Buat para orangtua, pasti udah pada engeh kan kalo kita sebaiknya menghindari kalimat negatif ke anak kita. Yaa, kalau anak dilarang melakukan sesuatu, dia bingung sebaiknya bagaimana, maka dari itu sebaiknya justru berilah kalimat saran atau kalimat positif yang baik. Ya simple banget kok, cuman mengganti kata ‘Jangan …’ menjadi lawan katanya.
Kenapa sebisa mungkin harus menghindari penggunaan kata ‘jangan’? Karenaa, anak-anak itu cenderung akan mengabaikan kata jangan dan malah melakukan hal negatif yang kita bilang tadi. Atau, karena dilarang melakukan ini itu, anak malah bingung sebaiknya ia harus ngapain. Untuk itulah perlunya penggunaan kalimat positif. Kalimat positif ini bisa berfungsi juga sebagai ‘saran’ kepada anak apa yang sebaiknya ia harus lakukan, instead of melarangnya, hehehe.
Barusan banget dapet dari status sepupu saya di Facebook mengenai daftar kalimat negatif yang diubah menjadi kalimat positif. Bisa digunakan sebagai panduan nih, para ibu-ibu dan ayah-ayah, dalam membiasakan menggunakan kalimat positif dalam berkomunikasi 😉
Semudah ini kok, bener deh. Asal mau mencoba dan membiasakannya. Yang bener-bener perlu dilatih itu adalah kebiasaan. Ingat lho, kebiasaan..!! Jadi sering-seringlah berlatih mengganti kata jangan dengan kalimat yang lebih positif yaa.
Pernah gak sih kita sebagai ibu melakukan kebohongan-kebohongan. Misalnya saja saat ada telpon yang tidak ingin diterima oleh Ibu lalu kita bilang ke anak “Nak,bilang ibu sedang pergi ya”. Nah lhoo, berbohongnya memang bukan termasuk kebohongan besar sih, tapi tetap saja anak akan belajar kalau berbohong itu hal yang wajar dan diperbolehkan. Toh, itu dicontohkan oleh si Ibu sendiri. Jadi wajar saja kalau suatu saat si anak bisa menjadi pembohong yang baik, ya karena itu hasil didikan orangtua.
Nah, di buku Ayah Edi yang pernah saya baca, ini termasuk kebiasaan buruk yang sering tidak disadari oleh orangtua. Berbohong kecil dan sering. Iya, gak cuma sekali dua kali kan berbohong seperti itu? Bahkan sering demi menenangkan anak yang melarang ibu atau ayah untuk pergi kerja, kita bilang “Nak, ayah/ibu perginya cuma sebentar kok, gak lama, jadi kamu tenang ya”. Lah, kalo ternyata ibu atau ayahnya kerja sampai larut malam gimana? Atau sampai waktu normal aja deh, jam 5 sore misalnya. Apakah itu waktu yang sebentar? Nanti akan tertanam juga deh di benak anak kalau pergi seharian termasuk waktu yang sebentar.
Kata sebentar atau lama sebenarnya juga kurang dianjurkan sih, karena itu termasuk waktu yang relatif. Ada yang menganggap 1 jam itu lama, ada yang menganggap 1 jam itu sebentar. Maka, untuk mengajarkan anak mengenai waktu, disaat anak belum bisa mengenal jam atau menit, sebaiknya pakai batas waktu yang pasti. Misalnya, “Kamu ditemani ibu setelah ibu selesai menggosok”. Nah, jelas batas waktunya, yaitu selesai menggosok! Anak akan belajar sabar dan akan mengenal batas waktu. Tapi disaat anak sudah mulai mengenal waktu, jam, menit, dsb, penting untuk selalu menggunakan batas waktu yang pasti tersebut. 15 menit lah, 30 menit lah, bahkan 8 jam kalau akan pergi bekerja.
Balik lagi ke bohong. Sebagai orangtua, selalu lah usahakan untuk tidak berbohong, baik kebohongannya hanya kebohongan kecil seperti yang telah disampaikan. Mulailah selalu bicara jujur dan selalu membiasakan hal tersebut ke anak sejak anak lahir. Lebih baik bicara jujur mau ke mana, bersama siapa, dan akan pulang jam berapa nantinya ke anak. Walaupun anak nangis dan merengek, peluk dan tenangkan dulu. Kalau masih merengek, coba diajak mengantar sampai depan pintu, depan gang, atau depan komplek. Dengan begitu anak juga akan belajar berkomunikasi dengan baik kepada orangtua.
Saya pernah membuktikannya lho. Ceritanya ada di postingan saya yang ini, hehe.
Begitulah, semoga berguna dan bisa menghindari kebohongan-kebohongan kecil ini ya para orangtua 😉
Postingan ini betul-betul reblog dari artikel di Parents Guide dengan judul yang sama. Hal ini juga yang ditekankan oleh Toge Aprilianto, agar anak menjadi mandiri dengan mengatasi masalahnya sendiri.
“Bermain air basah, bermain api hangus.” Masih ingatkah pada pepatah lama ini? Benar, tiap perbuatan manusia memang selalu diikuti akibat. Datang terlambat di kantor ditegur. Telat bayar tagihan kartu kredit didenda. Kadang kita berusaha tidak peduli. Tapi setelah satu-dua kali terantuk akibat – apalagi kalau akibatnya berat – biasanya kita jera.
Hal serupa berlaku di dunia anak-anak. Tulisan ini membahas bagaimana membuat anak mengambil pelajaran dari konsekuensi perbuatannya. Ada dua jenis konsekuensi tiap perbuatan: alamiah dan logis.
Saat Naia berumur 10 bulan pernah dia main di rumah ibu saya. Saking asiknya bermain, kepalanya sampai kejedot *bahasa bagusnya sih terbentur, hehee* lemari lalu menangis. Ibu saya lalu mendiamkannya sambil memukul2kan lemari itu dan bilang “lemarinya nakal ya, uh, uh. dah, udah dipukul ya lemarinya”.
Miris ya dengan pola pengasuhan yang sebagian besar ada di Indonesia ini. Dari kecil sudah diajarkan untuk selalu menyalahkan orang lain atau menyalahkan keadaan, bukannya introspeksi diri. Saat sudah dewasa, ya mau menyadari kesalahan bagaimana, lha wong dari kecil sudah terbentuk bahwa dirinya gak pernah salah kok.
Walaupun saya gak tau kata-kata yang seharusnya itu bagaimana, tapi saya selalu menghindari dan menjelaskan kalau tidak ada yang bisa disalahkan. Jadi saat itu saya langsung bilang gak ada yang nakal dan gak ada yang bisa disalahkan. Lemari kan gak bisa kemana-mana dan gak bisa memukul Naia, jadi lemari gak salah. Sakit? Ya sakit kalau kepala kita terbentur sesuatu yang keras.
Di lain waktu saat Naia bermain dengan senang baru saya “iklanin” pentingnya berhati-hati. Ya mengajarkan kehati-hatian ini memang tidak mudah juga dan tidak cukup sekali sih, perlu di”iklan”kan berulang-ulang kali, maka itu kita perlu cadangan sabar yang tak terhingga, hehe. Sampai sekarang walaupun Naia terkadang masih terjatuh dan kejedot, dia cuma cerita tanpa menyalahkan hal lain dan saya juga cuma bilang sakit sambil mengobati yang sakit tadi.
Tidak lupa saya juga bicara baik-baik dengan ibu saya kalau tindakannya bisa mengakibatkan Naia selalu menyalahkan orang lain. Pelan-pelan ibu saya mengerti juga dan Alhamdulillah sekarang sudah tidak seperti itu terhadap Naia :).
Mengajarkan untuk menjadi orang yang tidak pernah salah ini termasuk salah satu kebiasaan salah orangtua di buku karangan Ayah Edi berjudul “Mengapa anak saya suka melawan dan susah diatur?”. Di postingan 37 kebiasaan saya sudah menyebutkan apa-apa saja kebiasaan-kebiasaan yang salah itu dan kebiasaan ini disebut paling pertama dengan judul “Raja yang tak pernah salah”.
Berjudul seperti itu karena kebiasaan kecil yang sering tidak kita (orangtua) sadari bisa menjadikan dia seperti raja yang sombong yang tidak pernah mau disalahkan. Jadi yuk, para orangtua, hindarkan kebiasaan kecil yang menyebabkan anak selalu menyalahkan orang lain atau keadaan ini. Saat menjadi orangtua saatnya berhati-hati dengan segala yang kita lakukan :D.
