Aku Istiana Sutanti, seorang ibu dari 3 orang perempuan yang hobi sekali mengajak anak-anak untuk traveling bersama.
Di blog ini aku sharing pengalaman traveling kami sekeluarga plus pelajaran parenting yang aku dapatkan, baik dari pengalaman pun dari seminar parenting.
Semoga kalian suka membaca pengalaman traveling kami dan semoga membantu untuk menentukan tujuan traveling kalian berikutnya! ;)
Saat perasaan terhadap pasangan sedang tidak enak dikarenakan entah siapa yang salah, jika keduanya benar saling mencintai maka keduanya akan berusaha membuat keadaan menjadi enak kembali. Betul kan? hehe
Jadi pernah suatu saat saya dan suami mengalami perasaan tidak enak tersebut, mungkin saat saya PMS. Tapi, karena saya sangat menghargai suami dan suami pun menginginkan keadaan baik kembali, masing2 dari kami berusaha untuk memperbaiki keadaan itu. Saya berdandan untuk menyambut suami pulang, suami pun membawakan hal yang saya sukai *biasanya makanan* sebagai kejutan. Dan keadaan pun menjadi enak kembali dengan kemudian saling meminta maaf atas kejadian sebelumnya.
Hal tersebut ya dikarenakan kedua pihak masih saling mencintai dan masih sama-sama saling peduli.
Ah iya, saya jadi memikirkan hal itu karena kemarin baru saja melihat gambar di facebook yang akhirnya saya share ke suami XP. So sweet banget deh fotonya, ihihi.
Bener gak ya kita akan otomatis memaafkan kalau benar saling mencintai? At least dari perasaan yang tidak berhenti saling peduli dan keinginan untuk mempertahankan hubungan itu sendiri.
Kalau saya sendiri yang diperlakukan seperti yang di gambar tersebut, hati saya pasti langsung luluh dan saya akan berusaha merayunya agar dia tidak marah lagi, ihihi.
Menurut saya sih, ketika ada konflik antara dua orang yang berpasangan, kalau keduanya benar saling mencintai, maka keduanya akan saling berusaha meminta maaf untuk menjaga kelangsungan hidup hubungan mereka berdua. Kalau sama-sama tidak mau berusaha, ya wassalam deh sama hubungannya XD
Tingkah Naia dalam hal meledek ini memang lucuu banget deh. Keisengan yang turun temurun XP
Sudah cukup banyak ulah Naia meledek. Pastinya bukan yang tidak sopan, karena kalau tindakannya tidak sopan kita (saya dan suami) sepakat untuk tidak menghiraukannya alias nyuekin. Dicuekin biar dia gak merasa dapet perhatian atas tingkahnya itu. Anak kecil itu paling senang mendapat perhatian kan? Dan dia merasa kalau mendapat perhatian dari lingkungan sekitar ya berarti tindakannya benar, hehe.
Nah, kalau yang ini sih iseng-iseng lucu.
1. Naia meledek papanya. Jadi, Naia ceritanya lagi megang handphone papanya. Nah, diam-diam dia mendekat dan menjulurkan tangan tanda ngasih handphone yang dipegang itu. Tapi, begitu papanya menjulurkan tangan juga untuk menerima, dia lalu menarik tangannya kembali lalu senyum-senyum meledek, wekekek.
2. Naia meledek saya. Ada lagi saat dia mau ngasih saya makanan yang dia pegang. Belum sampai di mulut saya, dia sudah menarik tangannya lagi sambil senyum-senyum ngeledek lagi, hahaha. Benar-benar bikin PHP XP
3. Meledek akungnya (ayah dari saya). Saat akungnya bersin, Naia sempat kaget beberapa saat. Tapi tidak lama, dia lalu menghampiri akungnya dan meniru gaya bersinnya, hihihi. Sampai sekarang kalau ditanya “Bersinnya akung kaya gimana Naia?” dia mengeluarkan suara “ah”, ceritanya meniru akungnya bersin.
Gemeeess banget deh kalau dia sudah melakukan aksi meledek seperti itu.
Hum, sebenarnya lanjutan dari tujuan pengasuhan itu adalah gaya pengasuhan. Dengan adanya kesepakatan tujuan pengasuhan antar suami istri, selanjutnya ya menerapkan gaya pengasuhan seperti apa yang cocok. Sebelumnya saya memang pernah menuliskan 4 gaya pengasuhan menurut Diana Baumrind. Namun, saya berniat untuk menuliskannya lagi, mungkin lain waktu 😀
Sekarang saya ingin berbagi kunci utama yang harus dimiliki oleh orangtua menurut pengalaman dan pengamatan saya sendiri. Kuncinya itu ada dari dalam hati, cieeeh. Maksudnya, kuncinya adalah sifat yang harus ~banget kayanya~ dimiliki oleh orangtua.
Menurut saya ya, kunci itu adalah ikhlas, sabar, dan percaya saja. Dengan tiga hal itu, perjalanan mengasuh buah hati (termasuk mendidiknya menjadi orang yang bertanggung jawab) menjadi ringan dan mudah.
Sabar
Saya sendiri merasa masih kurang bisa sabar dalam menghadapi buah hati. Memang pelajaran sabar dan ikhlas itu adalah pelajaran hidup yang paling sulit kan? hehe. Tapii, kurang sabar saya masih bisa saya kendalikan, Alhamdulillaah *semoga semakin bisa sabar*. Jadi kalau terasa sedikit kehilangan kesabaran ~belum sampai tahap emosi~ saya biasanya berdiam diri dulu sedangkan anak bermain bersama papanya. Atau, kalaupun di rumah sedang hanya berdua saja, ya saya berdiam diri dengan anak bermain sendiri. Kalau dia tidak bisa bermain sendiri dan terus merengek ke saya, biasanya saya tetap diam namun melakukan apa yang diinginkan oleh anak sambil memberinya pengertian “mama sedang butuh waktu sendiri, sebentar saja, sampai mama ajak Naia main lagi”. Ya, kalau yang baru saja menerapkan pengertian begitu mimpi sih kalau anaknya bisa langsung mengerti dan langsung anteng main sendiri lagi. Tapi, kalau kita memang terbiasa berdialog begitu, biasanya anak bisa langsung mengerti dan bermain sendiri lagi.
Sabar Menunggu Naia Baca Buku
Sabar itu benar-benar sangat diperlukan ketika kita mengajarkan anak mandiri. Ya misalkan saja mengajarkan anak untuk bisa makan sendiri, atau dia sudah ingin melakukannya sendiri walau kita masih ingin menyuapinya. Nah, nungguin anak makan itu gak sebentar. Walaupun kita juga ikutan makan, anak ya selesai makannya jauh lebih lama ketimbang kita. Belum lagi kalau berantakan *ini sih pasti ya, hehehe*. Berhubung koordinasi tangannya belum sempurna, ya ada lah nasi atau lauk yang terlempar kesana kemari 😛
Hal yang sama juga berlaku ketika menemani anak bermain. Harus sabar mengikuti kemana anak pergi dan mau main apa, asal yang aman-aman saja. Pokoknya bagi saya dan suami, selama hal itu aman ya kita tidak pernah akan melarang agar hasrat keingintahuannya tidak dibatasi. Tapi, memang kita gak pernah melarang sih, paling-paling kalau sudah tidak aman, ya anaknya kita amankan/ jauhkan dari tempat itu lalu diberi pengertian kenapa gak boleh kesitu.
