Aku Istiana Sutanti, seorang ibu dari 3 orang perempuan yang hobi sekali mengajak anak-anak untuk traveling bersama.
Di blog ini aku sharing pengalaman traveling kami sekeluarga plus pelajaran parenting yang aku dapatkan, baik dari pengalaman pun dari seminar parenting.
Semoga kalian suka membaca pengalaman traveling kami dan semoga membantu untuk menentukan tujuan traveling kalian berikutnya! ;)
si ibu: tetap teriak-teriak tanpa melakukan apa yang diancamnya: menendang.
lama kelamaan si Ibu tetap teriak-teriak lalu sambil mencubit yang akhirnya membuat si anak ganti baju sambil menangis
Pernah kalian mendengar cerita serupa? Atau bahkan cerita lain dimana si ibu memerintahkan anaknya untuk membereskan mainan dengan ancaman kalau mainannya akan dibuang? Namun apa yang dilakukan kalau anak tetap tidak mau membereskan mainan? Si ibu lah yang akhirnya membereskan mainan tanpa membuang mainan tersebut.
Sebagai manusia, kita pasti selalu merasakan yang namanya emosi. Entah kita termasuk yang cepat tersulut atau yang sabar. Menurut saya, orang yang sabar bukanlah orang yang tidak pernah merasa emosi atau marah. Tapi dia bisa menyalurkan emosinya tersebut dengan aman dan nyaman.
Emosi yang aman dan nyaman adalah disaat emosi kita yang meluap tidak menjadikan kita akhirnya menyakiti diri sendiri. Tidak menjadikan kita meluapkan emosi tersebut ke orang lain sehingga menyakiti orang tersebut. Tidak juga menyakiti lingkungan sekitar kita. Piring yang pecah atau barang yang rusak misalnya, atau bahkan rumah yang kebakaran *Naudzubillah*.
Nah, sudah sejak dari *kira-kira* tahun 2010an saya berusaha dan belajar agar saya bisa menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman seperti itu. Awalnya memang tidak mudah. Saya masih sering meluapkan emosi ke orang lain yang hasilnya orang yang tidak memiliki salah apapun tersebut malah terkena luapan emosi saya sehingga ia kesal. Sering juga saya membuat keputusan saat itu yang akhirnya saya sesali kemudian.
Jangan membuat keputusan saat emosi. Jangan membuat janji saat bahagia.
Dua hal inilah yang akhirnya paling saya ingat selalu. Saat sedang marah atau emosi, kita tidak akan mengerti apa yang kita pikirkan yang selanjutnya apabila kita membuat keputusan saat itu akan sangat mungkin sekali kita akan menyesalinya di kemudian hari. Maka dari itu disaat kita emosi kita harus benar-benar menahan diri untuk tidak mengambil keputusan. Tunggu sampai emosi mereda baru kita bisa berpikir secara dewasa kembali dan bisa berpikir lebih baik.
Nah, saya memiliki beberapa cara atau beberapa penyaluran emosi disaat emosi saya sedang tidak terbendung. Salah satunya adalah dengan menulis di blog ini. Ada beberapa hasil tulisan saya yang merupakan penyaluran emosi, seperti tulisan ini, hehe. Terkadang saya juga hanya berdiam diri, membaca-baca buku yang belum selesai saya baca, mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk,membuat makanan yang enak yang bisa meningkatkan mood, dan terkadang juga dengan ‘menikmati’ waktu dengan diri sendiri alias me-time. Yap, cara-cara tersebut ampuh untuk meredakan emosi saya. Emosi yang kembali mereda membuat saya bisa bergaul lagi dengan Naia dan suami tanpa menyakiti hati mereka.
Buat saya, cara menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman ini sangat penting. Ya berhubung saya sehari-hari di rumah hanya bersama Naia, saya gak mau kalau sampai akhirnya emosi saya tersalurkan ke Naia. Alhamdulillah hasil belajar menyalurkan emosi yang aman dan nyaman ini sudah terlihat sedikit demi sedikit.
