Suatu hari pernah ada yang menanyakan hal ini ke aku: “Mbak Isti, gimana sih manajemen waktunya pas lagi liburan? Ribet nggak sih harus mikirin konten terus? Anak-anak sama suami pada protes nggak?”
Seketika aku langsung berpikir, hmm, rasanya aku merasa belum segitunya jadi blogger traveling hits apalagi KOL traveling gitu sih, ya followers IG saja masih belum menyentuh 10k. Aku cuma seorang ibu biasa yang kebetulan hobi mendokumentasikan memori keluarga.

Tapi memang sih kalau sedang traveling atau liburan gitu ya pasti “jiwa” ngonten selalu bergejolak supaya bisa mendokumentasikan semua yang aku lihat dan aku rasakan untuk bisa jadi konten, baik konten blog maupun Instagram Reels.
Nah, dengan begitu, apakah suami dan anak-anak protes karena aku “ngonten melulu?”
Akhirnya pertanyaan tersebut sukses membuatku mengingat kembali bagaimana interaksi aku, suami dan anak-anak saat kami traveling ke manapun. Rasa-rasanya anak dan suami belum pernah sampai protes sih ya, Alhamdulillah.
Setelah dipikirkan kembali, sepertinya aku tau kenapa. Jawabannya adalah karena aku tuh tipe ibu yang nyantai!

Beneran deh. Kalau ngomongin soal bikin konten liburan, aku tuh bukan tipe content creator yang harus bawa ringlight, outfit matching sekeluarga setiap saat (sesekali pernah sih), atau ngulang take video berkali-kali sampai dapet transisi Reels yang paling mulus.
Seringkali aku tuh memotret kondisi seadanya saja. Kamar hotel terlanjur berantakan, yasudah difoto. Anak dan suami sudah jalan lebih dulu, ya gapapa tetap aku rekam dari belakang. Semacam itulah. Mindsetnya lebih ke dokumentasikan apa saja yang terjadi sebenarnya gitu.
Momopururu.com Diawali dari Hobi
Lagipula, mari kita ingat lagi sejarahnya. Blog momopururu.com ini kan awalnya lahir dari hobiku foto-foto dan mendokumentasikan momen pertumbuhan anak-anak dan momen traveling kami ya. Aku dan suami itu aslinya memang senang saja mengajak anak-anak traveling ke manapun.
Nah, traveling dan kamera itu menurutku ya satu paket. Bagiku kamera itu alat buat mencatat core memory kami, bukan buat bikin studio alam dadakan. Jadi ya aku mengambil konten seperlunya dan seadanya saja.
Bawa-bawa tripod sih tentu saja. Tentunya sangat terpakai saat kami ingin foto yang lengkap berlima 😀

Tapi tetap, anak-anak dibiarkan bebas bermain atau bergaya semaunya sampai waktu yang telah kami sepakati bersama. Jadi giliran aku minta mereka untuk berfoto bersama ya mereka mau, hati mereka sudah senang karena mereka sudah diberi waktu bermain yang puas.
“Candid is the Best” & Hargai Mood Anak

Selain itu, berhubung dari kecil mereka udah terbiasa melihat ibunya suka memotret apapun, anak-anak jadi lebih luwes dan udah biasa difoto. Jarang banget aku memaksa mereka untuk tersenyum lebar atau berfoto yang rapi. Sesekali pernah, tapi hampir bisa terhitung oleh jari lah.
Sering sekali aku membiarkan mereka berlama-lama di pantai atau di tanah lapang yang luas demi memberikan waktu bermain sepuasnya. Saat itu saja deh aku abadikan dalam foto, karena ekspresi mereka jadi alami karena mereka memang sedang senang 😀
Jadi kalau mereka lagi mau lari-larian, ya aku rekam lari-lariannya. Kalau lagi cranky atau cemberut karena capek, ya aku biarkan (malah kadang aku foto diem-diem buat kenang-kenangan kalau mereka udah gede nanti, hyehehe).
Bahkan kadang-kadang, kalau foto dari belakang pas mereka lagi jalan bersama atau bercanda saja sudah cukup bikin hati meleleh, yakan?
Intinya, aku memberi mereka kebebasan penuh. Walaupun aku tetap memikirkan keindahan foto, tapi tetap kenyamanan keluarga yang paling utama. Jadi aku mengusahakan ke-estetik-an, tapi tidak memaksa kalau keadaannya memang tidak memungkinkan 🙂
Mood anak-anak dan kenyamanan kami sekeluarga tetap jadi yang paling utama lah gitu istilahnya.

Buatku, yang terpenting itu pengalamannya bener-bener tersampaikan di tulisan, dan informasinya lengkap untuk membantu ibu-ibu lain yang mau liburan ke tempat yang sama. 🙂
Lalu, Gimana Kalau Emang Niat Bikin Konten Reels?
Nah, gimana kalau memang berniat bikin konten Reels atau saat memang ada job, baik berbayar, barter, maupun endorse?
Nah, ini beda cerita. Kadang memang ada momen di mana aku udah punya draft ide Reels yang butuh footage spesifik di berbagai tempat wisata yang kami datangi kan. Atau memang ada brief khusus karena sedang bekerja sama dengan tempat tertentu.
Kalau sudah begini, kuncinya satu: Komunikasi dan Kesepakatan di Awal.
Jadi sebelum berangkat, aku selalu sounding dulu ke anak-anak. Aku jelaskan ke mereka kalau mama “dibayar” untuk mereview tempat ini, jadi nanti minta kerja samanya untuk menyukseskan kontennya.

