Aku Istiana Sutanti, seorang ibu dari 3 orang perempuan yang hobi sekali mengajak anak-anak untuk traveling bersama.
Di blog ini aku sharing pengalaman traveling kami sekeluarga plus pelajaran parenting yang aku dapatkan, baik dari pengalaman pun dari seminar parenting.
Semoga kalian suka membaca pengalaman traveling kami dan semoga membantu untuk menentukan tujuan traveling kalian berikutnya! ;)
Siapa yang sudah mengenal Home Education dan melaksanakannya di rumah? Banyak ya? hehehe. Kebetulan di bawah ini adalah infografis mengenai sedikit pengenalan apa itu HE.
Oiya, sedikit cerita bagaimana akhirnya saya bisa memposting ini. Saat saya sedang ingin mendalami suatu hal itu rasanya emang semesta kaya bersatu padu nunjukin jalannya deh. Kebetulan saya memang sedang ingin mendalami parenting. Modal banget soalnya buat mengasuh anak. Sudah dari sejak Naia lahir sih sebetulnya saya mulai menyelami itu. Tapi awal tahun ini Alhamdulillah banget saya dapet info dan bisa bergabung di group WhatsApp mengenai pelajaran parenting itu. Khususnya sih mengenai Home Education (HE). Di grup tersebut ada waktu-waktu tertentu pengisi materi hadir untuk memberikan “kuliah” mengenai HE dan segala hal mengenai pengasuhan anak yang benar.
Sebetulnya untuk para anggotanya itu diharuskan meringkas materi yang sudah diberikan oleh pengisinya. Biar makin banyak orang tua yang membaca dan makin banyak orang tua yang makin pinter dalam mengasuh anak, hehehe. Nah, ceritanya sih di postingan ini saya itu ngerjain PRnya grup, hihi. Ini PR mengenai ringkasan materi pertama. Lagi-lagi saya bikin seperti ini supaya saya jadi gak males lagi buat mengulang materi ini plus jadi cepet ingat dan menempel di otak 😀
Buat yang mau tau juga, silakan disimak lho ya. Semoga bermanfaat 😉
Saya rasanya tuh sudah hafal dan nempel banget di kepala kalau Qwords adalah perusahaan hosting dan domain terpercaya. Yaa rasa percaya ke Qwords bisa dibilang udah kaya ke sahabat sendiri gitu deh, hihi. Emang kenal juga sih sama yang punya makanya bisa percaya banget kayak gitu, haha. Iya, saya dulu sempet dikenalin sama “bos”nya Qwords, Rendi Maulana. Dia itu teman suami saya, sesama enterpreneur dan sesama blogger gitu deh. Jadi ya percaya banget pakai layanannya.
Suami sih pernah ngerasain beberapa layanan hosting lain, tapi akhirnya setia sama Qwords karena beberapa alasan. Alasan pertama sih karena itu tadi ya, kenal personal dengan yang punya dan yang membesarkan Qwords. Alasan lainnya ya terkait layanan serta kualitas Qwords itu sendiri donk. Kira-kira beberapa poin ini yang jadi alasan lainnya. Oiya, suami saya pemilik anakUI.com btw. *numpangpromosi* *siapataukepo* xp
Hihi, pernah mengikuti seminar Ibu Elly Risman Musa, S. Psi. itu menurut saya suatu keberuntungan banget. Karena seminar itu, saya jadi belajar terus gimana cara komunikasi yang enak sama Naia. Ikutan seminarnya juga udah lama sih, tapi ada yang masih terus diingat di kepala ini. Yaitu mengenai kekeliruan-kekeliruan orangtua dalam berkomunikasi dengan anak.
Ringkasan seminar itu juga sudah saya posting di blog sebetulnya. Tepatnya di postingan yang ini. Tapi karena udah lama banget, jadi udah kelewat gitu aja deh postingannya. Nah, kemarin saya dapet lagi sharing dari grup WA. Materi yang sama yang didapat dari sumber yang sama namun dari seminar yang lebih baru. Setelah saya baca, isinya sama persis. Yasudah deh saya iseng membuat infografisnya. Ini saya buat sebetunya supaya saya bisa lebih mudah mengerti dan nempel banget di kepala. Saya lebih mau membaca dengan tampilan yang kayak begini soalnya, hehe. Semoga infografis ini bermanfaat yaaa.
