Hamil dan Menyusui

Tarif Melahirkan

Baca yang terbaru: Tarif Melahirkan 2016

Total Biaya Melahirkan
Total Biaya Melahirkan

Sebelum melahirkan, mungkin 3 atau 4 bulan sebelum melahirkan, saya sempat galau akan pilihan rumah sakit tempat saya nantinya melahirkan. Sempat periksa ke rumah sakit Harapan Bunda ~di pasar rebo~, ke rumah sakit Bunda Margonda, dan pilihan akhirnya jatuh pada rumah sakit JMC.

Sewaktu saya mendengar saudara sepupu melahirkan di rumah sakit JMC ~awal masa kehamilan~, saya pikir “wah, mahal tuh pasti biayanya” soalnya saya lihat dari penampakan luar rumah sakitnya terkesan mewah. Maka dari itu dari awal periksa kehamilan, saya ~dan suami sih~ gak berani periksa di situ 😛

Continue reading “Tarif Melahirkan”
Pribadi

Menikah Harus Siap Mental

Sebenernya banyak sih yang harus dipersiapkan sebelum menikah, siap fisik pastinya, siap hati harus, siap finansial apalagi. Tapi di sini saya mau ngomongin tentang persiapan mental menghadapi kehidupan setelah pernikahan. Karena di situlah yang paling penting -> kehidupan setelah pernikahan.

Gimana gak jadi yang paling penting, kehidupan setelah pernikahan kan akan dijalani insyaAllah seumur hidup. Maka dari itu, mentalnya bener2 harus siap sesiap-siapnya karena pernikahan benar2 menjadi perubahan terbesar dalam hidup.

Kalo dari pengalaman saya sih (pengalaman saya baru sedikit yak, maklum, baru juga 1 tahun menikah :P), yang bener2 perlu diperhatikan dan berhubungan dengan kesiapan mental itu ada beberapa. Saya list aja deh 😀

1. Sampaikan harapan sebelum menikah.

Yap, penting nih. Harapan-harapan kita terhadap pasangan harus disampaikan kepada yang bersangkutan sebelum menikah. Biar sang pasangan bisa sedikitnya berusaha untuk memenuhi harapan tersebut. Atau, kalaupun si pasangan sudah memenuhi harapan2 itu, bisa jadi semakin yakin kalau ia memang pasangan yang tepat ~PD banget yak~

2. Buang jauh harapan yang tinggi-tinggi.

Kenapa? Karena biar hati kita tenang dan jadi gak kecewa kalau pasangan ternyata jauh dari harapan.

Kalau misalkan ia bisa memenuhi harapan kita sih Alhamdulillah bangeet, tapi kalau enggak kan kita bakal kecewa berat, betul?

Contoh nih, misalkan kita berharap suami kita ~karena saya perempuan, jadi saya nyontohinnya ya harapan perempuan, hehe~ bakal rajiin banget ngurusin rumah dan gak segan-segan buat bantu2 istri. Nah, kalau misalkan ternyata setelah tinggal serumah dan ketauan aslinya kalau si suami itu malesss banget dan gak mau sama sekali buat bantuin istri kan jadinya kita ngedumel mulu tiap hari karena capek semua-muanya dikerjain sendiri 😛

Tapi harapan2 terhadap pasangan itu jangan dilupain juga ya. Bisa diusahakan sedikit demi sedikit kok untuk menjadikan pasangan kita sesuai harapan.

Tapi satu lagi, jangan dipaksain juga, let it go with the flow aja, hehe. Buatlah ia berubah dengan kebaikan dan kesungguhan kita ~jyaah~ 😉

3. Siap berusaha mewujudkan harapan pasangan.

Yap, selain kita tadi menyampaikan harapan-harapan kita, dia juga harus menyampaikan harapan-harapannya biar kita bisa bersiap dan berusaha untuk mewujudkan harapan itu demi kelangsungan pernikahan *jyah, bahasanyaa*

Dengan kita bersungguh hati ~lagi2 bahasanyaaa~ berusaha mewujudkan harapan pasangan, bukan gak mungkin kan dia pun jadi berusaha mewujudkan harapan kita, hehe.

Intinya dimulai dari diri sendiri. Susaaah banget ngubah orang tanpa diawali dari kita 😉

4. Bersiap untuk hidup berdua saja

Kita harus siap kalau nantinya harus hidup bener-bener terpisah dengan kedua orang tua. Kaya saya dan suami sih. Walaupun masih deket sama ortu suami, intinya kita tinggal terpisah.

Yang tadinya ~mungkin~ enak di rumah yang lega bin nyaman, sekarang harus membiasakan diri hidup dengan suami di rumah yang sempit.

Kalau udah mampu beli rumah yang lega dan nyaman sih enak, tinggal membiasakan diri hidup berduanya 😛

Nah, tapi yang jadi permasalahan itu ngurus rumahnya nih, hihi. Tadinya bisa kerja bakti seisi rumah, sekarang kerja bakti berdua saja 😛 ~kalau punya pembantu sih ya bertiga, hehe~

Kalau akhirnya bukan tinggal terpisah dari ortu, katakanlah di ortu kita atau mertua, kita tetap harus membiasakan diri.

Kalau tinggal di rumah ortu kita, ya berarti kita harus membiasakan diri ada tambahan orang di rumah. Selain itu, harus pinter2 meng-klop-kan ~bahasanya apa ya yang pass~ pasangan dengan ortu kita dan saudara2 kita yang tinggal serumah.

Kalau di rumah mertua, ya kita harus berusaha biar klop dengan mertua dan saudara2 ipar yang tinggal serumah.

5. Bersiap untuk kebiasaan baru pasangan

Sebenernya bukan kebiasaan baru, tapi kebiasaan yang baru kita tau setelah menikah. Kita mungkin akan terkaget2 banget dengan kebiasaan yang belum kita tau itu, jadi bener2 harus siap dengan segala kemungkinan 😛

Yang ini emang abstrak banget, karena kita bener2 gak bisa ngira2 kebiasaan apa yang bakal muncul dari pasangan.

