Traveling

Bagaimana Rasanya Itikaf di Masjid Istiqlal Bersama Anak-anak Ya?

Sudah 2x nih kami mengajak anak-anak untuk ikutan itikaf di masjid Istiqlal saat akhir Ramadan. 2x ini bukan di tahun yang sama, melainkan 1x per Ramadan. Belum berani banyak-banyak karena belum tau kami kuat atau enggak kalau mengajak mereka sampai beberapa harian itikaf di sana, hehe.

Soalnya, niat kami yang pertama itu untuk mengenalkan mengenai pentingnya itikaf di masjid di akhir Ramadan. Selain itu juga untuk menancapkan core memory ke anak-anak yang semoga akan diingat sampai mereka dewasa kelak.

Kami juga meniatkan ini jadi kegiatan tahunan gitu, jadi tahun ini semoga kami bisa melakukan itikaf di masjid Istiqlal lagi bersama-sama.

Itikaf di Masjid Istiqlal

Buat yang juga meniatkan hal yang sama kayak kami, semoga sih postingan ini bisa membantu atau menjadi panduan kalian mengajak anaknya itikaf yaa, hehe.

Persiapan Itikaf

Sebelumnya, aku mau bahas sedikit tentang persiapan dulu nih. Karena kami bakalan menginap dan tidur di masjid, jadi aku mau anak-anak bisa mengatasi rasa bosannya.

Pasti mereka akan merasa bosan lah ya berdiam di masjid semalaman kayak gitu, jadi sebisa mungkin kami memberikan kenyamanan lah untuk mereka.

Nah, sebelumnya aku juga sudah menjelaskan ke anak-anak kalau kami mau menginap di masjid dengan beralaskan karpet masjid itu, jadi jangan ngebayangin bakal bisa tidur di kasur yang empuk.

Maka dari itu, mereka (aku juga sih mengusulkan) memilih selimut yang bisa menjadi tambahan tidur. Selimut ini bisa digunakan sebagai bantal, ataupun alas tidur tambahan.

Baca juga: Persiapan Road Trip Bersama Anak

Selain itu, tentu aku membawa baju-baju ganti juga. Takutnya bajunya kotor terkena makanan atau hal lain. Apalagi kalau anaknya masih balita ya, jadi hampir pasti membutuhkan baju ganti yang lebih banyak.

Kemudian, mereka juga membawa Al-Qur’an, buku bacaan, buku tulis (atau kertas), dan alat tulis. Supaya saat di area sholat, mereka bisa gambar-gambar atau membaca buku di sini.

Untuk Nara yang lebih mudah bosan, dia membawa mainan tambahan. Kemarin sih berupa gelembung sabun yaa, jadi bisa kami mainkan di teras masjid yang termasuk tempat terbuka gitu.

Nara main gelembung sabun di teras masjid

Ramainya Masjid Istiqlal di Malam Ganjil

Oiya, kami tuh sempet dodol banget. Di percobaan pertama, berani-beraninya kami datang setelah Isya. Soalnya waktu itu kami habis dari rumah orangtua dan kebetulan pulangnya setelah Isya dan tarawih, jadilah kami langsung menuju masjid Istiqlal, ya dengan niat mau itikaf itu sampai keesokan harinya.

Namun rupanya, beberapa km menjelang Istiqlal saja jalanan sudah muacet parah dan masjid Istiqlal pun ramai sekali, penuh sampai ke pelatarannya. Awalnya kami pikir itu karena malam ganjil saja. Rupanya, selain memang malam ganjil, saat itu sedang ada Aa Gym yang hadir sebagai imam selama proses itikaf.

Pantas saja sepenuh dan seramai itu. Akhirnya kami gak jadi deh itikaf di malam ganjil. Kesannya kami cuma mau nyaman, tapi kami lebih ingin menampilkan enaknya itikaf ke anak-anak. Jadi mau kesan pertama mereka itikaf itu ya nyaman, hehe.

