Kami tu kalau cari hotel buat liburan sekeluarga, yang pertama aku perhatikan adalah ada tidaknya kolam renang. Maklum ya, kalau bawa anak-anak tuh, ajak mereka ke kolam renang aja sudah puas dan bisa berlama-lama main air soalnya.
Nah tapi kadang beberapa kali kami “kecele” juga sih. Ada kolam renang sih, tapi ternyata gak ada untuk balita (waktu Nara masih lebih kecil), jadi dia kurang bisa menikmati dan mengeksplor kolam renangnya sendiri.
Atau airnya ternyata dingin banget sampai-sampai anak yang tadinya antusias mau cepet-cepet berenang, begitu baru beberapa menit berenang udah cepet-cepet minta udahan juga, huahaha.
Selain itu, pernah juga kami mendapat kamar yang terasa sempit dan ternyata tempat tidurnya gak sebesar itu.
Lama-lama, dari berbagai pengalaman “kecele” itulah aku mulai punya checklist sendiri setiap kali mau booking hotel. Pelajaran-pelajaran ini datang langsung dari pengalaman menginap kami di berbagai tempat. Dari hotel berbintang di Jakarta, resort di Bandung, villa di Bali, sampai glamping di tepi sungai Pangalengan.

2 Tipe Liburan
Tapi sebelum masuk ke tips-tipsnya, aku mau kasih satu catatan penting dulu ya.
Checklist di bawah ini paling relevan kalau hotel atau penginapan memang jadi bagian dari tujuan liburannya, alias staycation, atau penginapan yang memang niatnya mau dinikmati fasilitasnya, bukan sekadar tempat menaruh badan setelah seharian jalan-jalan.
Karena rupanya ada dua “mode” menginap yang kami jalani, dan kriterianya tuh memang berbeda.
Mode 1: Staycation / hotel jadi bagian dari liburan. Di sinilah semua tips di bawah ini berlaku. Anak-anak diharapkan bisa betah di area hotel, orang tua bisa santai, dan pengalaman menginapnya sendiri sudah jadi destinasi.
Seperti waktu kami ke Grand Tjokro Premier di Bandung beberapa waktu lalu. Berhubung banyak banget aktivitas anaknya, jadi kami gak perlu capek keluar-keluar hotel lagi. Tinggal ke lantai aktivitas tersebut saja untuk menemani anak.
Mode 2: Traveling padat / hotel hanya tempat tidur. Kalau kami lagi road trip atau traveling dengan itinerary penuh, hotelnya memang cuma jadi base camp. Jadi buat kami yang penting saat itu tuh cukup tempat tidur untuk berlima (kamar standard sudah tidak cukup sejak anak-anak makin besar ya, jadi minimal superior atau family room), kamar mandi bersih, dan air hangatnya bisa dipercaya. Itu saja sudah cukup, sisanya bonus.
Nah, kalau kalian lagi berencana staycation atau sedang memilih penginapan yang ingin betul-betul dinikmati bareng anak-anak, semoga tips yang mau aku sampaikan ini bisa membantu menentukan atau mengerucutkan pilihan hotel yaa 😉
1. Kolam Renang Air Hangat
Sebetulnya sih kalau masih di kota Jakarta atau tempat yang tidak terlalu dingin mah gak masalah ya kolamnya bukan air hangat. Tapi kadang ke tempat yang agak dingin tuh kami kelewat mengecek ini.
Kan bikin lumayan gigit jari juga kalau ternyata salah. Ya kayak tadi aku bilang, anak-anak sudah antusias dan segera mau berenang bahkan sebelum sampai hotel. Tapi begitu berenang, eh mau segera udahan juga karena airnya terlalu dingin, hya.
Jadi memang ya, ada kolam renang itu belum cukup kalau kita mau liburan ke daerah yang udaranya dingin. Di Bandung misalnya, suhu bisa sangat dingin terutama malam sampai pagi, dan anak-anak yang masih kecil bisa kedinginan parah kalau main di kolam air biasa.
Waktu menginap di Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung, kami sangat terkesan karena kolamnya yang berkonsep infinity pool dengan pemandangan perbukitan hijau itu airnya hangat. Anak-anak bisa berenang santai tanpa drama menggigil.
Grand Tjokro Premier Bandung pun sama. Kolam anaknya memang air hangat, jadi anak-anak nyaman berenang atau main air di sana. Kami bahkan turun jam 6 pagi tepat saat kolam baru buka supaya dapat suasana sepi dan anak-anak bisa puas berenang sebelum sarapan.