Bukan hal yang gak mungkin juga kalau kebiasaannya itu kebiasaan yang bertolak belakang banget dengan kebiasaan kita.

Contohnya, saya dan suami 😛

Saya tidur dengan lampu menyala, suami tidur dengan lampu yang harus mati. Saya gak bisa tidur kalau sunyi senyap, suami gak bisa tidur kalau ada suara2. ~ini sih cuma kebiasaan kecil~ hehe

6. Jadi orang yang lebih komunikatif

Setidaknya sama pasangan ya.

Kenapa? Karena yang saya dapet dari pengalaman-pengalaman rumah tangga yang pernikahannya langgeng2 itu dan dari pengalaman-pengalaman ortu kita, komunikasi itu hal yang paling pentiing banget..

Karena, dalam berumah tangga, kepala kita bukan cuma satu. Kita gak bisa ngurus rumah tangga sendirian. Harus berdua, dan segala sesuatu harus disampaikan, komunikasii.

Jadi, kalau kita orang yang malu-malu untuk menyampaikan sesuatu. Atau selalu memendam sesuatu, segeralah berubah..!!

Latihan aja sama sahabat terdekat atau saudara (kakak / adik) kita untuk selalu cerita, biar terbiasa menyampaikan apapun yang kita alami atau kita pikirkan.

Saya dan suami yang sama-sama komunikatif aja kadang2 masih suka misskomunikasi, hehe.

Jadi, segeralah jadi orang yang komunikatif 😉

Heheh, baru segitu aja kayanya yang ada di pikiran saya saat ini untuk persiapan mental menuju pernikahannya, semoga bermanfaat untuk yang mau dan sedang merencanakan pernikahan yak 😀

Daaan semoga rumah tangga saya dan suami bisa langgeng seumur hidup serta dipertemukan di akhirat kelak. Amiiiin ^^

Terakhir, I looove this picture soo much 😛

~Ada artikel menarik mengenai komunikasi nih: http://littlerosetrove.blogspot.com/2012/03/relationships-always-show-love.html *dapet waktu gugling gambar terakhir 😛

Hobi

Foto Miniatur

Kemarin saya iseng-iseng ngedit foto, stok foto saya yang lama sih. Dan saya lagi pengen nyobain caranya buat ngejadiin sebuah foto tampak kaya foto miniatur.

Mulailah saya mencari tau gimana cara mengedit foto biasa untuk dijadiin foto miniatur. Ternyata gak sulit-sulit banget sih *sombong* tergantung foto dasarnya dan tergantung ngeditnya. hehe

Saya juga belum jago2 amat, namanya juga baru belajar. Tinggal bikin stok foto yang banyak dan yang pas aja anglenya biar bisa dijadiin foto miniatur jadi saya bisa banyak latihan deh 😉

Ini hasil foto yang saya edit itu, udah mirip miniatur belum yak? 😛

Miniatur Taman Ria
Miniatur Taman Ria

Pribadi

Selesai Sudah Masa “Kursus”

Hehe, setelah 2 bulan “kursus” di rumah orang tua masing-masing (rumah mertua dan orang tua saya di Priuk), akhirnya mulai Senin, 4 Juni 2012 kemarin kita (saya, suami, dan Naia) pindah juga ke kontrakan mungil kita.

Yup, kita memang ingin belajar mandiri. Sejak awal menikah pun kita sudah tinggal terpisah. Begitu punya bayi, saya dan suami yang masih canggung (karena belum terbiasa ngurus bayi) memutuskan untuk “kursus” di rumah orang tua.

Naia Mandi
Naia Mandi

3 minggu pertama Naia lahir, kita tinggal di rumah orang tua suami saya di Kebagusan. Mamah (mertua) sampai rela menghabiskan cuti tahunannya untuk bantuin saya ngurus Naia ~huhu, terharu~

Begitu selesai di rumah Kebagusan, kita “kursus” ke rumah orang tua saya di Priuk (sekaligus menghilangkan baby blues saya sih ini sebenernya :D).

Kita kira-kira menghabiskan waktu 3 minggu juga di Priuk. Setelah dari Priuk, sebenernya kita berniat untuk pulang ke kontrakan. Jadi, waktu ada libur hari Kamis, tanggal 17 Mei 2012, kita sempatkan untuk pulang.

Nah, dari Priuk, kita mampir dulu ke rumah di Kebagusan untuk mengambil beberapa barang ~banyak barang sih~ yang masih ada di sana. Tapi karena hari Jum’atnya suami masih kerja, akhirnya kita menginap dulu di rumah Kebagusan dan memutuskan hari Minggu, 20 Mei 2012 untuk pindahan ke kontrakan.

Kebetulan, saya dari Priuk sedang terkena flu dan begitu sampai di rumah Kebagusan ternyata papah dan tantenya Naia (adik suami) juga terkena flu. Walhasil Naia ikut-ikutan sakit flu waktu itu. Jadilah pindahannya tertunda.

Minggu berikutnya kita harus mengurungkan niat untuk pindahan lagi dikarenakan sepupu suami saya menikah. Jadilah seharian hari Minggu, 27 Mei 2012 itu kita kondangan + jalan2 ke Depok 😀

Nah, minggu berikutnya lagi kita udah kekeuh banget untuk pindah ~akhirnyaa~. Jadilah kita rencanakan skenarionya ~halah~ 😛

Jadi, setelah melihat keadaan rumah kontrakan yang 2  bulan ditinggalkan, kita akhirnya memutuskan untuk meluangkan waktu 1 hari untuk beberes dan bersih-bersih dan keesokannya untuk pindahan.

Berhubung suami saya punya jatah libur 1 hari/bulan, dia gunakan lah jatah libur itu di hari Senin, 4 Juni 2012 kemarin untuk pindahan. Jadi, hari Minggunya kita bersih-bersih, hari Seninnya kita resmi pindah ~yeay~

Awalnya sih agak takut juga karena merasa sendirian. Tapi, bermodalkan hasil “kursus” di rumah orang tua, jadi PD aja untuk tinggal pisah gini.

