Traveling

Kereta Panoramic Bandung

Akhirnyaa kesampaian juga aku naik kereta Panoramic inii, hehehe. Jujur puas banget dan happy lah ya aku bisa merasakan asyiknya naik kereta dengan hamparan pemandangan yang indah.

Terlaksananya liburan naik kereta Panoramic ini diawali dari mencari ide mau libur Lebaran di mana. Berhubung anak-anak libur sekolahnya lumayan lama ya, aku kepikiran untuk libur di musim Lebaran saja.

Namun berhubung saat Lebaran kami malah cukup banyak menghabiskan waktu untuk ke rumah saudara, jadinya rencana libur Lebarannya dikompromikan lagi deh, hehe.

Untungnya minggu berikutnya (ya anak-anak sudah mulai sekolah sih) masih suasana Lebaran tipis-tipis lah ya, jadi aku mengajak suami untuk gas liburan deh.

Kereta Panoramic Jogja atau Bandung?

Kereta Panoramic Bandung

Kalau biasanya aku semangat banget untuk road trip, kali ini aku kepikiran untuk naik kereta saja. Sudah lama juga anak-anak tidak naik angkutan umum atau kereta antar kota gitu dan mereka juga sudah pernah menyebutkan kalau mau lagi diajak berlibur naik kereta.

Nah, aku sudah mulai cari-cari nih, pengen naik kereta yang agak berbeda sedikit dari yang biasanya. Awalnya mau mengusulkan untuk naik kereta Luxury gitu ke Jogja, tapi lalu kepikiran mencoba yang Panoramic terlebih dulu.

Setelah beberapa kali mengecek harga tiket, rupanya kereta Panoramic ini tuh gak cuma ada yang ke Jogja saja, melainkan juga ada yang ke Bandung. Begitu membandingkan harganya, kok lumayan jauh. Dari durasi perjalanan juga kayanya lebih pas kalau ke Bandung sih, soalnya waktu liburannya juga lebih terbatas.

Kemudian, suami ternyata ada acara di Bandung di tanggal 4, alias hari Sabtu di minggu pertama anak-anak masuk sekolah.

Aku langsung merasa kayaknya memang bener mending ke Bandung saja lah ya. Soalnya baru saja aku mencari informasi mengenai kereta Pannoramic ini, eh suami juga ada urusan, jadinya bisa dicocokkan deh waktunya.

Jadilah kami putuskan di tanggal 4 itu saja naik kereta Panoramicnya bareng suami. Hanya saja, begitu sampai di Bandung ya kami misah gitu lah yaa. Suami menghadiri acara sampai sore, aku lanjut staycation sama anak-anak ke Grand Tjokro Premiere Bandung, hehehe.

Tarif Kereta Panoramic Jakarta-Bandung

Selain memang durasi perjalanan yang lebih pas karena waktu liburannya memang terbatas, tentu lah ya tarif kereta Panoramic Jakarta ke Bandung ini jauh lebih terjangkau dibandingkan rute Jakarta-Jogja.

Saat kami mengecek dan fix beli tiket keretanya, harga tiket kereta Panoramic Jakarta-Bandung ini sekitar 450 ribu rupiah per orang.

Tarif ini pun berlaku untuk semua umur (kecuali bayi yang masih digendong dan belum membutuhkan kursi sendiri). Biasanya sih aku dan suami juga membeli bangku tambahan saat kami naik kereta membawa anak yang masih bayi, terutama kalau anaknya sudah 1 tahun lebih ya.

Jadi, anaknya bisa tidur nyaman, aku dan suami juga bisa istirahat dan tidak menggendong terus menerus.

Pesan Tiket Kereta Panoramic-nya Dimana?

Anw, ada sedikit plot twist pas mau beli tiketnya. Niat awal tentu pengen beli langsung di aplikasi resmi KAI Access. Tapi setelah dicoba, akhirnya aku beralih beli lewat Online Travel Agent (OTA) lain untuk membeli kereta Panoramic relasi Gambir-Bandung ini.

Pasalnya, kami lebih mudah untuk memilih bangku kereta justru lewat OTA tersebut sih. Jadi saat ingin memesan di KAI Access, kami gak tau di step mana yang sudah memilih tempat duduk. Sedangkan di OTA, kami bisa langsung memilih tempat duduk begitu memasukkan berapa jumlah tiket yang dibeli.

