Kepraktisan Membuat Semakin Profesional

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang Acer, dengan penampilan yang lebih tipis dan ramping serta desainnya yang menawan itu, selain bisa semakin produktif kemana-mana, saya pastinya bisa lebih gaya dengan bawaan yang semakin praktis lho *eaa*.

Jadi kalau kemana-mana yah *yang berhubungan dengan pekerjaan*, saya harus membawa at least 2 tas yang sama besarnya. Satu untuk tas notebook beserta chargernya, satu lagi untuk bawa barang bawaan Naia. Belum kalau ada bawaan lain seperti tempat minum yang tidak muat di manapun, jadi harus bawa 3 tas deh. Kalau pergi berdua saja sama Naia kan jadi ribet karena tidak ada yang membantu membawa tas berat itu. 🙁

Apalagi saya pakai jilbab *lha terus hubungannya apa?*. Dengan bawaan yang banyak plus saya yang kalau kemana-mana mesti ngangkot karena tidak memiliki kendaraan ingin menambah jumlah mobil di jalan raya, baju dan jilbab saya terkadang bisa tertarik ke sana kemari untuk membetulkan posisi tas yang saya bawa. Jadi terkadang sudah berdandan rapi-rapi dari rumah, e belum sampai tempat yang dituju sudah berantakan lagi. Mau naik taksi juga kok ya agak sayang yaa kalau masih bisa dicapai dengan ngangkot, hihi. Dandanan jadi berantakan itu menyedihkan? Enggak juga sih, cuman ya gak enak aja, jadi gak keren gituh XP.

Dengan memiliki notebook yang lebih tipis dan lebih ringan, saya jadi tidak perlu lagi memisahkan tas pakaian dengan tas notebook. Ya karena notebook Acer Aspire E1-432 lebih tipis *30% lebih tipis dengan ketebalan hanya 25,3 mm*, pastinya lebih ringan dari notebook yang lain. Jadi kalau digabung menjadi 1 tas saja, berat dan ruang yang terpakai dalam tas tidak bertambah secara signifikan. Apalagi, Acer Aspire E1 series ini tidak meninggalkan fitur esensial berupa optical drive alias DVD-RW-nya. Jadilah saya tidak perlu lagi membawa-bawa DVD driver tambahan, makin praktis kan?, hehe #ngilerr

30% lebih tipis
perbandingan ketebalan

gambar dari sini

Kalau bawaan saya udah praktis dengan hanya membawa 1 tas saja, saya bisa makin terpercaya. Baju dan jilbab jadi gak tertarik ke sana kemari karena sering membetulkan letak tas. Dengan penampilan yang keren dan tidak berantakan itu, saya bisa menampilkan first impression yang baik saat bertemu klien.

Iya, first impression itu penting lho. Setidaknya hal pertama yang dilihat adalah penampilan bukan? Dengan berpenampilan rapi dan bersih, poin pertama akan kepercayaan tidak tercoreng 😀

Kalau penampilan sudah terjaga seperti itu, selanjutnya yang dilihat adalah senjata yang saya gunakan. Seperti telah saya sebut sebelumnya, senjata utama saya bekerja adalah notebook. Dengan notebook Acer E1 Slim Series yang canggih dan tampilannya yang elegan dengan 2 pilihan warna, piano black dan silky silver, saya jadi semakin terkesan keren profesional deh, hehehe. *nyengir puas*

gambar dari sini

Nah, first impression dan senjata canggih yang didapat dengan memiliki Acer Aspire E1-432, selain menambah kepercayaan diri, juga membuat praktis saat saya melakukan presentasi di hadapan klien. Karena ya, saya kan tidak bisa menebak kapan akan presentasi ditampilkan langsung melalui proyektor. Nah, kalau ujug-ujug saya diharuskan menampilkan presentasi di layar besar ya saya tidak usah capek-capek memindahkan datanya dulu ke komputer yang terhubung, tinggal hubungkan langsung saja proyektornya ke Acer Aspire E1-432 milik saya nanti *PD*. Semakin terlihat profesional kaan? *cling* #benerinkacamata

Oh iya, saya juga tidak perlu khawatir gambar akan pecah donk kalau ditampilkan di layar yang lebih lebar. Karena eh karena Acer Aspire E1-432  dilengkapi dengan HDMI port yang mampu menampilkan gambar pada LCD/LED eksternal dengan ukuran dan resolusi yang lebih besar. Semakin praktis saja yah? #makinngilerdeh

Ah, dengan memiliki notebook Acer Aspire E1 series, saya baru membicarakan kepraktisan secara harfiahnya ya. Padahal, ada kepraktisan dari sisi lainnya lho.

Misalnya saja dalam hal melakukan pekerjaan sekaligus banyak alias multitasking. Saya itu punya kebiasaan tidak bisa hanya mengerjakan satu hal. Selagi ngerjain web tiba-tiba kepikiran ide untuk ditulis ke blog, ya secepatnya saya buka blog. Nah, kalau sudah ngeblog begitu biasanya saya juga butuh gambar, entah gambar dari internet atau gambar koleksi sendiri. Bekerja deh photoshop untuk mengedit-edit foto yang saya perlukan itu. Nah, Acer E1 Slim Series sangat memungkinkan saya untuk melakukan itu semua karena prosesor serta RAMnya sangat memadai sehingga tidak membuat notebook saya jadi lemot.

multitasking
ceritanya multitasking XP

Selain itu, dengan adanya memori yang cukup sangat banyak, akan sangat praktis kalau saya ingin menyimpan berbagai macam file, baik file-file office, multimedia, bahkan game sekalipun. Yaa berhubung saya suka nonton dan menyimpan foto dari kamera saya, jadinya kebanyakan file-file (film dan gambar) itu deh yang ngejogrog di tempat penyimpanan notebook saya. Film dan gambar memerlukan tempat yang cukup banyak kan? Terlebih lagi ditambah file-file mengenai kerjaan yang juga tidak kalah banyaknya. Nah, karena Acer Aspire E1-432 dilengkapi harddisk SATA berukuran 500GB, saya jadi merasa itu sudah cukup dan jadi tidak perlu membawa penyimpanan data tambahan lagi deh.

Kalaupun ada file yang harus dibagi dengan klien, saya tinggal langsung mengirimnya lewat email, karena bisa langsung terhubung dengan internet di tempat-tempat yang menyediakan wi-fi atau menggunakan kabel LAN (kabel sambungan internet). FYI, Acer Aspire E1-432 memiliki port LAN (RJ-45) yang dapat digunakan tanpa converter apapun serta wireless adapter Acer Nplify 802.11b/g/n. Kedua kelengkapan itulah yang memungkinkan mudahnya terhubung dengan internet. Praktis yah untuk bisa tetap online? #ngilermenjadi-jadi

Lalu bagaimana kalau sama sekali tidak memiliki akses ke internet? Saya masih bisa tenang kok, karena Acer Aspire E1-432 memiliki 3 port USB yang salah satunya USB 3.0, yang memungkinkan pertukaran data dengan sangat cepat. Jadi ya saya tinggal minta flashdisk klien aja tanpa pikir panjang dan tanpa takut akan menghabiskan waktunya untuk sekedar memberi atau bertukar data :D. FYI lagi ya, USB 3.0 memiliki proses transfer data yang 10x lebih cepat dibandingkan USB 2.0 lho.

Huah, membicarakan notebook Acer E1 Slim Series ini benar-benar membuat saya semakin ngilerr pengen punya. (¯﹃¯)

Bagaimana tidak? Selain kepraktisan dalam hal barang bawaan yang ditenteng saat mobile, Acer E1 Slim Series ini juga memberikan kepraktisan dalam hal pekerjaan serta kepraktisan untuk selalu online. Dan itu semuaa membuat saya bisa semakin keren dan gaya profesional, hihi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia

Inflasi Itu Nyata!

Hihi, contoh kecil banget yang menunjukkan kalau inflasi itu nyata. Naiknya harga roti tawar setiap tahun! XP

perubahan harga roti tawar
perubahan harga roti tawar

Dan saya tau persis kapan setiap perubahan harganya. Karena, karena… kan pernah saya posting juga kalau saya koleksi segel roti tawar itu di sini, hehehe 😀 Emang barang koleksi yang bener-bener gak penting sih ini, tapi jadi bener-bener ngerasain sendiri kalau inflasi itu nyata adanya.

Daan, tempat saya menyimpan sudah tidak memadai rupanya, harus sesegera mungkin cari kotak kecil lagi, hihi.

tempat yang sudah tidak memadai
tempat yang sudah tidak memadai

PLN Bersih Demi Indonesia yang Bersih

Beberapa waktu lalu saya dan suami berbincang mengenai susahnya hidup “bersih” di Indonesia. Pasalnya, saat itu saya dan suami baru saja membaca mengenai pembuatan SIM yang sangat dipersulit. Bayangkan saja, untuk bisa membuat SIM pada jalur yang benar, terkadang si pengemudi selalu gagal pada tes pertama dan harus mengulangnya berkali-kali *yang di percobaan pertama sudah lulus beruntung sekali*. Suami saya pun mengalaminya sendiri. Para orang awam yang tidak tahan akan repotnya akan langsung saja menuju ke petugas terdekat agar dipermudah dan dipercepat *bisa saat itu langsung jadi lho dengan memberikan sejumlah uang*.

Pun dalam instansi PLN. Kalau dilihat dari upaya PLN dalam membuat sistem pelayanan yang transparan, bisa disimpulkan kalau terkadang dalam pengajuan pasang baru, tambah daya, dan pasang sementara, pemohon memberikan “uang pelicin” agar urusannya cepat selesai dan tidak dipersulit. Tampaknya senjata yang harus dimiliki oleh semua warga adalah “uang pelicin” alias suap demi mempermudah dan mempercepat segala urusan.