Alhamdulillah keesokan harinya kami kembali lagi. Kami pikir malam genap sepertinya sudah gak terlalu ramai lah ya. Kali ini kami berangkat setelah sholat Dzuhur di rumah, jadi sampai masjid Istiqlal belum sore-sore banget.

Masuk Masjid Istiqlal Lewat Pintu Apa?

Nah, untuk yang bingung masuk masjid Istiqlal harus dari mana, kami waktu itu juga sempat bingung. Soalnya, walaupun masjid Istiqlal ini memiliki banyak pintu, tapi gak semuanya dibuka, sehingga pengunjung bisa masuk dari hanya beberapanya saja.

Apalagi untuk masuk kendaraan ya, kebetulan kami bawanya mobil. Jadi lebih sulit lagi.

Parkir mobil di masjid Istiqlal

Kalau pejalan kaki, bisa masuk melalui gerbang 3 (Al-Aziz), gerbang 5 (Al-Fattah), dan gerbang (As-Salam). Buat yang naik KRL, masjid Istiqlal ini sangat dekat dengan stasiun Juanda.

Bisa ditempuh dengan berjalan kaki sebetulnya, tapi kalau takut capek (berhubung lagi puasa ya bun), bisa tinggal pesan ojeg online ya, hehehe.

Nah, yang enak tuh pengunjung yang naik Busway, karena haltenya sudah persis di salah satu gerbang masjid. Aku lupa ini gerbang yang mana, tapi kalian tinggal turun di halte dan sudah langsung terlihat gerbangnya dan tinggal masuk melalui gerbang tersebut.

Halte TJ dekat Istiqlal

Gambar dari Wikipedia

Sementara bagi pengguna kendaraan seperti kami, kami waktu itu masuk melalui gerbang Al Aziz dan parkir di bagian luar. Berhubung acara yang ramai baru selesai, jadi kayanya hari itu lebih sepi dibanding biasanya, jadi kami masih bisa parkir di bagian luar.

Tahun berikutnya, kami gak kebagian parkir di bagian luar ini soalnya, jadi kami harus ke basement untuk memarkirkan kendaraan.

Walau begitu, lumayan mudah juga sih akses ke bagian sholatnya, jadi aman lah ya insyaAllah.

Susahkah Mencari Tempat Sholat Sekaligus Tidur?

Berhubung kali itu kami sampai sebelum Ashar, kami lalu bersiap untuk sholat Ashar sambil mencari posisi yang paling enak.

Soalnya kami akan berdiam di situ sampai semaleman, jadi ya maunya yang nyaman juga buat anak-anak yaa.

Maka, setelah mobil selesai kami parkir, kami langsung menuju bagian dalam masjid deh. Dalam menuju bagian dalam ini, kami melewati pelatarannya yang sudah ramai dengan para penjual makanan.

Penitipan Alas Kaki

Oiya, jangan lupa bawa kantong plastik atau tas biasa spunbound gitu untuk tempat sandal atau sepatu ya.

Soalnya, begitu mau memasuki dalam masjid, kami dipersilahkan untuk membuka alas kaki, baik itu sandal maupun sepatu. Nah, alas kaki ini bisa dimasukkan ke dalam kantong plastik lalu dititipkan kepada petugas yang berjaga.

Atau, bisa juga dibawa-bawa ya oleh kita lalu diletakkan berbarengan dengan barang-barang yang lain.

Kami tuh pilih yang kedua, jadi begitu mau masuk masjidnya, kami lalu mencopot alas kaki, memasukkannya ke kantong lalu dibawa dan diletakkan bersama barang yang kami bawa lainnya deh.

Barang dan alas kaki dibawa

Menurut kami lebih praktis begitu dibanding menitipkan ke petugas. Supaya lebih sat set aja kalau mau keluar dan masuk gitu. Misalnya mau beli camilan atau makanan berat di pelataran masjid, jadinya bisa langsung pakai sendal tanpa harus mencari lagi di tempat penitipan.

