a) “Sekali suami minum air yang disediakan oleh isterinya adalah lebih baik dari berpuasa setahun”.
b) “Makanan yang disediakan oleh isteri kepada suaminya lebih baik dari isteri itu mengerjakan haji dan umrah”
c) “Mandi junub si isteri disebabkan jimak oleh suaminya lebih baik baginya daripada mengorbankan 1,000 ekor kambing sebagai sedekah kepada fakir miskin”.
d) “Apabila isteri hamil ia dicatitkan sebagai seorang syahid dan khidmat kepada suaminya sebagai jihad”.
e) “Pemeliharaan yang baik terhadap anak-anak adalah menjadi benteng neraka, pandangan yang baik dan harmonis terhadap suami adalah menjadi tasbih (zikir)”.
f ) “Tidak akan putus ganjaran dari Allah kepada seorang isteri yang siang dan malamnya menggembirakan suaminya”.
g) “Apabila meninggal dunia seorang dan suaminya redha, nescaya ia dimasukkan ke dalam syurga”. (Hadis Riwayat Tarmizi)
h) “Seseorang wanita apabila ia mengerjakan sembahyang yng difardhukan ke atasnya, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatan dirinya dan taat kepada suaminya maka berhaklah ia masuk syurga dari mana-mana pintu yang ia suka”. (Hadis riwayat Anas Bin Malik)
Poin g menunjukkan betapa mudahntya masuk surga bagi para wanita, melalui ridho suami. Jadi untuk yang sudah menikah, ridho suami adalah segalanya deh 😀
Bukan, postingan ini bukan postingan saya norak baru dapet rezeki, sama sekali bukan. Tapi, saya benar-benar kembali diingatkan kalau rezeki itu ya rahasia Allah, sama seperti jodoh dan kematian.
Bangun pagi-pagi, blogwalking kemana-mana lalu tanpa sengaja menuju blog http://hanadoank.wordpress.com/ dan langsung terpaku dengan postingan paling atas.
Mungkin kau tak tahu di mana rizqimu. Tapi rizqimu tahu di mana engkau. Dari langit, laut, gunung, & lembah; Rabb memerintahkannya menujumu.
Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.
Tugas kita bukan mengkhawatiri rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban “Dari Mana” & “Untuk Apa” atas tiap karunia.
Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia; dia alpa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.
Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya mati.
Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya.
Kita bekerja tuk bersyukur, menegakkan taat, & berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.
Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki bayinya? Ikhtiar itu laku. Rizqi itu kejutan.
Ia kejutan tuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga. Tugasnya cuma menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.
Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita meminta & Allah memberi karunia; jaga sikap saat menjemputnya & jawab soalanNya, “Buat apa?”
Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia; lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab & haramnya akan di’adzab.
Banyak yang mencampakkan keikhlasan ‘amal demi tambahan harta dikata tuk bantu sesama; lupa bahwa ‘ibadah apapun semata atas pertolonganNya.
Inilah hidup kita; Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in; kita mengibadahiNya & memohon pertolonganNya agar mampu menyempurnakan ibadah padaNya.
Dengan itu kita mohon “Ihdinash Shirathal Mustaqim”; petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di akhirat.
Maka segala puji bagi Allah; hanya dengan nikmatNya-lah menjadi sempurna semua kebajikan.
Salim A. Fillah
Pernah seorang sahabat memberi saya buku yang dikarang oleh Salim A. Fillah juga, “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim” judulnya. Saat itu saya sedang galau dengan keadaan diri. Saat itu saya seperti kembali mencari jati diri. Siapa saya? Saya hidup untuk apa? Siapa jodoh saya?.
Iya, saat itu saya memang sangat galau masalah jodoh. Bukan karena saya sudah terlalu tua untuk bisa menikah ~saat itu saya baru berumur 22 tahun~, hanya saja saya sedang patah hati dan terlalu berharap kepada manusia. Padahal seperti yang selalu saya baca dan dengar, berharap kepada manusia, kepada sesuatu yang tidak kekal hanyalah membawa kegelisahan. Berharaplah pada Allah yang tidak akan pernah membuatmu sakit hati atau kecewa.
Buku dari sahabat itu seakan-akan mengingatkan saya kembali bahwa saya seorang muslim dan selayaknya seorang muslim, saya haruslah memberi manfaat.
Menjadi muslim adalah menjadi kain putih. Lalu Allah mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan cinta, rahmat bagi semesta alam
Saya kembali memaknai kebermanfaatan diri, mencoba menjadi orang yang lebih baik dan hanya berharap padaNya. Maka, saat itu, tanpa saya sangka, Allah menghadirkan jodoh untuk saya. Seorang suami yang sangat saya kagumi dan cintai. Ya, Allah memberi suami dan keluarga agar kebermanfaatan saya sebagai muslim teruji dengan mengurus mereka, berjihad dalam keluarga.
Pernikahan
Sekarang? Saya kembali galau akan masalah lain, masalah rizky. Melalui tulisan itu, saya kembali diingatkan bahwa rizky itu sudah diatur olehNya. Dan kembali Allah memberi pengajaran kepada diri ini untuk selalu yakin kepadaNya dan hanya bergantung padaNya.
