Koleksi

Sebelum menikah saya senang mengoleksi barang-barang yang tidak biasa ~apa biasa juga ya~ seperti plastik, kertas surat, dan tiket nonton. Kebiasaan mengoleksi barang-barang seperti itu terbawa sampai setelah menikah, malah nambah koleksinya, hihi.

Ini nih koleksi-koleksi saya sekarang.

Souvenir Pernikahan

Koleksi Souvenir
Koleksi Souvenir

Yang ini terinspirasi dari mertua :p. Souvenir pernikahan memang banyak yang berguna dan bisa digunakan, tapi kalau dibuka dan malah gak kepake kan sayang, yaudah dikumpulin aja deh. Jadi, semenjak nikah saya menyediakan 1 kotak di rak untuk tempat koleksi souvenir ini, hehe.

Kebanyakan sih ya dari nikahan temen, ya darimana lagi? hee. Baru sedikit juga sih, ya namanya juga temen yang nikah juga baru sedikit :D.

Ah iya, yang bisa dipakai ya saya pakai. Kaya souvenir Leni-Sidik berupa tempat tissu, jadinya ya kita pake deh. Terus souvenir Fithri-Yudha berupa pohon belimbing sudah tumbuh tinggi di rumah mertua 😀

Ada juga yang souvenirnya saya yang mendesain, cuma 1 sih, tapi ya lumayan buat kenang-kenangan saya ~jadi inget pernah mendesain souvenir~ 😀

Souvenir Gema-Nasrul
Souvenir Gema-Nasrul

Undangan Pernikahan

Gak jauh-jauh dari yang berhubungan dengan pernikahan, kali ini saya ngumpulin undangannya, hihi. Kalo yang ini semenjak undangannya Fithri-Yudha (temen kuliah) nih saya ngumpulinnya. Undangan saya sendiri juga ada :P, sengaja disimpen buat kenang-kenangan *halah*.

Plastik

Iya, plastik. Yang ini sih dari sejak sebelum menikah seperti yang saya ceritakan di awal. Plastik-plastik belanjaan (biasanya bekas belanja baju, sepatu, makanan, atau aksesoris) saya simpan dan saya lipat rapi di tempatnya. Tempat penyimpanan yang saya pakai berupa kardus dan map. Map untuk plastik-plastik berukuran kecil, kardus kecil ya untuk plastik-plastik yang lebih besar.

Oiya, selain ngumpulin untuk hobi, saya juga ngumpulin untuk plastik sampah dapur dan sampah daur ulang. Plastik yang agak besar saya gunakan sebagai plastik sampah, yang ini biasanya plastik bekas belanja bulanan. Nah, plastik yang besar banget untuk plastik daur ulang karena biasa untuk membuang kardus-kardus tidak terpakai atau ya sampah-sampah yang bisa didaur ulang.

Segel Roti Tawar

Hehehe, yang ini juga semenjak saya menikah nih mulai koleksinya. Jadi ya ada deh dari tahun 2011-an, terutama tengah tahun terakhir. Kebetulan suami punya gelang USB, nah tempatnya saya pakai deh untuk tempat segel-segel ini. Gelang USBnya ya dipakai suami 😀

Tas Simple ~apa bisa dibilang goodie bag ya~

Kebanyakan si ya emang goodie bag dari berbagai acara, tapi saya emang suka tas-tas sederhana kaya gini. Tas yang paling awal saya punya yang akhirnya bikin saya mengoleksi tas-tas sejenis itu tas yang saya beli sewaktu acara di kampus, CGT (Computer Get Together) pada tahun 2008. Ada yang tas bekas beli sepatu dan tas dari kantor sewaktu saya KP.

Nah, ada beberapa tas yang bisa dilipet kaya tas dari kantor tempat KP dan tas dari acara TEDx Jakarta. Saya suka banget dengan tas-tas itu, simple, bisa dibawa2 untuk belanja. Pernah saya belanja pake itu aja, jadinya gak pake plastik dari tokonya, lumayan menghemat penggunaan plastik laah 😀

Tas Lipat
Tas Lipat

Waktu persiapan pernikahan, saya mau souvenir saya adalah barang yang bisa dipake dan berguna. Sempet kepikiran beberapa barang, ya kaya tempat lilin, magnet kulkas, dompet HP, tempat tissue, dan yang terakhir tas lipat. Karena saya dan suami benar-benar suka tas lipat yang dari TEDx itu, akhirnya diputuskan jadi tas lipat aja deh.

Sempet nyari-nyari online yang tas lipat dan sempat bertanya juga ke produsen tas TEDx, tapi ternyata harganya mahal, jauh banget di atas budget yang ada, huhu. Udah mau desperate aja dan memutuskan souvenir yang lain saja. Tapi saya akhirnya jalan sendiri ke pasar Jatinegara sama kakak saya, eh nemu deh tas lipat batik yang bagus yang akhirnya jadi souvenir saya dengan harga yang lebih terjangkau *Alhamdulillah yah* 😀

Tiket Nonton

Yap, yang ini juga lanjutan dari sebelum menikah. Tapi sekarang-sekarang agak berkurang karena sejak melahirkan saya tau diri untuk jarang nonton. Berhubung saya gak tega juga ninggalin anak dan gak tega juga sama penonton yang lain kalo bawa anak, jadinya ya jaraaang banget nonton.

Kayanya sih baru sekali deh saya nonton sejak melahirkan. Itu juga gak gampang, saya dan suami minta adik ipar untuk ikutan nonton tapi gantian. Jadi saya dan suami nonton, adik ipar jagain Naia, baru setelah saya selesai nonton, dia deh yang nonton, repot yah. Saya perlu keluar beberapa kali juga kalau Naia minta nenen. Yaudah, sekarang-sekarang mikir-mikir lagi deh kalau mau nonton di bioskop 😀

Sepadankah?

Capek dan segala keringat yang kita keluarkan demi mengurus anak dengan kebahagiaannya?

Baby Expressions

Sangat..!! Bahkan terlalu banyak kebahagiaan yang bisa diberikan dengan memiliki anak dan mengurusnya, melebihi rasa lelah dan capeknya.

Saya baru saja membaca 2 artikel bagus.

