Rasa-rasanya aku terlalu meremehkan Haji Lane deh, lorong sempit di salah satu sudut Singapura yang memang namanya sudah terkenal bagi para wisatawan.
Sore itu awalnya aku sama sekali gak terpikir untuk mau berkunjung ke Haji Lane ini. Namun, berhubung hotel yang kami inapi lokasinya tidak jauh dari sana, aku malah melipir di hari pertama kunjungan kami ke Singapura kali ini.
Jadi minggu lalu tuh baru saja aku dan suami berkunjung ke Singapura untuk menghadiri Ahrefs Conference 2026. Kami berangkat sehari sebelum acara Ahrefsnya di tanggal 14 karena suami harus menghadiri acara dinnernya di tanggal 13 malam.
Suami Dinner, Aku Berkeliling
Sebetulnya sih aku juga belum terpikir mau ke mana ya di malam suami dinner itu. Rencananya sih memang mau berkeliling saja dan cenderung diputuskan saat di Singapura saja, impulsif lah ya gitu.
Dan betul saja, aku memang impulsif sehingga masih bergonta-ganti tujuan saat di sana, pun saat memutuskan mau makan di mana. Akhirnya aku keluar bersamaan dengan suami berangkat ke acara dinner saja deh.
Berhubung kami menginap di Hotel Boss di daerah Sultan, yang ternyata setelah dilihat kok cukup dekat ya dengan jl. Haji Lane, berarti kayanya bisa ya jalan sampai sana?
Setelah berpikir sebentar, akhirnya aku menggerakkan kaki ke seberang jalan untuk menuju jalan Sultan.
Antara niat dan tidak, aku menyusuri jl. Sultan terlebih dulu saja deh untuk mencari makanan halal, begitu ya pikiranku. Sekalian lihat-lihat dan berkeliling saja, mungkin nanti mau naik MRT sampai mana masih belum tau.
Makan di Seberang Masjid Sultan
Setelah berjalan beberapa jauh, akhirnya aku tertarik dengan menu Kwetiau di seberang masjid Sultan. Tapi ini bukan masakan China ya, melainkan rumah makan Arab gitu yang menyediakan juga menu goreng-gorengan seperti Nasi Goreng, Mie Goreng, dan Kwetiau Goreng ini.


Aku sempat berhenti sebentar di depan kiosnya untuk melihat berapa harganya. Begitu terlihat harganya sekitar $7 Singapura, ya bolehlah, pikirku. Aku lalu memesan 1 porsi Kwetiau Goreng kepada yang petugas yang menyapaku.
Sambil menunggu makanan datang, aku masih menyusuri menu-menu yang ditawarkan dan berpikir rasanya belum ada protein yang cukup deh kalau sekedar Kwetiau, jadilah aku memesan tambahan Ayam Gorengnya juga.
Sayangnya aku lupa kalau ini di Singapura, jadi hampir pasti bumbu dan rasa yang digunakan ya berbeda dengan kwetiau yang biasa aku makan di Indonesia ya. Begitu Kwetiau Gorengnya datang, tampilannya agak merah, aku langsung membatin “Wah, ini ternyata pakai bumbu ala Timur Tengah sepertinya. Bismillaaah dulu saja lah!” 😀

Setelah mencicipi satu suap, rasanya ya lumayan lah ya, masih bisa diterima lidah, hehe. Benar tebakanku kalau ini ya memang memakai bumbu ala Timur Tengah yang rasanya lumayan mendekati rasa Indonesia.
Ada manisnya, ada pedasnya, dan ada gurihnya. Beberapa kali aku juga merasakan ada sensasi daun kari-nya, sehingga itulah yang membuat rasanya terkesan unik.
Saat makan, aku beberapa kali mengeluarkan ponsel hanya untuk memotret beberapa hal yang menarik. Jadi aku memang memutuskan untuk menyimpan ponsel saat makan ya, makanya gak sepanjang makan aku pegang ponsel.
Mau menikmati suasana saja dan memperhatikan jalanan gitu. Yang ternyata sesekali diajak ngobrol sama penjaga tempat makannya yang tadi menerima pesananku.
Akhirnya Masuk Haji Lane
Usai makan aku lanjut menyusuri jl. Sultan dan akhirnya tiba di seberang jl. Haji Lane. Awalnya aku agak ragu untuk masuk karena masih berpikir “Memang apa sih yang menarik dari jalan ini? Kayanya wall street-nya saja ya?”.
Tapi karena sudah sampai di seberang, ya nggak ada salahnya juga ya sekalian dilewati saja, hitung-hitung menuju ujung satunya juga gitu.