Benar! Orangtua juga harus sabar dalam memberi pengertian dan menjawab segala pertanyaan anak. Apalagi kalau anak sudah tahap “cerewet-cerewetnya”, ya kita harus sabar selalu mendengarkan ceritanya berulang kali, juga harus sabar menjawab pertanyaannya yang berulang kali. Dari situlah anak belajar, melalui pengulangan. Tapi, kalau kita capek menjawab gimana? Coba saja ajak anak mencari tau jawabannya sendiri, mungkin dengan begitu akan langsung tertanam di otaknya mengenai jawaban pertanyaannya itu hehehe.
Ikhlas
Nah, ini nih salah satu yang mudah dibicarakan tetapi paling suliit dilakukan. Hum, maksudnya ikhlas dalam mengasuh anak itu ya kita gak perlu memikirkan apa yang nanti akan diberikan ke kita. Ikhlas menjalani dan menjaga amanah yang dimiliki. Dengan terus adanya rasa ikhlas ini, rasanya sabar akan selalu mengiringi.
Ikhlas juga maksudnya menerima hasil yang diberikan oleh anak. Seperti dalam hal belajar makan sendiri, kita ya ikhlas saja dengan hasil nasi yang tercecer dan berantakan di lantai, toh bisa kita bereskan. Yang penting kita sudah meningkatkan kepercayaan dirinya untuk makan sendiri. Selanjutnya kemampuan makan sendirinya pasti meningkat, jadi sedikit yang tercecer dan lama-lama ya sepenuhnya bisa makan sendiri tanpa ada yang tercecer.
Keikhlasan tetap diperlukan juga lho dalam mengajari tanggung jawab. Misalnya saja, dia harus membereskan mainannya setelah bermain atau sebelum tidur. Nah, kita cukup memberi tahu kalau dia harus membereskan mainan (kalau perlu ya kita bantu sedikit). Ikhlas dengan hasil yang diperoleh anak. Mungkin kita tidak puas dengan penyusunan mainannya, tapi toh dia sudah belajar bertanggung jawab, jadi ya ikhlas saja dengan hasilnya 😀
Dengan keikhlasan ini juga keinginan untuk bisa menjadi orangtua yang lebih baik lagi semakin berkembang. Dengan begitu, kita jadi terus menerus menambah ilmu kita mengenai pengasuhan yang baik sesuai dengan gaya pengasuhan yang telah disepakati sebelumnya.
Percaya saja
Ini sebenarnya pelajaran dari ruasdito* sih, hehe. Jadi, maksudnya dalam mengajarkan anak kemandirian, kita cukup perlu percaya saja dengan kemampuannya. Dia bisa loh melakukan sesuai dengan harapan kita, bahkan terkadang melebihinya.
Seperti dalam hal membereskan mainan. Kita gak perlu capek-capek teriak dan sekuat tenaga membuatnya membereskan mainannya sendiri. Ya dijelaskan saja kenapa dia harus membereskan mainannya dan itu merupakan tanggung jawabnya dia. Nah, kalau kita percaya saja dia bisa melakukan itu, insyaAllah dia memang bisa. Namun, balik lagi ke sabar. Kita harus sabar karena membereskan mainan tidak semudah yang kita bayangkan 😀
Dia bahkan bisa merapikan sandal yang habis dipakainya untuk bermain di luar. Iya, terkadang saya sendiri jadi malu sama Naia. Sehabis bermain, saat sandalnya saya copot, dia langsung mengambil sandal itu dan meletakkannya di rak sepatu yang ada di depan rumah kita. Sedangkan saya, saya biasa membiarkan sandal ngejogrok *apa bahasa bagusnya yak* di depan pintu karena merasa nanti akan dipakai lagi, huhu. Akhirnya sekarang-sekarang saya pun langsung meletakkan sandal di rak sepatu. Kalau mau dipake lagi ya tinggal ambil lagi, hehe. Agar kebiasaan baik Naia tidak berubah, saya harus selalu mencontohkannya. Anak belajar dari contoh kan? 😀
*Ruasdito (rute-asuh-didik-toge) ini diperkenalkan oleh Toge Aprilianto, penulis buku “Saatnya Melatih Anakku Berpikir”, buku ringan dan tipis namun isi yang terkandung merupakan pelajaran dan petunjuk pengasuhan anak secara rinci.
Itulah 3 hal paling mendasar yang benar-benar diperlukan oleh orangtua *menurut saya loh*. Kalau merasa ada lagi yang lain, silakan berkomentar yaa. Selamat menikmati menjadi orangtua!
Menuruti orangtua itu banyak hikmahnya. Dan juga berkah. Saya dan suami membuktikannya malam ini.
Jadi malam ini ada acara pernikahan teman di taman mini. Alangkah lebih dekat kalau kita berangkat ke acara itu dari rumah kontrakan kita di pasar minggu.
Tapi… Karena kita sudah cukup lama tidak berkunjung ke rumah orangtua saya di priuk, jadilah saya dan suami memutuskan untuk menginap di priuk saja sampai besok dengan tetap akan ke acara tersebut dari priuk. Jauuh yah. Apalah artinya jarak untuk menyenangkan orang yang kita cintai *cieeeh*.
Nah, saat saya menyampaikan ke ibu saya kami mau ke acara pernikahan itu, ibu saya menyarankan agar kami berangkat setelah sholat ashar saja agar tidak pulang terlalu malam. Awalnya saya dan suami mau berangkat setelah maghrib, tapi dipikir2 benar juga sih sarannya. Dengan mempertimbangkan lalu lintas juga, kami menuruti saran itu deh, walaupun akhirnya tetap berangkat jam 5 sore.
Alhamdulillah lalu lintas saat kami berangkat itu lancaar jaya, jadi sampai di taman mini baru jam 6.15 sore. Suami bisa sholat dulu *kebetulan saya sedang libur sholat :D* dan kita bisa bersantai sejenak.
Ngomong-ngomong berkah, banyak banget yang kami dapatkan karena berangkat lebih awal. Kalau dituliskan, inilah berkah yg kami dapatkan malam ini:
1. Jalan2. Hihi, jalan2 sekeluarga itu memang sesuatu banget xp. Jadi merasa family time banget. 2. Malam mingguan. Haha, awalnya gk engeh kalau sekarang malam minggu, tapi pas bersantai sejenak karena datang awal jadi terpikir dan senyum2 berdua deh 😀 3. Reuni/ silaturahmi. Iya banget nih, jadi kaya reuni fasilkom, secara berhubung yg menikah itu “orangtua” dan “anak” kita, hehe. Sesama angkatan ganjil, yg satu mendidik angkatan saya dan suami, yg satu lagi angkatan yg kita didik. 4. Makan enak. Acara pernikahan itu emang satu paket dengan makan enak kan? Hehehe 5. Kembang api. Ini salah satu acara yang bikin acara pernikahan ini beda dari yang lain. 6. Boneka. Ini satu lagi yang bikin beda dari yg lain. Mereka bagi-bagi 10 buah boneka dan saya dapet satuuu, buat Naia doonk pastinya 😀
Boneka Gratisan XP
Yg terakhir, pernikahannya berbeda dari biasanya jadi memberikan kesan tersendiri dan pastinya akan diingat terus 😉
Nah yg paling utama…
Kalau kita berangkat sedikit lebih lama saja, kita tidak akan sampai secepat itu dan tidak bisa bersantai deh. Berhubung yang mengadakan acara pernikahan di taman mini itu banyak, jadi sedikit lebih lama lagi akan lebih banyak mobil dan membuat lalu lintas menjadi macet. Dan memang itu yang terjadi, jalanan macet cet cet.
