bebatuan sungainya. Kata Naia, dia lebih suka yang banyak batunya kayak gitu karena ada tantangan tersendirinya. Anw, ini gak literally loncat ya, tapi jalan aja gitu menyusuri sungai dan melangkah di bebatuannya.

Aku sendiri kepincut dengan jeram yang ada di bagian atas dan ingin segera menyegarkan diri di sana. Alhamdulillah yaa asik banget badannya saat terkena air terjun kecil seperti ini, serasa pijat alami, ahaha.

Di bagian bawah sih juga terdapat kolam yang cukup dalam juga ya. Namun, berhubung air terjunnya cukup deras, jadi agak terlalu dalam untuk anak-anak dan agak menantang juga untuk mereka. Jadi yang bisa berfoto di sini hanya Nawa saja, Naia Nara gak mau mencoba.

Nah, di sini Nara sudah mulai kedinginan, jadi dia istirahat dulu dan menyantap camilan (lagi) sambil menunggu kami main-main lagi di Leuwi bagian atasnya. Lumayan seru sih lihat anak-anak senang bermain di bagian ini.

Curug Cepet

Begitu kami sudah cukup puas, dan Nara pun sudah lumayan reda kedinginannya, kami beranjak lagi ke curug berikutnya.

Masih melalui jalur yang cukup menantang ya, bahkan kali ini melalui sungai yang batunya lumayan gede-gede dan kami harus menuruni jalurnya dengan melangkah di antara bebatuan tersebut.

Sesampainya di sini, aku melihat terdapat warung makan untuk beristirahat dan menjual Indomie serta Pop Mie yang memang enak disantap di saat-saat seperti ini.

Oh iya, tidak jauh dari situ juga terdapat toilet bahkan kamar bilas. Jadi untuk pengunjung yang mau segera membersihkan diri dan berganti pakaian, bisa juga dilakukan di sini.

Aku dan Suami ke Tempat Dalam Berdua

Berfoto di Curug Cepet

Nah di Curug Cepet ini terdapat 2 area gitu. Yang satu kolam yang tidak terlalu dalam dan bisa untuk foto-foto bahkan bermain air sedikit, satu lagi seperti lorong yang aliran airnya cukup deras dan memiliki kedalaman yang cukup tinggi. Namun, di bagian ujung lorong tersebut terdapat area yang lumayan asik juga untuk main.

Nah, aku penasaran sehingga menyusuri lorong tersebut berdua suami. Berhubung sungainya dalam, aku pun menyusuri lorong sungainya tadi dengan tali yang sudah terpasang di sisi sebelah kiri lorong. Namun, talinya tidak sampai ujung, sehingga kita tetap harus berenang sedikit untuk sampai ke sisi satunya.

Nah, dengan kemampuan renang yang seadanya, tentu aku ternyata gak sanggup melanjutkan ke sana tadinya, ahaha. Tapi akhirnya aku minta suami terlebih dulu yang berenang sampai ke sisi sana, barulah aku berenang dengan harapan “ditangkap” oleh suami.

Akhirnya kami betul bisa bermain di sisi satunya lagi.

Anak-anak sih asik saja bermain di jeram kecil nan lebar yang ada di bagian kami masuk tadi. Setelah mereka asik main air, mereka kemudian beralih ke pinggir sungai untuk bermain tanah dan membuat sedikit gunung tanah yang diletakkan di atas batu.

Berhubung mereka pun menikmati waktu, aku dan suami juga menikmati waktu deh di sisi satunya. Kami bertemu dengan pengunjung lain yang kemudian bisa bergantian foto, ihihi.

Menyantap Mie di Warung Curug Cepet

Nah, seusai puas bermain, baik aku dan suami maupun anak-anak, kami lalu berpikir untuk makan di warung yang ada saja. Berhubung anak-anak juga sudah lapar, akhirnya kami putuskan untuk makan dulu saja di sini.

Nah, kebetulan hari kami trekking ini (hari Minggu) memang jadwal anak-anak sarapan Indomie ya, jadi kami gapapa banget anak-anak makan mie di warung ini.

Makan mie di warung

Terus, Nawa dari rumah tuh khawatir kan kalau kalau di warung gak ada rasa yang dia inginkan yaitu Indomie rasa rendang. Jadilah sejak di rumah sebelum berangkat, dia memang membawa bekal Indomie tersebut, ihihi.

Naia pun akhirnya mengikuti jejak Nawa untuk membawa Indomie dengan rasa yang dia inginkan. Jadi saat di warung mie ini, kami meminta dibuatkan sambil tambah telur juga untuk mereka berdua xp. Aku, suami dan Nara sih aman, bisa makan pakai Indomie yang tersedia di warung, hehe.

Alhamdulillah nikmat banget ya rasanya makan mie setelah puas main air kayak gini. Anak-anak bahkan nambah jadi mereka makan Indomie masing-masing 2 porsi, hahaha. Ini kombinasi lapar dan doyan sih yaa.