Juga agar saya bisa mengajarkan Naia menyalurkan emosinya dengan aman dan nyaman nantinya. Yang tidak membuatnya menyakiti diri sendiri, lebih-lebih orang sekitar, bahkan tidak membuatnya membanting barang-barang. Karena saya percaya, orangtua yang tidak mengerti bagaimana cara menyalurkan emosi tidak akan bisa mengajarkan anak menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman.
So, sudahkah kalian menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman? 😀
Sejak umur 12 bulanan, Naia memiliki berat badan jauh di bawah rata-rata berat badan anak seusianya. Saat itu saya dan suami masih tenang-tenang saja karena orangtua saya mengatakan saya pun dulu seperti itu. Jadi, saya dan suami menganggapnya hal genetik yang mungkin diturunkan oleh saya.
Tapi nyatanya hal tersebut salah. Kami (saya dan suami) mulai menyadari kalau Naia ‘ada apa-apa’ pada saat usianya menginjak 16 bulan. Memang sih, porsi makan Naia sangat imut dan sedikit sekali. Awalnya dokter hanya memberi vitamin penambah nafsu makan dan menyarankan untuk memberinya susu tambahan. Tapi akhirnya kamipun mulai mengikuti prosedur dari dokter untuk mencari tau ada apa sebenarnya di dalam tubuh Naia yang membuat beratnya jauh di bawah rata-rata itu, mulai dari tes urin, tes feses, sampai tes mantu (tes untuk melihat ada atau tidaknya penyakit TBC). Alhamdulillah tes mantunya ternyata negatif. Namun, dari tes feses, ternyata Naia mengalami penyerapan gizi yang kurang, karena terlihat dari banyaknya serat dan lemak baik yang keluar lagi melalui fesesnya. Akhirnya, selain diberi vitamin penambah nafsu makan, Naia juga diberi enzim tambahan untuk membantunya menyerap gizi dengan sempurna. Pertanyaannya adalah, kenapa bisa sampai terjadi hal demikian?
Hihi, ini sih dari status facebook. Saya copy paste, jadi credit bukan di saya lhoo.. ^^
[Serial Motivasi Islami]
Keluarga Bahagia Itu Sederhana Saja….
Keluarga mesra itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat bilang sama isterinya, “Bu pijitin bapak dong.. pegel neh kerja seharian.” Sementara sang isteri di lain waktu juga dapat dengan ringan bilang, “Pak, pijitan ibu dong, pegel neh seharian bersihin rumah…”
Keluarga rukun itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat melihat akun FB, Twitter atau HP isterinya tanpa isteri merasa dicurigai dan isteri dengan ringan dapat melihat akun FB, Twitter atau HP suaminya tanpa suami merasa dimata-matai….
Keluarga hangat itu sederhana saja; Kalau suami dan isteri dapat ngobrol panjang lebar berduaan dengan tema apa saja, dapat diselingi joke ringan sampai bercanda hingga ‘tonjok-tonjokan’….
Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dengan tulus memuji masakan isterinya yang sedap sedangkan di lain waktu dengan ringan dapat menegur makanannya yang kurang garam…. Sementara isteri tidak terlalu khawatir jika makanan yang dia sediakan membuat suaminya marah, atau bahkan dengan ringan suatu saat dia mengatakan, “Pak, hari ini ibu tidak masak, kita beli saja yak…”
ODOJ, atau One Day One Juz. Yap, begitu denger juz-nya udah tau kan ini apa? hihi. ODOJ ini adalah program yang berisi sekumpulan orang-orang yang bersemangat menyelesaikan satu juz Al Qur’an setiap harinya. Mereka lalu membuat group di whatsapp, setiap grup terdiri dari 30 orang, yang setiap orangnya kebagian satu juz. Jadi, sebisa mungkin group itu mengkhatamkan Al-Qur’an deh setiap hari 😀
Gerakan ini cukup serius lho. Terbukti dari terpusatnya kepengurusan, website yang sudah dibuat dan launching yang sudah direncanakan, yaitu pada 11 Mei 2014 nanti di Masjid Istiqlal.