Saya semangat banget deh tiap kali ada kesempatan untuk belajar, apalagi rame-rame kayak gini. Sebetulnya sih saya juga dateng di #ArisanIlmu perdana bulan November lalu, tapi kali ini saya juga pengen banget ikutan. Berhubung udah beberapa kali ketemu dan lumayan banyak ngobrol dengan mamanya Diana ini, jadi saya excited buat ikut serta. Awalnya sih agak kecewa karena ternyata namanya tidak tercantum sebagai peserta (padahal slot pesertanya lebih banyak yak, tapi ya yang mau ikutan juga lebih banyak lagi, haha). Tapi beberapa hari sebelum hari-H saya dihubungi langsung sama ketua arisannya, mak Widy Dharma kalau ada peserta yang tidak bisa hadir, dan saya yang berada di waiting list ini bisa menggantikannya. Alhamdulillah yah :3
Nah, kalau di Arisan Ilmu perdana tema yang diangkat adalah Branding Trough Social Media, kali ini temanya adalah Etika Job Review oleh mak Isnuansa Maharani. Walaupun saya telat setengah jam, tapi tetep donk saya nyatet di twitter lewat livetwit, hihi. E gak taunya livetwit ini dipantau lagi sama mbak Thia. Dan 3 orang yang livetwit mendapat kejutan dari IDBlognetwork. Saya salah satu yang dapet voucher deh 😀
Livetwit Berhadiah
Langsung aja ya, ini nih beberapa ilmu etika dalam mengerjakan job review yang kemarin berhasil saya ekstrak, muahaha.
1. Menerima job yang sesuai
Sesuai dengan apa? Dengan kesan blog yang kita buat selama ini. Misalnya saja, dari tulisan-tulisan sebelumnya, kita termasuk orang yang tidak merokok dan bahkan membenci mereka yang merokok. Tapi, begitu ada tawaran yang cukup menggiurkan dari perusahaan rokok besar langsung kita terima. Wah, langsung jatuh deh kesan yang kita timbulkan selama ini, malah bisa mengakibatkan pembaca jadi tidak percaya lagi dengan apa yang kita sampaikan lewat blog.
So, make sure ya kalau yang memberi kita job review adalah mereka yang memang sesuai dengan kesan yang kita buat selama ini ^^
2. Beri label atau kategori khusus
Kalau yang ini sih lebih etika untuk pembaca ya. Saya sedikit banyak sudah melakukan ini sih, terutama untuk tulisan yang diikutsertakan dalam lomba blog atau tulisan review suatu produk. Dengan begini, pembaca nantinya tidak akan terjebak dan tidak jadi berpikir “yaah, ujung2nya iklan deeh” karena sudah jelas dari awal kita beri label 😉
3. Tidak menulis untuk 2 brand berbeda namun berada pada bidang bisnis yang sama secara bersamaan
Tidak ada larangan untuk menerima job dari 2 brand yang berbeda namun berjalan di bisnis yang sama sih. Tapi hal itu bisa dilakukan asal tidak dikerjakan dalam waktu bersamaan ya. Alangkah kita tidak menghormati brand yang sudah membayar kita itu dengan menerima tawaran dari brand lain kan? Tapi biasanya sih ini memang diatur dalam surat kerja sama yaa.
Misalnya saja dengan menerima tawaran dari 2 merk pospak berbeda dalam bulan Januari ini. Menurut saya sendiri sih gak etis dan jadi gak menghormati si pemberi job review yaa 🙂
4. Tanya secara detail segala hal mengenai perjanjian sebelum menandatangani surat kerja sama
Nah, ini penting banget! Jangan sampai kita nantinya terjebak sendiri atau melanggar hal yang diatur dalam perjanjian karena kita tidak teliti membaca atau tidak mengetahui kalau ada peraturan mengenai hal yang kita langgar tersebut. Poin ini terhitung wajib sih menurut saya 😀
5. Buat laporan tertulis
Setelah kita menandatangani surat kerja sama, berikutnya kita ya mengerjakan kewajiban kita donk ya. Entah itu menulis 1 postingan saja, atau menghadiri event, atau keduanya. Setelah kita melakukan kewajiban tersebut, jangan lupa juga untuk memberi laporan tertulis kepada pemberi job agar terlihat seberapa besar pengaruh yang berhasil didapat dari memberi job review pada kita.
