Sudah 2x nih kami mengajak anak-anak untuk ikutan i’tikaf di masjid Istiqlal saat akhir Ramadan. 2x ini bukan di tahun yang sama, melainkan 1x per Ramadan. Belum berani banyak-banyak karena belum tau kami kuat atau enggak kalau mengajak mereka sampai beberapa harian i’tikaf di sana, hehe.
Soalnya, niat kami yang pertama itu untuk mengenalkan mengenai pentingnya i’tikaf di masjid di akhir Ramadan. Selain itu juga untuk menancapkan core memory ke anak-anak yang semoga akan diingat sampai mereka dewasa kelak.
Kami juga meniatkan ini jadi kegiatan tahunan gitu, jadi tahun ini semoga kami bisa melakukan i’tikaf di masjid Istiqlal lagi bersama-sama.

Buat yang juga meniatkan hal yang sama kayak kami, semoga sih postingan ini bisa membantu atau menjadi panduan kalian mengajak anaknya i’tikaf yaa, hehe.
Persiapan I’tikaf
Sebelumnya, aku mau bahas sedikit tentang persiapan dulu nih. Karena kami bakalan menginap dan tidur di masjid, jadi aku mau anak-anak bisa mengatasi rasa bosannya.


Pasti mereka akan merasa bosan lah ya berdiam di masjid semalaman kayak gitu, jadi sebisa mungkin kami memberikan kenyamanan lah untuk mereka.
Nah, sebelumnya aku juga sudah menjelaskan ke anak-anak kalau kami mau menginap di masjid dengan beralaskan karpet masjid itu, jadi jangan ngebayangin bakal bisa tidur di kasur yang empuk.
Maka dari itu, mereka (aku juga sih mengusulkan) memilih selimut yang bisa menjadi tambahan tidur. Selimut ini bisa digunakan sebagai bantal, ataupun alas tidur tambahan.
Baca juga: Persiapan Road Trip Bersama Anak
Selain itu, tentu aku membawa baju-baju ganti juga. Takutnya bajunya kotor terkena makanan atau hal lain. Apalagi kalau anaknya masih balita ya, jadi hampir pasti membutuhkan baju ganti yang lebih banyak.
Kemudian, mereka juga membawa Al-Qur’an, buku bacaan, buku tulis (atau kertas), dan alat tulis. Supaya saat di area sholat, mereka bisa gambar-gambar atau membaca buku di sini.
Untuk Nara yang lebih mudah bosan, dia membawa mainan tambahan. Kemarin sih berupa gelembung sabun yaa, jadi bisa kami mainkan di teras masjid yang termasuk tempat terbuka gitu.

Ramainya Masjid Istiqlal di Malam Ganjil
Oiya, kami tuh sempet dodol banget. Di percobaan pertama, berani-beraninya kami datang setelah Isya. Soalnya waktu itu kami habis dari rumah orangtua dan kebetulan pulangnya setelah Isya dan tarawih, jadilah kami langsung menuju masjid Istiqlal, ya dengan niat mau i’tikaf itu sampai keesokan harinya.
Namun rupanya, beberapa km menjelang Istiqlal saja jalanan sudah muacet parah dan masjid Istiqlal pun ramai sekali, penuh sampai ke pelatarannya. Awalnya kami pikir itu karena malam ganjil saja. Rupanya, selain memang malam ganjil, saat itu sedang ada Aa Gym yang hadir sebagai imam selama proses i’tikaf.
Pantas saja sepenuh dan seramai itu. Akhirnya kami gak jadi deh i’tikaf di malam ganjil. Kesannya kami cuma mau nyaman, tapi kami lebih ingin menampilkan enaknya i’tikaf ke anak-anak. Jadi mau kesan pertama mereka i’tikaf itu ya nyaman, hehe.
Alhamdulillah keesokan harinya kami kembali lagi. Kami pikir malam genap sepertinya sudah gak terlalu ramai lah ya. Kali ini kami berangkat setelah sholat Dzuhur di rumah, jadi sampai masjid Istiqlal belum sore-sore banget.
Masuk Masjid Istiqlal Lewat Pintu Apa?
Nah, untuk yang bingung masuk masjid Istiqlal harus dari mana, kami waktu itu juga sempat bingung. Soalnya, walaupun masjid Istiqlal ini memiliki banyak pintu, tapi gak semuanya dibuka, sehingga pengunjung bisa masuk dari hanya beberapanya saja.
Apalagi untuk masuk kendaraan ya, kebetulan kami bawanya mobil. Jadi lebih sulit lagi.