  1. Can I afford to be a Stay-At-Home-Mother?
  2. Mengapa kita punya anak?

Menurut saya somehow kedua artikel tersebut memiliki hubungan satu sama lainnya. Jika kita tidak tahu alasan mengapa kita punya anak, apakah kita bisa segitu repotnya memikirkan ingin menjadi SAHM (Staying At Home Mother), WAHM (Working At Home Mother), atau sebutan M-M lainnya? Tentu tidak. Yap, hal tersebut menunjukkan kalau kita benar2 telah siap memiliki anak. Bahkan jika sudah memikirkannya jauh sebelum menikah lebih bagus lagi 😀

Lalu, apakah tidak sama capek dan lelahnya bagi penyandang sebutan M-M yang banyak itu? Menurut saya apapun pilihannya minumnya teh botol s*sr* #eh, semua sebutan M itu sama lelahnya. Tapi mereka juga selalu menyadari kalau kelelahan itu akan segera sirna begitu mereka melihat anaknya yang menakjubkan.

Ketika capek dengan segala urusan rumah tangga, begitu bercanda lagi dengan anak hilanglah rasa capek itu seketika. Ketika kesal dan marah dengan suatu keadaan, melihat anak yang senyum begitu senangnya dan tertawa kita jadi ikut tertawa dan terlupakanlah rasa kesal dan marah itu. Ketika sedang “galau” ~hayah, ibu2 bisa galau juga kan? :p~, melihat anak tidur dengan tenangnya hati menjadi tentram kembali. Huah, betapa banyak kesenangan dan ketenangan yang bisa diberikan oleh anak kita, hanya cukup dipikirkan kembali, dilihat lebih dekat lagi, dan dirasakan dengan hati terbuka. Ya, hati terbuka. Ada kan ibu2 yang gak peduli dengan kebahagiaan2 kecil dari anak seperti itu dan cuma merasakan repotnya?

Ah, jadi hampir ngelantur, padahal pertanyaannya cukup singkat dan sudah terjawab. Sepadankah capek dan segala keringat yang kita keluarkan demi mengurus anak dengan kebahagiaannya?? Ternyata tidak kan? Kebahagiaan yang kita dapatkan justru sangat melebihi rasa capek dan keringat yang kita keluarkan. 😉

Be More Grateful and You’ll Be Happy

There are so much beautiful things if we start to see our life deeper and think more positive. Yea, we just need a little more effort so that we can be grateful about our life and see how beautiful it is.

Being Thankful
Being Thankful

Yesterday, me, my husband, and Naia was enjoying the Sunday evening with doing some walk in our neighborhood and start to walking down the former candidate of our rented house.

There are some house which the neighbors are dominated by men. There are some house that doesn’t get any sunlight because there is a big wall right in front of the house. And there are some house that right next to the pond (just thinking when Naia start to walk, she will not be able to stop her step until she fall right to the pond :P). By looking at those, we start to think how lucky we are to get the house we live in now and we start to be more grateful.

That’s not all. Last year, my husband ever mentioned that he wanted to open some small restaurant and looking for the person who wanted to spend some money on it and the person who could running the operational. Sounds impossible for me. What is my husband do if he couldn’t spend his money and didn’t do the operational either?

But, last Friday the small restaurant called “Kedai ORI12” was officially opened. ORI12 means Oscar, Ricky, and Ilman in 2012. That is my husband’s group of S2, they are studying the master of creative business at IDS, year 2012. And yea, that restaurant belongs to my husband and his friends.

At the beginning, we do forget all of my husband’s desire to open a small restaurant like that. But after I visited those restaurant, I’ve got some flashback when my husband mentioned his desire a year ago. And guess what? After I thought back, My husband doesn’t spend some money on it and doesn’t do the operational either. Hahah, dream comes true in a year, what a luck..!

Then, what my husband do? He do the marketing and finance, heheh.

And those thought surely make us believe and make us be more grateful of Allah’s greatness. Alhamdulillaah. Now, I’m start to think how good and how meaningful my life motto is.

Happy to be grateful instead of grateful of being happy ^^

Bahagia karena bersyukur, bukan bersyukur karena bahagia ^^

You will always get what you need the most, not what you want the most.

Renungan Diri: Perdebatan Pikiran

Yap, saya sering sekali mengalami perdebatan dalam pikiran saya sendiri. Perdebatan kenapa kehidupan saya begini dan kenapa begitu. Karena itu, saya jadi sering menyimpulkan kalau saya orangnya gampang sekali iri dengan orang lain, termasuk dalam hal harta.

Cukup sering saya berpikir kalau saya iri dengan teman-teman saya  yang mempunyai harta lebih melimpah dari saya. Saya merasa hal itu manusiawi, lha wong saya juga manusia, perempuan pula, yang memang mudah tergiur dengan harta duniawi. Tapi hal itu tidak semata-mata menjadikan saya menuhankan harta dunia dan terobsesi dengan kekayaan.

Oke, kehidupan rumah tangga kami jauh sekali dari yg namanya kaya raya ataupun punya harta melimpah. Rumah saja kami masih mengontrak. Tapi sungguh banyak sekali yang saya syukuri dari pernikahan kami ini (walaupun usianya baru seumur jagung).

Kalau belum menikah saya mungkin bisa punya handphone lebih bagus dari yg sekarang saya miliki, punya baju2 baru yg bagus2 juga, dan banyak hal lainnya. Tapi mungkin saya gk bisa dapet ketenangan hati dan kepercayaan diri seperti sekarang.

Merasa begitu dicintai, merasa dikagumi, disayangi, dimanja, dilindungi, dan ah banyak hal lainnya yg bisa saya dapatkan dari suami saya, termasuk rasa syukur. Dan sungguh semua inilah yg saya butuhkan. Allah memang selalu memberi apa yg dibutuhkan hambaNya bukan?

Maka sekali lagi perdebatan pikiran saya itu saya akhiri dengan

Maka nikmat tuhanmu yg mana lagi yg kau dustakan?

Dan dengan doa semoga keluarga kami selalu diberkahi, diberikan perlindungan, harta yg halal, serta keturunan yg soleh/ solehah. Aamiin..

Kebisaan Naia Sekarang

Terutama buat hal-hal yang kita ajarin atau dia tiru dengan sendirinya, hehehe

Pertama, menguap sambil bersuara. Sejak 6 atau 7 bulan dia selalu melakukan ini, hihi. Setiap kali menguap dia pasti bersuara “huaaah” atau apalah terserah dia. Awalnya saya gak engeh darimana dia bisa kaya gitu. Ternyata saya kalau menguap begitu, jadi dia mencontoh saya, hahaha 😛

Kedua, memiringkan kepala. 

