Kalau beberapa waktu yang lalu saya menyebutkan “me-time” sebagai salah satu sarana penyaluran emosi, sekarang saya mau ngelist kegiatan apa aja yang bisa saya sebut sebagai me-time itu 😀
Berlama-lama di kamar mandi
Terkadang waktu untuk mandi adalah saat-saat saya bisa melakukan me-time dengan sangat puass. Berlama-lamanya tentu bukan untuk gak ngapa-ngapain juga. Kadang saya keramas, yang biasanya mengaplikasikan shampo hanya 1 kali, kalau sedang me-time bisa2 sampai 2 atau 3 kali *sayang samphonyaaah* XP.
Atau, terkadang saya luluran *uhuk*. Iya, luluran sendiri pake lulur mandi. Untungnya kalau sedang me-time di kamar mandi ini, suami sangat mengerti. Jadi, dia gak akan deh gedor2 kamar mandi nyuruh saya cepet2 udahan, hehe.
Dan, ternyata me-time di kamar mandi ini kayaknya nurun ke Naia deh, hahaha. Dia suka berlama-lama di kamar mandi. Tapi, dia sih terkadang sambil mainan atau mandiin mainannya sekalian.
Btw, me-time di kamar mandi ini tidak dilakukan setiap kali saya mandi loh, cuma sesekali aja. Jadi, mandi saya yang normal mah sebentar, paling 10-15 menit aja. Tapii kalau sedang me-time, ya bisa sampai 30 menit sampai 1 jam deh 😀
Blogwalking
Seriously, blogwalking adalah salah satu me-time yang sangat-sangat melegakan hati. Seneng aja gitu bisa baca banyak tulisan. Pengetahuan saya bisa bertambah sekaligus saya jadi tau banyak banget pemikiran dari banyak orang. Dan semakin mengerti kalau setiap kita itu memang berbeda dan unik, makanya pemikirannya pun belum tentu sama, hampir pasti berbeda juga malah.
Dibanding baca portal berita atau gosip, blogwalking jauh lebih menarik untuk saya, hehehe.
Berdandan
Wahaha. Saya emang jaraaaang banget dandan. Paling2 kalau mau kondangan doank. Nah, kalo saya lagi iseng2 gini, ya emang beneran lagi mau me-time aja. Dan itu juga cuman buat suami di rumah jadinya. Makanya gak akan ada yang protes kalau dandanan saya jelek atau tidak sesuai harapan, hahaha.
FYI, saya gak jago dandan. Jadi, saat-saat me-time dandan ini bener2 dandan ngasal & asal oles2 yang bisa dioles, wkwkwk.
Menulis
Awalnya saya hanya tertarik untuk menulis keseharian saya di blog. Tapi semenjak gabung di komunitas keren KEB, saya jadi kepikiran untuk memfokuskan blog ini di salah satu hal *ya keseharian lah yak, hahaha*. Bukan, bukan, emang sih masih suka saya selipkan cerita keseharian, tapi maksudnya mau difokuskan untuk parenting. Hihi, padahal ilmu saya juga masih cetek, tapi ya Bismillah aja lah ya. Itung2 saya belajar sendiri juga. Setiap ada topik parenting menarik hati, langsung saya catat di blog dengan kata-kata saya sendiri biar saya bisa inget terus apa yang saya baca.
Plus, karena suami saya menerbitkan buku 101 Young CEO dan itu artinya tulisan dia dibaca dan dihargai oleh banyak orang, saya jadi iriiii, huhu. Terlebih lagi, teman kuliah saya, Annisa Ihsani juga sudah menerbitkan buku (Teka-Teki Terakhir). Ditambah, saya diajak untuk mengikuti workshop menulis Asma Nadia beberapa waktu lalu bareng suami. Makin nempel deh hobi menulisnyah, hehe. Dan jadi makin tertarik untuk menulis dengan berbagai gaya dan berbagai sudut pandang *ini seriusan dipengaruhi oleh workshop itu, haha*.
Have we already give something today? Giving is not only about thing. What I mean with giving is much more than that.
I have just realized that this life is all about giving. Giving your best smile, giving your precious time to precious people, giving your maximum energy to do the office work, or just giving your best potential to do the things you can do with the best result.
