Naia Belajar Tanggung Jawab

Akhir-akhir ini saya mulai mengajarkan ke Naia kalau sedang main ingin beranjak ke permainan selanjutnya, dia harus merapikan mainannya saat ini terlebih dahulu. Bukan obsesi supaya rumah rapi ya, tapi ya biar dia belajar bertanggung jawab. Pun saat dia ingin membawa sesuatu saat saya pergi. Saya memberinya tanggung jawab penuh akan apa yang dibawanya itu.

Saat weekend kemarin misalnya, dia lagi seneng-senengnya banget tidur sama Soothe & Glow Seahorse™ (sekarang dinamakan kula oleh kami, hihi) yang didapet dari Fisher-Price waktu itu, jadilah saat ingin menginap di rumah eyang atau utinya dia selalu ingin membawanya. Yasudah, saya ijinkan asal dia ingat untuk membawa pulang kembali. Di rumah utinya si Kula jadi ketemu sama saudaranya deh, hahaha. Alhamdulillah sebelum pulang dia ingat sekali apa yang dibawanya saat itu. Dia mencari2 dimana si kula berada. Sebelumnya saat dia lagi seneng banget main puzzle juga gitu. Puzzle-nya dibawaa terus sampai kemanapun. Sampai sekarang juga masih sih. Kalau saya sedang ingin mengajaknya ke acara yang saya nikmati ya dia membawa puzzle-nya untuk dimainkan agar tidak bosan.

Kula dan Saudara di rumah Uti
Kula dan Saudara di rumah Uti

Nah, tapi di rumah masih belum bisa merapikan mainannya, gimana donk?

[Parenting] Kebiasaan Buruk 15: Gengsi untuk Menyapa

Waktu remaja pernah gak sih berselisih faham sama orang tua? Terus kalau sudah begitu, hubungan kalian gimana?

Saya sih Alhamdulillah gak pernah dulu, tapi lumayan sering ngeliat yang kayak gini, kakak saya kayanya pernah deh. Nah, keadaan begitu harusnya sih gak boleh lama-lama ya. Ya tau sendiri kan kalo sebel-sebelan sama orang itu jadi gimana? Hubungannya akan renggang. Gak heran kalau lihat banyak yang sudah dewasa pun agak gimana-gimana gitu sama orangtuanya. 🙁

Ternyata sebagai orang tua, kita jangan gengsi untuk menyapa duluan. Malah, kita bisa jadi contoh buat mereka kelak kalau bisa jadi orang yang mau memperbaiki hubungan serta gak segan untuk minta maaf kalau salah.

Eh, tapi gak harus nunggu remaja kok, simak deh cerita saya sama Naia ini

Project Sunlight Demi Masa Depan yang Sehat

“Ma, atel ma”, kata Naia suatu petang.
“Gatel apanya?”
“Inii” *sambil nungging nunjuk daerah anus.
“Coba sini mama cek”
Setelah ngecek gak ada apa-apa. “Coba mama kasih bedak ya supaya gak gatel lagi”
“Yaa”

—Malam harinya—

“Atiiitt”, kata Naia sebelum beranjak tidur. Kali ini dia menunjuk2 bagian anus ke depan mendekati vagina dan terlihat sangat kesakitan.
“Coba sini buka celananya, mama cek”

Dan, jeng jeeeng… Begitu kagetnya saya saat mendapati ada 2 cacing kecil sedang berjalan menuju vagina. Salah satunya malah sudah berada di mulut vagina, itulah yang membuat Naia sangat kesakitan. Setelah browsing sebentar baru saya ketahui itu adalah cacing kremi, hiiy. Pantas saja saat petang hari dia merasa gatal di sekitar anus, mungkin saat itu cacing-cacingnya menetas dan siap melancarkan aksinya yang lain.

Saat itu saya betul-betul shock, panik, dan speachless mengetahui kenyataan kalau Naia cacingan! huaaa. Malu pada suami, malu pada diri sendiri, terlebih lagi malu pada Allah karena tidak bisa menjaga amanahNya ini. Seketika itu juga saya berpikir kenapa Naia bisa cacingan.

Kenapa Naia bisa cacingan?

Pilih-pilih Pujian ke Anak

Kemarin saya dikagetkan dengan salah satu tulisan di mommiesdaily yang berjudul “Jangan Memuji Anak” dan ditulis oleh mbak Lita. Dibuat penasaran dengan judulnya yang cukup anti mainstream, dimana semua orangtua ramai-ramai justru ingin banyak-banyak memuji anak, saya akhirnya membacanya sampai akhir.