Untuk yang mau pengalaman air panas lebih mantab lagi sih, bisa ke Sari Ater Hotel & Resort di Ciater. Karena memang mereka malah punya kolam rendam air panas alami yang jadi daya tarik utamanya kan.
Anak-anak bisa berendam sampai tangan keriput dengan nyaman, dan areanya luas banget untuk jalan-jalan pagi. 😀
Sebaliknya, hal ini yang pernah jadi pelajaran pahit kami, waktu glamping di Glamping Lakeside Rancabali, air hangatnya ternyata butuh waktu yang cukup lama untuk benar-benar panas. Sementara udara malam di tepi danau itu dinginnya menusuk banget. Anak-anak sempat kedinginan sehabis mandi, huhu.
Tips: Sebelum booking, tanyakan langsung ke hotel apakah kolam renangnya air hangat, atau cek ulasan tamu di OTA yang menyebut hal ini secara spesifik ya.
2. Ada Kolam Anak (Area Dangkal) atau Tidak?
Ini penting kalau masih membawa balita atau anak yang belum bisa berenang ya. Hal ini termasuk salah satu yang bikin kami pernah “kecele” seperti yang aku ceritakan di atas tadi.
Kolam renang dewasa standar kedalamannya minimal 1,2–1,5 meter. Tidak aman untuk anak di bawah 4–5 tahun walaupun memakai pelampung, karena kalau terpeleset atau terlepas dari pegangan orang tua, risikonya besar.
Akibatnya, orang tua tidak bisa benar-benar santai di tepi kolam, jadi harus menemani anaknya sepanjang dia nyemplung ya.
Di Grand Tjokro Premier Bandung, ada kolam anak yang terpisah dengan kedalaman yang sesuai untuk si kecil. Ini yang bikin anak-anak bisa main lebih bebas, sementara aku beserta orang tua lainnya bisa duduk di pinggir dengan tenang. Beda banget rasanya.
Tips: Cari kata kunci “kolam anak”, “kids pool”, atau “shallow pool” di foto galeri hotel sebelum booking. Foto dari Google Maps yang diupload tamu biasanya lebih banyak menunjukkan ini dari foto resmi OTA.
3. Aktivitas Anak Lengkap?

Tersedianya aktivitas anak-anak di hotel itu bukan cuma demi kesenangan anaknya saja sih, tapi rupanya bisa jadi hal yang paling mempengaruhi kualitas staycation kami sebagai orang tua juga, hehe.
Kalau anak-anak punya banyak kegiatan yang bisa dilakukan di dalam area hotel, orang tua bisa ikut bersantai. Atau setidaknya kita kan nggak kehabisan ide “sekarang mau ngapain lagi?” yaa.
Sebaliknya, kalau hotel hanya menawarkan kamar dan kolam renang, siap-siap anak-anak bosan lebih cepat dan minta keluar terus. Paling mentok ya mereka bisa berenang sepuasnya sih ;d
Grand Tjokro Premier Bandung ini juara banget soal ini. Semua aktivitas anak terpusat di lantai 10: ada playground indoor (Kiddyland) dan outdoor (Bubba Playground) yang luas, kelas memasak beneran untuk anak, mini zoo lengkap dengan pengalaman memberi makan binatang langsung, sampai kolam renang.
Kami sampai bingung mau mulai dari mana, dan anak-anak tidak sekalipun minta main HP selama di sana. #WIN 😉
Hotel Gren Alia Jakarta juga serupa, ada waterpark kecil, playground, mini zoo, gym, bahkan playroom dengan PlayStation yang bisa dipakai anak-anak.
Untuk yang suka alam dan aktivitas outdoor, Namu Hejo menawarkan paket glamping sekaligus rafting dan ATV, sementara Be Glamping Lembang punya penyewaan board game dan fasilitas BBQ lengkap untuk kegiatan malam.
Tips: Cek halaman fasilitas hotel secara spesifik ya, bukan hanya bintang atau ratingnya. Sebuah hotel bintang 3 dengan playground yang bagus bisa jauh lebih menyenangkan untuk keluarga dibanding hotel bintang 5 tanpa area bermain anak. 😉
4. Luas Kamar

