Pesta Blogger Paling Berkesan: Selamat Hari Blogger Nasional!

Pesta Blogger 2010
Pesta Blogger 2010

Pesta blogger di tahun 2010 yang lalu, tanggal 30 Oktober 2010 kalau tidak salah, merupakan event yang paling berkesan. Berkesan karena saya sedang berproses (baca: merencanakan pernikahan) dengan calon suami saya *yang sekarang sudah sah menjadi suami xp* yang kebetulan seorang blogger juga dan pendiri anakUI.com. Saat itu kami janjian untuk datang ke sini dengan memakai warna baju yang sama-sama kami sukai, warna biru. 😀

Di event ini juga saya baru tau kalau sepupu saya, mas Heru (Aris Heru Utomo) adalah ketua blogger bekasi. Taunya juga karena beliau maju untuk mewakili komunitas blogger bekasi untuk menerima penghargaan Blog Komunitas Wilayah Terbaik *ngerasa kudet banget deh jadinya, heu*. Mengetahui suami dan sepupu adalah blogger yang cukup aktif dan bermanfaat bagi lingkungannya, membuat saya semakin semangat ngeblog dan semakin gak mau kalah memberi dan menyebarkan manfaat lewat blog.

Selamat #HariBloggerNasional!!

Semoga kebermanfaatan blogger makin besar ke depannya. Aamiin ^^

Pentingnya Memanjakan Blogger

Saya ngeblog udah lama juga ya, dari tahun 2006 euy. Tapi, baru akhir-akhir ini aja, kayanya baru setahunan terakhir, ngikut acara-acara blogger yang lumayan rutin. Gak rutin juga sih, ya kalau ada event aja. Tau info event-event tersebut juga gara-gara saya masuk komunitas Emak-emak blogger. Alhamdulillah yah, makasih banyak loh KEB 😀

Biasanya sih setelah mengikuti acara tersebut saya tulis reviewnya di blog. Bukan kewajiban sih, ya hanya memenuhi rasa tanggung jawab aja. Lha brand2 atau institusi ngadain acara blogger dan ngundang blogger buat apa? Ya buat ditulis sama blogger itu kan? Biar mereka makin terkenal di dunia maya, hehehe. Jadi saya merasa bertanggung jawab aja gitu buat menulis review acara-acara tersebut. Simbiosis toh. Apalagi kalau konten acara yang dibawakan memang sesuai dengan hati saya, wah tambah merasa bertanggung jawab buat menyebarkannya lewat blog deh. Mereka udah memberi saya pengetahuan lebih serta terkadang hadiah yang cukup lumayan, saya memberi mereka nama baik di dunia maya deh 😀

Tapi dari sekian event blogger yg saya datangi itu, ada 1 hal yg saya amati, khususnya buat para brand yang emang menjadikan acara blogger begitu sebagai salah satu upaya peningkatan atau promosi diri di internet ya. Kalau ternyata:

Memanjakan blogger itu penting!

Supaya apa?

Bijak Merencanakan Masa Depan

Memang yah setiap keluarga punya pengaturan keuangan yang berbeda-beda. Ada yang memiliki penghasilan hanya 4,5 juta saja tapi sudah mampu membeli kendaraan bahkan rumah (sebut saja keluarga A). Tapi ada juga yang memiliki penghasilan 9 juta per bulan masih saja belum mampu membeli rumah bahkan dengan mencicil (yang ini yaa keluarga B lah yaa :P). Apa yang membedakan keduanya? Salah duanya sih jelas gaya hidup dan kebutuhan yang dimiliki. Keluarga B punya kebutuhan lebih banyak dengan memiliki 2 orang anak sedangkan keluarga A baru memiliki anak 1.

Tapi.. Ada 1 lagi yang membuat mereka berbeda. Keluarga A lebih pintar mengatur keuangan serta mau berusaha melalui jalan apapun *yang halal pastinya* untuk menambah penghasilan mereka. Penghasilan sampingan utamanya sih jual beli properti yang keuntungannya memang besar. Tapi dengan keuntungan yang besar seperti itu kalau tidak diatur dengan baik tetap saja akan habis begitu saja kan? Jadi, hal terpenting yang membedakan kedua keluarga ini adalah dalam pengaturan keuangan. Keluarga A jauh lebih bijak dalam mengatur keuangan mereka. Setiap kali mereka mendapat penghasilan lebih, sebagian uang itu akan diputar lagi untuk mendapat keuntungan lebih dan sebagian lagi ditabung hingga akhirnya mereka mampu membeli kendaraan layak serta rumah tinggal.