Ada seorang teman yang menghabiskan waktu 2 jam untuk menuju tempat acara padahal hanya dari daerah Depok. Ada lagi 2 orang yang akhirnya terpaksa membatalkan kehadirannya, padahal mereka sudah berada di sekitaran taman mini.
Karena menuruti orangtua,kami jadi tidak terkena macet sama sekali. Jalanan pergi dan pulang lancaar jaya jadi kami bisa mendapatkan berkah sebanyak itu *malam penuh berkah doonk xp
Pertama-tama saya mau mendeklarasikan kalau saya pengen secara aktif memposting hal yang berhubungan dengan parenting. Tujuannya, selain lahan saya belajar ~jadi kalo baca-baca hal parenting dari artikel-artikel mana aja langsung aja saya simpen linknya dan saya reblog dengan bahasa saya sendiri biar lebih paham~ bisa juga lahan buat pengunjung blog saya untuk belajar ilmu parenting juga. Mudah-mudahan dengan bertambahnya konten parenting gini makin banyak orangtua-orangtua muda yang aware akan pentingnya pengasuhan anak.
Kenapa sih pengasuhan anak penting banget? Iya donk, anak itu masa depan kita, masa depan bangsa juga. Mau dibawa kemana bangsa kita kalau kita mengasuh anak dengan sembarangan?
Saya punya tujuan untuk membentuk Indonesia yang lebih baik lagi dari sekarang dengan pelan-pelan menghilangkan KKN dan segala hal buruk yang terjadi di Indonesia. Nah, saya gak bisa sendirian, jadi saya ingin generasi setelah saya juga seperti itu, saya ingin melatih mereka menjadi orang yang lebih bertanggung jawab, peduli, serta mementingkan kebenaran BUKAN mementingkan diri sendiri. Jadi di tangan generasi peneruslah bisa kita serahkan Indonesia dengan tenang. Dengan membentuk generasi masa depan yang baik, yang benar, yang bertanggung jawab, mungkin insyaAllah ke depannya kita bisa jadi negara yang bebas korupsi. “Indonesia strong from home”, begitu kira-kira kata ayah Edi 😀
Nah, mengenai judul, beberapa waktu lalu suami saya nge-share note facebook seseorang yang menuliskan summary dari seminar parenting ibu Elly Risman. Intinya adalah mengenai tujuan pengasuhan anak.
Kenapa tujuan pengasuhan itu diperlukan? Kalau kita bepergian, kita juga pasti punya tujuan, kalau tidak, kita akan berjalan entah kemana yang akhirnya nyasar dan ketika balik lagi ke rumah, kita tidak mendapat hasil apa-apa, nihil, nol, tidak bermanfaat. Begitulah kalau pengasuhan tidak memiliki tujuan 😀
Karena itu, sebagai orangtua, kita, ibu dan ayah harus terlebih dahulu menyelaraskan tujuan pengasuhan dalam keluarga kita. Seminar tersebut menjelaskan pentingnya tujuan pengasuhan dan menyebutkan beberapa tujuan pengasuhan yang bisa diterapkan. Nah, di bawah ini saya menjelaskan mengenai tujuan-tujuan pengasuhan yang didapat dari seminar itu.
Hamba Allah yang taqwa. Pada anak, yang pertama matang adalah systemlimbic di belakang kepala, system limbic ini berkaitan erat dengan PERASAAN. Jadi ajarkan pada anak rasa beragama dan rasa memiliki Allah. Sama halnya dengan mengajarkan padanya kecerdasan emosi terlebih dahulu. Anak yang dari kecil dikenalkan dengan berbagai macam emosi akan tumbuh menjadi anak yang memiliki empati serta rasa kepedulian tinggi terhadap sesama. Maka, untuk mereka tidaklah penting mengajarkan sebanyak-banyaknya pengetahuan ini-itu, tapi lebih penting mengajarkan PERASAAN. “Indonesia Neuroscience Society merekomendasikan, anak di bawah 4 tahun, salah satu ibu atau bapaknya HARUS dirumah, mendidik anak. Tanggung jawab mendidik agama berada ditangan AYAHNYA, ayah harus ‘alim, dialah penentu GBHK ( Garis Besar Haluan Keluarga), ibu hanya unit pelaksana teknis.”[1]
Calon suami/ istri yang baik. Hal ini berkaitan dengan ketaqwaan tadi, dengan bertaqwa, kita juga mengajarkan bagaimana membentuk rumah tangga yang harmonis dengan menjadi suami/ istri yang baik.
Calon ayah dan ibu yang baik. Nah, hal ini untuk membentuk generasi berikut-dan berikutnya untuk lebih baik lagi. Mereka harus diajarkan dan ditunjukkan peran ibu dan tanggung jawab ayah. Perlu juga untuk mengajarkan fungsi laki-laki dan perempuan atau ibu dan ayah itu berbeda. Yang sangat penting untuk diperhatikan lagi adalah “jangan berantem depan anak”.
Membantu mereka mempunyai ilmu dan keahlian. Inilah yang menjadi fokus perhatian kita selama ini. Banyak rumah tangga yang menjadikan poin inilah satu-satunya tujuan pengasuhan mereka, padahal ini harusnya hanya salah-satu tujuan saja.
Pendidik istri dan anak. Banyak hal buruk yang menjadi akibat dari kurangnya perhatian ayah kepada anak-anaknya. Contohnya saja terjadi pada artikel ini: http://nelotte.wordpress.com/2013/08/22/saya-sudah-ga-perawan-di-usia-sekolah. Hasil studi di harvard: “anak yang ayahnya involved dalam pengasuhan akan tumbuh menjadi anak yg dewasa dan suka menghibur orang, punya harga diri yang tinggi, prestasi akademis di atas rata-rata dan lebih pandai bergaul.” Setidaknya luangkan waktu minimal 30 menit untuk anak tanpa gangguan apapun termasuk gadget, quality time istilah kerennya. Dengan begitu ayah bisa menjalin kedekatan emosi secara langsung dengan anaknya.
Pengayom keluarga. Didik anak laki-laki kita untuk menjadi pengayom orangtua, istri, serta anak-anak mereka. Di pundak laki-laki ada tanggung jawab terhadap 4 wanita yang harus mereka lindungi. 4 wanita tersebut adalah ibu, istri, anak perempuan, dan adik perempuannya, maka penting untuk menekankan hal ini kepada mereka.
Manusia bermanfaat bagi orang lain atau sebagai pendakwah ( penyampai kebenaran). Sama halnya dengan tujuan hidup saya pribadi untuk menjadi manusia yang bermanfaat, saya ingin juga anak-anak saya kelak menjadi orang yang kebermanfaatannya dapat dirasakan banyak orang.
Tulisan lebih lengkap mengenai seminarnya bisa dibaca di sini.
Dari situ, kita bisa belajar kalau tujuan pengasuhan itu penting, biar kita sebagai orangtua punya bayangan akan bagaimana anak kita ke depannya. Dan dengan punya tujuan pengasuhan itu juga, kita jadi bisa merumuskan bagaimana cara pengasuhan yang harus diterapkan ke anak nantinya.
Jadi sebelum melakukan apa-apa, kita memang perlu merumuskan tujuan kita melakukan itu.
So, punya anak emang gak gampang, harus punya ilmunya biar anak gak terbengkalai terabaikan, hehe. Dan anak juga merupakan amanah langsung dari pencipta kita, jadi makin gak bisa sembarangan kita menjaga dan mendidiknya.
