Kuliner

Makan Dilayani “Abdi Kerajaan” di The House of Raminten

“Mari pak, bu, untuk berapa orang dan duduk di mana? Mari saya antar”. Begitulah ucapan salah seorang “abdi kerajaan” yang menyambut kami di The House of Raminten, Yogyakarta, Desember lalu.

Aku sebut “abdi kerajaan” bukan karena kami main ke keraton ya, tapi karena begitulah kesan yang aku dapatkan waktu pertama kalinya ke sini.

Berfoto dengan patung Raminten

Aku dan suami sudah sering mendengar The House of Raminten ini sih, tapi entah kenapa lupa terus untuk mampir setiap kali kami ke Jogja. Ya ke Jogjanya juga gak sesering itu juga sih, plus selama ini kan bareng anak-anak yaa, jadi kami hampir pasti mengincar tempat yang ramah anak dulu gitu, hehe.

Baca juga: Main di Oddish Family Hub Jogja, Berapa Harganya dan Ada Apa Saja?

Maka, sewaktu ke Jogja Desember lalu dan menginjakkan kaki di Stasiun Jogja setelah sekitar 6 jam menumpang kereta Taksaka, suami yang memberikan ide untuk makan di The House of Raminten ini saja.

Lokasi The House of Raminten

Setelah melihat di maps, rupanya tempatnya pun tidak begitu jauh dari Stasiun dan masih searah dengan letak hotel yang mau kami inapi. Jadi langsung saja lah aku meng-iya-kannya 😀

Beralamat di Jalan FM Noto nomor 7, Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta, kami menghabiskan waktu sekitar 10 menit saja untuk sampai di sini menggunakan taksi.

Lokasinya memang termasuk di pinggir jalan dan lumayan mudah ditemukan. Hanya saja, bangunannya memang seperti rumah biasa ya.

Kecil di Luar, Luas di Dalam

Tapi jangan salah, walaupun seperti rumah biasa dari luar, di dalamnya ternyata sangat luas lho. Kami saja begitu masuk sempat bingung dan mengawasi lingkungan sekitar terlebih dulu.

Soalnya di pintu masuk tersedia receptionist gitu yang akan menyambut pengunjung. Ya seperti kami tadi yang langsung disambut begitu turun dari taksi.

Nah, begitu memasuki area halamannya, kita tidak langsung disuguhkan oleh meja-meja dan kursi-kursi makan, melainkan disambut oleh berbagai hiasan dinding, ornamen-ornamen khas Jawa, sampai kereta kencana yang berdiri kokoh di teras depan.

Juga ada patung wanita Jawa dewasa yang berdiri sebagai spot foto. Wanita Jawa tersebutlah toko Raminten yang dimaksud dari nama tempat makan ini sendiri.

Namun begitu aku perhatikan lagi, rupanya di bagian depan sini pun tersedia beberapa ruang lesehan. Hal itu memunculkan kesan tempat makan nyaman yang mengakomodir kebiasaan orang Jawa yang senang lesehan.

Tempatnya pun tidak hanya terdiri dari satu lantai, atau 2 lantai, melainkan 3 lantai yang bisa kita pilih bebas mau duduk di lantai yang mana.

Kebetulan sepertinya kemarin kami ke sana di jam makan siang, sehingga tempatnya terhitung penuh, maka kami diarahkan untuk makan di lantai 2. Begitu diarahkan makan ke lantai 2, aku lalu mencari di mana ada tangganya.

Menitipkan Koper di Lantai 1

Rupanya tangga untuk naik ke lantai 2 lumayan kecil dan agak tersembunyi di pojok bagian kiri setelah foyer. Berhubung kami masih membawa koper namun tangga untuk ke lantai 2 lumayan kecil, akhirnya aku mencoba untuk menitipkan saja koper ini ke pramusaji.

Nah, beliau bilang kopernya bisa ditinggal di bagian bawah saja di area semacam foyer gitu. Jadilah, kami letakkan dulu kopernya di situ lalu kami naik ke atas.