Waktu anak-anak masih agak kecil sih, aku belum terlalu perhatian dengan luas kamar ini sih. Tapi begitu anak-anak sudah agak gedean kayak sekarang, justru luas kamai ini yang jadi prioritas.
Bayangkan saja, 3 anak perempuan yang sudah besar-besar harus tidur berdesakan kalau kamarnya hanya menyediakan 1 tempat tidur saja.
Makanya, sekarang tuh minimal 2 tempat tidur deh ya di satu kamar, supaya anak-anak bisa tidur nyaman, aku dan suami juga bisa tidur nyaman.
Kalau kamarnya kecil, suasana cepat sekali jadi sesak dan akunya yang bisa jadi stress sendiri nanti. Niat healing malah pening jadinya, hya.
Waktu menginap di Youre.at Fukuoka Bandung, apartemen tematik bertema Jepang, kamarnya luas dengan area tatami yang jadi “zona lesehan” tersendiri. Anak-anak anteng bermain di tatami seharian, sementara aku dan suami duduk santai di kursi sofa. Tidak ada drama rebutan tempat.

Atau sewaktu di hotel Gren Alia atau Suryakencana Boutique Hotel yang memiliki luas kamar yang cukup besar dengan tempat tidur yang juga cukup besar. Tidur kami masing-masing jadi nikmat dan insyaAllah berkualitas.
Hal-hal kayak gini terkesan nggak begitu penting, padahal penting banget buatku. Soalnya kalau tidurnya gak berkualitas, yang ada keesokan harinya badan malah gak enak diajak jalan. Intinya, tidur yang nikmat ini bisa menjaga kesehatan saat kami liburan.
Tips: Saat browsing di OTA, lihat luas kamar dalam satuan m² yang biasanya tercantum di detail kamar. Untuk keluarga 4–5 orang, cari yang minimal 35–40 m², atau pilih tipe suite atau family room yang memang didesain untuk rombongan yang pastinya memiliki tempat tidur yang cukup untuk semuanya.
5. Perhatikan Apakah Ramah Muslim
Ini yang kadang luput dari radar terutama kalau lagi liburan ke Bali atau destinasi internasional nih.

Untuk kami, beberapa hal yang biasanya aku cek adalah adanya mushola atau masjid yang lokasinya dekat hotel. Karena kalaupun misalnya kita nggak muat lagi untuk bisa sholat di hotel, gampang untuk beribadah ke masjid atau mushola saja gitu.
Malah, di Jakarta ada hotel yang memikirkan lebih jauh lagi memikirkan kenyamanan muslim gini, yaitu Hotel Gren Alia Jakarta. Hotel ini tuh salah satu yang paling lengkap dalam konteks syariah.
Kolam renangnya tertutup dengan sesi terpisah antara perempuan dan laki-laki. Untuk keluarga Muslim yang ingin anak perempuannya bisa berenang bebas, kayak gini tuh berarti banget lho.
Begitu juga waktu kami ke Singapura dan menginap di V Hotel Bencoolen. Muslim-friendly menjadi salah satu pertimbangan utama kami memilih hotel ini karena lokasinya yang persis berada di depan Masjid dan juga persis di sebelah pintu keluar MRT.
Tips: Di OTA seperti Traveloka atau Booking.com, ada filter “Muslim-friendly” atau “Halal” yang bisa langsung dicentang. Tapi tetap verifikasi ke hotel langsung untuk detail spesifiknya ya, karena standarnya bisa berbeda-beda.
6. Cek Apakah Stroller-Friendly
Nah, ini paling relevan sih kalau kalian masih bawa bayi atau batita yang belum bisa jalan jauh. Walaupun sebetulnya rata-rata hotel berbintang tuh memang Stroller-friendly, tapi terkadang ada saja yang rupanya belum sedetail itu.
Beberapa penginapan yang secara tampilan terlihat bagus ternyata punya banyak tangga di area yang cukup krusial, tangga menuju lobi, tangga ke kamar, atau bahkan tangga masuk area kolam.