Mengajari anak cara berjuang adalah dengan memperlihatkan kemampuan terbaik kita sebagai orangtua. Disaat kita melakukan segalanya secara maksimal, barulah kita mengerti dan tau bagaimana cara mengembangkan dan mengajarkan anak kita bagaimana cara berjuang. Di milis yang saya ikuti ada kata-kata dari admin yang saya sukai.
Orang tua yang gak mau berjuang untuk dirinya sendiri, gak bisa diandalkan untuk menemani anaknya berjuang.
Berjuang untuk diri sendiri adalah awal untuk bisa mengajarkan dan menemani anak berjuang. Kalau kita tidak pernah tau rasanya berjuang secara maksimal, kita tidak akan pernah bisa mengajarkan hal itu pada anak kita kan?
Beberapa hari yang lalu juga saya melihat ada iklan komersial yang maknanya sangat bagus. Iklan tersebut akhirnya menjadi video favorit saya sekarang karena secara tidak langsung memberikan pengajaran parenting bagi kita para orangtua. Disaat anak ingin berkompetisi, baik dalam hal olahraga atau sekedar permainan biasa, saya ingin kita (saya dan suami) tidak mengalah. Ada kan orangtua yang mengalah demi anaknya senang? Saya tidak mau begitu. Saya ingin dia merasakan rasa kecewa karena kalah dan rasa ingin terus berjuang agar akhirnya berhasil mengalahkan kita. Disaat dia sudah memiliki karakter berjuang, karakter itu akan dibawanya di lingkungan yang akan dihadapi kelak.
Saat dia berhasil mengalahkanku, saat itulah aku menang.
Pertama kali saya belajar agar tidak mengalah dengan anak adalah saat saya menonton video nina from japan. Sampai saat ini cara pengasuhan ayah dan ibunya masih kami jadikan salah satu role model dalam gaya pengasuhan kami.
*postingan ini ditulis tanggal 23, tapi baru saya selesaikan tanggal 24 Oktober pagi*
Tadinya sih pengen nulis postingan random sekedar mengisi blog tentang hal lain sebelum saya nulis untuk lomba blog lagi, haha. Tapi berhubung Naia 2 hari ini *menurut saya* sedang belajar kecewa, jadilah tangannya gatel mau nulis itu, hehehe.
Jadiiii ceritanya kemarin saya bikin kesepakatan sama Naia, kalau Naia makan siangnya banyak, 10 suaap aja *berhubung makannya emang susaah banget*, saya janji mengajak dia ke taman sepat.
Ternyata dia makannya malah melebihi ekspektasi saya, jadi saya udah siap2 aja sore itu untuk ke taman. Eh, ujug2, sore2, pas Naia mandi datanglah bunyi gluduk2 lalu disambut dengan hujan yang cukup deras. Huaah, kacau deh ke tamannya. Akhirnya kemarin saya bilang kalau gk jadi ke taman karena cuaca gk memungkinkan dan saya berjanji menggantinya hari ini. Subhanallah, dia sangat mengerti dan mau main di rumah aja jadinya sama saya. Tapi kemarin dia cukup terhibur dengan kedatangan sahabat saya yang membawa bayi, jadi dia gak bosan2 amat di rumah, hehe.
Nah, hari ini, dari pagi udah saya ingatkan kalau nanti sore mau ke taman. Mungkin dia jadi excited banget karena saya ingatkan terus itu *saya jadi berasa cerewet, huhu*. Jadilah saya bilang ayo nanti habis makan siang *kali ini makannya gak dijadikan persyaratan, soalnya kan saya yang berhutang ke taman*, Naia mandi terus baru ke taman sehabis mandi. Dia jadi gak sabar mau mandi dan nunjuk2 kompor *loh, kan mau mandi kok nunjuknya kompor? hihi*. Jadi, karena Naia masih mandi pakai air hangat, ya sebelum mandi saya pasti masak air dulu deh, makanya dia jadi nunjuk2 kompor.
Setelah airnya siap, dia sampe beres2 mainannya dulu baru ke kamar mandi sambil berlari kecil, hahaha *semangat banget dah*. Sambil makein baju, saya juga masih bilang2 mau ke taman *bener2 emaknya yang jadi semangat*. Eeeh, lagi2, paaas selesai pake baju hujan lalu datang, huaaa. Akhirnya saya bilang lagi deh ke Naia kalau gak jadi ke taman lagi karena hujan. Saya perlihatkan juga keluar kalau benar-benar hujan. Mukanya terlihat kecewa, tapi Alhamdulillah gak sampe kesal dan akhirnya yaudah main di kamar saja sama saya.
Tapi setelah itu saya bilang, “Naia bobo aja yuk, tadi Naia bobonya baru sebentar lho”. Oiya, dia biasanya tidur 2x dan masing-masingnya berdurasi 2jam di siang hari, tapi hari ini, entah terlampau semangat atau memang jam tidurnya sudah mulai berkurang dia baru tidur 1 jam. Setelah saya bilang begitu, dia langsung minta nenen dan tertidur pulas. Subhanallah nak, kamu pinter banget yaa, ciuum.
Terima kasih ya Naia udah mau belajar kecewa 2 hari ini. Ayo nak, insyaAllah besok kita jadi ke taman *semangat membara sambil berdoa gak hujan lagi, Aamiin*
Dari beberapa bacaan mengenai tantrum, saya berpendapat bahwa tantrum pada anak mungkin bisa dicegah. Baru saja kemarin saya membaca artikel mengenai strategi menghadapi anak tantrum di facebook. Dan karena sebelumnya saya juga pernah baca di babycenter, jadilah kepikiran, “sebenernya tantrum bisa dicegah gak sih? lebih baik mencegah daripada mengobati bukan? hehe”.
Pada email babycenter yang rutin dikirim ke inbox saya menyebutkan kalau memang pada anak usia 1-3 tahun wajar sekali akan adanya tantrum. Tetapi berhubung kita juga tidak bisa memastikan kapan tantrum akan terjadi, kita bisa sedikit mencegahnya dengan memastikan makan dan tidurnya cukup. Tidur yang kurang dan perut yang lapar adalah beberapa hal yang berpotensi menyebabkan anak tantrum.
Remember, a hungry, sleep-deprived toddler is a meltdown waiting to happen. ~babycenter
Kalau di bagian akhir artikel ini, ada beberapa hal lainnya yang memungkinkan terjadinya tantrum.
Lapar
Kaget dengan situasi baru atau aktifitas baru ~misalkan sedang bermain dan aktifitas berikutnya adalah mandi~. Di sana juga menjelaskan bagaimana transisi aktifitas sebaiknya dilakukan.
Kegiatan yang terlalu banyak ~mungkin kita bepergian ke 3 atau 4 tempat dalam satu hari~. Dengan kegiatan yang terlalu banyak begitu, anak akan capek. Kita saja sebagai orang dewasa kalau sudah capek begitu emosi akan sangat cepat sekali tersulut, apalagi anak kecil, hehe.
Ketegangan orangtua. Atau, saya biasa menyebutkan dengan emosi orangtua yang sedang tidak stabil. Disaat kita sebagai orangtua kurang cukup istirahat dan atau kurang mendapatkan “me” time, maka akan sangat berdampak bagi pola interaksi kita terhadap anak. Saya pun terkadang mengalaminya dan walhasil Naia bisa merengek-rengek gak jelas ke saya dan saya hanya diam untuk meredakan emosi. 🙁
Jadi, pencegahannya bagaimana? Ya dengan menghindari penyebab tantrum tadi.
Pastikan tidurnya cukup. Saya jadi jarang dan gak mau membangunkan Naia yang sedang tidur walaupun kami harus pergi ~kecuali yang perginya bergantung pada orang lain~. Soalnya saat Naia kurang tidur sedikit saja, maka hilanglah sifatnya yang ceria dan gak mau diem, dan timbul sifat yang selalu merengek 🙁
Pastikan perutnya kenyang. Kalaupun anak lapar padahal belum jam makannya, ya beri saja biskuit atau cemilan kesukaannya 😀 . Saya masih suka gagal dalam hal ini, huhu.
Temani saat berada dalam lingkungan baru. Setiap anak memiliki waktu untuk mengenali dan nyaman dengan situasi baru, jadi tunggu sampai anak benar-benar merasa aman berada di lingkungan tersebut barulah mengajaknya beraktifitas. Naia juga bukan termasuk anak yang langsung merasa nyaman saat berada di lingkungan baru, jadi sering banget saya biarkan menempel terus sama saya sampai dia mau berinteraksi dengan sendirinya.
Beri penjelasan atau peringatan akan pergantian aktifitas.
