Traveling

Manfaat dan Aktivitas Grounding Saat Traveling Bersama Anak

Aku dan suami sudah lama menyadari kalau grounding itu punya banyak manfaat, bukan hanya buat orang dewasa tapi juga untuk anak-anak. Karena itu, setiap kali traveling, aku dan suami selalu berusaha menghadirkan momen grounding di tengah perjalanan.

Rasanya sayang banget ya kalau liburan hanya diisi dengan buru-buru pindah dari satu tempat ke tempat lain. Apalagi kalau anak-anak lebih sering pegang gadget ketimbang benar-benar menikmati suasana.

Dengan grounding, anak-anak bisa belajar untuk hadir dan menikmati momen kebersamaan, perjalanan jadi lebih tenang, dan yang paling penting: anak latihan meregulasi emosi mereka.

Traveling, Peluang Besar untuk Grounding

Sesungguhnya, sejak sebelum menikah aku memang suka sekali traveling dan merasakan semua hal dengan panca indera yang aku punya. Aku suka memperhatikan jalan, memperhatikan awan, bahkan begitu menyukai aroma gunung karena udaranya yang lembut dan sejuk.

Belakangan barulah aku mengerti kalau ternyata hal-hal seperti itulah yang dinamakan grounding. Karena grounding mengajak kita untuk lebih merasakan saat ini dan untuk bisa lebih memerhatikan keindahan yang ada di sekitar kita.

Setelah menikah dan memiliki anak, kami pernah ke laut dan baru saat itulah aku paham kenapa suami begitu menyukai laut. Karena ternyata setelah melihat laut yang sangat luas, entah kenapa hati merasa tenang, pandangan terasa sangat luas dan tak terbatas. Aku juga jadi kembali disadarkan kalau sebenarnya kita itu hanyalah bagian yang sangat kecil di alam ini.

Karena ini juga lah kenapa aku sangat menyukai traveling. Traveling memberi kita banyak kesempatan untuk grounding dan menikmati alam seluas dan sebanyak-banyaknya.

Karena alam, budaya, dan suasana baru memberi banyak “bahan” alami untuk melatih kesadaran panca indera.

Manfaat Grounding saat Traveling Bersama Anak

Begitu menikah dan memiliki anak, hobi traveling ini Alhamdulillahnya masih tersalurkan. Suami selalu berusaha untuk memberi kesempatan dan pengalaman traveling yang banyak untuk aku dan anak-anak.

Pahawang Kecil

Sehingga anak-anak juga bisa kami ajak untuk grounding pada saat kami traveling. Karena dengan grounding, anak-anak jadi lebih bisa menghargai hal-hal kecil yang sering kita lewatkan. Misalnya:

  • Di pantai mereka bukan hanya sibuk main pasir, tapi juga merasakan hangatnya pasir menempel di kaki, mendengarkan ombak, bahkan mencium aroma laut yang khas.
  • Di gunung mereka duduk diam sebentar, merasakan dinginnya udara di pipi, sambil mendengarkan suara serangga atau aliran sungai. Atau pernah saat sunrise, kami hanya diam dan memperhatikan matahari yang pelan-pelan beranjak naik dan menyapa.
  • Di kota pun bisa, anak diajak memperhatikan lampu-lampu jalan atau suara unik kendaraan yang lewat. Bahkan kami juga beberapa kali mengajak anak-anak untuk ikut menghitung mobil dengan warna tertentu yang kami lewati.

Dengan hal-hal kecil seperti itu, selain anak jadi terhibur, anak juga jadi bisa merasakan momen saat ini di tempat ini. Mereka jadi semakin aware kami sedang berada di mana dan ada apa saja di daerah tersebut.

Selain melatih regulasi emosi, anak juga jadi kenal dengan berbagai daerah dan budaya.

Grounding Membantu Anak Meregulasi Emosi

Salah satu alasan kenapa kami serius mencoba mengenalkan grounding ke anak-anak adalah karena pengalaman pribadi di rumah.

Ada masa ketika kami cukup kewalahan menghadapi salah satu anak yang cenderung impulsif dan emosinya sulit dikontrol. Rasanya hampir setiap hari ada drama kecil, dan kami pun ikut lelah secara mental.

Akhirnya, kami memutuskan untuk konsultasi ke psikolog anak. Dari situ kami mendapat banyak masukan. Salah satunya adalah pentingnya membiasakan grounding, membawa anak untuk lebih sadar pada tubuh dan alam di sekitarnya.

Kami diminta sering-sering mengajak anak ke alam yang luas dengan bertelanjang kaki. Katanya, aktivitas ini bisa membantu menurunkan intensitas emosi dan memberi ruang bagi anak untuk berpikir sebelum bereaksi.

Sejak saat itu, kami coba terapkan di rumah, lalu semakin terasa manfaatnya ketika dibawa ke momen traveling. Misalnya, waktu anak mulai rewel atau emosinya memuncak di perjalanan, kami ajak dia melakukan grounding sederhana.

Ya seperti yang aku ceritakan di atas. Ketika mereka mulai rewel, kami mulai membuat permainan sederhana, seperti menghitung mobil atau memperhatikan warna-warna yang ada di sekitar kita. Ada berapa warna bunga, ada berapa warna hijau, dan lain sebagainya.

Dengan cara sederhana seperti ini, anak belajar bahwa ada banyak hal di sekitar yang bisa disadari, dan itu membantu menenangkan pikiran. Lama-lama, anak jadi lebih terbiasa untuk pause sejenak sebelum emosinya meledak.