Daan sampai sekarang Alhamdulillah berjalan lancaar (^_^)/

Semogaa kehidupan keluarga kecil kita semakin diberkahi oleh Allah SWT. Amiiin ya Rabb.

Pribadi

Beragam Perasaan Ibu Baru

image by ello.org

Bahagia. Karena akhirnya merasa sempurna sebagai perempuan, bisa nikah, hamil, dan melahirkan. Apalagi waktu pertama kali denger suara tangisan bayi pas lahir 😀

Super Seneng. Waktu liat Naia lagi melek dan main sendiri, waktu diajak ngobrol sama saya atau papanya dan diam mendengarkan dengan tampangnya yang sangat polos, dan waktu Naia melet2.

Damai. Waktu liat Naia lagi tidur dengan tenang rasanya damaaaai banget. Langsung hilang deh rasa lelah dan capek yang terasa.

Gemes. Saat Naia sedang menyusu dan saya melihat mukanya dari dekat. Juga saat dia mengeluarkan tampang lucunya atau tampang bengongnya, lucuuu banget. Rasanya pengen meluk sekenceng-kencengnya deh 😛

Gugup. Saat pertama kali menyusui Naia sewaktu di Rumah Sakit. Saat pertama kali memandikan Naia. Dan saat pertama kali belajar menggendong Naia dengan kain. Pokonya yang serba pertama kali itu rasanya gugup banget.

Bingung. Kalau Naia nangis lebih kencang dan lebih lama dari biasanya. Kalau Naia tiba-tiba gumoh buanyak. Dan kalau pupnya lebih banyak dan lebih sering dari biasanya.

Sedih. Saat mendengar tangisannya yang terisak-isak karena keadaannya yang sedang tidak enak.

Takut. Takut saya tidak bisa mendidiknya dengan baik. Takut saya tidak bisa memberinya lingkungan, tempat tinggal, dan pendidikan yang baik.

Semangat Luar Biasa. Ketakutan yang saya sebutkan tadi membuat saya jadi semangat untuk melakukan apapun untuk bisa menjadi ibu yang baik untuknya. Memberi lingkungan, tempat tinggal, dan pendidikan yang baik.

Yang jelas, menjadi ibu baru itu rasanya campur aduk. 😀

Hamil dan Menyusui

Penyebab Ketuban Hijau Keruh

Berhubung waktu itu saya jadinya operasi caesar karena air ketuban saya yang sudah berwarna hijau keruh, saya jadi penasaran kenapa air ketubannya bisa berwarna seperti itu.

Awal saya cari tau, suami saya yang bertanya ke dokter kandungan saya apa yang jadi penyebab air ketuban jadi seperti itu. Dokternya jawab itu karena si bayi sudah pup di dalam perut saya. Dan kenapa si bayi sudah pup itu karena si bayi sudah stress selama masa persalinan.

Nah, ada 1 lagi yang bikin saya penasaran. Kenapa si bayi bisa sampai stress. Tapi pertanyaan suami saya berhenti sampai kenapa si bayi bisa pup di dalam itu. Alhasil kenapa si bayi sampai stress gak terjawab.

Banyak asumsi yang menyatakan kalau si bayi stress karena si ibu stress. Tadinya saya juga akhirnya jadi mikir begitu, bayi dalam kandungan saya stress karena sayanya stress.

Nah, tapi saya bingung. Saya merasa saya baik-baik aja selama kehamilan. Gak ada hal yang membuat saya stress. Hum, ada sih tapi begitu masuk bulan ke 8 udah gak ada lagi hal yang bisa membuat saya stress.

Tapi, kebetulan saya punya kakak yang sudah lama banget bekerja sebagai perawat di RS. Hermina. Saya jadi mau tanya-tanya lebih jelas sama dia.

Jadi begitu saya sampai di priuk dan punya kesempatan untuk ngobrol panjang lebar dengan kakak saya, saya tanya dan minta penjelasan lengkap deh kenapa si bayi bisa stress dan pup di dalam.

Dan dia bilang si bayi itu stress karena dia sudah terlalu lama mencari jalan untuk segera keluar. Untuk menuju ke pembukaan selanjutnya juga sudah terlalu lama.

Tapi dari penjelasan itu saya jadi bingung lagi. Kan saya merasa kontraksinya baru dari jam 4.20 senin paginya dan sudah 10 menit sekali. Nah, kata dia mungkin kontraksinya sudah lama tapi saya yang gak ngerasa itu kontraksi.

Hum, setelah saya pikir betul juga sih. Dari hari minggu pagi perut saya memang sudah terasa kencang tapinya saya yang gak ngerasa kalau itu kontraksi. ~Namanya juga baru pertama kali hamil dan baru pertama kali ngerasain apa itu kontraksi 😛

Sebenarnya sebagian besar penyebab kenapa air ketuban bisa berwarna hijau keruh itu karena usia kandungan yang terlalu lama (lebih dari 40 minggu). Tapi dalam kasus saya, dimana kandungan saya baru berusia 37 minggu, pastinya bukan karena usia kandungan yang lama kan, hehe.

Akhirnya jelas kenapa air ketuban bisa berwarna hijau keruh dalam kasus saya.

Jadi karena si bayi sudah mencari jalan keluar tapi terlalu lama pertambahan pembukaannya akhirnya si bayi jadi stress. Karena si bayi jadi stress, akhirnya dia pup di dalam. Nah, pupnya itulah yang membuat air ketuban jadi hijau keruh.

Kalau diurutkan langkahnya jadi seperti ini:

~ Bayi terlalu lama mencari jalan keluar -> bayi stress pada masa persalinan -> pup di dalam -> ketuban hijau keruh.

Yak, begitulah. Akhirnya rasa penasaran saya terpenuhi juga 😀

Hamil dan Menyusui

Baby Blues Teratasi?