Siapkan hati sepenuhnya saat berhadapan dengan anak. Anak bisa melihat ketidakstabilan emosi kita lho. Misalnya saja, saat emosi saya mudah sekali tersulut, Naia malah sengaja berbuat hal yang memicu emosi ~seperti membuang makanannya atau membanting barang~. Nah, saat keadaan seperti itu saya berpikir kembali apa yang menyebabkan itu, dan saya harus menenangkan diri terlebih dahulu deh baru berinteraksi lagi. Saat pikiran dan hati saya sepenuhnya untuk Naia, ya interaksi kami sangat enak dan nyaman, gak ada nangis2an atau jerit-jeritan. Happy mom raise happy kids.
Nah, kalau kita sudah melihat tanda-tanda awal si anak akan tantrum, mengalihkan perhatiannya juga termasuk salah satu pencegahan lho.
If you sense a tantrum is on the way, try distracting your child by changing locations, giving him a toy, or doing something he doesn’t expect, like making a silly face or pointing at a bird. ~babycenter
Lalu saya ingat dengan buku ayah Edi, ayah Edi menjawab 100 persoalan mendidik anak. Pas sekali, pada curhatan pertama, si orangtua bertanya mengenai anak yang menjadikan tangisan sebagai senjata untuk mendapatkan keinginannya, apalagi kalau perilaku tersebut dilakukan di tempat umum.
Di situ memang tidak dibahas khusus mengenai tantrum, tetapi menurut pendapat saya, menangis sampai menjerit-jerit untuk mendapatkan sesuatu termasuk tantrum juga. Dan ayah Edi menyebutkan kalau menjerit-jerit seperti itu adalah proses eskalasi setelah ia merasa gagal mendapat yang diinginkannya hanya dengan menangis. Jadi, tantrum adalah puncak emosi saat keinginan anak tidak tercapai. Sama seperti gambaran grafik di strategi menghadapi anak tantrum.
grafik tantrum
Jadi, menurut ayah Edi, sebaiknya orangtua bisa mencairkan suasana ketika anak masih berada pada tahap awal. Bisa dengan mengalihkan perhatiannya seperti yang telah disebutkan 😉
Ah, tapi bukan berarti kita tidak mempedulikan keinginan anak. Setelah anak tenang dan cukup senang, kita bisa membicarakan masalah ini hati ke hati *cieeh*, jelaskan alasan kenapa kita tidak mau memenuhi keinginannya itu.
Yuk, kita lakukan sebisa mungkin untuk mencegah terjadinya tantrum 🙂
Hum, sebenarnya lanjutan dari tujuan pengasuhan itu adalah gaya pengasuhan. Dengan adanya kesepakatan tujuan pengasuhan antar suami istri, selanjutnya ya menerapkan gaya pengasuhan seperti apa yang cocok. Sebelumnya saya memang pernah menuliskan 4 gaya pengasuhan menurut Diana Baumrind. Namun, saya berniat untuk menuliskannya lagi, mungkin lain waktu 😀
Sekarang saya ingin berbagi kunci utama yang harus dimiliki oleh orangtua menurut pengalaman dan pengamatan saya sendiri. Kuncinya itu ada dari dalam hati, cieeeh. Maksudnya, kuncinya adalah sifat yang harus ~banget kayanya~ dimiliki oleh orangtua.
Menurut saya ya, kunci itu adalah ikhlas, sabar, dan percaya saja. Dengan tiga hal itu, perjalanan mengasuh buah hati (termasuk mendidiknya menjadi orang yang bertanggung jawab) menjadi ringan dan mudah.
Sabar
Saya sendiri merasa masih kurang bisa sabar dalam menghadapi buah hati. Memang pelajaran sabar dan ikhlas itu adalah pelajaran hidup yang paling sulit kan? hehe. Tapii, kurang sabar saya masih bisa saya kendalikan, Alhamdulillaah *semoga semakin bisa sabar*. Jadi kalau terasa sedikit kehilangan kesabaran ~belum sampai tahap emosi~ saya biasanya berdiam diri dulu sedangkan anak bermain bersama papanya. Atau, kalaupun di rumah sedang hanya berdua saja, ya saya berdiam diri dengan anak bermain sendiri. Kalau dia tidak bisa bermain sendiri dan terus merengek ke saya, biasanya saya tetap diam namun melakukan apa yang diinginkan oleh anak sambil memberinya pengertian “mama sedang butuh waktu sendiri, sebentar saja, sampai mama ajak Naia main lagi”. Ya, kalau yang baru saja menerapkan pengertian begitu mimpi sih kalau anaknya bisa langsung mengerti dan langsung anteng main sendiri lagi. Tapi, kalau kita memang terbiasa berdialog begitu, biasanya anak bisa langsung mengerti dan bermain sendiri lagi.
Sabar Menunggu Naia Baca Buku
Sabar itu benar-benar sangat diperlukan ketika kita mengajarkan anak mandiri. Ya misalkan saja mengajarkan anak untuk bisa makan sendiri, atau dia sudah ingin melakukannya sendiri walau kita masih ingin menyuapinya. Nah, nungguin anak makan itu gak sebentar. Walaupun kita juga ikutan makan, anak ya selesai makannya jauh lebih lama ketimbang kita. Belum lagi kalau berantakan *ini sih pasti ya, hehehe*. Berhubung koordinasi tangannya belum sempurna, ya ada lah nasi atau lauk yang terlempar kesana kemari 😛
Hal yang sama juga berlaku ketika menemani anak bermain. Harus sabar mengikuti kemana anak pergi dan mau main apa, asal yang aman-aman saja. Pokoknya bagi saya dan suami, selama hal itu aman ya kita tidak pernah akan melarang agar hasrat keingintahuannya tidak dibatasi. Tapi, memang kita gak pernah melarang sih, paling-paling kalau sudah tidak aman, ya anaknya kita amankan/ jauhkan dari tempat itu lalu diberi pengertian kenapa gak boleh kesitu.
Benar! Orangtua juga harus sabar dalam memberi pengertian dan menjawab segala pertanyaan anak. Apalagi kalau anak sudah tahap “cerewet-cerewetnya”, ya kita harus sabar selalu mendengarkan ceritanya berulang kali, juga harus sabar menjawab pertanyaannya yang berulang kali. Dari situlah anak belajar, melalui pengulangan. Tapi, kalau kita capek menjawab gimana? Coba saja ajak anak mencari tau jawabannya sendiri, mungkin dengan begitu akan langsung tertanam di otaknya mengenai jawaban pertanyaannya itu hehehe.
Ikhlas
Nah, ini nih salah satu yang mudah dibicarakan tetapi paling suliit dilakukan. Hum, maksudnya ikhlas dalam mengasuh anak itu ya kita gak perlu memikirkan apa yang nanti akan diberikan ke kita. Ikhlas menjalani dan menjaga amanah yang dimiliki. Dengan terus adanya rasa ikhlas ini, rasanya sabar akan selalu mengiringi.
Ikhlas juga maksudnya menerima hasil yang diberikan oleh anak. Seperti dalam hal belajar makan sendiri, kita ya ikhlas saja dengan hasil nasi yang tercecer dan berantakan di lantai, toh bisa kita bereskan. Yang penting kita sudah meningkatkan kepercayaan dirinya untuk makan sendiri. Selanjutnya kemampuan makan sendirinya pasti meningkat, jadi sedikit yang tercecer dan lama-lama ya sepenuhnya bisa makan sendiri tanpa ada yang tercecer.
Keikhlasan tetap diperlukan juga lho dalam mengajari tanggung jawab. Misalnya saja, dia harus membereskan mainannya setelah bermain atau sebelum tidur. Nah, kita cukup memberi tahu kalau dia harus membereskan mainan (kalau perlu ya kita bantu sedikit). Ikhlas dengan hasil yang diperoleh anak. Mungkin kita tidak puas dengan penyusunan mainannya, tapi toh dia sudah belajar bertanggung jawab, jadi ya ikhlas saja dengan hasilnya 😀
Dengan keikhlasan ini juga keinginan untuk bisa menjadi orangtua yang lebih baik lagi semakin berkembang. Dengan begitu, kita jadi terus menerus menambah ilmu kita mengenai pengasuhan yang baik sesuai dengan gaya pengasuhan yang telah disepakati sebelumnya.
Percaya saja
Ini sebenarnya pelajaran dari ruasdito* sih, hehe. Jadi, maksudnya dalam mengajarkan anak kemandirian, kita cukup perlu percaya saja dengan kemampuannya. Dia bisa loh melakukan sesuai dengan harapan kita, bahkan terkadang melebihinya.