Focusing on giving will make us live the better life. It could be more peaceful and we could be more grateful. What’s the connection about giving and grateful, you asked? When we giving something with our heart, we will not really care what we can get. We don’t really care if we get nothing from giving. But we will be soo much grateful if we get something unexpectedly. Yea, just care about giving. Anywhere. Anytime. Would you?
When we have no intention in always giving, we will be live in sorrow. Also, we will always be envious in what other people can get. On the other hand, if we always giving, the blessed that we can get from Allah SWT will always be seen. So that, there is no sorrow or feeling envy. It’s a better life, isn’t it?
Hope I could always be giving the best of me. To my family, my environment and my only one God, Allah SWT 🙂
Punya anak ituh yah seakan-akan kita belajar mengenai diri kita sendiri juga. Bagaimana tidak, kita sebagai orangtua biasanya menuntut anak untuk bisa ini itu dan untuk punya segala kebiasaan baik. Sedangkan kita sendiri gimana? Apa kita udah punya kebiasaan baik yang kita inginkan dari anak kita?
Walaupun saya baru punya anak 1 dan itu juga baru mau 2 tahun, saya udah sering banget nulis hal-hal tentang parenting. Bukan karena saya udah jadi orangtua yang segitu sempurnanya banget. Belum. Sama sekali belum. Masih jauh banget malah dari sempurna. Saya memang gak mencari kesempurnaan sih, saya mencari kebahagiaan. #asseek
Saya hanya mau menuliskan hasil yang saya pelajari saja dari buku-buku yang saya baca, milis yang saya ikuti, sampai seminar yang saya datangi. Dan ditambah lagi dengan pengalaman yang masih jauh dari cukup ini. Dan hal itu bukan untuk menggurui siapa-siapa, tapi saya gunakan sebagai pengingat diri pribadi. Sukur-sukur tulisan saya ada yang baca jadi bisa menjaring lebih banyak orang lagi yang sadar akan pentingnya hal yang namanya pengasuhan anak ini.
Pagi-pagi baca kultwit dari ustadz Feliz Siaw yang dishare oleh seorang teman di facebook. Iseng saya masukkan saja di blog agar makin tersebar luas kultwitnya bahwa berhijab ya bukan pilihan tapi kewajiban. Dan baik buruknya kembali kepada individu masing-masingnya 😉
Sebagai manusia, kita pasti selalu merasakan yang namanya emosi. Entah kita termasuk yang cepat tersulut atau yang sabar. Menurut saya, orang yang sabar bukanlah orang yang tidak pernah merasa emosi atau marah. Tapi dia bisa menyalurkan emosinya tersebut dengan aman dan nyaman.
Emosi yang aman dan nyaman adalah disaat emosi kita yang meluap tidak menjadikan kita akhirnya menyakiti diri sendiri. Tidak menjadikan kita meluapkan emosi tersebut ke orang lain sehingga menyakiti orang tersebut. Tidak juga menyakiti lingkungan sekitar kita. Piring yang pecah atau barang yang rusak misalnya, atau bahkan rumah yang kebakaran *Naudzubillah*.
Nah, sudah sejak dari *kira-kira* tahun 2010an saya berusaha dan belajar agar saya bisa menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman seperti itu. Awalnya memang tidak mudah. Saya masih sering meluapkan emosi ke orang lain yang hasilnya orang yang tidak memiliki salah apapun tersebut malah terkena luapan emosi saya sehingga ia kesal. Sering juga saya membuat keputusan saat itu yang akhirnya saya sesali kemudian.
Jangan membuat keputusan saat emosi. Jangan membuat janji saat bahagia.
Dua hal inilah yang akhirnya paling saya ingat selalu. Saat sedang marah atau emosi, kita tidak akan mengerti apa yang kita pikirkan yang selanjutnya apabila kita membuat keputusan saat itu akan sangat mungkin sekali kita akan menyesalinya di kemudian hari. Maka dari itu disaat kita emosi kita harus benar-benar menahan diri untuk tidak mengambil keputusan. Tunggu sampai emosi mereda baru kita bisa berpikir secara dewasa kembali dan bisa berpikir lebih baik.