Oke, setiap kali saya merasakan sesuatu mengenai keluarga saya ~maksudnya tidak begitu bersyukur~, saya selalu langsung ditunjukkan bahwa masih banyak orang lain yang kehidupannya tidak lebih baik dari saya, bahkan mungkin keadaan saya jauh lebih baik darinya. Dan hal itu selalu berhasil membuat saya mensyukuri, bahkan lebih menghargai kembali apa yang saya punya.
Yang paling baru sih, saya itu orangnya gak sabaran kalau melihat suami tidur terus. Saya jadi orang yang memusuhi tidur kalau melihat dia begitu. Walhasil, saya kesal dan jadi kurang bersyukur punya suami seperti dia.
Nah, dalam keadaan saya yang begitu, saya langsung ditunjukkan kalau suami saya punya banyak kelebihan. Yaah, kelebihan itu juga jadi terlihat karena ditunjukkan olehNya lewat orang lain yang tidak merasakan itu. Contohnya, dia rela pulang siang demi menggantikan saya mengurus Naia ketika saya sedang sakit dan benar-benar tidak beranjak dari tempat tidur. Bahkan, keesokan harinya dia bolos kerja karena saya masih belum sembuh.
Pada waktu saya terkena baby blues, dia juga rela gak masuk kerja demi menemani saya di rumah mertua dan menenangkan diri saya. Keesokannya selama di kantor dia gak lupa menanyakan kabar, entah lewat sms, chatting, atau telpon. Dan sepulangnya dari kantor, dia memberikan kejutan yang membuat baby blues kemudian hilang. Huaah, yang ini benar-benar tidak terlupakan.
Hal lain lagi. Setiap pagi dia selalu mau memandikan Naia karena saya sedang masak untuk sarapan dan bekal makan siangnya nanti. Pokoknya itu sudah menjadi jadwal harian. Naia mandi pagi dimandikan papa, mandi sore sama mama. Nah, gak semua keluarga bisa seperti itu kan? Makanya, kalau saya rasakan lagi, itu benar-benar suatu kelebihan yang dia punya dan saya harusnya mensyukuri banget nikmat itu.
Atau, kalau pagi hari saya sibuk mencuci, dia menggantikan saya untuk masak. Tapi gantian saya yang memandikan Naia jadinya. Hehehe 😀
Kalau malam hari saya terlalu lelah tapi Naia masih belum tidur, dia yang menggantikan saya memberi Naia makan plus mengajak bermain Naia sampai Naia tertidur.
Walaupun kita tidak memiliki “mba” untuk membantu, tapi dia sudah sangat meringankan beban saya dalam mengurus rumah dan Naia.
Alhamdulillah juga suami kerja di tempat yang agak bebas. Maksudnya bebas adalah waktunya gak terlalu ketat dan bisa ijin dengan mudah. Alhamdulillaaah banget. Lagipula tempatnya juga dekat dengan rumah kontrakan kami, 15 menit naik sepeda lah. Iya, suami juga naik sepeda kalau ke kantor, bike to work lah. Lumayan ngirit ongkos, hihihi.
See, apalagi coba yang gak bisa saya syukuri? Sangat perhatian dengan keluarga, perhatian juga sama saya, sangat menghargai komunikasi, menghargai hubungan juga, dan jarak kantornya juga dekat. Dan saya kesal hanya karena tidurnya yang lama? Tidak melihat berjuta kelebihannya dan hanya fokus kepada 1 kekurangannya? huah, durhaka sekali saya sebagai istri, ckckck.
Sekali lagi, terima kasiiih Muhammad Ilman Akbar telah menjadi suami yang “family man” banget, hehehe. Maafkan saya ya kalau saya terkadang gak mensyukuri itu, maaaaf banget 😀
Entah sejak kapan saya ingin sekali menulis tentang ini. Mertua.
Jadi, seperti apa mertua idaman itu? Buat saya mertua saya adalah mertua idaman, hihi. Somehow saya kagum sekali dengan mereka, khususnya dengan ibu mertua. Oh, tentu saya mengagumi orang tua saya melebihi siapapun, dan mereka sudah menjadi orang tua juga buat saya sejak saya menikah.
Baru saja blogwalking dan membaca blog http://kakmila.wordpress.com/ tentang family value dan jadi teringat dengan mertua, khususnya ibu mertua. Beliau seorang wanita karir, seorang istri, dan seorang ibu dari 4 anak (3 laki-laki dan 1 perempuan).
Buat saya yang melihatnya, beliau selalu punya semangat lebih untuk melakukan segala hal. Mengurus rumah tangga dengan seabreg pekerjaan rumah sehingga rumah terjaga rapi dan bersih, juga bekerja sebagai PNS yang merupakan pekerjaan yang tidak mudah.
Bangun paling pagi dan harus segera masak demi membekali anaknya yang masuk sekolah pagi dengan bekal makan siang. Setelah masak harus secepatnya siap-siap berangkat ke kantor yang membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan. Begitu pulang kantor, harus secepatnya sampai di rumah untuk masak makan malam. Dan kalau ada pekerjaan kantor yang belum selesai karena terlalu banyak, biasanya dibawa ke rumah sambil dikerjakan malam harinya ~yang memang sangat jaraaaang sekali~.