Setelah membaca dan paham akan alasannya, saya jadi teringat dengan artikel “Why I’ll never tell my son he’s smart” dan video TEDx yang pernah saya tonton mengenai growth vs fixed mindset. Video TEDx berdurasi 11 menit itu cukup membuka mata saya akan adanya perbedaan yang menonjol tentang seorang yang sukses dengan yang tidak. Perbedaan tersebut ada pada pikiran bawah sadar mereka. Orang-orang sukses kebanyakan cenderung memiliki growth mindset. Sebaliknya, orang-orang yang biasa saja sepintar apapun dia cenderung memiliki fixed mindset.

Lalu apa itu growth dan fixed mindset?

[Parenting] Bersepakat

Untuk melatih kedisiplinan Naia saya lebih suka dengan kesepakatan, bukannya hukuman. Karena menurut saya sendiri sih, bersepakat itu komunikasi yang paling baik yang dilakukan oleh orangtua. Soalnya dengan kesepakatan, kita memikirkan perasaan anak serta menentukan dan membuat anak berusaha dengan keinginannya sendiri. Malah kalau anak sudah lebih jago lagi, dia deh yang mengajukan kesepakatan itu, hehehe.

Sudah cukup lama saya menerapkan ini ke Naia, sejak umur 1 tahunan lah *apa kurang ya, lupa*. Pokoknya, sebelum dia lancar berbicara dan berkomunikasi seperti sekarang, saya memperhatikan ekspresi mukanya saja. Kalau ia senang berarti ia setuju dengan kesepakatan yang saya ajukan. Tapi, kalau mukanya terlihat BT, ya kesepakatannya berarti tidak cukup bagus, saya harus merevisinya deh.

Seperti pelajaran kecewa yang pernah saya tulis juga, kesepakatan sebetulnya mengajarkan tentang kekecewaan, tentang tanggung jawab, dan usaha. Kekecewaan apabila “upah” akan usahanya tertunda atau terpaksa tidak diberikan karena tidak tuntas berusaha. Tanggung jawab saat ia bisa melakukan yang memang seharusnya dilakukan dan usaha saat ia betul-betul melakukan apa yang disepakati untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

yuk intip sedikit cerita saya dan Naia bersepakat ^^

[Parenting] Jadi Kamus

Pernahkah mengalami anak malah marah atau mengamuk saat kita membantunya? Padahal sebelumnya dia yang mengajukan pertanyaan atau meminta perhatian kita dalam masalah yang dihadapinya.

Bisa jadi itu artinya dia cuma mau kita jadi “kamus”. Apa tuh maksudnya jadi kamus? Kita sendiri kalau sedang membutuhkan kamus, yg diharapkan apa? Kita jadi tahu dan jadi lebih mengerti sesuatu. Namun, kamus tidak bisa serta merta ikut campur dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Nah, persis deh itu yg diinginkan anak.

Baruu aja beberapa hari yang lalu saya mengalami ini. Naia (anak saya yang berumur 2,5 tahun) sudah hampir berputus asa dengan mainan mobil yang gk pas disusun di tempatnya (padahal kalo menyusun secara benar, mobil-mobil itu bisa masuk semua ke tempatnya). Nah, dia mencolek saya dan bertanya, ‘mana tempatnya?’ katanya. Dodolnya, saya sama sekali tidak berpikir kalau cuma dilibatkan sebagai kamus, jadi saya memberitahu solusinya sambil membukakan jalan untuk menyelesaikan masalahnya. Tapi Naia bukannya seneng malah ngamuk. Mobilnya jadi malah berantakan semua karena dikeluarkan lagi dari tempatnya 🙁

Saya diam saja menunggu dia tenang sendiri. Setelah tenang, tidak lama dia main lagi dan masalah yang sama kemudian muncul. Dia bertanya lagi pada saya.

Kali ini saya sadar kalau saya cuma dibutuhkan sebagai kamus, jadi ya saya hanya berkata “mobilnya gk muat karena ada 2 tempat kosong yg berjauhan, harusnya sebelahan supaya mobilnya muat”, sudah. Saya hanya memberitahu demikian tanpa ikut campur dalam penyelesaian masalahnya. Dia lalu mencoba lagi sambil mencari cara terbaik agar tempat yang tersedia bisa bersebelahan. Berhasil! Dan dia jadi seneng bangettt.