Dalam pemikiran saya waktu pertama kali denger program ini, “waah, hebat banget yaa, banyak banget orang yang bisa baca Al Quran 1 juz setiap hari. Saya? seumur-umur gak pernah deh, di bulan Ramadhan aja gak kekejar bisa khatam, apalagi hari biasa. Beraaat bok”. Maka pupuslah niat untuk masuk group ini. Iya, karena saya merasa keberatan sangat dengan satu juz setiap harinya. Lha wong baca Al Qur’an aja jarang, sukur-sukur dapet 2 lembar setiap harinya.
Bener-bener gak terpikir kalau saya mau-maunya daftar atau gabung di group ini. Tapi tiba-tiba, sekonyong-konyong, dalam group lain yang saya ikuti ada seorang teman mencari satu peserta wanita yang mau ikutan ODOJ karena di groupnya kekurangan satu orang. Entah kenapa rasanya hati ini terpanggil untuk akhirnya mencoba mengikuti program ini. Yasudahlah, saya bilang deh ke temen saya itu. Tapi ternyata groupnya sudah penuh, telat sayah 🙁
Tapi akhirnya saya bisa masuk ke group selanjutnya, horee.. Dan hasil dari tempaan di group itu adalah semangat saya masih terjaga sampai saat ini, Alhamdulillah. Semoga selalu terjaga dan istiqomah, Aamiin
Nah, ada yang bilang kalau yang ikut ODOJ ini terkesan riya dan munafik. Riya atau tidak, munafik atau tidak, saya percaya semua itu kembali pada niat pribadi masing-masing.
Niat awal melakukan kebaikan yang tidak tulus masih lebih baik lho dibanding orang yang malah sama sekali gak mau melakukan kebaikan itu 😀
Jangan meninggalkan amal krn takut tdk ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripda tdk beramal sama sekali.
Nah, beramal atau melakukan kebaikan sambil meluruskan niat jauh lebih baik daripada tidak melakukan sama sekali. Bahkan niat awal yang tidak tulus bisa berangsur-angsur pudar lho, tergantikan dengan keasikan melakukan kebaikan itu dan jadi terasa mengganjal kalau tidak melakukannya lagi. Bukankah dengan begini dia sudah mencapai tahap ikhlas melakukan kebaikan itu? Benar-benar perlu pembiasaan diri saja! 😉
Saya pribadi sih sampai saat ini tetap memandang group ini sebagai sarana pengingat dan penjaga semangat. Bukan hanya semangat saya, tapi juga semangat orang-orang lain yang ingin selalu mengamalkan kebaikan dengan membaca Al Qur’an dan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan itu. Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan itu adalah perintah langsung dari Allah SWT?
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ
Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. (QS Al- Baqarah : 148)
Nah, buat yang mau berlomba-lomba dalam kebaikan juga, bisa banget kan mulai dengan ikutan ODOJ? Bisa daftar di sini lho 😀
Buat para orangtua, pasti udah pada engeh kan kalo kita sebaiknya menghindari kalimat negatif ke anak kita. Yaa, kalau anak dilarang melakukan sesuatu, dia bingung sebaiknya bagaimana, maka dari itu sebaiknya justru berilah kalimat saran atau kalimat positif yang baik. Ya simple banget kok, cuman mengganti kata ‘Jangan …’ menjadi lawan katanya.
Kenapa sebisa mungkin harus menghindari penggunaan kata ‘jangan’? Karenaa, anak-anak itu cenderung akan mengabaikan kata jangan dan malah melakukan hal negatif yang kita bilang tadi. Atau, karena dilarang melakukan ini itu, anak malah bingung sebaiknya ia harus ngapain. Untuk itulah perlunya penggunaan kalimat positif. Kalimat positif ini bisa berfungsi juga sebagai ‘saran’ kepada anak apa yang sebaiknya ia harus lakukan, instead of melarangnya, hehehe.