Sudahkah kalian menentukan tujuan pengasuhan bagi anak-anak? 😀
Alhamdulillah sebentar lagi bukunya terbit. Bukunya merupakan cerita perjuangan membangun bisnis para 101 pengusaha muda di bawah 30 tahun yang sudah sukses. Selain itu, buku ini juga “ngomporin” kita buat jadi young CEO selanjutnya, hehe. Keren nih, terutama buat anak-anak SMA atau anak kuliahan yang mau mulai usaha sendiri.
Untuk info lengkapnya ada di websitenya: http://101youngceo.com/. Yap, suami saya sudah bikin websitenya juga, hehe.
Sukses terus yaa teruntuk suamiku tercinta, Ilman Akbar.
Yak, sudah 2 minggu ini Naia saya ajarkan untuk pipis atau BAB di kamar mandi. Istilah kerennya sih toilet training / potty training, hehe.
image from babycenter
Jadi 2 minggu yang lalu kuliah onine ibuprofesional berbicara tentang mengajarkan kemandirian terhadap anak. Salah satu tugas rumahnya adalah membuat buku bintang terhadap keberhasilan anak melakukan kemandirian ~bisa macam-macam~. Lalu, saya jadi berpikir untuk menerapkan kemandirian masalah buang air kepada Naia.
Kebetulan juga, saya lalu membaca artikel Potty train your toddler in 3 days lalu saya jadi kepikiran untuk menerapkan apa yang saya baca. Sebenernya bukan menerapkannya sih, cuman akhirnya kepikiran untuk ngajarin Naia potty training. Soalnya dalam hati, saya itu yakin banget kalau yang dibutuhkan itu intinya hanyalah kesiapan dan kesabaran kita.
Selain mau mengajarkan kemandirian ke Naia di usia sedini mungkin (usia Naia baru 15 bulan kurang 1 minggu), dengan dia bisa pipis dan BAB sendiri di WC kan bisa jadi mengurangi penggunaan pampers juga. Yang setiap hari bisa pakai 3-4 pampers, jadi gak pakai sama sekali.
Nah, saat itu saya udah mantap banget untuk melaksanakan potty training, jadi segalanya ya disiap-siapin deh. Saya menyediakan lap khusus dan air sabun. Jadi, kalau dia pipis di sembarang tempat bisa saya langsung lap pakai air sabun yang tadi disediakan. Kenapa lap khusus? Karena itu kan pesing, jadi ya lapnya saya khususkan 😀
Saat saya sampaikan hal ini ke suami, dia sempat kaget dan bilang saya nekat. Tapi tekad saya sudah bulat dan dia mendukung sepenuhnya.
Sayangnya kita belum sempet beli toilet kecil untuk potty training gitu, jadinya ya saya bawa aja ke kamar mandi dan pipis di lantainya. Berhubung wc di kontrakan kita juga pakainya wc jongkok dan bukan wc duduk, jadinya saya bingung untuk mendudukkan dia di wc jongkok, takut malah kakinya masuk ke wc, hiiy. InsyaAllah dalam minggu ini mau beli deh, hehe.
image by mordoc
Setelah sekarang berjalan 2 minggu (oke, memang jauh dari artikelnya yang mengajarkan cuma 3 hari, tapi itu jadi bikin saya semangat banget untuk terus menjalankan potty training ini), progressnya pesat banget.
Hari pertama
Saya belum bisa membaca pola pipis dan BABnya Naia, jadi semuaaanya gak ada yang berhasil masuk kamar mandi. Di hari pertama ini cuciannya buanyak banget, hampir sama seperti waktu dia baru lahir. Oiya, 5 bulan pertama juga Naia gak pake pampers sih kalau di rumah, berhubung belum bisa kemana-mana, jadi pipisnya ya di satu tempat aja, di tempat tidur yang dikasih perlak buat dia. Di hari pertama ini, malam harinya Naia masih saya pakaikan pampers. Hari pertama ini sambil saya bicarakan pelan-pelan dengan Naia kalau itu namanya pipis dan harus memberi tahu saya kalau nanti mau pipis lagi.
Hari kedua
Dari hasil pengamatan hari pertama, setiap kali Naia bangun tidur, dia pasti pipis. Jadi, saya ceritanya eksperimen di hari kedua ini. Setiap dia bangun tidur langsung saya bawa ke kamar mandi dan saya copot celananya. Saya tunggu agak lama sekitar 1-3 menit, ternyata benar saja dia pipis. Dan 100% itu benar, selalu saja setelah bangun tidur dia pipis. Di hari kedua mulai saya copot pampers pada malam hari juga. Tapi hasilnya: ngompol! hehehe.
Hari ketiga
Dari malam hari kedua, pagi harinya itu kasurnya dia sudah basah ompolnya dia (tenang, kita kasih perlak kok, jadi gak nembus sampai ke kasur dan tidak merusak kasur 🙂 ). Setelah saya amati, sepertinya pada waktu subuh tadi dia seperti ingin bangun tapi saya langsung nenenin lagi jadi dia kembali tidur deh. Soalnya, saat malam saya nenenin, saya cium celananya belum bau pesing dan belum basah juga. Saya jadi berpikir untuk saat subuh itu saya bawa juga ke kamar mandi.
Hari keempat
Nah, saya coba deh saat subuh saya bawa ke kamar mandi, kemungkinan ngompolnya ya pada waktu subuh ini kemarin. Dan ternyata benar saja. Sampai waktu subuh, dia sama sekali belum pipis dan kasurnya kering. Udah gak ngompol!! Horee. Ah iya, sampai hari keempat ini baru berhasil 100% membuat dia pipis di kamar mandi setiap kali bangun tidur saja, belum yang Naia memberi tahu saya sebelum dia pipis pada saat terjaga. Ah, tapi saya pernah berhasil menebak tanda dia ingin pipis. Saat Naia seperti bergidik, berarti dia ingin pipis.
Oiya, setiap kali saya berhasil membuatnya pipis di kamar mandi, saya mengajaknya tepuk tangan ~instead of dancing :P~ agar dia nantinya mau memberi tahu saya saat dia merasa ingin pipis.
Hari kelima
Masih setiap bangun tidur saja pipisnya, dan saya jadi semakin yakin kalau itu memang pola pipisnya. Nah, di hari kelima ini saya masih menebak-nebak juga tanda-tanda dia ingin pipis. Kadang berhasil, kadang enggak juga. Kadang saya menebak dia ingin pipis, tapi saat sudah di kamar mandi dan celananya saya copot dan ditunggu sampai lama gak keluar-keluar juga pipisnya. Yasudahlah, itu berarti dia tidak ingin pipis. Tetap saya beri pengertian pelan-pelan kalau pipis sebaiknya memberi tahu saya agar saya bawa ke kamar mandi. Tapi tebak-tebakan saya terhadap pipisnya sudah 80% berhasil.
