Weaning Alias Menyapih

Entah cara menyapih yang saya lakukan ini bisa disebut WWL (Weaning With Love) atau tidak, yang jelas penyapihan ini didasari oleh rasa cinta, hihi.

Walaupun Naia belum berumur 2 tahun *sebentar lagi siih*, saya dianjurkan untuk menyapihnya. Hal ini dikarenakan demi memperbaiki gizi Naia.

Proses penyapihan ini diawali dari kunjungan kami ke dokter gizi menyangkut BB Naia yang jauh dibawah garis normal BB batita seusianya *kasus BB kurang ini pernah saya ceritakan di sini*. Nah, saat kunjungan ke dokter itu, dokter bertanya akan seringnya Naia ‘nenen’ sehari-harinya. Lalu, saat saya mengutarakan betapa sering dan lamanya Naia nenen itu dokter lalu berkata kalau Naia ternyata ‘nyandu’ nenen dan malah asik menjadikan itu sebagai mainan alias ngempeng! Hiks, saya sediiih sekali saat mendengar ini. Saya gak mau anak saya ngempeng tapi secara tidak sadar selama ini Naia ternyata ngempeng T_T Belum adanya pengalaman sebagai ibu sebelumnya *yaiyalaah* ikut serta membuat saya jadi tidak bisa membedakan apakah anak saya ngempeng atau bukan. 

Oke, itu prolognya, sekarang bagian bagaimana proses penyapihan tersebut

[Parenting] Kebiasaan Buruk 7, Papa dan Mama Tidak Kompak

Alkisah *elah, kok pake alkisah yak*. oke, saya ganti..

Suatu malam Bela (bukan nama sebenarnya *halah) ingin menonton televisi dan membujuk sang Ibu agar ia diperbolehkan menonton. Tapi ternyata si Ibu melihat kalau Bela ini belum makan, jadilah ia memberi syarat Bela harus makan dulu sampai habis baru bisa menonton. Tentunya dengan bahasa yang telah diatur sedemikian rupa sehingga penyampaiannya baik. Tapi Bela malah tetap gak mau makan dan langsung merengek yang lama kelamaan jadi menangis kencang. Karena si Ibu tau itu hanya strategi, ya dibiarkan saja Bela menumpahkan tangisannya. Toh, Ibu tau kalau tangisan strategi itu biasanya gak bertahan lama. Kalau dia sangat ingin menonton televisi, toh dia pada akhirnya mau makan.
Tapi ternyata Ayahnya Bela kasihan dengannya dan akhirnya mengabulkan permintaannya untuk menonton televisi. Walhasil tangisan berhenti, Bela menonton televisi namun tidak jadi makan. Si Ibu jadi bingung dengan Ayah yang gak kompak itu dan akhirnya hanya geleng-geleng kepala sendiri.

Pernah mendengar kisah serupa? Atau kisah lain dimana Ayah tidak mau membelikan mainan karena bulan itu telah dibelikan mainan namun Ibu tetap membelikannya dengan alasan takut nangis dan mengganggu pengunjung toko lain?

Itu tandanya pengaasuhan Ayah – Ibu yang masih belum kompak.

[Parenting] Kebiasaan Buruk 6, Merendahkan Diri Sendiri

Pernah mengatakan ke anak setiap kali anak itu tidak mau menurut dengan perkataan seperti ini: ?

nanti mama bilangin papa lho” atau “biarin, begitu mama pulang nanti kamu pasti dimarahi

Kalau pernah, SELAMAT! Kalian telah merendahkan diri kalian sendiri di hadapan anak. Iya, kalau salah satu saja dari orangtua yang berwenang dan berkuasa atas segala peraturan di rumah, lantas kita sebagai pasangan bagaimana? Bukankah yang berwenang dan berhak mengasuh anak adalah kita berdua sebagai orangtua?

Dan, komunikasi yang paling baik adalah tetap dimana terjadi kesepakatan antara orangtua dan anak. Kesepakatan tersebut bisa dibuat oleh ibu maupun ayah karena kedua-duanya sama-sama berwenang, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah kuasanya di hadapan anak.