Seperti dalam hal membereskan mainan. Kita gak perlu capek-capek teriak dan sekuat tenaga membuatnya membereskan mainannya sendiri. Ya dijelaskan saja kenapa dia harus membereskan mainannya dan itu merupakan tanggung jawabnya dia. Nah, kalau kita percaya saja dia bisa melakukan itu, insyaAllah dia memang bisa. Namun, balik lagi ke sabar. Kita harus sabar karena membereskan mainan tidak semudah yang kita bayangkan 😀
Dia bahkan bisa merapikan sandal yang habis dipakainya untuk bermain di luar. Iya, terkadang saya sendiri jadi malu sama Naia. Sehabis bermain, saat sandalnya saya copot, dia langsung mengambil sandal itu dan meletakkannya di rak sepatu yang ada di depan rumah kita. Sedangkan saya, saya biasa membiarkan sandal ngejogrok *apa bahasa bagusnya yak* di depan pintu karena merasa nanti akan dipakai lagi, huhu. Akhirnya sekarang-sekarang saya pun langsung meletakkan sandal di rak sepatu. Kalau mau dipake lagi ya tinggal ambil lagi, hehe. Agar kebiasaan baik Naia tidak berubah, saya harus selalu mencontohkannya. Anak belajar dari contoh kan? 😀
*Ruasdito (rute-asuh-didik-toge) ini diperkenalkan oleh Toge Aprilianto, penulis buku “Saatnya Melatih Anakku Berpikir”, buku ringan dan tipis namun isi yang terkandung merupakan pelajaran dan petunjuk pengasuhan anak secara rinci.
Itulah 3 hal paling mendasar yang benar-benar diperlukan oleh orangtua *menurut saya loh*. Kalau merasa ada lagi yang lain, silakan berkomentar yaa. Selamat menikmati menjadi orangtua!
Pertama-tama saya mau mendeklarasikan kalau saya pengen secara aktif memposting hal yang berhubungan dengan parenting. Tujuannya, selain lahan saya belajar ~jadi kalo baca-baca hal parenting dari artikel-artikel mana aja langsung aja saya simpen linknya dan saya reblog dengan bahasa saya sendiri biar lebih paham~ bisa juga lahan buat pengunjung blog saya untuk belajar ilmu parenting juga. Mudah-mudahan dengan bertambahnya konten parenting gini makin banyak orangtua-orangtua muda yang aware akan pentingnya pengasuhan anak.
Kenapa sih pengasuhan anak penting banget? Iya donk, anak itu masa depan kita, masa depan bangsa juga. Mau dibawa kemana bangsa kita kalau kita mengasuh anak dengan sembarangan?
Saya punya tujuan untuk membentuk Indonesia yang lebih baik lagi dari sekarang dengan pelan-pelan menghilangkan KKN dan segala hal buruk yang terjadi di Indonesia. Nah, saya gak bisa sendirian, jadi saya ingin generasi setelah saya juga seperti itu, saya ingin melatih mereka menjadi orang yang lebih bertanggung jawab, peduli, serta mementingkan kebenaran BUKAN mementingkan diri sendiri. Jadi di tangan generasi peneruslah bisa kita serahkan Indonesia dengan tenang. Dengan membentuk generasi masa depan yang baik, yang benar, yang bertanggung jawab, mungkin insyaAllah ke depannya kita bisa jadi negara yang bebas korupsi. “Indonesia strong from home”, begitu kira-kira kata ayah Edi 😀
Nah, mengenai judul, beberapa waktu lalu suami saya nge-share note facebook seseorang yang menuliskan summary dari seminar parenting ibu Elly Risman. Intinya adalah mengenai tujuan pengasuhan anak.
Kenapa tujuan pengasuhan itu diperlukan? Kalau kita bepergian, kita juga pasti punya tujuan, kalau tidak, kita akan berjalan entah kemana yang akhirnya nyasar dan ketika balik lagi ke rumah, kita tidak mendapat hasil apa-apa, nihil, nol, tidak bermanfaat. Begitulah kalau pengasuhan tidak memiliki tujuan 😀
Karena itu, sebagai orangtua, kita, ibu dan ayah harus terlebih dahulu menyelaraskan tujuan pengasuhan dalam keluarga kita. Seminar tersebut menjelaskan pentingnya tujuan pengasuhan dan menyebutkan beberapa tujuan pengasuhan yang bisa diterapkan. Nah, di bawah ini saya menjelaskan mengenai tujuan-tujuan pengasuhan yang didapat dari seminar itu.
Hamba Allah yang taqwa. Pada anak, yang pertama matang adalah systemlimbic di belakang kepala, system limbic ini berkaitan erat dengan PERASAAN. Jadi ajarkan pada anak rasa beragama dan rasa memiliki Allah. Sama halnya dengan mengajarkan padanya kecerdasan emosi terlebih dahulu. Anak yang dari kecil dikenalkan dengan berbagai macam emosi akan tumbuh menjadi anak yang memiliki empati serta rasa kepedulian tinggi terhadap sesama. Maka, untuk mereka tidaklah penting mengajarkan sebanyak-banyaknya pengetahuan ini-itu, tapi lebih penting mengajarkan PERASAAN. “Indonesia Neuroscience Society merekomendasikan, anak di bawah 4 tahun, salah satu ibu atau bapaknya HARUS dirumah, mendidik anak. Tanggung jawab mendidik agama berada ditangan AYAHNYA, ayah harus ‘alim, dialah penentu GBHK ( Garis Besar Haluan Keluarga), ibu hanya unit pelaksana teknis.”[1]
Calon suami/ istri yang baik. Hal ini berkaitan dengan ketaqwaan tadi, dengan bertaqwa, kita juga mengajarkan bagaimana membentuk rumah tangga yang harmonis dengan menjadi suami/ istri yang baik.
Calon ayah dan ibu yang baik. Nah, hal ini untuk membentuk generasi berikut-dan berikutnya untuk lebih baik lagi. Mereka harus diajarkan dan ditunjukkan peran ibu dan tanggung jawab ayah. Perlu juga untuk mengajarkan fungsi laki-laki dan perempuan atau ibu dan ayah itu berbeda. Yang sangat penting untuk diperhatikan lagi adalah “jangan berantem depan anak”.
Membantu mereka mempunyai ilmu dan keahlian. Inilah yang menjadi fokus perhatian kita selama ini. Banyak rumah tangga yang menjadikan poin inilah satu-satunya tujuan pengasuhan mereka, padahal ini harusnya hanya salah-satu tujuan saja.
Pendidik istri dan anak. Banyak hal buruk yang menjadi akibat dari kurangnya perhatian ayah kepada anak-anaknya. Contohnya saja terjadi pada artikel ini: http://nelotte.wordpress.com/2013/08/22/saya-sudah-ga-perawan-di-usia-sekolah. Hasil studi di harvard: “anak yang ayahnya involved dalam pengasuhan akan tumbuh menjadi anak yg dewasa dan suka menghibur orang, punya harga diri yang tinggi, prestasi akademis di atas rata-rata dan lebih pandai bergaul.” Setidaknya luangkan waktu minimal 30 menit untuk anak tanpa gangguan apapun termasuk gadget, quality time istilah kerennya. Dengan begitu ayah bisa menjalin kedekatan emosi secara langsung dengan anaknya.
Pengayom keluarga. Didik anak laki-laki kita untuk menjadi pengayom orangtua, istri, serta anak-anak mereka. Di pundak laki-laki ada tanggung jawab terhadap 4 wanita yang harus mereka lindungi. 4 wanita tersebut adalah ibu, istri, anak perempuan, dan adik perempuannya, maka penting untuk menekankan hal ini kepada mereka.
Manusia bermanfaat bagi orang lain atau sebagai pendakwah ( penyampai kebenaran). Sama halnya dengan tujuan hidup saya pribadi untuk menjadi manusia yang bermanfaat, saya ingin juga anak-anak saya kelak menjadi orang yang kebermanfaatannya dapat dirasakan banyak orang.
Tulisan lebih lengkap mengenai seminarnya bisa dibaca di sini.
Dari situ, kita bisa belajar kalau tujuan pengasuhan itu penting, biar kita sebagai orangtua punya bayangan akan bagaimana anak kita ke depannya. Dan dengan punya tujuan pengasuhan itu juga, kita jadi bisa merumuskan bagaimana cara pengasuhan yang harus diterapkan ke anak nantinya.
Jadi sebelum melakukan apa-apa, kita memang perlu merumuskan tujuan kita melakukan itu.
So, punya anak emang gak gampang, harus punya ilmunya biar anak gak terbengkalai terabaikan, hehe. Dan anak juga merupakan amanah langsung dari pencipta kita, jadi makin gak bisa sembarangan kita menjaga dan mendidiknya.