Sandal Copot Saat Jalan Pulang

Tadi kan guidenya bilang kami mau ke 5 curug, tapi karena melihat kondisi (sudah siang dan anak-anak sepertinya sudah lelah), ya kami jadinya pulang deh setelah kenyang menyantap mie di warung Curug Cepet ini.

Alhamdulillah anak-anak juga memang sudah mau pulang dan sudah merasa kakinya agak pegal. Bahkan ada yang meminta untuk naik ojeg saja sampai kembali ke parkiran, wkwkwk. Tapi tentu saja itu cuma bercanda. Memang sih ada ojeg, tapi mereka Alhamdulillah kuat sampai parkiran.

Cuma ya, kayanya kalau trekking itu adaa aja hal tak terduganya. Kalau di trekking sebelumnya sepatu aku yang mangap alias copot dari solnya, kali ini sandal gunung anak pertama yang copot, akhirnya kami bertukar sandal.

Jadi aku nyeker, dia pakai sandal aku. Lumayan lah, ukuran kakinya sudah mendekati ukuran kakiku, jadi gak terlalu kebesaran banget.

Alhamdulillahnya, baru saja berjalan nyeker sebentar, di depan kami ada warung yang jual sandal jepit. Yasudah akhirnya aku beli saja di sana dan melanjutkan perjalanan pulang pakai sandal jepit tersebut deh. 😀

Foto Dikira AI

Setelah sampai rumah, aku langsung melihat-lihat foto yang sedari tadi ditangkap oleh guide kami. Ada foto yang aku suka banget, banyak sih lebih tepatnya. Salah satunya waktu kami bertiga (aku, suami, dan Nara) berfoto di Curug Leuwi Hejo sambil berada di jeram kecilnya.

Lihat di sini fotonya

Nah, foto tersebut aku kirim ke grup keluarga suami sambil bilang kami habis trekking. Berhubung kami memang belum mengabarkan kalau mau trekking, mama mertua jadi bertanya “beneran?” dan sedikit tidak percaya. Sepertinya itu karena fotonya agak mirip AI yaa. xp

AI zaman sekarang saking canggihnya memang cukup sulit sih dibedakan dengan yang bener.

Ya akhirnya aku kirim foto-foto, bahkan video lainnya deh yang menunjukkan kami memang trekking, ahaha.

Tarif Trekking Bersama Anak

Oiya, untuk tarif trekking bersama anak ini sama saja seperti orang dewasa.

Aku sudah sebutkan di atas kalau di kesempatan trekking ini aku pakai provider yang sama, yaitu @zonatrekkingsentul. Sehingga tarifnya tuh flat ya mau dewasa maupun anak. Yang penting minimal 3 orang, kita bisa ikut private tripnya gitu dengan biaya per orangnya 150 ribu rupiah.

Aku pakai mereka lagi soalnya mau dipandu oleh mas Sopyan. Bukan apa-apa, dia itu kemampuan fotonya lumayan bagus, jadi aku bisa mempercayakan hpku untuk dipegang sejak awal olehnya.

Hasilnya ya foto-foto yang ada di sini deh. Menurut aku sih bagus-bagus yaa, gimana menurut kalian? 😀

Anak-anak Happy dan Banyak Belajar

Alhamdulillah pengalaman trekking ke Leuwi Hejo ini overall happy dan aku terpuaskan banget. Di akhir perjalanan, aku lalu berterima kasih kepada suami dan anak-anak karena sudah mau mengikuti keinginan aku untuk mengajak mereka trekking ini.

Trekking bersama anak-anak

Mereka pun jadi happy dan jadi bisa beraktivitas fisik di alam terbuka ya. Terus juga mereka jadi belajar macam-macam hal, terutama macam-macam tanaman.

Soalnya sepanjang jalur trekking ini kami bisa melihat perkebunan warga yang dekat dan ditanami berbagai jenis tanaman juga, seperti nangka, kopi, cokelat, pandan, dan lain-lain.

Nawa sempat nyeletuk saat kami berjalan melewati batu-batu kecil yang halus seperti batu yang ada di taman-taman itu. Dia bilang batunya lucu, kayak blueberry, karena bentuknya memang seragam dan nyaris sama.

Nah rupanya itu memang bukan batu dan ternyata biji kolang kaling, hahaha.

Jadi selain mendapat aktivitas fisik, badan yang segar, anak-anak juga bisa belajar berbagai macam tanaman yaa dengan kesempatan trekking kali ini.

Next-nya pengen cobain ke tujuan lainnya deh hehe. Mungkin nanti cari tempat yang bisa tanpa pakai guide yaa (semoga bisaa).

istianasutanti

Halo, salam kenal ya.

Aku Istiana Sutanti, seorang ibu dari 3 orang perempuan yang hobi sekali mengajak anak-anak untuk traveling bersama.

Di blog ini aku sharing pengalaman traveling kami sekeluarga plus pelajaran parenting yang aku dapatkan, baik dari pengalaman pun dari seminar parenting.

Semoga kalian suka membaca pengalaman traveling kami dan semoga membantu untuk menentukan tujuan traveling kalian berikutnya! ;)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.