Wudhu dan Toilet

Kemudian kami lalu sadar, kalau mau ke area sholat tentunya harus wudhu terlebih dulu. Maka dari itu, kami cari tempat wudhu dan toilet terlebih dulu. Untuk laki-laki, menurut aku cukup mudah menemukannya, yang agak sulit dan agak jauh tuh bagian perempuan.

Mungkin tergantung kalian masuk dari mana juga sih ya. Kalau masuk ke dalam masjid dari pintu 1 seperti kami, iya, tempat wudhu dan toilet perempuan memang agak jauh ke belakang.

Jadi kami harus ke arah kanan terlebih dulu sebelum naik ke tangga untuk berwudhu. Nantinya kita akan melewati lorong yang cukup terang untuk kemudian di ujung jalan belok kanan lagi.

Dari sini sebetulnya tinggal mengikuti jalan saja berupa lorong gitu. Jadi walaupun agak jauh, jalannya gak terlalu susah sih.

Tapi memang agak PeEr yaa kalau mau pipis, ahaha. Karena harus naik turun untuk bolak balik ke tempat sholatnya. Maka, pastikan anak-anak sudah termasuk anak yang lulus toilet training. Sehingga sudah bisa mengendalikan saat mau pipis atau pup.

Atau ya pakai pampers namun rutin diganti pampersnya supaya gak bocor atau mengganggu nantinya. 🙂

Oiya, di sepanjang perjalanan menuju wudhu dan toilet ini tersedia kursi pijat dan vending machine. Kursi pijatnya ini bukan hanya 1 ya, tapi ada beberapa dan terletak di beberapa bagian juga. Jadi cenderung. gak menciptakan antrian yang panjang.

Malah cenderung kosong sih kayanya, ahaha. Soalnya ya bayar lagi menggunakan Qris, sekitar 10 ribu rupiah untuk 14 menit 😀

Sedari awal aku melihat kursi pijat ini rasanya kayak dipanggil-panggil untuk mencoba, ahaha. Akhirnya aku sempet nyobain kursi pijat kalau gak salah di waktu menunggu Subuh dan habis wudhu deh.

Anak-anak masih di tempat sholat sambil diawasi oleh suami, jadi bisa melipir dan me-time sebentar banget untuk pijat xp

Menentukan Lokasi Sholat

Nah begitu selesai wudhu dan mengosongkan kandung kemih kami, barulah kami menuju tempat sholat. Tempat sholatnya ini memang ada di lantai 1 ke atas ya, jadi memang mesti naik ke atas. Lantai dasar tuh full untuk tempat acara dan untuk tempat wudhu serta toilet.

Oiya, di toilet tersebut juga bisa untuk mandi lho. Jadi waktu kami itikaf, memang banyak juga yang menggunakan setiap bilik toiletnya untuk mandi.

Balik lagi ke mencari tempat. Berhubung datang sejak siang, kami jadi bisa mendapatkan posisi yang lumayan nyaman menurut aku.

Terhitung kosong untuk masjid Istiqlal

Kami memutuskan untuk menempati posisi di bagian utama masjidnya yang area sholat besar itu. Nah, di area utama ini space-nya terbagi menjadi dua ya, sisi kanan untuk laki-laki, sisi kiri untuk perempuan.

Kedua ruangan ini dipisahkan oleh pembatas yang merupakan juga jalan kecil. Jadi para jamaah selain bisa masuk melalui sisi kiri dan kanan, juga bisa masuk melalui bagian tengah pembatas ini. Memudahkan para jamaah yang mengambil lokasi di bagian tengah ini.

Aku dan anak-anak memilih di bagian tengah tersebut pada area perempuan tentunya. Simple karena dekat dengan bagian laki-laki, jadi suami tidak terlalu jauh dari kami dan masih mudah kalau mau berkomunikasi secara langsung.