Dengan hati-hati aku menaiki satu per satu anak tangganya sambil berpegangan. Dalam hati pun aku sangat excited dengan lantai 2 ini, bakal seperti apa ya tampilannya?

Begitu sampai, terlihatlah tempat makan yang cukup besar lagi dan selurusan pandangan, mata ini melihat jalan lurus yang membagi 2 area kanan dan kiri.

Kedua area ini merupakan area lesehan yang diatur 2 sampai 6 orang per meja dengan sisi kiri langsung menghadap jalan. Jadi kalau pilih duduk di sisi kiri ini, kita akan bisa melihat kendaraan yang berlalu lalang.

Tapi agak-agak romantis juga sih ya kalau lagi berduaan dan makan sambil memandangi jalan dan terkena semilir angin, ahaha.

Oiya itu dia, The House of Raminten ini semi semi outdoor gitu ya, jadi gak ada tempatnya yang menggunakan AC. Paling AC alami alias Angin Cepoi cepoi xp

Interior di dalamnya beneran unique, antique, and elegant sesuai dengan konsep yang diusungnya. Didominasi oleh ornamen kayu, menjadikan The House of Raminten ini terlihat tetap tradisional namun cukup megah.

Mushola di Lantai 3

Bagian ini yang menurutku paling berkesan dan agak menggelitik untuk diceritakan. Setelah kenyang makan, biasanya kita harus menunaikan kewajiban sholat dulu kan?

The House of Raminten ini memang menyediakan fasilitas mushola, tapi lokasinya benar-benar memerlukan perjuangan. Musholanya terletak di lantai paling atas dan posisinya terbilang sangat terpencil dari area makan utama.

Untuk menuju ke sana, aku harus melewati lorong-lorong dan naik tangga lagi. Begitu sampai di atas, suasananya terasa sunyi banget dibanding kebisingan restoran di bawah.

Jujur ya, aku sempat merasa agak “horor” atau merinding saat melihat mushola-nya, ahaha! Mungkin karena bangunannya yang bergaya arsitektur lama, cahaya yang temaram, dan lokasinya yang berada di pojokan gedung tua.

Mushola di lantai paling atas
Kira-kira beginilah tampilan mushola-nya 😀

Anw, kami sendiri gak memutuskan untuk sholat di sini karena setelah makan langsung menuju ke hotel tempat kami menginap 🙂

Sejarah Singkat The House of Raminten

Denger-denger sih nama tempat ini diambil dari nama tokoh yang fenomenal, yaitu Raminten. Jujur, aku tuh sebetulnya gak tau dan gak kenal Raminten itu siapa. Maklum lah ya, karena aku bukan orang Jogja, jadi agak kurang familiar sama tokoh-tokoh lokalnya, hehe.

Aku pikir Raminten itu tokoh nyata gitu lho, seorang wanita Jawa yang berperawakan tinggi besar. Rupanya Raminten ini diambil dari peran yang dimainkan oleh pemiliknya saat tergabung dalam ketoprak komedi yang berjudul “Pengkolan”.

Patung Raminten di lantai 3

Pemiliknya adalah Hamzah Sulaiman. Latar belakang beliau memanglah pengusaha yang juga seorang perancang busana. Beliau pun juga aktif mendalami seni peran dan memerankan tokoh wanita Jawa tua bernama Raminten yang selanjutnya tokoh ini jadi fenomenal sekali.

Sampai-sampai dijadikan ”Raminten Cabaret Show” yang rutin digelar setiap Jumat dan Sabtu di lantai tiga gedung Toko Hamzah Batik, Yogyakarta. Pada awalnya pertunjukan tersebut merupakan hiburan saat panggung amal untuk membantu para korban erupsi Gunung Merapi pada 2010

Maka dari itulah, beliau akhirnya memakai nama Raminten untuk membuat tempat makan yang berkonsep Jawa ini. Hal itu mungkin dilakukannya untuk mengenang serta mengabadikan tokoh yang cukup fenomenal tersebut ya.

