Traveling

Menyusuri Jejak dan Budaya Melayu di Peranakan Museum Singapura

Sebetulnya aku pergi ke Peranakan Museum ini sudah beberapa bulan lalu, namun baru diceritakan sekarang karena selalu keduluan tulisan lainnya, ahaha.

Jadi aku ke Peranakan Museum ini sendirian, hehehe #infopentingsekaliya. Ke Singapura nya sih berdua suami yaa. Tapi berhubung suami ke sana mah untuk mengikuti acara Ahrefs seharian, ya daripada bengong aku jalan-jalan sendiri aja lah yaa, hehe.

Paginya sih aku sempat keliling Singapura dengan menyewa sepeda dari depan hotel. Setelah istirahat siang, aku lanjut deh menghampiri museum-museum yang ada di dekat hotel kami tinggal.

Kami menginap di V Hotel Bencoolen yaa btw, jadi gak terlalu jauh dari beberapa museum di sana, seperti Museum Nasional Singapur dan Peranakan Museum ini. Jadi aku ke sana dengan berjalan kaki saja, soalnya memang dekat, hanya sekitar 700-750m saja. Durasi perjalanan juga paling hanya 10 menit.

Jalan menuju peranakan museum
Perjalanan menuju Peranakan Museum

Terus, memangnya di Peranakan Museum ini ada apa saja sih yang menarik? Yuk aku ceritakan lebih lanjut.

Soalnya begitu keluar, ada kesan yang tidak bisa dilupakan, tentang kemiripan budaya dan juga tentang kesamaan latar belakang. Pikiranku jadi lebih terbuka dan memandang dengan lebih jernih tentang kesamaan budaya antar Indonesia, Malaysia, dan juga Singapura.

Lokasi Peranakan Museum

Lokasinya sudah aku spill dikit di atas yaa, ahaha. Dekat dengan V Hotel Bencoolen tempat aku menginap, jadi dia bisa diakses dari stasiun MRT Bencoolen.

Alamat lengkapnya ada di 39 Armenian Street, Singapore 179941. Selain dekat dengan stasiun MRT Bencoolen, Peranakan Museum ini juga tidak jauh dari Station City Hall, Bras Basah, mirip lah yaa dengan stasiun Bencoolen, hanya sekitar 10 menit jalan kaki.

Begitu sampai di sana, aku langsung suka sama suasananya. Bangunannya klasik, cantik, dan punya vibe “tenang tapi penuh cerita”.

Harga Tiket dan Jam Operasional Peranakan Museum

Saat masuk, aku tadinya mau langsung beli tiketnya on the spot, tapi sepertinya lebih murah di Klook, jadi aku beli pakai Klook deh, ahaha.

Nah, harga tiketnya dibedakan ya antara warga Singapura dan Wisatawan luar, sehingga kita bisa pilih untuk yang turis.

Warga Singapura & PR

  • Galeri permanen: Gratis
  • All-access (termasuk pameran spesial): SGD 6

Wisatawan / Non-residen

  • Anak-anak ≤ 6 tahun: Gratis
  • All-access: SGD 18
  • Galeri permanen: SGD 12, di Klook harganya sekitar Rp 150.000

Sebetulnya ada dua pilihan saat membeli di Klook, all access atau hanya galeri permanen saja. Berhubung harganya lumayan bedanya, jadi aku pilih yang galeri permanen saja, jadi nanti gak bisa masuk ke koleksi alias pameran spesialnya.

Waktu aku ke sana sedang ada pameran spesial yang berjudul “Batik Nyonyas” sebetulnya, tapi ya karena merasa tiket biasa aja udah lumayan, jadi ya ngerasa gak perlu masuk pameran spesialnya deh. 😀

Oiya, ini jam operasionalnya: ya

  • Setiap hari: 10.00 – 19.00
  • Hari Jumat: sampai 21.00 (akses galeri tutup 30 menit sebelum museum tutup)

Arsitektur yang Klasik nan Elegan

Gedung Peranakan Museum

Kalau melihat dari luar gedung Peranakan Museum, aku seperti melihat rumah bangsawan melayu zaman dahulu. Karena gedungnya menampilkan suasana klasik nan elegan.