Kalau pejalan kaki, bisa masuk melalui gerbang 3 (Al-Aziz), gerbang 5 (Al-Fattah), dan gerbang (As-Salam). Buat yang naik KRL, masjid Istiqlal ini sangat dekat dengan stasiun Juanda.
Bisa ditempuh dengan berjalan kaki sebetulnya, tapi kalau takut capek (berhubung lagi puasa ya bun), bisa tinggal pesan ojeg online ya, hehehe.
Nah, yang enak tuh pengunjung yang naik Busway, karena haltenya sudah persis di salah satu gerbang masjid. Aku lupa ini gerbang yang mana, tapi kalian tinggal turun di halte dan sudah langsung terlihat gerbangnya dan tinggal masuk melalui gerbang tersebut.

Gambar dari Wikipedia
Sementara bagi pengguna kendaraan seperti kami, kami waktu itu masuk melalui gerbang Al Aziz dan parkir di bagian luar. Berhubung acara yang ramai baru selesai, jadi kayanya hari itu lebih sepi dibanding biasanya, jadi kami masih bisa parkir di bagian luar.
Tahun berikutnya, kami gak kebagian parkir di bagian luar ini soalnya, jadi kami harus ke basement untuk memarkirkan kendaraan.
Walau begitu, lumayan mudah juga sih akses ke bagian sholatnya, jadi aman lah ya insyaAllah.
Susahkah Mencari Tempat Sholat Sekaligus Tidur?
Berhubung kali itu kami sampai sebelum Ashar, kami lalu bersiap untuk sholat Ashar sambil mencari posisi yang paling enak.
Soalnya kami akan berdiam di situ sampai semaleman, jadi ya maunya yang nyaman juga buat anak-anak yaa.
Maka, setelah mobil selesai kami parkir, kami langsung menuju bagian dalam masjid deh. Dalam menuju bagian dalam ini, kami melewati pelatarannya yang sudah ramai dengan para penjual makanan.
Penitipan Alas Kaki
Oiya, jangan lupa bawa kantong plastik atau tas biasa spunbound gitu untuk tempat sandal atau sepatu ya.
Soalnya, begitu mau memasuki dalam masjid, kami dipersilahkan untuk membuka alas kaki, baik itu sandal maupun sepatu. Nah, alas kaki ini bisa dimasukkan ke dalam kantong plastik lalu dititipkan kepada petugas yang berjaga.
Atau, bisa juga dibawa-bawa ya oleh kita lalu diletakkan berbarengan dengan barang-barang yang lain.
Kami tuh pilih yang kedua, jadi begitu mau masuk masjidnya, kami lalu mencopot alas kaki, memasukkannya ke kantong lalu dibawa dan diletakkan bersama barang yang kami bawa lainnya deh.

Menurut kami lebih praktis begitu dibanding menitipkan ke petugas. Supaya lebih sat set aja kalau mau keluar dan masuk gitu. Misalnya mau beli camilan atau makanan berat di pelataran masjid, jadinya bisa langsung pakai sendal tanpa harus mencari lagi di tempat penitipan.
Wudhu dan Toilet
Kemudian kami lalu sadar, kalau mau ke area sholat tentunya harus wudhu terlebih dulu. Maka dari itu, kami cari tempat wudhu dan toilet terlebih dulu. Untuk laki-laki, menurut aku cukup mudah menemukannya, yang agak sulit dan agak jauh tuh bagian perempuan.


Mungkin tergantung kalian masuk dari mana juga sih ya. Kalau masuk ke dalam masjid dari pintu 1 seperti kami, iya, tempat wudhu dan toilet perempuan memang agak jauh ke belakang.
Jadi kami harus ke arah kanan terlebih dulu sebelum naik ke tangga untuk berwudhu. Nantinya kita akan melewati lorong yang cukup terang untuk kemudian di ujung jalan belok kanan lagi.
Dari sini sebetulnya tinggal mengikuti jalan saja berupa lorong gitu. Jadi walaupun agak jauh, jalannya gak terlalu susah sih.
Tapi memang agak PeEr yaa kalau mau pipis, ahaha. Karena harus naik turun untuk bolak balik ke tempat sholatnya. Maka, pastikan anak-anak sudah termasuk anak yang lulus toilet training. Sehingga sudah bisa mengendalikan saat mau pipis atau pup.