Sayanya lebih senang karena udah engeh harus gimana dan senang krn dia mau berusaha nyelesein masalahnya sendiri.

Begitu juga saat dia sedang bermain puzzle. Memang bukan puzzle yang sulit banget sih, tapi lumayan lah untuk anak seusianya, 2 tahun 6 bulan. Dia cuma mau saya jadi “kamus” lagi. Nanya ini gimana itu gimana cuma agar saya mengarahkannya saja, sisanya dia selesaikan sendiri. Lagi-lagi dia puas dan senang sekali saat berhasil menyelesaikan sekian banyak puzzle yang dia punya. Saya sendiri sampai heran dan kagum akan kegigihannya menyelesaikan ke-14 puzzle yang dia punya.

Puzzle

Dengan hanya menjadi “kamus” begini untuk anak, sedikit banyak kita telah mengajarkan kemandirian dan juga rasa percaya dirinya. Kemandirian menyelesaikan masalah tanpa bergantung pada orang lain dan rasa percaya diri karena sudah berhasil menyelesaikan masalahnya SENDIRIAN. ^^

Play IQ: Mainnya Mereka Bukan Sekedar Main

Menjadi orangtua, (terlebih orangtua baru yaa, yang baru melahirkan gituu) itu gak enak tapi enak. Lhoo, kok kontradiksi sih, hahaha. Gak enaknya sih saat menghadapi anak yang rewel atau saat kita terjaga sepanjang malam demi anak, atau saat-saat membersihkan kotorannya yaa. Tapii enaknya lebih banyaaak. Salah satunya itu kita seakan-akan punya “mainan” baru. Malah, saat anaknya sudah bisa diajak bermain, kita jadi ikutan mainan deh ama mereka. Asik kaan? Udah segede gini masiih aja mainan dan terkadang melakukan hal konyol demi anak kita ketawa dan ceria lagi, hihi.

Ya habiis, dunia mereka kan memang dunia bermain yaa? Mereka bermain bukan sekedar main sih, tapi lebih dari itu. Mereka belajar dan mengembangkan keterampilannya serta mengasah kemampuan otaknya lewat bermain. Iya, anak-anak mengembangkan dan mengasah kemampuan otaknya tidak hanya saat mereka tidur, tapi juga saat mereka bermain. Karena, aktivitas paling penting dari anak itu adalah tidur, bermain, dan mengobrol. Jadi, pastikan deh anak kita maksimal dalam ketiga aktivitas tersebut.

Aktivitas Utama Anak
Aktivitas Utama Anak

sumber gambar

Fisher-Price Play IQ Workshop

Saya jadi gak heran kalau jaman sekarang makin banyak orangtua yang sanggup memberikan waktu berkualitasnya untuk bermain sama anak. Ya demi itu tadi, demi memaksimalkan perkembangan otaknya. Malah banyak juga yang bikin mainan sendiri untuk anaknya. Saya juga pernah sih beberapa kali bikin mainan sendiri dari barang bekas, ya sambil iseng juga gitu di rumah, hehehe. Alhamdulillahnya sih dimainkan sama Naia. Tapi namanya dari barang bekas, ya umurnya juga gak lama. Paling lama itu seminggu mainannya juga udah gak dimainkan lagi, hahaha.

Tapi banyak juga kok mainan yang beli. Kebanyakan sih bukan kita sendiri yang beliin, tapi hadiah dari yangti-utinya. Tau kan ya kalo nenek-nenek itu emang sayaaang banget sama cucunya, hihihi. Jadi ya gitu deh, jarang banget kita membeli mainan untuk Naia, keseringan buku, karena kami ingin merangsang Naia agar suka membaca juga. Nah, saat saya mudik ke Semarang bareng keluarga suami, ada sepupu yang membelikan anaknya story book rhymes -semacam buku tapi ada lagu-lagunya gitu deh-. Sejak itu saya kepincut banget, pengen beliin juga buat Naia. Dasar emang saya orangnya pelupa pake banget, ya ampe sekarang gak terlaksana deh niat itu, huhuhu.

Continue reading “Play IQ: Mainnya Mereka Bukan Sekedar Main”

[Parenting] “Time Out” Bukan Pendisiplinan

Pernah menghukum anak yang “berulah” atau tantrum dengan memberinya time out? Sepertinya memang itu salah satu *salah satu lho ya* metode yang kita tau ya untuk menghukum anak. Maksudnya baik, agar dalam kesendiriannya, si anak bisa menenangkan diri, menyadari kesalahannya, serta introspeksi untuk bisa lebih baik lagi. Sebelum punya anak saya juga kepikiran sih mau menerapkan metode time out ini.

