Waktu liburan awal tahun kemarin, aku kan ke Garut ya, nah Alhamdulillahnya berkesempatan untuk mengajak anak-anak naik ATV. Awalnya sih aku takut ATV yang di Garut ini jalurnya ekstrem juga kayak di Namu Hejo gitu, tapi ternyata masih tolerable.
Malah, ternyata ATV Garut ini menghadirkan pemandangan yang beneran bagus banget, huhuhu. Soalnya sepanjang berada di tanah lapang yang luas gitu, kita bisa melihat gunung Guntur yang terhampar. Seakan jadi latar belakang saat kita melakukan foto-foto ataupun saat kita menikmati hamparan tanah lapang pakai ATV.

ATV Garut ini sukses jadi salah satu momen yang tak terlupakan banget buat aku sih, hehe.
Yuk aku ceritakan lebih lanjut, kami ATV di Garut ini di mananya dan biayanya berapa, lalu apakah kami pesan dulu atau on the spot saja 😉
Lokasi ATV Garut
Sebetulnya waktu kami memutuskan untuk ke Garut sih, kami gak memikirkan mau ATV-an gitu yaa, hehe. Ke Garut lebih kepengen untuk berendam air hangat gitu, karena memang terkenal dengan pemandian air hangatnya juga kan yaa.
Nah, tapi berhubung kami di Garut 3 hari 2 malam, jadi kok kayanya kurang yaa aktivitasnya. Kemudian juga, berhubung di Be Glamping Lembang waktu itu (yap, ini rangkaian Lembang-Garut ya) kami belum sempet ATV-an, iseng deh aku mencari kemungkinan ATV di Garut ini.
Sewaktu sampai di penginapan dan memikirkan aktivitas yang bisa dilakukan keesokan paginya, aku iseng mencari ATV gitu (mungkin karena sebelumnya llihat ATV terus ya, jadi pengen juga xp).
Bener deh, aku nemu akun atvaja.id di instagram. Begitu nanya-nanya, esok paginya bener kami samperin dan gas naik ATVnya, ihihi.
Ternyata lokasinya sama dengan kafe yang aku sering denger kalau ngomongin Garut, yaitu kafe Balong. Namun ternyata, per hari ini aku tulis (April 2026), kafenya sudah tutup dan gak beroperasi lagi, huhuhu.
Alhamdulillah nih tempatnya (Atvaja) memang beroperasi sejak pagi, jadi kami bisa ke sana sebelum siang. Niatnya pulang aktivitas dari sini, kami lanjut makan siang gitu.
Saat di perjalanan, kami agak kurang yakin gitu kalau tempatnya di Balong yang harus juga melewati jalan-jalan kecil dan kayak perkampungan. Bahkan aku sempat bertanya kepada operator yang aku hubungi itu kalau jalan menuju ke sananya sudah benar.
Begitu dijawab benar dan mereka share titik lokasi, yang ternyata tidak jauh lagi, barulah aku tenang. Memang tempatnya masih kayak di kampung gitu yaa, jalanannya masih berbatu, Alhamdulillah deh mobil kami masih kuat untuk diajak jalan begini, ihihi.
Nah, begitu sampai, kami gak langsung menemukan Atvaja ini. Kami diarahkan ke tempat parkir yang cukup luas. Lumayan lah tapi ya, ada karcis parkirnya sehingga ini memang parkir resmi gitu.

Masuk ke Area Cafe
Begitu kami turun mobil, terlihatlah tangga dari tanah yang menuju kafe di bagian atas. Kafe ini lah yang merupakan kafe Balong.
Di sosial media sih banyak menyebutkan kalau Balong Cafe ini cocok untuk sarapan. Namun, berhubung kami sudah sarapan dari hotel, jadi kami gak bermaksud membeli makanan apa-apa lagi gitu di sini.
Walaupun begitu, kami tetap diminta biaya untuk tiket masuk ke kafe Balong ini. Iyap, setiap pengunjung yang datang dikenakan tarif sekitar 20 ribu per orang. Jadi untuk kami berlima, aku harus membayar sebesar 100 ribu.