Barusan banget dapet dari status sepupu saya di Facebook mengenai daftar kalimat negatif yang diubah menjadi kalimat positif. Bisa digunakan sebagai panduan nih, para ibu-ibu dan ayah-ayah, dalam membiasakan menggunakan kalimat positif dalam berkomunikasi 😉
Semudah ini kok, bener deh. Asal mau mencoba dan membiasakannya. Yang bener-bener perlu dilatih itu adalah kebiasaan. Ingat lho, kebiasaan..!! Jadi sering-seringlah berlatih mengganti kata jangan dengan kalimat yang lebih positif yaa.
Terlalu mulia jika kau sanding dengan kesibukanmu..
Aku tuh harus bangun pagi. Hrs sekolah, ada ulangan, byk PR, tugas, huhu 🙁 . Waktuku itu gak ada jedanya pokoknya!
Jadi…. Al-Qur’an harus ngertiin kesibukanmu, begitu?
Al-Qur’an terlalu agung teman…
Terlalu agung jika kau bandingkan dengan target harianmu..
Hari ini skripsian 5 jam, ke perpus, trus mampir ke toko buku, baca jurnal bahasa inggris minimal 2 jurnal, ngikut seminar dan persiapan lomba debat. Aku tuh padet banget agendanya…
So what??
Al-Qur’an itu terlalu suci kawan…
Terlalu suci untuk kau balap-balap dengan mimpimu..
2 tahun ke depan harus mendapat beasiswa S2 di Jerman, pada tahun yang sama keliling 3 negara. Setelah wisuda menikah (berharap dapat suami/istri yang hafidz atau minimal punya hafalan agar bisa mengingatkanku untuk menghafal) dan 2 tahun kedepan pindah bersama keluarga ke Amrik. Mapan. Beli rumah. Beli BMW. Anak belajar disekolah internasional
(tak ada target dirinya pribadi untuk menghafal)
Sungguh!!
Meski tak kau baca, tak kau hafalkan, tak kau tadabburi apalagi tak kau amalkan, Al-Qur’an tak merugi!!
Tak terhinakan.
Sama sekali!!!
Hey! Tapi lihat…
Lihat siapa nanti yang kelak akan menangis tersedu..
Meraung-raung meminta dikembalikan dalam keadaan semula agar punya kesempatan membersamai Al-Qur’an..
Bermesra dengan Al-Qur’an..
Benar-benar menjadikannya sahabat..
Nanti….
Suatu saat nanti…
Di saat semuanya tak mungkin kembali lagi….
:'(
(Sumber: grup di WA dan Al-Quran)
*Nasihat yang sangat tepat ditunjukkan ke diri ini, astaghfirulloh.
Ya Allah yg memalingkan hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan pd-Mu.
Wahai yg membolak balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.
Pernah gak sih kita sebagai ibu melakukan kebohongan-kebohongan. Misalnya saja saat ada telpon yang tidak ingin diterima oleh Ibu lalu kita bilang ke anak “Nak,bilang ibu sedang pergi ya”. Nah lhoo, berbohongnya memang bukan termasuk kebohongan besar sih, tapi tetap saja anak akan belajar kalau berbohong itu hal yang wajar dan diperbolehkan. Toh, itu dicontohkan oleh si Ibu sendiri. Jadi wajar saja kalau suatu saat si anak bisa menjadi pembohong yang baik, ya karena itu hasil didikan orangtua.
Nah, di buku Ayah Edi yang pernah saya baca, ini termasuk kebiasaan buruk yang sering tidak disadari oleh orangtua. Berbohong kecil dan sering. Iya, gak cuma sekali dua kali kan berbohong seperti itu? Bahkan sering demi menenangkan anak yang melarang ibu atau ayah untuk pergi kerja, kita bilang “Nak, ayah/ibu perginya cuma sebentar kok, gak lama, jadi kamu tenang ya”. Lah, kalo ternyata ibu atau ayahnya kerja sampai larut malam gimana? Atau sampai waktu normal aja deh, jam 5 sore misalnya. Apakah itu waktu yang sebentar? Nanti akan tertanam juga deh di benak anak kalau pergi seharian termasuk waktu yang sebentar.