Belum sepenuhnya sih, tapi sekarang sudah cukup teratasi.

Jadi, banyak yang menyarankan agar saya tinggal bersama orangtua saja. Saya pun maunya begitu, sewaktu baby blues sedang parah kemarin saya kepengeeen banget pulang ke priuk.

Keinginan pulang ke priuk rasanya karena saya merasa kesepian. Di rumah priuk begitu banyak orang di rumah dan saya sudah terbiasa dengan suasana rumah yang ramai. Sedangkan di rumah mertua, saya merasa sepi 😛

Tapi saya gak enak sama mertua. Dia sudah rela mengambil cuti tahunannya agar kami (saya, suami, dan Naia) tinggal di rumahnya.

Lalu, saya disarankan oleh suami dan kaka saya agar bersabar dan menunggu sampai cutinya habis. Tapi saya merasa gak bisa bersabar.

Akhirnya sepulang kantor, suami berusaha menyenangkan saya dengan memberikan saya kejutan. Dan, cukup berhasil. Suasana hati saya sedikit lebih tenang.

Esoknya, jadwal saya kontrol ke dokter untuk buka perban. Karena jadwal dokter Shinta pada hari itu siang, jadi suami tidak bisa menemani. Akhirnya kita sepakat kalau diundur aja kontrolnya jadi hari setelahnya yang jadwal dokternya malam agar bisa ditemani suami.

Tapi, begitu suami pengen berangkat ke kantor, saya tiba2 menangis lagi. Akhirnya suami rela untuk gak masuk kantor demi menemani saya seharian itu. Nah, karena udah ijin, akhirnya kontrol ke dokter jadi di hari itu. Hari itu suasana hati sudah jauh membaik.

Esoknya lagi, suami masuk kantor tapi dia selalu mengirim kabar atau setidaknya mengobrol lewat sms agar saya tidak kesepian. Mulai hari itu akhirnya dia selalu mengirim dan mengobrol lewat sms dengan saya jika sedang di kantor.

Dan sekarang, saya engeh kalau keadaan saya jauh membaik. Dan saya baru engeh juga keadaan saya membaik sejak suami memberikan saya kejutan itu.

Akhirnya baby blues saya lumayan teratasi dengan sikap suami yang sangat pengertian itu. Terima kasih ya Ilman Akbar :*

Hamil dan Menyusui

Baby Blues

Hum, sepertinya saya sedang mengalami sindrom ini. Yap, baby blues syndrome, keadaan dimana emosi ibu baru melahirkan cenderung tidak stabil -menurut pengertian saya sendiri, dari baca beberapa sumber- 😀

Ya, saya terkadang jadi menangis sesenggukan dan saya sendiri gak tau alasan kenapa saya bisa menangis. Atau terkadang saya bisa merasa kecewa dengan diri sendiri atau dengan suami. Dan terkadang saya bisa marah-marah sama suami karena perasaan ingin selalu ditemani.

Gejala tersebut baru saya rasakan setelah seminggu melahirkan. Sepertinya tepat setelah si Naia kontrol pertama ke dokter anak yang mengurus sewaktu di RS.

Naia kontrol ke dokter pada hari Senin, 9 April 2012 kemarin. Dan hari itu dia beberapa kali disuntik. Suntikan pertama untuk imunisasi hepatitis B. Suntikan kedua untuk diambil darahnya untuk cek lab karena Naia terlihat kuning -karena kurang dijemur, huhu-.  Suntikan ketiga dan keempat di kuping karena ditindik.

Saya jadi sediih liat Naia disuntik-suntik gitu, huhu. Apalagi waktu tindik kuping, anting yang dipasang agak susah jadi agak lama nindiknya jadi Naia nangis lebih lama dan lebih kenceng T_T

Tadinya mau langsung saya kasih ASI setelah ditindik, tapi Naia tidur lamaa banget. Sepertinya kecapean nangis terus karena disuntik. Saya jadi sediih dan mulai menangis. Saat itulah saya pertama kalinya menangis pasca melahirkan, padahal sebelumnya bahagia2 aja.

Yap, rasanya setelah itu saya jadi sering menangis dan sering merasa khawatir. Setelah googling, baca-baca dan inget2 yang dibilang orang2 ‘hati-hati baby blues’, saya baru engeh saya sepertinya terkena gejala itu.

Baca juga: Baby Blues Teratasi

Hobi

Ikutan Oriflame

Hehe, ini dia postingan terpisah lanjutan dari postingan ini.

Saya akhirnya ikutan oriflame ~lagi~. Kenapa lagi? Karena dulu (mungkin sekitar tahun 2005 atau 2006an) saya udah pernah ikutan oriflame. Waktu itu alasannya simple, biar bisa beli produk-produk oriflame lebih murah sekaligus dapet untung dari ngejualin produknya.

Waktu itu saya sama sekali gak peduli tentang bisnisnya. Masa bodoh sama bisnisnya, yang penting saya beli dengan murah dan jualan, hehe. Tapi, begitu saya udah bosen dan males ngejualin ya selesai gitu aja, gak dilanjutin sama sekali.

Terus, kenapa sekarang gabung lagi?

Terus terang aja, saya orangnya anti banget sama MLM. Bener-bener males banget denger namanya apalagi kalo diprospek, haduuuuh males banget. Saya lumayan punya beberapa pengalaman tentang penawaran MLM, mulai dari MLM obat, suplemen, sampe pembalut.

Dulu saya gak tau kalo oriflame itu MLM makanya ikutan gabung dan satu-satunya alasan saya gabung ya kaya yang saya sebutin di atas tadi. Sekarang udah tau tapi tetap ikut gabung karena saya bukan mikir MLMnya, tapi mikir bisnis jualannya.

Ya, salah satu cara saya belajar bisnis juga dengan melihat gimana bisnis penjualan yang bisa besar banget kaya oriflame ini. Dari yang saya perhatiin, ada beberapa alasan kenapa bisa besar gitu.

