Parenting

[Parenting] Biarkan Anak Menanggung Konsekuensi Perbuatannya

Postingan ini betul-betul reblog dari artikel di Parents Guide dengan judul yang sama. Hal ini juga yang ditekankan oleh Toge Aprilianto, agar anak menjadi mandiri dengan mengatasi masalahnya sendiri.

“Bermain air basah, bermain api hangus.” Masih ingatkah pada pepatah lama ini? Benar, tiap perbuatan manusia memang selalu diikuti akibat. Datang terlambat di kantor ditegur. Telat bayar tagihan kartu kredit didenda. Kadang kita berusaha tidak peduli. Tapi setelah satu-dua kali terantuk akibat – apalagi kalau akibatnya berat – biasanya kita jera.

Hal serupa berlaku di dunia anak-anak. Tulisan ini membahas bagaimana membuat anak mengambil pelajaran dari konsekuensi perbuatannya. Ada dua jenis konsekuensi tiap perbuatan: alamiah dan logis.

A. KONSEKUENSI ALAMIAH

Konsekuensi alamiah – biasanya berupa akibat langsung suatu perbuatan – biasanya sanggup diterima anak serta tidak membahayakan fisik atau perasaannya. Misalnya, tidak mau makan bikin anak lapar. Tidak hati-hati memanjat bisa jatuh. Bangun kesiangan akibatnya terlambat ke sekolah.

Orangtua kerap tak tega membiarkan anak menanggung konsekuensi alamiah ini karena belenggu belief: kalau tidak makan jadi kurang gizi; kalau memanjat nanti jatuh. Padahal jika anak dibiarkan merasakan lapar, nafsu makannya mungkin jadi lebih besar. Setelah jatuh satu-dua kali, anak akan paham jatuh itu sakit sehingga berhati-hati memanjat. Ingat, makin keras tekanan anak agar mengikuti belief kita, makin kuat perlawanan (power struggle dan revenge) dan keputusasaan (helplessness). Makin cerewet kita, makin ‘tebal’ telinga anak.

Lantas, apakah orangtua mesti lepas tangan dari semua perbuatan anak? Tentu tidak. Batasannya sangat jelas. Bila anak bermain dengan sesuatu yang jelas-jelas bisa mencelakai fisik – misalnya arus listrik, setrika, kompor, pisau atau bahan kimia – orangtua perlu melarang. Dengan sedikit teknik self-interviewing (bertanya pada diri sendiri) orangtua bisa menilai perlu tidaknya mereka campur tangan dalam perbuatan anak.

TEKNIK SELF INTERVIEWING

Tanyakan serangkaian pertanyaan berikut, untuk memutuskan campur tangan atau tidak dalam perbuatan anak:

– Apa yang terjadi jika saya diam saja?
– Apa konsekuensi alamiahnya?
– Apa konsekuensi itu terlalu berat, atau justru terlalu ringan sehingga anak tidak jera?

Terapkan ketiga pertanyaan di atas untuk situasi berikut:

  • Anak-anak berebut mainan sampai rusak. Jika kita diamkan, mereka terus berebut. Memang berisik, tapi itu toh masalah anak (ingat bagian ‘Siapa Sebenarnya Pemilik Masalah’). Konsekuensi alamiahnya, paling salah satu menangis karena kalah, atau mainan rusak. Berbahayakah membiarkan anak menangis atau kecewa karena mainannya rusak? Belum tentu. Mungkin mereka justru menyesal.
  • Anak malas gosok gigi sampai sakit gigi. Jika dibiarkan, anak pasti menderita. Konsekuensi alamiahnya buruk buat giginya sehingga harus dibawa ke dokter. Di lain pihak, setelah tersiksa semalaman oleh nyeri gigi, agaknya anak jera. Rasa sakit yang ia derita sekarang bisa jadi ‘alarming bell’ tiap kali ia malas gosok gigi.
  • Anak malas makan. Jika dibiarkan sekali saja, apakah anak akan kurang gizi berat? Paling-paling kelaparan. Mungkin kalau sudah lapar betul anak akan makan sendiri tanpa disuruh.
  • Anak terlambat bangun. Kalau dibiarkan, anak pasti terlambat dan ditegur guru. Ini masalah anak. Mungkin setelah ditegur dan kena malu, ia kapok.