Nah, saya memiliki beberapa cara atau beberapa penyaluran emosi disaat emosi saya sedang tidak terbendung. Salah satunya adalah dengan menulis di blog ini. Ada beberapa hasil tulisan saya yang merupakan penyaluran emosi, seperti tulisan ini, hehe. Terkadang saya juga hanya berdiam diri, membaca-baca buku yang belum selesai saya baca, mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk,membuat makanan yang enak yang bisa meningkatkan mood, dan terkadang juga dengan ‘menikmati’ waktu dengan diri sendiri alias me-time. Yap, cara-cara tersebut ampuh untuk meredakan emosi saya. Emosi yang kembali mereda membuat saya bisa bergaul lagi dengan Naia dan suami tanpa menyakiti hati mereka.
Buat saya, cara menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman ini sangat penting. Ya berhubung saya sehari-hari di rumah hanya bersama Naia, saya gak mau kalau sampai akhirnya emosi saya tersalurkan ke Naia. Alhamdulillah hasil belajar menyalurkan emosi yang aman dan nyaman ini sudah terlihat sedikit demi sedikit.
Juga agar saya bisa mengajarkan Naia menyalurkan emosinya dengan aman dan nyaman nantinya. Yang tidak membuatnya menyakiti diri sendiri, lebih-lebih orang sekitar, bahkan tidak membuatnya membanting barang-barang. Karena saya percaya, orangtua yang tidak mengerti bagaimana cara menyalurkan emosi tidak akan bisa mengajarkan anak menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman.
So, sudahkah kalian menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman? 😀
Hihi, ini sih dari status facebook. Saya copy paste, jadi credit bukan di saya lhoo.. ^^
[Serial Motivasi Islami]
Keluarga Bahagia Itu Sederhana Saja….
Keluarga mesra itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat bilang sama isterinya, “Bu pijitin bapak dong.. pegel neh kerja seharian.” Sementara sang isteri di lain waktu juga dapat dengan ringan bilang, “Pak, pijitan ibu dong, pegel neh seharian bersihin rumah…”
Keluarga rukun itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat melihat akun FB, Twitter atau HP isterinya tanpa isteri merasa dicurigai dan isteri dengan ringan dapat melihat akun FB, Twitter atau HP suaminya tanpa suami merasa dimata-matai….
Keluarga hangat itu sederhana saja; Kalau suami dan isteri dapat ngobrol panjang lebar berduaan dengan tema apa saja, dapat diselingi joke ringan sampai bercanda hingga ‘tonjok-tonjokan’….
Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dengan tulus memuji masakan isterinya yang sedap sedangkan di lain waktu dengan ringan dapat menegur makanannya yang kurang garam…. Sementara isteri tidak terlalu khawatir jika makanan yang dia sediakan membuat suaminya marah, atau bahkan dengan ringan suatu saat dia mengatakan, “Pak, hari ini ibu tidak masak, kita beli saja yak…”
Terlalu mulia jika kau sanding dengan kesibukanmu..
Aku tuh harus bangun pagi. Hrs sekolah, ada ulangan, byk PR, tugas, huhu 🙁 . Waktuku itu gak ada jedanya pokoknya!
Jadi…. Al-Qur’an harus ngertiin kesibukanmu, begitu?
Al-Qur’an terlalu agung teman…
Terlalu agung jika kau bandingkan dengan target harianmu..
Hari ini skripsian 5 jam, ke perpus, trus mampir ke toko buku, baca jurnal bahasa inggris minimal 2 jurnal, ngikut seminar dan persiapan lomba debat. Aku tuh padet banget agendanya…
So what??
Al-Qur’an itu terlalu suci kawan…
Terlalu suci untuk kau balap-balap dengan mimpimu..
2 tahun ke depan harus mendapat beasiswa S2 di Jerman, pada tahun yang sama keliling 3 negara. Setelah wisuda menikah (berharap dapat suami/istri yang hafidz atau minimal punya hafalan agar bisa mengingatkanku untuk menghafal) dan 2 tahun kedepan pindah bersama keluarga ke Amrik. Mapan. Beli rumah. Beli BMW. Anak belajar disekolah internasional
(tak ada target dirinya pribadi untuk menghafal)
Sungguh!!
Meski tak kau baca, tak kau hafalkan, tak kau tadabburi apalagi tak kau amalkan, Al-Qur’an tak merugi!!
Tak terhinakan.