Menurut aku, beliau berhasil sih mengabadikan tokoh Raminten ini di tempat makan. Soalnya, aku yang awalnya memang belum tau Raminten itu siapa ya bisa ke sini dan akhirnya kenal juga.

Serasa Jadi Bangsawan Jawa

Begitu kami duduk, pramusaji yang sedari tadi memang sangat ramah langsung menjelaskan ada menu apa saja dan memberi kami buku menu. Beliau juga menanyakan apakah kami mau langsung pesan atau tunggu nanti.

“Pelanggan adalah raja,” rupanya ungkapan yang betul-betul dilakukan di sini. Selain karena pramusajinya memang sangat ramah, mereka pun mengenakan pakaian tradisional Jawa yang sopan dan sangat anggun. Makanya aku sebut mereka “abdi kerajaan” itu tadi 😀

Pramusaji The House of Raminten

Hal ini jugalah yang menjadikan The House of Raminten ini memiliki keunikan tersendiri dan jadi magnet untuk para pengunjungnya. Khususnya bagi para pengunjung luar Jogja seperti kami sih.

Tapi jangan sampai salah kira aja, takutnya karena mereka berpakaian Jawa kalian gak jadi masuk karena mikir di dalam sedang dipakai untuk acara nikahan ya. *hya, jadi kondangan donk namanya xp

Harga yang Sangat Ramah

Begitu pramusaji tadi memberikan buku menu, aku langsung terpaku dengan harganya yang sangat ramah di kantong, huhu.

Eh tapi mungkin karena kami orang Jakarta ya, di mana di Jakarta tuh kalau makan di tempat fancy kayak gini jangan harap ada makanan yang harganya masih di range 20 ribuan. Rata-rata kayanya sudah 30 bahkan 40 ribuan ke atas sih.

Namun kemudian suami bilang “Apa porsinya gak sebanyak itu ya, jadi harganya segini?”. Daripada penasaran lebih lama, kami lalu menentukan makanan masing-masing saja lah.

Pesan dan Bayar Langsung

Nah, untuk pembayarannya, begitu selesai memesan di meja, mereka langsung saja meminta bayaran. Buat aku lebih enak kayak gini, meminimalisir lupa bayar ya gak, wkwkwk.

Dengan menu yang kami pilih, kayanya semua gak sampai 100 ribu deh.

Rasa Makanannya Cukup Nikmat

Aku tuh rasanya lagi kepengen yang berkuah-kuah gitu karena sedari tadi memang agak kedinginan selama di kereta. Suami sendiri matanya langsung tertuju pada Selat Tosuro, makanan yang jarang banget dia temukan di mana-mana.

Fix lah kami pesan Selat Tosuro tersebut untuk suami dan Rawon untuk aku dengan tambahan lagi berupa tempe goreng.

Pesanan makanan

Oiya sebetulnya sih ada menu populernya gitu, berjudul sego kucing yang memang murah banget. Tapi aku ragu kami bakal puas dengan porsinya yang kayanya cukup sedikit. Namanya aja sego kucing, yang artinya memang nasi kucing, jadi hampir pasti porsinya memang kecil sih 😀

Jadi ya kami gak pesan menu yang populer gitu ya di sini, tapi mengikuti hati saja, ahaha.

Anw, untuk minumnya aku pilih secang dan suami air mineral. Kami juga pesan makanan penutupnya berupa es pisang ijo.

Menu yang kami pesan

Suami sih cukup menikmati Selat Tosuro yang dipesannya ya. Sayurannya cukup melimpah dan rasa bumbunya juga cukup pekat. Tapi rasanya gak ada rasa yang bikin spesial banget gitu. Cukup oke, tapi gak spesial lah 😀

Nah, Rawon aku sendiri juga lumayan bisa dinikmati lah ya. Dari segi rasa, aman lah dan cukup bisa dinikmati dari rasa gurih daging dan kuahnya serta kerenyahan taugenya.

Nah dari segi tampilan, aku sih suka banget dengan tampilan rawon ini yang gak biasa.

