Bismillah, aku mau sharing 5 tips menghadapi anak rewel saat traveling nih. Pasti pernah donk mengalaminya? Hayo, yang pernah ngerasain anak rewel saat diajak jalan ngaku aja gak perlu malu-malu gituu, ahaha.
Anak rewel itu beragam bentuknya. Ada yang ngambek gak mau jalan lah, ada yang belum mau pulang lah, atau bahkan ada yang ngambek minta beli mainan, dan lain sebagainya. Aku tentu juga mengalami ini hampir di setiap waktu traveling kami, ihihi.
Tapii, bagaimana cara kita sebagai orangtua menghadapi kerewelan mereka itu yang menentukan kenyamanan liburan kita kaan.
Rewelnya Anak Adalah Tantangan Saat Traveling
Nah, dari awal tekankan dulu saja pada pikiran kita, kalau anak rewel saat traveling itu memang jadi salah satu tantangan saat kita memutuskan liburan bersama anak-anak.

Pahami saja dan yakinkan kalau mereka memang akan selalu punya kemungkinan untuk rewel, yang biasanya disebabkan oleh lelah, bosan, lapar, atau mengantuk.
Intinya, dari rumah tuh kita harus sudah bertekad kalau kita insyaAllah pasti bisa menghadapi anak yang rewel.
Karena kalau gak bertekad begini, akan susah deh. Kita mikirnya pasti akan kerepotan terus. Padahal, insyaAllah akan lebih banyak momen indah dan momen kebersamaannya dibanding kerepotan karena anak rewelnya kan kalau traveling bersama anak-anak? hehehe.
1. Mengakui Perasaannya
Hal pertama yang kita lakukan adalah mengakui perasaannya. Waktu rewel itu, dia bilang mau apa? Apakah capek? Atau bosan? Atau merengek ingin berenang misalnya?
Kita akui kalau dia memang lagi capek, atau dia lagi bosan, dan lain sebagainya.

Tapi yang sulit adalah, alasan utama anak merengek ini yang belum terlihat. Misal, padahal dia sudah mengantuk, tapi yang muncul malah dia rebutan mainan dengan kakaknya atau temannya. Ini yang divalidasi yang mana? Mengantuknya, atau rebutannya?
Kita validasi yang saat itu terjadi lebih dahulu. Kita akui kalau dia juga mau mainan yang sama dengan kakaknya. Maka, kita ajak dia untuk bersabar bergantian dengan kakaknya. Kalau gak mau (biasanya memang gak mau sih, wkwkwk), kita ajak untuk mainan yang lain atau kita tawarkan pelukan.
Baca juga: Trekking Sentul
Biasanya, anak akan langsung mau dipeluk dan jadi keluar deh “alasan sebenarnya”. Keluar deh perasaan dia kalau ternyata dia lapar, atau mengantuk ingin tidur. Jadi, biasanya sambil dipeluk sambil diajak juga untuk makan, atau tidur.
Kalau memang kebutuhan makan atau tidurnya tadi diperlukan, insyaAllah dia segera mau. Bisa tidur sambil digendong, atau makan yang banyak saking laparnya xp
2. Tetap Tenang Dan Tidak Tertular Emosinya

Nah, supaya kita bisa “melihat” kebutuhan atau alasan sebenarnya anak merengek, kita perlu melatih diri untuk tetap tenang dan tidak tertular emosi anak.
Aku akui, langkah paling sulit menenangkan anak itu ya di sini, di menenangkan diri sendiri. Gimana supaya kita tetap tenang saat anak rewel itu juga merupakan suatu tantangan berat, maka memang perlu dilatih terus menerus.
Karena dengan ketenangan, kita jadi bisa melihat “alasan” sebenarnya dibalik anak rewel tadi.