Sudahkah kalian menentukan tujuan pengasuhan bagi anak-anak? 😀
Yak, sudah 2 minggu ini Naia saya ajarkan untuk pipis atau BAB di kamar mandi. Istilah kerennya sih toilet training / potty training, hehe.
image from babycenter
Jadi 2 minggu yang lalu kuliah onine ibuprofesional berbicara tentang mengajarkan kemandirian terhadap anak. Salah satu tugas rumahnya adalah membuat buku bintang terhadap keberhasilan anak melakukan kemandirian ~bisa macam-macam~. Lalu, saya jadi berpikir untuk menerapkan kemandirian masalah buang air kepada Naia.
Kebetulan juga, saya lalu membaca artikel Potty train your toddler in 3 days lalu saya jadi kepikiran untuk menerapkan apa yang saya baca. Sebenernya bukan menerapkannya sih, cuman akhirnya kepikiran untuk ngajarin Naia potty training. Soalnya dalam hati, saya itu yakin banget kalau yang dibutuhkan itu intinya hanyalah kesiapan dan kesabaran kita.
Selain mau mengajarkan kemandirian ke Naia di usia sedini mungkin (usia Naia baru 15 bulan kurang 1 minggu), dengan dia bisa pipis dan BAB sendiri di WC kan bisa jadi mengurangi penggunaan pampers juga. Yang setiap hari bisa pakai 3-4 pampers, jadi gak pakai sama sekali.
Nah, saat itu saya udah mantap banget untuk melaksanakan potty training, jadi segalanya ya disiap-siapin deh. Saya menyediakan lap khusus dan air sabun. Jadi, kalau dia pipis di sembarang tempat bisa saya langsung lap pakai air sabun yang tadi disediakan. Kenapa lap khusus? Karena itu kan pesing, jadi ya lapnya saya khususkan 😀
Saat saya sampaikan hal ini ke suami, dia sempat kaget dan bilang saya nekat. Tapi tekad saya sudah bulat dan dia mendukung sepenuhnya.
Sayangnya kita belum sempet beli toilet kecil untuk potty training gitu, jadinya ya saya bawa aja ke kamar mandi dan pipis di lantainya. Berhubung wc di kontrakan kita juga pakainya wc jongkok dan bukan wc duduk, jadinya saya bingung untuk mendudukkan dia di wc jongkok, takut malah kakinya masuk ke wc, hiiy. InsyaAllah dalam minggu ini mau beli deh, hehe.
image by mordoc
Setelah sekarang berjalan 2 minggu (oke, memang jauh dari artikelnya yang mengajarkan cuma 3 hari, tapi itu jadi bikin saya semangat banget untuk terus menjalankan potty training ini), progressnya pesat banget.
Hari pertama
Saya belum bisa membaca pola pipis dan BABnya Naia, jadi semuaaanya gak ada yang berhasil masuk kamar mandi. Di hari pertama ini cuciannya buanyak banget, hampir sama seperti waktu dia baru lahir. Oiya, 5 bulan pertama juga Naia gak pake pampers sih kalau di rumah, berhubung belum bisa kemana-mana, jadi pipisnya ya di satu tempat aja, di tempat tidur yang dikasih perlak buat dia. Di hari pertama ini, malam harinya Naia masih saya pakaikan pampers. Hari pertama ini sambil saya bicarakan pelan-pelan dengan Naia kalau itu namanya pipis dan harus memberi tahu saya kalau nanti mau pipis lagi.
Hari kedua
Dari hasil pengamatan hari pertama, setiap kali Naia bangun tidur, dia pasti pipis. Jadi, saya ceritanya eksperimen di hari kedua ini. Setiap dia bangun tidur langsung saya bawa ke kamar mandi dan saya copot celananya. Saya tunggu agak lama sekitar 1-3 menit, ternyata benar saja dia pipis. Dan 100% itu benar, selalu saja setelah bangun tidur dia pipis. Di hari kedua mulai saya copot pampers pada malam hari juga. Tapi hasilnya: ngompol! hehehe.
Hari ketiga
Dari malam hari kedua, pagi harinya itu kasurnya dia sudah basah ompolnya dia (tenang, kita kasih perlak kok, jadi gak nembus sampai ke kasur dan tidak merusak kasur 🙂 ). Setelah saya amati, sepertinya pada waktu subuh tadi dia seperti ingin bangun tapi saya langsung nenenin lagi jadi dia kembali tidur deh. Soalnya, saat malam saya nenenin, saya cium celananya belum bau pesing dan belum basah juga. Saya jadi berpikir untuk saat subuh itu saya bawa juga ke kamar mandi.
Hari keempat
Nah, saya coba deh saat subuh saya bawa ke kamar mandi, kemungkinan ngompolnya ya pada waktu subuh ini kemarin. Dan ternyata benar saja. Sampai waktu subuh, dia sama sekali belum pipis dan kasurnya kering. Udah gak ngompol!! Horee. Ah iya, sampai hari keempat ini baru berhasil 100% membuat dia pipis di kamar mandi setiap kali bangun tidur saja, belum yang Naia memberi tahu saya sebelum dia pipis pada saat terjaga. Ah, tapi saya pernah berhasil menebak tanda dia ingin pipis. Saat Naia seperti bergidik, berarti dia ingin pipis.
Oiya, setiap kali saya berhasil membuatnya pipis di kamar mandi, saya mengajaknya tepuk tangan ~instead of dancing :P~ agar dia nantinya mau memberi tahu saya saat dia merasa ingin pipis.
Hari kelima
Masih setiap bangun tidur saja pipisnya, dan saya jadi semakin yakin kalau itu memang pola pipisnya. Nah, di hari kelima ini saya masih menebak-nebak juga tanda-tanda dia ingin pipis. Kadang berhasil, kadang enggak juga. Kadang saya menebak dia ingin pipis, tapi saat sudah di kamar mandi dan celananya saya copot dan ditunggu sampai lama gak keluar-keluar juga pipisnya. Yasudahlah, itu berarti dia tidak ingin pipis. Tetap saya beri pengertian pelan-pelan kalau pipis sebaiknya memberi tahu saya agar saya bawa ke kamar mandi. Tapi tebak-tebakan saya terhadap pipisnya sudah 80% berhasil.
Minggu kedua
Hari pertama di minggu kedua dia mulai memberi tahu saya setelah dia pipis. Yap, setelah. Jadi, setelah pipis, dia menuju ke arah saya, menyenggol-nyenggol saya lalu menunjuk-nunjuk ke tempat dia tadi pipis. Okee, satu perkembangan lagi, dia sudah mengerti kalau itu pipis dan sudah bisa memberi tahu saya! Horee, senangnya hati ini. Tapi tidak lupa juga, saya tetap memberi pengertian pelan-pelan kalau sebelum pipis sebaiknya memberi tahu saya agar saya bawa ke kamar mandi. Iya, kali ini saya beri tekanan pada kata sebelum. Ah iya, setiap malam sudah berhasil tidak ngompol sejak hari keempat itu! Mantap sekali Naia ini :*
Hari kedua minggu kedua
Ada satu perkembangan bagus lagii, sekarang Naia sudah bisa memberi tahu saya saat dia merasa ingin pipis, horee..!! Jadi, sebelum pipis, dia ke arah sayasambil menengok-nengok ke arah bawah dan sambil ingin membuka celananya. Ketika saya tanya “Naia ingin pipis?” dia diam saja. Oke, saya artikan sebagai iya. Tanpa ragu lagi saya langsung bawa ke kamar mandi dan saya copot celananya. Ternyata benar, dia pipis, yeay. Hal ini berlanjut sampai sekarang.
Saya sudah menemukan 3 pola pipisnya Naia.
Setelah bangun tidur
Saat Naia bergidik
Saat dia memberi tahu saya dengan cara menuju ke arah saya sambil menengok-nengok ke arah bawah dan sambil ingin membuka celana.
Huah, perkembangan yang cukup menggembirakan buat saya. Di umur yang baru 15 bulan, Naia sudah tidak ngompol kalau tidur dan sudah bisa memberi tahu saya saat dia ingin pipis.
Perkembangan itu juga selalu saya ceritakan setiap hari ke suami dan dia ikut bangga terhadap Naia 😀
Untuk BAB, dia masih takut kalau di kamar mandi. Entah kenapa. Kemarin soalnya saat dia diam saja dan saya tanya ingin BAB, dia tetap diam. Dan ternyata benar, dia BAB. Ya langsung saya bawa ke kamar mandi sambil dicopot celananya dan saya tunggu lagi kalau dia ingin BAB lagi. Tapi ternyata dia malah nangis kejer, huaaa. Yaudah, saya sudahi. Ternyata beberapa menit setelah keluar kamar mandi dan saya pakaikan celana lagi, dia BAB lagi. Yak, benar berarti dia masih takut untuk BAB di kamar mandi. Okee, pelan-pelan deh, pikir saya.