Nah, sekarang tanya deh ke diri kita sendiri, khususnya yang sudah berkeluarga, apakah kita sudah bijak dalam mengatur keuangan keluarga selama ini?

Foto Bersama di Kawah Putih

Quick Escape to Kawah Putih, Bandung

Saat hari pertama menikah dulu, kami (saya dan suami) langsung menuju Bandung untuk ceritanya sih berbulan madu. Saat itu semua rencana kami tinggallah rencana. Karena apa? Kecapekan berdiri terus di pelaminan sepanjang acara pernikahan plus perjalanan ke Bandung (perjalanan ke hotel lebih tepatnya) yang menghabiskan waktu hampir 4 jam x(.

Akhirnya yah kami pasrah saja dan menjadikan itu pelajaran. *Lain kalii, kalo bulan madu gak usah langsung juga kale, nunggu seminggu dulu juga boleh, biar badannya lebih fit dan sehat gituu! hihihi. Tapi kan namanya bulan madu gak ada lain kali yaa xp

Continue reading “Quick Escape to Kawah Putih, Bandung”

Naia & Geng Motornya

Naia punya geng motor? Punya doonk.. Beserta teman sebayanya yang ada di rumah, dia membentuk sebuah geng motor, hihihi.

Geng Motor Naia
Geng Motor Naia

Geng ini sering touring, paling jauh sampai atas tanjakan deket rumah, hahaha. Saya juga gak tau sih kapan pastinya pembentukan geng motor ini. Yang pasti, setiap dia keluar, pasti deh bawa motor kesayangannya terus manggil2 temennya, Amar & Aska. Kalaupun dia gak keluar, ya mereka deh yang nyamperin ke rumah. xp

Nyamperin Temennya
Nyamperin Temennya

Aktivitas paling sering adalah balapan. Bukan balapan liar doonk.. karena diawasi oleh kami para orangtua, hihihi. Itu juga balapannya bolak balik kontrakan saya – rumahnya Amar, udah. Jaraknya gak sampe 10 meter kook, jadi insyaAllah masih amaaan 😀

Eeh, pernah juga lho mereka memodifikasi motor sendiri. Modifikasinya simple banget kok, cuma nempel2in stiker aja. Tapiii, motor yang jadi korban modifikasi ituh motornya Naia, hadeuh -_- Eniwei, yang penting kalian bahagia lah, haha.

Modifikasi
Modifikasi

 

[Parenting] “Time Out” Bukan Pendisiplinan

Pernah menghukum anak yang “berulah” atau tantrum dengan memberinya time out? Sepertinya memang itu salah satu *salah satu lho ya* metode yang kita tau ya untuk menghukum anak. Maksudnya baik, agar dalam kesendiriannya, si anak bisa menenangkan diri, menyadari kesalahannya, serta introspeksi untuk bisa lebih baik lagi. Sebelum punya anak saya juga kepikiran sih mau menerapkan metode time out ini.

Tapi, beberapa waktu lalu suami saya memberi saya artikel yang cukup bagus dan cukup membuat saya berpikir ulang untuk menerapkan metode ini. Artikel tersebut berjudul “‘Time-Outs’ Are Hurting Your Child” dan berisi mengenai apa sebenarnya yang diterima oleh anak saat menghadapi hukuman time out ini.

Time out
Time out

Image credits

Maksud kita sebenarnya baik sih, agar si anak bisa introspeksi dan menyadari kesalahannya. Malah metode ini memang sudah banyak diterapkan baik di budaya Barat sana maupun di budaya Timur sini. Tidak sedikit juga ahli parenting yang merekomendasikan metode ini, malah di Nanny 911 juga menerapkan hal ini kan? hehe. Namun apa metode ini bagus buat perkembangan anak? Efektif gak sih sebetulnya?