Atau misalnya aku memang ingin membuat konten Reels lainnya yang sedang trending, aku tawarkan terlebih dulu ke anak-anak. “Kakak, Nawa, Nara, mau gak kalau nanti kita bikin kayak gini?” sambil menyodorkan konten yang aku maksudkan untuk dibikin.
Alhamdulillah, karena udah dikasih tahu dari awal dan merasa dilibatkan, mereka biasanya setuju dan mau diajak kerja sama. Jadi pas sampai lokasi, kita tinggal take sebentar sesuai kesepakatan, baru deh setelah itu bebas!
Mereka boleh lanjut main, lari-larian, atau sekadar duduk santai menikmati suasana tanpa diganggu kamera lagi. 🙂
Berikut ini beberapa contoh konten yang kumaksud:
Suami Jadi Tim
Nah, di balik layar video-video Reels di atas yang (kelihatannya) mulus itu, ada satu sosok penting yang selalu siap sedia direpotkan. Siapa lagi kalau bukan Paksu!
Maka ini sekaligus menjawab pertanyaan, apakah suami juga protes? Alhamdulillahnya tidak, hehe. Bahkan Alhamdulillah kami itu lebih seperti tag team kalau lagi liburan.
Suami paham banget kalau blog dan Instagram ini bukan sekadar hobi kosong, melainkan caraku berbagi informasi yang (insyaAllah) bermanfaat buat keluarga lainnya. Makanya beliau selalu men-support setiap kali aku ingin mengambil konten.
Misalnya nih, setiap kali sampai di suatu tempat, biasanya suami sudah menawarkan terlebih dulu untuk difoto atau direkam terlebih dulu tempat dan suasananya. Biasanya aku membutuhkan waktu 10-15 menit untuk mengambil video suasana tempat wisata atau foto-foto detail fasilitas (seperti toilet, jalanan stroller, atau daftar menu makanan).



Saat itu, suami dengan sigap mengajak anak-anak untuk bermain bersama atau berkegiatan bersama sehingga aku bisa dengan bebas dan puas mengambil footage yang dibutuhkan.
Sebaliknya, kalau suami sudah kecapekan dan butuh waktu sendirian, atau butuh waktu untuk bekerja sebentar (kadang-kadang tetap membawa kerjaan ya dia mah xp), aku deh yang giliran meng-handle anak-anak.
Kerja sama ini penting banget pokoknya, biar nggak ada yang merasa “ditinggal” atau diabaikan. Lagipula, berhubung suami juga bergerak di bidang SEO, dia malah sangat supportive dan sering bantu mikirin dari sisi teknis blognya nanti pas artikelnya mau publish. Asik yakan? Hehehe.
Tahu Kapan Harus Memisahkan “Kerja” dan Murni Liburan
Nah, poin ini juga nggak kalah penting sih. Walaupun aku travel blogger, aku dan suami selalu berusaha memberi batasan yang jelas di awal, trip kali ini murni buat healing keluarga, atau memang ada sisipan “pekerjaan” (misalnya niat bikin tulisan pilar yang butuh riset mendalam, atau lagi ada campaign/endorsement tertentu).
Kalau dari awal niatnya murni liburan santai buat recharge energi, ya aku ngontennya bener-bener se-dapetnya aja. Nggak ada beban harus take sudut A, B, atau C, dan lain sebagainya.

Tapi, kalau memang ada niat “kerja” sedikit, aku biasanya mengalokasikan waktu khusus. Misalnya, 1 jam pertama pas baru sampai di tempat wisata dan mood anak-anak masih fresh, itu adalah jatahku buat take video Reels, foto fasilitas, dan mencatat informasi penting.
Setelah jatah waktu 1 jam itu habis? Ya sudah, mode “pekerja” langsung aku matikan, dan mode “Ibu yang lagi liburan” dinyalakan kembali.
Dengan memberi batasan waktu kayak gini, anak-anak dan suami tetep dapet haknya untuk liburan yang nyaman, dan urusan blog/IG juga tetep jalan. Win-win lah yaa 😀
Pengalaman Nyata Melebihi Estetika
Jadi, begitulah kira-kira gambaran di balik layar traveling keluarga kami. Kalau kalian perhatikan, foto-foto di blog momopururu.com mungkin nggak semuanya aesthetic atau color grading-nya estetik gitu ya. Kadang ada foto yang agak bocor, atau anak bajunya udah berantakan.

Tapi buatku, nggak apa-apa banget. Estetika itu urusan nomor tiga setelah kenyamanan keluarga dan informasi yang lengkap serta kejujuran pengalaman yang bisa aku bagikan.
Aku lebih seneng kalau tulisan di blog ini bisa ngasih insight beneran buat kalian yang mau bawa anak liburan, daripada sekadar ngasih lihat foto-foto cantik yang kadang malah bikin insecure.
Jadi, aku pakai 3 aturan ini supaya traveling sambil ngonten gak dibawa ribet 😀
- Komunikasi di Awal: Briefing anak dan suami soal target ngonten hari itu.
- Aturan 1 Jam: Selesaikan urusan foto/video fasilitas di 1 jam pertama saat energi masih penuh, terutama kalau memang “dibayar” untuk review suatu tempat.
- Prioritaskan Memori: Kalau anak rewel, matikan kamera. Core memory di dunia nyata lebih penting dari likes di dunia maya. 😉
Intinya, jadi family travel blogger itu harus pinter-pinter kompromi lah ya. Kompromi sama mood anak, kompromi sama suami, dan kompromi sama ekspektasi diri sendiri.
Selama tujuannya adalah merawat kewarasan keluarga dan menciptakan kenangan indah bareng-bareng, semua kerempongan itu bakal kerasa sepadan kok! 😉