Sampai sini aku belum tau kalau ternyata tiket masuk itu nantinya bisa ditukar dengan makanan dan minuman yang ada di kafe.
Anw, kami lanjut naik dan menuju bagian belakang kafe yang ternyata menghadirkan pemandangan gunung Guntur yang indah banget, huhuhu.
Di sini juga lah banyak tersedia spot-spot foto cantik yang bisa dipakai oleh pengunjung dengan tarif tertentu. Yap, pengunjung yang ingin berfoto di sini bisa menggunakan jasa foto dari Balong itu sendiri ya.
Lumayan sih, bisa foto di perahu, di tenda yang terpasang di sana, atau bahkan foto di deknya saja. Fotonya pakai kamera profesional gitu yaa, jadi hasilnya memang bagus.
Tapi kebetulan kami mengincar ATV-nya kan yaa, jadi kami lewatkan spot-spot foto ini, hehehe.
Biaya ATV Garut
Jadi begitu sampai di bagian belakang kafe ini yang agak menurun lagi, kami lalu melihat bangunan yang menampilkan nama ATVaja. Tenang donk aku karena ternyata sudah sampai di tempat yang benar 😀
Selanjutnya mulai deh aku nanya-nanya dan berkonsultasi sedikit. Kalau dilihat di IG-nya sih, mereka kan menyediakan 2 jenis ATV tuh, yang reguler dan yang besar (1500cc).
Awalnya aku sempat berniat untuk naik yang reguler saja, karena memang lebih kecil jadi aku pikir bisa menyewa 3 ATV dengan Naia (14th) menyetir sendiri.


Tapi ternyata yang reguler ini tidak tersedia, tinggal yang besar saja. Ditambah jalurnya yang mungkin agak ekstreem kali ya, jadi mereka menyediakan ATV yang besar saja deh.
Untungnya, kami bisa membonceng anak-anak yaa. Bahkan dengan 2 ATV, anak-anak bisa ikut semua dengan pembagian aku membonceng kakak yang paling besar (Naia), papanya membonceng Nawa dan Nara. Nara duduk di bagian depan, jadi biar bapaknya aja yang membonceng ya, ihihi.
Nah, biaya ATV Garut yang kami naiki ini per unitnya 125 ribu rupiah dengan durasi 30 menitan. Lumayan banget yaa 😀
Begitu selesai dengan pengaturan personil per ATV ini, kami lalu bersiap. Setiap kami diberi sepatu boot dan juga helm untuk keamanan. Anak-anak pun diberi sepatu boot yang kecil ya, jadi memang tersedia.

Paling helm saja yang belum tersedia di berbagai ukuran. Hanya tersedia ukuran besar dan kecil, jadi helmnya di Nara agak kebesaran. Tapi berhubung bisa disesuaikan talinya, talinya yang dikencangkan sama pak suami.
Jalur ATV Garut
Sebelum jalan, kami lalu di-briefing terlebih dulu. Bagaimana kalau mau jalan, lalu bagaimana untuk berhentinya. Sebetulnya pengoperasiannya mirip-mirip motor (yang bukan matic) sih ya, jadi ada pergantian gigi di bagian kakinya gitu.
Satu hal yang ditekankan banget sama mereka adalah gak perlu menurunkan kaki saat jalanan agak bergejolak. Hal ini pun aku pahami dan sudah mengerti resikonya. Kalau menurunkan kaki bisa-bisa kaki kita malah terlindas roda belakang ATV yang besar itu soalnya, jadi memang malah bahaya.
Sebetulnya, pengalaman waktu di Namu Hejo juga mengajarkan untuk tidak menurunkan kaki dan percaya saja dengan ATV yang kita bawa sih. Soalnya kan ATV ini memang dirancang untuk di jalan bebatuan ya, plus rodanya 4, jadi bakal selalu seimbang di jalanan bergelombang dan penuh guncangan.
Ya justru sensasi naik ATV itu ya di jalan yang berguncang itu tadi lah ya, ihihi.
Kami start jalan dari depan bagian gedung ATVaja menuju genangan yang agak panjang di depan sambil terkena percikan-percikan air. Aku sempat membatin “Apa-apaan ini ya, mulai-mulai malah lewat jalan yang tergenang dan berair gini,” hahaha.