Tapi, beberapa waktu lalu suami saya memberi saya artikel yang cukup bagus dan cukup membuat saya berpikir ulang untuk menerapkan metode ini. Artikel tersebut berjudul “‘Time-Outs’ Are Hurting Your Child” dan berisi mengenai apa sebenarnya yang diterima oleh anak saat menghadapi hukuman time out ini.

Time out
Time out

Image credits

Maksud kita sebenarnya baik sih, agar si anak bisa introspeksi dan menyadari kesalahannya. Malah metode ini memang sudah banyak diterapkan baik di budaya Barat sana maupun di budaya Timur sini. Tidak sedikit juga ahli parenting yang merekomendasikan metode ini, malah di Nanny 911 juga menerapkan hal ini kan? hehe. Namun apa metode ini bagus buat perkembangan anak? Efektif gak sih sebetulnya?

Ternyata, dengan memberikan hukuman berupa time out ini si anak malah menangkap maksud yang berbeda

Waspada Bahaya Gadget untuk Anak: Parenthood Style Era Digital

Sewaktu berkumpul bersama sahabat-sahabat saya, ada salah satu anak ~yang baru berumur 3 tahun~ dari sahabat saya yang matanya pasti akan langsung tertuju dengan gadget yang ada di tangan orang sekitarnya. Bisa punya ayahnya, ibunya, bahkan milik teman-teman orangtuanya sendiri. Setiap melihat ada gadget di dekatnya, tangannya secepat kilat menyambar dan langsung memainkanya. Hummm  sampai segitunya ya kalau sudah dikenalkan gadget.

Saya lalu teringat cerita lain dimana saat satu keluarga makan di pusat perbelanjaan, anak yang mereka ajak terlihat sudah bosan dan lapar sehingga mulai “berulah”. Ia menjadi tidak tenang dan hampir tantrum. Sesaat sebelum ia tantrum, orangtuanya mengambilkan tablet dari tas mereka dan langsung diberikan kepada si anak. Walhasil si anak langsung terdiam dan menjadi anteng deh.

Gadget Kid
Gadget Kid

Image by Thiago Marques

Banyak ya sekarang orangtua yang seperti itu? Menjadikan gadget sebagai alat pendiam dan “penutup mulut”. Atau malah bisa dibilang jadi “pengasuh ketiga”nya anak, hihi. Sebelum adanya gadget-gadget canggih seperti sekarang, sebetulnya orangtua juga sudah banyak sih yang menjadikan alat elektronik sebagai “pengasuh ketiga” anak, yaitu TV. Sayangnya TV tidak bisa diajak dan dibawa kemana-mana saat itu serta bentuknya yang kurang bersahabat bagi tangan anak. Nah, karena gadget sekarang bisa dipegang langsung sama anak dan bisa dibawa kemana-mana, jadilah ia bisa menjadi “pengasuh ketiga” setiap saat dan di setiap tempat.

Sebetulnya sih sah-sah saja untuk memperkenalkan gadget ke anak sejak dini. Maklum, jaman sekarang kan memang anak sudah terpapar gadget sejak ia lahir sehingga ia menjadi generasi digital native. Yaitu orang yang sejak kecil mengenal gadget dan internet serta dengan cepat belajar fitur gadget. Nah, kita sendiri adalah generasi digital migrant. Dimana kita memang sudah mengenal beberapa alat digital atau gadget namun tidak separah dan sebanyak sekarang.

Memangnya apa saja sih bahaya gadget ke anak?

Sabtu Bersama Bapak

Ka, istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat.

Iya, sih. Tapi, mah, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat.

Dari dulu saya memang suka sekali untuk mengambil pelajaran dari kisah2. Bukan kisah yang berat2 seperti kisah Einstein atau ilmuwan lainnya sih *walaupun pada akhirnya tertarik juga membaca kisah hidup mereka, hehe*, novel remaja atau kumpulan cerpen saja sudah cukup. Karena jujur saja, waktu saya remaja, saya mendapat banyak pelajaran dari cerpennya Asma Nadia. Pelajaran bagaimana menghargai orang, pelajaran mengenai islam lebih lanjut, dan masih banyak pelajaran lainnya. Karena ini pula saya suka banget sama “Teka-teki Terakhir“nya Annisa Ihsani yang sarat akan ilmu Matematika.