Ternyata, dengan memberikan hukuman berupa time out ini si anak malah menangkap maksud yang berbeda

Waspada Bahaya Gadget untuk Anak: Parenthood Style Era Digital

Sewaktu berkumpul bersama sahabat-sahabat saya, ada salah satu anak ~yang baru berumur 3 tahun~ dari sahabat saya yang matanya pasti akan langsung tertuju dengan gadget yang ada di tangan orang sekitarnya. Bisa punya ayahnya, ibunya, bahkan milik teman-teman orangtuanya sendiri. Setiap melihat ada gadget di dekatnya, tangannya secepat kilat menyambar dan langsung memainkanya. Hummm  sampai segitunya ya kalau sudah dikenalkan gadget.

Saya lalu teringat cerita lain dimana saat satu keluarga makan di pusat perbelanjaan, anak yang mereka ajak terlihat sudah bosan dan lapar sehingga mulai “berulah”. Ia menjadi tidak tenang dan hampir tantrum. Sesaat sebelum ia tantrum, orangtuanya mengambilkan tablet dari tas mereka dan langsung diberikan kepada si anak. Walhasil si anak langsung terdiam dan menjadi anteng deh.

Gadget Kid
Gadget Kid

Image by Thiago Marques

Banyak ya sekarang orangtua yang seperti itu? Menjadikan gadget sebagai alat pendiam dan “penutup mulut”. Atau malah bisa dibilang jadi “pengasuh ketiga”nya anak, hihi. Sebelum adanya gadget-gadget canggih seperti sekarang, sebetulnya orangtua juga sudah banyak sih yang menjadikan alat elektronik sebagai “pengasuh ketiga” anak, yaitu TV. Sayangnya TV tidak bisa diajak dan dibawa kemana-mana saat itu serta bentuknya yang kurang bersahabat bagi tangan anak. Nah, karena gadget sekarang bisa dipegang langsung sama anak dan bisa dibawa kemana-mana, jadilah ia bisa menjadi “pengasuh ketiga” setiap saat dan di setiap tempat.

Sebetulnya sih sah-sah saja untuk memperkenalkan gadget ke anak sejak dini. Maklum, jaman sekarang kan memang anak sudah terpapar gadget sejak ia lahir sehingga ia menjadi generasi digital native. Yaitu orang yang sejak kecil mengenal gadget dan internet serta dengan cepat belajar fitur gadget. Nah, kita sendiri adalah generasi digital migrant. Dimana kita memang sudah mengenal beberapa alat digital atau gadget namun tidak separah dan sebanyak sekarang.

Memangnya apa saja sih bahaya gadget ke anak?

Sabtu Bersama Bapak

Ka, istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat.

Iya, sih. Tapi, mah, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat.

Dari dulu saya memang suka sekali untuk mengambil pelajaran dari kisah2. Bukan kisah yang berat2 seperti kisah Einstein atau ilmuwan lainnya sih *walaupun pada akhirnya tertarik juga membaca kisah hidup mereka, hehe*, novel remaja atau kumpulan cerpen saja sudah cukup. Karena jujur saja, waktu saya remaja, saya mendapat banyak pelajaran dari cerpennya Asma Nadia. Pelajaran bagaimana menghargai orang, pelajaran mengenai islam lebih lanjut, dan masih banyak pelajaran lainnya. Karena ini pula saya suka banget sama “Teka-teki Terakhir“nya Annisa Ihsani yang sarat akan ilmu Matematika.

Berhubung saya udah punya anak, saya lalu jadi concern banget sama segala sesuatu yang berbau parenting atau pengasuhan. Sejak Naia lahir, semangat saya jadi sangat terpacu untuk mempelajari segala hal mengenai pengasuhan, baik dari internet maupun membeli buku2 fisiknya. Saya sampai ikut gabung di milis parenting, subscribe di website parenting juga, sampai mengikuti webinar *seminar melalui web* terkait gaya pengasuhan yang sesuai. Nah, hal yang menarik adalah: saya belum menemukan topik parenting ini dibahas dan dijadikan tema utama dalam sebuah novel. Ingat ya, belum. Belumnya saya bukan berarti bukunya memang belum ada, mungkin ada hanya saya saja yang belum menemuinya. Karena itulah saya bertekad mau menulis sebuah cerita dengan tema utamanya pengasuhan tadi.