Buat kesepakatan

Jadi, kalau anak mau menurut, ya buatlah kesepakatan dan patuhilah kesepakatan tersebut. Misal, si anak tidak mau mandi karena masih asik menonton. Tentukan pilihan dan beri batasan waktu untuk disepakati berdua. Minta ia untuk mandi sekarang agar nanti malam bisa menonton lagi atau mandi 10 menit lagi namun setelah itu tidak bisa menonton TV di malam nanti. Apabila ia lebih memilih mandi 10 menit lagi, tepat 10 menit kemudian datangi anak dan ajak mandi saat itu juga tanpa ada kompromi lebih lanjut. Karena itu adalah pilihannya tadi, dan dia harus menepati janjinya untuk tidak menonton TV nanti malam sebagaimana kita menepatinya untuk menunggu 10 menit.

Memang untuk membuat suatu kesepakatan seperti itu, kita sebagai orangtua harus sangat kreatif dan memiliki banyak ide. Namun, sesungguhnya tidak menjadi sulit ketika kita sangat mengenal anak kita. Apa kesukaannya dan apa yang yang tidak disukainya. Hal itu akan sangat memudahkan orangtua untuk memberinya hadiah atau hukuman yang tepat di isi kesepakatan.

Happy parenting ^^

[Parenting] Bukan “Mengharamkan”, Hanya “Mengurangi”

Sejak mengenal ilmu pengasuhan alias parenting, saya menyadari dan memahami kenapa kata ‘jangan’ tidak bisa sering-sering kita gunakan. Saya bahkan pernah membuktikannya sendiri. Dengan tidak menggunakan kata ‘jangan’, si anak malah lebih mengerti apa yang seharusnya dia lakukan.

Namun, beberapa waktu lalu saya sempat kaget dengan salah satu artikel di salah satu situs islami yang berjudul “Untukmu yang Mengharamkan Kata “Jangan”, Adakah Engkau Telah Melupakan Kitabmu?

Sesungguhnya artikel tersebut sangat bermanfaat sebagai pengingat bagi kita-kita yang sangat anti dengan kata ‘jangan’. Namun, yang saya tangkap, dengan adanya artikel itu, kata ‘jangan’ jadi sangat diperbolehkan dan dipersilakan untuk sering-sering menggunakannya, termasuk untuk hal yang remeh temeh sekalipun. Dan yang saya pahami, artikel tersebut tidaklah menampilkan perbandingan yang setara. Artikel tersebut malah membuat para orangtua menjadi bingung mengenai cara pengasuhan mereka yang telah mengurangi kata ‘jangan’ ini.

Yayasan parenting akhirnya menjawab kebingungan para orangtua mengenai hal ini

[Parenting] Kebiasaan Buruk 4 (Bicara Tidak Tepat Sasaran) dan 5 (Menekankan Pada Hal-hal yang Salah)

BICARA TIDAK TEPAT SASARAN [4] DAN MENEKANKAN PADA HAL-HAL YANG SALAH [5]

Kenapa kebiasaan buruk 4 dan 5 ini saya jadikan satu? Karena kedua kebiasaan ini biasa berjalan bersamaan. Misalnya, saat anak sudah remaja dan ingin pergi dengan teman-temannya padahal dia masih memiliki satu kewajiban yang belum dikerjakan, yaitu membereskan kamarnya. Nah, contoh bicara tidak tepat sasaran dan menekankan pada hal-hal yang salah adalah saat orangtua sebenarnya ingin agar anaknya membereskan kamarnya terlebih dahulu, tapi omongannya malah jadi kemana-mana.

orangtua: Nak, itu kamarnya belum diberesin, kok kamu udah mau pergi aja? kamu tu emang anak yang gak bertanggung jawab banget ya. papa mama udah sering ngasih tau juga kalau mau pergi kemana2 harus beresin kamar dulu. kemaren juga tuh, kamu gak nyuci baju kamu sendiri  yang menumpuk. jadi anak kok gak rapi banget. papa mama gak suka deh kamu kayak gitu

anak: X0*lkr$*%(2 o_O

Bicara tidak tepat sasaran.