6. Menunggu bayaran
Setelah menyelesaikan semua kewajiban kita pada job review, pastinya kita berhak donk atas kompensasi yang telah disepakati. Nah, kompensasi ini biasanya berupa bayaran uang. Dan biasanya bayaran tersebut juga hampir tidak tepat waktu, alias suka molor #ups. Tapi, tetap ya kita harus bersabar dan menunggu saja, jangan terlalu banyak atau terlalu sering bertanya bayarannya akan dibayarkan kapan. InsyaAllah pasti dibayar kok kata mba Thia mah. Oiya, mbak Thia ini adalah karyawan IDBlognetwork yang biasa “mengincar” blogger-blogger untuk diberi job review loh, jadi deket2 deh sama beliau yah, hihi.
Tapi, biasanya kata mak Isnuansa, bayaran itu diterima 45 hari setelah kita menunaikan kewajiban kita, malah bisa jadi 2 sampai 4 bulan, jadi betul-betul harus sabar yaah.
Beruntung banget deh saya bisa ikutan 2x gini di Arisan Ilmu, heheh. Jadi bisa dapet ilmu tambahan dan jadi ada bahan tulisan buat blog deh. Dan di kedua arisan tersebut adalah kesempatan me-time buat saya, jadi keuntungannya berganda deh, hihi. Di sana saya juga akhirnya ketemuan langsung sama mak Myra Anastasia, yang blognya jadi inspirasi buat saya dalam mengasuh anak, hihi. Alhamdulillaah, jadi penutup tahun yang menyenangkan.
Buat saya ngeblog itu harus bermanfaat, harus memberi “sesuatu” kepada pembaca. Walaupun pembacanya mungkin kita sendiri dan orang-orang terdekat yah, wekekek.
Sebetulnya prinsip ini juga saya terapkan saat saya mendeklarasikan diri untuk bisa memberi manfaat lebih banyak lagi kemanapun dan siapapun. Dan sikap saya yang berniat untuk bisa memberi manfaat itu baru saja didapat di tahun 2009-2010. Sebelumnya kemana? Sebelumnya kayanya saya sibuk aja sama diri saya sendiri, ceritanya mah mau meningkatkan kualitas diri gitu. Padahal mah ya untuk meningkatkan kualitas diri, ya harus bisa memberi manfaat juga kan yah? hehehe.
Saat itu saya mulai berpikir ulang untuk mulai memberdayakan blog saya ini. Mulai mau menulis hal-hal positif dan bermanfaat. Ya bukan manfaat yang gede-gede banget juga sih. Prinsip saya mah mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang (iya, iya, ini prinsipnya AA Gym, gapapa donk yaa kalo ikut2an :D). Jadi ya mulai dari tulisan aja.
Pun saat saya hadir di suatu event blogger dan menuliskan reviewnya. Saya bener2 gak mau nulis “sekedar”nya saja. Saya mau apa yang saya dapat di event itu saya bagikan juga ke pembaca blog, kalau bisa malah saya tambahkan sedikit ilmu dari apa yang pernah saya baca atau saya lihat. Semoga itu termasuk ke menebar manfaat yah, hehe.
Makanya saya suka lamaaa banget saat menulis suatu postingan. Belum lagi kegalauan saat membuat intro suatu tulisan, bisa bikin 2-3 draft deh kalo kayak gini xp Bikin tulisan aja kok dibikin ribet yak. Saya gak mau salah menyampaikan soalnya, haha. Walaupun gak jarang juga akhirnya ada typo dimana-mana setelah publish. *getokpala*
Alhamdulillah sudah ada beberapa postingan yang memberi manfaat balik ke saya. Manfaat itu berupa rejeki tambahan, hihi. Yang kayak gini biasanya hasil mengikuti lomba blog atau event review. Yang paling berkesan sih tulisan saya yang menang juara 2 lomba blog BCA di tahun 2012 dan juara 2 lomba blog Mommychi yang saya tulis di awal tahun 2014 ini.
Semoga tahun-tahun berikutnya saya bisa lebih banyak lagi memberi manfaat, baik untuk diri sendiri, keluarga, juga lingkungan. Hal itu bisa didukung oleh saya yang harus lebih banyak belajar kan yah? Semoga kesempatan belajar bisa dan akan terus selalu ada setiap hari. Aamiin.