Berhubung saya udah punya anak, saya lalu jadi concern banget sama segala sesuatu yang berbau parenting atau pengasuhan. Sejak Naia lahir, semangat saya jadi sangat terpacu untuk mempelajari segala hal mengenai pengasuhan, baik dari internet maupun membeli buku2 fisiknya. Saya sampai ikut gabung di milis parenting, subscribe di website parenting juga, sampai mengikuti webinar *seminar melalui web* terkait gaya pengasuhan yang sesuai. Nah, hal yang menarik adalah: saya belum menemukan topik parenting ini dibahas dan dijadikan tema utama dalam sebuah novel. Ingat ya, belum. Belumnya saya bukan berarti bukunya memang belum ada, mungkin ada hanya saya saja yang belum menemuinya. Karena itulah saya bertekad mau menulis sebuah cerita dengan tema utamanya pengasuhan tadi.

Lalu tetiba semalam saya mendapati buku ini di kamar adik ipar. Dan secara tidak sengaja, sambil ngelonin Naia, saya membacanya iseng saja. Tidak disangka, buku ini sangat bagus dan saya jadi menunda waktu tidur saya demi menyelesaikan membacanya. Buku ini bisa dibilang merupakan buku “impian” saya *lebay yah? Emang! hehe*. Saya bisa belajar lebih banyak mengenai hal yang saya ingin tahu dengan membaca kisah seperti ini. Alhamdulillah sudah ada yang bikin. Berikutnya saya juga mau lho bikin novel kaya gini, saya masukkan dalam salah satu capaian saya malah. Semoga terwujud suatu hari nanti. Aamiin *ayo amini yang keras sodara2 😀

*****
Sabtu Bersama Bapak
Sabtu Bersama Bapak

Judul: Sabtu Bersama Bapak
Karangan: Adhitya Mulia
Tahun: 2014
Penerbit: Gagas Media
Rating: 4/5

Preview

[Parenting] Cegah Kekerasan Seksual dengan Sex Education

Masih ingat dengan kasus kekerasan seksual yang terjadi di salah satu sekolah bertaraf internasional di Jakarta? Tentunya masih ya, lha wong belum lama ini kok kasusnya terjadi. Media massa ramai sekali memberitakannya.

Belum lagi ada kasus Emon, yang telah melakukan kejahatan seksual pada lebih dari 100 orang anak. Sampai-sampai kasus kekerasan seksual pada anak (KSA) ini menjadi sorotan tersendiri bagi para agamawan. Bahkan para ulama menghimbau agar pendidikan agama harus lebih intensif lagi agar tercipta manusia yang lebih tinggi kualitas keimanannya. Harapannya, dengan keimanan dan ketaqwaan yang tinggi, maka kasus-kasus serupa dapat dihindari dan dikurangi.

Memang betul kalau pelaku kasus seperti ini sangat erat kaitannya dengan agama seperti telah dijelaskan oleh salah satu member KEB, Ida Nur Laila, dalam file kampanye #KEBAgentOfChange yang berjudul “Kekerasan Seksual Thd Anak Lawan dg Pengetahuan“. Oleh karena itu, kita memang harus menanamkan keimanan yang kuat pada anak kita agar terhindar dari kekerasan seksual ini, baik terhindar dari menjadi korban maupun terhindar dari menjadi pelaku itu sendiri.

KEB Agent of Change - File PDF
KEB Agent of Change – File PDF

Tapi, bukankah agama juga erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan? Jadi yang sebaiknya kita lakukan adalah…

[Parenting] Kebiasaan Buruk 14: Marah yang Berlebihan

Pernah membaca cerita kemarahan ayah yang mengakibatkan tangan anak sampai diamputasi?