Memiringkan Kepala
Memiringkan Kepala

Kalau yang ini saya tidak ingat dia meniru dari siapa, mungkin dia menemukan kebisaannya sendiri. Sejak 2 bulan lalu kalau di rumah dia sering memiringkan kepalanya untuk menarik perhatian saya dan suami. Kalau saya atau suami sedang di depan laptop, dia suka memiringkan kepala tepat di depan muka kita untuk diperhatikan. Lucuuu, waktu pertama kalinya dia melakukan itu ke saya, saya gak tahan dengan kelucuannya, hihihi. Sekarang kalau saya perhatikan dia memiringkan kepalanya untuk menyapa orang, hehehe, tetap lucuuu.

Ketiga, tepuk tangan. Kalau yang ini saya yang ajari juga, kalau gak salah dari bulan ke-7. Saya bernyanyi pok ame-ame sambil tepuk tangan. Karena sering melihat dan ingin tau jadi dia ngikutin gerakan tepuk tangan saya deh. Jadi sekarang kalau dinyanyiin pok ame-ame dia pasti tepuk tangan. Kalau dibilangin tepuk tangan dia juga tepuk tangan. Karena saya ngasih tau kalau gerakan itu adalah tepuk tangan jadilah kalau kita bilang tepuk tangan, ya dia tepuk tangan 😀

Keempat, menunjuk sesuatu. 

Menunjuk Sesuatu
Menunjuk Sesuatu

Sekarang dia udah tau kalau ingin sesuatu dia harus menunjuk ke tempat atau barang tersebut agar dimengerti, hihi.

Kelima, mementikkan jari. Belum bisa sih, dia baru menirukan bagaimana memetik jari. Jadi ceritanya waktu itu saya mengajak Naia melihat ayam di dekat rumah. Untuk memanggil ayam, saya mementikkan jari saya. Tanpa sadar, dia berusaha untuk mementikkan jari juga, hehehe. Sekarang kalau disebut “gimana manggil ayam/ kucing?” dia mementikkan jari sambil menunjuk keluar rumah.

Keenam, memicingkan mata. 

Memicingkan Mata
Memicingkan Mata

Yang ini saya juga gak tau nih dia belajar dari siapa, hihi. Setiap melihat orang baru atau disuruh “mata genit” dia mulai memicingkan matanya deh, hihihi.

Ketujuh, memukulkan dua benda. 

Memukul 2 Benda
Memukul 2 Benda
Memukul 2 Benda (2)
Memukul 2 Benda (2)

Yang ini hasil eksplorasi dirinya sendiri waktu lagi main sendiri di box, hehe. Jadi, saya memang suka membiasakan dia main sendiri, saya taruh di box dengan banyak mainannya. Alhamdulillah bisa anteng dan bisa main sendiri. Nah, begitu dia nemu 2 bola yang ada di box, dia megang di kedua tangan terus mukul2in kedua bola itu deh. Dia seneng sendiri mendengar bunyi 2 benda diketuk begitu. 😀

Kedelapan, melambaikan tangan. Dadah-dadah gitu maksudnya. Di bulan ke-8 kalau ada orang pergi atau kita ingin pergi, dia kita ajarin untuk melambaikan tangan “dadaaaah” gitu. Lama-lama bisa dan sekarang setiap kali bilang dadah dia melambaikan tangan deh, hehe.

Ah, rasanya kalau dijabarkan semua kebisaannya Naia saya jadi bingung sendiri, hehe. Selain banyak, saya juga lupa 😛

Sehat terus yaa Naiaa :*

Naia Sehat yaa
Naia Sehat yaa

Jadwal Dokter JMC

Khususnya dokter kandungan dan dokter anak, hehe

Karena saya dan suami selalu lupa sama jadwal dokter kandungan saya (untuk kontrol KB) dan jadwal dokter anak (untuk imunisasi Naia), kita jadi selalu megang kertas dari JMC yang isinya jadwal semua dokter 😀

Nah, untuk jaga-jaga aja dan biar kita berdua tetep bisa ngeliat walaupun gak megang kertas itu, saya masukin blog aja deh. ~Siapa tau ada yang butuh juga.

klik gambar untuk memperbesar ya 😉

Yap yap, yang saya kotakin merah itu dokter anak buat Naia (dr. Rebecca Dinar) dan dokter kandungan untuk saya (dr. Shinta Utami Sp. Og).

Oh iya, gigi saya ada yang bolong tapi sampe sekarang lupa mulu untuk ditambel. Sekalian masukin jadwalnya juga deh biar bisa diliat sewaktu2 😀

Game Seru dari Running Man

Hihihi, lagi demen banget nontonin running man malah jadi dapet inspirasi game-game seru yang bisa dimainin sama anak nanti 😛

Mau dicatet di blog biar inget dan ~mungkin~ bisa dijadikan inspirasi juga buat yang baca 😀

  1. Petak umpet. Udah biasa sih, tapi yang bikin gak biasa itu di running man bukan 1 orang jaga dan sisanya ngumpet, tapi bikin 2 tim, tim yang satu nyari tim yang ngumpet. Nah, tim yang ngumpet ini gak sekedar ngumpet, tapi menjalankan “misi”. Misinya sih terserah bisa apa aja, bisa nemuin boneka ~kaya di running man eps 7~ atau apa aja. Di running man, banyak episode yang main petak umpet ini, terutama episode awal2 😀
  2. Sambung kata. Kalo ini cuma salah satu permainan kecil di running man, kalo gak salah sih di episode 11. Peraturannya satu orang nyebutin satu kata dan orang berikutnya nyebutin kata yang lain tapi pake suku kata terakhir orang pertama. Misal: Kata-Takut-Kutilang-Langsung-dst
  3. Role Game. Yang ini permainan peran. Kaya jadi tukang jualan ~jualan di pasar atau penjual makanan gerobak kecil, terus jadi karyawan, dst. Salah satu episode yang ada permainan peran kaya gini di episode 37 dan 96 (guestnya Park Ji Sung).

