“Istiii, besok aku mau ke Dopamine sama Ciwul. Lagi lowong gak? Kalo iya jam 9.30 janjian di sana yaa.” Ajak bubu Dita melalui WA.
Senang sekali aku tu kalau diajakin kayak gini, ihihi. Apalagi tempatnya memang belum pernah aku datangi, karena memang masih terhitung baru di Depok.
Tanpa pikir panjang tentu aku langsung meng-iyakannya. Kebetulan esok harinya aku sama suami memang mau kerja dari luar. Jadi sekalian saja deh suami aku ajak juga.
Saat di sana ya kami duduk terpisah, aku bareng bubu Dita dan Ciwuls, suami sendirian, ahaha. Aku nya malah haha hihi, bukannya kerja xp Ada sih kerjanya, tapi tipis-tipis #ups
Anw, pengelaman pertama kali makan di Dopamine Depok ini cukup oke sih menurut aku.
Lokasi Dopamine Avenue
Saat mencari lokasi Dopamine Avenue di Google Maps, barulah aku tau kalau kafe ini letaknya persis di seberang Bajawa Depok. Nah, menariknya di Google Maps gambarnya masih berupa sekolahan gitu.
Ada tanggal update-nya sih, yaitu Maret 2024, yang menandakan tanggal segitu bangunan lamanya belum “disulap” menjadi restoran 😀
Ternyata betul, bangunan yang sekarang menjadi Dopamine Avenue ini adalah bekas sekolah SDN Pancoran Mas 02. Sejak awal didirikan pada tahun 1890, bangunan ini memang digunakan untuk sekolah yang bernama Depoksche Europeesche Lagere School (ELS).
Sekolah tersebut awalnya dikhususkan untuk orang-orang Eropa, Indo, dan kaum mardijkers. Barulah di tahun 1961, dialihfungsikan menjadi SDN Pancoran Mas 02.
Anw, alamat lengkapnya ada di Jl. Pemuda No.32 dan beroperasi sejak jam 06.00-23.00. Kalau dari arah Margonda, melewati lampu merah ITC untuk lurus dan lanjut ke jl. Kartini, untuk belok kiri di jl. Pemuda (tidak begitu jauh dari memasuki jl. Kartini tadi).

Sekitar 300m barulah kita akan menemukan Dopamine Avenue ini di sebelah kanan, persis di seberang bangunan Bajawa.
Bangunan Bergaya Kolonial Menghadirkan Suasana Nyaman
Seperti namanya, Dopamine Avenue mengusung konsep “Avenue” dengan area terpisah, seperti restoran di depan dan lounge di tengah, serta cafe di dalamnya.
Dari depan, kita bisa melihat gaya kolonialnya masih terasa dan memang dipertahankan sehingga dalamnya pun mendukung konsep kolonial ini.
Begitu masuk, kita tidak langsung menemukan tempat duduk banyak seperti restoran gitu ya. Tapi akan disambut oleh 2 orang pelayan di area foyer yang menanyakan mau duduk di mana agar bisa diantar oleh mereka.
Berhubung aku sudah janjian, jadi aku langsung mencari bubu Dita dan Ciwuls yaa. Untunglah mereka duduk tidak jauh, aku tinggal menuju ke ruang restoran sebelah kiri dan langsung menemukan mereka 😀

Baca juga: Kafe Depok yang Buka Sejak Pagi
Seperti Bangsawan Belanda
Begitu masuk ke area restorannya, ya itu tadi ya, konsep kolonialnya dipertahankan, bahkan dikuatkan dengan susunan dan pemilihan furniture, serta pemilihan lagu yang diperdengarkan kepada pengunjung.
Suasananya jadi estetik dan nyaman sehingga menghadirkan kesan kami jadi seperti bangsawan belanda yang sedang makan, ihihi.
Setelah aku perhatikan dengan seksama pun, lagu-lagunya bukan lagu belanda gitu, melainkan lagu-lagu Indonesia yang digubah ulang menjadi bergaya belanda yang slow gitu. Asik sih buat menemani makan dan berbincang 😀
Berkumpul di lounge dan kafe
Begitu ke bagian belakang, kita akan melewati kasir terlebih dulu baru terhampar area lounge dengan air mancur di bagian tengahnya. Di sini sepertinya cocok banget buat berkumpul di sore hari. Kalau siang sih jangan ya, puanass xp
Nah, sisi seberang kiri restoran ini dan melewati outdoor lounge tadi barulah terdapat kafe yang juga terlihat nyaman. Cocok juga untuk sekedar makan ringan dan berkumpul sambil menunggu anak sekolah pulang yakan, ihihi.