Cerita itu mengisahkan anak 3,5 tahun yang ditinggal kerja oleh kedua orangtuanya dan ditinggalkan hanya dengan ART di rumah. Namun, karena ART sibuk dengan urusan rumah, ia jadi tidak bisa selalu mengawasi anak itu bermain. Nah, saat sedang bermain itu, si anak menemukan paku berkarat dan berpikir bisa berkreasi dengan paku tersebut, dimulai dari lantai garasi sampai mobil baru kedua orangtuanya. Saat pulang kerja, ayahnya yang melihat mobil barunya penuh coretan yang tidak mudah dihilangkan tersebut sangat murka dan memukuli si anak dengan ranting yang diambil dari pohon di depan rumahnya. Setelah pelampiasan marah yang berlebihan tersebut terpuaskan, giliran si anak sangat kesakitan dengan luka-luka yang dihasilkan. Bahkan sampai demam berhari-hari. Sampai akhirnya saat dibawa ke dokter, tangan tersebut sudah sangat parah keadaannya karena sudah terinfeksi sedemikian hebatnya sehingga harus diamputasi. Si ayah sangat terpukul dengan keputusan itu dan sangat menyesal dengan tindakannya saat marah lalu. Tapi apa daya, tangan anaknya tidak akan bisa kembali seperti semula. T_T

child_
Image by DAVIDKNOX from Freeimages.com

Saya membaca kisah tersebut sudah agak lama, namun sampai sekarang rasanya masih saja terbayang akan rasa sakit dan menyesalnya si ayah karena pelampiasan amarah yang berlebihan saat itu. Rasa-rasanya memang kisah itu merupakan contoh yang sangat ekstrim dan merasa kita tidak akan sampai sebegitunya ya. Tapi, begitulah, marah yang berlebihan bisa menyebabkan hal buruk lainnya. Mungkin, kalaupun pukulan si ayah tadi tidak sampai membuat tangannya diamputasi, tetap saja perlakuan ayahnya akan terus membekas di hati sang anak dan akan diingatnya seumur hidup. Sungguh, setiap pukulan atau setiap bentakan yang kita arahkan ke anak kita akan membekas di hatinya dan membuat keadaan emosinya menjadi tidak stabil juga.

Tidak percaya? Coba deh buktikan sendiri.

Naia & Papa’s Day

Kemarin ituh betul-betul hari yang menyenangkan. Ya buat saya, buat suami, juga buat Naia, hihi.

Buat saya karena saya bisa menikmati “me-time”, dengan jalan-jalan sendirian ke mall hyehehe. Suami dan Naia? Mereka menikmati waktu mereka juga di rumah, yaa daughter & Papa’s day gituh ceritanyee 😀

Tadinya sih rencananya mau berbagi tugas membereskan rumah saja, tapi ternyata ada kesempatannya buat kami menikmati waktu masing-masing ya dipakai saja deh. Soalnyah, selama bulan puasa ini weekend  kami selalu terisi dengan undangan bukpus, baru kemarin saja yang masih kosong *sok sibuk*, walhasil yaa gitu deeh xp

Dari sejak saya bangun sampai mau tidur, mereka masih asik main berdua, sayanya dianggurin. Bukan apa-apa, soalnya jadwal tidurnya beda, saya tidur mereka main, mereka tidur saya segar, hahaha. Saat mereka masih tidur setelah sholat Subuh, dan mumpung semangat sedang meninggi, saya berpikir untuk memanfaatkan semangat itu semaksimal mungkin dengan membereskan rumah.  Nah, saat pekerjaan saya selesai, mereka baru bangun dan giliran saya dah yang ngantuk. Akhirnya, mereka mah masih segar dan energinya banyak untuk bermain, sayanyah tepaaar.. Berhasil deh mereka bermain tanpa saya.

Saat saya segar lagi, giliran mereka yang ngantuk lagi dan bersiap tidur siang, huaah. Betul-betul saya merasa jadi orang lain jadinyah xp Dan di saat suami mau tidur saya minta ijin untuk keluar jalan-jalan sedikit ke mall untuk cuci mata sekalian belanja. Untungnya mereka tidur agak lama, Naia sih yang lebih lama. Mungkin dia memang sedang mengembalikan kondisi badannya dengan beristirahat. Sudah 3 hari ini hidungnya meler dan agak batuk. Semoga kamu cepet sehat ya Naia :-*

Setelah lama gak naik angkot sendiri. Setelah lama juga gak jalan-jalan sendiri. Mendapat kesempatan seperti kemarin ituh rasanyaa… tak terbayangkan *halah*. Akhirnya saya betul berbelanja sedikit. Tapi, maksud hati mau menikmati diskonan, barang2 yang saya suka dan beli malah bukan yang berdiskon, hiks T_T. Sekali-sekali lah yaa gak modis (modal diskon) xp

Tapi karena saya jalan-jalan begitu, saya jadi gak masak untuk berbuka deh. Yaudah lah ya, bisa beli, wihihi. Yaa, kan kesempatan menikmati kesendirian itu jarang-jarang yaa dapetnya saat sudah punya anak gini, hee. Akhirnya ya sebelum pulang saya beli makanan untuk berbuka sekalian. Dan betul saja, saat saya sampai rumah, pass banget adzan Maghrib berkumandang. Alhamdulillah ya Allah, jalanan pulang lancar jaya jadi gak buka di jalan dan suami juga bisa langsung menikmati makanan yang saya beli.