Apa yang diinginkan orangtua? Agar si anak membereskan kamarnya bukan? Di ocehan tersebut si orangtua malah membicarakan banyak hal. Tentang anak yang tidak bertanggung jawab, tentang baju yang tidak dicuci, tentang anak yang tidak rapi. Si anak malah jadi bingung dan merasa sangat dipojokkan dan malah membuatnya frustasi.

Buatlah kesepakatan

[Parenting] Kebiasaan Buruk 3, Banyak Mengancam

Kakaaak, ganti baju..!!! Dari tadi gw suruh ganti baju gak ganti2 nih anak. Gw tendang luh kalo gak ganti-ganti, cepet ganti!!!

si anak: santai, main-main, ngeledek.

si ibu: tetap teriak-teriak tanpa melakukan apa yang diancamnya: menendang.

lama kelamaan si Ibu tetap teriak-teriak lalu sambil mencubit yang akhirnya membuat si anak ganti baju sambil menangis

Pernah kalian mendengar cerita serupa? Atau bahkan cerita lain dimana si ibu memerintahkan anaknya untuk membereskan mainan dengan ancaman kalau mainannya akan dibuang? Namun apa yang dilakukan kalau anak tetap tidak mau membereskan mainan? Si ibu lah yang akhirnya membereskan mainan tanpa membuang mainan tersebut.

sumber gambar: http://www.parenting.co.id/
sumber gambar: http://www.parenting.co.id/

Jadi bagaimana agar tidak mengancam?

NYALEM a.k.a meNYALurkan EMosi

Sebagai manusia, kita pasti selalu merasakan yang namanya emosi. Entah kita termasuk yang cepat tersulut atau yang sabar. Menurut saya, orang yang sabar bukanlah orang yang tidak pernah merasa emosi atau marah. Tapi dia bisa menyalurkan emosinya tersebut dengan aman dan nyaman.

Emosi yang aman dan nyaman adalah disaat emosi kita yang meluap tidak menjadikan kita akhirnya menyakiti diri sendiri. Tidak menjadikan kita meluapkan emosi tersebut ke orang lain sehingga menyakiti orang tersebut. Tidak juga menyakiti lingkungan sekitar kita. Piring yang pecah atau barang yang rusak misalnya, atau bahkan rumah yang kebakaran *Naudzubillah*.

Nah, sudah sejak dari *kira-kira* tahun 2010an saya berusaha dan belajar agar saya bisa menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman seperti itu. Awalnya memang tidak mudah. Saya masih sering meluapkan emosi ke orang lain yang hasilnya orang yang tidak memiliki salah apapun tersebut malah terkena luapan emosi saya sehingga ia kesal. Sering juga saya membuat keputusan saat itu yang akhirnya saya sesali kemudian.

Jangan membuat keputusan saat emosi. Jangan membuat janji saat bahagia.

Dua hal inilah yang akhirnya paling saya ingat selalu. Saat sedang marah atau emosi, kita tidak akan mengerti apa yang kita pikirkan yang selanjutnya apabila kita membuat keputusan saat itu akan sangat mungkin sekali kita akan menyesalinya di kemudian hari. Maka dari itu disaat kita emosi kita harus benar-benar menahan diri untuk tidak mengambil keputusan. Tunggu sampai emosi mereda baru kita bisa berpikir secara dewasa kembali dan bisa berpikir lebih baik.

Nah, saya memiliki beberapa cara atau beberapa penyaluran emosi disaat emosi saya sedang tidak terbendung. Salah satunya adalah dengan menulis di blog ini. Ada beberapa hasil tulisan saya yang merupakan penyaluran emosi, seperti tulisan ini, hehe. Terkadang saya juga hanya berdiam diri, membaca-baca buku yang belum selesai saya baca, mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk, membuat makanan yang enak yang bisa meningkatkan mood, dan terkadang juga dengan ‘menikmati’ waktu dengan diri sendiri alias me-time. Yap, cara-cara tersebut ampuh untuk meredakan emosi saya. Emosi yang kembali mereda membuat saya bisa bergaul lagi dengan Naia dan suami tanpa menyakiti hati mereka.