Borobudur Hills misalnya, kamarnya cantik banget dan pemandangannya langsung ke Candi Borobudur, tapi ada banyak tangga kayu menuju kamar yang sama sekali tidak stroller-friendly. Asa Bali Luxury Villas juga punya lobi yang mengharuskan naik tangga dulu.
Dua-duanya masih bisa disiasati, pakai gendongan, atau salah satu orang tua check in duluan. Tapi ya tetap lebih nyaman kalau sudah tahu dari awal lah ya, supaya tidak kaget saat tiba.
Tips: Foto yang diupload tamu di Google Maps biasanya lebih apa adanya dibanding foto resmi OTA, dan lebih mudah untuk mendeteksi apakah akses ke kamar ada tangganya atau tidak.
7. Sarapan
Sebetulnya ini mungkin terdengar sepele sih, tapi buat orang tua yang bawa anak-anak dengan selera makan yang berbeda-beda, format sarapan itu cukup signifikan lho.
Sarapan buffet jauh lebih nyaman untuk keluarga dibanding sarapan kotak. Anak bisa pilih sendiri apa yang mau dimakan, orang tua tidak perlu menebak-nebak. Di Sunlake Hotel, Grand Tjokro Premier Bandung dan Swiss-Belresort Dago misalnya. Sarapan buffet-nya lengkap dan anak-anak bisa sibuk sendiri memilih makanannya.
Malah di Grand Tjokro ada spot tersendiri untuk anak-anak yang memang menunya juga menyesuaikan.

Tips: Kalau sarapan termasuk dalam harga, tanyakan formatnya — buffet, set menu, atau kotak. Untuk keluarga dengan anak picky eater, buffet selalu lebih aman.
8. Responsivitas Staff Saat Ada Masalah
Untuk yang satu ini baru ketahuan bukan saat semuanya berjalan mulus, tapi justru saat ada masalah.
Pengalaman di Be Glamping Lembang waktu tenda kami bocor saat hujan deras jadi contoh yang baik. Begitu kami WA petugasnya dan melaporkan rembesan yang mulai mendekati kasur, tidak berapa lama petugas sudah datang membawa alat pel, mengepel teras, mengecek sumber kebocorannya, dan menutup lubang yang ada. Semuanya diselesaikan cepat dan tanpa drama.
Ini yang membedakan penginapan yang baik dari yang biasa-biasa saja. Bukan soal fasilitas yang selalu sempurna, tapi soal bagaimana mereka menangani ketidaksempurnaan itu.
Tips: Baca ulasan tamu di OTA khusus untuk komentar tentang “staff” atau “pelayanan”. Ulasan yang menceritakan bagaimana staff menangani masalah itu biasanya lebih informatif dari rating bintang.
Sesuaikan dengan Tujuan Mencari Hotel/Penginapan
Karena tadi sudah aku singgung soal dua tipe liburan gitu, perbandingan ini aku tampilkan supaya makin jelas terlihat perbedaannya ya:
Kalau staycation atau hotel jadi bagian dari liburan:
- Kolam renang airnya hangat?
- Ada area dangkal atau kolam anak?
- Aktivitas apa yang tersedia untuk anak di dalam hotel?
- Kamar cukup luas, bisa extra bed?
- Muslim-friendly?
- Stroller-friendly?
- Format sarapan buffet atau kotak?
- Responsivitas staff-nya bagaimana di ulasan?
Kalau traveling padat dan hotel cuma tempat tidur:
- Tipe kamar minimal superior atau family room — bukan standard?
- Kamar mandinya bersih?
- Air hangatnya lancar?
- Lokasinya mudah dijangkau?
Yang kedua ini lebih simpel, tapi tetap penting supaya setidaknya istirahat malamnya nyaman dan besok pagi siap jalan lagi dengan tenaga penuh 😉
Jadi, kalian lagi mau memilih tempat menginap atau hotel dengan tipe yang mana nih?
Apapun yang kalian pilih, semoga liburannya menyenangkan yaa 😉

kolam renang dengan view yang indah sekali 😀