Apa kabar suami dan Naia di rumah? Selama saya pergi, mereka masih tidur tuh, wahaha. Eh, suami udah bangun duluan sih sebelum Naia. Naia bangun tidak lama sebelum saya pulang. Nikmatnyaa berbuka bersama begitu. Makanan yang saya beli tapinyah ternyata cukup sampai sahur. Niatnya beli 2 porsi untuk saya dan suami masing-masing 1 porsi. Etapi saat kita makan 1 porsi berdua kok ya udah kenyang ya. Akhirnya yang 1 porsi lagi dengan senang hati disisakan deh, saya jadi gak repot2 lagi masak untuk sahur kalau begitu xp

Tapi setelah itu sayanya capek lagi -_- Akhirnya saat saya udah tepar dan sudah bermimpi kemana tau, dan berhubung Naia baru melek sebelum Maghrib, mereka (suami dan Naia) masih bermain asik, entah deh jam berapa mereka tidurnya. Selain itu suami juga sabar banget nanganin Naia, minum susunya banyak plus dia bisa mengeluarkan lendirnya cukup banyak juga. Semoga kondisinya membaik hari ini, sehat kembali, bisa bermain lebih semangat lagi jadinya.

Dan, karena kemarin mereka berdua menikmati waktunya, bisa lah yaa saya bialng kalau kemarin jadi Naia & Papa’s day, hoho.

Naia Lulus Toilet Training

Setelah 1 tahun toilet training, akhirnya Naia lulus juga, hehe.

Alhamdulillah sekarang Naia sudah paham dan ngerti kalau mau BAB atau BAK bilang mama atau papanya dan ke kamar mandi. Malah sekarang BABnya maunya di WC yang sama kayak mama-papanya. Padahal dia udah dibeliin WC sendiri -_-

Toilet Naia
Toilet Naia

Untuk pipis sih sebenernya sudah terbiasa dari kapan tau, yaah, kira-kira 2-3 minggu dari mulai toilet training dia sudah bisa bilang kalau mau pipis dan pipis di kamar mandi. Nah, pup ini yang sampai 2 minggu atau 3 minggu yang lalu masih saja di celana.

Tapi pipis yang sudah bisa bilang itupun masih sering “kecolongan” sih. Terkadang, di saat saya yang sedang PMS atau emosinya sedang tidak stabil, Naia ngompol.

Emang ngaruh gitu emosi kita ke anak?

Brain Child

brainchild

image credits

Judul: Brain Child – Cara Pintar Membuat Anak Menjadi Pintar
Karangan: Tony Buzan
Tahun: 2003
Rating: 4/5

Preview

Tahukah anda jumlah sel otak anak saat dilahirkan mencapai 166 kali lipat jumlah seluruh manusia yang saat ini tinggal di planet kita? Jumlahnya yang juta-jutaan itu membuat kemampuan otak anak sungguh tak terbatas. Tetapi, kemampuan tersebut harus diasah, dirangsang, dan diberi lingkungan yang tepat agar bisa digunakan secara maksimal.

Ini adalah buku petunjuk bagi para orangtua untuk membimbing anak agar mereka memanfaatkan setiap sel otaknya secara optimal. Di dalamnya terdapat cara-cara untuk:

  • Menggali potensi otak anak
  • Membesarkan anak agar menjadi pribadi yang bahagia dan percaya diri
  • Melatih kecerdasan majemuk anak
  • Berbagi keceriaan bersama anak dengan menggunakan permainan memori, keterampilan berhitung, dan Mind Map berwarna

Melalui buku ini, Tony Buzan mengajak Anda menempuh sebuah perjalanan mengasyikkan untuk menyusuri seluk beluk otak anak dan memunculkan kegeniusannya yang selama ini terpendam.

***

Buku ini sudah saya baca sejak saya lahiran. Untuk mengisi waktu di rumah gitu selain mengurus Naia, hehe.