Atau ya pakai pampers namun rutin diganti pampersnya supaya gak bocor atau mengganggu nantinya. 🙂
Oiya, di sepanjang perjalanan menuju wudhu dan toilet ini tersedia kursi pijat dan vending machine. Kursi pijatnya ini bukan hanya 1 ya, tapi ada beberapa dan terletak di beberapa bagian juga. Jadi cenderung. gak menciptakan antrian yang panjang.



Malah cenderung kosong sih kayanya, ahaha. Soalnya ya bayar lagi menggunakan Qris, sekitar 10 ribu rupiah untuk 14 menit 😀
Sedari awal aku melihat kursi pijat ini rasanya kayak dipanggil-panggil untuk mencoba, ahaha. Akhirnya aku sempet nyobain kursi pijat kalau gak salah di waktu menunggu Subuh dan habis wudhu deh.
Anak-anak masih di tempat sholat sambil diawasi oleh suami, jadi bisa melipir dan me-time sebentar banget untuk pijat xp
Menentukan Lokasi Sholat
Nah begitu selesai wudhu dan mengosongkan kandung kemih kami, barulah kami menuju tempat sholat. Tempat sholatnya ini memang ada di lantai 1 ke atas ya, jadi memang mesti naik ke atas. Lantai dasar tuh full untuk tempat acara dan untuk tempat wudhu serta toilet.
Oiya, di toilet tersebut juga bisa untuk mandi lho. Jadi waktu kami i’tikaf, memang banyak juga yang menggunakan setiap bilik toiletnya untuk mandi.
Balik lagi ke mencari tempat. Berhubung datang sejak siang, kami jadi bisa mendapatkan posisi yang lumayan nyaman menurut aku.

Kami memutuskan untuk menempati posisi di bagian utama masjidnya yang area sholat besar itu. Nah, di area utama ini space-nya terbagi menjadi dua ya, sisi kanan untuk laki-laki, sisi kiri untuk perempuan.
Kedua ruangan ini dipisahkan oleh pembatas yang merupakan juga jalan kecil. Jadi para jamaah selain bisa masuk melalui sisi kiri dan kanan, juga bisa masuk melalui bagian tengah pembatas ini. Memudahkan para jamaah yang mengambil lokasi di bagian tengah ini.
Aku dan anak-anak memilih di bagian tengah tersebut pada area perempuan tentunya. Simple karena dekat dengan bagian laki-laki, jadi suami tidak terlalu jauh dari kami dan masih mudah kalau mau berkomunikasi secara langsung.
Tapi ada kekurangannya juga sih. Berhubung dekat dengan jalur pengunjung, suami sempat terganggu saat tidur malam. Dia beberapa kali terbangun karena dilewati oleh pengunjung yang berlalulalang di jalur ini.
Padahal tidur malam juga gak terlalu lama, ahaha. Hanya dari jam 11 malam sampai jam 1 malam saja kira-kira kita bisa tidurnya.
Apakah Mendapat Jatah Berbuka dan Sahur?
I’tikaf di masjid Istiqlal ini bisa ramai karena rupanya mereka memang menyediakan santapan berbuka dan sahur. Semuanya dikemas dalam bentuk nasi kotak gitu.
Kebetulan waktu buka puasa, aku dan suami belum tau mau mengambil jatah berbuka ini di mana, jadi kami beli takjil dulu saja di pasar yang ada di halaman masjid Istiqlal.
Sahur pun sepertinya kami juga sudah kelewatan untuk mengambil jatah ini, jadi kami beli lagi di bazaar makanannya.
Tahun berikutnya I’tikaf, baru lah kami ternyata kebagian jatah untuk sahur. Jadi lumayan lah, kami cuma beli makanan untuk berbuka saja, hehehe.
Proses I’tikaf di Masjid Istiqlal

Begitu menemukan tempat yang nyaman, yang enak dari i’tikaf di masjid Istiqlal ini adalah kita tinggal mengikuti acara yang sudah disusun.
Memang sih siap-siap waktu tidur yang kurang, tapi para jamaah biasanya membalas waktu tidur tersebut setelah sholat subuh.
Sepanjang waktu sholat, setelah sholat Dzuhur dan Ashar, biasanya para jamaah bisa membaca buku atau membaca Al-Qur’an.
Begitu Maghrib, jamaah diberi waktu untuk menikmati takjilnya masing-masing sebelum iqamat untuk sholat berjamaah.
