Choose The One Who Loves You

For the girls, trust me. Choose the one who loves you, not whom you loved so much.

Because,

  • He always there for you
  • He never ever want to see you cry
  • He gives you unconditional love
  • He can make you love him more than everything
  • He always give you infinite love
  • He always try to make you happy. And trust me, he always did.
  • And, there is soo much more he can give to you, even the heaven.

”Sesungguhnya setiap isteri yang meninggal dunia dan  diridhoi oleh suaminya, maka dia akan masuk syurga.” (Hadist riwayat Tirmizi dan Ibnu Majah).

Heheheh, it’s my own experience. Thanks to my husband to give me so much love. Hope our love will always grow and will be last forever. Forever.

Ilman ~ Isti
Ilman ~ Isti

*there is no special ocation, I just want to write how happy I am to be Ilman Akbar‘s wife 😛

The Family Time

The big family time actually, hihi

Last weekend, my husband, Naia, and I were having a really good time with my husband’s family family in Kebagusan.

All was started at Saturday morning when we attended the ceremony of my husband’s cousin’s proposal ~Sarah~. Even though my father-in-law was at Semarang that time, the rest of us could still be there with my husband as a driver 😛

~She looked so pretty in pink.

Sarah's Proposal
Sarah’s Proposal

Sunday morning, my father-in-law has already home and we all planned that in the evening, we would have a family picture at professional photo studio.

There is a sad funny story about having a family picture. The plan of having family picture was already a month, since my sister-in-law having her graduation ceremony.

My father-in-law could not attend the graduation, so he promised to my sister-in-law to having her picture with parents on the other day along with family picture. Then, my mother-in-law we started to plan on having family picture on the weekend and started to pick the best professional photo studio.

So, last week we were having ourselves dressed up and going to photo studio, ready to have photo shoots. But, we were already too late for the shoot, the photo studio was already closed and finally we all just eat some dinner, haha. Yea, my sister-in-law was a bit disappointed. It showed from her face.

But, last Sunday was a GREAT day.

There were some fruits that haven’t been eaten, so in the afternoon we were having “rujakan”. After that, my husband and I made some instant noodles for the whole family.

Then, in the evening, we, once again, all dressed up for the photo shoot. These time, we were did the photo shoot, yeay. It was a fun time to having the photo shoot. The photographer was funny and easy going. We were felt satisfied.

After that, we managed to go to have some dinner. My father-in-law have already decided where to go, Margocity. Yap, we have some dinner at Margocity, yeay.

Having “rujakan”, instant noodles together, photo shoot, and some dinner. What a great weekend. 😀

~waw, writing in English is quite difficult now. I do really need to practice more.

Kangen Bacain Blog Ilmanakbar

Heheh, kebangun malem2 gini tiba-tiba kepikiran buat baca blog suami tentang ulang tahunnya ke 22 pada tahun 2010 dulu :p

Dan sekarang entah kenapa dia jadi sangat jarang ngeblog. Saya tiba-tiba pula kangen baca tulisan-tulisan ringannya lewat blog.

Padahal tadinya suami saya itu berkecimpung dalam hal tulis-menulis. Bahkan pernah sampai jadi penulis di Penn Olson dan freelancer advertorialnya Detik.

Ah, betapa kangennya saya dengan hobinya yang satu itu.
Ayo donk Ilmanakbar, tulis menulis lagi, setidaknya lebih rajin lagi ngeblognya. Hobi saya yang satu (ngeblog) itu kan ditularkan olehmu.

Ah, saya juga tiba-tiba jadi berharap semoga dirimu menjadi penulis besar, membuat beberapa buku yang menginspirasi, serta membangun bisnis di bidang tulis menulis. *harapan seorang istri, semoga bisa menjadi kenyataan, heheh. Amiiiin*

Padahal waktu itu saya juga ya yang memanas-manasi dirimu untuk bisa bersekolah lagi :p

Sekedar Update

Hoho, sebulan sudah saya gak berceloteh di blog ini.

Sekedar update aja ah.