Minggu kedua
Hari pertama di minggu kedua dia mulai memberi tahu saya setelah dia pipis. Yap, setelah. Jadi, setelah pipis, dia menuju ke arah saya, menyenggol-nyenggol saya lalu menunjuk-nunjuk ke tempat dia tadi pipis. Okee, satu perkembangan lagi, dia sudah mengerti kalau itu pipis dan sudah bisa memberi tahu saya! Horee, senangnya hati ini. Tapi tidak lupa juga, saya tetap memberi pengertian pelan-pelan kalau sebelum pipis sebaiknya memberi tahu saya agar saya bawa ke kamar mandi. Iya, kali ini saya beri tekanan pada kata sebelum. Ah iya, setiap malam sudah berhasil tidak ngompol sejak hari keempat itu! Mantap sekali Naia ini :*
Hari kedua minggu kedua
Ada satu perkembangan bagus lagii, sekarang Naia sudah bisa memberi tahu saya saat dia merasa ingin pipis, horee..!! Jadi, sebelum pipis, dia ke arah sayasambil menengok-nengok ke arah bawah dan sambil ingin membuka celananya. Ketika saya tanya “Naia ingin pipis?” dia diam saja. Oke, saya artikan sebagai iya. Tanpa ragu lagi saya langsung bawa ke kamar mandi dan saya copot celananya. Ternyata benar, dia pipis, yeay. Hal ini berlanjut sampai sekarang.
Saya sudah menemukan 3 pola pipisnya Naia.
Setelah bangun tidur
Saat Naia bergidik
Saat dia memberi tahu saya dengan cara menuju ke arah saya sambil menengok-nengok ke arah bawah dan sambil ingin membuka celana.
Huah, perkembangan yang cukup menggembirakan buat saya. Di umur yang baru 15 bulan, Naia sudah tidak ngompol kalau tidur dan sudah bisa memberi tahu saya saat dia ingin pipis.
Perkembangan itu juga selalu saya ceritakan setiap hari ke suami dan dia ikut bangga terhadap Naia 😀
Untuk BAB, dia masih takut kalau di kamar mandi. Entah kenapa. Kemarin soalnya saat dia diam saja dan saya tanya ingin BAB, dia tetap diam. Dan ternyata benar, dia BAB. Ya langsung saya bawa ke kamar mandi sambil dicopot celananya dan saya tunggu lagi kalau dia ingin BAB lagi. Tapi ternyata dia malah nangis kejer, huaaa. Yaudah, saya sudahi. Ternyata beberapa menit setelah keluar kamar mandi dan saya pakaikan celana lagi, dia BAB lagi. Yak, benar berarti dia masih takut untuk BAB di kamar mandi. Okee, pelan-pelan deh, pikir saya.
Jadi, tanggal 5 Juli 2013 kemarin ada talkshow mengenai ““Peran Orangtua mengatasi Trend Mobile Internet terhadap perkembangan anak” yang diadakan oleh Dari Perempuan dan Indosat Mentari. Kebetulan mengambil lokasi di 1/15 Coffee Gandaria – Jakarta dari jam 14.00 sampai 17.00.
Hari kamis, saya memutuskan untuk menginap di rumah orangtua saya di Tj. Priuk. Nah, saya menyampaikan ke suami kalau saya ingin naik transjakarta aja sekalian jalan-jalan. Tapi kan bawaan saya agak banyak dan berat, terlebih saya bawa Naia, jadi akan merepotkan kalau naik transjakarta karena harus transit 2 kali. Jadilah saya naik taksi saja.
Karena saya sedang menginap di rumah orangtua di priuk, jadi saya memutuskan untuk tidak mengajak Naia. Berhubung tempatnya jauh dari priuk dan saya naik angkutan umum, akan lebih bahaya kalau saya mengajak Naia.
(Dan bener sih, saya berhasil menghabiskan total 9 jam dengan 8 jam di jalan dan 1 jam di tempat acara *what a nice day*. Naia jadi apa ini kalau ikut, bisa bosan tidak ketulungan)
Menenangkan Naia
Karena kita terbiasa cuma berdua di rumah, jadinya setiap saya pergi ya Naia selalu diajak. Nah, kemarin Naia melihat saya sudah rapi jadi dia langsung minta gendong dan menunjuk-nunjuk keluar rumah.
Tadinya malah digendong ibu saya, tapi dia jadi nangis kejer. Yaudah saya ajak keluar rumah dulu sambil saya jelaskan pelan-pelan saya mau kemana dan kenapa dia tidak diajak. Alhamdulillah jadi tenang kembali dan jadi mau digendong ibu saya. Pintarnya kamu nak *cium*
Berangkat deh (jam 12:30).
Perjalanan
Nah, perjalanan saya dari priuk ternyata tidak seperti yang diharapkan. Saya sengaja bersiap dari 2 jam sebelum acara agar tidak terlambat. Ternyata, jam 13.30 saja saya baru sampai terminal priuk. “Jam segini baru sampai sini, mau sampai jam berapa nih ke tempatnya”, pikir saya.
Karena jalur yang saya ambil adalah ke blok m terlebih dahulu baru naik metromini 72, jadilah saya mencari bus patas jurusan blok m. Nah, patas itu baru banget sampai terminal jadi kayanya mungkin baru berangkat setengah jam lagi. Akhirnya saya memutuskan untuk naik transjakarta saja, walaupun harus transit 2 kali.
Pada saat transit pertama, saya baru memperhatikan kalau sekarang transjakarta di setiap feedernya dilengkapi oleh monitor kedatangan bus. Dengan monitor itu, kita jadi tahu berapa lama lagi busnya sampai di feeder tempat kita menunggu dan tahu juga busnya sudah sampai mana.
Monitor Informasi Transjakarta
Tapi sayangnya, lalu lintas juga sedang tidak bersahabat. Sampai blok m sudah jam 15.20an, hiks. Yaudah lah lanjutkan, tekad untuk datang dan (semoga) mendapat materinya sangat besar. Alhamdulillahnya metromini 72 langsung ada dan bisa langsung berangkat. Karena saya tidak tahu letak persis 1/15 coffeenya itu dimana, saya berpesan ke kondekturnya agar saya diturunkan di Jl. Gandaria 1.
Ternyata kondekturnya lupa, dan saya kelewatan jauh, walhasil harus balik lagi, huhu. Untungnya ongkosnya diganti sama kondekturnya, ihihi. Setelah akhirnya dapet bus lagi dan turun tepat di depan tempatnya, saya langsung masuk. Lihat jam, sudah jam 16.00, hiks T_T
Si mba yang jaga absennya juga sampai senyum-senyum sendiri, acara sudah mau selesai saya baru dateng. Yaudah, kebagian pengumuman-pengumuman aja dah.
Yak, walaupun saya ketinggalan materinya, saya akhirnya minta rekamannya. Tapi, sampai saya menulis di blog ini belum dapet rekamannya, hehe. Akhirnya saya buat saja chirpstory dari pemenang livetweet kemarin, mbak Caroline Adenan.
Peran Orangtua mengatasi Trend Mobile Internet terhadap perkembangan anak
Talkshow
Jadi, anak-anak generasi sekarang itu termasuk ke dalam golongan generasi Z. Apa itu generasi Z? Yaitu generasi yang sudah sangat melek teknologi, termasuk internet dan gadget. Terutama remaja jaman sekarang ya, mereka sangat familiar dan terbiasa banget dengan yang namanya mobile internet. Mereka bisa mengakses internet dengan gampang melalui gadget yang mereka miliki dan sudah jarang menggunakan PC.
Jangankan usia remaja, jaman sekarang itu bayi juga sudah sangat mengenal gadget, terutama untuk bermain. Mereka mungkin sudah tidak kenal lagi yang namanya PC nantinya. Dan faktanya, belum ada juga pembuktian bahwa internet berdampak baik atau buruk terhadap anak.
Menurut saya sendiri, internet itu seperti 2 sisi mata uang, bisa berdampak baik dan bisa juga berdampak buruk terhadap anak, tergantung dari konten yang sedang mereka akses serta pengarahan dari orang terdekat terutama orangtua.