Seusai sholat Isya dan Tarawih (oiya, Tarawih di masjid Istiqlal ini sebanyak 23 rakaat ya) biasanya akan ada kajian juga beserta “ujian” bagi para peserta pesantren kilat yang diadakan oleh masjid Istiqlal. Jadi seusai sholat Isya ini, kita akan mendengarkan peserta pesantren tersebut menyetorkan hafalan dan bacaan Al-Qur’annya satu per satu.

Asiknya, kita juga bisa ikut belajar mengenai bacaan yang benar juga. Jadi selain mendengarkan saja dan beribadah, kita juga ikut menambah ilmu bacaan Al-Qur’an.
Nah, acara tersebut biasanya akan selesai di jam 23.00, jadi jamaah yang i’tikaf akan dipersilakan tidur untuk kemudian sekitar jam 01.00 dibangunkan kembali.
Sekitar jam 01.00 malam tersebut, jamaah dipersilakan untuk mengambil wudhu kembali lalu mendengarkan kajian, bahkan mengikuti sholat Tahajud berjamaah. Tahajudnya ini sekitar 23 rokaat juga seingat aku.
Nah ujiannya memang di sini. Berhubung bangun baru jam 1 malam, jadi aku pun di beberapa rakaat merasa mengantuk, hya. Tapi begitu mengantuk, aku istirahat dulu dan nge-skip beberapa rakaat jadinya, huhu.
Jadi, karena gak bisa mengikuti semua rakaat sampai 23 tersebut, aku jadinya mengambil yang 11 rakaat saja, namun tetap mengikuti jamaahnya. Begitu lah ya, senyamannya kita aja.
Oiya, anak-anak gak aku wajibkan mengikuti Tahajud, tapi aku wajibkan untuk Tarawih, hehe. Jadi kalau mereka bangun dan mau ikut Tahajud, ya boleh banget 😀
Terhitung puas lah untuk beribadah kalau i’tikaf di sini tuh.
Apakah Bisa Mandi kalau I’tikaf di Masjid Istiqlal?
Untuk mandi, jamaah biasanya mengambil waktu-waktu sebelum subuh atau setelah subuh. Seperti yang aku bilang tadi, toiletnya bisa untuk mandi ya.
Tapi walaupun biliknya memang banyak, tetap ada waktu-waktu antriannya ramai juga. Seperti mendekati Maghrib dan beberapa menit sebelum Subuh.
Jadi memang sebaiknya kalau sudah wudhu, kita usahakan wudhunya tetap terjaga supaya gak bolak balik. Lumayan capek ya bolak balik naik turun gitu, huhu.
Tempat Beli Makanan
Kami sholat Maghrib setelah makan beberapa takjil yang cukup mengenyangkan. Seusai sholat, kami gak langsung makan berat, tapi menunggu sampai waktu sholat Isya terlebih dulu. Baru lah setelah sholat Isya, kami makan ke bawah.
Di bagian bawah, bagian pelataran masjidnya, tersedia beberapa lokasi makanan yang bisa kita pilih. Kami sendiri akhirnya memilih yang dekat dengan parkiran mobil.
Pilihan makanannya beragam banget sih, mulai dari bakso, sate, nasi goreng dan mie goreng, sampai makanan Western, bahkan makanan Korea gitu.

Anak-anak ada yang memilih spagheti, juga burger. Tapi berhubung meja yang tersedia juga hanya beberapa, jadi kami memilih meja yang tersisa saja di bagian ujung, ihihi.
Nah tahun berikutnya, kami gak makan di bagian ini, tapi beli saja untuk makan di teras masjid, hehe. Iyes, di bagian teras masjid masih diperbolehkan untuk membawa, bahkan makan bersama ya.
Jadi walaupun shaf sholat terpisah, ya kami tetap bisa makan bersama di bagian terasnya ini.
Ada Playgroundnya Juga Lho!
Kami itu memang berencana pulang di waktu pagi, jadi sebelum siang dan sebelum panas lah gitu. Berhubung kami mah bukan tim yang mandi di masjid ya, ahaha. Jadi biar bisa segera mandi, kami pulang sekitar jam 8 atau jam 9 deh.

Nah, saat menuju parkiran bagian basement, kami melewati sisi masjid bagian belakang yang terhubung dengan tempat wudhu laki-laki. Rupanya di bagian ini tersedia area playground untuk anak-anak!