  1. Mudik membawa Naia naik kereta cukup sukses. Yaa karena Naia anteng Alhamdulillah, dia malah tidur terus sepanjang perjalanan. Ataupun, kalau gak tidur, ya dia ngeliat2 jalanan aja 😀

    Naia di kereta
    Naia di kereta
  2. Naia punya saudara sesusuan, kaka sepupunya sendiri, hehehe. Jadi ceritanya kaka saya sudah lahiran lagi, anaknya perempuan dan diberi nama Fazila Ghaisani Hanisah ~saya sih manggilnya Ghaisani ~. Ini sudah anak ke-2 dan mendapat masalah seperti anak pertama yaitu ASI kaka saya kering. Yang kedua ini sih masih mending, masih keluar sedikit dan masih bisa untuk menyusui, gak separah anak pertama. Pas saya main ke rumahnya, Ghaisani emang nenennya banyak, dan gak berenti2. Akhirnya saya ikut nenenin juga ~kebetulan anak saya juga perempuan, hehe~. Jadilah si Ghaisani resmi jadi saudara sesusuan sama Naia 😀 Yah, jadinya ASIP saya lumayan kepake lah. Tapi kaka saya juga gak berenti usaha buat merah dan memperbanyak produksi ASInya.
  3. Naia sudah lancar tengkurep dan muter2. Bukan gegulingan, tapi muter, haha. Belum lancar buat gegulingan dia. Balik dari tengkurep baru sesekali dan belum faseh betul. Oh, ada 1 lagi gaya favoritnya Naia yaitu gaya terbang ~tengkurep sambil lepas tangan 2~ 😛
  4. Ipad dari BCA sudah sampai. Udah dari sebulan yang lalu sih, tapi belum saya apa2in. Cerita lengkapnya bakal jadi postingan terpisah ah 😀
  5. Kunjungan lebaran ke saudara2 belum selesai. Haha, saking banyaknya saudara dari suami dan saya, ampe sekarang kita belum berhasil berkunjung ke semua saudara. Baru saudara suami yang di Semarang dan di Bandung aja yang udah kita kunjungi, saudara saya belum.
  6. Saya butuh proyekan web nih #eh. Yang ini beneran, pengen freelance bikin web lagi nih saya. Sampai sekarang sih saya maintenance aja, belum bikin yang atas nama sendiri. Buat yang baca, kalo ada yang mau bikin web, boleh donk di saya. Atau, kalo temennya yang mau bikin web, promosiin saya yaa, hehe.

Heheh, cukup deh segitu aja updatenya. Buat memenuhi hasrat saya yang lagi pengen ngeblog aja nih 😀

Mudik

Berbeda dengan keluarga besar saya yang sudah banyak berada di Jakarta, keluarga besar Suami masih banyak yang berada di Semarang, jadi sudah menjadi tradisi di keluarga suami untuk mudik ke Semarang di setiap Lebaran. Nah, sejak saya menikah, saya jadi harus juga mengikuti tradisi itu.

mudik
mudik

Tahun lalu sih kita gak mudik pas Lebaran. Itu karena sebulan setelah Lebaran ada sepupu suami di Semarang yang menikah, jadilah sekalian mudiknya.

Nah, tahun inii insyaAllah kita mudik ke Semarang di hari Lebaran. Awalnya sih ingin naik mobil aja biar di Semarang kalo ke mana2 juga gampang. Tapi setelah dipikir-pikir lagi ~mertua sih yang mikir2 lagi :P~ mobil yang dipake untuk mudik cuma ada 1 dan kita semua gak akan muat (muat-muat aja sih, tapi bener2 sumpel2an, hehe), jadi kita akan naik Kereta InsyaAllah.

Akhirnya, insyaAllah hari kedua Lebaran kita akan berangkat ke Semarang selama seminggu. Nah, sebelum itu, kita mudik ke rumah ortu saya di Priuk ~jyah, mudiknya deket benerr, ke Priuk :P~

Hehe, jadi karena mau menghabiskan banyak waktu di Semarang, sebelum Lebaran dan sampai hari Lebaran nanti, kita berdua ~bertiga sama Naia~ menghabiskan waktu di Priuk 😀

Oiya, ngomong-ngomong mudik naik kereta, ada cerita yang sedikit gimanaa gitu, hee.