Membuat sistem pelayanan yang transparan dengan meminimalkan pertemuan tatap muka pelanggan dengan pegawai PLN.
Contoh : layanan pasang baru, tambah daya, pasang sementara secara online melalui website http://www.pln.co.id/pbpd/index.php

Hal tersebut rasanya sudah mendarah daging, sudah menjadi hal yang sangat lumrah. Bahkan dalam pemikiran anak kecil yang baru mempelajari mana yang benar dan salah pun menganggap hal itulah hal yang benar. Maka, tidak heran saat mereka menyandang jabatan sebagai apapun suatu saat kelak, akan sangat mungkin terkena kasus suap dan korupsi serupa seperti kasus-kasus yang beredar sekarang. Itu karena yang mereka pelajari adalah suap dan korupsi itu bukan suatu kesalahan, melainkan suatu hal yang lumrah dan benar. Kalau ingin mudah dan cepat mengurus segala sesuatu, maka pergunakanlah uang untuk membayar pihak yang berwenang. *sediih melihatnya*

uang suap
uang suap

Gambar didapat dari sini

Saya percaya kalau setiap tindakan kita itu selalu diawasi oleh Tuhan, maka saya selalu ingin melakukan hal yang benar. Mulai dari pengurusan surat nikah yang sama sekali tidak memberikan uang tambahan selain tarif resmi *yang dipersulit dengan tidak adanya cap dari kantor KUA setempat*, sampai pembuatan KTP yang bebas biaya. Berharap pada pemerintah juga kok ya rasanya sia-sia saja karena ya itu tadi, sudah mendarah daging, generasi yang ada sekarang adalah generasi yang selalu menghalalkan segala cara demi pengurusan yang cepat, mudah, dan lancar.

Maka dari itu saya hanya ingin berharap pada diri sendiri saja dulu, pada pasangan, dan juga keluarga yang saya bentuk. Berharap lebih sih pada pemuda-pemuda seumur saya yang sudah menjadi orangtua agar mendidik anaknya dengan nilai yang benar, bukan nilai yang kebanyakan dianut masyarakat sekitar yang terkadang salah.

Tetapi harapan kosong pada pemerintah lambat laun mulai memudar. Mulai muncul secercah titik terang disaat satu per satu organisasi pemerintahan mulai berbenah. Mulai dari terkuaknya banyak kasus korupsi, kepolisian yang berbenah, hingga kelurahan-kelurahan yang mulai memasang tarif yang seharusnya di meja pelayanan demi mencegah pungutan-pungutan liar.

Begitupun saat BUMN semacam PLN mendeklarasikan instansinya ingin bebas dari korupsi dengan mencanangkan gerakan “PLN bersih“, no suap, no gratifikasi. Saat saya mengetahui gerakan “PLN bersih” tahun lalu melalui lomba blog yang diadakan *saat itu temanya harapanku untuk PLN*, tanpa berpikir panjang saya ikut serta demi mendukung gerakan PLN bersih itu.

lomba blog PLN 2012
lomba blog PLN 2012

Saya sangat antusias lho dengan siapapun yang terus menerus berusaha melakukan perbaikan tanpa terkecuali, termasuk PLN. Dan sebisa mungkin saya melakukan berbagai cara untuk menunjukkan dukungan itu. Maka, saat tahun ini pun PLN mengadakan lomba blog lagi, saya sangat antusias ingin berpartisipasi lagi. Bukan apa-apa, saya hanya ingin menyebarluaskan perbaikan yang ingin dan terus menerus dilakukan oleh PLN. Hitung-hitung ikut menjadi salah satu dari empat pilarnya program PLN bersih juga lah dengan berpartisipasi 😀

Iya, PLN sampai membuat empat pilar demi melangsungkan gerakan PLN bersih. Ya salah satunya adalah partisipasi itu. Pilar-pilar lainnya adalah integritas (kualitas pegawai yang semakin baik), transparansi, serta akuntabilitas (pelayanan yang semakin responsif). Bisa dilihat di tentang PLN bersih.

Miris sekali saat lomba blog tahun ini dimulai terdapat beberapa orang yang memandang sinis PLN. Mereka bilang tidak akan mau ikut dan kalau mau lombanya diikuti oleh banyak peserta, perbaiki dulu layanannya. Saya hanya heran, terlepas dari listrik yang memang masih sering mati *saya percaya, dalam hal layanan pun PLN masih terus menerus berbenah*, mengapa niat baik menyebarluaskan gerakan PLN bersih disambut dengan pemikiran negatif seperti itu?

Padahal, kalau saja mereka tahu, PLN sudah selalu melakukan inisiatif dalam upayanya melakukan gerakan PLN bersih. Seperti membuat empat pilar yang telah saya sebut, bekerja sama dengan Transparency International Indonesia (TII), juga menerapkan Good Corporate Governance (GCG), bahkan sampai membuat lomba blog seperti ini demi mendapatkan partisipasi dari semua masyarakat, khususnya blogger. Usaha yang sudah cukup banyak bukan?

Jadi, ayo donk kita sebagai blogger bersama-sama mendukung gerakan PLN bersih ini demi Indonesia yang bersih juga. Ya perubahan gak akan bisa berlangsung dengan cepat, diperlukan waktu bertahun-tahun untuk mengubah sesuatu yang tampaknya sudah mendarah daging, tidak ada yang instan istilahnya. Maka dari itu kita harus mendukung segala perubahan menuju kebaikan tersebut dengan cara kita masing-masing.

Mudah-mudahan saja gerakan semacam PLN bersih ini tidak hanya dilakukan oleh PLN saja, tapi semua BUMN dan instansi pemerintahan demi terbentuknya Indonesia yang lebih bersih lagi. Dengan begitu, saya jadi semakin optimis akan kemudahan hidup “bersih” di Indonesia nantinya.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomb “Blogger Dukung PLN Bersih

Blogger Dukung PLN Bersih
Blogger Dukung PLN Bersih

Notebook Tipis Membuat Produktif Nge-Freelance

Sudah cukup lama saya memutuskan untuk tidak bekerja kantoran. Yaa, semenjak 1 bulan sebelum lahiran lah, itung2 ingin mendedikasikan diri untuk anak, hehe.

Nah, tapi saya di rumah juga gak mau benar-benar lepas dari kerjaan saya alias gak mau nganggur-nganggur banget laah XP. Saya akhirnya memutuskan untuk menjadi freelancer aja, bisa dikerjakan dari mana saja tanpa mengurangi waktu interaksi dan kebersamaan saya sama anak. Berhubung pengalaman kerja saya sebelumnya di web consultant, jadilah saya nge-freelance sebagai web developer, menerima proyekan web secara lepas atas nama pribadi 😀

Dengan profesi sebagai web developer yang saya sandang, otomatis senjata utama saya dalam bekerja adalah notebook tercintah. Waktu masih bekerja kantoran, saya harus setiap hari membawa notebook saya ini ke kantor *walaupun harus sabar banget dengan beratnyah, huhu*. Apalagi kalau di jalanan macet dan di dalam bus saya tidak mendapatkan tempat duduk. Ya walhasil saya harus rela deh berdiri dan menahan berat beberapa kg di tas yang saya bawa. Maka dari itu saya excited banget waktu pertama kali lepas dari kerja kantoran alias nge-freelance.

ASpire-E1-432
senjata utama nge-freelance

Tapi dengan menjadi freelancer begitu, saya sebenarnya cukup sering pergi juga untuk ketemuan sama klien entah di mana. Waktu sebelum lahiran sih oke-oke aja bawa notebook saya yang cukup berat kemana-mana. Tapii setelah lahiran dan punya anak bayi, kok ya males yaa bawa-bawa notebook berat kemana-mana. Berhubung saya gak punya kendaraan pribadi dan gak punya pengasuh juga, jadi si bayi harus saya ajak doonk. Dengan mengajak bayi, bawaan jadi lebih banyak dan lebih berat karena selain harus membawa notebook, saya juga harus membawa perlengkapan tetek bengeknya anak saya dari baju, tisu basah, minum, sampai cemilan, huhu. Saat itu berpikir alangkah enaknya kalo punya notebook yang lebih ringan.

Untuk mensiasati bawaan saya yang berat itu akhirnya saya biasanya mengusulkan tempat ketemuan yang dekat rumah, atau malah di rumah saja sekalian, dan waktunya pun sehabis suami pulang kerja agar bisa ditemani suami. Alasannya ya itu tadi, bawaan saya terlampau berat kalau saya sendirian, huhu. Kalau ditemani suami kan bisa suami yang membawakan tas perlengkapan si bayi, hihihi.

Saya itu juga punya kebiasaan kerja dari tempat yang menurut saya enak. Bisa nongkrong di warung kopi atau di tempat makan yang ada hotspotnya biar ngirit biaya internet gak kerja dari rumah aja gitu, ganti suasana lah agar jauh dari kebosanan. Tapi dengan sambil membawa anak dan laptop yang cukup berat, ya saya mikir 2 kali deh untuk melakukan itu, hehehe.

Tapii keinginan untuk sering pergi keluar dan bisa kerja di tempat yang disuka kok ya masiiih aja ada, masih tersimpan rapat di hati gitu *halah*. Saya jadi masih sering kepikiran dan memimpikan notebook yang ringan dan tipis yang gak memberatkan saya kalau pergi kemana-mana.

Suami sendiri malah punyanya netbook yang ringan dan tipis, netbook Aspire 1 series,  yang masih setia dipake sampai sekarang *kok ya tebalik yak, saya yang kecil gini punyanya notebook yang gede dan berat, suami yang lebih besar punyanya malah netbook yang kecil :P*. Saya jadi penasaran, kok ya dia setia banget sama Acer? *sebelum punya netbook Aspire 1 series, suami juga punya notebook Acer*. Dan saya kepikiran pengen deh sekali-sekali punya juga notebook Acer.