Buat saya, cara menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman ini sangat penting. Ya berhubung saya sehari-hari di rumah hanya bersama Naia, saya gak mau kalau sampai akhirnya emosi saya tersalurkan ke Naia. Alhamdulillah hasil belajar menyalurkan emosi yang aman dan nyaman ini sudah terlihat sedikit demi sedikit.

Juga agar saya bisa mengajarkan Naia menyalurkan emosinya dengan aman dan nyaman nantinya. Yang tidak membuatnya menyakiti diri sendiri, lebih-lebih orang sekitar, bahkan tidak membuatnya membanting barang-barang. Karena saya percaya, orangtua yang tidak mengerti bagaimana cara menyalurkan emosi tidak akan bisa mengajarkan anak menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman.

So, sudahkah kalian menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman?  😀

Mommychi: Demi Anak dan Waktu Yang Tidak Akan Pernah Kembali

Sejak umur 12 bulanan, Naia memiliki berat badan jauh di bawah rata-rata berat badan anak seusianya. Saat itu saya dan suami masih tenang-tenang saja karena orangtua saya mengatakan saya pun dulu seperti itu. Jadi, saya dan suami menganggapnya hal genetik yang mungkin diturunkan oleh saya.

Tapi nyatanya hal tersebut salah. Kami (saya dan suami) mulai menyadari kalau Naia ‘ada apa-apa’ pada saat usianya menginjak 16 bulan. Memang sih, porsi makan Naia sangat imut dan sedikit sekali. Awalnya dokter hanya memberi vitamin penambah nafsu makan dan menyarankan untuk memberinya susu tambahan. Tapi akhirnya kamipun mulai mengikuti prosedur dari dokter untuk mencari tau ada apa sebenarnya di dalam tubuh Naia yang membuat beratnya jauh di bawah rata-rata itu, mulai dari tes urin, tes feses, sampai tes mantu (tes untuk melihat ada atau tidaknya penyakit TBC). Alhamdulillah tes mantunya ternyata negatif. Namun, dari tes feses, ternyata Naia mengalami penyerapan gizi yang kurang, karena terlihat dari banyaknya serat dan lemak baik yang keluar lagi melalui fesesnya. Akhirnya, selain diberi vitamin penambah nafsu makan, Naia juga diberi enzim tambahan untuk membantunya menyerap gizi dengan sempurna.
Pertanyaannya adalah, kenapa bisa sampai terjadi hal demikian?

Keluarga Bahagia

Hihi, ini sih dari status facebook. Saya copy paste, jadi credit bukan di saya lhoo.. ^^

[Serial Motivasi Islami]

Keluarga Bahagia Itu Sederhana Saja….

Keluarga mesra itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat bilang sama isterinya, “Bu pijitin bapak dong.. pegel neh kerja seharian.” Sementara sang isteri di lain waktu juga dapat dengan ringan bilang, “Pak, pijitan ibu dong, pegel neh seharian bersihin rumah…”

Keluarga rukun itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat melihat akun FB, Twitter atau HP isterinya tanpa isteri merasa dicurigai dan isteri dengan ringan dapat melihat akun FB, Twitter atau HP suaminya tanpa suami merasa dimata-matai….

Keluarga hangat itu sederhana saja; Kalau suami dan isteri dapat ngobrol panjang lebar berduaan dengan tema apa saja, dapat diselingi joke ringan sampai bercanda hingga ‘tonjok-tonjokan’….

Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dengan tulus memuji masakan isterinya yang sedap sedangkan di lain waktu dengan ringan dapat menegur makanannya yang kurang garam…. Sementara isteri tidak terlalu khawatir jika makanan yang dia sediakan membuat suaminya marah, atau bahkan dengan ringan suatu saat dia mengatakan, “Pak, hari ini ibu tidak masak, kita beli saja yak…”

Keluarga akrab itu

ODOJ (One Day One Juz)

ODOJ, atau One Day One Juz. Yap, begitu denger juz-nya udah tau kan ini apa? hihi. ODOJ ini adalah program yang berisi sekumpulan orang-orang yang bersemangat menyelesaikan satu juz Al Qur’an setiap harinya. Mereka lalu membuat group di whatsapp, setiap grup terdiri dari 30 orang, yang setiap orangnya kebagian satu juz. Jadi, sebisa mungkin group itu mengkhatamkan Al-Qur’an deh setiap hari 😀

Gerakan ini cukup serius lho. Terbukti dari terpusatnya kepengurusan, website yang sudah dibuat dan launching yang sudah direncanakan, yaitu pada 11 Mei 2014 nanti di Masjid Istiqlal.

Dalam pemikiran saya waktu pertama kali denger program ini, “waah, hebat banget yaa, banyak banget orang yang bisa baca Al Quran 1 juz setiap hari. Saya? seumur-umur gak pernah deh, di bulan Ramadhan aja gak kekejar bisa khatam, apalagi hari biasa. Beraaat bok”. Maka pupuslah niat untuk masuk group ini. Iya, karena saya merasa keberatan sangat dengan satu juz setiap harinya. Lha wong baca Al Qur’an aja jarang, sukur-sukur dapet 2 lembar setiap harinya.

Bener-bener gak terpikir kalau saya mau-maunya daftar atau gabung di group ini. Tapi tiba-tiba, sekonyong-konyong, dalam group lain yang saya ikuti ada seorang teman mencari satu peserta wanita yang mau ikutan ODOJ karena di groupnya kekurangan satu orang. Entah kenapa rasanya hati ini terpanggil untuk akhirnya mencoba mengikuti program ini. Yasudahlah, saya bilang deh ke temen saya itu. Tapi ternyata groupnya sudah penuh, telat sayah 🙁

Tapi akhirnya saya bisa masuk ke group selanjutnya, horee.. Dan hasil dari tempaan di group itu adalah semangat saya masih terjaga sampai saat ini, Alhamdulillah. Semoga selalu terjaga dan istiqomah, Aamiin

Nah, ada yang bilang kalau yang ikut ODOJ ini terkesan riya dan munafik. Riya atau tidak, munafik atau tidak, saya percaya semua itu kembali pada niat pribadi masing-masing.

Niat awal melakukan kebaikan yang tidak tulus masih lebih baik lho dibanding orang yang malah sama sekali gak mau melakukan kebaikan itu 😀

Jangan meninggalkan amal krn takut tdk ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripda tdk beramal sama sekali.

Nah, beramal atau melakukan kebaikan sambil meluruskan niat jauh lebih baik daripada tidak melakukan sama sekali. Bahkan niat awal yang tidak tulus bisa berangsur-angsur pudar lho, tergantikan dengan keasikan melakukan kebaikan itu dan jadi terasa mengganjal kalau tidak melakukannya lagi. Bukankah dengan begini dia sudah mencapai tahap ikhlas melakukan kebaikan itu? Benar-benar perlu pembiasaan diri saja! 😉

Saya pribadi sih sampai saat ini tetap memandang group ini sebagai sarana pengingat dan penjaga semangat. Bukan hanya semangat saya, tapi juga semangat orang-orang lain yang ingin selalu mengamalkan kebaikan dengan membaca Al Qur’an dan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan itu. Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan itu adalah perintah langsung dari Allah SWT?

 فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ

Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. (QS Al- Baqarah : 148)

Nah, buat yang mau berlomba-lomba dalam kebaikan juga, bisa banget kan mulai dengan ikutan ODOJ? Bisa daftar di sini lho 😀

Happy tilawah ^^

[Parenting] Kalimat Positif

Buat para orangtua, pasti udah pada engeh kan kalo kita sebaiknya menghindari kalimat negatif ke anak kita. Yaa, kalau anak dilarang melakukan sesuatu, dia bingung sebaiknya bagaimana, maka dari itu sebaiknya justru berilah kalimat saran atau kalimat positif yang baik. Ya simple banget kok, cuman mengganti kata ‘Jangan …’ menjadi lawan katanya.