Kalau sebelumnya saya ke Taman Mini Indonesia Indah hanya berdua saja dengan Naia, kali ini saya mengajak sahabat saya (Gema) untuk *ceritanya* playdate di sana. Awalnya sih bingung, mau ke TMII atau ke musemum Nasional. Tapi, berhubung sahabat saya itu sedang menginap di rumah kakaknya yang kebetulan tidak begitu jauh dari TMII, jadilah kami memutuskan untuk ke sana saja 😀
Taman Mini Indonesia Indah ini emang sangat luaaas, makanya gak bakal cukup untuk mengunjungi semuanya dengan 1 hari kunjungan saja. Dari pengalaman 2 kali ke sana bareng Naia saja, sehari paling cuma bisa mengunjungi 3 sampai 5 tempat. Nah, TMII sendiri kan di dalamnya banyaak sekali tempat yang layak dikunjungi, heu. Di pengalaman pertama saja, saya hanya sempat naik kereta gantung, main layangan, berkunjung ke anjungan Jawa Tengah sebentar, lalu ke dunia air tawar dan museum serangga (karena dunia air tawar dan museum serangga tiketnya jadi satu, jadi sayang kalau hanya mengunjungi salah satunya saja, hehehe)
Oiya, berhubung Naia demen banget dengan pesawat, jadilah saya kepikiran untuk ke museum transportasi saja (biar gampang ngajaknya juga, ihihi). Alhamdulillah beneran gampang ngajak Naia padahal dia lagi asik main dengan anak tetangga, haha.
Kali ini saya tetep donk naik angkot. Dan berhubung hari kerja juga, jadi saya dan Gema cuma berdua dengan anak kita masing-masing deh, hihi. Saya dengan Naia, dia dengan Zalika. Kali ini saya masuk melewati pintu utama, ya walaupun harus jalan agak jauh sih dari turun angkot sampai pintu masuk (sampai alun-alun malah). Di alun-alun itu saya menemukan lagi banyak anak-anak TK yang sedang berkunjung. Mungkin ya memang TMII ini pengunjung setianya ya anak2 ini lah yaa, haha. Kalau gak ada mereka seriusan sepi banget deh ini Taman Mini.
Berhubung Naia setiap bulan beli susu yang kardusan, setelah susunya habis kita jadi punya limbah lumayan banyak kardus bekas deh. Saya sih membuangnya di plastik khusus barang2 yang bisa didaur ulang biar bisa langsung dikasih ke pemulung. Tapi, banyak kardus gitu kok ya bikin saya pengen bikin sesuatu yah dari kardus2 itu. Entah mainan Naia atau sesuatu yang berguna lah.
Akhirnya niat membuat sesuatu itu gak cuma niat tapi sedikit sedikit dilaksanakan, hihi. Sampai sekarang barang-barang ini lah yang berhasil saya bikin dari memanfaatkan kardus bekas tadi. Oiya, gak cuma kardus besar sih, karton bekas susu atau biskuit juga saya manfaatkan kalau sedang iseng, hehe 😀
Here goes the list:
1. Mainan Warna
6 Warna
Yang ini pernah saya ceritakan di sini sih. Saya pakai karton bekas bungkus pasta instan (baca: spageti La Fonte xp). Naia jadi bisa belajar mengenal lebih jauh tentang warna dari sini. Saat saya bikin inipun sebetulnya dia sudah lumayan mengenal warna sih, dia sudah hafal warna hitam dan merah. Tapi, berkat ini, dia jadi hafal semua warna yang saya bikin itu deh. Sekarang malah berlanjut ke warna-warna yang bukan warna primer seperti pink, ungu, dan coklat. Dia malah sekarang sudah bisa membedakan dan menyebutkan mana hijau tua mana hijau muda, hihi. Alhamdulillah ya nak, mainan kamu gak mahal 😛
Akhir-akhir ini saya mulai mengajarkan ke Naia kalau sedang main ingin beranjak ke permainan selanjutnya, dia harus merapikan mainannya saat ini terlebih dahulu. Bukan obsesi supaya rumah rapi ya, tapi ya biar dia belajar bertanggung jawab. Pun saat dia ingin membawa sesuatu saat saya pergi. Saya memberinya tanggung jawab penuh akan apa yang dibawanya itu.