Setiap hari Sabtu adalah jadwal mencuci. Berhubung 3 sekarang 2 anaknya adalah laki-laki ditambah pakaian suami dan pakaian sendiri, jadi semua cucian ya dicuci olehnya sendiri. Biasanya dibantu menjemur oleh anak perempuannya. Belum lagi kalau weekend ada acara tertentu ~acara kantor, acara reuni, atau undangan pernikahan~, jadwal mencuci jadi sedikit terimprovisasi.
Selain itu, berhubung beliau memang akuntan, jadi memang sangat ketat terhadap urusan keuangan ~yang harus saya contoh juga~. Beliau bisa menabung sehingga bisa membeli rumah dalam waktu 3 ~atau 4 ya?~ tahun pernikahan juga semua biaya pendidikan sudah tidak perlu dipusingkan lagi, juga bisa menjadi donatur tetap sebuah yayasan, serta selalu memberi bingkisan lebaran di setiap idul fithri.
Dalam urusan rumah tangga, dulu sih memang memakai jasa pembantu tapi sejak anak-anak sudah cukup besar dan si kakak sudah bisa mengasuh adik-adiknya, sampai sekarang semua pekerjaan rumah bisa dikerjakan sendiri. Untuk urusan kebersihan rumah, sekarang dibagi ke anak-anaknya, jadi biasanya saat weekend seisi rumah berbagi tugas membersihkan rumah.
Sebelum menikah saya bertanya-tanya bagaimana hubungan saya dengan mertua kelak. Dan Alhamdulillah saya memiliki mertua yang begitu baik terhadap menantunya, tidak segan mendidik namun tetap bersahaja, bahkan rela menghabiskan cuti tahunannya demi menemani saya sehabis lahiran :P.
Ah, masih banyak hal-hal baik lainnya yang akan membuat postingan ini begitu panjang, jadi saya hentikan di sini saja. Saya sekarang cuma “wondering” bisakah saya menjadi mertua idaman buat menantu saya kelak? *mikirnya kejauhan 😛
Sebelum menikah saya senang mengoleksi barang-barang yang tidak biasa ~apa biasa juga ya~ seperti plastik, kertas surat, dan tiket nonton. Kebiasaan mengoleksi barang-barang seperti itu terbawa sampai setelah menikah, malah nambah koleksinya, hihi.
Ini nih koleksi-koleksi saya sekarang.
Souvenir Pernikahan
Koleksi Souvenir
Yang ini terinspirasi dari mertua :p. Souvenir pernikahan memang banyak yang berguna dan bisa digunakan, tapi kalau dibuka dan malah gak kepake kan sayang, yaudah dikumpulin aja deh. Jadi, semenjak nikah saya menyediakan 1 kotak di rak untuk tempat koleksi souvenir ini, hehe.
Kebanyakan sih ya dari nikahan temen, ya darimana lagi? hee. Baru sedikit juga sih, ya namanya juga temen yang nikah juga baru sedikit :D.
Undangan Teman-teman
Tempat Segel Roti Tawar
Tempat Segel Roti Tawar
Segel Roti Tawar
Ah iya, yang bisa dipakai ya saya pakai. Kaya souvenir Leni-Sidik berupa tempat tissu, jadinya ya kita pake deh. Terus souvenir Fithri-Yudha berupa pohon belimbing sudah tumbuh tinggi di rumah mertua 😀
Ada juga yang souvenirnya saya yang mendesain, cuma 1 sih, tapi ya lumayan buat kenang-kenangan saya ~jadi inget pernah mendesain souvenir~ 😀
Souvenir Gema-Nasrul
Undangan Pernikahan
Gak jauh-jauh dari yang berhubungan dengan pernikahan, kali ini saya ngumpulin undangannya, hihi. Kalo yang ini semenjak undangannya Fithri-Yudha (temen kuliah) nih saya ngumpulinnya. Undangan saya sendiri juga ada :P, sengaja disimpen buat kenang-kenangan *halah*.
Tas CGT
Souvenir Gema-Nasrul
Plastik
Iya, plastik. Yang ini sih dari sejak sebelum menikah seperti yang saya ceritakan di awal. Plastik-plastik belanjaan (biasanya bekas belanja baju, sepatu, makanan, atau aksesoris) saya simpan dan saya lipat rapi di tempatnya. Tempat penyimpanan yang saya pakai berupa kardus dan map. Map untuk plastik-plastik berukuran kecil, kardus kecil ya untuk plastik-plastik yang lebih besar.
Souvenir Gema-Nasrul
Souvenir Agung
Tas CGT
Oiya, selain ngumpulin untuk hobi, saya juga ngumpulin untuk plastik sampah dapur dan sampah daur ulang. Plastik yang agak besar saya gunakan sebagai plastik sampah, yang ini biasanya plastik bekas belanja bulanan. Nah, plastik yang besar banget untuk plastik daur ulang karena biasa untuk membuang kardus-kardus tidak terpakai atau ya sampah-sampah yang bisa didaur ulang.