Bangunannya sendiri dulunya sekolah Tao Nan, dan arsitekturnya tetap dipertahankan dengan sangat rapi. Hal ini bisa dilihat dari pilaster bergaya Korintus di fasad, lantai marmer, dan jendela-jendela besar yang menghadap ke dalam.

Di dalamnya, museum ini punya struktur tiga lantai yang disatukan oleh sebuah atrium tengah (ruang terbuka vertikal) dengan skylight di atas. Atrium ini memberikan kesan lapang sekaligus estetik klasik, dan membuat setiap lantai terasa saling “terhubung”.

Yang aku suka tuh cahaya alami bisa meresap dari atas ke bagian bawah, menciptakan suasana hangat dan elegan. Pada bagian tengah skylight ini mereka menggantungkan beberapa ornamen yang berbeda di setiap lantainya yang bisa menarik perhatian pengunjung juga.

Ornamen gantung di ruang terbuka vertikal
Ornamen gantung di ruang terbuka vertikal

Untuk desain interior, ternyata gaya arsitekturnya cukup hybrid. Ada percampuran elemen Tionghoa (seperti jendela dan pintu khas), Melayu, dan Eropa klasik.

Di galeri, dinding dan plafon dirancang agar tetap terasa “warm” dan intim, terutama di lantai dua (“Home”), yang memang dirancang seperti ruang rumah. Terdapat sofa klasik, mebel yang terawat, dan sudut-sudut “ruang tamu” yang memberi nuansa rumah Peranakan tempo dulu.

Secara keseluruhan, bagian dalam gedung museum ini bukan cuma ruang pamer sih, tapi sebuah arsitektur warisan yang dirancang untuk menyajikan koleksi dengan cara yang sangat “hidup”, menjembatani estetika kolonial, Tionghoa, dan lokal dalam satu ruang yang bermakna.

Challenge Booklet Membangkitkan Semangat Mengamati Koleksi

Setelah memasuki pintu depannya, kita akan disambut oleh resepsionis yang cukup ramah. Tapi ramah di sana jangan bandingin sama Indonesia yaa. Kalau di Indonesia tuh ramahnya melayani sambil senyum terus, kalau di sana sih enggak pakai senyum, hehe.

Oiya, kyanya 2 dari 4 orang resepsionis tersebut termasuk lansia deh. Di Singapura kita memang bisa melihat cukup banyak lansia yang masih aktif bekerja, terutama pada bagian pelayanan seperti ini.

Walaupun begitu, mereka tetap helpful banget lho. Aku diminta beli tiketnya terlebih dulu, baru discan setelah berhasil beli, kemudian mereka memberikan semacam booklet yang berisi tantangan gitu.

Booklet aktivitas
Bagian dalam booklet aktivitas

Bookletnya tuh semacam lembar aktivitas berisi pertanyaan-pertanyaan kecil juga perintah untuk menggambar beberapa hal sehingga mengarahkan kita buat mengamati koleksi dengan lebih teliti.

Menarik banget banget buat aku karena jadi bikin semangat untuk memperhatikan dan mengamati setiap detail museumnya dan rasanya kayak diajak main treasure hunt versi budaya, hehe. Jujur aja sih, kayak gini gini bikin pengalaman museum jadi lebih fun.

Banyak Layar Interaktif

Sebenarnya ya, waktu pertama mau masuk ke museum itu, aku gak terlalu paham apa sih arti “Peranakan” itu dengan detail. Aku cuma tahu istilahnya, tanpa tahu latar belakang budaya dan makna di baliknya.

Namun, begitu memasuki museumnya dan disambut oleh galeri foto yang banyak serta layar yang interaktif berisi penjelasan serta sejarah peranakan ini, aku jadi sedikit sedikit mulai paham.

Rupanya Peranakan itu adalah sebutan untuk kelompok etnis yang punya keturunan campuran. Jadi penduduk lokal Asia Tenggara yang berbaur dengan berbagai imigran yang datang kala itu. Bisa dari China, India, Arab, Eropa, dan lainnya.