Kata sebentar atau lama sebenarnya juga kurang dianjurkan sih, karena itu termasuk waktu yang relatif. Ada yang menganggap 1 jam itu lama, ada yang menganggap 1 jam itu sebentar. Maka, untuk mengajarkan anak mengenai waktu, disaat anak belum bisa mengenal jam atau menit, sebaiknya pakai batas waktu yang pasti. Misalnya, “Kamu ditemani ibu setelah ibu selesai menggosok”. Nah, jelas batas waktunya, yaitu selesai menggosok! Anak akan belajar sabar dan akan mengenal batas waktu. Tapi disaat anak sudah mulai mengenal waktu, jam, menit, dsb, penting untuk selalu menggunakan batas waktu yang pasti tersebut. 15 menit lah, 30 menit lah, bahkan 8 jam kalau akan pergi bekerja.
Balik lagi ke bohong. Sebagai orangtua, selalu lah usahakan untuk tidak berbohong, baik kebohongannya hanya kebohongan kecil seperti yang telah disampaikan. Mulailah selalu bicara jujur dan selalu membiasakan hal tersebut ke anak sejak anak lahir. Lebih baik bicara jujur mau ke mana, bersama siapa, dan akan pulang jam berapa nantinya ke anak. Walaupun anak nangis dan merengek, peluk dan tenangkan dulu. Kalau masih merengek, coba diajak mengantar sampai depan pintu, depan gang, atau depan komplek. Dengan begitu anak juga akan belajar berkomunikasi dengan baik kepada orangtua.
Saya pernah membuktikannya lho. Ceritanya ada di postingan saya yang ini, hehe.
Begitulah, semoga berguna dan bisa menghindari kebohongan-kebohongan kecil ini ya para orangtua 😉
Postingan ini betul-betul reblog dari artikel di Parents Guide dengan judul yang sama. Hal ini juga yang ditekankan oleh Toge Aprilianto, agar anak menjadi mandiri dengan mengatasi masalahnya sendiri.
“Bermain air basah, bermain api hangus.” Masih ingatkah pada pepatah lama ini? Benar, tiap perbuatan manusia memang selalu diikuti akibat. Datang terlambat di kantor ditegur. Telat bayar tagihan kartu kredit didenda. Kadang kita berusaha tidak peduli. Tapi setelah satu-dua kali terantuk akibat – apalagi kalau akibatnya berat – biasanya kita jera.
Hal serupa berlaku di dunia anak-anak. Tulisan ini membahas bagaimana membuat anak mengambil pelajaran dari konsekuensi perbuatannya. Ada dua jenis konsekuensi tiap perbuatan: alamiah dan logis.
Sekembalinya suami dari Solo beberapa bulan lalu, dia terlihat begitu berseri-seri tanda bahwa dia sangat senang. Salah satu alasannya sih karena tulisan untuk bukunya sudah berkembang pesat, walaupun masih menyisakan sedikit bagian yang akhirnya dikerjakan di Jakarta. Tapi ada hal lebih besar yang membuat dia sampai terlalu senang seperti itu. Dia sangat terpesona dengan kota Solo! Sampai-sampai dia mengajak saya untuk menghabiskan masa tua di sana kelak, huaah. Saat itu saya benar-benar penasaran. Ada apa ini? Kenapa dia sampai sebegitu terpesonanya dengan kota Solo?
Saat Naia berumur 10 bulan pernah dia main di rumah ibu saya. Saking asiknya bermain, kepalanya sampai kejedot *bahasa bagusnya sih terbentur, hehee* lemari lalu menangis. Ibu saya lalu mendiamkannya sambil memukul2kan lemari itu dan bilang “lemarinya nakal ya, uh, uh. dah, udah dipukul ya lemarinya”.
