Kuliner

Belum Lengkap ke Garut Kalau Belum ke Bumi Upi

Saat memutuskan ke Garut di liburan lalu, saya sudah menekankan satu tempat yang harus banget kami datangi, yaitu Bumi Upi.

Pasalnya, sewaktu aku mencari-cari tempat apa yang bisa kami datangi di Garut melalui sosmed, Bumi Upi ini selalu saja ada di salah satu list tempatnya. Penasaran donk, jadi aku mengusahakan banget supaya kami sekeluarga bisa makan di sini.

Bumi Upi

Alhamdulillah di hari terakhir sebelum pulang, kami akhirnya bisa mampir makan siang dulu di Bumi Upi. Hitung-hitung mengisi tenaga untuk menghadapi lalu lintas Garut-Jakarta lah ya, ihihi.

Lalu gimana kesan setelah akhirnya berkunjung langsung? Apa betul rasanya belum ke Garut kalau belum ke Bumi Upi? Aku ceritakan lebih lanjut yaa. Aku sendiri sih lumayan terkesan dan betul jadi memori yang tak terlupakan siih ke Bumi Upi ini.

Lokasi Bumi Upi

Lokasinya tidak jauh dari hotel yang kami tempati, hanya sekitar 11-15 menitan saja. Maka dari itu kami memutuskan untuk makan siang dulu di sini sebelum pulang dan setelah check out dari hotel.

Alamat lengkapnya di Jl. Cimanuk No.312, Pataruman, Kec. Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44150.

Begitu sampai sana, aku tuh cukup takjub dengan tempatnya sih. Lokasinya tuh di pinggir jalan raya kan, tapi tempatnya homey dan adem. Salah satu alasannya mungkin karena banyaknya tanaman yang menghias di sepanjang tempat Bumi Upi ini ya.

Suasana Bumi Upi

Bumi Upi

Desainnya yang nostalgic, rumah dengan gaya seperti di kampung dan dengan ornamen-ornamen yang klasik juga makin meningkatkan rasa nyaman para pengunjung.

Dengan melihat dan duduk di dalamnya, kita jadi serasa main ke rumah nenek yang punya rumah besar. Sehingga kita bisa membiarkan anak main di setiap sudutnya tanpa khawatir.

Desain yang nostalgic ini terlihat dari pemilihan perabotan dan tata letak bangku-bangkunya serta barang-barang klasik yang dijajarkan di rak-rak yang terpampang.

Aku sendiri menemukan banyak mainan masa kecil dan mengenali beberapa perabotan antik di sini dan merasa takjub karena semuanya terlihat bagus serta terawat.

Tempat makannya sendiri terdiri dari ruangan indoor dan juga outdoor serta semi outdoor. Di outdoor pun kita juga bisa memilih mau tempat lesehan (seperti saung) atau meja kursi biasa. Berhubung aku memang paling senang makan lesehan, jadi kami pilih untuk duduk di outdoor yang lesehan.

Walaupun outdoor dan cuaca memang cukup panas, tapi pilihan untuk duduk di ruang terbuka seperti ini lumayan adem deh. Hal itu karena memang banyak sekali tanaman yang menghiasi area outdoor ini.

Aku sendiri juga merasa senang sekali karena selain tempatnya homey, pandangannya juga menyegarkan mata, hati, dan pikiran.

Makan outdoor lesehan

Kebetulan lagi kami datang di waktu sebelum makan siang ya, jadi tempatnya belum terlalu ramai. Soalnya tidak berapa lama kami memesan makanan, Bumi Upi mulai terlihat padat dan semua meja kursi yang sebelumnya kami lihat kosong, mulai terisi penuh.

Ada rasa senang saat melihat tempat yang kami datangi tuh ramai. Hal itu kayak menjadi satu pertanda kalau tempatnya memanglah worht it dan makanannya enak.

Peraih Penghargaan MURI

Satu fakta menarik yang baru aku ketahui belakangan, rupanya Bumi Upi ini memang pemegang penghargaan rekor MURI untuk restoran yang memiliki tanaman gantung terbesar. Mereka bekerja sama dengan H2O Farm untuk meraih prestasi ini.

Pantas saja ya terlihat banyak sekali tanaman di dalamnya. Untuk tanaman gantung besarnya ini, sepertinya kami melewati saja, tapi berhubung saat itu fokusnya adalah untuk segera makan karena sudah lapar, aku gak begitu engeh ada tanaman ini di bagian paling depan.

Tapi ya itu sih, di bagian dalamnya ini yang baru aku perhatikan banyak sekali berbagai macam tanaman yang membuat tempatnya sungguh segar dilihat mata.

Playground Anak

Playground

Di bagian paling belakang tersedia playground juga untuk anak-anak lho. Jadi cocok banget juga untuk yang membawa keluarga dan anak kecil untuk makan di sini.