Jadi, tanggal 5 Juli 2013 kemarin ada talkshow mengenai ““Peran Orangtua mengatasi Trend Mobile Internet terhadap perkembangan anak” yang diadakan oleh Dari Perempuan dan Indosat Mentari. Kebetulan mengambil lokasi di 1/15 Coffee Gandaria – Jakarta dari jam 14.00 sampai 17.00.
Hari kamis, saya memutuskan untuk menginap di rumah orangtua saya di Tj. Priuk. Nah, saya menyampaikan ke suami kalau saya ingin naik transjakarta aja sekalian jalan-jalan. Tapi kan bawaan saya agak banyak dan berat, terlebih saya bawa Naia, jadi akan merepotkan kalau naik transjakarta karena harus transit 2 kali. Jadilah saya naik taksi saja.
Karena saya sedang menginap di rumah orangtua di priuk, jadi saya memutuskan untuk tidak mengajak Naia. Berhubung tempatnya jauh dari priuk dan saya naik angkutan umum, akan lebih bahaya kalau saya mengajak Naia.
(Dan bener sih, saya berhasil menghabiskan total 9 jam dengan 8 jam di jalan dan 1 jam di tempat acara *what a nice day*. Naia jadi apa ini kalau ikut, bisa bosan tidak ketulungan)
Menenangkan Naia
Karena kita terbiasa cuma berdua di rumah, jadinya setiap saya pergi ya Naia selalu diajak. Nah, kemarin Naia melihat saya sudah rapi jadi dia langsung minta gendong dan menunjuk-nunjuk keluar rumah.
Tadinya malah digendong ibu saya, tapi dia jadi nangis kejer. Yaudah saya ajak keluar rumah dulu sambil saya jelaskan pelan-pelan saya mau kemana dan kenapa dia tidak diajak. Alhamdulillah jadi tenang kembali dan jadi mau digendong ibu saya. Pintarnya kamu nak *cium*
Berangkat deh (jam 12:30).
Perjalanan
Nah, perjalanan saya dari priuk ternyata tidak seperti yang diharapkan. Saya sengaja bersiap dari 2 jam sebelum acara agar tidak terlambat. Ternyata, jam 13.30 saja saya baru sampai terminal priuk. “Jam segini baru sampai sini, mau sampai jam berapa nih ke tempatnya”, pikir saya.
Karena jalur yang saya ambil adalah ke blok m terlebih dahulu baru naik metromini 72, jadilah saya mencari bus patas jurusan blok m. Nah, patas itu baru banget sampai terminal jadi kayanya mungkin baru berangkat setengah jam lagi. Akhirnya saya memutuskan untuk naik transjakarta saja, walaupun harus transit 2 kali.
Pada saat transit pertama, saya baru memperhatikan kalau sekarang transjakarta di setiap feedernya dilengkapi oleh monitor kedatangan bus. Dengan monitor itu, kita jadi tahu berapa lama lagi busnya sampai di feeder tempat kita menunggu dan tahu juga busnya sudah sampai mana.
Monitor Informasi Transjakarta
Tapi sayangnya, lalu lintas juga sedang tidak bersahabat. Sampai blok m sudah jam 15.20an, hiks. Yaudah lah lanjutkan, tekad untuk datang dan (semoga) mendapat materinya sangat besar. Alhamdulillahnya metromini 72 langsung ada dan bisa langsung berangkat. Karena saya tidak tahu letak persis 1/15 coffeenya itu dimana, saya berpesan ke kondekturnya agar saya diturunkan di Jl. Gandaria 1.
Ternyata kondekturnya lupa, dan saya kelewatan jauh, walhasil harus balik lagi, huhu. Untungnya ongkosnya diganti sama kondekturnya, ihihi. Setelah akhirnya dapet bus lagi dan turun tepat di depan tempatnya, saya langsung masuk. Lihat jam, sudah jam 16.00, hiks T_T
Si mba yang jaga absennya juga sampai senyum-senyum sendiri, acara sudah mau selesai saya baru dateng. Yaudah, kebagian pengumuman-pengumuman aja dah.
Yak, walaupun saya ketinggalan materinya, saya akhirnya minta rekamannya. Tapi, sampai saya menulis di blog ini belum dapet rekamannya, hehe. Akhirnya saya buat saja chirpstory dari pemenang livetweet kemarin, mbak Caroline Adenan.
Peran Orangtua mengatasi Trend Mobile Internet terhadap perkembangan anak
Talkshow
Jadi, anak-anak generasi sekarang itu termasuk ke dalam golongan generasi Z. Apa itu generasi Z? Yaitu generasi yang sudah sangat melek teknologi, termasuk internet dan gadget. Terutama remaja jaman sekarang ya, mereka sangat familiar dan terbiasa banget dengan yang namanya mobile internet. Mereka bisa mengakses internet dengan gampang melalui gadget yang mereka miliki dan sudah jarang menggunakan PC.
Jangankan usia remaja, jaman sekarang itu bayi juga sudah sangat mengenal gadget, terutama untuk bermain. Mereka mungkin sudah tidak kenal lagi yang namanya PC nantinya. Dan faktanya, belum ada juga pembuktian bahwa internet berdampak baik atau buruk terhadap anak.
Menurut saya sendiri, internet itu seperti 2 sisi mata uang, bisa berdampak baik dan bisa juga berdampak buruk terhadap anak, tergantung dari konten yang sedang mereka akses serta pengarahan dari orang terdekat terutama orangtua.
Untuk itu, sebagai orangtua selaku pendidik paling pertama para generasi masa depan, haruslah dituntut untuk mengerti apa manfaat serta kerugian yang bisa diakibatkan oleh internet itu sendiri. Dengan mengerti manfaat yang bisa didapat atau kerugiannya, orangtua bisa dengan mudah deh mengawasi penggunaan internet pada anaknya. Ya memang gak semudah membalik telapak tangan juga sih, perlu komitmen yang kuat dan komunikasi yang baik dengan anak.
Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengarahkan teknologi internet menjadi hal yang sangat bermanfaat bagi anak kita. Salah satunya menemani anak saat mengakses internet sedini mungkin. Bila diurutkan melalui usia mereka, bisa dijabarkan seperti berikut:
Di usia 2-4 tahun, orangtua bisa mendampingi anak saat mereka mengakses internet. Membuat pengalaman positif serta menyenangkan seperti mencari gambar atau menonton video lagu-lagu anak. Dengan pengalaman menyenangkan tersebut, anak akan mengingat kalau internet itu mengasikkan.
Usia 4-7 tahun, anak bisa diberi kebebasan untuk mulai mengakses internet sendiri namun tetap dalam pengawasan orangtua. Mereka bisa mulai mencari informasi-informasi positif dan yang terkait dengan dirinya sendiri. Dengan begitu, mereka akan merasa nyaman karena bisa mengakses internet.
Usia 7-10 tahun, anak bisa mulai didorong untuk eksplorasi internet sendiri dan orangtua bisa mulai melakukan edukasi filtering. Orangtua bisa mulai menjelaskan mana konten yang baik dan mana konten yang buruk atau tidak pantas diakses. Sebenarnya dari usia sedini mungkin sampai usia segini (10 tahunan) adalah saatnya pembentukan karakter dan kebiasaan anak. Maka, sebaiknya kebiasaan membatasi mengakses internet juga harus diajarkan sedini mungkin.
Di usia 10-14 tahun, orangtua bisa mulai mengajari pentingnya data pribadi dan bagaimana mengatur data tersebut. Orangtua juga mulai bisa berdiskusi 2 arah dengan anak mengapa situs jejaring sosial seperti facebook hanya boleh diakses orang masyarakat yang berusia lebih dari 13 tahun.
Dari semua usia itu, penggunaan internet tetap perlu diberi batasan. Jangan sampai orangtua membebaskan setiap hari dan setiap saat anak bisa mengakses internet, karena nantinya mereka bisa kecanduan internet dan tidak memiliki kontrol diri terhadap teknologi tersebut. Juga lakukan komunikasi terbuka, buat kesepakatan dengan anak mengenai peraturan pengaksesan internet dan teknologi lainnya.
Menurut pengalaman Shita Laksmi selaku pembicara talkshow kemarin, beliau melakukan kesepakatan dengan anaknya kalau mereka boleh mengakses internet apabila ada salah satu orangtua. Dan, internet dianggap sebagai suatu kemewahan bukannya sebagai hak.