Miris ya dengan pola pengasuhan yang sebagian besar ada di Indonesia ini. Dari kecil sudah diajarkan untuk selalu menyalahkan orang lain atau menyalahkan keadaan, bukannya introspeksi diri. Saat sudah dewasa, ya mau menyadari kesalahan bagaimana, lha wong dari kecil sudah terbentuk bahwa dirinya gak pernah salah kok.
Walaupun saya gak tau kata-kata yang seharusnya itu bagaimana, tapi saya selalu menghindari dan menjelaskan kalau tidak ada yang bisa disalahkan. Jadi saat itu saya langsung bilang gak ada yang nakal dan gak ada yang bisa disalahkan. Lemari kan gak bisa kemana-mana dan gak bisa memukul Naia, jadi lemari gak salah. Sakit? Ya sakit kalau kepala kita terbentur sesuatu yang keras.
Di lain waktu saat Naia bermain dengan senang baru saya “iklanin” pentingnya berhati-hati. Ya mengajarkan kehati-hatian ini memang tidak mudah juga dan tidak cukup sekali sih, perlu di”iklan”kan berulang-ulang kali, maka itu kita perlu cadangan sabar yang tak terhingga, hehe. Sampai sekarang walaupun Naia terkadang masih terjatuh dan kejedot, dia cuma cerita tanpa menyalahkan hal lain dan saya juga cuma bilang sakit sambil mengobati yang sakit tadi.
Tidak lupa saya juga bicara baik-baik dengan ibu saya kalau tindakannya bisa mengakibatkan Naia selalu menyalahkan orang lain. Pelan-pelan ibu saya mengerti juga dan Alhamdulillah sekarang sudah tidak seperti itu terhadap Naia :).
Mengajarkan untuk menjadi orang yang tidak pernah salah ini termasuk salah satu kebiasaan salah orangtua di buku karangan Ayah Edi berjudul “Mengapa anak saya suka melawan dan susah diatur?”. Di postingan 37 kebiasaan saya sudah menyebutkan apa-apa saja kebiasaan-kebiasaan yang salah itu dan kebiasaan ini disebut paling pertama dengan judul “Raja yang tak pernah salah”.
Berjudul seperti itu karena kebiasaan kecil yang sering tidak kita (orangtua) sadari bisa menjadikan dia seperti raja yang sombong yang tidak pernah mau disalahkan. Jadi yuk, para orangtua, hindarkan kebiasaan kecil yang menyebabkan anak selalu menyalahkan orang lain atau keadaan ini. Saat menjadi orangtua saatnya berhati-hati dengan segala yang kita lakukan :D.
Mengajari anak cara berjuang adalah dengan memperlihatkan kemampuan terbaik kita sebagai orangtua. Disaat kita melakukan segalanya secara maksimal, barulah kita mengerti dan tau bagaimana cara mengembangkan dan mengajarkan anak kita bagaimana cara berjuang. Di milis yang saya ikuti ada kata-kata dari admin yang saya sukai.
Orang tua yang gak mau berjuang untuk dirinya sendiri, gak bisa diandalkan untuk menemani anaknya berjuang.
Berjuang untuk diri sendiri adalah awal untuk bisa mengajarkan dan menemani anak berjuang. Kalau kita tidak pernah tau rasanya berjuang secara maksimal, kita tidak akan pernah bisa mengajarkan hal itu pada anak kita kan?
Beberapa hari yang lalu juga saya melihat ada iklan komersial yang maknanya sangat bagus. Iklan tersebut akhirnya menjadi video favorit saya sekarang karena secara tidak langsung memberikan pengajaran parenting bagi kita para orangtua. Disaat anak ingin berkompetisi, baik dalam hal olahraga atau sekedar permainan biasa, saya ingin kita (saya dan suami) tidak mengalah. Ada kan orangtua yang mengalah demi anaknya senang? Saya tidak mau begitu. Saya ingin dia merasakan rasa kecewa karena kalah dan rasa ingin terus berjuang agar akhirnya berhasil mengalahkan kita. Disaat dia sudah memiliki karakter berjuang, karakter itu akan dibawanya di lingkungan yang akan dihadapi kelak.