Eeeh, pucuk dicinta ulam pun tiba. Beberapa hari lalu, saya baru tau kalau Acer baruu saja meluncurkan produk barunya berupa notebook yang tipis banget *30% lebih tipis dibanding notebook 14″ lainnya*, Acer Aspire E1series, saya jadi ngilerr banget mau punya biar saya bisa makin produktif.

Acer_E1 series
Acer_E1 series

Dengan bentuknya yang ringan dan tipis benar-benar membuat saya berpikir asiknya pake notebook Acer Aspire E1 series. Saya jadi bisa diajak ketemuan kapan aja dan di mana aja, serta saya bisa memupuk kebiasaan saya untuk kerja di mana aja selain di rumah tanpa harus merasa keberatan. *Udah cukup lah berat bawaan barang keperluannya Naia aja, jangan ditambah notebooknya yang berat doonk* #suarahati

Berhubung yang saya tahu itu kalau notebook semakin tipis semakin mahal, saya jadi membayangkan betapa mahalnya Acer E1 slim series ini. Tapi ternyata hal itu gak berlaku. Selain fiturnya yang juga masih lengkap untuk ukuran laptop setipis dan seringan itu, ternyata Acer Aspire E1-432 terbilang cukup murah, yaitu hanya Rp.4.749.000,- saja. Sangat terjangkau kan? Apalagi modelnya itu lho, elegan banget dan tersedia dalam 2 warna, Piano Black dan Silky Silver *pssst… yang membuat tampilannya elegan ternyata desain pattern bintang-bintang yang dinamakan Starry Swirls pada casing dan keyboardnya*. #makinngilerr

2 pilihan warna Acer Aspire E1-432
2 pilihan warna Acer Aspire E1-432

Tiga tahun yang lalu saya membeli notebook saya ini dengan harga sekitar 5,3 juta *udah lama juga yak ternyata umur notebook saya ini*. Cukup jauh juga ya perbedaan harganya, apalagi notebook yang saya beli masih terbilang cukup tebal dan berat. Apalagi *lagi* dengan harga segitu, Acer memberikan kita notebook ringan dengan spesifikasi yang canggih. Spesifikasi yang dimiliki itu memungkinkan saya bisa multitasking (ini akibat prosesor Intel 4th Gen terbaru atau bisa disebut Haswell dan Ram 2GB yang bisa di-upgrade sampai 8GB), punya space data yang buanyak karena dilengkapi harddisk SATA berukuran 500GB, enak bertukar data karena terpasang DVD RW serta port USB, skype-an sama suami kalo lagi jauh-jauhan karena dilengkapi Webcam HD, juga  presentasi di depan klien dengan memasang kabel ke proyektor langsung di notebook saya kalau diperlukan *jaman sekarang masih ada loh notebook yang gak ada colokan ke proyektornya*. Selain itu, Acer memberikan garansi FULL 3 tahun (termasuk service dan spareparts) kalau membeli sebelum 31 Oktober 2013 ini. *Yaampun jadi makin ngilerr deh :P*

Semoga saja keinginan saya untuk punya Acer Aspire E1-432 ini bisa terpenuhi dalam waktu dekat *ngarepp* biar saya bisa makin produktif ngeblog kerja di mana saja, hehe. #ilernyaudahbleweran (¯﹃¯)

sumber gambar

Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia

Naia Belajar Kecewa

*postingan ini ditulis tanggal 23, tapi baru saya selesaikan tanggal 24 Oktober pagi*

Tadinya sih pengen nulis postingan random sekedar mengisi blog tentang hal lain sebelum saya nulis untuk lomba blog lagi, haha. Tapi berhubung Naia 2 hari ini *menurut saya* sedang belajar kecewa, jadilah tangannya gatel mau nulis itu, hehehe.

Jadiiii ceritanya kemarin saya bikin kesepakatan sama Naia, kalau Naia makan siangnya banyak, 10 suaap aja *berhubung makannya emang susaah banget*, saya janji mengajak dia ke taman sepat.

Ternyata dia makannya malah melebihi ekspektasi saya, jadi saya udah siap2 aja sore itu untuk ke taman. Eh, ujug2, sore2, pas Naia mandi datanglah bunyi gluduk2 lalu disambut dengan hujan yang cukup deras. Huaah, kacau deh ke tamannya. Akhirnya kemarin saya bilang kalau gk jadi ke taman karena cuaca gk memungkinkan dan saya berjanji menggantinya hari ini. Subhanallah, dia sangat mengerti dan mau main di rumah aja jadinya sama saya. Tapi kemarin dia cukup terhibur dengan kedatangan sahabat saya yang membawa bayi, jadi dia gak bosan2 amat di rumah, hehe.

Nah, hari ini, dari pagi udah saya ingatkan kalau nanti sore mau ke taman. Mungkin dia jadi excited banget karena saya ingatkan terus itu *saya jadi berasa cerewet, huhu*. Jadilah saya bilang ayo nanti habis makan siang *kali ini makannya gak dijadikan persyaratan, soalnya kan saya yang berhutang ke taman*, Naia mandi terus baru ke taman sehabis mandi. Dia jadi gak sabar mau mandi dan nunjuk2 kompor *loh, kan mau mandi kok nunjuknya kompor? hihi*. Jadi, karena Naia masih mandi pakai air hangat, ya sebelum mandi saya pasti masak air dulu deh, makanya dia jadi nunjuk2 kompor.

Setelah airnya siap, dia sampe beres2 mainannya dulu baru ke kamar mandi sambil berlari kecil, hahaha *semangat banget dah*. Sambil makein baju, saya juga masih bilang2 mau ke taman *bener2 emaknya yang jadi semangat*. Eeeh, lagi2, paaas selesai pake baju hujan lalu datang, huaaa. Akhirnya saya bilang lagi deh ke Naia kalau gak jadi ke taman lagi karena hujan. Saya perlihatkan juga keluar kalau benar-benar hujan. Mukanya terlihat kecewa, tapi Alhamdulillah gak sampe kesal dan akhirnya yaudah main di kamar saja sama saya.

Tapi setelah itu saya bilang, “Naia bobo aja yuk, tadi Naia bobonya baru sebentar lho”. Oiya, dia biasanya tidur 2x dan masing-masingnya berdurasi 2jam di siang hari, tapi hari ini, entah terlampau semangat atau memang jam tidurnya sudah mulai berkurang dia baru tidur 1 jam. Setelah saya bilang begitu, dia langsung minta nenen dan tertidur pulas. Subhanallah nak, kamu pinter banget yaa, ciuum.

Terima kasih ya Naia udah mau belajar kecewa 2 hari ini. Ayo nak, insyaAllah besok kita jadi ke taman *semangat membara sambil berdoa gak hujan lagi, Aamiin*

Dari Atlet Sampai Web Developer

Itulah saya, ehehe.

Iya, dulunya saya atlet. Yaa, masih atlet daerah kok, belum sampai Nasional. Kejuaraan paling besar yang saya ikuti juga hanya sampai kejuaraan antar kota se-Indonesia *itu mah gak hanya yak*. Tapi sekarang saya itu ya web developer yang mantan atlet. Hehe, saya cukup bangga kok disebut mantan atlet. Itu artinya saya pernah berkontribusi dalam suatu kegiatan, dan hal itu sama sekali gak sia-sia. Karena kebanggaan datangnya dari dalam hati kan? hihihi. Kaya kalimat terakhir yang ada di CineUs Book Trailer:

Melelahkan sekali kalau kita terus mengejar pengakuan dari orang lain. Kepuasan itu datangnya dari sini *hati* bukan dari sana *pengakuan orang lain*

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=OoELIdmWSY8&w=360]

Sejak kelas 1 SMA hingga lulus kuliah saya cukup aktif di kegiatan beladiri, yaitu Kempo. Keaktifan saya di beladiri tersebut hingga membawa saya beberapa kali memenangkan kejuaraan, baik tingkat dojo (tempat latihan) maupun tingkat nasional (kejuaraan antar kota se-Indonesia), sampai akhirnya saya dipanggil untuk ikut pemusatan pelatihan se-DKI Jakarta (Pelatda DKI).

Medali yang pernah saya dapatkan
Medali yang pernah saya dapatkan

Nah, tapi akhirnya saya harus mengundurkan diri dari kegiatan itu. Kenapa? Karena saya ingin fokus pada tujuan saya waktu itu, ingin menjadi freelancer web developer *yang akhirnya sekarang tercapai, Alhamdulillah yah*. Iya, saya waktu itu punya tujuan baru karena menjadi atlet itu istilahnya hanya terbawa arus dan bukan tujuan utama saya, hehe *belagu amat yak*. Yaa, yang penting saat menjadi atlet maupun sekarang saya cukup bangga akan diri saya sendiri, karena masih bisa memberi manfaat ^^.

Iya, buat saya arti kebanggaan adalah disaat kita memaksimalkan kontribusi dan peran kita *alias bermanfaat* di manapun. Iya, di manapun, termasuk di dalam rumah. Psst, sekarang saya udah menjadi istri seorang Ilman Akbar dan ibu bagi gadis cilik bernama Naia lho XP

Di dunia ini ada dua hal yang harus diperjuangkan. Impian. Dan cinta.

Sesuai dengan kalimat itu, saya memperjuangkan mimpi saya untuk menjadi freelancer dan bekerja dari rumah dengan mengorbankan kegiatan ke-atlet-an saat itu, hehehe. Nah, untuk belajar dan melatih diri menjadi web developer, saya sempat bekerja di 2 perusahaan web consultant. Dari kedua perusahaan itu, saya dipercaya untuk membuat beberapa web yang sampai sekarang akhirnya saya letakkan dalam portfolio saya. Dari situ juga saya bangga, karena beberapa web yang saya buat sampai sekarang masih di-maintain, hihi.

istianasutanti.com
portfolio

Kebanggaan dimulai dari diri sendiri sih memang. Tapi alangkah lebih bangga lagi kan kalau hasil karya kita memberikan manfaat? 😀

Postingan ini diikutsertakan dalam Lomba artikel #CineUsBookTrailer

Lomba Artikel CineUs Book Trailer
Lomba Artikel CineUs Book Trailer

Pendapat Saya bagi Suami

Buat saya pribadi sih, pendapat dari pasangan itu merupakan concern terbesar dalam menentukan sesuatu. Apapun. Ternyata bagi suamipun begitu.