Buku ini membahas semua hal mengenai

Kriteria Memilih Sekolah

Iyes, saya setuju banget sama 25 kriteria tambahan ini untuk memilih sekolah. Justru mungkin inilah yang terpenting buat saya dan suami saat memilih sekolah untuk anak nantinya. Selain tentu saja si anak suka atau tidak dengan kondisi sekolahnya ya 😀

checklist
Photo Credit: StockMonkeys.com via Compfight cc

Biasanya orangtua memilih sekolah baik berdasarkan kriteria: nilai ujian siswa, passing grade, atau biayanya. Namun pakar pendidikan Ian Gilbert dalam bukunya, Independent Thinking, mengajukan 25 parameter yang bisa jadi panduan bagi orangtua dalam memilih sekolah yang baik untuk anaknya. Bagi pengelola sekolah, daftar ini bisa jadi panduan tambahan untuk menciptakan atmosfer pembelajaran yang kondusif.

1. Apakah para siswa menikmati belajar di sekolah itu?
2. Apakah para guru menikmati mendidik di sekolah itu?
3. Apakah para siswa merasa tertantang dengan kegiatan-kegiatan di sekolah itu?
4. Apakah para siswa juga mengembangkan kompetensi, tidak hanya mendapat nilai tinggi belaka?
5. Apakah para siswa juga mempelajari keterampilan dan tidak hanya fakta-fakta pengetahuan?
6. Apakah nilai-nilai moral juga menjadi fokus dan diteladankan oleh setiap anggota komunitas sekolah?
7. Apakah terdapat cukup atmosfer inklusif di mana semua siswa dihargai berdasar jati diri mereka dan apa yang mereka bisa?
8. Apakah isu-isu penting seperti bullying dan berbagai aspek sosial dan emosional lain dalam kehidupan sekolah didiskusikan secara terbuka dan positif?
9. Apakah kemampuan untuk berpikir sendiri didorong dan dikembangkan bagi seluruh siswa?
10. Apakah sekolah memiliki unsur kesenangan dan keriangan?
11. Apakah aspek-aspek seperti rasa ingin tahu, kekaguman, keberanian, kegigihan dan ketahanan didorong dan disambut secara aktif?
12. Apakah para guru terbuka terhadap ide-ide baru dan tertarik melakukan berbagai kegiatan bersama – bukan terhadap – para siswa?
13. Apakah sekolah mengikuti perkembangan terbaru dalam dunia pendidikan dan pembelajaran?
14. Apakah sekolah mengikuti perkembangan terbaru dalam dunia teknologi pendidikan?
15. Apakah harapan yang tinggi juga disematkan kepada para guru dan pengelola sekolah, seperti juga disematkan kepada para siswa?
16. Apakah kepala sekolah “terlihat” dan mudah diajak berinteraksi?
17. Apakah para siswa disadarkan bahwa mengeluarkan yang terbaik dari diri sendiri tidak harus berarti menjadi lebih baik dari orang lain?
18. Apakah sekolah terbuka terhadap hal-hal di luar dugaan (yang positif)?
19. Apakah para siswa diajak berpikir tentang, berinteraksi dengan, dan berusaha berkontribusi pada kehidupan di luar dinding sekolah?
20. Apakah sekolah sadar bahwa pembelajaran adalah sesuatu yang bisa dilakukan siswa kapan pun, di mana pun, dan hanya sebagian di antaranya saja yang perlu dilakukan di dalam dinding sekolah?
21. Apakah komunitas sekolah terbentang sampai keluar dinding sekolah (melibatkan masyarakat)?
22. Apakah proses belajar mengajar di dalam sekolah memasukkan berbagai variasi kemungkinan dan kesempatan pembelajaran?
23. Apakah para siswa diberi kesempatan untuk bertanggung jawab terhadap sesuatu dan untuk mengambil keputusan yang berdampak penting?
24. Apakah hasil pembelajaran yang didapatkan cukup sebagai bekal siswa untuk melangkah ke fase hidupnya berikutnya?
25. Apakah resepsionis, guru, petugas kebersihan, dan seluruh staf sekolah tersenyum kepada orangtua dan pengunjung sekolah?

Emang mungkin susah sih nyari sekolah yang benar-benar ideal. Dan jaman sekarang sudah banyak yang menerapkan home schooling. Tapi saya merasa saya dan suami masih akan menyekolahkan anak di lembaga sekolah yang paling tidak mendekati sekolah ideal menurut kami. Semoga kami mendapatkan yang terbaik 🙂

Daan, credits go to Kreshna Aditya. Dialah yang membuat status Facebook berisi 25 kriteria itu ^^