Sebagaimana kita bisa “tertular” emosi negatif dari anak, maka dengan teori yang sama, anak-anak juga insyaAllah bisa “tertular” ketenangan diri kita. Dengan tenang, kita jadi bisa mencontohkan ke anak untuk tetap bisa mengendalikan emosi dalam kondisi apapun:)
3. Penuhi Kebutuhannya
Setelah memvalidasi perasaannya dan mengetahui alasan sesungguhnya dari kerewelan anak selama traveling, maka selanjutnya ya memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan akan tidur, kebutuhan akan makanan, atau kebutuhan akan kegiatan yang berbeda.
Kalau ternyata dia mengantuk, maka kita ajak tidur.
Ah, sebetulnya sulit sih. Banyak anak yang tidak mau mengakui kalau dia mengantuk, mungkin karena tidak mau ketinggalan hal seru ya. Tapi, biasanya kalau kita sudah terbiasa memberitahu anak kalau ngantuk itu bobo, maka anak juga nantinya tidak segan untuk memberitahu kalau dia sebenarnya mengantuk.

4. Buat Kesepakatan
Setelah mengetahui apa yang mereka butuhkan atau inginkan dan setelah mereka juga tenang, kita bisa membuat kesepakatan.
Kesepakatan akan solusi masalah yang dipikirkan oleh anak. Misalnya saja, waktu mau ke The Ranch kemarin, Nawa sudah sangat antusias ingin naik kuda, tapi ternyata cuaca tidak mendukung dan hujan deras sekali sebelum kita check out dari Grand Diara.

Kami validasi kalau dia sedih karena berpotensi gagal naik kuda. Selanjutnya setelah dia tenang, kami berikan solusi kalau tetap hujan, kita bisa naik kuda di tempat lain. Tapi kalau hujannya reda dan cuaca jadi cerah kembali, kita tetap pergi ke The Ranch.
Nah, ternyata dibalik “antusiasme” dia naik kuda ini adalah dia lapar dan butuh makan. Maka, kami ajak makan dulu sembari menunggu hujan reda. Ternyata betul, setelah selesai makan, hujan mereda dan kami jadi bisa ke The Ranch sehingga akhirnya dia tetap bisa naik kuda di hari itu 🙂
5. Sabar!
Nah ini dia, yang dirasa paling sulit mungkin ini ya, haha. Seperti yang aku bilang, ketenangan membuahkan kesabaran, atau sebaliknya.
Dan tau gak? Kesabaran itu bisa dilatih!
Jadi, kalau sekarang kalian merasa belum sesabar itu saat menghadapi anak yang rewel saat traveling, maka perlu latihan lagi dan lagi. Malah, saat traveling gini memang saatnya latihan sebelum kita menghadapi anak-anak di rumah sih.

Kesabaran yang terlatih saat liburan, akan terpancar juga dalam keseharian.
Kenapa aku bilang saat traveling justru saat yang cocok untuk latihan? Karena, biasanya kalau liburan, anak itu rewel ya di hadapan banyak orang kan, bukan di rumah saja. Biasanya sih, sebagai orangtua akan lebih segan kaan untuk mengomel atau kelepasan emosi saat banyak orang begitu?
Plus, kita sebagai orangtua memang sebaiknya terus mencari ilmu dan belajar lagi dan lagi ketika mulai “kewalahan” dengan anak sih. Karena terkadang:
Kita itu bukan kurang sabar, tapi bisa jadi, kita kurang ilmu 😀
Contoh Respon yang Bisa Dilakukan
Misalnya, saat kita lagi di pantai lalu anak merengek karena masih belum mau diajak pulang dan karena masih asik bermain. Kita bisa “memvalidasi” perasaannya terlebih dulu lalu katakan dengan tenang:
"Oh, kamu masih mau main ya? Asik banget ya main di pantai sini bersama teman yang lain?"
Selanjutnya, kita bisa buat kesepakatan sambil tetap memenuhi kebutuhannya. Anak masih ingin main, berarti dia mungkin ya masih butuh main itu. Maka, kita bisa tawarkan hal ini kepada mereka:
"Kita sudah mau pulang karena hari sudah sore, kamu boleh bermain pasir 10 menit lagi ya. Setelah 10 menit, kita akan pulang. Oke?"