    Running Man Episode 37
    Running Man Episode 37
  4. Detektif2an ~apa nama bagusnya yak?, penyelidikan lah pokoknya~. Kalo yang ini ada di episode buanyak banget, haha. Jadi, ada episode yang salah satunya jadi spy (mata-mata) yang lainnya harus nemuin petunjuk siapa mata-mata itu sebelum dia mengeliminasi yang lainnya, ada di episode banyak, haha *gag apal* :P. Ada juga yang salah satunya jadi penjahat dan menjalankan misi + eliminasi pemain lainnya dan yang lainnya harus caritau siapa kriminal itu tanpa ada hint ~kaya di episode 51-Thailand dan 62-China.
  5. Kekuatan super. Heheh, sebenernya menentukan yang terkuat, tapi masing-masingnya dibekali “kekuatan super” yang cuma bisa dipake 1x. Contohnya di episode 74. Baru banget nonton kemaren dan menurut saya episode ini paling seruu, hahaha. ~Eh, tapi yang ada kekuatan supernya ada lagi sih di episode 96 (main bola pake kekuatan super)

    running man episode 74
    Running Man Episode 74

*Kalo nemu lagi tambahin lagi aaah 😀

Heheheh, baru banget keranjingan nonton running man dan baru segini game yang bisa diinget. Makin gak bisa berenti nontonnya karena liat banyak game yang nanti bisa dimainkan sama anak 😛

Supir Taksi & Gendongan

Sebelum kejadian kemarin, saya percaya sekali dan yakin kalau memang masih banyak orang-orang baik yang akan mengembalikan barang temuannya, apapun barang itu. Tapi, saya hanya sebatas yakin tanpa ada rasa kagum yang begitu sangat.

Kemarin, ketika saya mengalami sendiri dan membuktikan bahwa memang ada orang seperti itu, saya benar-benar menjadi kagum akan kebaikannya dan semakin sangat kagum akan kebesaranNya.

Jadi, ceritanya kemarin itu kita (saya, suami, dan Naia) ingin pulang dari rumah orangtua di priuk dan kembali ke kontrakan. Karena barang bawaan kita cukup banyak, akan merepotkan sekali kalau kita nekat naik angkutan umum, akhirnya kita memutuskan untuk naik taksi.

Biasanya kalau kemana-mana itu Naia pasti saya gendong pake gendongan, tapi kemarin enggak karena saya ingin Naia bisa bergerak bebas di taksi itu. Jadilah gendongan yang saya bawa saya pegang-pegang aja, di taksi juga digeletakin aja.

Begitu sampai rumah dan turun, saya bertugas bawa Naia dan tas kecil dan suami bertugas bawa barang-barang besar yang ada di bagasi. Begitu cerobohnya saya sampai melupakan si gendongan bayi itu ~padahal itu paling penting~ huhu.

Baby Carier
Gendongan

Ketika mengecek barang di bagasi, suami yakin kalau sudah tidak ada barang apapun lagi. Sedangkan saya, saya mengecek barang yang ada di bangku, dan saya sangat yakin kalau sudah gak ada barang apapun lagi.

Pas di rumah, ketika suami mau menjemur pakaian  yang dicuci, barulah kita sadar kalau gendongan itu tidak ada, hiks. Dicari-cari di dalam dan sekitar perjalanan ke rumah gak ada. Begitu diingat-ingat lagi saya yakin kalau gedongan itu ketinggalan di taksi yang tadi, dan mungkin ada di bawah bangku penumpang. Hiks, hiks, saya benar-benar sedih. Masalahnya, gendongan yang kita punya itu bagus dan itu merupakan hadiah dari teman-teman kuliah kita. Dan saya sangat menyesal sudah menghilangkan itu.

Sampai suami ke warung dan membelikan saya minuman untuk menyegarkan diri, saya masih sedih. Walaupun akhirnya suami berusaha membujuk dan menenangkan hati saya, tetap saja gak mempan menghilangkan kesedihan saya. Sampai akhirnya suami mengeluarkan kata-kata yang benar-benar membuat saya sadar.

Sudahlah, kembalikan ke yang punya

Jleb, seketika itu saya tersadar dan hati saya benar-benar menjadi tenang. Kenapa saya harus bersedih? toh semua memang hanya titipan bukan? hehe. Yang punya itu maksudnya siapa? Ya Allah. Apapun jenis dan bentuknya, semua yang ada di dunia pasti milikNya kan? Dan Dia berhak menitipkan itu pada siapa saja 😀

Sudah tenang akhirnya kita lanjut makan sambil bersantai ~oiya, di luar sedang hujan saat kita makan ini~. Saat makan tiba-tiba pintu kontrakan kita diketuk dan orang itu mengucapkan “Assalamu’alaikum”. Ternyata, jeng-jeeeng, si bapak supir taksi yang tadi balik lagi dan mencari rumah kontrakan kita untuk ngembaliin gendongan yang tadi ketinggalan di taksinya, huhu. Sangat-sangat terharuu Kita mau ngasih sekedar uang ganti dan uang repot sebenernya, tapi begitu dikejar dia sudah pergi dan sudah tak terlihat lagi.

Kita sama sekali lupa siapa namanya, gak nyatet nomor taksinya, apalagi nyatet nomor plat taksinya. Yang kita benar-benar ingat itu dia adalah supir taksi Putra.

Taksi Putra
Taksi Putra

Sekarang balasan untuknya benar-benar hanya bisa diserahkan kepada Allah. Semoga si bapak supir taksi itu selalu diberkahi dan dilimpahkan rejekinya serta dijaga keikhlasannya, Aamiin.