Oiya, tiket kereta yang dibeli juga memiliki jumlah maksimal ya. Jumlah maksimal tiket kereta Panoramic yang boleh dibeli setiap penumpang adalah 4 saja. Jadi kami memesan dengan 2 akun, akun aku untuk 4 orang (aku dan 3 anak), akun suami untuk 1 penumpang alias suami saja.

Dengan begitu, kami bisa memilih tempat duduk secara bersamaan dan bisa menentukan ingin tempat duduk yang berdampingan.

Kalau sama anak-anak sih pas yaa 4 tempat duduk, jadi kami bisa berhadap-hadapan 😀

Fasilitas Kereta Panoramic Papandayan

Di hari keberangkatan, kami memutuskan untuk naik taksi saja langsung ke stasiun Gambir. Alasannya supaya gak rempong menaik turunkan barang bawaan, hehe.

Plus, jalanan juga masih sepi karena masih pagi sih ya.

Oiya, kami akhirnya memilih jadwal keberangkatan kereta di jam 06.30 pagi jadi harus berangkat dari rumah seusai sholat subuh. Alhamdulillah anak-anak terhitung mudah dibangunkan dan bisa diajak bekerja sama karena malamnya sudah di-briefing 😀

Tapi memang sudah gede-gede juga sih yaa anak-anak nih, jadi memang sudah lebih mudah juga untuk bisa membangunkan dan menyegerakan mereka bergerak untuk berangkat pagi.

Tidak Perlu Cetak Tiket

Menunggu kereta Panoramic di Gambir

Sesampainya di Gambir, aku agak bingung karena terakhir kali kami naik kereta kan bisa tuh pakai face recognitionnya. Nah, tapi kali ini kan sama anak-anak, sementara kalau mau face recognition itu harus 1 akun 1 wajah.

Kemudian setelah bertanya kepada petugas yang ada, aku diarahkan untuk print online saja lalu discan masing-masing untuk check in. Nah, di sini kami juga harus menyiapkan KTA alias KTP anaknya untuk mencocokkan identitas.

Sudah deh, setelah check in, kami langsung saja ke peron karena kereta juga sudah datang. Dan ternyata gerbong Panoramic ini berada di paling awal, jadi kami seakan duduk di paling depan bagian kereta.

Kursi nyaman yang bisa diputar

Begitu memasuki gerbongnya, tentu yang paling terlihat jendela besar-besar serta atap kaca yang memenuhi seluruh badan gerbong. Jendela dan atap kaca inilah yang bikin keretanya jadi Panoramic, karena jadi puas melihat pemandangan di luar kereta.

Dari segi kursi, menurut aku kursinya seperti kelas eksekutif biasa dengan bahan kulit yang juga empuk serta bisa diputar 360 derajat. Tersedia colokan juga di bagian bawah masing-masing kursi, jadi kita bisa mengisi baterai hp kalau dirasa sudah mau habis.

colokan di kursi kereta

Oiya karena kursinya bisa diputar, jadi aku dan anak-anak bisa duduk berhadapan ya.

Tapi karena kursinya bisa diputar itu juga lah aku jadi kepikiran untuk menghadapkan kursinya ke arah jendela.

Saat mengkonfirmasi apakah kursinya bisa diarahkan ke jendela gitu, mbak prami (sebutan pramugari untuk kereta) nya lalu bilang, “Nanti ya bu, saat sudah sampai di area Padalarang.”

Duduk berhadapan di kereta panoramic Bandung

Jadi memang BOLEH banget kursinya menghadap ke jendela untuk bisa mendapat full experience Panoramicnya, hanya saja ya di spot yang sudah ditentukan.

Benar saja, begitu melewati area persawahan dan pemandangan yang sudah lebih indah, praminya juga mempersilakan penumpang untuk memutar kursi.

Mereka juga sambil menjelaskan banyak mengenai titik-titik yang kami lewati, termasuk belokan esktrim yang membuat penumpang bisa melihat ujung paling belakang kereta.

Jendela yang Bisa Ditutup untuk Mengatasi Silaunya Kereta Panoramic

Pertanyaannya sekarang, kalau jendelanya besar dan atap yang juga kaca, apakah keretanya tidak panas atau silau?

Tentu saja panas dan silau ya, apalagi kalau mataharinya sudah meninggi. Namun, sejak kami duduk dan berangkat, praminya juga menjelaskan segala fasilitas kereta, termasuk jendela besar dan atap kaca yang bisa dibuka tutup.

Untuk atapnya, kontrol buka dan tutupnya dipegang oleh mereka. Sedangkan untuk jendela kanan kiri, kontrol buka tutupnya terdapat di bagian atas, jadi bisa diatur oleh penumpang sendiri.