Jadi, ceritanya kemarin kita beli tiket kereta api di alfamart ~yap, di alfamart atau di indomaret bisa beli tiket kereta api~. Harganya sama tapi enaknya ya kita gak perlu repot-repot antri atau resiko ketipu calo 😀

Nah, kita beli tiket itu malem2 banget, jaga-jaga takut kereta yang kita ingin gak penuh dan kalo mesen besok2 malah penuh. Btw, kita mau naik kereta eksekutif dan kebetulan kemarin dapet tiket pulang pergi pake kereta Argo Sindoro.

Photo by Johanes Christian

Pertama kita ngecek harga online dulu. Suami dan mertua akhirnya sepakat buat naik kereta Argo Sindoro berangkatnya dengan tarif Rp. 400.000,- dan naik Argo Bromo yang bertarif Rp. 560.000,-. Mereka milih kedua kereta itu karena waktunya yang pas. Jadwal pergi jam 16:45-23:10 dan jadwal pulang jam 11:52-17:41.

Tapii, begitu kita mau beli tiket pulang, sayangnya Argo Bromo sudah penuh. Akhirnya pilih kereta lain dan dapet Argo Sindoro yang jadwalnya lebih pagi yaitu jam 05:30-11:36 dengan tarif  yang lebih murah Rp.500.000,-. Nah, sayangnya lagi, kalau beli di alfamart ini kita gak bisa milih kursi. Jadi, begitu pesen langsung muncul nomer kursinya dan gak bisa diganti, hiks.

Nah, udah gitu, pembelian tiketnya itu maksimal 4 tiket dengan 1 KTP. Karena kita bertujuh, jadilah kita pake 2 KTP dan walhasil kursi yang tampil juga beda. Di kereta berangkat sih lumayan masih deketan, tapi pas kereta pulang kita terpisah beberapa gerbong, hiks hiks.

Besok paginya, saya baru ngecek email dan baca email dari tiket.com ~saya berlangganan newsletternya~ ternyata disitu jual tiket kereta api juga. Daaaan, bisa milih tempat duduk juga. Dan lagi, harganya sama, huaaa. Pas ngecek kereta yang kita akan naikin pas pulang, ternyata masih banyak kursi berjumlah 7 yang deketan. Telat, telat, telat taunya, huhuhu.

Tapi, yasudahlah, mau diapain lagi. Lain kali langsung beli online aja deh. Walaupun sama dengan beli tiket di alfamart yang gak perlu antri, gak pake calo, dan harganya sama, tapi ada 1 keuntungan yang dipunya tiket.com, yaitu gak pake keluar rumah 😛 *eini bukan promosi ya*

Menikah Harus Siap Mental

Sebenernya banyak sih yang harus dipersiapkan sebelum menikah, siap fisik pastinya, siap hati harus, siap finansial apalagi. Tapi di sini saya mau ngomongin tentang persiapan mental menghadapi kehidupan setelah pernikahan. Karena di situlah yang paling penting -> kehidupan setelah pernikahan.

Gimana gak jadi yang paling penting, kehidupan setelah pernikahan kan akan dijalani insyaAllah seumur hidup. Maka dari itu, mentalnya bener2 harus siap sesiap-siapnya karena pernikahan benar2 menjadi perubahan terbesar dalam hidup.

Kalo dari pengalaman saya sih (pengalaman saya baru sedikit yak, maklum, baru juga 1 tahun menikah :P), yang bener2 perlu diperhatikan dan berhubungan dengan kesiapan mental itu ada beberapa. Saya list aja deh 😀

1. Sampaikan harapan sebelum menikah.

Yap, penting nih. Harapan-harapan kita terhadap pasangan harus disampaikan kepada yang bersangkutan sebelum menikah. Biar sang pasangan bisa sedikitnya berusaha untuk memenuhi harapan tersebut. Atau, kalaupun si pasangan sudah memenuhi harapan2 itu, bisa jadi semakin yakin kalau ia memang pasangan yang tepat ~PD banget yak~

2. Buang jauh harapan yang tinggi-tinggi.

Kenapa? Karena biar hati kita tenang dan jadi gak kecewa kalau pasangan ternyata jauh dari harapan.