Hal paing kecil sih dalam berpakaian. Saya tersentuh banget waktu suami berpakaian jedi sewaktu jadi MC di acara “Starwars Toysphotography” dan setelahnya PD untuk gak dibuka sampai pulang. Waktu acara selesai, tadinya sih suami mau ganti baju. Tapi saya kok merasa suami ganteng pake itu dan gak mau dia ganti pakaian. Yaudah, saya bilang aja “Udah sih pake aja, ganteng tau, aku suka”. Eh, ternyata dia jawab “Yaudah, itu ~dia ganteng di mata saya~ yang paling penting buatku”. Udah deh selanjutnya kita “ngider”in Plaza Indonesia dengan suami masih berpakaian ala Jedi, hihihi. Saya jadi senyum2 sendiri XP

Starwars Toysphotography
Starwars Toysphotography

Pun saat dia meminta pendapat saya mengenai bukunya. Atau saat dia meminta pendapat mengenai artikel yang akan ditulisnya, saya dibiarkan mengedit tulisannya sebagai bahan pertimbangan lagi untuknya.

Yang terakhir sih mengenai hal yang akan dilakukan suami yang akan berdampak cukup besar. Semoga keputusan yang dihasilkan benar-benar terbaik. Terbaik untuk suami, terbaik untuk saya, dan terbaik untuk keluarga kecil kami. Aamiin.

Intinya, salah satu hal yang membuat saya bahagia menikah dengan Ilman Akbar adalah pendapat saya selalu menjadi concern terpenting untuknya. Terlepas dari status saya sebagai istri, setiap orang memang sangat senang kan kalau pendapatnya benar-benar diterima, terlebih lagi dipikirkan secara mendalam 😀

[Parenting] Mencegah Anak Tantrum

Bisakah? Atau mungkinkah?

menangani tantrum
menangani tantrum

gambar dari http://www.babycenter.com.au/a1040560/tantrums

Dari beberapa bacaan mengenai tantrum, saya berpendapat bahwa tantrum pada anak mungkin bisa dicegah. Baru saja kemarin saya membaca artikel mengenai strategi menghadapi anak tantrum di facebook. Dan karena sebelumnya saya juga pernah baca di babycenter, jadilah kepikiran, “sebenernya tantrum bisa dicegah gak sih? lebih baik mencegah daripada mengobati bukan? hehe”.

Pada email babycenter yang rutin dikirim ke inbox saya menyebutkan kalau memang pada anak usia 1-3 tahun wajar sekali akan adanya tantrum. Tetapi berhubung kita juga tidak bisa memastikan kapan tantrum akan terjadi, kita bisa sedikit mencegahnya dengan memastikan makan dan tidurnya cukup. Tidur yang kurang dan perut yang lapar adalah beberapa hal yang berpotensi menyebabkan anak tantrum.

Remember, a hungry, sleep-deprived toddler is a meltdown waiting to happen. ~babycenter

Kalau di bagian akhir artikel ini, ada beberapa hal lainnya yang memungkinkan terjadinya tantrum.

  1. Lapar
  2. Kaget dengan situasi baru atau aktifitas baru ~misalkan sedang bermain dan aktifitas berikutnya adalah mandi~. Di sana juga menjelaskan bagaimana transisi aktifitas sebaiknya dilakukan.
  3. Kegiatan yang terlalu banyak ~mungkin kita bepergian ke 3 atau 4 tempat dalam satu hari~. Dengan kegiatan yang terlalu banyak begitu, anak akan capek. Kita saja sebagai orang dewasa kalau sudah capek begitu emosi akan sangat cepat sekali tersulut, apalagi anak kecil, hehe.
  4. Ketegangan orangtua. Atau, saya biasa menyebutkan dengan emosi orangtua yang sedang tidak stabil. Disaat kita sebagai orangtua kurang cukup istirahat dan atau kurang mendapatkan “me” time, maka akan sangat berdampak bagi pola interaksi kita terhadap anak. Saya pun terkadang mengalaminya dan walhasil Naia bisa merengek-rengek gak jelas ke saya dan saya hanya diam untuk meredakan emosi. 🙁

Jadi, pencegahannya bagaimana? Ya dengan menghindari penyebab tantrum tadi.

  1. Pastikan tidurnya cukup. Saya jadi jarang dan gak mau membangunkan Naia yang sedang tidur walaupun kami harus pergi ~kecuali yang perginya bergantung pada orang lain~. Soalnya saat Naia kurang tidur sedikit saja, maka hilanglah sifatnya yang ceria dan gak mau diem, dan timbul sifat yang selalu merengek 🙁
  2. Pastikan perutnya kenyang. Kalaupun anak lapar padahal belum jam makannya, ya beri saja biskuit atau cemilan kesukaannya 😀 . Saya masih suka gagal dalam hal ini, huhu.
  3. Temani saat berada dalam lingkungan baru. Setiap anak memiliki waktu untuk mengenali dan nyaman dengan situasi baru, jadi tunggu sampai anak benar-benar merasa aman berada di lingkungan tersebut barulah mengajaknya beraktifitas. Naia juga bukan termasuk anak yang langsung merasa nyaman saat berada di lingkungan baru, jadi sering banget saya biarkan menempel terus sama saya sampai dia mau berinteraksi dengan sendirinya.
  4. Beri penjelasan atau peringatan akan pergantian aktifitas.
  5. Siapkan hati sepenuhnya saat berhadapan dengan anak. Anak bisa melihat ketidakstabilan emosi kita lho. Misalnya saja, saat emosi saya mudah sekali tersulut, Naia malah sengaja berbuat hal yang memicu emosi ~seperti membuang makanannya atau membanting barang~. Nah, saat keadaan seperti itu saya berpikir kembali apa yang menyebabkan itu, dan saya harus menenangkan diri terlebih dahulu deh baru berinteraksi lagi. Saat pikiran dan hati saya sepenuhnya untuk Naia, ya interaksi kami sangat enak dan nyaman, gak ada nangis2an atau jerit-jeritan. Happy mom raise happy kids.

Nah, kalau kita sudah melihat tanda-tanda awal si anak akan tantrum, mengalihkan perhatiannya juga termasuk salah satu pencegahan lho.

If you sense a tantrum is on the way, try distracting your child by changing locations, giving him a toy, or doing something he doesn’t expect, like making a silly face or pointing at a bird. ~babycenter

Lalu saya ingat dengan buku ayah Edi, ayah Edi menjawab 100 persoalan mendidik anak. Pas sekali, pada curhatan pertama, si orangtua bertanya mengenai anak yang menjadikan tangisan sebagai senjata untuk mendapatkan keinginannya, apalagi kalau perilaku tersebut dilakukan di tempat umum.

Di situ memang tidak dibahas khusus mengenai tantrum, tetapi menurut pendapat saya, menangis sampai menjerit-jerit untuk mendapatkan sesuatu termasuk tantrum juga. Dan ayah Edi menyebutkan kalau menjerit-jerit seperti itu adalah proses eskalasi setelah ia merasa gagal mendapat yang diinginkannya hanya dengan menangis. Jadi, tantrum adalah puncak emosi saat keinginan anak tidak tercapai. Sama seperti gambaran grafik di strategi menghadapi anak tantrum.

grafik tantrum
grafik tantrum

Jadi, menurut ayah Edi, sebaiknya orangtua bisa mencairkan suasana ketika anak masih berada pada tahap awal. Bisa dengan mengalihkan perhatiannya seperti yang telah disebutkan 😉

Ah, tapi bukan berarti kita tidak mempedulikan keinginan anak. Setelah anak tenang dan cukup senang, kita bisa membicarakan masalah ini hati ke hati *cieeh*, jelaskan alasan kenapa kita tidak mau memenuhi keinginannya itu.

Yuk, kita lakukan sebisa mungkin untuk mencegah terjadinya tantrum 🙂

Links:

strategi menghadapi anak tantrum

babycenter

tantrums

ayah Edi menjawab 100 persoalan mendidik anak

Hal-hal Yang Diperlukan Demi Langgengnya Pernikahan

Beberapa bulan sebelum saya dan suami menikah, saya dikagetkan dengan berita perceraian salah satu orang yang sangat menginspirasi saya. Beliau baru saja menginjak 2 tahun pernikahan namun berpacaran sudah cukup lama, sekitar 8 tahunan. Saat ditanya mengapa akhirnya memutuskan bercerai, beliau hanya memberikan nasehat, bagusnya sebelum menikah benar-benar terdapat komunikasi satu sama lain mengenai hal-hal yang diharapkan dengan pernikahan, juga mengenai keadaan diri masing-masing, baik atau buruk.

Saya dan calon suami waktu itu akhirnya melaksanakan nasehatnya. Kami saling menceritakan sifat buruk kami dengan tidak mengharapkan apa-apa. Kalau memang cinta dan benar-benar berniat menjadikan pernikahan sebagai ibadah, insyaAllah sifat buruk kami masing-masing akan saling dikurangi.

Akhirnya kami pun menikah pada tanggal 26 Juni 2011 yang lalu.

Pernikahan
Pernikahan

Setelah saya menikah, tidak berapa lama terdapat lagi seorang sahabat yang pernikahannya berada di ujung tanduk. Di dalam hati, saya sebenarnya mengagumi keluarga beliau karena merupakan keluarga yang cukup harmonis dan sang ibu benar-benar menjadi pendidik yang asik bagi anak-anaknya. Fuah, saya jadi was-was lagi, huhu.