Begitu memasuki lorongnya, kesan meriah langsung terasa. Selain meriah karena ramai pengunjung, juga karena banyaknya toko kecil-kecil yang memang berwarna-warni. Wah, aku langsung senyum-senyum sendiri sih dan berpikir, kayanya bener menarik ya gang ini, ahaha.
Kemudian di sebelah kiri, aku melihat ada sticker kecil-kecil yang dibanderol $1 per pcs dan $5 kalau membeli 7 pcs. Ya langsung tertarik lah aku, lumayan buat jurnaling ini sih, ihihi.
Setelah puas membeli stiker di tempat tersebut, aku lalu lanjut berjalan lagi. Di sinilah aku mulai menyadari kalau ternyata di lorong ini banyak tersedia studio-studio foto.
Jadi, setelah membeli beberapa stiker tadi, aku melihat ada satu tempat yang berisi foto studio gitu. Rupanya gak di Indonesia, gak di Singapura, self photo studio gini memang lagi ngehits lagi ya (((ngehiittss))).

Aku mah termasuk yang seneng banget lho dengan fenomena ini. Soalnya dulu waktu remaja juga seneng banget foto-foto di fotobox gitu (dulu nyebutnya fotobox, sekarang sama gak sih?). Jadi bawaannya gatel juga mau mencicipi foto di sana.
Tapi kan aku sendirian ya, jadi agak awkward aja kalau self photo tapi sendirian. Justru serunya ya kalau ada teman apalagi pasangan kan, ihihi. Jadi di sini aku sudah menetapkan kalau mau mengajak suami sebelum kami pulang, ahaha.
Menemukan “Hidden Gem” Printilan Jurnaling – Loka Made
Kemudian begitu lanjut berjalan, eh aku kayak terhipnotis masuk ke toko yang berjudul “Loka Made”. Sebetulnya karena beberapa iron patch lucu yang terlihat dari luar.
Begitu masuk, wuah, mukaku langsung sumringah dengan mata yang berbinar seperti menemukan mata air di tengah dahaga. Banyak banget stiker lucu dan stamp stamp lucu, huaaa T_T

Makin ke dalam, makin banyak printilan lucu yang terpampang rapi dan memanggil untuk dibeli.
Ada enamel pin kecil maupun besar, ada juga iron patch warna-warni lucu serta bermotif aksesoris peranakan, juga tersedia macam-macam stamp lucu. Dan yang paling menarik tentu saja deco stiker atau berbagai jenis stiker yang sangat mungkin akan masuk di jurnal travelingku.
Ah, dari yang awalnya iseng masuk, aku malah betah di sini. Bukan apa-apa ya, selain mengagumi setiap barang dan bentuknya yang lucu, akunya lama karena bingung memilh mana yang mau dibeli, huhuhu.


Bagus-bagus banget, tapi harga kayak sayang gitu. Kalaupun nggak memikirkan harga, di rumah perintilan jurnalingnya juga masih banyak, jadi kayak mau ditaro mana lagiii?
Tapi ya tentu aku akhirnya membeli beberapa sticker lah ya, ihihi.
Mengumpulkan Stamp
Selain banyaak banget barang-barang lucu dan memanjakan mata, yang bikin seru lagi di sini adalah stamp-nya. Jadi kalau kita belanja minimal $10, kita bisa tuh mendapatkan kartu pos kosong yang bisa dikasih stamp.
Mereka memang menyediakan sekitar 5 stamp besar dan beberapa stamp kecil. Nah, di kedatangan pertama ini, belanjaanku lebih dari $10, hehehe. Jadi aku berkesempatan mendapatkan kartu posnya dan “bermain” dengan stamp-nya donk 😀