Saat weekend kemarin misalnya, dia lagi seneng-senengnya banget tidur sama Soothe & Glow Seahorse™ (sekarang dinamakan kula oleh kami, hihi) yang didapet dari Fisher-Price waktu itu, jadilah saat ingin menginap di rumah eyang atau utinya dia selalu ingin membawanya. Yasudah, saya ijinkan asal dia ingat untuk membawa pulang kembali. Di rumah utinya si Kula jadi ketemu sama saudaranya deh, hahaha. Alhamdulillah sebelum pulang dia ingat sekali apa yang dibawanya saat itu. Dia mencari2 dimana si kula berada. Sebelumnya saat dia lagi seneng banget main puzzle juga gitu. Puzzle-nya dibawaa terus sampai kemanapun. Sampai sekarang juga masih sih. Kalau saya sedang ingin mengajaknya ke acara yang saya nikmati ya dia membawa puzzle-nya untuk dimainkan agar tidak bosan.
Waktu remaja pernah gak sih berselisih faham sama orang tua? Terus kalau sudah begitu, hubungan kalian gimana?
Saya sih Alhamdulillah gak pernah dulu, tapi lumayan sering ngeliat yang kayak gini, kakak saya kayanya pernah deh. Nah, keadaan begitu harusnya sih gak boleh lama-lama ya. Ya tau sendiri kan kalo sebel-sebelan sama orang itu jadi gimana? Hubungannya akan renggang. Gak heran kalau lihat banyak yang sudah dewasa pun agak gimana-gimana gitu sama orangtuanya. 🙁
Ternyata sebagai orang tua, kita jangan gengsi untuk menyapa duluan. Malah, kita bisa jadi contoh buat mereka kelak kalau bisa jadi orang yang mau memperbaiki hubungan serta gak segan untuk minta maaf kalau salah.
“Ma, atel ma”, kata Naia suatu petang.
“Gatel apanya?”
“Inii” *sambil nungging nunjuk daerah anus.
“Coba sini mama cek”
Setelah ngecek gak ada apa-apa. “Coba mama kasih bedak ya supaya gak gatel lagi”
“Yaa”
—Malam harinya—
“Atiiitt”, kata Naia sebelum beranjak tidur. Kali ini dia menunjuk2 bagian anus ke depan mendekati vagina dan terlihat sangat kesakitan.
“Coba sini buka celananya, mama cek”
Dan, jeng jeeeng… Begitu kagetnya saya saat mendapati ada 2 cacing kecil sedang berjalan menuju vagina. Salah satunya malah sudah berada di mulut vagina, itulah yang membuat Naia sangat kesakitan. Setelah browsing sebentar baru saya ketahui itu adalah cacing kremi, hiiy. Pantas saja saat petang hari dia merasa gatal di sekitar anus, mungkin saat itu cacing-cacingnya menetas dan siap melancarkan aksinya yang lain.
Saat itu saya betul-betul shock, panik, dan speachless mengetahui kenyataan kalau Naia cacingan! huaaa. Malu pada suami, malu pada diri sendiri, terlebih lagi malu pada Allah karena tidak bisa menjaga amanahNya ini. Seketika itu juga saya berpikir kenapa Naia bisa cacingan.
Kemarin saya dikagetkan dengan salah satu tulisan di mommiesdaily yang berjudul “Jangan Memuji Anak” dan ditulis oleh mbak Lita. Dibuat penasaran dengan judulnya yang cukup anti mainstream, dimana semua orangtua ramai-ramai justru ingin banyak-banyak memuji anak, saya akhirnya membacanya sampai akhir.
Setelah membaca dan paham akan alasannya, saya jadi teringat dengan artikel “Why I’ll never tell my son he’s smart” dan video TEDx yang pernah saya tonton mengenai growth vs fixed mindset. Video TEDx berdurasi 11 menit itu cukup membuka mata saya akan adanya perbedaan yang menonjol tentang seorang yang sukses dengan yang tidak. Perbedaan tersebut ada pada pikiran bawah sadar mereka. Orang-orang sukses kebanyakan cenderung memiliki growth mindset. Sebaliknya, orang-orang yang biasa saja sepintar apapun dia cenderung memiliki fixed mindset.
Untuk melatih kedisiplinan Naia saya lebih suka dengan kesepakatan, bukannya hukuman. Karena menurut saya sendiri sih, bersepakat itu komunikasi yang paling baik yang dilakukan oleh orangtua. Soalnya dengan kesepakatan, kita memikirkan perasaan anak serta menentukan dan membuat anak berusaha dengan keinginannya sendiri. Malah kalau anak sudah lebih jago lagi, dia deh yang mengajukan kesepakatan itu, hehehe.