Mushola dan Toilet
Kemudian, di bagian belakang kafe-nya inilah terdapat toilet dan mushola yang juga cukup nyaman.
Memang sih musholanya terhitung kecil, tapi masih muat 3-4 orang untuk sholat di sini, jadi masih lumayan banget.
Toiletnya sih yang menurut aku juga oke, karena melengkapi suasana estetiknya tadi. Walaupun untuk mencuci tangan agak sulit karena terhalang dinding yang memisahkan area wastafel dan area toilet.
Tapi masih oke banget lah. Yang terpenting itu justru wangi dan bersih, jadi memang nyaman.


Menu dan Harga
Berhubung konsep gedungnya memang kolonial modern, makanannya jadi beragam, antara makanan Nusantara, Western, dan Asia.
Awalnya aku dan suami belum memesan makan berat karena kami baru saja sarapan dari rumah. Jadi kami hanya memesan 2 minuman dengan 1 makanan ringan.
Nah, Ciwuls dan bubu Dita lah yang memesan makanan beratnya. Mereka memesan Spagetti Bolognaise dan Chicken Schnitzel, sedangkan aku memesan Potato Herbs.
Untuk minuman, aku iseng memesan Charcoal Milk Ice, bubu Dita Fresh Orange, dan Ciwuls Dopamine Strawberry (semacam Strawberry Frappe gitu). Sedangkan suami aku tentu memesan Kopi susu dengan nama menu “Dopamine Palm Sugar”, hehehe.


Siangnya barulah kami memesan makanan berat, suami berupa Fettucine Carbonara, aku Fish & Chips. Kebetulan kami di sini sampai sore karena memang sekalian mau menjemput anak-anak.
Rasa dan Harga
Harga makanan dan minumannya sendiri menurut aku terhitung agak pricy, hehe. Soalnya harga makanannya start di 48k, itu juga yang lite bites alias untuk camilan. Paling side dish-nya seperti potato herbs yang aku pesan saja berkisar 22-30an ribu.
Untuk makan beratnya sepertinya start di 58k sih. Minumannya berkisar 28-38k. Yah per orang bisa menghabiskan 100 ribuan lah ya minimal 😀
Tapi harga segitu menurut aku memang sepadan dengan porsi dan rasanya. Porsinya lumayan banyak, dan rasanya juga enak.



Potato Herbs-nya ya, itu kerasa bawang putihnya dan cukup menyerap sampai ke dalam. Kematangan kentangnya pun pas, jadi enak dan cukup nikmat.
Aku sih gak nyobain pasta dan chicken schnitzel-nya ya. Tapi melihat bubu menghabiskannya dengan cepat, rasanya berarti enak sih. (Antara enak atau memang laper sih yaa, wkwkwk).
Fish & Chipsnya juga lumayan besar potongannya, aku sampai makan berdua sama Nara. Kentangnya melimpah dan bumbu cocolannya juga pas, ada manis dan rasa asamnya sedikit, jadi cocok banget dengan ikannya.
Baca juga: Mostly, Kafe Hidden Gem Depok yang Adem dan Terjangkau
Oiya, kami pesan 1 cemilan lagi deng, karena Nara minta es krim jadi kami pesan Banana Pancake. Nah, paling Banana Pancake aja yang menurut aku agak kureng. Soalnya adonannya kurang empuk dan es krimnya terlalu sedikit, hehe.
Sehingga es krimnya sudah habis, tapi pancakenya masih cukup banyak tersisa.
- Bagian makanan berat kami dan banana pancake lupa terfoto, karena sudah agak riweuh, ahaha. -
Resto dan Kafe Depok yang Recommended
Dengan suasana restoran yang ada kafenya dan bangunan bergaya kolonial, tempatnya nyaman untuk kerja maupun berkumpul sih menurut aku.
Karena tempatnya juga terpisah, restoran di bagian depan dan kafe di bagian belakang, jadi seperti memiliki bagiannya tersendiri juga. Untuk pertemuan lebih resmi dan ingin makan berat, mungkin bisa di bagian restorannya, yang cenderung lebih sepi dan lebih tenang.
Sementara itu, bagian kafe bisa jadi lebih ramai dan juga lebih diperuntukkan bagi pengunjung yang gak terlalu mau makan berat alias hanya makan snack ringan. Cocok juga sih ya untuk WFC-an alias Work From Cafe 😀

Dopamine Avenue
Alamat: Jl. Pemuda no. 32
Jam Operasional: 06.00-23.00
Harga: 75k – 120k per orang