Segel Roti Tawar
Hehehe, yang ini juga semenjak saya menikah nih mulai koleksinya. Jadi ya ada deh dari tahun 2011-an, terutama tengah tahun terakhir. Kebetulan suami punya gelang USB, nah tempatnya saya pakai deh untuk tempat segel-segel ini. Gelang USBnya ya dipakai suami 😀
Plastik Kecil Favorit
Plastik Kecil Favorit
Tas Simple ~apa bisa dibilang goodie bag ya~
Kebanyakan si ya emang goodie bag dari berbagai acara, tapi saya emang suka tas-tas sederhana kaya gini. Tas yang paling awal saya punya yang akhirnya bikin saya mengoleksi tas-tas sejenis itu tas yang saya beli sewaktu acara di kampus, CGT (Computer Get Together) pada tahun 2008. Ada yang tas bekas beli sepatu dan tas dari kantor sewaktu saya KP.
Souvenir Agung
Tas Lipat
Nah, ada beberapa tas yang bisa dilipet kaya tas dari kantor tempat KP dan tas dari acara TEDx Jakarta. Saya suka banget dengan tas-tas itu, simple, bisa dibawa2 untuk belanja. Pernah saya belanja pake itu aja, jadinya gak pake plastik dari tokonya, lumayan menghemat penggunaan plastik laah 😀
Tas Lipat
Waktu persiapan pernikahan, saya mau souvenir saya adalah barang yang bisa dipake dan berguna. Sempet kepikiran beberapa barang, ya kaya tempat lilin, magnet kulkas, dompet HP, tempat tissue, dan yang terakhir tas lipat. Karena saya dan suami benar-benar suka tas lipat yang dari TEDx itu, akhirnya diputuskan jadi tas lipat aja deh.
Sempet nyari-nyari online yang tas lipat dan sempat bertanya juga ke produsen tas TEDx, tapi ternyata harganya mahal, jauh banget di atas budget yang ada, huhu. Udah mau desperate aja dan memutuskan souvenir yang lain saja. Tapi saya akhirnya jalan sendiri ke pasar Jatinegara sama kakak saya, eh nemu deh tas lipat batik yang bagus yang akhirnya jadi souvenir saya dengan harga yang lebih terjangkau *Alhamdulillah yah* 😀
Souvenir Mia Bram
Label
Undangan Teman-teman
Tiket Nonton
Yap, yang ini juga lanjutan dari sebelum menikah. Tapi sekarang-sekarang agak berkurang karena sejak melahirkan saya tau diri untuk jarang nonton. Berhubung saya gak tega juga ninggalin anak dan gak tega juga sama penonton yang lain kalo bawa anak, jadinya ya jaraaang banget nonton.
Kayanya sih baru sekali deh saya nonton sejak melahirkan. Itu juga gak gampang, saya dan suami minta adik ipar untuk ikutan nonton tapi gantian. Jadi saya dan suami nonton, adik ipar jagain Naia, baru setelah saya selesai nonton, dia deh yang nonton, repot yah. Saya perlu keluar beberapa kali juga kalau Naia minta nenen. Yaudah, sekarang-sekarang mikir-mikir lagi deh kalau mau nonton di bioskop 😀
Menurut saya somehow kedua artikel tersebut memiliki hubungan satu sama lainnya. Jika kita tidak tahu alasan mengapa kita punya anak, apakah kita bisa segitu repotnya memikirkan ingin menjadi SAHM (Staying At Home Mother), WAHM (Working At Home Mother), atau sebutan M-M lainnya? Tentu tidak. Yap, hal tersebut menunjukkan kalau kita benar2 telah siap memiliki anak. Bahkan jika sudah memikirkannya jauh sebelum menikah lebih bagus lagi 😀
Lalu, apakah tidak sama capek dan lelahnya bagi penyandang sebutan M-M yang banyak itu? Menurut saya apapun pilihannya minumnya teh botol s*sr* #eh, semua sebutan M itu sama lelahnya. Tapi mereka juga selalu menyadari kalau kelelahan itu akan segera sirna begitu mereka melihat anaknya yang menakjubkan.
Ketika capek dengan segala urusan rumah tangga, begitu bercanda lagi dengan anak hilanglah rasa capek itu seketika. Ketika kesal dan marah dengan suatu keadaan, melihat anak yang senyum begitu senangnya dan tertawa kita jadi ikut tertawa dan terlupakanlah rasa kesal dan marah itu. Ketika sedang “galau” ~hayah, ibu2 bisa galau juga kan? :p~, melihat anak tidur dengan tenangnya hati menjadi tentram kembali. Huah, betapa banyak kesenangan dan ketenangan yang bisa diberikan oleh anak kita, hanya cukup dipikirkan kembali, dilihat lebih dekat lagi, dan dirasakan dengan hati terbuka. Ya, hati terbuka. Ada kan ibu2 yang gak peduli dengan kebahagiaan2 kecil dari anak seperti itu dan cuma merasakan repotnya?