Untuk itu, sebagai orangtua selaku pendidik paling pertama para generasi masa depan, haruslah dituntut untuk mengerti apa manfaat serta kerugian yang bisa diakibatkan oleh internet itu sendiri. Dengan mengerti manfaat yang bisa didapat atau kerugiannya, orangtua bisa dengan mudah deh mengawasi penggunaan internet pada anaknya. Ya memang gak semudah membalik telapak tangan juga sih, perlu komitmen yang kuat dan komunikasi yang baik dengan anak.
Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengarahkan teknologi internet menjadi hal yang sangat bermanfaat bagi anak kita. Salah satunya menemani anak saat mengakses internet sedini mungkin. Bila diurutkan melalui usia mereka, bisa dijabarkan seperti berikut:
Di usia 2-4 tahun, orangtua bisa mendampingi anak saat mereka mengakses internet. Membuat pengalaman positif serta menyenangkan seperti mencari gambar atau menonton video lagu-lagu anak. Dengan pengalaman menyenangkan tersebut, anak akan mengingat kalau internet itu mengasikkan.
Usia 4-7 tahun, anak bisa diberi kebebasan untuk mulai mengakses internet sendiri namun tetap dalam pengawasan orangtua. Mereka bisa mulai mencari informasi-informasi positif dan yang terkait dengan dirinya sendiri. Dengan begitu, mereka akan merasa nyaman karena bisa mengakses internet.
Usia 7-10 tahun, anak bisa mulai didorong untuk eksplorasi internet sendiri dan orangtua bisa mulai melakukan edukasi filtering. Orangtua bisa mulai menjelaskan mana konten yang baik dan mana konten yang buruk atau tidak pantas diakses. Sebenarnya dari usia sedini mungkin sampai usia segini (10 tahunan) adalah saatnya pembentukan karakter dan kebiasaan anak. Maka, sebaiknya kebiasaan membatasi mengakses internet juga harus diajarkan sedini mungkin.
Di usia 10-14 tahun, orangtua bisa mulai mengajari pentingnya data pribadi dan bagaimana mengatur data tersebut. Orangtua juga mulai bisa berdiskusi 2 arah dengan anak mengapa situs jejaring sosial seperti facebook hanya boleh diakses orang masyarakat yang berusia lebih dari 13 tahun.
Dari semua usia itu, penggunaan internet tetap perlu diberi batasan. Jangan sampai orangtua membebaskan setiap hari dan setiap saat anak bisa mengakses internet, karena nantinya mereka bisa kecanduan internet dan tidak memiliki kontrol diri terhadap teknologi tersebut. Juga lakukan komunikasi terbuka, buat kesepakatan dengan anak mengenai peraturan pengaksesan internet dan teknologi lainnya.
Menurut pengalaman Shita Laksmi selaku pembicara talkshow kemarin, beliau melakukan kesepakatan dengan anaknya kalau mereka boleh mengakses internet apabila ada salah satu orangtua. Dan, internet dianggap sebagai suatu kemewahan bukannya sebagai hak.
Nah, dari pembicara lainnya, Elga Yulwardian, ada beberapa tips mengenai pengawasan teknologi internet terhadap anak.
Orangtua harus menentukan waktu kapan anak bisa menggunakan gadget. Mungkin dalam kasus mba Shita Laksmi tadi, ya saat ada salah satu orangtua yang bisa mengawasi.
Batasi berapa lama setiap penggunaan gadget atau buat kesepakatan seperti kapan saja bisa mengakses, berapa jam bisa diakses dan dimana saja internet tersebut bisa diakses.
Harus ada parenting control
Orangtua harus tau apa yang diakses dan dimainkan oleh anak-anak kita.
Dari semua tips tersebut, orangtua dituntut harus mengerti teknologi internet itu sendiri. Kalau sebagai orangtua tidak mengikuti perkembangan teknologi seperti itu, maka nantinya kita tidak bisa mengontrol dan mengajarkan kontrol diri terhadap anak-anak kelak.
Untuk saya pribadi, nantinya saya akan membatasi penggunaan internet. Misalnya sehari berapa jam dia bisa mengakses internet, menjelaskan apa saja situs yang boleh dan tidak boleh dibuka, serta mengawasi apa saja yang mereka mainkan. Kalau sudah dewasa dan sudah mempunyai kontrol diri, saya akan mempercayakan sepenuhnya sambil tetap saya awasi apa saja yang mereka buka secara diam-diam.
Kenapa diam-diam? Agar anak saya yakin mereka dipercaya oleh saya, dan pengawasan tersebut hanya saya lakukan jarang-jarang. Ini sih baru rencana saya, lha wong anak saya baru 15 bulan, hehe. Tapi ya seperti komitmen saya juga, saya ingin mengajarkan kemandirian dan pengendalian diri sedini mungkin terhadap anak 😀
Akhir-akhir ini entah kenapa kok saya lupa ya memberi link di gambar yang saya gunakan sebagai konten blog, dooh *merasa berdosa*. Lalu kemarin ujug-ujug saya baca blog cara mendapatkan gambar gratis yang sangat menampar saya dan benar-benar mengingatkan. Saya kok udah jarang ngasih link sumber di gambar yang saya pake siiih, hadoooh *tepokjidat*.
Saya juga bingung sih nih ama diri saya sendiri kenapa akhir-akhir ini jadi jarang nyantumin sumber gambar. Mungkin banget sih karena saya memposting gambar yang memang koleksi pribadi. Jadi, kebiasaan gak nyantumin sumber gambar di koleksi pribadi kebawa deh.
Jadi ceritanya mulai hari ini dan insyaAllah seterusnya saya tobat, heheh. Kemarin sempet nyari-nyari gambar yang pernah saya pake, tapi capek juga ya. Jadi saya mohon maaf sebesar-besarnya yaa buat gambarnya yang saya pake tapi gak saya kasih link ke sumbernya, huhuhu.
Dengan baca postingan itu saya jadi inget dulu juga saya sering banget pake stok foto yang gratisan dan saya dapat dari sxc.hu. Dulu sih biasanya saya pakai untuk gambar dummy dari web yang saya bikin. Tapi sekarang setelah saya pikir bisa juga donk jadi gambar di web. Kok baru kepikiran yak? Yaudahlah, yang penting tobat, hehe.
Yak, gagal sudah target saya untuk menulis selama 30 hari. Waktu itu 4 hari berturut-turut saya nulis blog, sekedar mengisi waktu sekaligus memang ada yang ditulis. Karena itu, saya jadi menargetkan jadi 30 hari berturut-turut mau nulis di blog. Etapi ternyata cuma bertahan sampai hari senin minggu lalu saja, waktu baru 7 hari berturut-turut.
Lumayan sih, seminggu bisa saya jalani. Tapi kalau terputus begini, ya jadinya mesti ngulang lagi 😛
Oke, bukan itu yang mau saya omongin, hehehe. 2 hari lagi ada apa?
2 tahun yang lalu, hari ini jantung berdegup sangat kencang membayangkan 2 hari lagi akan berganti status. Hari ini, jantung masih berdegup kencang membayangkan apa yang sudah dan yang akan kita lalui setelah 2 tahun pernikahan ini ~2 hari lagi~.
2 tahun bukan waktu yang lama. Dalam 2 tahun ini kami diberikan anugerah yang begitu besar yang membuat waktu terasa cepat sekali berlalu. Naia namanya. Melihatnya dan mendidiknya selama setahun ini membuat kita benar-benar merasakan betapa besarnya kasih sayang orangtua terhadap kita dan membuat kita semakin sayang kepada orangtua.