3 Lantai dengan Cerita Berbeda di Tiap Sudut

Museum ini terdiri dari 3 lantai yang memiliki tema masing-masing sesuai dengan barang koleksinya.

Lantai 1 – Origins

Di lantai 1 temanya Origins, yang menjelaskan mengenai asal usul serta penyebaran dari Peranakan itu sendiri.

Di sini lah aku menemukan peta interaktif yang menunjukkan sebaran komunitas Peranakan di kawasan Asia Tenggara hingga sekarang. Ternyata komunitas Peranakan tidak hanya ada di Singapura dan Malaysia, tapi juga di Indonesia.

Contohnya, di Indonesia ada komunitas seperti Peranakan Cina Benteng (Benteng people) di wilayah Tangerang dan sekitarnya. Mereka adalah orang Tionghoa Campuran (“Peranakan”) yang telah berakar lama di sana.

Ada juga catatan sejarah dari keluarga Peranakan besar di Jawa: misalnya, Keluarga Han di Lasem (Jawa Tengah), yang merupakan cabang Peranakan Tionghoa. Mereka termasuk “Cabang Atas” pada masa kolonial dan punya peran penting dalam komunitas lokal.

Momen itu bikin aku merasa sebetulnya Indonesia, Malaysia, bahkan di beberapa negara Asia Tenggara lainnya tuh terbukti satu rumpun. Dilihat dari banyaknya kesamaan budaya serta corak bahan ataupun kebiasaan.

Hal kayak gini jadi bikin kita bisa menghargai budaya mereka dan menganggap mereka tuh saudara lho. Perasaan saudara dan saling terikat ini belum tentu bisa dimiliki kalau aku gak mengunjungi museum ini.

Lantai 2 – Cultures

Di lantai 2 ini aku singkat sebagai Cultures atau budaya karena berisi mengenai 2 hal yaitu “Ceramics & Food Culture” dan juga “Family & Community Life”. Kalau dari desain bangunannya, memang pas untuk terbagi menjadi 2 seperti ini karena desain ruangannya berada di dua sisi berbeda.

Sisi kiri (dari pintu masuk) merupakan ruang Ceramics and Food Culture yang berisi banyak banget pajangan porselen Peranakan yang warnanya cantik-cantik. Ada juga instalasi meja makan tradisional yang bikin kalian bisa membayangkan suasana makan keluarga Peranakan zaman dulu.

Kemudian di sisi kanannya terdapat koleksi mengenai Family & Community Life. Tempat adanya pajangan furnitur, mulai dari lemari kayu yang besar sampai kursi dengan ukiran cantik.

Bagian ini kok kayak membawa aku ke daerah Jawa gitu yang memang terkenal akan ukiran kayunya. Namun, ukirannya memang seperti khas China gitu. Jadi selain mengingatkan dengan daerah Jawa, juga mengingatkan aku kepada film-film China kolosal, ehehe.

Tapi aku suka sih bagian ini karena terasa hangat dan dekat, kayak lagi berkunjung ke rumah seseorang.

Lantai 3 – Style

Ini dia bagian yang menurutku paling memukau. Soalnya berisikan tentang dunia fashion, tekstil, batik, sepatu manik-manik, hingga perhiasan Peranakan yang gemerlap.

Kalian bisa lihat kebaya penuh detail serta berbagai macam desainnya yang cantik, bordiran manik-manik yang halus banget (yang kalau dipikir-pikir pasti bikinnya super sabar), sampai koleksi perhiasan yang bikin aku berhenti cukup lama.

Ngeliat ini jadi inget negara sendiri, karena di sini memang terkenal dengan batik dan kebaya-nya kan. Nah ini juga yang bikin aku makin terbuka kalau ya bener, negara-negara Asia Tenggara tuh satu rumpun, udah kayak satu saudara saja, jadi gak perlu memperebutkan apapun gitu (konteks: pernah memperebutkan kebaya atau rendang T_T).