B. KONSEKUENSI LOGIS 

Kadang konsekuensi alamiah tak cukup efektif. Dalam hal ini orangtua bisa menerapkan konsekuensi logis. Konsekuensi logis sebetulnya merupakan serangkaian syarat yang dikehendaki orangtua. Syarat ini berhubungan dengan perbuatan anak, berpotensi meredakan masalah dan membuat anak jera. Efektif tidaknya syarat ini tergantung cara orangtua menjelaskannya kepada anak.

Penerapan konsekuensi logis biasanya berupa pemberian pilihan. Misalnya:

  • “Kamu boleh pilih: tidur siang atau tidak tidur siang untuk bikin PR sekarang?”
  • “Ayah mau mendengarkan berita di TV. Kalau mau bertengkar terus, bertengkarlah di luar. Kalau masih mau di dalam, main yang akur…”
  • “PR-nya harus selesai sebelum nonton Sponge Bob, lho. Kalau belum selesai, apa boleh buat, nggak lihat Spongebob!”
  • “Kalau sepeda tidak kamu simpan habis dipakai, Ayah akan kunci di gudang tiga hari baru boleh pakai lagi.”
  • “Kalau kamu habiskan uang saku mingguan sebelum waktunya, nggak ada tambahan lagi sampai minggu depan, ya.”

Konsekuensi logis membantu orangtua menghindarkan pola menghukum anak, dan sebaliknya membantu anak mengenali akibat perbuatannya. Dengan mengatakan “kamu boleh pilih” – atau menyodorkan pilihan – orangtua sebenarnya memberi anak hak membuat keputusan (apa yang akan dipilih), sekaligus membiarkan anak belajar menerima konsekuensi pilihannya. Bagi anak sendiri, penetapan syarat membuatnya bisa menimbang perbuatan mana yang bisa ia toleransi akibatnya.

Misalnya:

  • Jika membuat PR lebih menyenangkan daripada tidur siang, anak mungkin memilih membuat PR. Jika tidur siang lebih enak ketimbang bikin PR, anak memilih mengerjakan PR sore hari setelah bangun dalam keadaan segar.
  • Karena segan pada ayah, anak yang tidak senang ‘diusir’ keluar ruangan mungkin memilih berhenti bertengkar. Sedangkan anak yang masih penasaran bertengkar akan melakukannya di luar, seperti perintah ayah.
  • Jika anak berat melewatkan Sponge Bob, ia memilih membuat dan menyelesaikan PR secepatnya daripada berisiko tidak boleh nonton.
  • Daripada harus menunggu tiga hari untuk bisa main sepeda lagi, anak terdorong lebih tertib menyimpan sepeda tiap habis dipakai.
  • Tiap ingin memboroskan uang saku mingguannya, anak akan memikirkan risiko ‘tongpes’ (kantong kempes) – tentu sepanjang orangtua konsisten tidak menambah uang saku meski ia merengek.

Menerapkan konsekuensi logis memang lebih sulit dibanding mengandalkan konsekuensi alamiah, karena orangtua harus membuat syarat yang masuk akal dan cukup memberi efek jera. Meski begitu, imbalannya ‘sebanding’: Konsekuensi logis memberi learning opportunity lebih banyak untuk anak. Selain itu, konsekuensi logis juga bekerja lebih baik dalam mengatasi perbedaan kepentingan antara orangtua dan anak – sepanjang orangtua bisa menjelaskan dengan baik dan memberi pilihan yang masuk akal. Keep trying!

sumber: www.parentsguide.co.id

Update!