Playgroundnya terhitung masih baru pula. Jadi untuk yang berniat i’tikaf sama anak-anak, kalau anaknya sudah mulai bosan, bisa juga ajak mereka main di sini ya, biar bisa segar dan bisa lebih anteng lagi selama di dalam masjid 😀
Tips Nyaman I’tikaf Bersama Anak di Masjid Istiqlal
Kalau boleh aku rangkum ya, ada beberapa hal kecil namun krusial yang bisa membuat pengalaman i’tikaf bersama anak-anak tetap syahdu dan minim drama:
- Siapkan “Survival Kit”. Jangan hanya mengandalkan karpet masjid. Bawa selimut tebal yang bisa dilipat jadi bantal atau alas tidur tambahan agar anak bisa tidur lebih nyaman. Selain Al-Qur’an, pastikan membawa buku mewarnai atau buku bacaan favorit mereka untuk mengusir bosan di waktu-waktu luang.
- Bawa plastik sendiri untuk sandal. Alih-alih menitipkan sandal di penitipan umum yang antreannya panjang, bawalah plastik atau kantong kain (spunbound) sendiri. Masukkan sandal ke tas dan bawa ke area shalat. Ini sangat memudahkan jika sewaktu-waktu harus mengantar anak ke toilet atau keluar mencari makan tanpa perlu mencari-cari sandal di kerumunan.
- Datang sejak siang. Jika mengincar malam ganjil, jangan sekali-sekali datang malam, apalagi setelah Isya karena akses jalan biasanya sudah macet 😀
Datanglah sebelum Ashar agar bisa mengamankan posisi shalat yang strategis, misalnya di dekat pembatas jamaah laki-laki dan perempuan agar koordinasi antara Ayah dan Ibu lebih mudah. - Cek lokasi playground. Jika anak sudah mulai cranky, ajak saja ke area playground di bagian belakang dekat basement/tempat wudhu laki-laki. Soalnya bermain sejenak bisa mengatasi kebutuhan gerak dan mengembalikan mood mereka sebelum kembali fokus beribadah yaa.
- Perhatikan jarak toilet. Mengingat posisi toilet perempuan yang cukup jauh dan mengharuskan naik-turun tangga, pastikan anak-anak sudah dalam kondisi “bersih” sebelum naik ke area shalat. Bagi yang masih balita, sebaiknya menggunakan pampers demi kenyamanan bersama ya.
- Jangan memaksakan target. Fokuslah pada pengenalan suasana ibadah dan pembentukan core memory yang manis. Jika anak lelah dan tidak bisa mengikuti shalat tahajud hingga puluhan rakaat, gak apa-apa banget! Biarkan mereka beristirahat agar besok pagi tetap ceria.
Mau Lagi di Tahun Ini
Bismillah sih, berhubung anak-anak sudah bisa diajak I’tikaf di masjid Istiqlal begini, aku dan suami memang berniat setidaknya 1x dalam bulan Ramadan (kalau bisa beberapa hari, ya Alhamdulillah siih) mengajak mereka i’tikaf lagi, insyaAllah.
Mungkin gak selalu di masjid Istiqlal, tapi bisa di masjid-masjid sekitar rumah atau lingkungan kami.
Semoga pengalmaan kami mengajak anak-anak i’tikaf di masjid Istiqlal ini bisa bermanfaat buat kalian yang juga mau merasakan i’tikaf di masjid bersama anak-anak yaa.

MasyaAllah senangnya bisa ber-itikaf bersama 1 keluarga mba apalagi di Masjid Istiqlal, anakku yang sulung terbiasa itikaf sendirian tanpa saya sudah mulai sejak kelas 1 SD krn waktu itu adenya masih bayi. Sebagai bagian program sekolahnya. Alhamdulilah tidak reini,wel hingga dilakukan kelas 5 SD sekarang anaknya uda SMP deh.
Membaca pengalaman ini, perlu banget persiapan ya Mba, fisik untuk mengikuti setiap rangkaian kegiatan di sana. Tapi aku kalau jd Mba sepertinya sama jika baru tidur lalu tahajud 23 rakaat akan pilih yg 11 rakaat saja hahaa..
ya Allah menghitung hari Ramadan, smg Ramadan tahun ini bisa jauh lebih baik lagi. Bismillah
Wih, masyaAllah udah terbiasa i’tikaf. Semoga sampai dia dewasa bisa menjalankan ibadah i’tikaf ini yaa mbak.
Iya, kalau bawa anak-anak kayanya perlu yaa persiapan fisik juga, soalnya bakal kurang tidur euy. Nah, biasanya pada tidur setelah subuh tuh, hehe. Aamiin. semoga Ramadan tahun ini bisa lebih baik lagi yaa.
Mbaaaa, kalau udah dpt tempat yg nyaman, tp kluar pas makan malam, berarti bisa aja tempat yg td diambil orang yaa? Krn ga mungkin di tag kan yaa?
