Aku gak nyangka deh, gudeg yang aku makan saat ke Jogja terakhir bersama suami rupanya gudeg yang cukup ikonik di Jogja yang juga sudah melegenda, gudeg Mbok Lindu.
Lumayan ngerasa beruntung sih waktu itu, karena saat kami makan dan datang, tempatnya sepi jadi kami langsung bisa dilayani. Barulah saat kami makan, gudeg ini ramai dipenuhi pengunjung.
Ternyata gudeg Mbok Lindu ini memang seramai kabarnya ya. Soalnya, yang aku dengar ya, untuk makan di gudeg Mbok Lindu ini harus antri panjang, bahkan sebelum warungnya buka, haha.

Oiya, kami bisa makan di gudeg Mbok Lindu itu karena kami memang sengaja memilih menginap di sekitar Malioboro ya. Niat awalnya sih supaya bisa jalan-jalan di Malioboro saat malam gitu.
Tapi ternyata malah kami sampai di Jogja keesokan harinya. Alhamdulillah masih pagi ya, jadi masih sempat merasakan sarapan gudeg dulu baru jalan-jalan di Malioboro.
Nah, setelah makan di gudeg Mbok Lindu ini, gimana sih rasanya? Worth it gak? Lalu, apa bisa mengajak anak-anak makan di sini juga?
Cuss baca terus supaya semua pertanyaan tersebut terjawab 😉
Lokasi Strategis di Malioboro
Seperti yang sudah aku bahas sedikit, gudeg Mbok Lindu ini berlokasi di area Malioboro, kawasan yang memang selalu ramai oleh wisatawan. Juga tidak begitu jauh dari hotel-hotel bintang 5 yang ada di sekitar Malioboro.
Meski tempatnya sederhana, hanya berupa warung di pinggir jalan dengan meja dan kursi yang tertata seadanya, suasananya terasa hangat dan otentik.
Tapi menurut aku, justru kesederhanaannya inilah yang menjadi daya tarik tersendiri. Terus pengunjung juga gak merasa terintimidasi gitu lho. Ya jadi kayak makan biasa di warung sederhana saja.
Alamat lengkapnya ada di Sosrowijayan St No.41-43, Sosromenduran, Gedong Tengen, Yogyakarta City, Special Region of Yogyakarta 55271
Di bagian depan warung, terlihat deretan lauk pauk yang ditata rapi di atas meja, sehingga pengunjung bisa langsung melihat dan bisa memilih sendiri lauk yang mereka inginkan.
Ada ayam, telur pindang, sambal krecek, hingga tahu dan tempe. Semua lauk tersebut terlihat menggiurkan dengan warna cokelat keemasan khas gudeg. Ayamnya bahkan dipisahkan per bagian, paha, dada, leher, dan ceker.
Jadi, memudahkan mbak yang melayani untuk langsung mengambil bagian yang diinginkan pengunjung.

Pengalaman Sarapan Gudeg di Malioboro
Pagi itu, kami memesan dua porsi nasi gudeg lengkap yang langsung disajikan dengan pilihan lauk sesuai selera masing-masing.
Gudegnya disajikan pada piring plastik berbentuk seperti rotan yang dilapisi kertas nasi dan daun pisang. Hal ini bikin sensasi makan gudegnya makin terasa sih, karena ada aroma dari daun pisangnya juga.
Oiya, di awal banget juga kami diminta memilih, mau makan pakai nasi atau pakai bubur. Berhubung aku masih agak aneh kalau makan gudeg pakai bubur, ya tentu aku pilih pakai nasi.
Kami memilih duduk di bagian luar dekat dengan meja hidangan, sepertinya karena kami ingin menikmati angin pinggir jalan deh, hehe.

Tanpa menunggu lama, kami langsung melahap gudegnya. Rasanya nikmat banget, aku sampai meminta cabai tambahan (yang ada di krecek) beberapa kali secara langsung (rupanya ini juga ya keuntungan makan persis di sebelah meja, ahaha).
Rasanya nikmat banget sih, manis dari gudegnya langsung terasa di suapan pertama. Rasa itu kemudian berpadu sempurna dengan gurihnya opor dan rasa pedas dari krecek. Nangka mudanya dimasak begitu lembut, bumbu meresap sempurna hingga ke serat-seratnya.
Gak heran sih kalau banyak yang mengatakan Gudeg Mbok Lindu ini salah satu kuliner terbaik di Jogja.
Layanan untuk Oleh-Oleh
Saat kami makan, pengunjung mulai ramai. Mulai terlihat deh antrian pengunjung yang ingin mencicipi gudeg ini juga.
Tapi berhubung tempat terbatas, beberapa pengunjung juga ada yang membeli gudegnya dengan dibungkus untuk dinikmati di tempat lain.
Malah ada juga beberapanya yang menjadikan gudeg Mbok Lindu dalam kemasan sebagai oleh-oleh.
“Hoo, ternyata gudeg ini bisa untuk jadi oleh-oleh juga yaa. Oke juga ya,” pikirku. Jadi, setiap pengunjung yang ingin membeli, memang ditanya terlebih dulu, mau makan di tempat, dibungkus, atau dijadikan oleh-oleh? Bahkan memang ada paket gudeg Frozen.

Untuk dijadikan oleh-oleh, mereka selalu mengingatkan pembeli agar meletakkannya di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Kemasannya sih aman ya, karena setiap lauknya terpisah dengan nasi, sehingga makanan tidak cepat basi.
Dengan pilihan gudegnya bisa jadi oleh-oleh seperti itu, membuat banyak wisatawan yang mampir ke sini bukan hanya untuk sarapan, tapi juga untuk membawa pulang sedikit kenangan dari Jogja.
Bisa Mengajak Anak-anak Makan di Gudeg Mbok Lindu?
Sebetulnya, tempatnya bukan yang restoran nyaman dengan ruangan indoor berAC gitu ya, beneran warung makan pinggir jalan begitu dengan tempat yang juga terbatas.
Jadi, menurut aku, pilihan masing-masing lagi sih mau mengajak anak-anak ke sini atau enggak. Bisa mah bisa saja ya, kami juga bakal ngajak anak-anak makan di sini sih kalau ada kesempatan ke Jogja berikutnya.
Kami memang mau membiasakan supaya anak-anak bisa makan di tempat apapun supaya gak pilih-pilih makanan gitu. Jadi kalau buat aku, aku gak masalah untuk mengajak anak-anak ke sini.
Mungkin yang jadi pertimbangan lain adalah waktu makannya. Pilih waktu makan saat tempatnya tidak begitu antri. Waktu kami pertama datang itu terbilang sepi dan antrian pengunjung baru ada sekitar 10-15 menit kami makan.
Jadi, pastikan dulu saja tempatnya kondusif untuk mengajak anak-anak ya 😉
Menyantap Sajian Melegenda
Menurut aku, sarapan di Gudeg Mbok Lindu bukan sekadar mengisi perut, tapi juga menikmati sepotong sejarah Jogja yang legendaris.
Kayak seneng aja gitu, akhirnya bisa mencicipi hidangan legendaris yang sudah terkenal dan sudah ada sejak beberapa puluh tahun yang lalu.
Lokasinya yang strategis di Malioboro, kesederhanaan tempatnya, dan kelezatan masakannya juga membuat pengalaman makan di sana terasa istimewa.
So kalau kalian sedang berkunjung ke Jogja dan mencari sarapan yang otentik, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi gudeg legendaris ini ya. 😉