Kenapa sebisa mungkin harus menghindari penggunaan kata ‘jangan’? Karenaa, anak-anak itu cenderung akan mengabaikan kata jangan dan malah melakukan hal negatif yang kita bilang tadi. Atau, karena dilarang melakukan ini itu, anak malah bingung sebaiknya ia harus ngapain. Untuk itulah perlunya penggunaan kalimat positif. Kalimat positif ini bisa berfungsi juga sebagai ‘saran’ kepada anak apa yang sebaiknya ia harus lakukan, instead of melarangnya, hehehe.

Barusan banget dapet dari status sepupu saya di Facebook mengenai daftar kalimat negatif yang diubah menjadi kalimat positif. Bisa digunakan sebagai panduan nih, para ibu-ibu dan ayah-ayah, dalam membiasakan menggunakan kalimat positif dalam berkomunikasi 😉

kalimatpositif

Semudah ini kok, bener deh. Asal mau mencoba dan membiasakannya. Yang bener-bener perlu dilatih itu adalah kebiasaan. Ingat lho, kebiasaan..!! Jadi sering-seringlah berlatih mengganti kata jangan dengan kalimat  yang lebih positif yaa.

Happy Parenting ^^

Al-Qur’an itu terlalu mulia kawan

Al-Qur’an itu terlalu mulia kawan

Terlalu mulia jika kau sanding dengan kesibukanmu..

Aku tuh harus bangun pagi. Hrs sekolah, ada ulangan, byk PR, tugas, huhu 🙁 . Waktuku itu gak ada jedanya pokoknya!

Jadi…. Al-Qur’an harus ngertiin kesibukanmu, begitu?

Al-Qur’an terlalu agung teman…
Terlalu agung jika kau bandingkan dengan target harianmu..

Hari ini skripsian 5 jam, ke perpus, trus mampir ke toko buku, baca jurnal bahasa inggris minimal 2 jurnal, ngikut seminar dan persiapan lomba debat. Aku tuh padet banget agendanya…

So what??

Al-Qur’an itu terlalu suci kawan…
Terlalu suci untuk kau balap-balap dengan mimpimu..

2 tahun ke depan harus mendapat beasiswa S2 di Jerman, pada tahun yang sama keliling 3 negara. Setelah wisuda menikah (berharap dapat suami/istri yang hafidz atau minimal punya hafalan agar bisa mengingatkanku untuk menghafal) dan 2 tahun kedepan pindah bersama keluarga ke Amrik. Mapan. Beli rumah. Beli BMW. Anak belajar disekolah internasional
(tak ada target dirinya pribadi untuk menghafal)

Sungguh!!

Meski tak kau baca, tak kau hafalkan, tak kau tadabburi apalagi tak kau amalkan, Al-Qur’an tak merugi!!
Tak terhinakan.
Sama sekali!!!

Hey! Tapi lihat…
Lihat siapa nanti yang kelak akan menangis tersedu..
Meraung-raung meminta dikembalikan dalam keadaan semula agar punya kesempatan membersamai Al-Qur’an..
Bermesra dengan Al-Qur’an..
Benar-benar menjadikannya sahabat..

Nanti….
Suatu saat nanti…
Di saat semuanya tak mungkin kembali lagi….
:'(

(Sumber: grup di WA dan Al-Quran)

*Nasihat yang sangat tepat ditunjukkan ke diri ini, astaghfirulloh.

Jangan Meninggalkan Kebaikan

Jangan meninggalkan amal krn takut tdk ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripda tdk beramal sama sekali.

Jangan meninggalkan zikir krn ketidakhadiran hati. Kelalaian kita dari zikir lebih buruk daripada kelalaian kita saat berzikir.

Jangan meninggalkan tilawah karna tak tau maknanya. Ketidaktauan makna dalam tilawah masih lebih baik daripada ketidak mauan membaca firman-Nya.

Jangan meninggalkan dakwah karna kecewa. Kesabaran kita bersama orang2 shalih lebih baik daripada kesenangan kita bersama orang2 yg tidak shalih.