Yang Jual Produk Ini Gak Jualan Sendiri

Bayangin aja, ngejual barang dan dijualin oleh banyak banget orang. Kalau jualan sendiri hasilnya udah lumayan, apalagi dijual oleh lebih banyak orang, hasilnya pasti lebih besar.

Saya ngeliat yang paling atasnya lho ya, yang bikin produk ini dan ngejual pertama kali, bukan jaringan2 yang udah ada. Jaringan-jaringan yang udah ada kan intinya ya membantu jualannya yang jualan Oriflame 😛

Pinter juga ya idenya, dengan nyuruh orang jualan juga, barangnya pasti bakal dibeli oleh lebih banyak orang. Ya pastinya yang berjualan itu dikasih keuntungan dengan dapet potongan harga. Ya setiap reseller atau tangan kedua kan pasti dapet keuntungan langsung dari potongan harga itu.

Omsetnya Jadi Besar Banget

Oke, omset memang bukan segalanya, yang penting kan profitnya. Tapi yang namanya jualan barang itu kan setidaknya profit atau keuntungan bisa beberapa puluh persen (10%-30% kali ya) dari omsetnya.

Nah, yang saya tau, dari 1 jaringan aja mereka udah dapet omset 18 milyar. Itu baru 1 jaringan di Indonesia. Bayangin aja, jaringannya udah banyak banget kan di seluruh dunia, bukan cuma di Indonesia aja.

Nah, kalo alasan pribadinya sih ada beberapa juga.

Pertama, Oriflame Masih Bertahan Sampe Sekarang

Saya mikir, oriflame beda ama MLM2 yang ada itu. Dulu saya gabung waktu kantor pusat Oriflame di Jakarta itu masih di daerah Bulungan. Nah, begitu lewat beberapa tahun sampe sekarang, oriflame tetap ada dan kantor pusatnya malah jadi lebih besar di daerah Sudirman.

Artinya, ya oriflame bisa bertahan dibanding MLM2 lainnya. MLM yang dulu memprospek saya begitu saya cari tau lagi udah entah kemana namanya, hehe.

Mungkin tupperware juga begitu, sampe sekarang bisa bertahan juga, tapi saya rasanya lebih bisa jualin produk-produknya oriflame daripada tupperware 😛 ~kaka saya ikutan tupperware dan hasilnya lumayan juga tuh.

Kedua, Oriflame Ngasih Keuntungan Buat Banyak Orang

Dari bertahun-tahun itu, Oriflame tetap ada karena orang-orangnya masih aktif dan yang masih aktif itu karena berarti terbukti Oriflame ngasih keuntungan buat mereka. Saya sih mikirnya begitu, hehe. Dan emang pernah ketemu orang yang beneran ngerasain keuntungan langsungnya sih.

Ke depannya kepengen juga punya bisnis yang ngejual produk gitu dan yang ngejual ya banyak orang gitu juga. Tapi saya masih bingung, bentuknya harus MLM kah? Gak adakah bentuk yang lain tapi bisa dijual oleh banyak orang dan ngasih keuntungan ke banyak orang itu? ~jujur aja masih males denger MLMnya 😛

Pokonya intinya sih bisnis yang bisa ngasih keuntungan ke banyak orang sekaligus ningkatin keuntungan bisnisnya. Kepengen banget..!!

~Punya suami yang setiap harinya mikir dan ngomongin bisnis melulu, jadi begini deh 😛

Hobi

Belajar Bisnis

Eheheh, belajar bisnis? Yup, saya sekarang sedang melakukan itu.

Dengan ngapain? Dengan jualan/berdagang. Hoho, suami saya emang baru saja cerita di blognya (di sini)  tentang untuk mau mulai suatu bisnis mulailah dengan berdagang.

Jadi saya dagang apa? Oke, saya mulai dengan cerita sedikit kenapa saya mau berdagang.

~Postingan kali ini agak sedikit panjang (banget)~ 😛

Awalnya, saya sama sekali gak pernah kepikiran mau bisnis sendiri, sama sekali. Tapi begitu saya hamil dan udah mulai bosen kerja di tempat saya bekerja dulu, saya mulai mikir mau keluar aja dan kerja di rumah aja biar urusan rumah bisa tetap kepegang dan anak juga bisa diasuh sendiri. Saya gak mau saya udah cape-cape hamil, punya anak, tapi begitu anaknya lahir, saya sibuk kerja dan nyewa pengasuh. Saya mikir, kalau begitu ceritanya, saya gak bisa kenal deket sama anak saya dan anak saya jadi anak pengasuh karena sehari-harinya ya ama mereka. Kalaupun ada yang membantu, ya saya maunya bantu-bantu untuk urusan rumah aja bukan untuk urusan anak, jadi anak tetap saya yang megang.

Nah, kalau begitu saya jadi ibu rumah tangga donk? Iya, tapi gak bener-bener jadi ibu rumah tangga, karena saya bisa bosan setengah mati kalau cuma jadi ibu rumah tangga.

Bukan, bukan mengecilkan ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga itu pekerjaannya juga gak ringan. Ngurusin suami, anak, juga kerjaan rumah yang gak ada habisnya. Tapi, saya mau jadi ibu rumah tangga yang lebih dari itu. Ngurusin suami, anak, kerjaan rumah, plus ngurusin bisnis sendiri, lumayan kan hasilnya bisa nambahin penghasilan keluarga juga tapi dikerjakan dari rumah.

Jadi saya bisnis apa? Oke, saya rinci deh saya bisnis apaan aja / dagang apaan aja. Mulai dari dagang jasa ampe barang #eh, banyak 😛 *enggak banyak deng, ehehe*

Pertama, Undangan Online

Nah, pertama kali kepikiran untuk bikin bisnis itu, saya ingin bikin bisnis undangan online. Saya mau bikin bisnis jasa membuat undangan online untuk ~pastinya~ orang-orang yang ingin nikah. Nah, sekarang memang udah ada sih jasa yang sama, tapi saya mau bikinnya yang beda. Bedanya apa?