Kalau tidak terbiasa pakai metode seperti ini tentu anak belum langsung mau ya. Tapi, karena kami membiasakan sejak kecil, maka anak-anak aku juga sudah terbiasa dan jadi bersiap kalau sebentar lagi mainannya akan selesai.
Iyah, mirip-mirip briefing sih, intinya sama-sama bertujuan “menyiapkan” anak untuk berganti aktivitas.
Pengalaman Menghadapi Anak Rewel
Kalau tadi baru contoh, sekarang cerita pengalaman kami sendiri nih saat menghadapi anak rewel waktu traveling.
Capek jalan di Sudirman
Sudirman Jakarta lho yaa inii, hehe. Waktu kami staycation di Aryaduta Semanggi, kami memang merencanakan untuk naik MRT lalu berjalan sampai bundaran HI untuk sekedar foto-foto sebentar.

Sayangnya, Nawa sudah terlalu antusias naik MRT. Berhubung ternyata naik MRTnya cuma sebentar, lebih lama jalan, dia jadi merengek dan rewel, selalu bilang kalau dia capek.
Jadilah kami bilang “Kalau capek, kita bisa istirahat dulu, nanti dilanjutkan kalau Nawa sudah siap”.
Beruntungnya, di sepanjang jalan Sudirman memang tersedia tempat duduk di trotoarnya ya jadi memang sudah seramah itu bagi para pejalan kaki. Jadilah kami bisa istirahat sesekali di kursi tersebut.
Hal lain yang kami lakukan adalah menggendongnya jadi dia tidak perlu berjalan. Selain itu, kami juga membolehkan dia naik di stroller yang harusnya untuk Nara.
Baca juga: Kafe Kucing Cali Coffice BSD
Berhubung Nara malah semangat untuk jalan kaki saja, jadi strollernya kosong dan bisa dipakai oleh kakaknya deh.
Anaknya (Nawa) masih tetap bermuka masam sih, tapi kami semua sudah berusaha memenuhi kebutuhannya dan memvalidasi rasa capeknya, jadi yasudah kami tetap tenang dan foto-foto sesuai tujuan utama (walau tanpa Nawa), hehehe.

Kita hanya bisa meyakinkan kalau kita akan selalu ada dan selalu bisa menerima perasaannya. Masalah anaknya masih punya perasaan tersebut lalu bermuka masam sepanjang jalan, ya sudah, perasaannya masih ada dan memang tidak mudah “kembali” dari perasaan tidak enak.
Jadi, memang sabar-sabarin saja deh melihat anak yang sedang memiliki perasaan tidak enak saat traveling gini 🙂
Belum Mau Pulang saat di Bali Zoo
Kali ini si anak pertama yang lumayan bete, karena dia menanti-nanti untuk bisa menonton pertunjukan burung saat kami ke Bali Zoo.
Jadi, saat memasuki Bali Zoo, kami memang mengambil peta Bali Zoo serta jadwal pertunjukan yang ada. Nah, Naia kepincut sama pertunjukan burung, tapi baru akan diadakan pada jam 3 sore. Aku bilang, “oke kalau kita nanti sempat, kita nonton yaa.”

Rupanya, setelah berkeliling Bali Zoo (kami sampai Bali Zoo sejak jam 10 kayanya) dan mengikuti aktivitas yang tadi telah kami beli tiketnya, kami semua kelelahan (kecuali Naia).
Rasa lelah yang kami alami sebetulnya “sisa” dari hiking Gunung Batur 2 hari sebelumnya sih. Sudah lah di Gunung Batur beraktivitas fisik dan menggunakan kaki, lalu di Bali Zoo juga lelah harus berjalan kaki lagi keliling tempatnya (karena lahannya gede ya cuy! ahaha), jadi rasanya kami sudah tidak punya cukup kekuatan untuk balik arah dan menonton pertunjukan burung itu.