8 Cara Membuat Anak Mandiri

Sore-sore iseng browsing pengasuhan anak nemu artikel lama tapi bagus, saya copy aja deh ke sini 😀

Mempunyai anak mandiri, siapa yang tak ingin? Anak yang mandiri, artinya dia bisa melayani kebutuhan sendiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Untuk membentuk anak menjadi mandiri, bukanlah hal sulit, asal Anda telaten dn konsisten. Berikut ini kiat membentuk anak mandiri:

  1. Awali dengan keterampilan mengurus diri sendiri. Mulai dari makan, menggosok gigi, dan memakai baju sendiri.
  2. Berilah waktu untuk bermain bebas di mana mereka bisa mengembangkan idenya sendiri, sekaligus belajar menghibur dan menyibukkan diri sendiri.
  3. Bertambah besar, mereka bisa membantu tugas rumah tangga seperti menyiram tanaman atau membuang sampah.
  4. Bila semua berlangsung dengan baik, mereka sebaiknya dibiarkan mengatur waktunya sendiri dalam urusan sekolah dan pergaulannya. Orangtua hanya ikut campur bila mereka merasa sang anak melen ceng dari jalurnya.
  5. Anak-anak harus diberi tanggung jawab dan dimintai pertanggungjawabannya bila mereka tak memenuhi tugasnya. Ini akan memberi perasaan penting dan mereka akan merasa bahwa orang tua mereka memercayai mereka melakukan tugas itu.
  6. Kondisi badan yang fit dan kuat adalah bagian penting dari perasaan kompeten dan mandiri. Anak harus didorong melakukan olahraga dan kegiatan di alam terbuka.
  7. Izinkan anak menentukan tujuannya sendiri, kecuali bila Anda merasa mereka memilih jalan mudah sementara Anda tahu benar kemampuan mereka jauh lebih tinggi.
  8. Ingatlah selalu, Anda tak akan selalu berada di samping mereka, melindungi mereka saat meng hadapi cobaan dalam hidup mereka. Yang terbaik bantulah mereka menjadi orang yang mandiri.

Sumber artikel: http://kolom.abatasa.com/kolom/detail/parenting/608/ini-lo-8-cara-agar-anak-mandiri.html

Parenting Style by Diana Baumrind

Jadi, beberapa waktu lalu, kawan saya ikhma menyarankan untuk follow twitter @SuperbMother, berhubung saya udah emak2 yak 😛

Yaudah saya follow deh, lumayan, tiap hari ada kultwit berguna sekitar parenting dan pernikahan, hehe. Nah, ini ringkasan kultwit parenting style dari @SuperbMother itu. Saya posting di blog ini sih sebenernya buat saya sendiri, kalo lagi pengen baca2 tentang parenting lagi tinggal baca di blog deh, gak usah bingung2 nyarinya, hehe.

Jadi kultwitnya itu ngomongin tentang tipe-tipe pengasuhan menurut Diana Baumrind, psikologis ternama. Setelah saya googling, ternyata banyak referensi tentang ini, yaudah deh, semakin lengkap yang bisa ditulis :D.

Nah, menurut Diana Baumrind ada 4 tipe pengaasuhan yang sering dilakukan oleh orangtua. Kalo digambarin pake skema sih kaya gini gambarnya:

four-basic-parenting-styles-model-diana-baumrind
4 Parenting Styles

Yang pertama itu tipe pengasuhan AUTHORITARIAN (Pengasuhan Restriktif). Tipe pengasuhan ini sering juga disebut tipe pemaksa. Orangtua tipe ini punya aturan yang sangat ketat dan HARUS diikuti oleh anak-anaknya tanpa ada diskusi. Mereka juga cenderung memaksakan kehendaknya serta tidak mentoleransi adanya kesalahan kecil.

Authoritarian Parenting
Authoritarian Parenting

Nah, sisi positif dari tipe ini adalah adanya aturan-aturan dan orangtua jadi punya kontrol penuh terhadap anak-anaknya. Tapii, kelemahannya justru di tidak adanya toleransi sikap tadi. Bisa-bisa anak jadi tidak terkontrol kalau di luar rumah, berhubung di rumah banyak sekali aturan yang mengikat. Anak juga bisa terlalu agresif atau terlalu malu di lingkungan sosialnya. Singkatnya, orangtua kurang responsiflah terhadap keinginan dan kepentingan anak, hiks.

Tipe kedua itu tipe AUTHORITATIVE. Tipe ini yang banyak disarankan dan yang dirasa paling pas dalam mendidik dan mengasuh. Kenapa begitu? Karena tipe ini memungkinkan adanya diskusi dan keterbukaan dengan anak tapi tidak meninggalkan aturan-aturan dan batasan-batasan. Malah aturan-aturan yang berlaku bisa jadi adalah hasil kesepakatan orangtua dan anak.

Authoritative Parenting
Authoritative Parenting

Jadi, dengan pengasuhan seperti ini, di dalam rumah selalu tercipta suasana demokrasi, selalu tercipta keterbukaan antar anggota keluarga. Sudah terbayang kan kalau tipe ini adalah tipe pengasuhan terbaik. Pengasuhan authoritative ini bisa membuat anak tumbuh jadi anak yang bertanggung jawab, percaya diri, dan bahagia.

Yang ketiga, tipe NEGLECTFUL (Uninvolved Parenting). Yang ini tipenya itu cueeek banget, gak peduli anaknya mau ngapain. Biasanya buat orangtua yang super sibuk, jadi sama sekali gak ada waktu buat anaknya. Atau bisa juga orangtua yang emang males 😛 Jadi, terkadang nonton TV lebih baik daripada ngurus anak, huhu.

Neglectful Parenting
Neglectful Parenting

Tipe yang kaya gini bisa mengakibatkan anak tidak punya kontrol akan dirinya. Jadi kebayang kan kalau di masyarakat akan seperti apa anak yang diasuh oleh orang tua tipe neglectful ini?

Terakhir, tipe INDULGENT (Permissive Parenting). Nah, kalo ini justru sangat-sangat terlibat dalam kehidupan anak. Tapii, kuraang banget aturan dan selalu mengikuti apa maunya anak. Tipe ini yang bisa mengakibatkan anak itu menganggap dirinya Raja dan harus selalu dituruti juga kurang menghargai orang tuanya dan orang sekitar.

Permissive Parenting
Permissive Parenting

Jadi kalau disimpulkan:

  1. Authoritarian -> Tinggi akan aturan tapi sangat kurang responsif
  2. Authoritative -> Tinggi akan aturan, tinggi juga responsifitas orangtua terhadap anak.
  3. Neglectful -> Rendah atau tidak punya aturan juga tidak responsif terhadap anak.
  4. Indulgent -> Rendah atau tidak punya aturan tapi sangat responsif terhadap anak.

Sebenernya sih udah dibikin chirpstory-nya sama @SuperbMother sendiri di: http://chirpstory.com/li/46110

Nah, chirpstory-nya saya bikin ulang, soalnya yang asli urutannya tebalik, jadi bacanya mesti dari bawah. Jadi, saya bikin biar bisa dibaca dari atas, nih dia: http://chirpstory.com/li/46704. 😀

Oiya, postingan ini juga tidak sepenuhnya mengacu ke kultwitnya @superbMother sih, ada yang dari All About Motherhood dan Positive Parenting.