Lalu tetiba semalam saya mendapati buku ini di kamar adik ipar. Dan secara tidak sengaja, sambil ngelonin Naia, saya membacanya iseng saja. Tidak disangka, buku ini sangat bagus dan saya jadi menunda waktu tidur saya demi menyelesaikan membacanya. Buku ini bisa dibilang merupakan buku “impian” saya *lebay yah? Emang! hehe*. Saya bisa belajar lebih banyak mengenai hal yang saya ingin tahu dengan membaca kisah seperti ini. Alhamdulillah sudah ada yang bikin. Berikutnya saya juga mau lho bikin novel kaya gini, saya masukkan dalam salah satu capaian saya malah. Semoga terwujud suatu hari nanti. Aamiin *ayo amini yang keras sodara2 😀

*****

Sabtu Bersama Bapak
Sabtu Bersama Bapak

Judul: Sabtu Bersama Bapak
Karangan: Adhitya Mulia
Tahun: 2014
Penerbit: Gagas Media
Rating: 4/5

Preview

[Parenting] Cegah Kekerasan Seksual dengan Sex Education

Masih ingat dengan kasus kekerasan seksual yang terjadi di salah satu sekolah bertaraf internasional di Jakarta? Tentunya masih ya, lha wong belum lama ini kok kasusnya terjadi. Media massa ramai sekali memberitakannya.

Belum lagi ada kasus Emon, yang telah melakukan kejahatan seksual pada lebih dari 100 orang anak. Sampai-sampai kasus kekerasan seksual pada anak (KSA) ini menjadi sorotan tersendiri bagi para agamawan. Bahkan para ulama menghimbau agar pendidikan agama harus lebih intensif lagi agar tercipta manusia yang lebih tinggi kualitas keimanannya. Harapannya, dengan keimanan dan ketaqwaan yang tinggi, maka kasus-kasus serupa dapat dihindari dan dikurangi.

Memang betul kalau pelaku kasus seperti ini sangat erat kaitannya dengan agama seperti telah dijelaskan oleh salah satu member KEB, Ida Nur Laila, dalam file kampanye #KEBAgentOfChange yang berjudul “Kekerasan Seksual Thd Anak Lawan dg Pengetahuan“. Oleh karena itu, kita memang harus menanamkan keimanan yang kuat pada anak kita agar terhindar dari kekerasan seksual ini, baik terhindar dari menjadi korban maupun terhindar dari menjadi pelaku itu sendiri.

KEB Agent of Change - File PDF
KEB Agent of Change – File PDF

Tapi, bukankah agama juga erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan? Jadi yang sebaiknya kita lakukan adalah…

[Parenting] Kebiasaan Buruk 14: Marah yang Berlebihan

Pernah membaca cerita kemarahan ayah yang mengakibatkan tangan anak sampai diamputasi?

Cerita itu mengisahkan anak 3,5 tahun yang ditinggal kerja oleh kedua orangtuanya dan ditinggalkan hanya dengan ART di rumah. Namun, karena ART sibuk dengan urusan rumah, ia jadi tidak bisa selalu mengawasi anak itu bermain. Nah, saat sedang bermain itu, si anak menemukan paku berkarat dan berpikir bisa berkreasi dengan paku tersebut, dimulai dari lantai garasi sampai mobil baru kedua orangtuanya. Saat pulang kerja, ayahnya yang melihat mobil barunya penuh coretan yang tidak mudah dihilangkan tersebut sangat murka dan memukuli si anak dengan ranting yang diambil dari pohon di depan rumahnya. Setelah pelampiasan marah yang berlebihan tersebut terpuaskan, giliran si anak sangat kesakitan dengan luka-luka yang dihasilkan. Bahkan sampai demam berhari-hari. Sampai akhirnya saat dibawa ke dokter, tangan tersebut sudah sangat parah keadaannya karena sudah terinfeksi sedemikian hebatnya sehingga harus diamputasi. Si ayah sangat terpukul dengan keputusan itu dan sangat menyesal dengan tindakannya saat marah lalu. Tapi apa daya, tangan anaknya tidak akan bisa kembali seperti semula. T_T