Akhirnya saya menjadikan umur pernikahan kedua sahabat itu menjadi patokan keberhasilan mempertahankan pernikahan saya dan suami. Patokan yang paling ringan adalah ketika memasuki usia 2 tahun pernikahan. Terbersit rasa lega yang tidak sedikit saat usia pernikahan kami menginjak umur 2 tahun 4 bulan yang lalu. Patokan selanjutnya adalah di umur pernikahan ke 10 nanti, sama dengan sahabat yang pernikahannya di ujung tanduk dan umur pernikahan mbak Uniek Kasgarwanti, seorang blogger yang saya kenal dari komunitas emak2 blogger (KEB) yang baru saja merayakan umur pernikahan ke 10 ~Semoga beliau bahagia selalu bersama suami dan pernikahannya langgeng sampai akhir hayat, aamiin~. Yang satu di ujung pernikahan, yang satu masih sangat langgeng, dari keduanya kita bisa belajar 😀

Selain menjadikan umur pernikahan kedua sahabat tersebut sebagai patokan ringan, saya juga menjadikan umur pernikahan orangtua saya dan suami sebagai patokan selanjutnya. Mereka masih tetap harmonis sejak awal menikah hingga sekarang, dan saya sangat mengagumi keduanya. Umur pernikahan mertua saya sudah mencapai 26. Dan umur pernikahan orangtua saya lebih dari itu, yaitu 38. Harapannya siih saya dan suami bisa langgeng seumur hidup. Bahkan dipersatukan kembali di surgaNya kelak, Aamiin.

Namun, dari pengalaman buruk kedua sahabat itu serta dari keharmonisan keluarga orangtua kami, saya mengambil beberapa pelajaran dalam pernikahan.

*Saya pernah bikin postingan mengenai persiapan mental sebelum menikah, nah kali ini pendapat saya untuk membuat pernikahan langgeng dengan melihat pengalaman-pengalaman pernikahan teman maupun sanak saudara.

1. Selalu komunikasi

Tanpa adanya komunikasi yang baik, hubungan juga tidak akan berjalan baik. Saya dan suami Alhamdulillah selalu berkomunikasi dengan baik. Biasanya kami menyediakan waktu 1 hari kosong untuk hanya di rumah saja dan bersantai, hihi. 1 hari bersantai itu kita gunakan untuk saling bercerita panjang lebar mengenai segala hal. Tapi jika dalam satu minggu kami tidak memiliki hari libur yang bisa digunakan untuk di rumah saja, suami kadang-kadang ijin kerja di weekdays 😛

2. Saling percaya dan menjaga kepercayaan

Huah, ini penting banget nih. Walaupun komunikasi berjalan mulus, tapi tanpa adanya rasa saling percaya tetap saja komunikasi yang berjalan hanya akan saling mencurigai dan itu tidak baik bagi sebuah hubungan. Ini yang saya pelajari dari orangtua saya dan suami. Mereka, walaupun tanpa berkomunikasi, benar-benar bisa saling percaya dan saling menjaga kepercayaan itu. Sekali saja kita mengkhianati kepercayaan pasangan, selanjutnya tidak akan pernah bisa sepenuhnya dipercaya lagi. Huhu.

3. Selalu mempelajari dan mengerti kekurangan pasangan

Iya, mempelajari, hehe. Kita biasanya akan terus menemui kekurangan pasangan yang tidak bisa kita tolerir. Nah, buat saya sih, kekurangan tersebut dipelajari untuk dimengerti. Jadi, saat kita melihat kekurangan pasangan, kita sudah tau cara mengatasinya untuk selanjutnya kita kurangi sedikit demi sedikit. Kita juga harus tau kekurangan kita untuk dikurangi sedikit demi sedikit juga.

4. Selalu belajar untuk menjadi lebih baik

Tanpa belajar, kita gak bisa mengubah diri kita untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Tentunya agar pernikahan langgeng, kita mau selalu lebih baik lagi kan? Nah, dengan selalu berkomunikasi, saya dan suami jadi tau harapan dan kekurangan masing-masing. Dengan begitu, kita bisa selalu belajar untuk bisa memenuhi harapan tersebut atau memperbaiki kekurangan agar hubungan terjaga.

5. Jangan malu untuk sering-sering berhias

Bukan cuma istri, suami juga perlu berhias untuk menyenangkan istrinya, hehe. Biasanya kan yang menuntut selalu suami agar istrinya bisa terlihat cantik di matanya. Nah, istri juga bisa donk menuntut suaminya tampil ganteng dan rapi, hihihi. Maka dari itu, jangan gengsi untuk sesekali berhias diri walaupun gak pergi keman-mana, yaa sekedar menyenangkan hati pasangan 😀

6. Samakan visi dan misi keluarga

Hihi, kaya apaan aja yak punya visi dan misi. Etapi bener lho, suami istri itu harus punya pandangan yang sama terhadap keluarga yang mereka bentuk, ya punya visi dan misi yang harus sama gitu. Kalau visi yang dipegang suami berbeda dengan istri, ya bisa wassalam deh, dan bisa selalu terangkat ketika terjadi keadaan yang tidak enak *alias emosi*. Kalau untuk hal-hal kecil sih gak masalah bisa beda, tapi visi dan misi ini adalah suatu hal yang prinsipil bentuknya.

7. Rutin memberi kejutan-kejutan kecil

Hihi, kejutan-kejutan kecil gini bisa membuat makin cinta dengan pasangan lho. Pernah suatu hari, suami ada acara di *lupa tempatnya*, karena saya orang yang penakut, jadi saya tidak membolehkan suami pulang terlalu malam ~paling malam ya jam 8 lah~. Nah, karena waktu itu suami pulang agak lebih malam, saya sudah terlanjur tidur dan sudah terlanjur *sedikit* kesal, huhu *mana saya lagi hamil pula*. Tetapi, akalnya suami pinter banget deh. Dia membawakan makanan favorit saya plus hadiah kecil. Seumur-umur saya memang menginginkan barang itu dan belum kesampean sampai dia membelikan XP *sampai saya posting di facebook juga, hihi*

hadiah kecil

8. Mesra di manapun

Asal jangan vulgar yaa, hehe. Sekedar mencuri2 cium saat berdua saja di lift atau di tempat umum atau sekedar mencolek-colek iseng suami juga bisa membuat hubungan gak datar lhoo. Malah bisa semakin harmonis, hihi

9. Jangan remehkan kata tolong, terima kasih, dan maaf

Yap, ketiga kata ini penting digunakan agar pasangan selalu merasa dihargai dan bermanfaat. Pada bagian ini, saya juga pernah membuat postingan sendiri di sini.

10. Sering-sering ucapkan “I love you”

Jangan gengsi juga untuk sering-sering mengatakan “I love you” untuk pasangan, tiap hari juga boleh XP Bener deh, kata-kata ini menjadi penyemangat hati yang sedang suntuk atau tidak bersemangat.

Rasanya baru segitu saja dari saya. No 8 sampai 10 baru ditulis setelah diingatkan oleh kakak sepupu yang komen, hehehe. Memang saya newbie sih untuk urusan pernikahan, hihi maklum baru 2,5 tahun :P. Tapi saya mau dan semangat untuk terus belajar menyenangkan suami, anak, dan juga membuat keluarga yang harmonis. Aamiin.

Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine.

Giveaway 10th Wedding Anniversary

Tetap Peduli

Saat perasaan terhadap pasangan sedang tidak enak dikarenakan entah siapa yang salah, jika keduanya benar saling mencintai maka keduanya akan berusaha membuat keadaan menjadi enak kembali. Betul kan? hehe

Jadi pernah suatu saat saya dan suami mengalami perasaan tidak enak tersebut, mungkin saat saya PMS. Tapi, karena saya sangat menghargai suami dan suami pun menginginkan keadaan baik kembali, masing2 dari kami berusaha untuk memperbaiki keadaan itu. Saya berdandan untuk menyambut suami pulang, suami pun membawakan hal yang saya sukai *biasanya makanan* sebagai kejutan. Dan keadaan pun menjadi enak kembali dengan kemudian saling meminta maaf atas kejadian sebelumnya.

Hal tersebut ya dikarenakan kedua pihak masih saling mencintai dan masih sama-sama saling peduli.

Ah iya, saya jadi memikirkan hal itu karena kemarin baru saja melihat gambar di facebook yang akhirnya saya share ke suami XP. So sweet banget deh fotonya, ihihi.

love is
Just because I’m mad, doesn’t mean I stop caring

tempat saya ngambil gambar

Bener gak ya kita akan otomatis memaafkan kalau benar saling mencintai? At least dari perasaan yang tidak berhenti saling peduli dan keinginan untuk mempertahankan hubungan itu sendiri.

Kalau saya sendiri yang diperlakukan seperti yang di gambar tersebut, hati saya pasti langsung luluh dan saya akan berusaha merayunya agar dia tidak marah lagi, ihihi.

Menurut saya sih, ketika ada konflik antara dua orang yang berpasangan, kalau keduanya benar saling mencintai, maka keduanya akan saling berusaha meminta maaf untuk menjaga kelangsungan hidup hubungan mereka berdua. Kalau sama-sama tidak mau berusaha, ya wassalam deh sama hubungannya XD

Yang lain setuju? Mana suaranyaaa… hehe

Naia Bisa Meledek

Tingkah Naia dalam hal meledek ini memang lucuu banget deh. Keisengan yang turun temurun XP

Sudah cukup banyak ulah Naia meledek. Pastinya bukan  yang tidak sopan, karena kalau tindakannya tidak sopan kita (saya dan suami) sepakat untuk tidak menghiraukannya alias nyuekin. Dicuekin biar dia gak merasa dapet perhatian atas tingkahnya itu. Anak kecil itu paling senang mendapat perhatian kan? Dan dia merasa kalau mendapat perhatian dari lingkungan sekitar ya berarti tindakannya benar, hehe.