Yang saya liat, jasa undangan online yang sekarang itu tampilannya tiap undangan ya sama, sesuai template yang diusung si penjual jasa undangan online. Nah, saya mau bikin yang tiap undangan online ya tampilannya beda karena setiap pasangan itu unik dan beda daan narsis juga, hehe. Jadi, saya mau bikin yang mirip-mirip undangan online saya: istiana.ilmanakbar.web.id dan undangan online sahabat saya nasrulgema.com. ~Heheh, yang nasrulgema ternyata domainnya udah habis 😛

Tadinya, saya mau bikinin web khusus tentang jasa saya ini, namanya arehappy. Namanya begitu karena saya mikir setiap pasangan yang mau nikah pasti bahagia. Begitu ada yang pesan undangan online mereka bisa milih mau subdomain di arehappy (ilmanisti.arehappy.com misalnya) atau domain sendiri ~yang pasti harganya beda~.

Tapi akhirnya saya gak jadi bikin web khususnya, tapi tetap jadi dan jalan lho. Jadi kalau ada yang mau saya bikinin undangan online bisa langsung kontak saya lewat email istianasutanti[at]gmail.com 😀

Kedua, Jual Clodi (Cloth Diaper)

Ini yang bikin saya gak jadi bikin web khusus undangan online, 😛

Jadi, begitu umur kehamilan menginjak 5 bulan, saya mengenal clodi (cloth diaper). Apa itu clodi? Intinya clodi itu adalah diaper yang bisa dicuci dan dipakai ulang. Saya mikir dengan punya clodi selain bisa lebih hemat, lebih baik juga untuk kesehatan anak kita. Ya, saya mau anak saya terhindar dari resiko alergi kaya ruam kulit, iritasi dan alergi lainnya yang mungkin timbul dari campuran bahan kimia dalam disposable diaper.

Tapi, tiba-tiba jadi kepikiran untuk membagi perasaan yang sama ke ibu-ibu lain yang ingin punya bayi atau yang baru punya bayi. Perasaan untuk bisa lebih menyehatkan anak dan lebih berhemat. Saya berpikir belum banyak ibu-ibu yang kenal dengan clodi ini, jadi bisa sekalian mengenalkan juga ke mereka.

Nah, saya jadi punya ide kenapa saya gak jualan clodi aja sekaligus mengenalkan ke ibu-ibu lain untuk lebih bisa membuat bayinya lebih sehat sekaligus berhemat. Karena emang lumayan banget lho hematnya. Clodi ini bisa dipakai sampai dengan berat 25 kg, kira-kira bisa sampai anak 2 tahunan. Belum lagi kalau sudah gak dipake, bisa dilungsur ke adiknya nanti. Lumayan kan bisa dipakai lama tapi beli cuma 1 kali?

Akhirnya saya mulai cari-cari deh gimana caranya saya bisa jualan clodi ini. Begitu akhirnya dapet, saya awalnya mau jadi reseller. Tapi distributor resmi salah satu merk clodi ini berniat nyari orang yang bisa bikin web untuk dibikinin web ecommercenya, jadi pake model keranjang belanja gitu.

Mereka udah 1 tahun ngejalanin bisnis clodi ini lewat FB dan bikin blog khususnya di sini.

Yaudah deh, akhirnya saya kerja sama aja sama mereka, saya yang bikin web plus jalanin pemasarannya lewat web itu (hehe, ketauan kan kenapa gak jadinya bikin web khusus undangan online?).

Sekarang emang belum jadi sih, tapi udah bisa dibeli di istianasutanti.com/clodionline. Yup, sementara saya udah bisa ngejualin clodi-clodi itu lewat sini sebelum dipindah ke nama resminya clodionline.com. Yang sekarang, clodionline.com masih mengarah ke blog mereka ini.

Jadi, untuk ibu-ibu yang ingin punya bayi kaya saya atau yang sudah punya bayi atau yang baru saja punya bayi (sebut Leni n Fithri aah :P) bisa beli clodi lewat saya aja ya, beli langsung di istianasutanti.com/clodionline 😀

Ketiga, Ikutan Oriflame

Yang ini dijadiin satu postingan terpisah aja deh 😀

Dengan ngejalanin itu semua, intinya saya sedang belajar bisnis, hehe. Suami saya belajar lewat S2nya, saya belajar otodidak 😛

~eh, tapi yang oriflame dijalanin berdua sih.

Nah, tapi ada 1 lagi juga yang saya kerjakan sekarang, bukan bisnis sih. Intinya self employee aja, freelancer web. Saya terima juga pesanan-pesanan web. Yap, saya sampe udah bikin portfolionya di sini. 😀

Hohoh, sekian dulu deh ceritanya.

~Fyuh, lama gak cerita di blog, begitu cerita postingannya jadi panjang gini, hehe

Hamil dan Menyusui

Usia 31 Minggu

Hoho, hari senin kemarin saya periksa kandungan lagi. Dan berat baby saya sudah mencapai 1900 gram.

Sebelum periksa, saya megang-megang perut, mencoba menebak-nebak posisi si baby kaya gimana. Tepat di perut bagian atas sebelah kanan itu setiap saya pegang, ada bagian yang cukup lebar dan saya menebaknya itu kepalanya.

Ternyata begitu di-USG, dokternya langsung menuju perut bagian bawah saya dan langsung nemu kepalanya. Dan, di bagian yang saya tebak kepala itu ternyata punggung. Huhu, ternyata selama ini saya salah tebak 😛

Yap, kepala si baby di umur kehamilan saya yang sudah menginjak 31 minggu ini sudah di bawah. Tapi, kata dokternya umur segini masih bisa muter-muter nih si baby, dan posisi yang sudah tetap itu di umur 36 minggu. Mudah-mudahan si baby gak muter-muter banyak lagi dan kepalanya bisa tetap di bawah sampe posisinya sudah tetap dan siap lahir deh 🙂 Amiiin

Terakhir, sebelum kita pulang, dokter meriksa cairan ketuban. Pada pemeriksaan kandungan sebelumnya, saya dianjurkan untuk lebih banyak minum karena air ketubannya sedikit, ruangan si baby jadi sempit banget. Tapi kemarin Alhamdulillah sudah cukup.