child_
Image by DAVIDKNOX from Freeimages.com

Saya membaca kisah tersebut sudah agak lama, namun sampai sekarang rasanya masih saja terbayang akan rasa sakit dan menyesalnya si ayah karena pelampiasan amarah yang berlebihan saat itu. Rasa-rasanya memang kisah itu merupakan contoh yang sangat ekstrim dan merasa kita tidak akan sampai sebegitunya ya. Tapi, begitulah, marah yang berlebihan bisa menyebabkan hal buruk lainnya. Mungkin, kalaupun pukulan si ayah tadi tidak sampai membuat tangannya diamputasi, tetap saja perlakuan ayahnya akan terus membekas di hati sang anak dan akan diingatnya seumur hidup. Sungguh, setiap pukulan atau setiap bentakan yang kita arahkan ke anak kita akan membekas di hatinya dan membuat keadaan emosinya menjadi tidak stabil juga.

Tidak percaya? Coba deh buktikan sendiri.

My Annual Project

Seperti telah saya ceritakan di sini, saya punya proyek tahunan berupa membuat album foto. Album foto tersebut melambangkan umur pernikahan saya dan suami. Dan yap, jumlah album foto tersebut nantinya sesuai dengan umur pernikahan kita, hihi. Iya, memang proyek yang iseng banget, tapi saya memang suka banget memotret dan mencetaknya. Rasanya ada yang kurang saja kalau foto-foto yang kita hasilkan hanya “ngejogrog” di laptop atau komputer. Suatu saat, bukan tidak mungkin kan seluruh file-file foto kita menghilang. Emang itu worst case-nya sih, tapi yaa intinya saya memang suka melihat-lihat foto momen-momen tertentu, terlebih saat beberapa tahun nanti kita melihatnya kembali. Foto-foto tersebut akan membawa ingatan dan memori kita ke saat momen dalam foto itu terjadi. Dan itu rasanya menyenangkan aja, brings back memory gitu deh, hihihi.

Dan, setelah 1 tahun lebih saya punya “hutang” karena belum menyelesaikan album yang kedua, akhirnya sekarang sudah selesai, bahkan sampai album foto yang ketiga pun sudah saya selesaikan, horray! (^^)/

Sebetulnya sih album foto yang ketiga malah jadi semacam

Fotografer Cilik

Heheh, setelah lama tidak menulis di blog ini rasanya agak kaku euy *yaelah, baru juga sebulan xp*. Dan sekarang sebetulnya cuma mau ngelist beberapa kebisaan baru Naia aja. Udah lumayan lama siih, sayanya aja yang baru ngupdate di blog. Biasalah yaa semua orangtua emang mau membanggakan anaknya, hehehe.

Wokeh, langsung aja aah 😉

  1. Bisa menggunting mengikuti garis lurus. Awal-awal Naia belajar gunting sudah dari beberapa bulan yang lalu. Saat itu dia memang tertarik sama gunting, dan berhubung saya juga punya gunting kecil yasudah saya bolehkan saja lah. Pastinya dalam pengawasan lho yaa. Bahaya euy, gunting gitu tanpa pengawasan, hehe. Di awal dia bisa menggunting ini, dia menggunting sisi pinggir2nya saja, itu juga pendek, satu kali jepit saja. Tapi, lama kelamaan, minggu kemarin dia bisa menggunting kertas A4 di bagian tengah secara horizontal. Wah, saya lalu kepikiran ide untuk membuat garis di sepanjang kertas itu untuk digunting olehnya. Ternyataaah, dia bisa menggunting mengikuti garis tersebut. Wah, Alhamdulillah yah, baru 2y4m sudah bisa menggunting, hihihi. Iyah, baru garis lurus saja yang dia bisa, kalau melengkung atau melingkar masih belum bisa. Ayo nak terus belajar, semangat!

    Menggunting gariis
    Menggunting gariis
  2. Bisa menciptakan lagu. Wahaha, ini sih random banget. Dia ngoceh2 random bernada gitu lalu pas ditanya itu lagu siapa, dengan bangganya dia jawab “Naia” xp. Dan, itu jadi lagu ciptaannya sekarang. Liriknya hanya “ane o ane e ane…” titik2nya terserah diisi dengan lirik apa aja.
  3. Bisa jadi pengarah gaya. Sekarang2 kalau dia mau difoto suka saya beri arahan gaya. Nah, hal itu langsung diikuti plek 100%. Jadi kalau saya atau kita rame2 deh foto bareng2 dia, dia jadi suka mengarahkan gaya untuk kita, hahaha. Contohnya sih waktu mudik kemarin. Saat kita mau foto bertiga, dia yang mengarahkan agar tangan kita diletakkan di kaki.

    Pengarah gaya: Naia
    Pengarah gaya: Naia
  4. Melopat dari tempat tinggi. Ke kasur sih, tapi tetap saja, ujung atas sofa ke kasur busa di bawah itu tidak bisa dibilang rendah, cukup tinggi malah. Dan Naia bisa melompatinya, wuiih.
  5. Bisa jadi fotografer cilik/ menggunakan kamera, bahkan bisa selfie xp. Yang inih sudah cukup lama sih, tapi saat mudik kemarin hasilnya lumayan bagus. Masih diarahkan mana yang harus difoto dan kapan harus mencet triggernya, tapi dia sudah selalu gak tahan buat dia yang memotret *padahal dia yang mau difoto -_-*. Ah ya, terakhir2 dia malah bisa selfie, hahaha. Tau kali ya emaknya mau moto dia tapi gatel juga mau mencet sendiri, akhirnya ngikutin gaya saya atau tantenya dalam ber-selfie ria biar dia juga kena foto. Kamera diarahkan ke mukanya sambil tangannya tetap di tombol, hahaha. Ada loh hasilnya, tapi tampak depan banget ah, jadi gak mau saya upload, mukenye dia semua soalnyah 😀

Hum, apa lagi ya. Rasanya banyak, tapi kok lupa semua yak. Yasudah, lain waktu dilanjut lagi kebisaan Naia lainnya 😀

Naia & Papa’s Day

Kemarin ituh betul-betul hari yang menyenangkan. Ya buat saya, buat suami, juga buat Naia, hihi.

Buat saya karena saya bisa menikmati “me-time”, dengan jalan-jalan sendirian ke mall hyehehe. Suami dan Naia? Mereka menikmati waktu mereka juga di rumah, yaa daughter & Papa’s day gituh ceritanyee 😀

Tadinya sih rencananya mau berbagi tugas membereskan rumah saja, tapi ternyata ada kesempatannya buat kami menikmati waktu masing-masing ya dipakai saja deh. Soalnyah, selama bulan puasa ini weekend  kami selalu terisi dengan undangan bukpus, baru kemarin saja yang masih kosong *sok sibuk*, walhasil yaa gitu deeh xp

Dari sejak saya bangun sampai mau tidur, mereka masih asik main berdua, sayanya dianggurin. Bukan apa-apa, soalnya jadwal tidurnya beda, saya tidur mereka main, mereka tidur saya segar, hahaha. Saat mereka masih tidur setelah sholat Subuh, dan mumpung semangat sedang meninggi, saya berpikir untuk memanfaatkan semangat itu semaksimal mungkin dengan membereskan rumah.  Nah, saat pekerjaan saya selesai, mereka baru bangun dan giliran saya dah yang ngantuk. Akhirnya, mereka mah masih segar dan energinya banyak untuk bermain, sayanyah tepaaar.. Berhasil deh mereka bermain tanpa saya.

Saat saya segar lagi, giliran mereka yang ngantuk lagi dan bersiap tidur siang, huaah. Betul-betul saya merasa jadi orang lain jadinyah xp Dan di saat suami mau tidur saya minta ijin untuk keluar jalan-jalan sedikit ke mall untuk cuci mata sekalian belanja. Untungnya mereka tidur agak lama, Naia sih yang lebih lama. Mungkin dia memang sedang mengembalikan kondisi badannya dengan beristirahat. Sudah 3 hari ini hidungnya meler dan agak batuk. Semoga kamu cepet sehat ya Naia :-*

Setelah lama gak naik angkot sendiri. Setelah lama juga gak jalan-jalan sendiri. Mendapat kesempatan seperti kemarin ituh rasanyaa… tak terbayangkan *halah*. Akhirnya saya betul berbelanja sedikit. Tapi, maksud hati mau menikmati diskonan, barang2 yang saya suka dan beli malah bukan yang berdiskon, hiks T_T. Sekali-sekali lah yaa gak modis (modal diskon) xp

Tapi karena saya jalan-jalan begitu, saya jadi gak masak untuk berbuka deh. Yaudah lah ya, bisa beli, wihihi. Yaa, kan kesempatan menikmati kesendirian itu jarang-jarang yaa dapetnya saat sudah punya anak gini, hee. Akhirnya ya sebelum pulang saya beli makanan untuk berbuka sekalian. Dan betul saja, saat saya sampai rumah, pass banget adzan Maghrib berkumandang. Alhamdulillah ya Allah, jalanan pulang lancar jaya jadi gak buka di jalan dan suami juga bisa langsung menikmati makanan yang saya beli.

Apa kabar suami dan Naia di rumah? Selama saya pergi, mereka masih tidur tuh, wahaha. Eh, suami udah bangun duluan sih sebelum Naia. Naia bangun tidak lama sebelum saya pulang. Nikmatnyaa berbuka bersama begitu. Makanan yang saya beli tapinyah ternyata cukup sampai sahur. Niatnya beli 2 porsi untuk saya dan suami masing-masing 1 porsi. Etapi saat kita makan 1 porsi berdua kok ya udah kenyang ya. Akhirnya yang 1 porsi lagi dengan senang hati disisakan deh, saya jadi gak repot2 lagi masak untuk sahur kalau begitu xp

Tapi setelah itu sayanya capek lagi -_- Akhirnya saat saya udah tepar dan sudah bermimpi kemana tau, dan berhubung Naia baru melek sebelum Maghrib, mereka (suami dan Naia) masih bermain asik, entah deh jam berapa mereka tidurnya. Selain itu suami juga sabar banget nanganin Naia, minum susunya banyak plus dia bisa mengeluarkan lendirnya cukup banyak juga. Semoga kondisinya membaik hari ini, sehat kembali, bisa bermain lebih semangat lagi jadinya.

Dan, karena kemarin mereka berdua menikmati waktunya, bisa lah yaa saya bialng kalau kemarin jadi Naia & Papa’s day, hoho.

Naia Lulus Toilet Training

Setelah 1 tahun toilet training, akhirnya Naia lulus juga, hehe.

Alhamdulillah sekarang Naia sudah paham dan ngerti kalau mau BAB atau BAK bilang mama atau papanya dan ke kamar mandi. Malah sekarang BABnya maunya di WC yang sama kayak mama-papanya. Padahal dia udah dibeliin WC sendiri -_-

Toilet Naia
Toilet Naia

Untuk pipis sih sebenernya sudah terbiasa dari kapan tau, yaah, kira-kira 2-3 minggu dari mulai toilet training dia sudah bisa bilang kalau mau pipis dan pipis di kamar mandi. Nah, pup ini yang sampai 2 minggu atau 3 minggu yang lalu masih saja di celana.

Tapi pipis yang sudah bisa bilang itupun masih sering “kecolongan” sih. Terkadang, di saat saya yang sedang PMS atau emosinya sedang tidak stabil, Naia ngompol.

Emang ngaruh gitu emosi kita ke anak?

Pantaskah Kita Mencintai Ibu?

Bentuk Cinta Ibu

Pernah menonton film korea berjudul “Hello Ghost?“. Film itu bercerita mengenai seseorang yang mengalami amnesia, hidup seorang diri, dan hanya ditemani oleh 4 sosok hantu yg mengikutinya kemanapun. Di akhir cerita, barulah ia sadar dan teringat bahwa keempat hantu tersebut ternyata adalah keluarganya. Ia baru ingat kalau dalam suatu kecelakaan yang membuatnya amnesia itu, semua keluarganya meninggal dan hanya ia yg tersisa untuk hidup di dunia ini. Ia masih hidup sampai saat itu tidak lain tidak bukan adalah berkat jasa ibunya yg melindungi dengan mendekapnya saat terjadi kecelakaan tersebut.

Hello Ghost

image credits

Kisah yg sama juga pernah kita dapati pada kejadian seorang ibu di Cina yg melindungi anaknya saat terjadi gempa. Saat itu, ia bahkan tidak peduli nantinya ia akan selamat atau tidak. Yg terpenting baginya adalah anaknya masih tetap bisa hidup dan masih bisa menikmati dunia. Pertaruhan hidup dan mati sekali lagi selain saat melahirkannya dahulu.

Baca selengkapnya…