Nah, kalau yang ini sih iseng-iseng lucu.

1. Naia meledek papanya. Jadi, Naia ceritanya lagi megang handphone papanya. Nah, diam-diam dia mendekat dan menjulurkan tangan tanda ngasih handphone yang dipegang itu. Tapi, begitu papanya menjulurkan tangan juga untuk menerima, dia lalu menarik tangannya kembali lalu senyum-senyum meledek, wekekek.

2. Naia meledek saya. Ada lagi saat dia mau ngasih saya makanan yang dia pegang. Belum sampai di mulut saya, dia sudah menarik tangannya lagi sambil senyum-senyum ngeledek lagi, hahaha. Benar-benar bikin PHP XP

3. Meledek akungnya (ayah dari saya). Saat akungnya bersin, Naia sempat kaget beberapa saat. Tapi tidak lama, dia lalu menghampiri akungnya dan meniru gaya bersinnya, hihihi. Sampai sekarang kalau ditanya “Bersinnya akung kaya gimana Naia?” dia mengeluarkan suara “ah”, ceritanya meniru akungnya bersin.

Gemeeess banget deh kalau dia sudah melakukan aksi meledek seperti itu.

[Parenting] Kunci Utama Sebagai Orangtua

Hum, sebenarnya lanjutan dari tujuan pengasuhan itu adalah gaya pengasuhan. Dengan adanya kesepakatan tujuan pengasuhan antar suami istri, selanjutnya ya menerapkan gaya pengasuhan seperti apa yang cocok. Sebelumnya saya memang pernah menuliskan 4 gaya pengasuhan menurut Diana Baumrind. Namun, saya berniat untuk menuliskannya lagi, mungkin lain waktu 😀

Sekarang saya ingin berbagi kunci utama yang harus dimiliki oleh orangtua menurut pengalaman dan pengamatan saya sendiri. Kuncinya itu ada dari dalam hati, cieeeh. Maksudnya, kuncinya adalah sifat yang harus ~banget kayanya~ dimiliki oleh orangtua.

Menurut saya ya, kunci itu adalah ikhlas, sabar, dan percaya saja. Dengan tiga hal itu, perjalanan mengasuh buah hati (termasuk mendidiknya menjadi orang yang bertanggung jawab) menjadi ringan dan mudah.

Sabar

Saya sendiri merasa masih kurang bisa sabar dalam menghadapi buah hati. Memang pelajaran sabar dan ikhlas itu adalah pelajaran hidup yang paling sulit kan? hehe. Tapii, kurang sabar saya masih bisa saya kendalikan, Alhamdulillaah *semoga semakin bisa sabar*. Jadi kalau terasa sedikit kehilangan kesabaran ~belum sampai tahap emosi~ saya biasanya berdiam diri dulu sedangkan anak bermain bersama papanya. Atau, kalaupun di rumah sedang hanya berdua saja, ya saya berdiam diri dengan anak bermain sendiri. Kalau dia tidak bisa bermain sendiri dan terus merengek ke saya, biasanya saya tetap diam namun melakukan apa yang diinginkan oleh anak sambil memberinya pengertian “mama sedang butuh waktu sendiri, sebentar saja, sampai mama ajak Naia main lagi”. Ya, kalau yang baru saja menerapkan pengertian begitu mimpi sih kalau anaknya bisa langsung mengerti dan langsung anteng main sendiri lagi. Tapi, kalau kita memang terbiasa berdialog begitu, biasanya anak bisa langsung mengerti dan bermain sendiri lagi.

Sabar Menunggu Naia Baca Buku
Sabar Menunggu Naia Baca Buku

Sabar itu benar-benar sangat diperlukan ketika kita mengajarkan anak mandiri. Ya misalkan saja mengajarkan anak untuk bisa makan sendiri, atau dia sudah ingin melakukannya sendiri walau kita masih ingin menyuapinya. Nah, nungguin anak makan itu gak sebentar. Walaupun kita juga ikutan makan, anak ya selesai makannya jauh lebih lama ketimbang kita. Belum lagi kalau berantakan *ini sih pasti ya, hehehe*. Berhubung koordinasi tangannya belum sempurna, ya ada lah nasi atau lauk yang terlempar kesana kemari 😛

Hal yang sama juga berlaku ketika menemani anak bermain. Harus sabar mengikuti kemana anak pergi dan mau main apa, asal yang aman-aman saja. Pokoknya bagi saya dan suami, selama hal itu aman ya kita tidak pernah akan melarang agar hasrat keingintahuannya tidak dibatasi. Tapi, memang kita gak pernah melarang sih, paling-paling kalau sudah tidak aman, ya anaknya kita amankan/ jauhkan dari tempat itu lalu diberi pengertian kenapa gak boleh kesitu.

Benar! Orangtua juga harus sabar dalam memberi pengertian dan menjawab segala pertanyaan anak. Apalagi kalau anak sudah tahap “cerewet-cerewetnya”, ya kita harus sabar selalu mendengarkan ceritanya berulang kali, juga harus sabar menjawab pertanyaannya yang berulang kali. Dari situlah anak belajar, melalui pengulangan. Tapi, kalau kita capek menjawab gimana? Coba saja ajak anak mencari tau jawabannya sendiri, mungkin dengan begitu akan langsung tertanam di otaknya mengenai jawaban pertanyaannya itu hehehe.

Ikhlas

Nah, ini nih salah satu yang mudah dibicarakan tetapi paling suliit dilakukan. Hum, maksudnya ikhlas dalam mengasuh anak itu ya kita gak perlu memikirkan apa yang nanti akan diberikan ke kita. Ikhlas menjalani dan menjaga amanah yang dimiliki. Dengan terus adanya rasa ikhlas ini, rasanya sabar akan selalu mengiringi.

Ikhlas juga maksudnya menerima hasil yang diberikan oleh anak. Seperti dalam hal belajar makan sendiri, kita ya ikhlas saja dengan hasil nasi yang tercecer dan berantakan di lantai, toh bisa kita bereskan. Yang penting kita sudah meningkatkan kepercayaan dirinya untuk makan sendiri. Selanjutnya kemampuan makan sendirinya pasti meningkat, jadi sedikit yang tercecer dan lama-lama ya sepenuhnya bisa makan sendiri tanpa ada yang tercecer.

Keikhlasan tetap diperlukan juga lho dalam mengajari tanggung jawab. Misalnya saja, dia harus membereskan mainannya setelah bermain atau sebelum tidur. Nah, kita cukup memberi tahu kalau dia harus membereskan mainan (kalau perlu ya kita bantu sedikit). Ikhlas dengan hasil yang diperoleh anak. Mungkin kita tidak puas dengan penyusunan mainannya, tapi toh dia sudah belajar bertanggung jawab, jadi ya ikhlas saja dengan hasilnya 😀

Dengan keikhlasan ini juga keinginan untuk bisa menjadi orangtua yang lebih baik lagi semakin berkembang. Dengan begitu, kita jadi terus menerus menambah ilmu kita mengenai pengasuhan yang baik sesuai dengan gaya pengasuhan yang telah disepakati sebelumnya.

Percaya saja

Ini sebenarnya pelajaran dari ruasdito* sih, hehe. Jadi, maksudnya dalam mengajarkan anak kemandirian, kita cukup perlu percaya saja dengan kemampuannya. Dia bisa loh melakukan sesuai dengan harapan kita, bahkan terkadang melebihinya.

Seperti dalam hal membereskan mainan. Kita gak perlu capek-capek teriak dan sekuat tenaga membuatnya membereskan mainannya sendiri. Ya dijelaskan saja kenapa dia harus membereskan mainannya dan itu merupakan tanggung jawabnya dia. Nah, kalau kita percaya saja dia  bisa melakukan itu, insyaAllah dia memang bisa. Namun, balik lagi ke sabar. Kita harus sabar karena membereskan mainan tidak semudah yang kita bayangkan 😀

Dia bahkan bisa merapikan sandal yang habis dipakainya untuk bermain di luar. Iya, terkadang saya sendiri jadi malu sama Naia. Sehabis bermain, saat sandalnya saya copot, dia langsung mengambil sandal itu dan meletakkannya di rak sepatu yang ada di depan rumah kita. Sedangkan saya, saya biasa membiarkan sandal ngejogrok *apa bahasa bagusnya yak* di depan pintu karena merasa nanti akan dipakai lagi, huhu. Akhirnya sekarang-sekarang saya pun langsung meletakkan sandal di rak sepatu. Kalau mau dipake lagi ya tinggal ambil lagi, hehe. Agar kebiasaan baik Naia tidak berubah, saya harus selalu mencontohkannya. Anak belajar dari contoh kan? 😀

*Ruasdito (rute-asuh-didik-toge) ini diperkenalkan oleh Toge Aprilianto, penulis buku “Saatnya Melatih Anakku Berpikir”, buku ringan dan tipis namun isi yang terkandung merupakan pelajaran dan petunjuk pengasuhan anak secara rinci.

Itulah 3 hal paling mendasar yang benar-benar diperlukan oleh orangtua *menurut saya loh*. Kalau merasa ada lagi yang lain, silakan berkomentar yaa. Selamat menikmati menjadi orangtua!

Menuruti Orangtua

Menuruti orangtua itu banyak hikmahnya. Dan juga berkah. Saya dan suami membuktikannya malam ini.

Jadi malam ini ada acara pernikahan teman di taman mini. Alangkah lebih dekat kalau kita berangkat ke acara itu dari rumah kontrakan kita di pasar minggu.

Tapi… Karena kita sudah cukup lama tidak berkunjung ke rumah orangtua saya di priuk, jadilah saya dan suami memutuskan untuk menginap di priuk saja sampai besok dengan tetap akan ke acara tersebut dari priuk. Jauuh yah. Apalah artinya jarak untuk menyenangkan orang yang kita cintai *cieeeh*.