~Hum, tadinya mau ngasih liat gambarnya gimana etapi malah nyasar ke http://www.kedokteran.info/tahap-perkembangan-kehamilan-trimester-ketiga.html hoho 😛

Pribadi

Ketika Dijalankan dengan Ikhlas

Baru saja blogwalking di sela-sela waktu kerja. Dan kali ini saya baca blog kawan saya, Meri 😀

Dan berhenti sejenak di postingan “Keutamaan Seorang Ibu dan Istri dalam Islam”. Subhanallah banget baca betapa banyak ganjaran yang PASTI akan diberikanNya kepada para Ibu dan Istri shalihah, yang dengan ikhlas menjalankan perannya.

Dan ketika semua itu ~tugas seorang ibu dan istri~ dijalankan dengan ikhlas dan senang hati, maka tidak akan terpikirkan lagi ganjaran apa yang akan didapatkannya. Maksudnya adalah ketika semuanya itu ~keinginan untuk selalu melayani suami dan mendapatkan ridho suami serta mendidik anak yang dititipkanNya~ dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, maka akan keasikan sendiri menjalani itu dan menikmatinya sampai lupa semua tentang balasan yang akan diberikan.

Tapi terkadang, ketika merasa sangat lelah dan capek, mengingat betapa banyak dan besarnya balasan yang akan diberikan meningkatkan semangat untuk bisa bangkit lagi dan menghilangkan rasa lelah dan capek itu. Apalagi kalau bukan kita sendiri yang mengingatkan, melainkan suami. Semangatnya bisa berkali-kali lipat. ^^

Semangat buat para wanita di luar sana yang akan menjadi istri dan seorang ibu..!! ~terlebih buat yang sudah menjadi istri dan seorang ibu~ 😀

Pribadi

Keinginan

Lagi pengen banget liburan

Lagi pengen jalan-jalan

Lagi pengen ngumpulin foto2, dicetak, terus masukin album ~kebetulan ada hadiah pernikahan berupa album foto~

Lagi pengen belanja-belanja segala kebutuhan baby ~gak sabaran~

Lagi pengen segera menyelesaikan pembuatan web ~usaha online~ dan segera launching

Dan sekarang, lagi pengen banget makan ketoprak 😛

Hamil dan Menyusui

TORCH

Hehehe, lagi-lagi saya ngomongin tentang TORCH. Ini sih kumpulan twit saya waktu itu, lupa hari apanya. Lagi bersantai di rumah, keingetan tentang TORCH, akhirnya cuap-cuap deh di twitter 😛

