Traveling

Asiknya Melihat Pelepasan Tukik di Pantai Pangumbahan

Huah, senang sekali akhirnya aku bisa mengajak anak-anak untuk melihat pelepasan tukik alias anak penyu.

Awalnya aku pikir kan pelepasan tukik ini ada semacam waktu-waktu tertentunya gitu ya. Tapi beberapa kali mengikuti sosial medianya, ternyata mereka ini melakukan pelepasan tukik hampir setiap hari.

Hampir setiap hari karena mungkin di hari-hari tertentu yang tidak bisa diperkirakan, ada kemungkinan gak ada pelepasan juga ya. Alhamdulillah saat kami ke sana selama 2 malam, mereka melakukan pelepasan tukik ini setiap harinya.

Berhubung lokasi pelepasan tukik ini juga tidak jauh dari tempat yang kami inapi, yaitu Pondok Hexa, jadinya aku senang sekali bisa 2x melihat proses pelepasan tukik.

Ya walaupun artinya harus menghadapi jalanan yang sungguh menantang karena banyak batuan dan lumayan “hancur” sih ya, huhu.

Lokasi Pelepasan Tukik

Lokasi pelepasan tukik ini ada di Pantai Pangumbahan yaa, tepatnya di kawasan Desa Konservasi dan Ekowisata Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi.

Nama resminya adalah Balai Penangkaran Penyu Ujung Genteng, pusat pelestarian satwa langka yang kini dikelola oleh Pemda di bawah naungan Kementerian Kelautan. Tempat ini juga masuk dalam kawasan Geopark Ciletuh.

Dari Pondok Hexa, jaraknya cuma beberapa km saja, jadi gampang dijangkau kalau kalian nginep di sekitar situ juga.

Di sekitar tempat Konservasi ini juga tersedia banyak penginapan sih, tapi kami memang sungguh senang penginapan yang kami pilih ya di Pondok Hexa itu. Kenapanya kalian bisa baca sendiri yaa di link di bawah ini, hehehe.

Tiket Masuk Melihat Pelepasan Tukik

Harga tiket masuknya terhitung murah euy. Untuk bisa melihat pelepasan tukik ini, kami hanya perlu membayar sejumlah uang yang terhitung murah lho. Harga tiket masuknya hanya Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak (malah yang terhitung anak-anak sampai usia SMP, jadi Naia pun cukup membayar Rp5.000).

Tapi memang ada biaya parkir, sekitar Rp10.000 lagi untuk mobil dan Rp5.000 untuk motor.

Terjangkau banget lah ya buat pengalaman edukatif kayak gini, apalagi buat yang bawa anak banyak kayak kami. 😀

Proses Pelepasan Tukiknya Gimana Sih?

Setiap harinya, ratusan tukik dilepaskan sekitar pukul 17.30 WIB, dengan tujuan agar suhu udara nggak terlalu panas buat si tukik.

Tukik-tukik ini dilepaskan langsung oleh petugas, dan pengunjung sama sekali nggak boleh menyentuhnya, biar nggak tercium bau manusia dan mereka bisa hidup dengan baik di alam bebas.

Di pantai ini, tukik dilepaskan tanpa dipegang oleh manusia, dan secara mandiri tukik akan berjalan sendiri mengarah ke laut. Momen inilah yang bikin anak-anak (dan juga aku tentunya) terpukau.

Yaitu meihat gerombolan tukik kecil yang jalan pelan-pelan menuju air, seolah mereka sudah tahu ke mana arah rumah mereka berada.

Dua Kali Kunjungan

Kami tuh gak sengaja sih bisa berkunjung dan melihat pelepasan tukik ini sebanyak 2x berturut-turut.

Awalnya sih karena tujuan utama kami ke Ujung Genteng salah satunya adalah untuk melihat pelepasan tukik ini, jadi kami segera ke pantai Pangumbahan di hari pertama kedatangan kami.