Kalau misalkan ia bisa memenuhi harapan kita sih Alhamdulillah bangeet, tapi kalau enggak kan kita bakal kecewa berat, betul?

Contoh nih, misalkan kita berharap suami kita ~karena saya perempuan, jadi saya nyontohinnya ya harapan perempuan, hehe~ bakal rajiin banget ngurusin rumah dan gak segan-segan buat bantu2 istri. Nah, kalau misalkan ternyata setelah tinggal serumah dan ketauan aslinya kalau si suami itu malesss banget dan gak mau sama sekali buat bantuin istri kan jadinya kita ngedumel mulu tiap hari karena capek semua-muanya dikerjain sendiri 😛

Tapi harapan2 terhadap pasangan itu jangan dilupain juga ya. Bisa diusahakan sedikit demi sedikit kok untuk menjadikan pasangan kita sesuai harapan.

Tapi satu lagi, jangan dipaksain juga, let it go with the flow aja, hehe. Buatlah ia berubah dengan kebaikan dan kesungguhan kita ~jyaah~ 😉

3. Siap berusaha mewujudkan harapan pasangan.

Yap, selain kita tadi menyampaikan harapan-harapan kita, dia juga harus menyampaikan harapan-harapannya biar kita bisa bersiap dan berusaha untuk mewujudkan harapan itu demi kelangsungan pernikahan *jyah, bahasanyaa*

Dengan kita bersungguh hati ~lagi2 bahasanyaaa~ berusaha mewujudkan harapan pasangan, bukan gak mungkin kan dia pun jadi berusaha mewujudkan harapan kita, hehe.

Intinya dimulai dari diri sendiri. Susaaah banget ngubah orang tanpa diawali dari kita 😉

4. Bersiap untuk hidup berdua saja

Kita harus siap kalau nantinya harus hidup bener-bener terpisah dengan kedua orang tua. Kaya saya dan suami sih. Walaupun masih deket sama ortu suami, intinya kita tinggal terpisah.

Yang tadinya ~mungkin~ enak di rumah yang lega bin nyaman, sekarang harus membiasakan diri hidup dengan suami di rumah yang sempit.

Kalau udah mampu beli rumah yang lega dan nyaman sih enak, tinggal membiasakan diri hidup berduanya 😛

Nah, tapi yang jadi permasalahan itu ngurus rumahnya nih, hihi. Tadinya bisa kerja bakti seisi rumah, sekarang kerja bakti berdua saja 😛 ~kalau punya pembantu sih ya bertiga, hehe~

Kalau akhirnya bukan tinggal terpisah dari ortu, katakanlah di ortu kita atau mertua, kita tetap harus membiasakan diri.

Kalau tinggal di rumah ortu kita, ya berarti kita harus membiasakan diri ada tambahan orang di rumah. Selain itu, harus pinter2 meng-klop-kan ~bahasanya apa ya yang pass~ pasangan dengan ortu kita dan saudara2 kita yang tinggal serumah.

Kalau di rumah mertua, ya kita harus berusaha biar klop dengan mertua dan saudara2 ipar yang tinggal serumah.

5. Bersiap untuk kebiasaan baru pasangan

Sebenernya bukan kebiasaan baru, tapi kebiasaan yang baru kita tau setelah menikah. Kita mungkin akan terkaget2 banget dengan kebiasaan yang belum kita tau itu, jadi bener2 harus siap dengan segala kemungkinan 😛

Yang ini emang abstrak banget, karena kita bener2 gak bisa ngira2 kebiasaan apa yang bakal muncul dari pasangan.

Bukan hal yang gak mungkin juga kalau kebiasaannya itu kebiasaan yang bertolak belakang banget dengan kebiasaan kita.

Contohnya, saya dan suami 😛

Saya tidur dengan lampu menyala, suami tidur dengan lampu yang harus mati. Saya gak bisa tidur kalau sunyi senyap, suami gak bisa tidur kalau ada suara2. ~ini sih cuma kebiasaan kecil~ hehe

6. Jadi orang yang lebih komunikatif

Setidaknya sama pasangan ya.