Baca juga: 13 Hari Road Trip Ke Bali, Mulai Dari Bali Utara Hingga ke Nusa Dua
Walhasil ya membuat Naia tidak puas dan merengek deh untuk tetap bisa menontonnya. Aku tenangkan dan aku beri pengertian kalau yang lain capek, jadi meminta maaf kepada Naia hari itu tidak bisa memenuhi keinginannya untuk menonton pertunjukan burung.
Dia pulang dengan wajah yang ditekuk sih, tapi perlahan-lahan bisa kembali lagi karena begitu sampai penginapan, dia bisa berenang sepuasnya. Alhamdulillah.

Bisa Diaplikasikan di Kehidupan Sehari-hari
Nah, yang aku suka dari traveling adalah… Traveling itu seperti “miniatur” dari kehidupan kita sehari-hari.
Traveling bisa mengajarkan kita akan kesabaran, mengajarkan untuk kepasrahan, dan juga latihan supaya kita bisa menghadapi hal serupa dalam keseharian kita.
Sabar menghadapi anak rewel, juga pasrah kalau saat jalan-jalan dan saat menikmati waktu liburan, tiba-tiba anak merengek dan bete sehingga sulit mengembalikan moodnya. Itu semua bisa jadi latihan agar kita juga bisa menghadapi kerewelan mereka sehari-hari 😀
Travel is not reward for working, it’s education for living

Ini susaaah loh. Ga semua ortu bisa mengatasi saat anak rewel ketika traveling. Aku ngalamin pas bawa Fylly traveling ke Sibolga, naik pesawat, di usia 8 bulan. OMG, itu cobaan 🤣🤣🤣🤣. Yg parahnya suami ke sibolganya naik mobil, Krn mau bawa mobil papa waktu itu. JD yg naik pesawat cuma aku, fylly, mama, trus adik kedua dan anaknya .
Ternyata maskapai dari singa terbang cari gara2. Delay sampe Berjam jam 😂😂. Fylly dah bosan, mulai cranky. Aku nya yg panik, tp untung msh ada mama. Giliran udah naik ke pesawat, ternyata si maskapai odong2 ini double seat. Jadi nomor seat ku dipake orang lain. Terpaksa aku pindah ke seat lain yg jauh dari mama. Fylly kan masih dipangku. Mereog lah dia selama 30 menit perjalanan 🤣🤣. Akunya yg spaneng Krn kuatir juga orang sebelah terganggu mba.
Sejak itu sih, aku ga mau traveling dengan anak, tanpa bawa babysitter , atau at least hrs ada suami. Krn dia pawangnya anak2. Makanya aku ga pernah traveling dengan anak tanpa suami atau babysitter. Ga sanggub. Mungkin sbnrnya lebih Krn aku tuh ga mau punya anak dari dulu.
Cuma akhirnya punya, hanya Krn ngalah ke suami. Demi dia jadinya. Itu yg bikin aku sampe skr susah untuk handle anak2. Cuma aku tertolong Krn ada babysitter dan suami yg amat sangat support. Tanpa 2 orang ini, ntahlah, mungkin aku ga akan tertarik bawa anak jalan2 saat mereka kecil dulu. Kalo skr beda cerita, udah gede, udah bisa aku jadikan temen 😄. JD mau jalan Ama mereka juga udah asyik aja
Walaah, bener mbak, kalau gak sama pasangan sih aku juga belum tentu bisa, ahaha. Apalagi sama anak tiga, kalau lagi bilangin ke 1 anak, yang lain bisa nimpalin dan malah bikin anak yang bete jadi tambah bete, ahahahaha. Jadi kalau traveling ke manapun, aku menghindari banget pergi sendirian sama anak-anak saat mereka masih kecil.
Bener, begitu anak udah gedean kayak sekarang sih insyaAllah udah bisa ya sendiri juga, anaknya udah minim cranky yang tantrum gitu kan soalnya, udah bisa dijadikan temen kalau jalan-jalan, hehehe.
Memang bener Mbak Isti. Anak yang rewel saat traveling itu memusingkan jadi harus diatasi agar liburan happy lagi. Bisa jadi karena perubahan cuaca (panas) dia jadi gak nyaman dan akhirnya ngambek/nangis.