37 Kebiasaan

Oke, jadi beberapa waktu lalu saya dan suami sepakat untuk memberikan bacaan ringan ke tetangga sebelah tentang pengasuhan anak. Heheh, bukan berarti kita udah paham, ya sama-sama belajar sih, cuman pengen aja ilmunya gak cuma kita yang punya, tapi semua orang tua juga punya, dimulai dari yang terdekat 😀

Nah, nemu buku bagus deh waktu jalan sambil kondangan ~heheh~ karangan ayah Edy, judulnya sih “Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur?” tapi sub judulnya “37 Kebiasaan Orangtua yang Menghasilkan Perilaku Buruk Pada Anak”, hihi. Jadi, kalau sekilas sih ini kaya di pihak orangtua yang menyetujui anaknya susah diatur, padahal di balik itu buku ini menjelaskan kesalahan yang sering dibuat oleh para orangtua secara tidak sadar. Bagus kan? 😀

Buku 37 Kebiasaan
Buku 37 Kebiasaan

Ah iya, maksud saya nulis ini adalah mau membagi apa saja 37 kebiasaan itu. Eh, tapi gak saya jelaskan satu-satu yaa, kalau mau lebih jelas mungkin beli bukunya aja, gak mahal juga kook, hehehe.

37 Kebiasaan yang salah dan dapat menghasilkan perilaku buruk pada anak itu antara lain: *di bukunya, 1 kebiasaan 1 bab*

  1. Selalu menyalahkan orang lain atau hal lain. Di buku sih judulnya “Raja yang Tak Pernah Salah”
  2. Berbohong kecil dan sering. Contohnya: kalau kita mau pergi, sering berbohong “Mama/papa hanya pergi ke depan sebentar, gak lama”, padahal perginya bisa seharian penuh 😛
  3. Banyak mengancam.
  4. Bicara tidak tepat sasaran. Kaya apa tuh? Misalnya, padahal kita marah karena barang kesayangan kita dipecahkan oleh anak, tapi kita jadi mengungkit-ungkit kesalahannya yang lama2 bukannya menjelaskan apa yang harus diperbuat lain kali.
  5. Menekankan pada hal-hal yang salah. Mirip dengan yang nomer 4 sih 😀
  6. Merendahkan diri sendiri. Misalnya dengan menekankan kalau main PS terus nanti papa marah *yang ngomong mamanya*.
  7. Papa dan mama tidak kompak. Yang satu membela, yang satu menghukum. Harusnya dalam mengasuh anak, orangtua sudah sepakat dan satu suara.
  8. Campur tangan kakek, nenek, tante, atau pihak lain. Di sini kita jadi harus memastikan kepada siapapun untuk tidak ikut campur atau justru mendukung pola pengasuhan kita.
  9. Menakuti anak. Contohnya itu saat mendiamkan anak nangis, “Hayo, kalo nangis terus nanti disuntik lho”.
  10. Ucapan dan tindakan tidak sesuai. Misalnya kita udah berjanji mau memberikan hadiah, tapi ternyata tidak. Atau akan menghukum anak tapi karena tempat dan waktunya belum pas, jadi terundur dan lupa. Anak akan jadi sulit percaya kepada orangtua nantinya.
  11. Hadiah untuk perilaku buruk anak. Misalnya anak merengek untuk membeli jajanan tidak sehat dan kita gak mengabulkannya. Tapi dia terus merengek sampai kita tidak tahan dan akhirnya mengalah. Jajanan itu termasuk hadiah untuk perilaku rengekan tersebut.
  12. Merasa salah karena tidak memberikan yang terbaik. Mungkin karena kedua orangtua bekerja, jadi merasa bersalah jarang bertemu akhirnya memaklumi perilaku buruk anak.
  13. Mudah menyerah dan pasrah.
  14. Marah yang berlebihan.
  15. Gengsi untuk menyapa.
  16. Memaklumi yang tidak pada tempatnya. Misalnya anak kita bertengkar dengan temannya dan anak kita memukul. Terkadang dimaklumi dan bicara “Maklumlah, namanya juga anak2”.
  17. Penggunaan istilah yang tidak jelas maksudnya. Misalnya, “Awas, jangan macam-macam ya”. Definisikan “macam-macam” itu.
  18. Mengharap perubahan instan.
  19. Pendengar yang buruk. Sebelum anak menjelaskan panjang lebar dan baru 1 kalimat keluar, kita sudah memarahi dan menasehatinya panjang lebar. Nantinya anak jadi enggan bercerita dan enggan terbuka.
  20. Selalu menuruti permintaan anak.
  21. Terlalu banyak larangan.
  22. Terlalu cepat menyimpulkan. Mirip dengan no. 19 sih. Anak baru menjelaskan, kita seolah2 sudah mengerti dan membuat kesimpulan yang salah, jadi langsung memarahi panjang lebar.
  23. Mengungkit kesalahan masa lalu.
  24. Suka membandingkan. Ingat selalu bahwa setiap manusia itu unik, termasuk anak kita dengan anak-anak lainnya.
  25. Paling benar dan paling tahu segalanya.
  26. Saling melempar tanggung jawab.
  27. Kakak harus selalu mengalah. Kita harus selalu bertindak adil. Walaupun si adik masih kecil, tetap harus diberitahukan mana yang benar dan mana yang salah.
  28. Menghukum secara fisik. Sudah pasti tau ya, memukul.
  29. Menunda atau membatalkan hukuman.
  30. Terpancing emosi. Agak mirip dengan nomor 11 nih sepertinya. Jadi, kita harus bersabar dan tahan dengan rengekan anak dan tetap konsisten dengan yang kita katakan.
  31. Menghukum anak saat kita marah. Sebaiknya jika sudah tidak bisa tertahan lagi, segera menjauh dari anak dan pilih cara terbaik untuk menenangkan diri.
  32. Mengejek.
  33. Menyindir.
  34. Memberi julukan yang buruk. Julukan ini seperti “cengeng”. Jika anak terus-menerus diberi julukan cengeng sejak kecil, maka akan tertanam di otak kalau dia adalah pribadi yang cengeng.
  35. Mengumpan anak yang rewel.
  36. Televisi sebagai agen pendidik anak.
  37. Mengajari anak untuk membalas.