Beruntungnya kami karena berada di kursi paling ujung, jadi kami bisa mengontrol jendela yang berada di ujung gerbong tanpa mengganggu penumpang yang lain. Aku juga jadi bisa mencoba buka tutup jendelanya deh 😀

Snack Box XXI

Selain menjelaskan mengenai jendela, mereka juga menginformasikan kalau kami ternyata akan mendapatkan snack box, dan condiment lain berupa air mineral, hydro coco, juga minuman hangat yang bisa dipilih dari 3 pilihan, teh, kopi, atau cokelat.

Aku dan suami yang awalnya gak berharap mendapat cemilan kayak gini jadi agak sedikit surprised sih, dan benefit ini berhasil makin membuat kami puas dengan kereta Panoramic ini 😀

Toilet yang Luas

Oiya, sejak pertama memasuki gerbong, hal pertama yang aku cari adalah toilet. Aku pikir toiletnya hanya ada di ujung gerbong tempat kami masuk tadi. Namun Alhamdulillahnya, di ujung tempat kami duduk ini juga ada lagi.

Jadi selama di kereta kami gak perlu jauh-jauh berjalan untuk menuju toilet.

Toiletnya tidak seperti kebanyakan toilet kereta lainnya lho, karena menurutku jauh lebih lega dan lebih nyaman. Jadi bukan yang sempit gitu.

Mungkin karena memang cuma ada 1 juga sih ya di satu sisi. Kalau di kereta biasanya kan ada 2 gitu di sisi kanan dan kiri.

Bertemu dan Bercengkerama dengan Turis Malaysia

Begitu sampai di tempat duduk kami, suami langsung saja memutar kursi agar aku dan anak-anak bisa berhadapan. Sementara dia sendiri duduk berseberangan dengan aku dan jadinya gabung dengan penumpang lain.

Melihat kursi kami yang bisa berhadapan, penumpang yang kursinya bareng suami, akhirnya meminta tolong suami juga untuk memutarkan kursi agar berhadapan. Jadi, pas sekali rupanya. Mereka bertiga, kami berlima, jadi bisa saling berhadapan dan berseberangan.

Kebetulan juga, ternyata penumpang yang duduk bersama suami ini adalah wisatawan dari Malaysia yang sedang berlibur. Kami lalu mengobrol sepanjang perjalanan dan bertanya mereka sudah ke mana saja.

Suami yang duduk bersama wisatawan Malaysia

Tujuan mereka ke Bandung rupanya memang ingin merasakan beberapa transportasi Indonesia yang cukup terkenal sampai negara sana. Soalnya, pagi ini mereka naik kereta Panoramic, dan nanti pulangnya mereka sudah membeli tiket kereta cepat Whoosh.

Di Bandung sendiri awalnya mereka berencana mau ke Tangkuban Parahu, namun rupanya niat tersebut urung karena sampai stasiun Bandung sudah agak siang ya. Jadi sepertinya mereka berkeliling kota Bandung saja 😀

Lumayan banget, sepanjang perjalanan kami membicarakan apapun, termasuk kondisi negara masing-masing xp

Begitu sampai stasiun Bandung, kami lalu bersiap turun, anak-anak pun sudah kami minta untuk menyiapkan barangnya. Begitu ingin berpisah dan anak-anak salim ke mereka (kami memang membiasakan budaya salim ini untuk sopan santun yaa :D), anak-anak malah mendapatkan “salam tempel,” masyaAllah.

Mungkin berhubung kemarin memang masih suasana libur Lebaran juga kali ya, jadi masih saja kebagian uang THR. Hanya saja, THR kali ini lebih spesial karena dari orang jauh ya, ihihi. Bahkan Nara diberikan bonus uang ringgit juga oleh mereka. Alhamdulillaah.

Foto bersama teman Malaysia

Semoga saat kami ke Malaysia nanti, bisa menyisihkan waktu bertemu mereka kembali. 😀

Pemandangan Sepanjang Perjalanan

Tentunya salah satu tujuan naik kereta Panoramic ini ya untuk menikmati pemandangan sepanjang perjalanan donk yaa, hehehe. Apalagi kalau bertemu dengan pemandangan yang indah, experience nya jadi berbeda dan sungguh terasa menakjubkan.

Apalagi para prami-nya seperti yang sudah aku sebut di atas, mereka menginformasikan kami sudah sampai mana, ada apa saja di jalan yang kami lewati.

kereta panoramic, duduk menghadap jendela

Mereka bahkan bilang juga “Siapkan kamera untuk mendapatkan pemandangan terbaik” di setiap spot yang memang memiliki pemandangan cukup menakjubkan.