Apakah mulai menyesali keputusan buat ATV-an?
Oh tentu tidak, aku justru malah semakin penasaran akan perjalanan selanjutnya.
Berhenti di Tanah Lapang
Genangan yang ada rupanya gak terlalu dalam dan cepat sekali dilewatinya. Setelah genangan ini, kita lalu lanjut ke bagian kanan dan menanjak. Ya tanjakannya berbatu tentunya dengan sisi kanan kiri ilalang dan kebun.
Setelah berapa lama menanjak, kami lalu menemukan tanah lapang dengam pemandangan gunung Guntur yang menakjubkan (oh iya, tanah lapang ini dijelaskan juga saat briefing di awal sih). Jadi, kita bisa berhenti sebentar di sini untuk berfoto atau berkeliling sedikit.
Nah, aku memilih untuk lanjut dulu dengan niatan, berhenti main di tanah lapangnya itu nanti lagi sebelum selesai. Soalnya memang kami akan melewati tanah lapang itu lagi ya sebelum kembali menuju basecamp.



Tanah lapang dengan pemandangan yang menakjubkan itu gak cuma ada satu ya, melainkan dua. Jadi iyes, saat aku melanjutkan perjalanan, kami sampai lagi di tanah lapang yang kedua.
Namun memang, tanah lapang yang ini tidak seluas yang pertama tadi. Jadi kami di sini hanya sebentar dan memutuskan untuk berlama-lama di tanah lapang satu tadi.
Saat aku kembali ke tanah lapang 1, mas-mas yang mengikuti ATV kami memberi tahu kalau waktu kami masih banyak, jadi masih bisa main-main lagi. Jadi memang akan ada penjaganya yang mengikuti kita dari belakang ya, jaga-jaga kalau terjadi sesuatu dengan ATV yang digunakan.
Yasudah, maka dari itulah kami santai lagi di tanah lapang 1 ini. Sempat berfoto dan berkeliling lagi beberapa putaran.

Begitu waktu kami mulai habis, aku lalu mengajak suami untuk mengakhiri sesi ATV ini. Kami lalu diarahkan ke jalan yang berbeda dan lebih dekat untuk menuju basecamp lagi. Namun tetap ya kami harus melewati genangan yang pertama dilewati tadi, ahaha.
Berfoto Sedikit sebelum Pulang
Setelah selesai dan puas main ATV-nya, kami lalu mau jalan pulang. Tapi melihat deck-deck yang “nganggur”, kok kami jadi pengen berfoto sedikit yaa, ahaha.
Kebetulan ada salah satu deck yang tidak dipakai, jadi kami sempat berfoto sendiri di sini. Berhubung kami gak berniat banyak foto, ya kami pakai kamera HP dan tripod saja deh. Lumayan lah, tetap dapet background gunungnya, ihihi.

Beli Minum Menemani Perjalanan Pulang
Usai itu semua, kami lalu beranjak melanjutkan perjalanan menuju rumah teman yang di Garut. Kami memang janjian siangnya setelah dari ATV ini mau ke sana, jadi memang pas sih.
Tapi ya namanya lewat kafe, suami lalu berpikir untuk membeli kopi susu dulu dan aku pikir anak-anak juga belikan minuman segar deh sehabis ATVan ini. Begitu menuju meja pemesanan, aku lalu diminta menyerahkan tiket masuk tadi.

Nah rupanya harga tiket masuk tersebut merupakan voucher makan/minum gitu ya. Jadilah kami punya budget sekitar 100 ribu untuk membeli minuman. Yang tadinya mau membeli 2 minuman saja, aku lalu menambahkannya jadi 4 plus 2 air mineral sepertinya sehingga bisa memenuhi harga 100 ribu tadi.
Lumayan lah yaa sepanjang perjalanan jadi ditemani minuman segar, hehe.
ATV Sudah Tidak Beroperasi, Namun Jeep Masih Ada
Saat postingan ini mau dipublish, aku baru tau kalau kafe Balongnya sudah tidak beroperasi lagi. Aku lalu jadi kepikiran juga, apakah ATVaja-nya juga undur diri?
Karena penasaran, aku lalu menghubungi kontak yang ada di IG ATVaja donk ya. Ternyata betul, ATVnya sudah tidak beroperasi, namun untuk penyewaan Jeep dan seru-seruan masih sangat bisa. Jadi walaupun judulnya ATVaja, mereka malah gak ada ATVnya dan menyewakan kendaraan seru lainnya ya, hehe.