Tapi ada kekurangannya juga sih. Berhubung dekat dengan jalur pengunjung, suami sempat terganggu saat tidur malam. Dia beberapa kali terbangun karena dilewati oleh pengunjung yang berlalulalang di jalur ini.

Padahal tidur malam juga gak terlalu lama, ahaha. Hanya dari jam 11 malam sampai jam 1 malam saja kira-kira kita bisa tidurnya.

Apakah Mendapat Jatah Berbuka dan Sahur?

Itikaf di masjid Istiqlal ini bisa ramai karena rupanya mereka memang menyediakan santapan berbuka dan sahur. Semuanya dikemas dalam bentuk nasi kotak gitu.

Kebetulan waktu buka puasa, aku dan suami belum tau mau mengambil jatah berbuka ini di mana, jadi kami beli takjil dulu saja di pasar yang ada di halaman masjid Istiqlal.

Sahur pun sepertinya kami juga sudah kelewatan untuk mengambil jatah ini, jadi kami beli lagi di bazaar makanannya.

Tahun berikutnya Itikaf, baru lah kami ternyata kebagian jatah untuk sahur. Jadi lumayan lah, kami cuma beli makanan untuk berbuka saja, hehehe.

Proses Itikaf di Masjid Istiqlal

Itikaf di masjid Istiqlal

Begitu menemukan tempat yang nyaman, yang enak dari itikaf di masjid Istiqlal ini adalah kita tinggal mengikuti acara yang sudah disusun.

Memang sih siap-siap waktu tidur yang kurang, tapi para jamaah biasanya membalas waktu tidur tersebut setelah sholat subuh.

Sepanjang waktu sholat, setelah sholat Dzuhur dan Ashar, biasanya para jamaah bisa membaca buku atau membaca Al-Qur’an.

Begitu Maghrib, jamaah diberi waktu untuk menikmati takjilnya masing-masing sebelum iqamat untuk sholat berjamaah.

Seusai sholat Isya dan Tarawih (oiya, Tarawih di masjid Istiqlal ini sebanyak 23 rakaat ya) biasanya akan ada kajian juga beserta “ujian” bagi para peserta pesantren kilat yang diadakan oleh masjid Istiqlal. Jadi seusai sholat Isya ini, kita akan mendengarkan peserta pesantren tersebut menyetorkan hafalan dan bacaan Al-Qur’annya satu per satu.

Menyaksikan pembacaan al quran dan pesantren kilat

Asiknya, kita juga bisa ikut belajar mengenai bacaan yang benar juga. Jadi selain mendengarkan saja dan beribadah, kita juga ikut menambah ilmu bacaan Al-Qur’an.

Nah, acara tersebut biasanya akan selesai di jam 23.00, jadi jamaah yang itikaf akan dipersilakan tidur untuk kemudian sekitar jam 01.00 dibangunkan kembali.

Sekitar jam 01.00 malam tersebut, jamaah dipersilakan untuk mengambil wudhu kembali lalu mendengarkan kajian, bahkan mengikuti sholat Tahajud berjamaah. Tahajudnya ini sekitar 23 rokaat juga seingat aku.

Nah ujiannya memang di sini. Berhubung bangun baru jam 1 malam, jadi aku pun di beberapa rakaat merasa mengantuk, hya. Tapi begitu mengantuk, aku istirahat dulu dan nge-skip beberapa rakaat jadinya, huhu.

Jadi, karena gak bisa mengikuti semua rakaat sampai 23 tersebut, aku jadinya mengambil yang 11 rakaat saja, namun tetap mengikuti jamaahnya. Begitu lah ya, senyamannya kita aja.

Oiya, anak-anak gak aku wajibkan mengikuti Tahajud, tapi aku wajibkan untuk Tarawih, hehe. Jadi kalau mereka bangun dan mau ikut Tahajud, ya boleh banget 😀

Terhitung puas lah untuk beribadah kalau itikaf di sini tuh.

Apakah Bisa Mandi kalau Itikaf di Masjid Istiqlal?