Dan bukan juga waktu yang cepat. Banyak hal yang berubah selama 2 tahun ini, status, pekerjaan, tanggung jawab, juga pola pikir. Lamanya waktu 2 tahun membuat kita belajar banyak hal lagi. Tanggung jawab lebih berat lagi karena sejak 1 tahun yang lalu status saya bertambah, selain menjadi istri, saya juga menjadi ibu. Pola pikir berubah menjadi semakin realistis.
Sudah 2 tahun ternyata, dan waktu sangat cepat berlalu. Semoga pernikahan ini bisa selalu dipenuhi keberkahan dan bertahan selamanya. Aamiin
Yap, demi memenuhi keinginan buat jadiin 30 hari berturut-turut ngeblog, saya sempatkan menulis hari ini di penghujung hari 😀
Jadi, hari ini adik ipar saya berulang tahun ke-18 dan seperti tradisi di keluarga suami, setiap ada anggota keluarga yg berulang tahun, kami sempatkan untuk makan bersama, entah di restoran ataupun delivery ke rumah. Biasanya kami melakukan itu di malam hari, tapi karena hari ini ada motoGP dan mertua saya sama sekali tidak ingin melewatkan itu, jadi jadwal makannya diimprovisasi jadi makan siang, hehehe.
Berhubung hari ini hari minggu juga dan belum ada yg punya rencana apa2, ya akhirnya jalan deh siang tadi ke pejaten village. Dari rumah belum memutuskan ingin makan dimana, baru saat sampai di sana kita memutuskan untuk makan di restoran secret recipe.
Saya dan suami baru 1 kali pernah makan di situ dan kami sangat puas akan makanannya, jadi kamilah yg merekomendasikan itu ke mereka, hehe. Dan, mereka mau, horee.
Kali ini Naia sudah bisa makan sendiri, hihi. Di secret recipe ada menu untuk anak kecil juga, jadi kami pesan menu kids itu deh, fish & chips kids judulnya. Kami putuskan makanan yg bisa dipegang karena Naia suka banget makan sendiri dan baru bisa menggunakan tangan.
Karena daging ikannya lembut banget, dan ada kentang gorengnya, Naia memegang kentang goreng sambil saya suapi daging ikannya, dan dia hampir menghabiskan makanannya. Alhamdulillah, Naia suka 🙂
Selain sudah resmi bisa jalan, dia sekarang udah banyak banget lho ngocehnya. Walaupun gak sejelas anak tetangga sih ngocehnya, tapi tetep aja anak sendiri paling lucu! 😛
Jadi, anak tetangga itu seusia Naia, belum bisa jalan, tapi ngomongnya itu loh, udah hampir faseh *halah*. Tapi Naia itu emang gak suka ngomong yang ngikutin kata-kata orang, tapi dia lebih ke ngoceh-ngoceh atau nyanyi-nyanyi sendiri aja. Nah, anak tetangga bisa ngikutin kata-kata orang, dan nyarisss sama, yaa cadel-cadelnya anak kecil laah.
Balik lagi ke Naia. Si Naia kalo nemu bukunya dia, suka langsung dibuka di halaman random dan langsung ngoceh-ngoceh dan setelah itu tertawa sambil melihat saya, hihihi. Gayanya itu kaya nunjukin kalau dia sedang menceritakan sesuatu ke saya dan melihat respon saya sambil tertawa lucu.
Dan Naia sekarang sudah dengan pasti mengerti perkataan orang.! Contohnya apa? Kalau saya misalnya bilang “makan yuuk Naia, Naia duduk yaa tapinya”, dia langsung menuju kursi makannya.
Berikutnya lagi, kalau dia nemu sampah di tengah jalan, dia langsung nunjukin ke saya atau papanya lalu kita bilang “apa itu? sampah ya? buang yuk di tempat sampah”, dia langsung menuju dapur rumah.! Iya, walaupun dia di luar rumah, dia akan jalan ke dapur rumah untuk membuang sampah di tempat sampah kita, hihi.
Terus lagi, kalau kita bilang “tiger dimana yaa?” *tiger itu nama mainannya*, dia langsung nunjuk2 dan dengan tampang bingung sambil nengok-nengok atau nyari di sekitar rumah. Begitu juga dengan gulingnya. Kalau sudah mau tidur, kita bilang “gulingnya mana?” dia menunjuk ke arah guling kecilnya dan disamperin untuk akhirnya dimainin di kakinya, haha.
Oiya, tandanya dia mengerti perkataan kita juga terlihat dari kalau kita tanya ke dia “kepala mana kepala?” atau “kaki mana kaki?”, dia akan langsung menunjuk kepala atau kakinya. Begitu juga dengan anggota tubuh yang lainnya sih, tapi ya belum semua, baru sedikit 😀
Punya anak itu bener-bener pencerah hati yah, penyejuk mata ^^
14 bulan sudah umur Naia sekarang, dan dia sudah RESMI bisa jalan.!!. Hore (^_^)/
Kira-kira sudah 1 minggu ini sih Naia resmi bisa jalan, masih lucu, jalannya masih doyong-doyong gitu 😛 Tapi sebenernya udah dari umur 8 bulan dia mulai rembetan ke dinding, lha wong 7 bulan aja udah belagu mulai berdiri-berdiri berpegangan. Tapi kok ya proses menuju bisa jalannya lama yak, hahaha. Gapapa donk, yang penting sehat dan sekarang resmi bisa jalan.
Hihihi, ya ampun, saking senengnya saya, saya ulang kata resmi sampai 3 kali 😛
Jadi, di umur 7 bulan itu dia udah mulai berdiri berpegangan kursi makannya. Waktu pertama kali dia berdiri itu saya panik, takut dia jatuh. Saya perhatikan saja sambil tetap menjaganya kalau-kalau jatuh. Ternyata dia bisa, dan malah melet-melet ke arah saya kaya ngeledek 😛
Nah, kejadian itu bikin saya berpikir “wah, jalannya kemungkinan bisa cepet nih”. Mama saya bilang saya bisa jalan di umur 9 bulan *cepet banget yak*, dan mamah mertua bilang suami saya bisa jalan di umur 1 tahun, jadi yaa, dilihat dari sejarah saya dan kejadian itu, saya jadi bener-bener ngarep.
Dan di umur 8 menuju 9 bulan bener-bener bikin harapan saya jadi lebih besar lagi. Soalnya, Naia udah mulai merembet jalan berpegangan di tembok atau meja. Udah gitu suka dorong-dorong kursi atau mainannya yang bisa jalan. Wuiih.
Tapi… bulan 9… bulan 10… bulan 11… bulan 12… tetap saja rembetan, hihihi. Etapi saya juga bukan orang yang maksa anak bisa jalan cepet kok, saya percaya setiap anak punya perkembangan yang beda-beda karena mereka unik! 😀
Yasudah, kita tunggu saja sampai Naia benar-benar siap untuk bisa jalan sendiri. Daaan, akhirnyaa bisa jalan juga, hehe. Awalnya, dia itu bernafsu banget untuk nyuapin saya *yap, dia hobi nyuapin makanan ke orang* :P. Saya mundur-mundur, dia tetap melangkah. Sampai akhirnya saya pikir cukup, saya berhenti dan saya cium karena kebaikan hatinya dan karena usahanya untuk jalan.