Ah, jadi hampir ngelantur, padahal pertanyaannya cukup singkat dan sudah terjawab. Sepadankah capek dan segala keringat yang kita keluarkan demi mengurus anak dengan kebahagiaannya?? Ternyata tidak kan? Kebahagiaan yang kita dapatkan justru sangat melebihi rasa capek dan keringat yang kita keluarkan. 😉
There are so much beautiful things if we start to see our life deeper and think more positive. Yea, we just need a little more effort so that we can be grateful about our life and see how beautiful it is.
Being Thankful
Yesterday, me, my husband, and Naia was enjoying the Sunday evening with doing some walk in our neighborhood and start to walking down the former candidate of our rented house.
There are some house which the neighbors are dominated by men. There are some house that doesn’t get any sunlight because there is a big wall right in front of the house. And there are some house that right next to the pond (just thinking when Naia start to walk, she will not be able to stop her step until she fall right to the pond :P). By looking at those, we start to think how lucky we are to get the house we live in now and we start to be more grateful.
That’s not all. Last year, my husband ever mentioned that he wanted to open some small restaurant and looking for the person who wanted to spend some money on it and the person who could running the operational. Sounds impossible for me. What is my husband do if he couldn’t spend his money and didn’t do the operational either?
But, last Friday the small restaurant called “Kedai ORI12” was officially opened. ORI12 means Oscar, Ricky, and Ilman in 2012. That is my husband’s group of S2, they are studying the master of creative business at IDS, year 2012. And yea, that restaurant belongs to my husband and his friends.
Being Thankful
Kedai ORI
Menu
Interior
At the beginning, we do forget all of my husband’s desire to open a small restaurant like that. But after I visited those restaurant, I’ve got some flashback when my husband mentioned his desire a year ago. And guess what? After I thought back, My husband doesn’t spend some money on it and doesn’t do the operational either. Hahah, dream comes true in a year, what a luck..!
Then, what my husband do? He do the marketing and finance, heheh.
And those thought surely make us believe and make us be more grateful of Allah’s greatness. Alhamdulillaah. Now, I’m start to think how good and how meaningful my life motto is.
Happy to be grateful instead of grateful of being happy ^^
Bahagia karena bersyukur, bukan bersyukur karena bahagia ^^
You will always get what you need the most, not what you want the most.
Yap, saya sering sekali mengalami perdebatan dalam pikiran saya sendiri. Perdebatan kenapa kehidupan saya begini dan kenapa begitu. Karena itu, saya jadi sering menyimpulkan kalau saya orangnya gampang sekali iri dengan orang lain, termasuk dalam hal harta.
Cukup sering saya berpikir kalau saya iri dengan teman-teman saya yang mempunyai harta lebih melimpah dari saya. Saya merasa hal itu manusiawi, lha wong saya juga manusia, perempuan pula, yang memang mudah tergiur dengan harta duniawi. Tapi hal itu tidak semata-mata menjadikan saya menuhankan harta dunia dan terobsesi dengan kekayaan.
Oke, kehidupan rumah tangga kami jauh sekali dari yg namanya kaya raya ataupun punya harta melimpah. Rumah saja kami masih mengontrak. Tapi sungguh banyak sekali yang saya syukuri dari pernikahan kami ini (walaupun usianya baru seumur jagung).
Kalau belum menikah saya mungkin bisa punya handphone lebih bagus dari yg sekarang saya miliki, punya baju2 baru yg bagus2 juga, dan banyak hal lainnya. Tapi mungkin saya gk bisa dapet ketenangan hati dan kepercayaan diri seperti sekarang.
Merasa begitu dicintai, merasa dikagumi, disayangi, dimanja, dilindungi, dan ah banyak hal lainnya yg bisa saya dapatkan dari suami saya, termasuk rasa syukur. Dan sungguh semua inilah yg saya butuhkan. Allah memang selalu memberi apa yg dibutuhkan hambaNya bukan?
Maka sekali lagi perdebatan pikiran saya itu saya akhiri dengan
Maka nikmat tuhanmu yg mana lagi yg kau dustakan?
Dan dengan doa semoga keluarga kami selalu diberkahi, diberikan perlindungan, harta yg halal, serta keturunan yg soleh/ solehah. Aamiin..
Sebelum kejadian kemarin, saya percaya sekali dan yakin kalau memang masih banyak orang-orang baik yang akan mengembalikan barang temuannya, apapun barang itu. Tapi, saya hanya sebatas yakin tanpa ada rasa kagum yang begitu sangat.
Kemarin, ketika saya mengalami sendiri dan membuktikan bahwa memang ada orang seperti itu, saya benar-benar menjadi kagum akan kebaikannya dan semakin sangat kagum akan kebesaranNya.
Jadi, ceritanya kemarin itu kita (saya, suami, dan Naia) ingin pulang dari rumah orangtua di priuk dan kembali ke kontrakan. Karena barang bawaan kita cukup banyak, akan merepotkan sekali kalau kita nekat naik angkutan umum, akhirnya kita memutuskan untuk naik taksi.
Biasanya kalau kemana-mana itu Naia pasti saya gendong pake gendongan, tapi kemarin enggak karena saya ingin Naia bisa bergerak bebas di taksi itu. Jadilah gendongan yang saya bawa saya pegang-pegang aja, di taksi juga digeletakin aja.