Kenapa? Karena yang saya dapet dari pengalaman-pengalaman rumah tangga yang pernikahannya langgeng2 itu dan dari pengalaman-pengalaman ortu kita, komunikasi itu hal yang paling pentiing banget..

Karena, dalam berumah tangga, kepala kita bukan cuma satu. Kita gak bisa ngurus rumah tangga sendirian. Harus berdua, dan segala sesuatu harus disampaikan, komunikasii.

Jadi, kalau kita orang yang malu-malu untuk menyampaikan sesuatu. Atau selalu memendam sesuatu, segeralah berubah..!!

Latihan aja sama sahabat terdekat atau saudara (kakak / adik) kita untuk selalu cerita, biar terbiasa menyampaikan apapun yang kita alami atau kita pikirkan.

Saya dan suami yang sama-sama komunikatif aja kadang2 masih suka misskomunikasi, hehe.

Jadi, segeralah jadi orang yang komunikatif 😉

Heheh, baru segitu aja kayanya yang ada di pikiran saya saat ini untuk persiapan mental menuju pernikahannya, semoga bermanfaat untuk yang mau dan sedang merencanakan pernikahan yak 😀

Daaan semoga rumah tangga saya dan suami bisa langgeng seumur hidup serta dipertemukan di akhirat kelak. Amiiiin ^^

Terakhir, I looove this picture soo much 😛

~Ada artikel menarik mengenai komunikasi nih: http://littlerosetrove.blogspot.com/2012/03/relationships-always-show-love.html *dapet waktu gugling gambar terakhir 😛

Selesai Sudah Masa “Kursus”

Hehe, setelah 2 bulan “kursus” di rumah orang tua masing-masing (rumah mertua dan orang tua saya di Priuk), akhirnya mulai Senin, 4 Juni 2012 kemarin kita (saya, suami, dan Naia) pindah juga ke kontrakan mungil kita.

Yup, kita memang ingin belajar mandiri. Sejak awal menikah pun kita sudah tinggal terpisah. Begitu punya bayi, saya dan suami yang masih canggung (karena belum terbiasa ngurus bayi) memutuskan untuk “kursus” di rumah orang tua.

Naia Mandi
Naia Mandi

3 minggu pertama Naia lahir, kita tinggal di rumah orang tua suami saya di Kebagusan. Mamah (mertua) sampai rela menghabiskan cuti tahunannya untuk bantuin saya ngurus Naia ~huhu, terharu~

Begitu selesai di rumah Kebagusan, kita “kursus” ke rumah orang tua saya di Priuk (sekaligus menghilangkan baby blues saya sih ini sebenernya :D).

Kita kira-kira menghabiskan waktu 3 minggu juga di Priuk. Setelah dari Priuk, sebenernya kita berniat untuk pulang ke kontrakan. Jadi, waktu ada libur hari Kamis, tanggal 17 Mei 2012, kita sempatkan untuk pulang.

Nah, dari Priuk, kita mampir dulu ke rumah di Kebagusan untuk mengambil beberapa barang ~banyak barang sih~ yang masih ada di sana. Tapi karena hari Jum’atnya suami masih kerja, akhirnya kita menginap dulu di rumah Kebagusan dan memutuskan hari Minggu, 20 Mei 2012 untuk pindahan ke kontrakan.

Kebetulan, saya dari Priuk sedang terkena flu dan begitu sampai di rumah Kebagusan ternyata papah dan tantenya Naia (adik suami) juga terkena flu. Walhasil Naia ikut-ikutan sakit flu waktu itu. Jadilah pindahannya tertunda.

Minggu berikutnya kita harus mengurungkan niat untuk pindahan lagi dikarenakan sepupu suami saya menikah. Jadilah seharian hari Minggu, 27 Mei 2012 itu kita kondangan + jalan2 ke Depok 😀

Nah, minggu berikutnya lagi kita udah kekeuh banget untuk pindah ~akhirnyaa~. Jadilah kita rencanakan skenarionya ~halah~ 😛

Jadi, setelah melihat keadaan rumah kontrakan yang 2  bulan ditinggalkan, kita akhirnya memutuskan untuk meluangkan waktu 1 hari untuk beberes dan bersih-bersih dan keesokannya untuk pindahan.