Baca juga: 5 Tips Menghadapi Anak Rewel Saat Traveling

Aktivitas Grounding yang Bisa Dilakukan Saat Traveling

Supaya lebih terbayang, aku rangkum beberapa aktivitas grounding yang bisa dilakukan bersama anak saat jalan-jalan ya:

  1. Jalan Tanpa Alas Kaki di Alam
    Biarkan anak merasakan tekstur pasir, rumput, atau tanah. Sensasi alami ini membantu mereka merasa rileks sekaligus terkoneksi dengan bumi.
  2. Permainan Warna atau Suara
    Ajak anak menyebutkan warna-warni yang mereka lihat, atau suara-suara unik yang terdengar. Cocok dimainkan saat menunggu di bandara atau kereta.
  3. Mindful Eating
    Saat mencoba makanan khas daerah, minta anak pelan-pelan merasakan rasanya, mencium aromanya, dan memperhatikan teksturnya. Jadi, makan nggak sekadar kenyang, tapi juga pengalaman.
  4. Menatap Langit dan Awan
    Waktu santai di hotel atau taman, anak bisa diajak mengamati bentuk-bentuk awan. Aktivitas ini sederhana tapi bikin pikiran lebih tenang.
  5. Latihan Napas
    Cocok dipakai saat anak mulai rewel. Minta mereka tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan sambil pura-pura meniup lilin atau balon.

Kami pernah ke hotel yang temanya memang kembali ke alam, yaitu Sarga Earthing Resort di Puncak. Hotel ini memang sangat mendorong para tamu untuk bisa melakukan grounding di salah satu area khusus yang berpasirnya.

Earthing

Tips Praktis

Meskipun kelihatannya mudah, kadang orang tua juga suka lupa menerapkan grounding di tengah sibuknya itinerary. Berikut beberapa tips supaya lebih konsisten:

  • Jadwalkan momen santai
    Kami terbiasa gak terlalu ambisius untuk ke beberapa tempat dalam sehari kalau lagi traveling. Jadi memang sengaja menyempatkan waktu untuk berdiam dan bersantai. Dengan begitu anak jadi lebih nyaman untuk lama-lama bermain pasir di pantai, aku dan suami juga jadi bisa menikmati waktu berdua untuk sementara.
  • Gunakan bahasa sederhana
    Ya kalau kita bilang “grounding yuk!,” anak juga gak bakal langsung engeh dan ngerti kan ya kalau lagi bete. Jadi paling biasanya dialihkan untuk melihat langit atau sesuatu yang menarik hatinya terlebih dulu. Atau bisa juga dengan main tebak suara, yaitu mengajak anak untuk berdiam sebentar supaya kami bisa mendengar suara di sekeliling. Setelah itu baru sebutkan satu per satu suara apa saja yang kita dengar saat itu.
  • Ikut melakukannya
    Anak belajar dari contoh. Kalau orang tuanya juga mau duduk diam menikmati angin atau memperhatikan langit, anak akan lebih mudah meniru.
  • Fleksibel sesuai usia anak
    Untuk balita, cukup aktivitas singkat seperti meniup napas atau menyebutkan warna. Untuk anak yang lebih besar sih sudah mulai bisa diberi pengertian untuk coba berdiam dulu sebentar untuk menenangkan diri. Baru setelah itu ajak mereka memperhatikan sekitar.
  • Anggap sebagai bagian dari liburan, bukan PR
    Yang perlu diingat, grounding itu bukan kewajiban sih, tapi cara supaya liburan lebih menyenangkan aja. Selain anak jadi lebih aware dengan lingkungan sekitar, hal ini bisa memperkuat bonding orangtua anak juga.

Bukan untuk Anak Saja, Tapi juga Orangtua

Grounding jadi cara sederhana tapi efektif untuk membantu anak lebih tenang dan lebih bahagia. Selain itu anak membawa pulang keterampilan regulasi emosi yang berguna bahkan setelah liburan selesai.

Aku menuliskan ini juga sebagai pengingat agar aku bisa terus berusaha untuk melakukan grounding kalau traveling. Jadi, pengalaman kami juga belum sempurna, anak-anak juga belum sepenuhnya memiliki regulasi emosi yang baik.

Ya, sebagai orang dewasa saja, terkadang kita juga memiliki regulasi yang kurang baik ya. Jadi sebetulnya dengan grounding yang kami lakukan sambil traveling ini, yang latihan regulasi emosi bukan hanya anaknya saja, tapi kami sebagai orangtuanya juga. 😀

Jadi, saat kalian merencanakan perjalanan berikutnya, coba sisipkan momen grounding ya. Berhenti sebentar, tarik napas, libatkan panca indera, dan nikmati hal-hal kecil bersama anak.

Karena seringkali, kebahagiaan itu justru ada di momen sederhana yang kita sadari bersama kan?

Kalau kalian sudah pernah coba grounding saat traveling bareng anak, share pengalaman kalian di kolom komentar ya, biar kita bisa saling belajar. 😉

istianasutanti

Halo, salam kenal ya.

Aku Istiana Sutanti, seorang ibu dari 3 orang perempuan yang hobi sekali mengajak anak-anak untuk traveling bersama.

Di blog ini aku sharing pengalaman traveling kami sekeluarga plus pelajaran parenting yang aku dapatkan, baik dari pengalaman pun dari seminar parenting.

Semoga kalian suka membaca pengalaman traveling kami dan semoga membantu untuk menentukan tujuan traveling kalian berikutnya! ;)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.