Nah, berhubung ternyata seru dan asik, jadi hari berikutnya kami memutuskan ke sini lagi deh. Sekalian melihat dari angle yang berbeda gitu, hehe. Ditambah sunset di pantai Pangumbahan ini juga menakjubkan. Jadilah gak ada salahnya juga kalau kami ke sini sebanyak 2x ya kan.

Hari Pertama Melihat Pelepasan Tukik

Hari pertama, kami datang sore setelah makan siang yang kesorean di Moana Resto. Kami kebagian tempat tepat di seberang pantai, jadi tukik-tukiknya dilepaskan persis di depan mata kami.

Ternyata petugasnya memang meletakkan tukik-tukik itu di depan barisan pengunjung, jadi yang kebagian area depan bisa lihat tukiknya dari dekat banget.

Dari situ, kami jadi bisa lihat sendiri perjuangan tukik-tukik ini buat sampai ke “rumah” mereka di lautan luas.

Hari itu, ada sekitar 80 tukik yang dilepaskan. Petugasnya sempat cerita, dari sejumlah tukik yang dilepas, kira-kira cuma 1%-nya saja yang berhasil hidup dan punya kemungkinan balik lagi ke pantai yang sama sekitar 25 tahun kemudian untuk bertelur.

Rasanya senang sekali dan dalam hati juga ikut menyemangati tukik-tukik itu karena merasakan perjuangannya menuju laut. Tapi begitu ingat kalau yang selamat hanya sekitar 1%nya saja kok ya sedih juga ya, huhu. Tapi ya begitulah alam bekerja ya, hiks

Hari Kedua Melihat Pelepasan Tukik

Hari kedua, kami datang lebih awal sekitar jam 16.30, dan kali ini pilih tempat duduk di bagian tepi. Beda posisi, beda juga sensasinya ternyata. Dari samping gini, rasanya lebih menegangkan, soalnya kelihatan mereka kayak lagi “balapan” menuju laut.

Padahal ya bukan perlombaan sih buat mereka, itu emang keharusan yang mesti dijalani. Jadi bukan berarti yang paling lama sampai laut itu “kalah” ya, semuanya sama-sama berjuang dengan caranya masing-masing.

Peraturan Penting yang Harus Diperhatikan: Jangan Berenang di Sini

Nah, ini yang penting banget buat kalian catat kalau mau ke Pantai Pangumbahan ya. Di sini nggak boleh berenang atau main dekat air laut ya. Ombaknya besar dan arusnya cukup berbahaya.

Jadi sejak memasuki kawasan konservasinya, sudah banyak sekali terlihat peraturan dilarang berenang ini. Bahkan di pantainya juga diletakkan bendera-bendera merah yang menandakan bahayanya bermain air dan berenang di tepi pantai.

Larangan ini bukan sekadar formalitas lho. Sekitar pertengahan Juni 2026 lalu, ada wisatawan yang tenggelam terseret arus di area sekitar sini karena diduga tidak mematuhi rambu larangan berenang yang sudah dipasang.

Jadi buat kalian yang mau ke sana bareng anak-anak, benar-benar patuhi aturan ini ya. Cukup nikmati pantainya dari darat aja, main pasir atau lihat ombak dari jarak aman.

Tips Buat Keluarga yang Mau Berkunjung

Kalau kalian ingin mengajak anak-anak juga untuk melihat pelepasan tukik ini, aku punya beberapa tipsnya nih.

  • Datang lebih awal (sekitar jam 16.00-16.30) kalau mau suasana yang nggak terlalu ramai dan bisa puas lihat-lihat area konservasinya dulu
  • Jangan lupa bawa topi atau sunscreen, soalnya menunggu waktu pelepasan biasanya di area terbuka ya, namanya juga di pantai
  • Ingatkan anak-anak untuk nggak menyentuh tukiknya ya, biar mereka tetap aman saat dilepas ke alam bebas
  • Jangan berenang atau main terlalu dekat dengan air, ombaknya cukup berbahaya
  • Siapkan uang tunai secukupnya untuk tiket masuk. Eh tapi mereka juga menerima QRIS sih, uang tunai lebih untuk membayar biaya parkirnya saja.