Berhubung suami saya punya jatah libur 1 hari/bulan, dia gunakan lah jatah libur itu di hari Senin, 4 Juni 2012 kemarin untuk pindahan. Jadi, hari Minggunya kita bersih-bersih, hari Seninnya kita resmi pindah ~yeay~

Awalnya sih agak takut juga karena merasa sendirian. Tapi, bermodalkan hasil “kursus” di rumah orang tua, jadi PD aja untuk tinggal pisah gini.

Daan sampai sekarang Alhamdulillah berjalan lancaar (^_^)/

Semogaa kehidupan keluarga kecil kita semakin diberkahi oleh Allah SWT. Amiiin ya Rabb.

Beragam Perasaan Ibu Baru

image by ello.org

Bahagia. Karena akhirnya merasa sempurna sebagai perempuan, bisa nikah, hamil, dan melahirkan. Apalagi waktu pertama kali denger suara tangisan bayi pas lahir 😀

Super Seneng. Waktu liat Naia lagi melek dan main sendiri, waktu diajak ngobrol sama saya atau papanya dan diam mendengarkan dengan tampangnya yang sangat polos, dan waktu Naia melet2.

Damai. Waktu liat Naia lagi tidur dengan tenang rasanya damaaaai banget. Langsung hilang deh rasa lelah dan capek yang terasa.

Gemes. Saat Naia sedang menyusu dan saya melihat mukanya dari dekat. Juga saat dia mengeluarkan tampang lucunya atau tampang bengongnya, lucuuu banget. Rasanya pengen meluk sekenceng-kencengnya deh 😛

Gugup. Saat pertama kali menyusui Naia sewaktu di Rumah Sakit. Saat pertama kali memandikan Naia. Dan saat pertama kali belajar menggendong Naia dengan kain. Pokonya yang serba pertama kali itu rasanya gugup banget.

Bingung. Kalau Naia nangis lebih kencang dan lebih lama dari biasanya. Kalau Naia tiba-tiba gumoh buanyak. Dan kalau pupnya lebih banyak dan lebih sering dari biasanya.

Sedih. Saat mendengar tangisannya yang terisak-isak karena keadaannya yang sedang tidak enak.

Takut. Takut saya tidak bisa mendidiknya dengan baik. Takut saya tidak bisa memberinya lingkungan, tempat tinggal, dan pendidikan yang baik.

Semangat Luar Biasa. Ketakutan yang saya sebutkan tadi membuat saya jadi semangat untuk melakukan apapun untuk bisa menjadi ibu yang baik untuknya. Memberi lingkungan, tempat tinggal, dan pendidikan yang baik.

Yang jelas, menjadi ibu baru itu rasanya campur aduk. 😀

Ketika Dijalankan dengan Ikhlas

Baru saja blogwalking di sela-sela waktu kerja. Dan kali ini saya baca blog kawan saya, Meri 😀

Dan berhenti sejenak di postingan “Keutamaan Seorang Ibu dan Istri dalam Islam”. Subhanallah banget baca betapa banyak ganjaran yang PASTI akan diberikanNya kepada para Ibu dan Istri shalihah, yang dengan ikhlas menjalankan perannya.

Dan ketika semua itu ~tugas seorang ibu dan istri~ dijalankan dengan ikhlas dan senang hati, maka tidak akan terpikirkan lagi ganjaran apa yang akan didapatkannya. Maksudnya adalah ketika semuanya itu ~keinginan untuk selalu melayani suami dan mendapatkan ridho suami serta mendidik anak yang dititipkanNya~ dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, maka akan keasikan sendiri menjalani itu dan menikmatinya sampai lupa semua tentang balasan yang akan diberikan.