Jangan meninggalkan amanah karna berat. Beratnya amanah yg kita emban insya Allah sebanding dengan beratnya timbangan amal yg akan kita dapatkan.

Jangan meninggalkan medan juang karna terluka. Kematian di medan juang lebih baik daripada hidup dalam keterlenaan.

Jangan meninggalkan kesantunan karna lingkungan kasar. Santun kita saat dikasari hanya akan menambah kemuliaan dan mengundang simpati-Nya.

Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubana ‘ala tho’atik.
Yaa muqollibal quluub tsabbit quluubanaa ‘alaa diinik.

Ya Allah yg memalingkan hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan pd-Mu.
Wahai yg membolak balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.

~ Renungan Tarbiyah Dzatiyah ~

[Parenting] Kebiasaan Buruk 2, Sering Berbohong

Pernah gak sih kita sebagai ibu melakukan kebohongan-kebohongan. Misalnya saja saat ada telpon yang tidak ingin diterima oleh Ibu lalu kita bilang ke anak “Nak,bilang ibu sedang pergi ya”. Nah lhoo, berbohongnya memang bukan termasuk kebohongan besar sih, tapi tetap saja anak akan belajar kalau berbohong itu hal yang wajar dan diperbolehkan. Toh, itu dicontohkan oleh si Ibu sendiri. Jadi wajar saja kalau suatu saat si anak bisa menjadi pembohong yang baik, ya karena itu hasil didikan orangtua.

Nah, di buku Ayah Edi yang pernah saya baca, ini termasuk kebiasaan buruk yang sering tidak disadari oleh orangtua. Berbohong kecil dan sering. Iya, gak cuma sekali dua kali kan berbohong seperti itu? Bahkan sering demi menenangkan anak yang melarang ibu atau ayah untuk pergi kerja, kita bilang “Nak, ayah/ibu perginya cuma sebentar kok, gak lama, jadi kamu tenang ya”. Lah, kalo ternyata ibu atau ayahnya kerja sampai larut malam gimana? Atau sampai waktu normal aja deh, jam 5 sore misalnya. Apakah itu waktu yang sebentar? Nanti akan tertanam juga deh di benak anak kalau pergi seharian termasuk waktu yang sebentar.

Kata sebentar atau lama sebenarnya juga kurang dianjurkan sih, karena itu termasuk waktu yang relatif. Ada yang menganggap 1 jam itu lama, ada yang menganggap 1 jam itu sebentar. Maka, untuk mengajarkan anak mengenai waktu, disaat anak belum bisa mengenal jam atau menit, sebaiknya pakai batas waktu yang pasti. Misalnya, “Kamu ditemani ibu setelah ibu selesai menggosok”. Nah, jelas batas waktunya, yaitu selesai menggosok! Anak akan belajar sabar dan akan mengenal batas waktu. Tapi disaat anak sudah mulai mengenal waktu, jam, menit, dsb, penting untuk selalu menggunakan batas waktu yang pasti tersebut. 15 menit lah, 30 menit lah, bahkan 8 jam kalau akan pergi bekerja. 

Balik lagi ke bohong. Sebagai orangtua, selalu lah usahakan untuk tidak berbohong, baik kebohongannya hanya kebohongan kecil seperti yang telah disampaikan. Mulailah selalu bicara jujur dan selalu membiasakan hal tersebut ke anak sejak anak lahir. Lebih baik bicara jujur mau ke mana, bersama siapa, dan akan pulang jam berapa nantinya ke anak. Walaupun anak nangis dan merengek, peluk dan tenangkan dulu. Kalau masih merengek, coba diajak mengantar sampai depan pintu, depan gang, atau depan komplek. Dengan begitu anak juga akan belajar berkomunikasi dengan baik kepada orangtua.

Saya pernah membuktikannya lho. Ceritanya ada di postingan saya yang ini, hehe.

Begitulah, semoga berguna dan bisa menghindari kebohongan-kebohongan kecil ini ya para orangtua 😉