Nah, saat saya menyampaikan ke ibu saya kami mau ke acara pernikahan itu, ibu saya menyarankan agar kami berangkat setelah sholat ashar saja agar tidak pulang terlalu malam. Awalnya saya dan suami mau berangkat setelah maghrib, tapi dipikir2 benar juga sih sarannya. Dengan mempertimbangkan lalu lintas juga, kami menuruti saran itu deh, walaupun akhirnya tetap berangkat jam 5 sore.

Alhamdulillah lalu lintas saat kami berangkat itu lancaar jaya, jadi sampai di taman mini baru jam 6.15 sore. Suami bisa sholat dulu *kebetulan saya sedang libur sholat :D* dan kita bisa bersantai sejenak.

Ngomong-ngomong berkah, banyak banget yang kami dapatkan karena berangkat lebih awal. Kalau dituliskan, inilah berkah yg kami dapatkan malam ini:

1. Jalan2. Hihi, jalan2 sekeluarga itu memang sesuatu banget xp. Jadi merasa family time banget.
2. Malam mingguan. Haha, awalnya gk engeh kalau sekarang malam minggu, tapi pas bersantai sejenak karena datang awal jadi terpikir dan senyum2 berdua deh 😀
3. Reuni/ silaturahmi. Iya banget nih, jadi kaya reuni fasilkom, secara berhubung yg menikah itu “orangtua” dan “anak” kita, hehe. Sesama angkatan ganjil, yg satu mendidik angkatan saya dan suami, yg satu lagi angkatan yg kita didik.
4. Makan enak. Acara pernikahan itu emang satu paket dengan makan enak kan? Hehehe
5. Kembang api. Ini salah satu acara yang bikin acara pernikahan ini beda dari yang lain.
6. Boneka. Ini satu lagi yang bikin beda dari yg lain. Mereka bagi-bagi 10 buah boneka dan saya dapet satuuu, buat Naia doonk pastinya 😀

image
Boneka Gratisan XP

Yg terakhir, pernikahannya berbeda dari biasanya jadi memberikan kesan tersendiri dan pastinya akan diingat terus 😉

Nah yg paling utama…

Kalau kita berangkat sedikit lebih lama saja, kita tidak akan sampai secepat itu dan tidak bisa bersantai deh. Berhubung yang mengadakan acara pernikahan di taman mini itu banyak, jadi sedikit lebih lama lagi akan lebih banyak mobil dan membuat lalu lintas menjadi macet. Dan memang itu yang terjadi, jalanan macet cet cet.

Ada seorang teman yang menghabiskan waktu 2 jam untuk menuju tempat acara padahal hanya dari daerah Depok. Ada lagi 2 orang yang akhirnya terpaksa membatalkan kehadirannya, padahal mereka sudah berada di sekitaran taman mini.

Karena menuruti orangtua,kami jadi tidak terkena macet sama sekali. Jalanan pergi dan pulang lancaar jaya jadi kami bisa mendapatkan berkah sebanyak itu *malam penuh berkah doonk xp

Alhamdulillah yah.

[Parenting] Tujuan Pengasuhan

Pertama-tama saya mau mendeklarasikan kalau saya pengen secara aktif memposting hal yang berhubungan dengan parenting. Tujuannya, selain lahan saya belajar ~jadi kalo baca-baca hal parenting dari artikel-artikel mana aja langsung aja saya simpen linknya dan saya reblog dengan bahasa saya sendiri biar lebih paham~ bisa juga lahan buat pengunjung blog saya untuk belajar ilmu parenting juga. Mudah-mudahan dengan bertambahnya konten parenting gini makin banyak orangtua-orangtua muda yang aware akan pentingnya pengasuhan anak.

Kenapa sih pengasuhan anak penting banget? Iya donk, anak itu masa depan kita, masa depan bangsa juga. Mau dibawa kemana bangsa kita kalau kita mengasuh anak dengan sembarangan?

Saya punya tujuan untuk membentuk Indonesia yang lebih baik lagi dari sekarang dengan pelan-pelan menghilangkan KKN dan segala hal buruk yang terjadi di Indonesia. Nah, saya gak bisa sendirian, jadi saya ingin generasi setelah saya juga seperti itu, saya ingin melatih mereka menjadi orang yang lebih bertanggung jawab, peduli, serta mementingkan kebenaran BUKAN mementingkan diri sendiri. Jadi di tangan generasi peneruslah bisa kita serahkan Indonesia dengan tenang. Dengan membentuk generasi masa depan yang baik, yang benar, yang bertanggung jawab, mungkin insyaAllah ke depannya kita bisa jadi negara yang bebas korupsi. “Indonesia strong from home”, begitu kira-kira kata ayah Edi 😀

Nah, mengenai judul, beberapa waktu lalu suami saya nge-share note facebook seseorang yang menuliskan summary dari seminar parenting ibu Elly Risman. Intinya adalah mengenai tujuan pengasuhan anak.

Kenapa tujuan pengasuhan itu diperlukan? Kalau kita bepergian, kita juga pasti punya tujuan, kalau tidak, kita akan berjalan entah kemana yang akhirnya nyasar dan ketika balik lagi ke rumah, kita tidak mendapat hasil apa-apa, nihil, nol, tidak bermanfaat. Begitulah kalau pengasuhan tidak memiliki tujuan 😀

direction

Karena itu, sebagai orangtua, kita, ibu dan ayah harus terlebih dahulu menyelaraskan tujuan pengasuhan dalam keluarga kita. Seminar tersebut menjelaskan pentingnya tujuan pengasuhan dan menyebutkan beberapa tujuan pengasuhan yang bisa diterapkan. Nah, di bawah ini saya menjelaskan mengenai tujuan-tujuan pengasuhan yang didapat dari seminar itu.

  1. Hamba Allah yang taqwa. Pada anak, yang pertama matang adalah systemlimbic di belakang kepala, system limbic ini berkaitan erat dengan PERASAAN. Jadi ajarkan pada anak rasa beragama dan rasa memiliki Allah. Sama halnya dengan mengajarkan padanya kecerdasan emosi terlebih dahulu. Anak yang dari kecil dikenalkan dengan berbagai macam emosi akan tumbuh menjadi anak yang memiliki empati serta rasa kepedulian tinggi terhadap sesama. Maka, untuk mereka tidaklah penting mengajarkan sebanyak-banyaknya pengetahuan ini-itu, tapi lebih penting mengajarkan PERASAAN. “Indonesia Neuroscience Society merekomendasikan, anak di bawah 4 tahun, salah satu ibu atau bapaknya HARUS dirumah, mendidik anak. Tanggung jawab mendidik agama berada ditangan AYAHNYA, ayah harus ‘alim, dialah penentu GBHK ( Garis Besar Haluan Keluarga), ibu hanya unit pelaksana teknis.”[1]
  2. Calon suami/ istri yang baik. Hal ini berkaitan dengan ketaqwaan tadi, dengan bertaqwa, kita juga mengajarkan bagaimana membentuk rumah tangga yang harmonis dengan menjadi suami/ istri yang baik.
  3. Calon ayah dan ibu yang baik. Nah, hal ini untuk membentuk generasi berikut-dan berikutnya untuk lebih baik lagi. Mereka harus diajarkan dan ditunjukkan peran ibu dan tanggung jawab ayah. Perlu juga untuk mengajarkan fungsi laki-laki dan perempuan atau ibu dan ayah itu berbeda. Yang sangat penting untuk diperhatikan lagi adalah “jangan berantem depan anak”.
  4. Membantu mereka mempunyai ilmu dan keahlian. Inilah yang menjadi fokus perhatian kita selama ini. Banyak rumah tangga yang menjadikan poin inilah satu-satunya tujuan pengasuhan mereka, padahal ini harusnya hanya salah-satu tujuan saja.
  5. Pendidik istri dan anak. Banyak hal buruk yang menjadi akibat dari kurangnya perhatian ayah kepada anak-anaknya. Contohnya saja terjadi pada artikel ini: http://nelotte.wordpress.com/2013/08/22/saya-sudah-ga-perawan-di-usia-sekolah. Hasil studi di harvard: “anak yang ayahnya involved dalam pengasuhan akan tumbuh menjadi anak yg dewasa dan suka menghibur orang, punya harga diri yang tinggi, prestasi akademis di atas rata-rata dan lebih pandai bergaul.” Setidaknya luangkan waktu minimal 30 menit untuk anak tanpa gangguan apapun termasuk gadget, quality time istilah kerennya. Dengan begitu ayah bisa menjalin kedekatan emosi secara langsung dengan anaknya.
  6. Pengayom keluarga. Didik anak laki-laki kita untuk menjadi pengayom orangtua, istri, serta anak-anak mereka. Di pundak laki-laki ada tanggung jawab terhadap 4 wanita yang harus mereka lindungi. 4 wanita tersebut adalah ibu, istri, anak perempuan, dan adik perempuannya, maka penting untuk menekankan hal ini kepada mereka.
  7. Manusia bermanfaat bagi orang lain atau sebagai pendakwah ( penyampai kebenaran). Sama halnya dengan tujuan hidup saya pribadi untuk menjadi manusia yang bermanfaat, saya ingin juga anak-anak saya kelak menjadi orang yang kebermanfaatannya dapat dirasakan banyak orang.

Tulisan lebih lengkap mengenai seminarnya bisa dibaca di sini.

Dari situ, kita bisa belajar kalau tujuan pengasuhan itu penting, biar kita sebagai orangtua punya bayangan akan bagaimana anak kita ke depannya. Dan dengan punya tujuan pengasuhan itu juga, kita jadi bisa merumuskan bagaimana cara pengasuhan yang harus diterapkan ke anak nantinya.

Jadi sebelum melakukan apa-apa, kita memang perlu merumuskan tujuan kita melakukan itu.