Tapi terkadang, ketika merasa sangat lelah dan capek, mengingat betapa banyak dan besarnya balasan yang akan diberikan meningkatkan semangat untuk bisa bangkit lagi dan menghilangkan rasa lelah dan capek itu. Apalagi kalau bukan kita sendiri yang mengingatkan, melainkan suami. Semangatnya bisa berkali-kali lipat. ^^

Semangat buat para wanita di luar sana yang akan menjadi istri dan seorang ibu..!! ~terlebih buat yang sudah menjadi istri dan seorang ibu~ 😀

Keinginan

Lagi pengen banget liburan

Lagi pengen jalan-jalan

Lagi pengen ngumpulin foto2, dicetak, terus masukin album ~kebetulan ada hadiah pernikahan berupa album foto~

Lagi pengen belanja-belanja segala kebutuhan baby ~gak sabaran~

Lagi pengen segera menyelesaikan pembuatan web ~usaha online~ dan segera launching

Dan sekarang, lagi pengen banget makan ketoprak 😛

Semiliar Cinta untuk Ayah

Baru saja menyelesaikan baca buku ini: “Semiliar Cinta untuk Ayah”.

Semilyar Cinta untuk Ayah
Image by me @momopururu

Yak, dari judulnya aja ini adalah kisah tentang ayah. Dan memang buku ini adalah kumpulan cerpen yang semuanya mengisahkan tentang ayah mereka dan pendapat mereka mengenai ayahnya. Mulai dari yang ayahnya galak, aneh, baik, sampai yang gak punya ayah.

Ada 1 cerpen yang sampai si penulis menuliskan cerpennya, si penulis tetap gak tergugah hatinya untuk mulai menyukai ayahnya ini. Bahasa gampangnya sih, masih membenci ayahnya sampai saat si penulis nulis itu. Judul cerpennya “Produk Gagal”.

Ada juga yang menceritakan pamannya, bukan ayahnya. Karena memang, dia ditinggal ayahnya sejak kecil. Bukan karena ayahnya meninggal, tapi karena ayahnya meninggalkan ia dan ibunya dan menikah dengan wanita lain. Dan sejak saat itu, dia bener2 putus hubungan/komunikasi dengan ayahnya itu. Judulnya “Hidup Tanpa Ayah”

Ada lagi yang kisahnya sedikit bikin saya sedih ~sampe bikin saya nangis, huhu~. Eh, tapi sedihnya bukan karena ceritanya yang sedih, tapi bikin saya inget gimana kehidupan saya sendiri dan jadi mensyukuri yang ada sekarang.

Tapi, ada juga beberapa cerpen yang agak sedikit monoton. Maksudnya monoton adalah, kisahnya sama aja, sejenis gitu. Jadi, begitu baca awalnya mirip, saya udah nebak akhirannya gimana.

Afterall, buku ini bagus untuk mengingatkan kita kembali tentang ayah. Jadi, gak melulu tentang ibu.

Ibu memang harus kita hormati, bahkan tiga tingkat di atas ayah. Namun, tahukah kalian, di hari akhir nanti saat pengadilan Tuhan tiba, di pundak seorang ayahlah tanggung jawab terberat itu berada

~Mancing Ikan Penuh Makna, Aki Rehiko~

Momopururu

Apa itu momopururu? hehe

Saya suka sekali menggunakan nama ini, entah kenapa. Judul blog saya momopururu. Twitter saya momopururu. Judul plurk saya momopururu. Facebook pun momo.pururu. Awalnya sih kepengen momo aja, tapi kependekan, akhirnya saya karang-karang lagi jadi momopururu.

Dan, kata momo sendiri itu muncul dari tokoh di suatu drama yang saya suka, hehehe. Waktu itu nonton drama Jepang, judulnya kimi wa petto, yang main Matsumoto Jun. Nah, di situ dia dikasih nama momo ama majikannya. Karena saya suka banget ama Matsumoto Jun, akhirnya saya juga jadi suka banget ama nama momo.

Ini dia penampakan si momo itu 😛 :

Image by riechanster

 

So, if you ever heard about momopururu, maybe it was me 😛

Hadiah pernikahan paling besar

Silakan mengartikannya secara harfiah. Karena memang kita dapet hadiah pernikahan yang paling besar bentuknya dan paling menuhin rumah (lumayan lah rumah sekarang jadi gak kosong2 amat xp).

Hadiahnya itu rak buku dan dikasih oleh teman-teman dekat saya, Ero, Gema, Pipit, dan Dita. Terima kasih banyak banget buat kalian. Tapi tetep mengharapkan mereka bisa berkunjung ke rumah kita dan melihat hasil rakitan kita, hoho. Ya, ya, rak buku ini dateng-dateng gak langsung berbentuk rak, tapi papan-papan yang harus kita rakit.