Sebenernya aku mauuuu banget i’tikaf begini. Tp harus bujukin suami, Krn jujurnya dia bukan tipe yg agamis . 🥲. Sementara kalau sendirian, aku ga berani.
Tapi thankyouuuuu tips nya mba. Kalaupun ga bisa di mesjid, aku berniat di rumah ngabisin malam2 ganjil. Hrs bisa khatam ini Alquran 😄
Trakhir kali ke Istiqlal udh lamaaa banget, pas 2013 kalau ga salah, itu juga Krn temen kuliah di Penang DTG ke JKT. Dan dia pengen masuk Istiqlal. Mungkin kalau temenku itu ga pernah DTG, aku ga pernah masuk juga kali 😅.
Dan memang saking gedenya, aku aja bingung cari tempat wudhu pas awal2 masuk mbaaaa 😁🤣
Udah dpt tempat yg nyaman, tp kluar pas makan malam, berarti bisa aja tempat yg td diambil orang yaa -> ini beneerr. Kecuali kita mau ninggalin “tanda” gitu, kayak plastik sendal atau selimut sih kayanya. Kalau lagi sepi (misal di malam genap gitu) sih gapapa, karena memang cenderung lebih lowong.
Eh iya, kayanya temen2 di grup BW memang mau ngajakin i’tikaf deh mbak Ramadan nanti. Coba aja bareng mereka, siapa tau jadi bisa ngerasain i’tikaf di masjid Istiqlal, hehe. Huah, aku juga mau khatamin Al-Qur’an nih Ramadan ini. Bismillaaahh ya mbaakk.
Waahh ternyata di muslim juga ada ya kegiatan menginap di masjid, yang istilahnya I’tikaf ya. Kalau di kami, Hindu, kurang lebih sama mbak ada juga kegiatan bermalam di tempat ibadah namanya Mekemit.
Dan menurutku bener² challenge banget lho kegiatan ini. Selain bisa lebih banyak mendekatkan diri ke Tuhan, juga bener² kudu ngerem sama penggunaan HP selain sosmed. Apalagi buat toodler atau anak yang biasa pegang hape. Kudu di sounding jauh² hari.
Menarik, menarik. Juga ternyata di Masjid nih ada Playgroundnya ya. Bener² membantu sih buat para orang tua yang kadang kan nggak bisa masuk masjid karena haid biar bisa nemenin bocilnya main. Heheh.. 🥰🤭
Iyaa ka, ada menginap begini. Kalau udah dewasa, terutama laki-laki, itu sangat dianjurkan buat 10 hari terakhir Ramadan tuh i’tikaf ke masjid kayak gini. Malah ada juga yang emang gak pulang-pulang. Jadi selama 10 hari terakhir itu sudah persiapan bawa baju dan segala macemnya untuk menginap di masjid.
Bener, tujuannya selain untuk mendekatkan diri, juga untuk lebih banyak muhasabah (alias memikirkan kembali dosa-dosa yang telah lalu dan bertobat untuk dosa tersebut). Istilahnya, bener-bener mau mensucikan diri sebelum hari raya Idul Fitri gitu mbak. Semoga saat Idul Fitri nanti, bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
Wah, aku penasaraan sii pengen nyobain itikaf di ramadhan tahun ini. Tapi kemungkinan besar ya sendiri aja, soalnya anakku masih belum bisa kalau diajak begini, belum lulus toilet training euy. Mungkin nanti 2 apa 3 tahun lagi yaa.
Paling tahun ini aku kepikiran ngajakin dia bukber disini aja si. Biar setidaknya bisa merasakan, gimana lhoo shalat di masjid ikonik di Indonesia ini. Sekaligus mengingat2 kembali masa2 dulu masih ngekos doyan ke masjid kalo ramadhan, wkwkwk
Eh iya baru tau ada Playgroundnya jugaaa. Pas bangettt ini buat bocilll
Iyaa, dicoba sendiri dulu aja mas, apalagi kalau anaknya belum lulus toilet training yaa, kayanya takut dia-nya juga bosen deh.
Bismillah, semoga kesampaian ya ngajak Putri bukber di istiqlal nanti.
Menarik dan bermanfaat banget nih pengalaman itikaf di masjid Istiqlal bareng anak-anak. Aku dari tahun 2023 pengen itikaf, tetapi belum ada waktu yang pas karena kalau kerja agak susah juga atur waktu, khawatir paginya ngantuk. Weekend kadang bantu mama dan bapak bikin kue pesenan aduh duniawi banget aku tuh Ya Allah.