Validasi emosi anak penting ya dan dia jadi senang karena ortu paham akan perasaannya. Bukannya dibentak dan disuruh diam karena merusak suasana liburan
Mengenai kesepakatan biasanya daku sudah sounding jauh di awal (bisa 1-2 bulan sebelum traveling). Jadi anak tiap hari diajarin ..kalau jalan-jalan harus jaga manner, gak boleh terlalu jauh larinya, dll.
Yang nomor 1 kerap terjadi sama ponakan daku itu. Si abangnya lagi main sendiri, eh yang si adik pengennya abangnya main sama dia padahal dianya udah ngantuk. Ya abangnya nolak lah, karena lagi asik sendiri. Si adik tetep aja rewel. Jadilah dipisahin si abangnya main di luar sambil ngadem, yang adik main yang lain di dalam kamar dan gak berapa lama bobo dah hahah. Sesuatu banget ya memang, dan orang dewasa ini perlu banget untuk memerhatikan detail seperti itu
Bener banget, nggak cuma orang tua aja yang deg-degannya pas traveling sama anak, kadang anaknya juga bisa jadi tantangan sendiri 😅
Tips-tips kayak persiapan barang favorit mereka, jadwal tidur yang tetap walau di jalan, dan jeda buat main atau istirahat menurutku paling ngebantu.
Semoga makin banyak orang tua yang pakai trik-trik ini supaya traveling bareng anak malah jadi momen yang asyik, bukan stres.
kemampuan untuk tetap tenang itu memang paling menantang, ya bagi orang tua hehehe kudu leeeebaaar sabarnyaaaa. Kayaknya butuh meditasi kilat tiap kali si kecil mulai “drama” minta jajan atau nggak mau pulang. Tapi bener banget, begitu kita tenang, kita bisa lebih jernih lihat: oh, ternyata dia cuma laper/ngantuk.
Nice sharing! Kesabaran itu emang perlu dilatih, apalagi pas liburan. Anggap aja upgrade skill jadi orangtua super, hihi. Semoga liburan berikutnya lancar jaya tanpa drama
Saya sudah mengalaminya saat ke Bali
Itu masih anak satu
Ya Allah bener bener kesabaran seluas samudera diperlukan di situ
Anakku kebetulan lelah, makannya garingan karena sulit dapat makan yang aman dan yang dia mau, akhirnya tidak bisa pup. Sakit dong dia. Rewel. Digendong salah, diajak duduk salah. Diajak jalan sambil gendong juga emoh.
Saat itu kekuatanku cuma doa. “Ya Allah anakku gak bisa pup dan kereta masih 2 jam lagi tiba, aku mohon pup kan dengan media yang saya dapatkan susah payah di apotik ini. Tolong ya Allah beri keajaiban dan biarkan anakku tertidur setelah pup.”
Aku berdoa sudah setengah nangis dan mengantuk karena waktu itu malam.
Allah tidak pernah tinggalkan hambaNya dan doaku terkabul seketika dan anakku langsung pulas tidurnya
Pelajaran akhirnya kuterapkan ke anak kedua dan anak ketiga ketika bepergian
Sebisa mungkin air minum distok lebih banyak daripada makanan
Harapannya pipis atau pup tetap lancar tanpa drama rewel berkepanjangan
Zaman anak2 masih kecil yang selalu rewel tu si bontot hahaha. Makanya kalau jalan sama dia akhirnya sebelum berangkat dari berminggu2 sebelumnya udah kubriefing no rewel2 club, kalau rewel konsekuensinya apa kudu tahu.
Tapi tetep kudu dikasi tahu misal nanti di perjalanan akan ada apa aja, kira2 yang bakal sedikit bikin gak nyaman apa, kek cuaca panas, mungkin hujan, nyari toilet susah dll.