Pertanyaan seorang teman, Fabian:

Soal konsekuensi logis, memang tujuannya untuk memberikan pilihan, tapi di satu sisi, rasanya itu seperti mengancam. Bagaimana pendapat oom ilman dan istri? *berasa wartawan*.
dan untuk yang konsekuensi alami. misal jatuh, aku sekarang kalo jatoh karena misalnya lagi main futsal gpp, makanya kalo itu anak main bola, lari2, aku bisa biarkan, tapi gimana ketika ada hal2 yang sepele, tetapi sangat tidak diinginkan? Gimana peran ortu disana? Misalnya (amit2 nih yaa) si anak lari2, jatuh kepentok batu. Dari yang resikonya kecil, bisa menjadi fatal.

Jawaban dari suami:

Terimakasih bung Fabian, pertanyaan yg menarik xD

Contoh kalimat di atas cuma bs dimengerti anak >5 tahun kan? Orangtua ga bisa ujug2 ngasih pilihan begitu saat anak udah gede tanpa sebelumnya anak sudah terbiasa berpikir utk memilih.
Ada beberapa step ketrampilan berpikir dan memilih yg ga dijelasin di atas, yg bs dilakukan sejak anak jauuh lebih kecil.
Pertama memilih enak vs ga enak, yg paling gampang. Kalau sudah bisa, belajar milih enak vs enak berikutnya. Misalnya, mau pilih kue atau jalan2, tp ga bisa keduanya.
Terakhir, belajar memilih ga enak vs ga enak, contohnya beresin mainan atau ga boleh main lg.
Saat ketrampilan anak dilatih bertahap, setiap pilihan bukan lg ancaman, tp sesuatu yg bs dipikirkan konsekuensinya oleh si anak. Kurang lebih demikian bung

Ini diambil dr buku “Saatnya Melatih Anakku Berpikir” karya Toge Aprilianto, psikolog spesialis parenting. Very good book, tp isinya berat dan jg bikin ortu mikir. Gw dan istri menyarankan baca buku ini setelah belajar konsep2 parenting yg lebih umum, kaya buku2nya Ayah Edy

Tentang yg kedua, ada konsep namanya baby/childproofing. Artinya rumah dibikin aman spy anak bebas eksplorasi rumah tanpa takut berbahaya bagi dia atau bagi perabot rumah xD
Misalnya colokan listrik ditutup, piring/beling2 ditaro tempat tinggi, kotak obat dijauhin, dsb. Artinya ortu bener2 make sure rumah aman.
Jadi kalau anak kejedot meja, jatuh saat naik2 kursi kecil, dsb yg ga membahayakan jiwa, kita ga perlu sport jantung, krn anak kan jd belajar sendiri buat hati2.
Di luar rumah hampir sama, kita harus make sure lingkungannya aman baru bs kita bebaskan dia main.
Intinya anak jangan banyak dilarang atau terlalu parno anak bakal gimana2. Amankan lingkungannya, dan biarkan dia belajar sambil bermain  😀

istianasutanti

Halo, salam kenal ya.

Aku Istiana Sutanti, seorang ibu dari 3 orang perempuan yang hobi sekali mengajak anak-anak untuk traveling bersama.

Di blog ini aku sharing pengalaman traveling kami sekeluarga plus pelajaran parenting yang aku dapatkan, baik dari pengalaman pun dari seminar parenting.

Semoga kalian suka membaca pengalaman traveling kami dan semoga membantu untuk menentukan tujuan traveling kalian berikutnya! ;)

You may also like...

4 Comments

  1. Setuju mak…sbg contoh dr kecil sy biasakan mkn sdri tanpa disuap, sy hanya menyediakan sj, akhirnya krn lapar dia mkn sdri, dan akhirnya jarang sekali sy suapi kecuali saat dia sakit…baju , tas, sepatu, bila tdk mau meletakkan sy beri warning klo dilantai berarti ini brg tdk dipkai dibuang disampah sj, diambil ato dibuang, bl bbrp kali tdk diindahkan brg2 itu segera sy masukkan tempat sampah, semua mmg hrs ada faktor “tega” tetapi u kedepannya alhamdulillah anak lbh baik dan mengerti..

    1. yap, harus ada sedikit faktor ‘tega’ ya mak, mau gak mau ini. karena hanya dengan begitu mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri 😀

  2. anak2 memang harus diajarkan menanggung konsekuensi perbutannya, ya. Biar belajar bertanggung jawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.