Begitu sampai rumah dan turun, saya bertugas bawa Naia dan tas kecil dan suami bertugas bawa barang-barang besar yang ada di bagasi. Begitu cerobohnya saya sampai melupakan si gendongan bayi itu ~padahal itu paling penting~ huhu.
Gendongan
Ketika mengecek barang di bagasi, suami yakin kalau sudah tidak ada barang apapun lagi. Sedangkan saya, saya mengecek barang yang ada di bangku, dan saya sangat yakin kalau sudah gak ada barang apapun lagi.
Pas di rumah, ketika suami mau menjemur pakaian yang dicuci, barulah kita sadar kalau gendongan itu tidak ada, hiks. Dicari-cari di dalam dan sekitar perjalanan ke rumah gak ada. Begitu diingat-ingat lagi saya yakin kalau gedongan itu ketinggalan di taksi yang tadi, dan mungkin ada di bawah bangku penumpang. Hiks, hiks, saya benar-benar sedih. Masalahnya, gendongan yang kita punya itu bagus dan itu merupakan hadiah dari teman-teman kuliah kita. Dan saya sangat menyesal sudah menghilangkan itu.
Sampai suami ke warung dan membelikan saya minuman untuk menyegarkan diri, saya masih sedih. Walaupun akhirnya suami berusaha membujuk dan menenangkan hati saya, tetap saja gak mempan menghilangkan kesedihan saya. Sampai akhirnya suami mengeluarkan kata-kata yang benar-benar membuat saya sadar.
Sudahlah, kembalikan ke yang punya
Jleb, seketika itu saya tersadar dan hati saya benar-benar menjadi tenang. Kenapa saya harus bersedih? toh semua memang hanya titipan bukan? hehe. Yang punya itu maksudnya siapa? Ya Allah. Apapun jenis dan bentuknya, semua yang ada di dunia pasti milikNya kan? Dan Dia berhak menitipkan itu pada siapa saja 😀
Sudah tenang akhirnya kita lanjut makan sambil bersantai ~oiya, di luar sedang hujan saat kita makan ini~. Saat makan tiba-tiba pintu kontrakan kita diketuk dan orang itu mengucapkan “Assalamu’alaikum”. Ternyata, jeng-jeeeng, si bapak supir taksi yang tadi balik lagi dan mencari rumah kontrakan kita untuk ngembaliin gendongan yang tadi ketinggalan di taksinya, huhu. Sangat-sangat terharuu Kita mau ngasih sekedar uang ganti dan uang repot sebenernya, tapi begitu dikejar dia sudah pergi dan sudah tak terlihat lagi.
Kita sama sekali lupa siapa namanya, gak nyatet nomor taksinya, apalagi nyatet nomor plat taksinya. Yang kita benar-benar ingat itu dia adalah supir taksi Putra.
Taksi Putra
Sekarang balasan untuknya benar-benar hanya bisa diserahkan kepada Allah. Semoga si bapak supir taksi itu selalu diberkahi dan dilimpahkan rejekinya serta dijaga keikhlasannya, Aamiin.
Jadi, yang saya ingat dari workshop kemarin adalah kata-kata penutup ~penutup atau jawaban pertanyaan audience yah, lupa saya~ tentang perempuan atau yang nantinya jadi ibu. Kata-katanya gak inget banget-banget, seinget saya sajah lah ini 😀
Perempuan yang lebih tinggi tingkat pendidikannya harus bersedia menjadi ibu rumah tangga dan mengasuh sendiri anak-anak mereka karena merekalah penentu masa depan anak-anak mereka dan bangsa.
Jadi, teruntuk para perempuan:
Intinya, perempuan itu harus memang sudah siap untuk jadi orangtua begitu mereka memutuskan untuk menikah. Jadi waktu untuk dirinya sendiri cukup dari sejak mereka single sampai mereka hamil. Begitu melahirkan, waktunya mereka untuk mendidik anak-anak mereka sendiri di rumah.
Yaa, gak dengan nganggur juga sih, sekarang kan banyak banget ibu-ibu yang bekerja dari rumah, entah bisnis online, part time, atau pekerja freelance seperti saya. Pastinya bukan yang bekerja full time yang sudah tentu waktu untuk mengasuh sangatlah kurang, bahkan mungkin tidak ada. Pasti ada jalannya deh kalau sudah berniat untuk mengurus anak sendiri tanpa diserahkan ke pengasuh atau orang tua.
Untuk apa sekolah dan berpendidikan tinggi jika anak kita diasuh oleh yang pendidikannya lebih rendah bukan? ~maaf, saya bukan mengecilkan pengasuh atau orang tua ya, hanya saja akan sayang sekali jika perkembangan anak kita sendiri bukanlah kita sendiri yang pertama mengetahuinya. Lagipula, dengan kita mengasuh dan mendidiknya sendiri dengan tangan kita sendiri, kita jadi memiliki hubungan yang lebih dekat dan lebih mengerti diri anak-anak kita kan? Setidaknya inilah yang saya yakini. 😀
Mengasuh Anak
Nah, setelah anak terakhir, anak terakhir loh ya sudah terbentuk pribadinya dan sudah bisa mandiri, barulah kita bisa sibuk dengan diri kita lagi. Entah dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau menjajaki dunia pekerjaan demi mengejar karir lagi. Ini sih yang dikatakan oleh bunda Elly, tapi saya sangat-sangat setuju.