Buat aku, makanan yang sama, jenis baju yang sama, bahkan corak batik yang memang mirip malah bikin kita merasa satu kesatuan dan merasa kita saudara dekat. Jadi harusnya budaya tersebut malah mempersatukan sih, bukan memisahkan 🙁

Aktivitas untuk Anak-anak

Jangan salah, tersedia juga booklet untuk anak-anak yang berjudul “Activity Trail for Children” dan berisikan aktivitas menarik untuk anak yang bisa membantu mereka memperhatikan isi museumnya juga.

Di beberapa koleksi terdapat tanda khusus yang artinya harus diperhatikan lebih detail oleh anak-anak.

Menarik banget dan aku jadi kepengen ngajak anak-anak kesini juga kan jadinya, ahaha. Supaya mereka juga jadi tau dan paham kenapa budaya yang terdapat di museum ini tuh bisa kita temui juga di negara kita sendiri.

terdapat logo anak-anak di sepatu

Anak-anak jadi belajar melalui hal yang menarik dan menyenangkan. Pihak museum seniat itu untuk menghadirkan pengalaman yang menyenangkan untuk pengunjungnya. 

Pengalaman yang Menenangkan dan Menyejukkan

Jujur ya, meski aku datang sendirian, rasanya nggak kesepian sama sekali. Justru aku bisa menikmati setiap sudutnya tanpa terburu-buru.

Aku bisa berhenti lebih lama di galeri yang aku suka, muter-muter layar interaktif, atau duduk sebentar sambil buka booklet tantangan yang bikin aku ngerasa kayak anak sekolah lagi.

Begitu keluar dan menyerahkan kembali si booklet ini, aku diberikan “oleh-oleh” berupa iron patch yang motifnya lucu. Incerannya sih baju kebaya ya, tapi aku dapetnya ikan, ihihi.

Iron patch yang aku dapatkan

Ada beberapa hal juga yang aku inget, salah satunya saat aku memperhatikan sepatu manik-manik dari dekat, mempelajari motifnya, dan membayangkan bagaimana budaya bisa hidup lewat sesuatu yang kita pakai sehari-hari. Bahkan mengagumi kesabaran para pengrajinnya.

Rasanya beneran menenangkan dan menyejukkan sih berkeliling di museum ini tuh. Selain tempatnya yang memang adem karena full AC ya, tapi semua penjelasan, tampilan yang memanjakan mata, juga koleksi-koleksinya yang juga menakjubkan bikin perasaan kita jadi hangat.

Kenapa Kalian Wajib Masukin Museum Ini ke Itinerary?

Buat aku, museum ini bukan tipe museum yang “lihat-lihat sebentar terus selesai”. Kalau kalian tipe yang suka hal detail, kalian bakal betah banget dan bisa berlama-lama di sini.

Juga jangan melihat dari harganya yang buat orang Indonesia ini cukup lumayan ya. Soalnya begitu masuk, kita justru bisa “memperkaya” diri kita dengan pandangan yang lebih luas dan piliran yang lebih terbuka mengenai kesamaan budaya yang ada di Asia Tenggara ini.

Dijamin sih keluar dari sini kita jadi bisa lebih menghargai kebudayaan negara tetangga.

Sumber:

https://www.nhb.gov.sg/peranakanmuseum

istianasutanti

Halo, salam kenal ya.

Aku Istiana Sutanti, seorang ibu dari 3 orang perempuan yang hobi sekali mengajak anak-anak untuk traveling bersama.

Di blog ini aku sharing pengalaman traveling kami sekeluarga plus pelajaran parenting yang aku dapatkan, baik dari pengalaman pun dari seminar parenting.

Semoga kalian suka membaca pengalaman traveling kami dan semoga membantu untuk menentukan tujuan traveling kalian berikutnya! ;)

You may also like...

3 Comments

  1. gemes banget ada mystery bagnya, gemasss 😀

    1. iyaa, gemas ada mistery bag-nyaa. overall seneng banget ke sini aku tuu

  2. Terima kasih, sangat informatif sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.