Yah, kira-kira begitulah isi buku itu, walaupun bukan penjelasan lengkap dan cuma daftar kebiasaannya saja, tapi lumayan kan? 😛

Dan yang terakhir, pengasuhan dan pendidikan itu dilakukan oleh kedua orangtua. Jadi, jangan ragu-ragu menghabiskan banyak waktu untuk mengkomunikasikan pengasuhan dan pendidikan anak kita kelak seperti yang diinginkan. Komunikasi antar orang tua itu sangat penting untuk menjaga kekompakan dan menghasilkan kesepakatan pola pengasuhan. 🙂

Babies

Last Sunday, my husband and I was watching this movie. It is a documentary movie that shows you the life of four babies around the world. There are Ponijao from Namibia (which in my opinion living the wild life, hihihi), Bayar from Mongolia, Mari from Japan, and Hattie from California.

Babies
Babies

For me, it’s an interesting movie considering we already have a baby too. We were so into it because we ~sort of~ could feel their parents feelings, how happy we were when she/he was born and how happy we are watching them growing everyday 😛

Teruntuk Perempuan

Jadi, yang saya ingat dari workshop kemarin adalah kata-kata penutup ~penutup atau jawaban pertanyaan audience yah, lupa saya~ tentang perempuan atau yang nantinya jadi ibu. Kata-katanya gak inget banget-banget, seinget saya sajah lah ini 😀

Perempuan yang lebih tinggi tingkat pendidikannya harus bersedia menjadi ibu rumah tangga dan mengasuh sendiri anak-anak mereka karena merekalah penentu masa depan anak-anak mereka dan bangsa.

Jadi, teruntuk para perempuan:

Intinya, perempuan itu harus memang sudah siap untuk jadi orangtua begitu mereka memutuskan untuk menikah. Jadi waktu untuk dirinya sendiri cukup dari sejak mereka single sampai mereka hamil. Begitu melahirkan, waktunya mereka untuk mendidik anak-anak mereka sendiri di rumah.

Yaa, gak dengan nganggur juga sih, sekarang kan banyak banget ibu-ibu yang bekerja dari rumah, entah bisnis online, part time, atau pekerja freelance seperti saya. Pastinya bukan yang bekerja full time yang sudah tentu waktu untuk mengasuh sangatlah kurang, bahkan mungkin tidak ada. Pasti ada jalannya deh kalau sudah berniat untuk mengurus anak sendiri tanpa diserahkan ke pengasuh atau orang tua.

Untuk apa sekolah dan berpendidikan tinggi jika anak kita diasuh oleh yang pendidikannya lebih rendah bukan? ~maaf, saya bukan mengecilkan pengasuh atau orang tua ya, hanya saja akan sayang sekali jika perkembangan anak kita sendiri bukanlah kita sendiri yang pertama mengetahuinya. Lagipula, dengan kita mengasuh dan mendidiknya sendiri dengan tangan kita sendiri, kita jadi memiliki hubungan yang lebih dekat dan lebih mengerti diri anak-anak kita kan? Setidaknya inilah yang saya yakini. 😀

MengasuhAnak
Mengasuh Anak

Nah, setelah anak terakhir, anak terakhir loh ya sudah terbentuk pribadinya dan sudah bisa mandiri, barulah kita bisa sibuk dengan diri kita lagi. Entah dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau menjajaki dunia pekerjaan demi mengejar karir lagi. Ini sih yang dikatakan oleh bunda Elly, tapi saya sangat-sangat setuju.

Saya pun punya rencana untuk itu. Saya sangat ingin sekolah kuliah lagi dan sibuk dengan diri saya lagi. Tapi nanti, saya yakin pasti akan ada waktunya untuk itu. Sekarang saatnya saya memberikan seluruh waktu untuk mengasuh anak 😀 ~yah, pekerjaan freelance ini kan biar gak bosen aja di rumah, ya gak? hehehe.

Alhamdulillah saya merasa telah mengambil keputusan yang tepat dengan keluar dari pekerjaan dan menjadi freelancer demi mengasuh anak. Semoga saya bisa mendidik dan mengasuhnya hingga ia dewasa dan menjadi orang yang berguna nantinya, baik bagi dirinya sendiri, lingkungannya, bangsanya, bahkan agamanya, Amiiin.

Kesalahan dalam Berkomunikasi dengan Anak

Sungguh tidak menyesal kemarin ikut workshop parenting bunda Elly Risman mengenai komunikasi pengasuhan anak yang efektif.

Jadi ceritanya hari Rabu atau Kamis kemarin suami nemu iklan workshop parenting yang diadain hari Sabtu mengenai komunikasi pengasuhan anak yang efektif. Nah, awalnya kita cuma mau menginformasikan kaka saya yang sudah punya anak 3 untuk ikutan itu. Lumayan kan, toh bayarnya gak mahal-mahal amat, cukup 50ribu.

Workshop Parenting
Workshop Parenting

Begitu kaka saya daftar, kita pikir kenapa kita juga gak ikutan aja, gak ada salahnya tuh. Oke, jadi kita bertiga deh yang ikutan. Dan kebetulan saya dan suami juga belum pernah hadir di workshop atau seminar parenting kaya gini.

Jangan remehkan workshop2 atau seminar2 parenting loh. Karena, gak ada kan sekolah untuk jadi orangtua? Jadi darimana lagi kita bisa dapet ilmu parenting kaya gini. Dari orang tua, oke. Tapi ada beberapa hal yang perlu diubah sih dari pengasuhan orangtua. Karena, orangtua mengasuh kita pada zamannya, sedangkan kita mengasuh anak-anak kita untuk zaman mereka nantinya, yang kita sendiri belum tau akan seperti apa. Dari internet juga banyak sih. Tapi menurut saya seminar2 parenting kaya gini lebih melengkapi lagi.

Sebetulnya saya cuma mau sharing tentang apa yang paling saya inget kemarin, tapi sekalian aja ah, summarize materi workshopnya kemarin 😀

Jadi, intinya kemarin itu membicarakan mengenai 10 kekeliruan dalam berkomunikasi dengan anak dan cara mengatasinya. Ini dia 10 hal itu:

1. Bicara tergesa-gesa. Gaya seperti ini menyebabkan anak tidak mengerti dan menangkap maksud dari pembicaraan kita sehingga mereka akan mengacuhkan apa yang kita bicarakan. Nah, untuk mengatasinya ya pastinya bicara pelan-pelan dan di waktu yang tepat.