Yes, kesepakatan penting di awal. Trus pas udah bisa bicara/ ngomomg lancar aku bilang gak ada nangis, semua kudu ngomong, kalau ada yang gak suka, gak setuju, bikin gak nyaman wajib ngomong =))
naaah, itu dia kunci paling utamanya mbaa ada di poin sabaaar,,,,,,katanya pendek bilangnya mudah tapi aplikasinya membutuhkan latihan panjaang. Menangani anak rewel apalagi tantrum memang PR banget buat para orang tua. Saya yang sudah melewati masa-masa itu seringkali teringat akan wejangan ibu. Ibu saya selalu bilang saat saya curhat tentang capenya mengurus anak apalagi saat rewel2 di perjalanan, ibu bilang nikmati dan sabaar karena masa-masa itu hanya sebentar. Kamu pasti nanti akan kangen dengan masa-masa itu. Palingan juga 5 tahun atau paling lama juga sampai SD, nanti kalau sudah SMP, SMA gak bakal ada lagi saat-saat spesial itu. Dan nasihat ibu saya terbukti sekarang saya malah suka kangen masa-masa menghebohkan itu.
Mengajak anak jalan-jalan atau traveling, Memnag tidak hanya menyiapkan segala keperluannya. Tapi mempersiapkan apa saja yang akan dialami bersama anak selama di jalan. Dan ini perlu pemahaman dan kesabaran Lebel dewa. Dan saya membayangkan Mbak Isti pergi dengan 3 krucil. Tapi sudah biasa, Alhamdulillah sudah bisa mengatasi, ya.
Yang biasa saya amati anak rewel kalau sudah lelah dan mengantuk. Sudah malas ngapa-ngapain. Jadi bawaannya menangis. Dibujuk malah semakin kencang nangisnya, sehingga mengundang perhatian orang sekitar.
Iya, traveling memang melelahkan ya jadi kadang anak-anak kecapean dan rewel rapi bisa kita bujuk dan tanya keinginannya apa ya.. mungkin lapar atau ngantuk…
Menghadapi anak rewel saat travelling ini emang PR banget, nggak cuma yang balita, anak saya yang sudah SD pun kadang juga rewel, antara capek, lapar, atau nggak sabar ke tujuan yang dia pengen. Kalau yang masih balita biasanya karena capek, lapar, ngantuk atau nggak nyaman dengan tempat baru dan banyak orang.
Emang sabar adalah kunci demi menjaga mood jalan-jalan tetap terkontrol.
Semuanyaa syuliittt mbak. Inget dulu bawa bocilku jalan ke vietnam pas umur 2 tahun. Luar biasa harus sabar dan banyak pasrah. Wkwkkw…😂
Karena ya, dari sana kita tuh jadi belajar legowo juga dalam kehidupan di mana nggak semua hal akan tercapai sesuai ekapektasi.
Yang terpenting: dari pada mengikuti ego, ada baiknya kita sesekali mengikuti arus, memastikan semua anggota perjalanan nyaman dan aman. 🥰🥰
“dari pada mengikuti ego, ada baiknya kita sesekali mengikuti arus, memastikan semua anggota perjalanan nyaman dan aman. 🥰🥰” setujuuu banget mbak. Makanya kalau anak-anak masih mau main atau mau aktivitas apa lagi gitu, yaudah kita stay dulu aja, toh kita juga bisa dapet waktu santai jadinya, ihihi. Tapi teteup dibatasi supaya gak kemaleman atau kelamaan, yang ada anak-anak tuh kadang gak engeh kalau mereka udah capek. Jadi sebisa mungkin kita tetap ngasih batasan waktu supaya bisa memenuhi kebutuhan mereka juga untuk makan dan istirahat. 😀
Sangat insightful sekali. Setidaknya aku jadi punya gambaran detail semisal nanti memang di karuniai anak atau ngajak keponakan Travelling, ternyata ada banyak tantangan yang mesti dihadapi dengan luasnya kesabaran dan hati tenang nan lapang.
Pastinya menantang sekali ketika Travelling ekh anak bad mood, nangis, marah, kesal, dkk. Langkah pertama bener nih sesuai emang mesti validasi perasaan anak dulu. Kebayang kalau kebawa emosi atau mood jelek, yang ada momen Travelling jadi ancur. Seneng sekali bacanya, banyak study case secara nyata.