Detail banget tips nya dan sangat adaptif sekali. Aku tuh beberapa kali ke Istiqlal buat ikutan kajian Ustadzah Halimah, memang nyaman over all. Kecuali jarak dari tempat shalat ke tempat wudhu. Makanya beneran jangan beserta deh 😆✌️ agak jauh dan berasa kalau antri terus.
Baru tau kalau ada Playground nya lho. Menarik sih, semoga ya harapan dan impian mbak itikaf di masjid bareng anak-anak kesampaian di tahun ini dan jujur aku pun kepingin banget merasakan itikaf di sana. Semoga sehat, ada waktu dan kuat niatnya, aamiin.
Mbak, mendahulukan mencari nafkah itu memang duniawi, tapi gapapa banget loh, hehe. Pekerjaan yang kita lakukan kan juga termasuk ibadah. Malah kayanya Allah gak suka kalau kewajiban (pekerjaan) kita ditinggalkan demi yang sunnah, hehe.
Semoga tahun ini bisa kesampaian buat i’tikaf ke masjid yaa mbaak. Semoga waktunya pas sambil tetap bisa kerja dan bisa bantu mama & bapak bikin kue juga 😀
Daku belum pernah iktikaf di Istiqlal. Pengen juga merasakan ke sana, karena pasti jadi momen yang gak akan terlupakan.
Meski demikian, acap kali ingin ke sana, eh pas lagi gak puasa huhu. Jadilah belum dapat waktu yang pas.
Ramadan tahun ini kayaknya oke juga ya semisal itikaf di sana, karena sepertinya masih nuansa musim hujan di bulan Maret, sehingga kesan Lailatul Qadr nya bakalan gereget lagi
Wih, iya lagi ya. Bulan Maret masih peralihan musim gitu, jadi suasananya masih yang adem adem gitu. Semoga kita bisa mendapat malam Lailatul Qadr yaa tahun ini. Aamiin
Banyak doa baik untukmu dan suami ya Isti, sudah mewariskan hal baik. Mengajak anak² beribadah seperti ini. Aku salut, karena tidak mudah. Aku senang dirimu menyempatkan kursi pijit.
Walau bukan muslim, aku selalu suka dengan bangunan mesjid dan biasanya kalau ke kota-kota yang mayoritas muslim, aku selalu masuk dan duduk diam melihat seluruh ruangan. Senang berada dalam ruang yang berenergi baik.
Masjid Istiqlal ini juga aku pernah masuk dan duduk diam lama, melihat orang-orang sholat. Jadi ingat juga pas di Aceh, aku juga masuk dan indah sekali rumah Tuhan disana.
Aamiin, makasih ka Nik 😀
Iya, kursi pijat itu lumayan banget, jadi bisa bikin rileks sebentar, ihihi.
12 tahun di Jakarta, belum pernah sekalipun itikaf di Istiqlal. Ga kuat ama bejibunnya manusia. Hehe. Ga nyaman sih krn saking ramenya. Malah ga bs khusyuk deh kalo rame gt.
Tp ibadah di sana emg adem bgt sih. Apalagi kalo bnyk org gt emg bikin semangat utk ibadah. Rasanya bs ktmu org dr beragam ras ada di sana.
Aku baru tahu kalo ada kajian sampe pukul 11 dan dibangunin jam1an. Tp emg rata2 sih dibangunin jam1 atau jam 2 gt sih di rata2 masjid Jkt pas itikaf. Cuman tdrnya kdg ada yg mulai jam10an. Bebas sih. Asal pas sholat ya ikutan sholat meski kaget jg tahajudnya mpe 23 rokaat. Wkwk. Apalagi kalo bacaannya panjang.
Aku dulu lbh suka itikaf di masjid MNC (kebetulan msh krj di sana) dan Sunda Kelapa (jadi sering ketemu pak JK krn rumah dinas beliau ada di seberangnya). Smg Ramadhan tahun ini bs lbh seru lagi ya kak Isti dan keluarga.
Iya mas, tergantung kita-nya juga yaa. Kalau rame justru bikin gak khusuk, emang enakan sendiri aja atau cari masjid yang lebih sepi.