Saya pun punya rencana untuk itu. Saya sangat ingin sekolah kuliah lagi dan sibuk dengan diri saya lagi. Tapi nanti, saya yakin pasti akan ada waktunya untuk itu. Sekarang saatnya saya memberikan seluruh waktu untuk mengasuh anak 😀 ~yah, pekerjaan freelance ini kan biar gak bosen aja di rumah, ya gak? hehehe.
Alhamdulillah saya merasa telah mengambil keputusan yang tepat dengan keluar dari pekerjaan dan menjadi freelancer demi mengasuh anak. Semoga saya bisa mendidik dan mengasuhnya hingga ia dewasa dan menjadi orang yang berguna nantinya, baik bagi dirinya sendiri, lingkungannya, bangsanya, bahkan agamanya, Amiiin.
Mengapa saya tidak bekerja?
Bukankah saya dokter? Memang.
Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu.
Namun saya pikir : buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yg barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya
tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri ? Anak saya akan tidak memiliki ibu.
Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi
tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun- tahun kami bertiga hidup begitu.”
Jangan biarkan Anak-anak mu hanya bersama pengasuh mereka.
Bagaimana bila dibantu pengasuhan dengan kakek neneknya?
~ Sudah cukup rasanya membebani orangtua dengan mengurus kita sejak lahir sampai berumah tangga.
Kapan lagi kita mau memberikan kesempatan kepada orangtua untuk penuh beribadah sepanjang waktu di hari tuanya.
Mudah2an ini bisa jadi penyemangat dan jawaban utk ibu-ibu berijazah yang rela berkorban demi keluarga & anak2nya.
Karena ingin Rumah Tangganya tetap terjaga & anak2 bisa tumbuh dgn penuh perhatian, tdk hanya dalam hal akademik, tp jg utk mendidik agamanya, karena itulah sejatinya peran orangtua.
Belajar dari kesuksesan orang2 hebat, selalu ada pengorbanan dari orang2 yang berada dibelakangnya, yang mungkin namanya tidak pernah tertulis dalam sejarah.
Berbanggalah Engkau sang Ibu Rumah Tangga, karena itulah pekerjaan seorang wanita yg paling mulia. 🙂
I heard this show from my bestfriends, they said I should watch the show because it’s so funny and so entertaining. The episode I watched for the first time is not so funny at the beginning, so I skipped those and loosing the will to watch the show. But, there is sometimes I feel so bored, then I tried another episode of them. And, the result is, I completely fall in love with the show XP
2 buku ini sangant-sangat direkomendasikan buat yang baru belajar perencanaan keuangan.
Yang pertama, buku karya Ligwina Hananto yang berjudul “Untuk Indonesia yang Kuat, 100 Langkah untuk Tidak Miskin”
Untuk Indonesia yang Kuat
Sebulan kemarin saya dan suami belajar bagaimana merencanakan keuangan keluarga. Kebetulan tahun lalu suami saya punya buku yang berisi mengenai betapa pentingnya kita merencanakan keuangan kita itu. Sudah selesai dibaca dari kapan tau sih, tapi akhirnya bulan lalu kita baca ulang lagi karena kita berniat perencanaan keuangan keluarga kita HARUS lebih baik mulai dari sekarang.
Bukan, manfaatnya bukan cuma untuk diri kita sendiri, bukan untuk memperkaya diri sendiri, tapi dengan merencanakan keuangan kita hingga bisa mencapai kebebasan finansial, kita bisa membantu orang lain dan bisa menguatkan perekonomian negara tercinta kita ini, Indonesia. Kalau ingin “dikomporin” mengenai betapa pentingnya kita merencanakan keuangan, baca deh. Dan, bisa jadi buku ini benar-benar mengubah cara kita mengatur keuangan setiap bulannya.
Saya dan suami baru bener-bener engeh langkah-langkah yang harus secepatnya dilakukan untuk memperbaiki pengaturan keuangan keluarga kita setelah kita baca ulang buku ini lagi.
Yang kedua, buku karya Andreas Hartono yang berjudul “Nasibmu di Dompetmu”
Nasibmu DI Dompetmu
~buat saya judul dan covernya agak norak sih~ 😛
Tapii, buku ini berisi teknis perencanaan keuangan, dan gak kalah pentingnya dengan buku yang pertama tadi. Di sini menjelaskan lebih ke teknis atau perhitungan kasar perencanaan keuangannya. Apa instrumen investasi yang pas serta perhitungan ke depannya. Yap, buku ini mengupas tuntas cara memperhitungkan nilai di masa depan dan cara investasinya.
Nah, perbedaan buku pertama sama buku kedua menurut saya.
Buku pertama lebih ke “why” > mengapa kita harus melakukan perencanaan keuangan dan mengapa hal itu sangat penting. Cara pemaparan buku ini adalah maju ke depan. Jadi dimulai dari penjelasan mengapa kita harus melakukan perencanaan keuangan, menentukan tujuan finansial, menghitung besarnya nilai uang pada tujuan finansial tersebut, lalu menentukan instrumen investasi yang tepat.