Sudah cukup lama saya menerapkan ini ke Naia, sejak umur 1 tahunan lah *apa kurang ya, lupa*. Pokoknya, sebelum dia lancar berbicara dan berkomunikasi seperti sekarang, saya memperhatikan ekspresi mukanya saja. Kalau ia senang berarti ia setuju dengan kesepakatan yang saya ajukan. Tapi, kalau mukanya terlihat BT, ya kesepakatannya berarti tidak cukup bagus, saya harus merevisinya deh.
Seperti pelajaran kecewa yang pernah saya tulis juga, kesepakatan sebetulnya mengajarkan tentang kekecewaan, tentang tanggung jawab, dan usaha. Kekecewaan apabila “upah” akan usahanya tertunda atau terpaksa tidak diberikan karena tidak tuntas berusaha. Tanggung jawab saat ia bisa melakukan yang memang seharusnya dilakukan dan usaha saat ia betul-betul melakukan apa yang disepakati untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Sebetulnya, minggu ini saya sedang tidak enak badan dan ragu untuk bepergian kemanapun. Tapi, minggu lalu saya sudah mendaftar untuk mengikuti event blogger dalam acara grand opening 2nd store JYSK di Pluit Village tepat pada tangga 11.11. Tanggal cantik sayang kalau dilewatkan dan berdiam diri saja di rumah, hihi.
Akhirnya saya ikutan aja deh. Awalnya sempat ragu karena tempatnya begitu jauh di Pluit sana, naik apa saya ke sana apalagi bawa-bawa Naia, huhu. Tapi, JYSK berbaik hati menyediakan antar jemput di FX. Malah menyediakan makanan ringan untuk sarapan juga. Naia gak berhenti makan selama perjalanan ke sana, hihihi. Sudah begitu, di sana dijanjikan akan ada kids corner agar kami-kami yang membawa anak ini bisa semakin tenang mengajak anak. Tapi, berhubung saat sampai di sana acara belum dimulai, Naia bosan kalau hanya berdiam diri. Jadilah saya mengajaknya berjalan-jalan sedikit dan bertemu “badut” a.k.a maskot JYSK. Yap, Naia sangat senang dengan badut, tiap kali melihat badut ia pasti mau mendekati bahkan berfoto.
Foto Bersama Maskot JYSK dengan Raufa
Sebelum acara akhirnya dimulai Naia sudah bisa saja ajak duduk tenang. Dan, hal itu tidak disesali sih sepertinya sama dia, soalnya acara ini diawali dengan pertunjukan classical magic show. Naia sampai berdiri saking seriusnya ngeliatin itu pertunjukan sulap, hahaha.
Pernahkah mengalami anak malah marah atau mengamuk saat kita membantunya? Padahal sebelumnya dia yang mengajukan pertanyaan atau meminta perhatian kita dalam masalah yang dihadapinya.
Bisa jadi itu artinya dia cuma mau kita jadi “kamus”. Apa tuh maksudnya jadi kamus? Kita sendiri kalau sedang membutuhkan kamus, yg diharapkan apa? Kita jadi tahu dan jadi lebih mengerti sesuatu. Namun, kamus tidak bisa serta merta ikut campur dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Nah, persis deh itu yg diinginkan anak.
Baruu aja beberapa hari yang lalu saya mengalami ini. Naia (anak saya yang berumur 2,5 tahun) sudah hampir berputus asa dengan mainan mobil yang gk pas disusun di tempatnya (padahal kalo menyusun secara benar, mobil-mobil itu bisa masuk semua ke tempatnya). Nah, dia mencolek saya dan bertanya, ‘mana tempatnya?’ katanya. Dodolnya, saya sama sekali tidak berpikir kalau cuma dilibatkan sebagai kamus, jadi saya memberitahu solusinya sambil membukakan jalan untuk menyelesaikan masalahnya. Tapi Naia bukannya seneng malah ngamuk. Mobilnya jadi malah berantakan semua karena dikeluarkan lagi dari tempatnya 🙁
Saya diam saja menunggu dia tenang sendiri. Setelah tenang, tidak lama dia main lagi dan masalah yang sama kemudian muncul. Dia bertanya lagi pada saya.