Saat dia berhasil mengalahkanku, saat itulah aku menang.
Pertama kali saya belajar agar tidak mengalah dengan anak adalah saat saya menonton video nina from japan. Sampai saat ini cara pengasuhan ayah dan ibunya masih kami jadikan salah satu role model dalam gaya pengasuhan kami.
Siapa yang masih ingat pengalaman pertama punya notebook? Saya masih lhoo, karena notebook yang saya punya sekarang ya notebook pertama saya, ihihi. Apapun yang pertama pasti diingat kan, seperti cinta pertama laah #eh.
Sama dengan saya, saya juga selalu mengingat apapun yang serba pertama. Pertama kali punya hape, pertama kali punya penghasilan sendiri, termasuk pertama kali punya notebook. Nah, notebook saya ini saya dapatkan dari tempat terakhir saya bekerja. Bukan, bukan dengan menabung lalu membelinya, bukan juga melalui doorprize. Tapi dengan metode kredit yang diberikan oleh kantor selama 6 bulan, ihihi.
Jadi, di tempat saya terakhir bekerja itu ingin agar karyawannya merasa memiliki fasilitas kantor agar selalu menjaganya dengan baik. Maka dari itu alih-alih dipinjamkan fasilitas kantor (termasuk notebook), karyawannya ya diberikan dahulu lalu kemudian menggantinya melalui uang gaji. Jadi gajinya dipotong sesuai dengan kesepakatan kantor dan si karyawan tersebut. Berapa besar yang ingin dikurangi dari gaji dan berapa lama ingin melunasinya tergantung kesepakatan tadi. Kebetulan waktu itu saya memilih waktu 6 bulan karena gak mau ngutang lama-lama sisa gaji masih mencukupi hidup saya, terlebih karena saya sudah menikah XP.
Ada perasaan yang sangat tidak tergambarkan saat akhirnya gaji saya tidak dipotong lagi, seperti baru saja terbebas dari belenggu hitam *lebay*, hehe. Itu karena artinya notebook yang saya pakai telah lunas dan telah sepenuhnya menjadi milik saya, horeee! #lompatgirang
Tetapi notebook saya ini setelah dipakai selama 2,5 tahun ini kok ya lama-lama bikin saya capek juga yaa. Capek selain karena tampilan fisiknya berat, juga karena tidak tahan panas. Baru dinyalakan sebentar saja tanpa diberi kipas sudah langsung panas dan jadi lemot. Yap, rasanya saya butuh notebook baru yang lebih bisa memenuhi kebutuhan saya yang aktif. Dan iya, saya selalu ngiler kalau sudah membicarakan notebook Acer seri terbaru, yaitu Acer Aspire E1 Series.
Kenapa saya bisa sengiler ini? Kalau tentang merk Acer-nya sendiri sih karena melihat pengalaman suami yang memang punya netbook Acer dan masih awet sampai sekarang. Sudah sekitar 4 tahun umur netbook yang dimiliki suami dan masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan suami yang tidak ringan setiap harinya.
Nah, kalau untuk seri E1-nya sih karena itu merupakan seri notebook yang paling terbaru yang dikeluarkan oleh Acer. Dan seperti telah saya ceritakan di sini, Acer E1 Slim Series bisa membuat saya lebih produktif dengan mudahnya dibawa kemana saja. Dengan pekerjaan freelance yang bisa dikerjakan dari mana saja, saya bisa seenaknya berganti suasana, dan pergantian suasana tersebut bisa membuat otak saya refresh sehingga saya bisa lebih produktif dan semangat saya bisa ngeboost lagi dalam ngeblog bekerja.