Bahkan para penumpang, seperti yang aku bilang di atas, boleh banget untuk menghadapkan kursinya ke arah jendela saat kereta melalui spot terbaiknya.

Belokan Padalarang

Belokan iconic yang membuat kereta terlihat gerbong paling belakang

Spot terbaik tersebut biasanya berada sepanjang area Padalarang, di mana sisi kanan dan kiri sudah merupakan area persawahan dan pedesaan. Sehingga pemandangan terlihat menyegarkan dan cukup menakjubkan.

Begitu melewati belokan yang membuat penumpang bisa melihat ujung belakang kereta pun diinformasikan supaya penumpang betul bisa melihat keretanya.

Melewati Terowongan Terpanjang Sasaksaat

Selain persawahan, belokan, sampai jembatan, kereta Panoramic ini juga melewati terowongan yang panjangnya mencapai 929m. Betul sepanjang itu sampai merasa gelapnya lama, ihihi.

Serunya karena prami menginformasikan kami mau memasuki terowongan kan. Jadi kami menanti-nanti masuk dan keluar dari terowongan tersebut.

Kereta Panoramic mulai memasuki terowongan Sasaksaat

Aku sampai merekam dan berharap bisa mendapat video sampai akhir terowongan. Tapi lumayan pegel juga ternyata megang HPnya, jadi begitu aku stop, tidak lama kemudian kami keluar terowongan. Jadi gagal deh merekam saat keluar, ahaha.

Tapi gapapa, soalnya jadi senang sendiri gitu, seluruh penumpang jadi menantikan juga untuk kereta keluar dari kegelapan, hehe.

Lumayan worth it lah harga dan experience yang didapatkan 😀

Kursi Terbaik ke Bandung

Oiya, supaya lebih full lagi experience nya, usahakan untuk Jakarta Bandung ini kalian pilih kursi bagian C atau D deh. Apalagi kalau ingin melihat pemandangan jalan tol Cipularang.

Kereta Panoramic ke Bandung

Bukannya di A dan B gak bagus ya, tetap bagus banget juga pemandangannya, karena tetap melewati sawah dan tetap terlihat sungai yang dan lembah yang jauh di bawah.

Kami sendiri mendapat kedua tempat ini (karena berseberangan kan sama suami). Jadi aku dan anak-anak di A dan B, suami di huruf C. Berhubung kursi kami berada di paling ujung gerbong serta kami jadi berteman dengan wisatawan Malaysia tadi, jadi kami bisa menikmati pemandangan dari kedua sisi ini, Alhamdulillah 😀

Pengalaman Liburan Singkat yang Super Berkesan

Secara keseluruhan, aku puas banget sih dengan pengalaman pertama kali keluarga kami naik kereta Panoramic ini. Walaupun awalnya cuma niat “ngikut” agenda suami dan mengganti libur Lebaran yang tertunda, nyatanya perjalanan nyaris 3 jam ke Bandung ini malah jadi highlight liburan kami.

Anak-anak happy, emaknya juga happy banget karena akhirnya kesampaian mengajak anak-anak dan suami naik kereta Panoramic, hehehe.

Dengan harga 450 ribu rupiah per orang, menurutku ini beneran worth every penny ya. Fasilitasnya kerasa premium, dapet snack dan minum gratis, toiletnya ramah anak karena luas, plus pemandangan yang priceless banget.

Terbukti, anak-anak gak rewel atau kebosanan sepanjang jalan karena asyik lihat pemandangan luar, menikmati snack, dan asyik ngobrol.

Next time kayanya boleh juga nih dicoba untuk rute yang lebih jauh, mungkin ke Jogja sekalian yaa kalau ada rezekinya, aamiin! 😀

Nah, kalau kalian sendiri gimana nih? Udah pernah cobain naik kereta Panoramic ini atau malah baru mau masukin ke itinerary liburan keluarga selanjutnya?

istianasutanti

Halo, salam kenal ya.

Aku Istiana Sutanti, seorang ibu dari 3 orang perempuan yang hobi sekali mengajak anak-anak untuk traveling bersama.

Di blog ini aku sharing pengalaman traveling kami sekeluarga plus pelajaran parenting yang aku dapatkan, baik dari pengalaman pun dari seminar parenting.

Semoga kalian suka membaca pengalaman traveling kami dan semoga membantu untuk menentukan tujuan traveling kalian berikutnya! ;)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.