  • @momopururu jadi beberapa hari lalu, nonton di salah satu stas TV, lupa kapan dan acara apa. Ada designer kecil yang ikutan jakarta fashion week.
  • @momopururu namanya Rafi, dan dia tuna rungu, ini ada blog yang nampilin hasil2 designnya: http://www.welovejakarta.com/jakarta-fashion-week-2012-day-7-echoes-of-heritage-by-rafi/
  • @momopururu eh, yang mau saya omongin sebenernya bukan desain2nya atau bakatnya yaa, bakatnya sih udah sangat diakui yaa
  • @momopururu tapi saya mau ngomongin kenapa dia bisa tunarungu. emang bukan dia yang mau kan keadaan kaya gitu
  • @momopururu ibunya ditanya, kira2 begini: (gk pst sih, seinget saya aja), “dari rafi lahir ibu udah tau kalau rafi ini tunarungu?”
  • @momopururu ibunya jawab, malah sejak hamil trimester pertama, dia udah tau kalau anaknya akan punya kekurangan.
  • @momopururu nah, ibunya tau dan udah menyiapkan diri anaknya itu akan punya kekurangan karena ibunya terinfeksi salah satu virus TORCH, yaitu Rubella
  • @momopururu kata dokter virus itu nanti akan mempengaruhi pendengaran, penglihatan atau yang lainnya. intinya pertumbuhannya gk sempurna di kandungan
  • @momopururu dari situ saya jadi makin concern dgn virus TORCH dan paham kalo hamil itu gak gampang, dr sebelum hamil pun calon bumil harus bener2 sehat
  • @momopururu sebelum nikah, saya pernah tes TORCH, gak lengkap sih, cuma Tokso dan Rubella aja
  • @momopururu tes tokso virus lama hasilnya positif tapi virus barunya negatif, agak khawatir juga saat itu.
  • @momopururu jadi wondering sendiri, kalo2 abis nikah nanti langsung hamil gimana? bahaya gak ya?
  • @momopururu eh, saya jadi baca2 tentang TORCH sendiri. ini yang lagi saya baca:http://kumpulan.info/sehat/artikel-kesehatan/48-artikel-kesehatan/203-waspada-toksoplasmosis-rubela-herpes-torch-saat-hamil.html#Definisi
  • @momopururu dan bener aja, setelah sebulan nikah, saya dinyatakan ternyata hamil.. 😀
  • @momopururu mengingat pas tes Tokso, IgG saya positif, saya memastikan ke dokter kalo saya bisa hamil
  • @momopururu dan kata dokter, saya bisa hamil karena saya terjangkit virus itu udah lebih dari setahun lalu dan saat ini udah punya antibodinya
  • @momopururu itu karena tes Tokso yang IgM saya negatif
  • @momopururu bener aja kalo untuk hamil itu emang perlu persiapan, terutama persiapan kesehatan calon bumil..
  • @momopururu pas tes tokso IgG saya +, kaka saya yang kebetulan suster di RSB blg saya kebanyakan makan junkfood n makanan gak mateng ~sushi contohnya~
  • @momopururu jadi sejak itu saya disuruh ngejaga makanan deh dan memperbanyak makan sayur… *karena saya gak suka sayur, jadi bener2 mesti belajar
  • @momopururu pas itu kesimpulan saya, berarti kalo gak mau terjangkit, ya makanan kita harus sehat..
  • @momopururu oiya, selain makanan gak sehat, toksoplasma itu bisa dari kotoran kucing, anjing atau unggas..semua itu mengandung parasit Toxoplasma gondii
  • @momopururu kalo virus Rubella (campak Jerman), Alhamdulillahnya sih IgG n IgM saya negatif waktu itu. Penularannya dari hubungan langsung ama penderita
  • @momopururu oiya, lupa. Kalo bumil menderita Toksoplasma, akibatnya bisa keguguran janin atau bayi lahir meninggal
  • @momopururu nah, kalo Rubella, akibatnya bisa menyebabkan bayi lahir cacat (kerusakan otak, kebutaan, tuna rungu, atau bisu)
  • @momopururu kesimpulan dari penularan Rubella, pencegahan kedua itu menjaga jarak dengan penderita
  • @momopururu eh, ada satu lagi pencegahan yang kelewat
  • @momopururu karena tadi toksoplasma bisa ditularkan melalui binatang peliharaan, jadi kurangi kontak dengan mereka
  • @momopururu 2 virus lagi yang termasuk TORCH itu CMV (cytomegalovirus) dan HSV (Herpes Simpleks tipe II)
  • @momopururu 2-2nya sama-sama famili herpes dan penularannya juga sama-sama melalui kontak langsung
  • @momopururu yang HSV bisa juga melalui hubungan seksual
  • @momopururu Nah, kalo bumil terinfeksi virus CMV bisa mengakibatkan bayinya beresiko mengalami pembesaran kepala, pengapuran otak…[1]
  • @momopururu pembesaran hati, tuli, atau bentuk kaki dan tangan yang tidak normal [2]
  • @momopururu karena CMV n HSV sama2 ditularkan dengan kontak langsung, jadi pencegahannya ya hindari penderita 😉
  • @momopururu nah, infeksi virus HSV menyerang alat kelamin. ciri-ciri penderita HSV itu keputihan n ada bintik pada alat kelamin
  • @momopururu akibat yang timbul kalo bumil terinfeksi HSV?
  • @momopururu bayinya lahir dengan kelainan kulit, kulitnya melepuh
  • @momopururu pencegahan HSV tadi salah satunya dengan menghindari si penderita, termasuk gak berhubungan seksual *yaiyalaah*
  • @momopururu pencegahan lainnya? dengan menjaga kebersihan alat kelamin, menjaga kebersihan di sini cukup pake air aja sebenernya
  • @momopururu gak perlu pake sabun2 tambahan / cairan pembersih kaya yang diiklan-iklan :P, dan usahakan tetap kering.
  • @momopururu nah, sekarang saya mau ngeringkas pencegahan TORCHnya nih 😀
  • @momopururu dari penjelasan-penjelasan tadi, pencegahannya ada beberapa: 1. makan makanan yang sehat dan bergizi (pastinya), dan matang
  • @momopururu 2. hindari kontak langsung dengan hewan peliharaan yang membawa virus Toxoplasma gondii (biasanya kucing atau anjing) ~untuk virus Tokso
  • @momopururu 3. hindari kontak langsung dengan penderita
  • @momopururu 4. jaga kebersihan diri, termasuk kebersihan alat kelamin
  • @momopururu nah, buat yang mau hamil, sebaiknya periksa TORCH
  • @momopururu Kalau ternyata terinfeksi salah satu virusnya biasanya nanti pengobatan dulu atau dikasih vaksin sampai virusnya bener2 bersih
  • @momopururu walaupun harus menunda kehamilan, yang penting pada saat hamil, bumil bener-bener sehat, biar janinnya juga sehat. 😉
  • @d_prihandoko:@momopururu tante gw punya tokso. Tp smpt nglahirin anak pertama. Lalu 4 kali keguguran. She need 10y programing to have 2nd son..
  • @momopururu Lanjut ngomongin TORCH aaah..tapi sekarang ngomongin baca hasil tesnya 😀
  • @momopururu Tes TORCH ada 2 jenis, IgG dan IgM. Kalo bahasa gampangnya sih IgG itu virus lama IgM virus baru
  • @momopururu Artinyaa, kalo hasil tes nunjukin IgG positif dan IgM negatif, itu berarti pernah terinfeksi virus setahun yang lalu atau lebih
  • @momopururu dan karena IgM negatif, artinya saat ini udah gk terinfeksi lagi, tubuh udah mengembangkan kekebalan terhadap virus tokso ini
  • @momopururu eh, bukan virus tokso aja, segala virus TORCH (tokso, rubella, CMV, HSV) deng :p
  • @momopururu Kalo hasil tes nunjukin 2-2nya positif, artinya udah 2 tahun terjangkit virus dan saat ini masih terjangkit, butuh pengobatan atau vaksin
  • @momopururu Kalo IgG negatif dan IgM positif, artinya baru aja terjangkit, belum setahun dan belum hilang virusnya. Butuh pengobatan atau vaksin juga
  • @momopururu Nah, yang paling aman 2-2 (IgG dan IgM)nya negatif *yaiyalaaah* kan artinya sama sekali gak terinfeksi n belum pernah terjangkit virus TORCH
  • @momopururu Jadi kesimpulannya, hasil tes yang nunjukin aman dan udah boleh hamil itu yang IgG dan IgMnya negatif atau IgGnya positif dan IgMnya negatif
  • @momopururu Dan yang perlu pengobatan lebih lanjut serta menunda kehamilannya itu yang IgG dan IgMnya positif atau IgGnya negatif dan IgMnya positif
  • @momopururu Huehue, sekian aja deh. Semoga twit2 saya hari ini bermanfaat 😀

Oke, segitu aja. Panjang juga yah, fyuh. *lap keringet*