Nah, dari pembicara lainnya, Elga Yulwardian, ada beberapa tips mengenai pengawasan teknologi internet terhadap anak.
Orangtua harus menentukan waktu kapan anak bisa menggunakan gadget. Mungkin dalam kasus mba Shita Laksmi tadi, ya saat ada salah satu orangtua yang bisa mengawasi.
Batasi berapa lama setiap penggunaan gadget atau buat kesepakatan seperti kapan saja bisa mengakses, berapa jam bisa diakses dan dimana saja internet tersebut bisa diakses.
Harus ada parenting control
Orangtua harus tau apa yang diakses dan dimainkan oleh anak-anak kita.
Dari semua tips tersebut, orangtua dituntut harus mengerti teknologi internet itu sendiri. Kalau sebagai orangtua tidak mengikuti perkembangan teknologi seperti itu, maka nantinya kita tidak bisa mengontrol dan mengajarkan kontrol diri terhadap anak-anak kelak.
Untuk saya pribadi, nantinya saya akan membatasi penggunaan internet. Misalnya sehari berapa jam dia bisa mengakses internet, menjelaskan apa saja situs yang boleh dan tidak boleh dibuka, serta mengawasi apa saja yang mereka mainkan. Kalau sudah dewasa dan sudah mempunyai kontrol diri, saya akan mempercayakan sepenuhnya sambil tetap saya awasi apa saja yang mereka buka secara diam-diam.
Kenapa diam-diam? Agar anak saya yakin mereka dipercaya oleh saya, dan pengawasan tersebut hanya saya lakukan jarang-jarang. Ini sih baru rencana saya, lha wong anak saya baru 15 bulan, hehe. Tapi ya seperti komitmen saya juga, saya ingin mengajarkan kemandirian dan pengendalian diri sedini mungkin terhadap anak 😀
Buat saya kata tolong, terima kasih, dan maaf itu sangat penting. Iya donk penting, gimana enggak? Itu semua menunjukkan kalau kita menghargai orang lain. Setidaknya orang yang merasa sendirian akan merasa dirinya dianggap dan bermanfaat oleh orang lain dengan kata sederhana seperti itu.
Apalagi dalam komunikasi sebagai pasangan. 3 kata itu benar-benar harus sering ada.
Kata tolong contohnya. Walaupun kita hanya butuh ~misalnya~ diambilkan minum oleh pasangan disaat kita sendiri sedang repot, kata tolong tetap harus ada. Pasangan akan merasa dibutuhkan dengan kata tolong ini. Setiap orang senang merasa dibutuhkan kan? Saya sih begitu, hehe.
Terima kasih diucapkan ketika melihat pasangan melakukan sesuatu, baik untuk diri kita, rumah, atau anak. Ah, rasanya setiap kali saya capek, dapet ucapan terima kasih dari suami tuh salah satu cara yang bisa menghilangkan rasa capeknya. Setidaknya berpikir kalau tidak capek yaa, walaupun badan tetap terasa capek. Badan capek ya dihilangkannya dengan istirahat 😛
Terima Kasih
Gak mesti hal besar ko yang dilakukan. Kemarin saya habis mencuci semua pakaian kotor kami ~hal yang memang biasa dilakukan kan?~ dan setelah semua selesai, dapat ucapan terima kasih dari suami. Enggak, gak spesial sih, tapi kata “terima kasih” itu benar-benar bisa menghangatkan hati saya, hehehe.
Untuk kata maaf, setiap ada ucapan atau tindakan ~walaupun kecil juga~ yang menyebabkan pasangan jadi sedikit “gak enak” (kalo udah kesal sih ya berarti tindakan/ ucapannya sudah keterlaluan :D) gak usah gengsi untuk bilang maaf.
Maaf
Yaa, pasangan benar-benar merasa dihargai dan dimengerti dengan ucapan maaf itu. Walaupun belum tentu kita yang salah atau pasangan yang salah, kata maaf diucapkan untuk mengembalikan keadaan. Ketika keadaan kembali membaik, baru deh berpikir kembali atau cerita atau beri penjelasan secara baik-baik mengenai keadaan sebelumnya. Dengan cerita itu kita bisa tau tindakan atau ucapan yang mana yang membuat keadaan sebelumnya menjadi “gak enak” 😀
Tapi jangan kebanyakan minta maaf juga ya, nanti jadi kaya mpok minah deh *ada yang inget gak yaa, mpok minah di bajaj bajuri* 😛
Oh iya, keadaan “gak enak” seperti itu juga penting untuk diceritain. Karenaa, biar perasaan itu tidak terpendam, menumpuk, dan lama-lama malah jadi bom waktu. Jadi, setiap ada perasaan “gak enak” seperti itu benar-benar jangan gengsi untuk saling minta maaf dan jangan segan untuk membicarakannya kembali ~pastinya secara baik-baik~.
Dalam berkeluarga, penting banget membiasakan ketiga kata ini biar semua anggota keluarga bisa saling menghargai, merasa dibutuhkan, dan merasa dimengerti ;). InsyaAllah saya akan membangun kebiasaan ini dalam keluarga kami.
Ah, saya sama sekali bukan yang paling mengerti akan arti ucapan tolong, terima kasih, dan maaf ini. Ini benar-benar murni pengalaman sendiri saja 😀
Sore-sore iseng browsing pengasuhan anak nemu artikel lama tapi bagus, saya copy aja deh ke sini 😀
Mempunyai anak mandiri, siapa yang tak ingin? Anak yang mandiri, artinya dia bisa melayani kebutuhan sendiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri.
Untuk membentuk anak menjadi mandiri, bukanlah hal sulit, asal Anda telaten dn konsisten. Berikut ini kiat membentuk anak mandiri:
Awali dengan keterampilan mengurus diri sendiri. Mulai dari makan, menggosok gigi, dan memakai baju sendiri.
Berilah waktu untuk bermain bebas di mana mereka bisa mengembangkan idenya sendiri, sekaligus belajar menghibur dan menyibukkan diri sendiri.
Bertambah besar, mereka bisa membantu tugas rumah tangga seperti menyiram tanaman atau membuang sampah.
Bila semua berlangsung dengan baik, mereka sebaiknya dibiarkan mengatur waktunya sendiri dalam urusan sekolah dan pergaulannya. Orangtua hanya ikut campur bila mereka merasa sang anak melen ceng dari jalurnya.
Anak-anak harus diberi tanggung jawab dan dimintai pertanggungjawabannya bila mereka tak memenuhi tugasnya. Ini akan memberi perasaan penting dan mereka akan merasa bahwa orang tua mereka memercayai mereka melakukan tugas itu.
Kondisi badan yang fit dan kuat adalah bagian penting dari perasaan kompeten dan mandiri. Anak harus didorong melakukan olahraga dan kegiatan di alam terbuka.
Izinkan anak menentukan tujuannya sendiri, kecuali bila Anda merasa mereka memilih jalan mudah sementara Anda tahu benar kemampuan mereka jauh lebih tinggi.
Ingatlah selalu, Anda tak akan selalu berada di samping mereka, melindungi mereka saat meng hadapi cobaan dalam hidup mereka. Yang terbaik bantulah mereka menjadi orang yang mandiri.
Jadi, beberapa waktu lalu, kawan saya ikhma menyarankan untuk follow twitter @SuperbMother, berhubung saya udah emak2 yak 😛
Yaudah saya follow deh, lumayan, tiap hari ada kultwit berguna sekitar parenting dan pernikahan, hehe. Nah, ini ringkasan kultwit parenting style dari @SuperbMother itu. Saya posting di blog ini sih sebenernya buat saya sendiri, kalo lagi pengen baca2 tentang parenting lagi tinggal baca di blog deh, gak usah bingung2 nyarinya, hehe.
Jadi kultwitnya itu ngomongin tentang tipe-tipe pengasuhan menurut Diana Baumrind, psikologis ternama. Setelah saya googling, ternyata banyak referensi tentang ini, yaudah deh, semakin lengkap yang bisa ditulis :D.
Nah, menurut Diana Baumrind ada 4 tipe pengaasuhan yang sering dilakukan oleh orangtua. Kalo digambarin pake skema sih kaya gini gambarnya:
4 Parenting Styles
Yang pertama itu tipe pengasuhan AUTHORITARIAN (Pengasuhan Restriktif). Tipe pengasuhan ini sering juga disebut tipe pemaksa. Orangtua tipe ini punya aturan yang sangat ketat dan HARUS diikuti oleh anak-anaknya tanpa ada diskusi. Mereka juga cenderung memaksakan kehendaknya serta tidak mentoleransi adanya kesalahan kecil.