Untuk mandi, jamaah biasanya mengambil waktu-waktu sebelum subuh atau setelah subuh. Seperti yang aku bilang tadi, toiletnya bisa untuk mandi ya.

Tapi walaupun biliknya memang banyak, tetap ada waktu-waktu antriannya ramai juga. Seperti mendekati Maghrib dan beberapa menit sebelum Subuh.

Jadi memang sebaiknya kalau sudah wudhu, kita usahakan wudhunya tetap terjaga supaya gak bolak balik. Lumayan capek ya bolak balik naik turun gitu, huhu.

Tempat Beli Makanan

Kami sholat Maghrib setelah makan beberapa takjil yang cukup mengenyangkan. Seusai sholat, kami gak langsung makan berat, tapi menunggu sampai waktu sholat Isya terlebih dulu. Baru lah setelah sholat Isya, kami makan ke bawah.

Di bagian bawah, bagian pelataran masjidnya, tersedia beberapa lokasi makanan yang bisa kita pilih. Kami sendiri akhirnya memilih yang dekat dengan parkiran mobil.

Pilihan makanannya beragam banget sih, mulai dari bakso, sate, nasi goreng dan mie goreng, sampai makanan Western, bahkan makanan Korea gitu.

Makan di pelataran masjid Istiqlal

Anak-anak ada yang memilih spagheti, juga burger. Tapi berhubung meja yang tersedia juga hanya beberapa, jadi kami memilih meja yang tersisa saja di bagian ujung, ihihi.

Nah tahun berikutnya, kami gak makan di bagian ini, tapi beli saja untuk makan di teras masjid, hehe. Iyes, di bagian teras masjid masih diperbolehkan untuk membawa, bahkan makan bersama ya.

Jadi walaupun shaf sholat terpisah, ya kami tetap bisa makan bersama di bagian terasnya ini.

Ada Playgroundnya Juga Lho!

Kami itu memang berencana pulang di waktu pagi, jadi sebelum siang dan sebelum panas lah gitu. Berhubung kami mah bukan tim yang mandi di masjid ya, ahaha. Jadi biar bisa segera mandi, kami pulang sekitar jam 8 atau jam 9 deh.

Playground di masjid Istiqlal

Nah, saat menuju parkiran bagian basement, kami melewati sisi masjid bagian belakang yang terhubung dengan tempat wudhu laki-laki. Rupanya di bagian ini tersedia area playground untuk anak-anak!

Playgroundnya terhitung masih baru pula. Jadi untuk yang berniat itikaf sama anak-anak, kalau anaknya sudah mulai bosan, bisa juga ajak mereka main di sini ya, biar bisa segar dan bisa lebih anteng lagi selama di dalam masjid 😀

Mau Lagi di Tahun Ini

Bismillah sih, berhubung anak-anak sudah bisa diajak Itikaf di masjid Istiqlal begini, aku dan suami memang berniat setidaknya 1x dalam bulan Ramadan (kalau bisa beberapa hari, ya Alhamdulillah siih) mengajak mereka itikaf lagi.

Mungkin gak selalu di masjid Istiqlal, tapi bisa di masjid-masjid sekitar rumah atau lingkungan kami.

Semoga pengalmaan kami mengajak anak-anak itikaf di masjid Istiqlal ini bisa bermanfaat buat kalian yang juga mau merasakan itikaf di masjid bersama anak-anak yaa.

istianasutanti

Halo, salam kenal ya.

Aku Istiana Sutanti, seorang ibu dari 3 orang perempuan yang hobi sekali mengajak anak-anak untuk traveling bersama.

Di blog ini aku sharing pengalaman traveling kami sekeluarga plus pelajaran parenting yang aku dapatkan, baik dari pengalaman pun dari seminar parenting.

Semoga kalian suka membaca pengalaman traveling kami dan semoga membantu untuk menentukan tujuan traveling kalian berikutnya! ;)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.