Di kedatangan kedua bersama suami, kami belanja lebih dari $10 lagi xp
Jadi aku minta kartu pos lagi. Namun kali ini suami yang happy main-main sama stampnya xp. Dan semua itu akhirnya masuk junk journal aku, hyehehe.
Makan Malam di Haji Lane?
Selain menyusuri gang yang penuh dengan art supplies ini, di Haji Lane tentu kita juga bisa mendapatkan beberapa tempat makan ya.
Tapi jangan tanya Halal Haramnya, karena aku sendiri sih gak berani makan di gang ini. Soalnya begitu keluar dari Loka Made dan melanjutkan perjalanan, aku menemukan beberapa bar sudah mulai buka dan ramai.

Mungkin ada saja sih yang halal, tapi aku memutuskan untuk pulang saja, toh tadi sudah makan ya di depan Masjid Sultan.
Plus aku sendiri kayanya lebih baik menghindari tempat makan yang menyediakan alkohol juga sih ya. Jadi yang aman-aman saja InsyaAllah. Karena lokasinya kan juga dekat dengan makanan pinggir jalan yang sudah terjamin kehalalannya gitu di jl. Sultan itu.
Jadi Apa Saja yang Ada di Haji Lane?
Buat kamu yang mungkin punya pikiran sama denganku sebelumnya (yang mikir ini cuma lorong mural biasa), nih aku rangkum sedikit apa saja yang bisa kamu temukan kalau menyempatkan diri untuk mengunjungi Haji Lane:
- Surga Perintilan Jurnaling dan Pernak-pernik Lucu: Ini highlight utamanya buatku! Toko-toko seperti Loka Made benar-benar memanjakan mata sih. Ada stiker, enamel pin, iron patch, sampai stamp seru yang bikin betah berlama-lama.
- Self-Photo Studio yang Bikin Nostalgia: Ada banyak pilihan studio foto buat seru-seruan bareng pasangan, teman, atau anak-anak. Mirip zaman fotobox dulu tapi versi jauh lebih kekinian dan estetik lah yaa.
- Spot Mural yang Instagramable: Hampir di sepanjang dinding lorong ini dihiasi mural warna-warni yang meriah. Sekadar jalan santai sambil memotret suasana sekeliling pun rasanya sudah menyenangkan lho.
- Deretan Kafe dan Toko Pakaian Indie: Di kiri-kanan juga banyak butik kecil yang menjual pernak-pernik fesyen unik dan kafe-kafe berdesain lucu. Tapi ingat ya, untuk urusan perut, pastikan selalu cek kehalalannya buat kita yang muslim. 😉
Ternyata Haji Lane Membuat Lupa Waktu
Jadi, jadi, aku sangat mengakui kalau aku salah sudah meremehkan gang yang memang seterkenal itu untuk para wisatawan.
Karena ternyata memang beberapa tokonya benar-benar seseru itu buatku! Menyusuri lorong ini dari ujung ke ujung ternyata nggak bikin capek.
Mungkin karena aku jalan juga sudah sore ya, jadi cuaca sore menuju malam juga sudah lumayan adem. Jalan santainya tetap terasa nyaman dan nggak bikin ngos-ngosan.

Awalnya niat cuma numpang lewat sambil menunggu suami dinner yakan, eh malah ketagihan masuk dari satu toko ke toko lainnya. Keputusan impulsif melipir sendirian sore itu sukses bikin aku balik lagi ke sini mengajak suami keesokan harinya buat ikutan masuk photo studio dan jajan stiker lagi, hahaha.
Buat kalian yang berencana ke sini bareng keluarga, saranku sih tetap perhatikan waktu kunjungan ya. Lorongnya lumayan sempit dan terbuka soalnya. Jadi kalau bawa anak-anak, datang di pagi atau menjelang sore hari bakal jauh lebih nyaman ya supaya mereka nggak gampang rewel kepanasan atau berdesakan dengan pengunjung lain.
Intinya, kata aku mah Haji Lane ini approved banget buat masuk itinerary jalan-jalan santai kalau lagi di Singapura.
Kalau mau tau cerita lebih banyak tentang Singapura, ataupun tempat-tempat wisata keluarganya, kalian bisa ke https://momopururu.com/tag/singapura/ yaa 😉