Buku kedua lebih ke “how” > bagaimana langkah konkrit kita dalam merealisasikan perencanaan keuangan yang telah kita bikin dan bagaimana menentukan instrumen investasi yang tepat sesuai tujuan keuangan yang direncanakan. Dan cara pemaparannya adalah mundur ke belakang. Pembaca dibuat tergiur terlebih dahulu dari betapa besarnya yang kita bisa dapatkan dari investasi, menentukan investasi yang tepat baru diakhiri dengan tujuan finansial yang dicocokkan dengan instrumen investasi yang tepat tadi.
Begitulah, setelah membaca kedua buku tersebut, kita mulai merealisasikan dan melakukan perencanaan keuangan keluarga sendiri. Pusing juga ngurusin perencanaan keuangan ternyatah sodara-sodara, hahaha. *pusing demi hidup yang lebih baik* 😛
I want to list the 10 things make me happy everyday starting last Sunday, November 25th 2012.
Happy
No, I don’t want to write down all of those in this blog. I’m just saying and sharing those 10 things with my husband right before we go to sleep 😀
So, I have an idea to think about things that make me happy everyday right before I’ve watched the “Hitam Putih” show with Dian Sastro as a guest. She said that to get the mood to do everything is to set our mind with happiness. And, a way to make her happy everyday is to think all the good stuff happened that day. So, she listed 10 things that make her happy everyday.
Yea, I kind of like her idea. So the next day, I tried to do that. And it worked. All the good stuff just popped out in my mind when I think about the things make me happy. That way, we can decrease all the bad feelings we have and remembering just the good ones.
And, this can make you happy everyday. Everyday.
even though you have 1000 reasons to be sad, there will always be a reason to be happy
Jalanin dulu sambil menyempurnakan, atau cari tau dulu ilmu selengkap-lengkapnya baru menjalankan?
Kalau buat saya pribadi sih, buat ibadah saya pilih yang pertama, hehe. Kenapa begitu?
Kalau untuk ibadah kita harus cari tau selengkap-lengkapnya, kapan donk mau mulai menjalani? Lebih baik jalanin dulu sambil terus menerus menyempurnakan dengan ilmu.
Contohnya, memakai jilbab. Waktu dulu saya pertama kali memakai jilbab, apakah saya tau selengkap-lengkapnya mengenai islam secara mendetail? Enggak. Sekarang juga masih jauh dari sempurna sih tapi setidaknya sudah lebih baik dari waktu itu. Oiya, saya pertama kali pake jilbab itu sejak kelas 1 SMA dan alasannya karena ngikut kaka-kaka saya yang sudah lebih dulu pake jilbab.
Sekarang juga banyak ko yang berpendapat “kalau gak dimulai dari sekarang, nanti gak pake-pake”. Kalau menunggu siap hati dan sempurnanya ilmu, mau nunggu sampai kapan? Bukankah berjilbab itu kewajiban?
Oke, itu salah satu contoh aja. Intinya saya berpendapat kalau untuk ibadah, ya lebih baik dijalankan terlebih dahulu. Allah maha pemaaf. Jadi selama kita berniat kalau itu untuk ibadah benar-benar karenaNya, walaupun salah karena kita belum tau, Dia akan selalu memaafkan.
Tapi ketidaktahuan itu jangan selamanya dipelihara. Teruslah mencari tau apakah yang kita lakukan sudah benar atau belum. Maka dari itu sambil memulai ibadahnya, sambil menyempurnakan ilmunya.
Dari selalu belajar, kita jadi tau pertama kali menjalankan ibadah itu sudah benar atau masih salah. Kalau sudah benar Alhamdulillah, kalau salah ya dibenarkan 😀
Then, say only the positive words. Who knows, someday it will be come true 😀
Yea, I just want to remember the lot of things that I said and were granted by Allah.
When I was a kid, I said to my parents and my siblings where I want to study right until the college. And, Alhamdulillah all of those words were granted.
Long before I got married, I said that I want to marry before 25 years old. Last year, I got married at the age of 24. Alhamdulillaaah.
Since I was in high school I said that I want to marry someone that I know, best friend is better . And it was granted too, Alhamdulillaah. I married my college friend whose having the same circle of friendship.
In the last semester of college, I said that I want to be freelancer who can be working from home. So that when I get married and having children, I can still work while raising my children with my own hand. I can keep an eye on my children all day long with my own eyes. And now, I am a freelancer web developer 😉
When I was pregnant, my husband said that he want to have a girl. He imagined the cuteness of children wearing mukena 😛 Now, I am having Naia. Ya, it was granted too, Alhamdulillaah.
It’s the last and the newest. Right after I wrote “Sekedar Update” I have a couple of web project to do. Alhamdulillaah, Allah granted the last point I said wrote.
There are still a lot of words I said that coming true. It just too much to be remembered and to be written. *I forgot it actually 😛
Yap, Allah does hear your pray and make it come true, sooner or later. Always.
Then which of the favours of your Lord will you deny?