Selain jadinya mengembalikan perasaan nostalgia untuk para orangtuanya, membawa perasaan senang juga untuk anak-anak karena mereka bisa bebas bermain sambil menunggu makanan.

Harga Menu Bumi Upi

Saat kami melihat menu-nya makin ngangguk-ngangguk deh aku, makin ngerti gitu kenapa Bumi Upi bisa seramai dan seterkenal itu. Soalnya, harga-harganya tuh terhitung murah untuk tempat yang sebagus ini.

Menu Bumi Upi

Plus nama-nama kategori menunya pun lucu dan unik, jadi memang beda dari yang lain. Mulai dari Cemilan cepuluh yang merupakan hidangan ringan seperti pisang kukus, gorengan, cireng, sampai dimsum.

Ada juga spesial performance yang terdiri dari Nasi Mangkuk Sederhana (alias Rice Bowl), dan Nasi Siraman Rohani. Kategori lainnya ada Emih-emihan yang merupakan berbagai hidangan mie termasuk mie ayam dan mie goreng.

Ada lagi Sumber Protein yakni berbagai nasi ayam. Mulai dari Nasi Ayam Ajep-ajep alias Nasi Ayam Jejepangan (atau karaage) gitu sampai Nasi Ayam Omongan Tetangga yang isinya nasi ayam dengan topping minyak cabe pedas (sepedas omongan tetangga) ahaha.

Nah yang nama kategorinya paling menarik menurutku ada 2 kategori nih, yaitu Tuntutan Masyarakat dan juga Pemadam Kelaparan, ahaha.

Menu Bumi Upi

Tuntutan Masyarakat adalah menu-menu nasi campur yang lauknya lengkap, sudah mix gitu lah lauk dan ada sayurannya juga. Mungkin karena lengkap dan banyak ya, jadi dinamakan “Tuntutan Masyarakat” yang tuntutannya memang agak banyak sekaran #eh.

Untuk Pemadam Kelaparan, merupakan berbagai pilihan nasi goreng. Ada Nasi Goreng Upiwan dan Upiwati, ada juga Nasi Goreng Cumi Upi, dan 2 Nasi Goreng lainnya.

Makanan Rumahan yang Menggugah Selera

Kami semua memilih menu yang berbeda (kecuali anak-anak sih, mereka kompak mau makan mie ayam). Jadi aku memilh dari pilihan kategori Tuntutan Masyarakat yaitu Nasi Paru Serundeng.

Suami sendiri memilih dari Sumber Protein yaitu Nasi Ayam Sambal Bali. Anak-anak memilih dari Emih-emihan, ya mie ayam yang memang lagi mereka pengenin 😀

Setelah semua memutuskan apa yang mereka mau makan, aku lalu bergegas ke kasir. Soalnya sistem pemesanan di Bumi Upi ini memang kita pesan dan bayar langsung terlebih dulu ya ke kasir, baru pesanan akan diantarkan.

Kasir

Menariknya, di bagian area kasir ini terdapat etalase makanan yang cukup besar dan bisa dilihat langsung oleh pengunjungnya gitu. Hal ini malah membuat perut yang lapar makin keroncongan kayaknya sih, ahaha.

Tapi menarik banget karena pengunjung jadi bisa melihat sendiri makanan mereka sudah tersaji dan tinggal diantarkan, jadi tidak memerlukan waktu yang lama untuk menunggu makanannya disajikan.

Untuk Nasi Parunya, untung saja aku berpesan kalau nasinya setengah saja, soalnya porsinya lumayan banyak euy. Rasa parunya enak dan bumbunya meresap. Gurih dan sedikit manis, cocok banget dipadukan dengan lauk lainnya (terdapat telur dadar kriuk juga yang menambah kenikmatan).

Nasi Ayam Balinya pun memuaskan banget. Sambalnya pedas namun masih bisa ditoleransi, jadi bukan yang pedas kebangetan gitu ya dengan rasa khas sambal Matah Bali yang berminyak dan beraroma daun jeruk serta sereh yang menyegarkan.

Anak-anak sendiri tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan mie ayam mereka. Antara sudah lapar dan memang rasanya enak.

Beli Oleh-oleh Sedikit

Oiya, saat aku ke kasir dan memesan semua menu yang kami inginkan, ternyata di dekat kasir ini terdapat rak-rak yang menampilkan cemilan-cemilan dan barang-barang tahun 90an gitu lho.

Jadi sambil mengantri, pengunjung jadi sambil bisa memilih-milih siapa tahu mau membeli cemilan yang dipajang. Bahkan tersedia juga beberapa oleh-oleh Garut yang bisa dibeli.