Meski aku belum punya anak tapi aku sudah bisa membayangkan betapa tidak mudah membawa anak traveling apalagi kalau mereka rewel. Hm, salut nih sama para orang tua di luar sana. Setuju banget sama kalimat “Kita itu bukan kurang sabar, tapi bisa jadi kita itu kurang ilmu!” Banyak ortu terjebak emosi yang padahal kalau direnungkan lagi ya kitalah yang kurang tau ilmunya, he
Aku suka tipsnya, terutama soal mengakui perasaan anaknya dulu dan tetap santai supaya kita nggak tertular emosi mereka. Semoga lebih banyak orangtua yang baca ini supaya liburan keluarga bisa tetap bahagia walau anak rewel, he
Sangat bisa dimaklumi ketika anak-anak rewel ketika traveling itu kenapa memang butuh tips and trik supaya lebih tenang dan menikmati perjalanan karena anak-anak memang belum terbiasa untuk travelling dan masih banyak kebutuhannya yang harus dipenuhi salah satunya adalah kebutuhan dasar seperti makan, tidur, keadaan yang nyaman selama perjalanan
Iyayaa.. karena ada haditsnya juga tuuh..
Umar bin Al-Khatthab radhiallahu ‘anhu jika ada seseorang yang merekomendasikan temannya, beliau bertanya, ‘Apakah engkau pernah melakukan safar bersamanya? Apakah engkau telah bergaul dengannya?’ jika jawabannya iya. maka ‘Umar pun menerimanya. Jika jawabannya belum pernah, maka ‘Umar akan mengatakan, ‘Engkau belum mengetahui hakikat senyatanya tentang orang itu.’
Karena memang bepergian (safar) bersama bakal keliatan sifat asli seseorang.
Begitu pula urusan uang, bakal keliatan juga sifat asli seseorang.
Tapi memang yaah.. kalau di tempat umum mah bisa kittuu jadi Ibu Nikita Willy.
Supeerr sabar and calm.
Tapii.. sring juga tetep aga emosi kalau anak aga lama dibujuknya.
Huhuhu.. memang lika-liku pengasuhan ituu adalah ibadah dalam menanamkan adab dan karakter anak yaa…
Bener banget sih, anak rewel saat traveling itu bukan tanda liburannya gagal, tapi justru bagian dari proses belajar bareng. Emang siiih aku belum ngalamin punya anak, tapi aku sering trip sama ponakanku yang masih 4 tahun, apalagi tripnya sambil kerja (seringnya staycation review) dan aku harus bikin dia nyaman dulu selama lagi ‘kerja’. Soalnya dia kadang nggak sabaran pengen buru-buru ngacak-ngacak roomnya huhu.
Traveling sama anak tuh memang another level. Harus fleksibel dengan itinerary kalau anak nggak mood. Bisa tiba dan kembali dengan selamat aja udah syukur. Makin challenging lagi kalau anaknya belum bisa ngomong alias masih toddler, atau dia belum bisa menggambarkan perasaannya. Jadi kita perlu menebak-nebak apa yang bikin dia rewel sambil ngomong sama diri sendiri, “Sabaar, sabaar.”
Nah, soal menenangkan diri sendiri, ini akan makin challenging kalau kitanya sendiri CAPEK, LAPAR, ATAU NGANTUK, ATAU KOMBO KETIGANYA HAHAHAHA. Terutama saya sih, bapak-bapak lemah yang sering mengalah dengan perut atau mulut wkwkwk.
Ahaha iyaa, emang harus fleksibel, makanya itinerary emang mending gak terlalu padat sih 😀
Yes, tantangan banget tuh kalau kitanya sendiri udah capek dan laper, jadi sama-sama rungsing, anak rungsing kita juga rungsing, wkwkwk. Kadang-kadang kami udah diem dulu aja sebentar atau cari makan atau ngemil (cari cemilan emang paling works sih, ahaha).