Dan, setelah itu Naia semakin berani untuk melangkah lebih banyak dan lebih banyak lagi sampai akhirnya saya nyatakan dia resmi bisa jalan *walaupun masih doyong, hahaha*
a) “Sekali suami minum air yang disediakan oleh isterinya adalah lebih baik dari berpuasa setahun”.
b) “Makanan yang disediakan oleh isteri kepada suaminya lebih baik dari isteri itu mengerjakan haji dan umrah”
c) “Mandi junub si isteri disebabkan jimak oleh suaminya lebih baik baginya daripada mengorbankan 1,000 ekor kambing sebagai sedekah kepada fakir miskin”.
d) “Apabila isteri hamil ia dicatitkan sebagai seorang syahid dan khidmat kepada suaminya sebagai jihad”.
e) “Pemeliharaan yang baik terhadap anak-anak adalah menjadi benteng neraka, pandangan yang baik dan harmonis terhadap suami adalah menjadi tasbih (zikir)”.
f ) “Tidak akan putus ganjaran dari Allah kepada seorang isteri yang siang dan malamnya menggembirakan suaminya”.
g) “Apabila meninggal dunia seorang dan suaminya redha, nescaya ia dimasukkan ke dalam syurga”. (Hadis Riwayat Tarmizi)
h) “Seseorang wanita apabila ia mengerjakan sembahyang yng difardhukan ke atasnya, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatan dirinya dan taat kepada suaminya maka berhaklah ia masuk syurga dari mana-mana pintu yang ia suka”. (Hadis riwayat Anas Bin Malik)
Poin g menunjukkan betapa mudahntya masuk surga bagi para wanita, melalui ridho suami. Jadi untuk yang sudah menikah, ridho suami adalah segalanya deh 😀
Hari minggu kemarin saya bikin pasta lagi, hehe. Dan kali ini tetap bikin saus sendiri lagi donk. Tapi sayangnya lagi gak ada stok tomat, jadi gak bisa bikin saus tomat untuk Naia kaya waktu makan enak tempo hari, huhu.
Buka kulkas ternyata ada keju, saya jadi kepikiran saus keju aja buat Naia. Yaa, caranya palingan gak beda-beda jauh lah sama bikin saus tomat buat Naia, hihihi. Asli coba-coba saya kali ini, mengingat proses membuat saus tomat aja, lalu saya duplikasi. Cuman, ya kali ini tomatnya saya ganti keju.
Hasilnya, enaaak, hehehe. Naia gak mau disuapin waktu itu, jadi kita biarkan ia makan sendiri. Kebetulan pakenya macaroni yang spiral, jadi bisa dipegang sama dia.
Naia Makan Sendiri
Walaupun Naia gak abis karena emang porsi makannya dia yang super imut, saus kejunya tetap bisa dimanfaatkan. Keesokan harinya saya bikin aja roti panggang pake saus keju itu, dan rasanya nyambuung banget doonk *senyumpuas*.
Ah iya, saya tuliskan resep yang saus keju deh siapa tau ada yang mau bikin juga 😀
Bahan-bahan:
Keju, parut
Bawang putih ~kali ini saya pakai 1 siung~
Garam, sedikit saja
Kaldu ~ayam atau sapi~, kebetulan kemarin kaldu sapi
Larutan maizena
Isian ~bisa apa saja juga~, kebetulan kemarin isiannya itu daging sapi yang sebelumnya direbus untuk diambil kaldunya. sayang lagi gak ada stok sayuran, huhuhu 🙁
Cara masak:
Blender isian, bisa juga gak usah diblender kalau anak sudah bisa mengunyah
Tumis bawang putih sampai harum
Masukkan isian
Masukkan garam sedikit, jangan sampai terlalu asin
Tambahkan keju parut, aduk sampai tercampur dan butiran keju sedikit lebih halus
Tambahkan larutan maizena, tunggu sampai mengental, angkat
Selesai!
Sebenernya sih rahasianya ada di kaldu dan bawang putih. 2 senjata itu yang bikin saus jadi “berasa”, hehe. Saya juga sangat menghindari kaldu instan. Selain lebih enak kaldu buatan sendiri, ya pasti lebih sehat juga kan? 😀
Bukan, postingan ini bukan postingan saya norak baru dapet rezeki, sama sekali bukan. Tapi, saya benar-benar kembali diingatkan kalau rezeki itu ya rahasia Allah, sama seperti jodoh dan kematian.
Bangun pagi-pagi, blogwalking kemana-mana lalu tanpa sengaja menuju blog http://hanadoank.wordpress.com/ dan langsung terpaku dengan postingan paling atas.
Mungkin kau tak tahu di mana rizqimu. Tapi rizqimu tahu di mana engkau. Dari langit, laut, gunung, & lembah; Rabb memerintahkannya menujumu.
Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.
Tugas kita bukan mengkhawatiri rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban “Dari Mana” & “Untuk Apa” atas tiap karunia.
Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia; dia alpa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.
Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya mati.
Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya.
Kita bekerja tuk bersyukur, menegakkan taat, & berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.
Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki bayinya? Ikhtiar itu laku. Rizqi itu kejutan.
Ia kejutan tuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga. Tugasnya cuma menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.
Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita meminta & Allah memberi karunia; jaga sikap saat menjemputnya & jawab soalanNya, “Buat apa?”
Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia; lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab & haramnya akan di’adzab.
Banyak yang mencampakkan keikhlasan ‘amal demi tambahan harta dikata tuk bantu sesama; lupa bahwa ‘ibadah apapun semata atas pertolonganNya.
Inilah hidup kita; Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in; kita mengibadahiNya & memohon pertolonganNya agar mampu menyempurnakan ibadah padaNya.
Dengan itu kita mohon “Ihdinash Shirathal Mustaqim”; petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di akhirat.
Maka segala puji bagi Allah; hanya dengan nikmatNya-lah menjadi sempurna semua kebajikan.
Salim A. Fillah
Pernah seorang sahabat memberi saya buku yang dikarang oleh Salim A. Fillah juga, “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim” judulnya. Saat itu saya sedang galau dengan keadaan diri. Saat itu saya seperti kembali mencari jati diri. Siapa saya? Saya hidup untuk apa? Siapa jodoh saya?.
Iya, saat itu saya memang sangat galau masalah jodoh. Bukan karena saya sudah terlalu tua untuk bisa menikah ~saat itu saya baru berumur 22 tahun~, hanya saja saya sedang patah hati dan terlalu berharap kepada manusia. Padahal seperti yang selalu saya baca dan dengar, berharap kepada manusia, kepada sesuatu yang tidak kekal hanyalah membawa kegelisahan. Berharaplah pada Allah yang tidak akan pernah membuatmu sakit hati atau kecewa.
Buku dari sahabat itu seakan-akan mengingatkan saya kembali bahwa saya seorang muslim dan selayaknya seorang muslim, saya haruslah memberi manfaat.
Menjadi muslim adalah menjadi kain putih. Lalu Allah mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan cinta, rahmat bagi semesta alam
Saya kembali memaknai kebermanfaatan diri, mencoba menjadi orang yang lebih baik dan hanya berharap padaNya. Maka, saat itu, tanpa saya sangka, Allah menghadirkan jodoh untuk saya. Seorang suami yang sangat saya kagumi dan cintai. Ya, Allah memberi suami dan keluarga agar kebermanfaatan saya sebagai muslim teruji dengan mengurus mereka, berjihad dalam keluarga.
Pernikahan
Sekarang? Saya kembali galau akan masalah lain, masalah rizky. Melalui tulisan itu, saya kembali diingatkan bahwa rizky itu sudah diatur olehNya. Dan kembali Allah memberi pengajaran kepada diri ini untuk selalu yakin kepadaNya dan hanya bergantung padaNya.