Daging dan kuah hitam khas Rawonnya diletakkan di wadah mangkuk bergagang, bentuknya mirip sendok besar. Nasi dan tauge serta telur asinnya diletakkan di piring panjang dan tampilan nasinya seperti lontong (tapi bukan lontong ya ini ya).

Jadi bikin Rawon ini lumayan naik kelas lah gitu dari tampilannya. Gak nyangka kan kalau tampilan kayak gini tuh harganya di bawah 30 ribu? 😀

Wedang Secang yang Menghangatkan

Nah untuk wedang Secangnya, aku suka banget karena memang pecinta minuman jahe. Rasanya badan langsung terasa hangat begitu air Secangnya menyentuk tenggorokan.

Walaupun aku sempat khawatir di awal sih, apakah nanti Secangnya ini terlalu manis? Kalau ke Jawa biasanya minumannya memang manis-manis kan soalnya.

Wedang Secang

Tapi enggak, Alhamdulillah rasa manis Secangnya masih terbilang nikmat. Bukan hambar ataupun kemanisan, buat aku, rasa manisnya Secang ini sudah cukup banget.

Walaupun memang butuh waktu sih ya menunggu gulanya larut. Oiya, mereka pakai gula batu ya, yang masih besar bentuknya dan memang dibiarkan untuk larut dengan perlahan.

Es Pisang Ijo sebagai Penutup

Walaupun kami pesan di depan sekalian bersama yang lain, tapi aku sudah request kalau es pisang ijo dikeluarkan belakangan saja.

Maka, bener deh, begitu kami sudah mau selesai makan, aku memanggil pramusaji lagi untuk meminta es pisang ijo ini dikeluarkan.

Tampilannya ini menarik deh. Jadi bukan yang dicampur langsung di satu mangkuk gitu, melainkan disusun sedemikian sampai rapi dan terlihat perbedaan warna-warnanya.

es pisang ijo

Jadi dalam satu mangkuk ini setiap bagiannya kayak memiliki warna sendiri gitu ya. Bagian kiri warna putih, tengah diisi oleh si pisang ijo-nya, kemudian kanan bagian sirup pink-nya. Seneng ya melihat warna-warni kayak gini, ahaha.

Rasanya ya oke lah ya, hehe. Sirupnya juga bukan yang manis banget gitu, jadi lumayan enak begitu dinikmati bersama pisang ijo dan bubur sumsum yang gurih.

Nice to Visit Saat ke Jogja

Kalau buat aku dan suami, The House of Raminten ini menempati posisi “Nice to visit” lah ya kalau ke Jogja, hehe.

Kalau punya waktu berkunjung dan makan di sini Alhamdulillah, kalau gak punya waktunya ya gak yang memaksakan harus dateng.

Nah, buat suami, yang mesti banget dia datangi tiap kali ke Jogja tuh adalah Iconic, tempat makan yang konsepnya kayak pajangan mainan, ahaha.

Anw, seperti yang aku bilang, kalau misalnya next ke Jogja lagi, boleh juga kok jadi pilihan tempat makan kami. Harganya yang ramah di kantong itu yang bikin aku mau balik lagi.

Selain tentunya karena tampilan tempatnya yang juga unik disertai pramusajinya yang memang sungguh niat selalu berpakaian Jawa dengan rapi dan elegan.

Kalian udah pernah ke sini juga? Pesan apa dan gimana nih kesannya? Share di komentar yaa 😉

Beberapa sumber tambahan:

https://www.kompas.id/artikel/mengenang-raminten-ikon-usaha-dan-budaya-yang-mewarnai-dinamika-yogyakarta
https://id.wikipedia.org/wiki/Hamzah_Sulaeman

istianasutanti

Halo, salam kenal ya.

Aku Istiana Sutanti, seorang ibu dari 3 orang perempuan yang hobi sekali mengajak anak-anak untuk traveling bersama.

Di blog ini aku sharing pengalaman traveling kami sekeluarga plus pelajaran parenting yang aku dapatkan, baik dari pengalaman pun dari seminar parenting.

Semoga kalian suka membaca pengalaman traveling kami dan semoga membantu untuk menentukan tujuan traveling kalian berikutnya! ;)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.