Authoritarian Parenting
Nah, sisi positif dari tipe ini adalah adanya aturan-aturan dan orangtua jadi punya kontrol penuh terhadap anak-anaknya. Tapii, kelemahannya justru di tidak adanya toleransi sikap tadi. Bisa-bisa anak jadi tidak terkontrol kalau di luar rumah, berhubung di rumah banyak sekali aturan yang mengikat. Anak juga bisa terlalu agresif atau terlalu malu di lingkungan sosialnya. Singkatnya, orangtua kurang responsiflah terhadap keinginan dan kepentingan anak, hiks.
Tipe kedua itu tipe AUTHORITATIVE. Tipe ini yang banyak disarankan dan yang dirasa paling pas dalam mendidik dan mengasuh. Kenapa begitu? Karena tipe ini memungkinkan adanya diskusi dan keterbukaan dengan anak tapi tidak meninggalkan aturan-aturan dan batasan-batasan. Malah aturan-aturan yang berlaku bisa jadi adalah hasil kesepakatan orangtua dan anak.
Authoritative Parenting
Jadi, dengan pengasuhan seperti ini, di dalam rumah selalu tercipta suasana demokrasi, selalu tercipta keterbukaan antar anggota keluarga. Sudah terbayang kan kalau tipe ini adalah tipe pengasuhan terbaik. Pengasuhan authoritative ini bisa membuat anak tumbuh jadi anak yang bertanggung jawab, percaya diri, dan bahagia.
Yang ketiga, tipe NEGLECTFUL (Uninvolved Parenting). Yang ini tipenya itu cueeek banget, gak peduli anaknya mau ngapain. Biasanya buat orangtua yang super sibuk, jadi sama sekali gak ada waktu buat anaknya. Atau bisa juga orangtua yang emang males 😛 Jadi, terkadang nonton TV lebih baik daripada ngurus anak, huhu.
Neglectful Parenting
Tipe yang kaya gini bisa mengakibatkan anak tidak punya kontrol akan dirinya. Jadi kebayang kan kalau di masyarakat akan seperti apa anak yang diasuh oleh orang tua tipe neglectful ini?
Terakhir, tipe INDULGENT (Permissive Parenting). Nah, kalo ini justru sangat-sangat terlibat dalam kehidupan anak. Tapii, kuraang banget aturan dan selalu mengikuti apa maunya anak. Tipe ini yang bisa mengakibatkan anak itu menganggap dirinya Raja dan harus selalu dituruti juga kurang menghargai orang tuanya dan orang sekitar.
Permissive Parenting
Jadi kalau disimpulkan:
Authoritarian -> Tinggi akan aturan tapi sangat kurang responsif
Authoritative -> Tinggi akan aturan, tinggi juga responsifitas orangtua terhadap anak.
Neglectful -> Rendah atau tidak punya aturan juga tidak responsif terhadap anak.
Indulgent -> Rendah atau tidak punya aturan tapi sangat responsif terhadap anak.
Nah, chirpstory-nya saya bikin ulang, soalnya yang asli urutannya tebalik, jadi bacanya mesti dari bawah. Jadi, saya bikin biar bisa dibaca dari atas, nih dia: http://chirpstory.com/li/46704. 😀
Oke, jadi beberapa waktu lalu saya dan suami sepakat untuk memberikan bacaan ringan ke tetangga sebelah tentang pengasuhan anak. Heheh, bukan berarti kita udah paham, ya sama-sama belajar sih, cuman pengen aja ilmunya gak cuma kita yang punya, tapi semua orang tua juga punya, dimulai dari yang terdekat 😀
Nah, nemu buku bagus deh waktu jalan sambil kondangan ~heheh~ karangan ayah Edy, judulnya sih “Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur?” tapi sub judulnya “37 Kebiasaan Orangtua yang Menghasilkan Perilaku Buruk Pada Anak”, hihi. Jadi, kalau sekilas sih ini kaya di pihak orangtua yang menyetujui anaknya susah diatur, padahal di balik itu buku ini menjelaskan kesalahan yang sering dibuat oleh para orangtua secara tidak sadar. Bagus kan? 😀
Buku 37 Kebiasaan
Ah iya, maksud saya nulis ini adalah mau membagi apa saja 37 kebiasaan itu. Eh, tapi gak saya jelaskan satu-satu yaa, kalau mau lebih jelas mungkin beli bukunya aja, gak mahal juga kook, hehehe.
37 Kebiasaan yang salah dan dapat menghasilkan perilaku buruk pada anak itu antara lain: *di bukunya, 1 kebiasaan 1 bab*
Berbohong kecil dan sering. Contohnya: kalau kita mau pergi, sering berbohong “Mama/papa hanya pergi ke depan sebentar, gak lama”, padahal perginya bisa seharian penuh 😛
Bicara tidak tepat sasaran. Kaya apa tuh? Misalnya, padahal kita marah karena barang kesayangan kita dipecahkan oleh anak, tapi kita jadi mengungkit-ungkit kesalahannya yang lama2 bukannya menjelaskan apa yang harus diperbuat lain kali.
Menakuti anak. Contohnya itu saat mendiamkan anak nangis, “Hayo, kalo nangis terus nanti disuntik lho”.
Ucapan dan tindakan tidak sesuai. Misalnya kita udah berjanji mau memberikan hadiah, tapi ternyata tidak. Atau akan menghukum anak tapi karena tempat dan waktunya belum pas, jadi terundur dan lupa. Anak akan jadi sulit percaya kepada orangtua nantinya.
Hadiah untuk perilaku buruk anak. Misalnya anak merengek untuk membeli jajanan tidak sehat dan kita gak mengabulkannya. Tapi dia terus merengek sampai kita tidak tahan dan akhirnya mengalah. Jajanan itu termasuk hadiah untuk perilaku rengekan tersebut.
Memaklumi yang tidak pada tempatnya. Misalnya anak kita bertengkar dengan temannya dan anak kita memukul. Terkadang dimaklumi dan bicara “Maklumlah, namanya juga anak2”.
Penggunaan istilah yang tidak jelas maksudnya. Misalnya, “Awas, jangan macam-macam ya”. Definisikan “macam-macam” itu.
Mengharap perubahan instan.
Pendengar yang buruk. Sebelum anak menjelaskan panjang lebar dan baru 1 kalimat keluar, kita sudah memarahi dan menasehatinya panjang lebar. Nantinya anak jadi enggan bercerita dan enggan terbuka.
Selalu menuruti permintaan anak.
Terlalu banyak larangan.
Terlalu cepat menyimpulkan. Mirip dengan no. 19 sih. Anak baru menjelaskan, kita seolah2 sudah mengerti dan membuat kesimpulan yang salah, jadi langsung memarahi panjang lebar.
Mengungkit kesalahan masa lalu.
Suka membandingkan. Ingat selalu bahwa setiap manusia itu unik, termasuk anak kita dengan anak-anak lainnya.
Paling benar dan paling tahu segalanya.
Saling melempar tanggung jawab.
Kakak harus selalu mengalah. Kita harus selalu bertindak adil. Walaupun si adik masih kecil, tetap harus diberitahukan mana yang benar dan mana yang salah.
Menghukum secara fisik. Sudah pasti tau ya, memukul.
Menunda atau membatalkan hukuman.
Terpancing emosi. Agak mirip dengan nomor 11 nih sepertinya. Jadi, kita harus bersabar dan tahan dengan rengekan anak dan tetap konsisten dengan yang kita katakan.
Menghukum anak saat kita marah. Sebaiknya jika sudah tidak bisa tertahan lagi, segera menjauh dari anak dan pilih cara terbaik untuk menenangkan diri.
Mengejek.
Menyindir.
Memberi julukan yang buruk. Julukan ini seperti “cengeng”. Jika anak terus-menerus diberi julukan cengeng sejak kecil, maka akan tertanam di otak kalau dia adalah pribadi yang cengeng.
Mengumpan anak yang rewel.
Televisi sebagai agen pendidik anak.
Mengajari anak untuk membalas.
Yah, kira-kira begitulah isi buku itu, walaupun bukan penjelasan lengkap dan cuma daftar kebiasaannya saja, tapi lumayan kan? 😛
Dan yang terakhir, pengasuhan dan pendidikan itu dilakukan oleh kedua orangtua. Jadi, jangan ragu-ragu menghabiskan banyak waktu untuk mengkomunikasikan pengasuhan dan pendidikan anak kita kelak seperti yang diinginkan. Komunikasi antar orang tua itu sangat penting untuk menjaga kekompakan dan menghasilkan kesepakatan pola pengasuhan. 🙂