Butuh waktu seharian loh buat ngerakit ini *lebay, sesiangan doank ko :p*

Yah, walaupun kita gak jago-jago amat dalam hal pertukangan dan rakit-merakit rak atau lemari, walhasil ada masalah sedikit di raknya. Ah, jangan dibahas bagian masalahnya, yang penting kita berhasil ngerakit rak yang sudah dikirim oleh temen-temen deket saya ini. Terima kasih yaa kalian 😀

Ini dia raknya….

Labil

Eits, tenang… Bukan perasaan saya yang lagi labil, tapi saya labil dalam memutuskan themes buat blog :p *gapenting*

Dari berhari-hari kemarin (mungkin dari minggu lalu) saya merasa ingin mengubah tampilan blog saya, tapi bingung nyari themesnya (maklum, bukan domain sendiri, jadi gak bisa customize themes sendiri, haha). Berhari-hari kemarin tampilan themes ganti mulu tiap hari. Yak, mudah-mudahan hari ini themesnya udah fixed yang ini aja, hoho.

Masih Adaptasi

Fyuuh, akhirnya bisa login ke blog sendiri… *lap keringet*

Sudah berhari-hari, berminggu-minggu *lebay* nyoba login ke dagdigdug gak bisa-bisa, jadinya mau ngeblog ketunda mulu, hisss..

Ah, sudah lupakan tentang gak bisa login, yang penting sekarang bisa ngeblog lagi. 😀

Yak, sekarang saya sudah menjadi ist[R]i dari Ilman Akbar dan tinggal terpisah dari kedua orang tua kami, tinggal di surga dunia kita sendiri (rumah kontrakan maksutnya :p). Sudah hampir 3 minggu dan saya masih menyesuaikan diri hidup cuma berdua, menyesuaikan diri menjadi ist[R]i orang, dan menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari.

Minggu pertama nikah, ceritanya sih kita bulan madu *cieh* ke Bandung selama 3 hari 2 malem dan berangkat tepat setelah acara selesai terus pulang hari Selasa. Pulang bulan madu niatnya sih mau langsung ngisi rumah kontrakan kita itu (rumahnya gak jauh-jauh banget sih dari rumah orang tua Ilman), tapiii keinget belum ada apa-apa di rumah kita itu jadilah baru bisa ditinggalin malem jumatnya. Belum ada apa-apanya bener-bener masih kosong. Jadilah seminggu pertama nikah itu ribet bawa-bawa barang dan beli barang-barang buat isi rumah kita. Sampe minggu ke 2 masih aja ribet ngurusin rumah, beli barang-barang yang kurang, beli barang-ini-itu-tetek-bengek urusan rumah lah pokoknya. Baru agak lebih beres dan rapi itu di akhir minggu ke-2.

Jadilah di awal minggu ke-3 saya baru benar-benar menyesuaikan diri menjalani kehidupan baru. Bangun pagi harus pagi, harus punya waktu untuk sempet masak, nyuci, dsb sebelum berangkat ke kantor. Yup, pagi-pagi waktunya sangat terbatas, sering banget berangkat kerja agak lebih siang dan agak telat :p

Terus, pulang kerja harus cepet-cepet pulang biar sampe rumah masih sempet masak makanan untuk makan malam kita berdua. Harus cepet-cepet biar makannya juga gak kemaleman dan biar malemnya bisa ngerjain kerjaan lain lagi (kerjaan rumah, kerjaan tambahan, dsb). Dan tidur juga gak bisa malem-malem banget biar besok paginya bisa bangun pagi lagi.

Yap, saya belum terbiasa dengan hal kaya gini. Sekarang sih ngerasa masih ribet banget tapi kalo dijalanin terus pasti saya jadi biasa dan itu semua udah jadi hal yang mudah buat saya.

Daan, saya semangatt banget-banget dan sama sekali gak merasa capek akan hal ini, Alhamdulillaaah. Ya, semua itu tentu karena memang sudah menjadi kewajiban saya yang telah berkomitmen menikah dan menjadi seorang ist[R]i ini 🙂