2. Tidak kenal diri sendiri. Nah, kalau tidak kenal diri sendiri bagaimana kita mau mengenal anak kita kan? hehe. Intinya kita harus mengenal diri kita sendiri dulu. Tau siapa kita, apa kelebihan dan kekurangan kita, serta hal-hal kecil yang membentuk pribadi kita. Dengan begitu, kita bisa mengenal dan bisa mengerti anak kita nantinya.

3. Lupa: Setiap individu unik. Yap, kadang-kadang sebagai orangtua kita lupa kalau setiap individu itu unik jadi sering membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lainnya. Padahal ya gak bisa dibandingkan, karena setiap anak ya pasti berbeda karena mereka unik. Jadi, selalu tanamkan dalam otak kita bahwa setiap individu itu unik.

4. Perbedaan: “Needs & Wants!” Terkadang kita juga gak bisa membedakan mana yang menjadi kebutuhan mereka dan mana  yang menjadi keinginan kita sehingga kita sering memaksakan apa yang kita mau terhadap anak. Ada baiknya kita harus lebih memahami bahwa keinginan dan kebutuhan itu sebenarnya berbeda.

5. Tidak membaca bahasa tubuh. Yap, bahasa tubuh adalah salah satu cara untuk menyampaikan perasaan. Jadi, kalau kita mengacuhkan bahasa tubuh anak, bagaimana kita bisa mengerti dan anak itu bisa berkomunikasi dengan kita? Pelajarilah bahasa tubuh orang lain untuk bisa memahami perasaannya.

6. Tidak mendengar perasaan. Nah, yang ini agak berhubungan dengan no. 5. Kalau kita sudah tidak membaca bahasa tubuh, kita jadi tidak bisa mendengar apa yang mereka rasakan. Maka, jika bahasa tubuh sudah bisa kita kenali, kita bisa mengetahui apa yang mereka rasakan sehingga bisa membuka jalur komunikasi. Tanya dan tebak perasaan yang sedang mereka rasakan. Contoh: “Capek ya?” “Kesal?” “Wah, tega ya?”

7. Kurang mendengar aktif. Biasanya sebelum anak menyampaikan atau cerita mengenai dirinya, kita sudah memotong pembicaraannya dengan aturan2 kita. Inilah yang membuat mereka jadi tidak membuka komunikasi dengan kita, kita duluan yang menutupnya. So, jadilah pendengar yang lebih aktif, sabarlah mendengarkan cerita-cerita dan keluhan-keluhan anak.

8. Menggunakan 12 gaya populer. Yang termasuk dalam 12 gaya populer itu adalah: a.) memerintah, b.) menyalahkan, c.) meremehkan, d.) membandingkan, e.) mencap / label, f.) mengancam, g.) menasehati, h.) membohongi, i.) menghibur, j.) mengkritik, k.) menyindir, l.) menganalisa. Nah, kalau kita menerapkan itu semua, akibatnya anak jadi tidak percaya diri. Jadi, hindari 12 gaya populer ini ya 😀

9. Tidak memisahkan masalah siapa. Seringkali kita ikut campur masalah anak dan menyelesaikannya. Padahal dalam masalah itulah mereka bisa belajar bertanggung jawab dan memutuskan yang terbaik. Anak perlu dilatih untuk BMM (Berfikir – Memilih – Mengambil keputusan). Jadi kitapun harus belajar memisahkan masalah anak dan masalah kita sendiri.

10. Selalu menyampaikan pesan “Kamu”. Hal itu mengesankan dia akan selalu salah. Walaupun maksud kita benar, tapi yang ditangkap oleh mereka adalah mereka salah. Belajarlah menyampaikan pesan “Saya”. Contohnya: “Saya (mama/papa) marah kalau kamu pulang larut malam karena mama khawatir ada apa-apa dengan kamu.”

Heheh, itu semua kira-kira yang kemarin disampaikan, sedikit sih. Emang paling enak ikutan workshopnya, jadi semuanya bisa lebih jelas 😀

Nah, yang paling saya ingat dari workshop kemarin saya pisah aja ah, kepanjangan dijadiin satu postingan 😛

Ibu Ainun Habibie

It’s the note of mrs. Ainun Habibie 😀

Mengapa saya tidak bekerja?
Bukankah saya dokter? Memang.
Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu.
Namun saya pikir : buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yg barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya
tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri ? Anak saya akan tidak memiliki ibu.
Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi
tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun- tahun kami bertiga hidup begitu.”
Jangan biarkan Anak-anak mu hanya bersama pengasuh mereka.

Bagaimana bila dibantu pengasuhan dengan kakek neneknya?

~ Sudah cukup rasanya membebani orangtua dengan mengurus kita sejak lahir sampai berumah tangga.
Kapan lagi kita mau memberikan kesempatan kepada orangtua untuk penuh beribadah sepanjang waktu di hari tuanya.
Mudah2an ini bisa jadi penyemangat dan jawaban utk ibu-ibu berijazah yang rela berkorban demi keluarga & anak2nya.
Karena ingin Rumah Tangganya tetap terjaga & anak2 bisa tumbuh dgn penuh perhatian, tdk hanya dalam hal akademik, tp jg utk mendidik agamanya, karena itulah sejatinya peran orangtua.

Belajar dari kesuksesan orang2 hebat, selalu ada pengorbanan dari orang2 yang berada dibelakangnya, yang mungkin namanya tidak pernah tertulis dalam sejarah.

Berbanggalah Engkau sang Ibu Rumah Tangga, karena itulah pekerjaan seorang wanita yg paling mulia. 🙂

Recently Liked

Running man 😀

Running Man
Running Man

http://kshowonline.com/category/2/running-man

I heard this show from my bestfriends, they said I should watch the show because it’s so funny and so entertaining. The episode I watched for the first time is not so funny at the beginning, so I skipped those and loosing the will to watch the show. But, there is sometimes I feel so bored, then I tried another episode of them. And, the result is, I completely fall in love with the show XP

The guest that I like so much is Yong Hwa, hihi