Kali ini saya sadar kalau saya cuma dibutuhkan sebagai kamus, jadi ya saya hanya berkata “mobilnya gk muat karena ada 2 tempat kosong yg berjauhan, harusnya sebelahan supaya mobilnya muat”, sudah. Saya hanya memberitahu demikian tanpa ikut campur dalam penyelesaian masalahnya. Dia lalu mencoba lagi sambil mencari cara terbaik agar tempat yang tersedia bisa bersebelahan. Berhasil! Dan dia jadi seneng bangettt.
Sayanya lebih senang karena udah engeh harus gimana dan senang krn dia mau berusaha nyelesein masalahnya sendiri.
Begitu juga saat dia sedang bermain puzzle. Memang bukan puzzle yang sulit banget sih, tapi lumayan lah untuk anak seusianya, 2 tahun 6 bulan. Dia cuma mau saya jadi “kamus” lagi. Nanya ini gimana itu gimana cuma agar saya mengarahkannya saja, sisanya dia selesaikan sendiri. Lagi-lagi dia puas dan senang sekali saat berhasil menyelesaikan sekian banyak puzzle yang dia punya. Saya sendiri sampai heran dan kagum akan kegigihannya menyelesaikan ke-14 puzzle yang dia punya.
Dengan hanya menjadi “kamus” begini untuk anak, sedikit banyak kita telah mengajarkan kemandirian dan juga rasa percaya dirinya. Kemandirian menyelesaikan masalah tanpa bergantung pada orang lain dan rasa percaya diri karena sudah berhasil menyelesaikan masalahnya SENDIRIAN. ^^
Menjadi orangtua, (terlebih orangtua baru yaa, yang baru melahirkan gituu) itu gak enak tapi enak. Lhoo, kok kontradiksi sih, hahaha. Gak enaknya sih saat menghadapi anak yang rewel atau saat kita terjaga sepanjang malam demi anak, atau saat-saat membersihkan kotorannya yaa. Tapii enaknya lebih banyaaak. Salah satunya itu kita seakan-akan punya “mainan” baru. Malah, saat anaknya sudah bisa diajak bermain, kita jadi ikutan mainan deh ama mereka. Asik kaan? Udah segede gini masiih aja mainan dan terkadang melakukan hal konyol demi anak kita ketawa dan ceria lagi, hihi.
Ya habiis, dunia mereka kan memang dunia bermain yaa? Mereka bermain bukan sekedar main sih, tapi lebih dari itu. Mereka belajar dan mengembangkan keterampilannya serta mengasah kemampuan otaknya lewat bermain. Iya, anak-anak mengembangkan dan mengasah kemampuan otaknya tidak hanya saat mereka tidur, tapi juga saat mereka bermain. Karena, aktivitas paling penting dari anak itu adalah tidur, bermain, dan mengobrol. Jadi, pastikan deh anak kita maksimal dalam ketiga aktivitas tersebut.
Saya jadi gak heran kalau jaman sekarang makin banyak orangtua yang sanggup memberikan waktu berkualitasnya untuk bermain sama anak. Ya demi itu tadi, demi memaksimalkan perkembangan otaknya. Malah banyak juga yang bikin mainan sendiri untuk anaknya. Saya juga pernah sih beberapa kali bikin mainan sendiri dari barang bekas, ya sambil iseng juga gitu di rumah, hehehe. Alhamdulillahnya sih dimainkan sama Naia. Tapi namanya dari barang bekas, ya umurnya juga gak lama. Paling lama itu seminggu mainannya juga udah gak dimainkan lagi, hahaha.
Tapi banyak juga kok mainan yang beli. Kebanyakan sih bukan kita sendiri yang beliin, tapi hadiah dari yangti-utinya. Tau kan ya kalo nenek-nenek itu emang sayaaang banget sama cucunya, hihihi. Jadi ya gitu deh, jarang banget kita membeli mainan untuk Naia, keseringan buku, karena kami ingin merangsang Naia agar suka membaca juga. Nah, saat saya mudik ke Semarang bareng keluarga suami, ada sepupu yang membelikan anaknya story book rhymes -semacam buku tapi ada lagu-lagunya gitu deh-. Sejak itu saya kepincut banget, pengen beliin juga buat Naia. Dasar emang saya orangnya pelupa pake banget, ya ampe sekarang gak terlaksana deh niat itu, huhuhu.