Nah, kalau di dekat rumah, masjidnya memang lebih sepi sih, gak seramai Istiqlal ini. Tentu lah ya, yang datang ke Istiqlal dari Jakarta dan sekitarnya, jadi memang bakal ramai 😀
Waah ternyata untuk itikaf di istiqlal nggak bisa datang pas habis magrib gitu yaa karena pasti macet. Aku sejak berkeluarga belum pernah itikaf euy pernah pas lajang aja dan dulu itu nggak nginap tapi jam 3 subuh diajak mamaku ke masjid buat ikutan ibadah itikaf di sana. Semoga aja nanti aku juga bisa ngajakin keluargaku buat itikaf di bulan ramadan ini
Pas banget tulisan Mbak Isti ini. Sebentar lagi akan Ramadan. Pastinya akan banyak orang sudah mempersiapkan diri untuk itikaf di Masjid Istiqlal juga. Dan kalau mengajak anak Memnag persiapan harus matang ya Mbak. Semua diprepare sampai alas tidur juga. Dan Alhamdulillah fasilitas masjid Istiqlal sudah sangat mendukung. Termasuk adanya Playground. Jadi anak-anak selama itikaf juga ga bosan. Semoga tahun ini bisa itikaf juga di Istiqlal.
Pas banget nih membaca ini sesaat sebelum Ramadan jadi terinspirasi nanti Ramadan mau itikaf di masjid Istiqlal yang megah. Dan ternyata bawa anak-anak tetap bisa dan jadi menyenangkan ya sambil mengajarkan mereka beribadah juga bisa menjalani kebersamaan yang menyenangkan di masjid terbesar di Asia tenggara ini
MashaAllah salah satu dreamlistku yang belum kesampaian: itikaf d Istiqlal..
Pasti seru banget ya..
Cuman kudu ekstra waspada, ruameee soalnya..
D Malang biasanya aku d Masjid Abu Bakar Mb..nyaman meski gak sebesar Istiqlal. 😊
Masjjid Istiqlal tuh lengkap banget ya mbak Isti, fasilitas nya lengkap benar² membuat nyaman pengunjung masjid. Saya pun pengeen i’tikaf di masjid Istiqlal semoga terpenuhi keinginan ini. Melihat masjid terbesar di ibukota, masjid bersejarah .
Masya Allah udh kerasa bangeut ramadhan nya mendengar kata itikaf. Bersama keluarga apalagi ya bisa sama2 saling nyemangati melewati malam malam dibulan ramadhan aamiin alohuma aamiin
Wah penasaran jadi pengen cobain i’tikaf disini jugaaaaa.. Kayanya seru yaaaa.. Anak-anak pun keliatan betah ya maaaak..
Jauh yaaa iktikafnya. Anak2ku belum pernah nih kuajakin iktikaf di masjid. Cuma dulu sempat mudik Sby aku ajakin agak lama di masjid Al Akbar di Surabaya, cuma pada akhirnya pulang malam karena waktu itu masih bocil2. Kyknya pengen nyobain juga deh di Masjid BSD yang baru dulu aja deh yang deket2 rumah haha.
Kalau iktikaf tu buat anak2 biasanya tantangannya kamar mandinya sih *imho. Selain itu keknya nyaman aja kali ya karena tempat wudhunya mayan luas, cuma emang menurutku toilet sama KM perlu ditambah banyakan lagi mengingat jamaahnya pasti membludak saat Ramadan.
Kalau soal penitipan alas kaki, aku kyknya prefer kantongin sendiri aja soalnya daripada ribet nyari2 dengan tempat penitipan sepatu yang mungkin terbatas.
Kalau sahur ternyata mudah dapatnya ya karena ada bazaar makanannya, andai nggak dapat dari masjid?
Kyknya kalau bawa bekel juga ok ya, eh tapi kalau berangkat siang susah ngebekel sih ya hehe. Pokoknya intinya gampang soal makanannya ya.
Setuju kalau bawa bocil nggak perlu ngoyo sama target yang penting memberikan experience tentang iktikaf.
Semoga tahun bisa kesampaian juga 😀
Iyaa, kayak emang gak bisaa gitu deket dari rumah dulu? wkwkwk. Sebetulnya sekalian mau nunjukin i’tikaf sama anak-anak, emaknya yang pengen jalan-jalan juga sih ini, huahaha.
Betul betul betul, gak bawa bekel juga sebetulnya ok, makanya kami juga gak ngebekel, ya beli aja, toh di sana juga berjibun makanan. Bisa ambil jatah nasi box yang disediakan, atau ya bisa beli kalau lagi mau jajan 😀
Penasaran banget itikaf bawa anak yang sampai nginep bagaimana serunya. Mau coba tahun ini tarawih aja dulu sambil cek ombak baby El bisa kerja sama gak.