Berhubung kami memang belum sempat mencari oleh-oleh, jadinya aku sekalian saja lah beli oleh-oleh di sini, hehe. Ada dodok Garut dan juga cokelat aneka rasa.

Plus aku juga gak lupa membeli balon tiup sedotan untuk anak-anak, hehe.

Sholat di Mushola yang Nyaman

Seusai makan, kami lanjut sholat sambil menurunkan makanan sebentar. Enaknya, musholanya tuh nyaman juga dan berada di dekat playground serta toilet.

Mushola Bumi Upi

Toiletnya juga lucu deh dekorasinya. Walaupun kecil, tapi cukup bersih. Memang sih letaknya agak di belakang dan dalam, ditambah dengan banyaknya tanaman, jadi serasa kamar mandi di kebun, ihihi.

Anw, musholanya juga cukup adem karena ya itu lagi-lagi kelilingi oleh tanaman yang menyegarkan. Tersedia mukena yang juga bersih, sehingga pengunjung yang lupa membawa mukena bisa menggunakannya tanpa khawatir ya. 🙂

Bermain dengan Kucing Bumi Upi

Sebetulnya seusai sholat, kami tuh mau langsung pulang kan ya. Tapi sedari tadi tuh kami salfok dengan studio foto yang terletak sebelum mushola. Aku semacam penasaran mau juga kami foto lengkap di sana, ahaha.

Plus suami mau membawa “bekal” minuman untuk menemani sepanjang perjalanan. Jadi deh aku pesan beebrapa minuman lagi untuk dinikmati sambil di jalan. Untuk suami, aku, dan juga anak-anak.

Nah, karena tempatnya sudah ramai, jadi pesanan kami pun agak lama datangnya, jadilah kami menunggu lagi (sekalian juga menunggu foto studio deh jadinya).

Tapi sambil menunggu minuman dan antrian foto studio, anak-anak malah menemukan 2 kucing yang lucu dan akhirnya bermain sebentar bersama mereka.

Kucing Bumi Upi

Ternyata kucing-kucing ini memanglah “langganan” yang sering ada di Bumi Upi. Aku sempat bertanya kepada yang menjaga studio fotonya, “Ini kucingnya emang dipelihara gitu mbak?”.

Katanya sih bukan yang khusus dipelihara gitu, tapi mereka memang setiap hari bermain di sana. Bahkan masih ada satu lagi yang lagi entah ke mana katanya.

Jadi ya mereka biarkan saja kucing-kucing itu bermain di Bumi Upi. Bahkan ya mereka beri nama dan juga makanan khusus kucing.

Tenang ya, walaupun ada kucing begini, mereka tuh gak mengganggu pengunjung yang makan sih. Setidaknya waktu kami makan ya kami sampai gak engeuh kalau ada kucing gitu.

Menyimpan Kenangan dalam Foto

Foto Studio Bumi Upi

Tibalah giliran kami untuk foto. Sistemnya seperti foto mini studio lainnya ya yang bayar dulu baru berfoto. Sebelum masuk ini, kami juga sempet mengobrol dengan yang menjaga foto box ini sehingga kami jadi lebih mudah mengikuti urutan berfotonya.

Pertama-tama bayar terlebih dulu pakai QRIS ya sekitar 35 ribu rupiah, baru lah kita memilih template dan bergaya untuk berfoto. Usai bergaya kami lalu menunggu hasil cetaknya sekitar 2-3 menitan, gak lama kok.

Nah, di bagian bawah hasil cetak fotonya, terdapat kode QR juga ya sebagai file digital yang bisa kita unduh. Oiya, di bagian dalam mini studio fotonya ini terdapat berbagai props yang bisa kita gunakan ya.

Fotobox di Bumi Upi

Sebagai remaja yang juga dulu tumbuh pada masa menjamurnya fotobox, aku suka sekali sekarang fotobox ini banyak lagi dan digandrungi para Gen Z sih. Walaupun memang bisa berfoto pakai HP, tapi tetap beda aja gitu rasanya kalau fotonya di mini studio (fotobox) seperti ini, hehehe.

Semacam ada kenangan yang bisa dibawa pulang gitu lah rasanya.

Anw, buat yang mau ke Garut, simpen dulu dan masukkan Bumi Upi ini ke dalam itinerary kalian yaa 😉

istianasutanti

Halo, salam kenal ya.

Aku Istiana Sutanti, seorang ibu dari 3 orang perempuan yang hobi sekali mengajak anak-anak untuk traveling bersama.

Di blog ini aku sharing pengalaman traveling kami sekeluarga plus pelajaran parenting yang aku dapatkan, baik dari pengalaman pun dari seminar parenting.

Semoga kalian suka membaca pengalaman traveling kami dan semoga membantu untuk menentukan tujuan traveling kalian berikutnya! ;)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.