Info Praktis Pelepasan Tukik Pangumbahan

ItemKeterangan
LokasiPantai Pangumbahan, Desa Konservasi dan Ekowisata Pangumbahan, Kec. Ciracap, Kab. Sukabumi
Jam pelepasan tukikSekitar pukul 17.30 WIB (hampir setiap hari)
Tiket masukRp10.000/dewasa, Rp5.000/anak (sampai SMP)
Aturan pentingDilarang berenang/main dekat air laut, dilarang menyentuh tukik
Waktu terbaik datangSekitar jam 16.00-16.30 agar tidak terburu-buru dan area tidak terlalu ramai

Bukan Sekadar Menonton, tapi Belajar Tentang Alam

Menurutku, melihat pelepasan tukik ini nggak cuma soal seru-seruan melihat tukik jalan ke laut aja sih. Fakta bahwa cuma sekitar 1% dari mereka yang berhasil bertahan hidup itu jadi pengingat nyata soal seleksi alam juga kan.

Tentang bagaimana alam bekerja dengan caranya sendiri, dan nggak semua makhluk hidup punya kesempatan yang sama untuk bertahan. Anak-anak jadi belajar langsung dari situ, bukan cuma dari buku pelajaran.

Manfaat Penyu untuk Kehidupan

Aku juga jadi penasaran, sebenarnya sepenting apa sih penyu ini buat laut, sampai harus dijaga dan dikonservasi kayak gini. Ternyata perannya besar banget ya.

Salah satunya, penyu (terutama penyu belimbing) berperan mengontrol populasi ubur-ubur di laut, karena mereka memang doyan banget makan ubur-ubur.

Bahkan penyu belimbing bisa menghabiskan sampai hampir 200 kg ubur-ubur per hari, jumlah yang setara berat seekor singa Afrika!

Kalau populasi ubur-ubur nggak dikontrol begitu dan meledak jumlahnya, bisa-bisa menghambat pertumbuhan populasi ikan, karena ubur-ubur ini juga memangsa telur dan larva ikan.

Selain itu, penyu juga berperan menjaga kesehatan terumbu karang dan padang lamun, sekaligus membantu penyebaran nutrisi di sepanjang pantai.

Penyu hijau misalnya, sering “merumput” di padang lamun. Kebiasaan makan ini justru membantu regenerasi lamun itu sendiri, sekaligus menjaga habitat penting buat banyak biota laut lainnya.

Bahkan telur-telur yang nggak sempat menetas pun tetap bermanfaat, karena jadi sumber nutrisi tambahan yang membantu pertumbuhan vegetasi di sekitar area pantai tempat mereka bertelur.

Jadi, penyu ini bukan cuma “cantik dan menggemaskan” saat masih tukik saja, tapi memang berperan besar sebagai salah satu penjaga keseimbangan ekosistem laut.

Makanya, momen sederhana lihat tukik dilepas ke laut ini jadi terasa lebih bermakna dan bukan sekadar hiburan liburan, tapi juga pelajaran hidup soal alam yang bisa langsung kami rasakan dan lihat sendiri bareng anak-anak.

Kalau kalian ke Ujung Genteng, jangan sampai lewatkan momen ini ya pokoknya!

istianasutanti

Halo, salam kenal ya.

Aku Istiana Sutanti, seorang ibu dari 3 orang perempuan yang hobi sekali mengajak anak-anak untuk traveling bersama.

Di blog ini aku sharing pengalaman traveling kami sekeluarga plus pelajaran parenting yang aku dapatkan, baik dari pengalaman pun dari seminar parenting.

Semoga kalian suka membaca pengalaman traveling kami dan semoga membantu untuk menentukan tujuan traveling kalian berikutnya! ;)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.