Kalau di rumah, hiburan utama saya adalah tidur, selain bermain dengan anak tentunya. Jadilah berhubung saya orangnya juga cepat bosan, saya bisa lebih banyak tidur malahan daripada kerjanya #ups. Maka dari itu, dengan asiknya notebook yang bisa ditenteng kemana-mana, saya bisa sering-sering berganti suasana dan jadi tidak cepat bosan deh. *hehe, ngiler kan tuh*(¯﹃¯)
lebih tipis dan ringan lebih enak ditenteng
Terlebih lagi saya ingin bisa tampil lebih profesional. Hal-hal yang mendukung agar bisa tampil lebih profesional telah saya jelaskan pada tulisan saya sebelumnya di sini. Singkatnya, tampilan profesional tersebut bisa saya dapatkan dengan menampilkan first impression yang baik dan dengan menggunakan senjata yang elegan, yang bisa saya dapat dengan membawa Acer Aspire E1-432. First impression yang baik itu bisa saya dapatkan kalau penampilan saya bisa terjaga saat dari rumah hingga di tempat tujuan saat bertemu klien. Yang menambah lebih profesional lagi adalah dengan bisa langsung mencolokkan kabel proyektor ke notebook untuk proses presentasi yang lebih cepat. Mantap lah pokoknya si notebook tipis yang didukung performa Intel® Processor di dalamnya inih.
Selain membuat saya bisa lebih produktif dan lebih profesional lagi, saya bisa membuat keluarga lebih harmonis dengan bisa menonton film lebih tenang. Lebih tenang karena punya banyak pilihan film *psst, sudah sering saya sebut kan kalau Acer Aspire E1 Series, khususnya E1-432 dilengkapi harddisk SATA berukuran 500GB* dan lebih tenang kalau saya lupa mencolokkan charger baterai. Yap, kalau lupa mencolokkan charger baterai kita bisa lebih tenang karena baterainya bisa tahan sampai 6 jam (359 menit) untuk memutar konten multimedia (film HD). Terlebih notebook yang saya pakai sekarang itu sangat cepat panas, makanya harus selalu diberi kipas angin seperti di postingan yang ini.
kipas laptop saya
Untung notebook gk bisa masuk angin yak, kalau bisa isinya sudah angin semua kayak gini deh, :P.
*ceritanya* notebook masuk angin
Maka dari itu, saya kok ya merasa pantas untuk memiliki notebook baru sekelas Acer Slim Aspire E1, yang didukung oleh prosesor Intel®, mulai dari Intel® Celeron® dan Core™ i3, dan 30% lebih tipis ya. Tapi mau minta ke suami gak enak karena beliau sedang sibuk banget memikirkan tesis yang sedang dikerjakan, terlebih karena biaya S2nya tidak sedikit sehingga harus menyelesaikan S2 secepatnya, jadi saya tidak mau menambah kepusingan suami. Tapi sekarang saya juga sudah tidak bekerja lagi di kantor, jadi ya gak bisa kredit lagi deh, huhu.
Dasar ya emak-emak, demennya kredit. Karenaa kalau kredit kan setidaknya pengeluaran kita per bulan masih bisa dikontrol, kalau ujug-ujug mengeluarkan uang yang tidak sedikit bisa kacau deh siklus keuangan keluarga, hehehe. Iya sih, notebook Acer Aspire E1 Series tergolong murah untuk ukuran notebook yang bisa memenuhi kebutuhan saya untuk bisa tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya. Tapii dengan harga yang berkisar antara 4,7 sampai 7,6 jutaan (mengacu pada daftar harga notebook Acer E1 slim series di sini) untuk keluarga kecil kan lumayaan. Maka dari itu alangkah lebih baik enak kalau bisa mendapatkannya secara gratis, ehehe. #berdoasungguh-sungguhsambil*pastinya*ngilerr XP
Semoga saja tulisan ini bisa menghantarkan notebook Acer E1 slim series itu ke tangan saya sehingga keinginan saya memiliki notebook baru yang slim, praktis, canggih, dan bisa memenuhi segala kebutuhan saya bisa tercapai. Aamiin 😀
Note: ada yang engeh gak yaa kalau tulisan saya selau berjudul _ _ _ membuat _ _ _, hihihi. #pentingbanget 😛
Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia