Beberapa kali road trip bareng anak rupanya memberikan kesan yang mendalam, bukan cuma untuk anaknya, tapi terutama untuk aku sendiri.
Soalnya setelah dihitung-hitung, ternyata kami lumayan cukup banyak juga melakukan road trip. Mulai dari yang cukup singkat seperti Bandung-Garut, sampai yang lamanya hampir setengah bulan, kayak road trip Bali 13 hari atau bahkan seminggu keliling Jawa melewati Magelang, Solo, Semarang, sampai Malang. Berbagai perjalanan tersebut selalu deh meninggalkan cerita tersendiri.

Seperti yang aku bilang di awal ya, yang merasakan asik dan seru, serta berharganya suatu perjalanan itu bukan cuma anak-anak, tapi kita juga lho sebagai orangtua. Karena setelah perjalanan berakhir, selalu saja ada sesuatu yang kami bawa pulang.
Bukan sekedar foto, oleh-oleh, atau kenangan menyenangkan, melainkan pengalaman dan pelajaran yang membuat perjalanan berikutnya bisa lebih baik.
Kadang pelajarannya menyenangkan, kadang juga ada kesalahan yang justru bikin aku membatin “next time, aku gak akan begini lagi, deh.”
Nah di artikel ini aku mau ceritain 5 pelajaran yang paling berbekas dan masih aku pegang sampai sekarang setiap kali merencanakan road trip bareng keluarga nih. Semoga bisa jadi pelajaran berharga juga bagi kalian yang sedang merencanakan road trip yaa 😉
1. Itinerary Itu Perlu, tapi Fleksibilitas Itu Wajib
Aku tipe orang yang suka banget bikin itinerary sebelum perjalanan. Riset dulu, list tempat wisatanya, estimasi waktu tempuhnya, sampai jam berapa mau check in. Pokoknya semua sudah ada rencana yang cukup rapi lah. (Hal ini pengaruh dari suami juga sih yang cukup ter-planning orangnya xp)
Tapi ternyata ya, road trip mengajarkan satu hal yang gak bisa dimasukkan ke dalam rencana mana pun, yaitu kondisi di lapangan itu hampir selalu berbeda dari yang sudah direncanakan sebelumnya.
Waktu road trip keliling Jawa beberapa tahun lalu misalnya, rencananya kami hanya mampir sebentar ke satu tempat wisata di salah satu kota singgahan.
Eh tapi begitu sampai, tempatnya bagus banget dan anak-anak langsung excited. Jadinya kami keliling seharian di sana, jauh di luar rencana, tapi justru jadi salah satu bagian perjalanan yang paling berkesan, hehe.

Hal serupa juga terjadi saat road trip ke Garut belum lama ini. Rencananya kami mau ke Taman Mawar, tapi kondisi anak-anak lagi pengennya main air.
Akhirnya kami batalkan saja tujuan itu dan biarkan mereka berenang lebih lama di penginapan. Dan ternyata itu keputusan yang tepat, anak-anak jauh lebih happy, dan ya jadinya minim drama deh.
Jadi kalau sekarang, prinsip aku dalam bikin itinerary road trip adalah dengan membuat rencana yang cukup longgar untuk bisa berubah.
Tentukan 2-3 destinasi utama yang memang harus dikunjungi, tapi sisakan ruang untuk spontanitas. Supaya kalau tiba-tiba ketemu spot bagus di tengah jalan, bisa mampir tanpa merasa bersalah karena sudah melenceng dari jadwal 😉
2. Packing per Destinasi, Bukan per Orang
Ini pelajaran yang datang dari pengalaman yang cukup bikin repot sendiri, hehe.
Dulu cara aku packing tuh dipisahkan per orang. Koper besar untuk aku dan suami, tas untuk Naia, tas untuk Nawa, tas untuk Nara. Logisnya memang masuk akal sih, kalau butuh baju anak-anak, tinggal buka tas mereka masing-masing.
Masalahnya baru ketahuan pas road trip yang singgah di beberapa kota berbeda. Dalam road trip 7 hari yang kami bagi jadi 3 destinasi berbeda misalnya, kami harus membongkar koper besar di setiap penginapan.
Padahal banyak baju dan perlengkapan yang sebenarnya baru diperlukan di destinasi ketiga. Repot, bagasi mobil penuh, dan setiap check in kami sibuk mengacak-acak semua barang bawaan.

Sejak itu, aku berubah cara packingnya menjadi packing per destinasi. Misalnya dalam 7 hari di 3 kota, aku siapkan 3 tas atau koper terpisah.
Masing-masing sudah berisi semua kebutuhan (terutama baju) khusus untuk durasi di kota itu saja.
Tas destinasi pertama masuk ke bagian paling mudah dijangkau di bagasi. Tas destinasi kedua dan ketiga di belakangnya. Jadi setiap pindah kota, cukup ambil satu tas yang memang dibutuhkan, tas yang lain tidak perlu dibongkar sama sekali.
Paling-paling aku menyiapkan 1 tas yang memang HARUS dibawa di setiap destinasi. Tas ini berisi perlengkapan sholat dan perlengkapan mandi yang hampir pasti akan selalu digunakan di manapun.
Terdengar lebih ribet saat persiapan? Iya, sedikit lebih banyak mikir di awal memang. Tapi saat di perjalanan, cara ini menghemat energi yang luar biasa. Trust me!
Terutama sih kalau sudah kelelahan setelah perjalanan panjang dan harus langsung check in malam-malam yaa.
Oiya, satu tambahan lagi, tetap siapkan 1 tas kecil juga yang mudah dijangkau dari bangku belakang, isinya cukup 1 setel baju ganti per orang saja. Berguna banget kalau tiba-tiba ada tumpahan minuman di tengah jalan atau anak kena cipratan di rest area 😉
3. Rest Area Itu Bukan Sekadar Toilet Stop

Ini mungkin kedengarannya receh ya, tapi beneran deh, belajar “menghargai” rest area itu rupanya mengubah pengalaman road trip kami sepenuhnya.
Awalnya, aku dan suami tipe yang pengen road trip itu efisien. Mampir rest area secukupnya, isi bensin, ke toilet, lanjut lagi. Kami punya tujuan, kami mau sampai tepat waktu. Sampai sekarang sih lebih banyak memang seperti ini juga ya.
Tapi ternyata ya, rest area tuh bisa menjadi lebih dari sekedar tempat pemberhentian sementara saja.
Anak-anak, terutama yang masih kecil, memang butuh bergerak. Mereka tidak bisa duduk diam 4-5 jam berturut-turut di kursi belakang mobil tanpa jadi cranky, rebutan, dan berujung drama.
Setelah beberapa kali road trip dengan situasi seperti itu, kami akhirnya belajar juga kalau rest area itu bukan penghambat perjalanan, melainkan bagian dari perjalanan itu sendiri.
Sejak kami mulai berhenti lebih sering dan lebih santai di rest area, suasana di dalam mobil jadi jauh lebih tenang. Anak-anak punya waktu untuk gerak, jajan sesuatu yang mereka pilih sendiri, atau sekadar lari-larian sebentar sebelum kembali duduk. Suami yang menyetir juga bisa istirahat dengan lebih berkualitas.
Kami bahkan punya rest area favorit sendiri sekarang, ada yang sengaja kami singgahi sampai dua kali karena memang bagus. Salah satunya Rest Area 260B yang berada di dalam kompleks bekas pabrik gula dengan bangunan heritage yang estetik.
Satu lagi adalah Pendopo 456 yang punya sky bridge. Kami pun berfoto di jembatan ini karena lumayan bagus juga jadi tempat foto, hehehe.
4. Belajar Membaca Sinyal Anak (dan Suami!)
Ini yang menurut aku paling susah sekaligus paling penting untuk dikuasai sebagai orangtua yang suka road trip.
Waktu road trip ke Bali 13 hari dulu, ada satu momen yang sampai sekarang masih aku ingat. Di hari-hari akhir perjalanan, suami sudah mulai kelelahan fisik setelah banyak berjalan dan menggendong Nara yang waktu itu masih kecil.
Akhirnya suami istirahat di penginapan, sementara aku mengajak anak-anak keluar dan membeli oleh-oleh.
Juga sewaktu Naia masih ingin nonton pertunjukan di Bali Zoo, tapi yang lain sudah tidak kuat lagi. Kami memutuskan untuk balik ke penginapan, dan Naia memang kecewa. Tapi aku belajar sesuatu dari momen itu.
Rupanya ada bedanya antara anak yang memang belum puas, dan anak yang sebenarnya sudah kelelahan tapi belum mau mengakuinya. Yang pertama perlu diakomodasi kalau memungkinkan, yang kedua justru perlu dibantu untuk berhenti.

Seiring berjalannya waktu dan makin seringnya kami road trip, aku mulai bisa membaca sinyal-sinyal ini lebih baik. Naia kalau sudah lelah biasanya jadi lebih diam dan sensitif.
Nawa kalau mulai banyak mengeluh tentang hal-hal kecil yang biasanya tidak dipermasalahkan, itu tanda dia butuh istirahat. Nara kalau rewel di mobil, biasanya lapar atau mengantuk, terkadang juga bosan.
Mengenali sinyal ini lebih awal membuat kami bisa mengambil keputusan yang lebih baik selama perjalanan. Kapan harus memperpanjang istirahat, kapan boleh skip satu destinasi, dan kapan justru anak-anak sebenarnya masih baik-baik saja dan kita yang terlalu khawatir, hehe.
5. Yang Paling Diingat Anak Sering Bukan yang Paling Direncanakan
Poin ini yang paling bikin aku kagum sih setiap kali mengingatnya.
Kalau aku tanya Naia sekarang, apa momen yang paling dia ingat dari road trip Bali 13 hari itu, jawabannya bukan Uluwatu atau GWK, dua destinasi yang kami rencanakan dari jauh hari dan yang paling “ikonik” itu.
Jawabannya rupanya malah waktu kami mengejar lumba-lumba di pantai Lovina. Hal itu sepertinya sangat berkesan untuknya, sampai-sampai dia langsung menggambar pengalaman tersebut di buku yang dibawanya.
Hal serupa rupanya terjadi juga di rest area bekas pabrik gula tadi. Awalnya kami kira cuma tempat mampir biasa, eh anak-anak malah excited banget melihat bangunan tuanya dan beberapa permainan yang ada.

Rupanya ya, momen-momen tak terduga itu punya ruang tersendiri di hati anak. Karena momen itu datang tanpa ekspektasi dan tanpa tekanan “harus seru”, jadinya malah betul-betul seru secara alami.
Jadi sekarang, kalau ada spot menarik di tengah jalan yang tidak ada di itinerary (dan kondisi semua orang masih oke), aku hampir selalu mengajak mampir sebentar. Karena siapa tahu, justru itu yang akan paling mereka ceritakan bertahun-tahun kemudian 😉
Belasan kali road trip bersama anak-anak itu memang bukan cuma perjalanan dari kota A ke kota B saja ya. Setiap tripnya mengajarkan sesuatu yang baru, tentang mereka, tentang dinamika keluarga kami, dan tentang diri aku sendiri sebagai orangtua.
Kalau kalian juga suka road trip bareng anak-anak, aku juga jadi penasaran deh, pelajaran apa yang paling berkesan dari perjalanan kalian itu? Share ya di kolom komentar, siapa tahu bisa saling menginspirasi untuk road trip berikutnya! 😉