So, punya anak emang gak gampang, harus punya ilmunya biar anak gak terbengkalai terabaikan, hehe. Dan anak juga merupakan amanah langsung dari pencipta kita, jadi makin gak bisa sembarangan kita menjaga dan mendidiknya.

Sudahkah kalian menentukan tujuan pengasuhan bagi anak-anak? 😀

101 Young CEO

Itu judul buku pertama suami saya 😀

101 Young CEO

Alhamdulillah sebentar lagi bukunya terbit. Bukunya merupakan cerita perjuangan membangun bisnis para 101 pengusaha muda di bawah 30 tahun yang sudah sukses. Selain itu, buku ini juga “ngomporin” kita buat jadi young CEO selanjutnya, hehe. Keren nih, terutama buat anak-anak SMA atau anak kuliahan yang mau mulai usaha sendiri.

Untuk info lengkapnya ada di websitenya: http://101youngceo.com/. Yap, suami saya sudah bikin websitenya juga, hehe.

Sukses terus yaa teruntuk suamiku tercinta, Ilman Akbar.

Toilet Training

Yak, sudah 2 minggu ini Naia saya ajarkan untuk pipis atau BAB di kamar mandi. Istilah kerennya sih toilet training / potty training, hehe.

image from babycenter
image from babycenter

Jadi 2 minggu yang lalu kuliah onine ibuprofesional berbicara tentang mengajarkan kemandirian terhadap anak. Salah satu tugas rumahnya adalah membuat buku bintang terhadap keberhasilan anak melakukan kemandirian ~bisa macam-macam~. Lalu, saya jadi berpikir untuk menerapkan kemandirian masalah buang air kepada Naia.

Kebetulan juga, saya lalu membaca artikel Potty train your toddler in 3 days lalu saya jadi kepikiran untuk menerapkan apa yang saya baca. Sebenernya bukan menerapkannya sih, cuman akhirnya kepikiran untuk ngajarin Naia potty training. Soalnya dalam hati, saya itu yakin banget kalau yang dibutuhkan itu intinya hanyalah kesiapan dan kesabaran kita.

Selain mau mengajarkan kemandirian ke Naia di usia sedini mungkin (usia Naia baru 15 bulan kurang 1 minggu), dengan dia bisa pipis dan BAB sendiri di WC kan bisa jadi mengurangi penggunaan pampers juga. Yang setiap hari bisa pakai 3-4 pampers, jadi gak pakai sama sekali.

Nah, saat itu saya udah mantap banget untuk melaksanakan potty training, jadi segalanya ya disiap-siapin deh. Saya menyediakan lap khusus dan air sabun. Jadi, kalau dia pipis di sembarang tempat bisa saya langsung lap pakai air sabun yang tadi disediakan. Kenapa lap khusus? Karena itu kan pesing, jadi ya lapnya saya khususkan 😀

Saat saya sampaikan hal ini ke suami, dia sempat kaget dan bilang saya nekat. Tapi tekad saya sudah bulat dan dia mendukung sepenuhnya.

Sayangnya kita belum sempet beli toilet kecil untuk potty training gitu, jadinya ya saya bawa aja ke kamar mandi dan pipis di lantainya. Berhubung wc di kontrakan kita juga pakainya wc jongkok dan bukan wc duduk, jadinya saya bingung untuk mendudukkan dia di wc jongkok, takut malah kakinya masuk ke wc, hiiy. InsyaAllah dalam minggu ini mau beli deh, hehe.

image by mordoc
image by mordoc

Setelah sekarang berjalan 2 minggu (oke, memang jauh dari artikelnya yang mengajarkan cuma 3 hari, tapi itu jadi bikin saya semangat banget untuk terus menjalankan potty training ini), progressnya pesat banget.

Hari pertama

Saya belum bisa membaca pola pipis dan BABnya Naia, jadi semuaaanya gak ada yang berhasil masuk kamar mandi. Di hari pertama ini cuciannya buanyak banget, hampir sama seperti waktu dia baru lahir. Oiya, 5 bulan pertama juga Naia gak pake pampers sih kalau di rumah, berhubung belum bisa kemana-mana, jadi pipisnya ya di satu tempat aja, di tempat tidur yang dikasih perlak buat dia. Di hari pertama ini, malam harinya Naia masih saya pakaikan pampers. Hari pertama ini sambil saya bicarakan pelan-pelan dengan Naia kalau itu namanya pipis dan harus memberi tahu saya kalau nanti mau pipis lagi.

Hari kedua

Dari hasil pengamatan hari pertama, setiap kali Naia bangun tidur, dia pasti pipis. Jadi, saya ceritanya eksperimen di hari kedua ini. Setiap dia bangun tidur langsung saya bawa ke kamar mandi dan saya copot celananya. Saya tunggu agak lama sekitar 1-3 menit, ternyata benar saja dia pipis. Dan 100% itu benar, selalu saja setelah bangun tidur dia pipis. Di hari kedua mulai saya copot pampers pada malam hari juga. Tapi hasilnya: ngompol! hehehe.

Hari ketiga

Dari malam hari kedua, pagi harinya itu kasurnya dia sudah basah ompolnya dia (tenang, kita kasih perlak kok, jadi gak nembus sampai ke kasur dan tidak merusak kasur 🙂 ). Setelah saya amati, sepertinya pada waktu subuh tadi dia seperti ingin bangun tapi saya langsung nenenin lagi jadi dia kembali tidur deh. Soalnya, saat malam saya nenenin, saya cium celananya belum bau pesing dan belum basah juga. Saya jadi berpikir untuk saat subuh itu saya bawa juga ke kamar mandi.

Hari keempat

Nah, saya coba deh saat subuh saya bawa ke kamar mandi, kemungkinan ngompolnya ya pada waktu subuh ini kemarin. Dan ternyata benar saja. Sampai waktu subuh, dia sama sekali belum pipis dan kasurnya kering. Udah gak ngompol!! Horee. Ah iya, sampai hari keempat ini baru berhasil 100% membuat dia pipis di kamar mandi setiap kali bangun tidur saja, belum yang Naia memberi tahu saya sebelum dia pipis pada saat terjaga. Ah, tapi saya pernah berhasil menebak tanda dia ingin pipis. Saat Naia seperti bergidik, berarti dia ingin pipis.

Oiya, setiap kali saya berhasil membuatnya pipis di kamar mandi, saya mengajaknya tepuk tangan ~instead of dancing :P~ agar dia nantinya mau memberi tahu saya saat dia merasa ingin pipis.

Hari kelima

Masih setiap bangun tidur saja pipisnya, dan saya jadi semakin yakin kalau itu memang pola pipisnya. Nah, di hari kelima ini saya masih menebak-nebak juga tanda-tanda dia ingin pipis. Kadang berhasil, kadang enggak juga. Kadang saya menebak dia ingin pipis, tapi saat sudah di kamar mandi dan celananya saya copot dan ditunggu sampai lama gak keluar-keluar juga pipisnya. Yasudahlah, itu berarti dia tidak ingin pipis. Tetap saya beri pengertian pelan-pelan kalau pipis sebaiknya memberi tahu saya agar saya bawa ke kamar mandi. Tapi tebak-tebakan saya terhadap pipisnya sudah 80% berhasil.

Minggu kedua

Hari pertama di minggu kedua dia mulai memberi tahu saya setelah dia pipis. Yap, setelah. Jadi, setelah pipis, dia menuju ke arah saya, menyenggol-nyenggol saya lalu menunjuk-nunjuk ke tempat dia tadi pipis. Okee, satu perkembangan lagi, dia sudah mengerti kalau itu pipis dan sudah bisa memberi tahu saya! Horee, senangnya hati ini. Tapi tidak lupa juga, saya tetap memberi pengertian pelan-pelan kalau sebelum pipis sebaiknya memberi tahu saya agar saya bawa ke kamar mandi. Iya, kali ini saya beri tekanan pada kata sebelum. Ah iya, setiap malam sudah berhasil tidak ngompol sejak hari keempat itu! Mantap sekali Naia ini :*

Hari kedua minggu kedua

Ada satu perkembangan bagus lagii, sekarang Naia sudah bisa memberi tahu saya saat dia merasa ingin pipis, horee..!! Jadi, sebelum pipis, dia ke arah sayasambil menengok-nengok ke arah bawah dan sambil ingin membuka celananya. Ketika saya tanya “Naia ingin pipis?” dia diam saja. Oke, saya artikan sebagai iya. Tanpa ragu lagi saya langsung bawa ke kamar mandi dan saya copot celananya. Ternyata benar, dia pipis, yeay. Hal ini berlanjut sampai sekarang.

Saya sudah menemukan 3 pola pipisnya Naia.

  1. Setelah bangun tidur
  2. Saat Naia bergidik
  3. Saat dia memberi tahu saya dengan cara menuju ke arah saya sambil menengok-nengok ke arah bawah dan sambil ingin membuka celana.

Huah, perkembangan yang cukup menggembirakan buat saya. Di umur yang baru 15 bulan, Naia sudah tidak ngompol kalau tidur dan sudah bisa memberi tahu saya saat dia ingin pipis.

Perkembangan itu juga selalu saya ceritakan setiap hari ke suami dan dia ikut bangga terhadap Naia 😀

Untuk BAB, dia masih takut kalau di kamar mandi. Entah kenapa. Kemarin soalnya saat dia diam saja dan saya tanya ingin BAB, dia tetap diam. Dan ternyata benar, dia BAB. Ya langsung saya bawa ke kamar mandi sambil dicopot celananya dan saya tunggu lagi kalau dia ingin BAB lagi. Tapi ternyata dia malah nangis kejer, huaaa. Yaudah, saya sudahi. Ternyata beberapa menit setelah keluar kamar mandi dan saya pakaikan celana lagi, dia BAB lagi. Yak, benar berarti dia masih takut untuk BAB di kamar mandi. Okee, pelan-pelan deh, pikir saya.