Sama sekali!!!
Hey! Tapi lihat…
Lihat siapa nanti yang kelak akan menangis tersedu..
Meraung-raung meminta dikembalikan dalam keadaan semula agar punya kesempatan membersamai Al-Qur’an..
Bermesra dengan Al-Qur’an..
Benar-benar menjadikannya sahabat..
Nanti….
Suatu saat nanti…
Di saat semuanya tak mungkin kembali lagi….
:'(
(Sumber: grup di WA dan Al-Quran)
*Nasihat yang sangat tepat ditunjukkan ke diri ini, astaghfirulloh.
Ya Allah yg memalingkan hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan pd-Mu.
Wahai yg membolak balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.
Sekembalinya suami dari Solo beberapa bulan lalu, dia terlihat begitu berseri-seri tanda bahwa dia sangat senang. Salah satu alasannya sih karena tulisan untuk bukunya sudah berkembang pesat, walaupun masih menyisakan sedikit bagian yang akhirnya dikerjakan di Jakarta. Tapi ada hal lebih besar yang membuat dia sampai terlalu senang seperti itu. Dia sangat terpesona dengan kota Solo! Sampai-sampai dia mengajak saya untuk menghabiskan masa tua di sana kelak, huaah. Saat itu saya benar-benar penasaran. Ada apa ini? Kenapa dia sampai sebegitu terpesonanya dengan kota Solo?
Lagi baca-baca postingan lama e terpaku sama postingan saya yang ini.
Berhubung kemarin abis ngadain GA dan mendapat banyak tulisan (32) mengenai hijab, saya jadi pengen juga deh mengeluarkan pemikiran saya. Oiya, ini menyangkut adanya pro kontra mengenai penggunaan jilbab yang ada sekarang. Dan ketika saya membaca kembali postingan itu, menurut saya kita sebagai sesama muslimah harusnya menghargai setiap perbaikan diri yang dilakukan, apalagi perbaikan yang dilakukan merupakan kewajiban. Jadi, ya hargai saja orang yang berusaha memenuhi kewajibannya itu. Tentang pemakaian jilbabnya yang belum syar’i, trust me, itu bisa dan akan terus menerus diperbaiki seiring pengetahuan tentang islamnya meningkat.
bukan kesiapan hati, tapi kewajiban diri
Yaa, saya sih begitu pendapatnya. Dan saya memang pernah mengalaminya sendiri sih. Sahabat saya yang berjilbab panjang sangat menerima saya, mendengarkan segala keluh kesah saat kegalauan datang, dan mengajak saya untuk terus melakukan perbaikan tanpa membuat saya gerah dan jengah *alias tidak menggurui* walaupun penampilan saya masih jauh dari sempurna *jilbab masih tipis, kadang2 tidak sedada, dan malah tidak pernah menggunakan rok saat itu*. Sangat jauh lebih enak untuk bisa diterima dan disambut secara baik dibanding masih dipermasalahkan akan penampilannya, terutama jilbabnya.
Menurut saya, setiap orang yang kontra akan perkembangan jilbab modern seperti sekarang malah terkesan menggurui dan mengoreksi, bukannya mengajak menuju perbaikan yang lebih. Seakan-akan mereka mempermasalahkan perbaikan diri yang dilakukan dan menuntut untuk bisa langsung mengulurkan jilbabnya sepanjang yang disyari’atkan.
Jadi ya hargailah mereka yang *masih* berjilbab sekedar untuk gaya. Mereka telah melakukan perbaikan diri berupa memenuhi kewajibannya. Tugas kalian-kalian yang sudah paham benar akan pentingnya menggunakan jilbab sesuai syariat, ajaklah mereka secara baik, terima, sambut kemauannya memenuhi kewajibannya, bukan mengguruinya dan memicingkan sebelah mata akan penampilannya. 😉
Hihi, maaf ya kalau terkesan sangat provokatif, ini murni pendapat saya yang sebenarnya ingin saya tumpahkan sejak lama XP
Buat saya pribadi sih, pendapat dari pasangan itu merupakan concern terbesar dalam menentukan sesuatu. Apapun. Ternyata bagi suamipun begitu.
Hal paing kecil sih dalam berpakaian. Saya tersentuh banget waktu suami berpakaian jedi sewaktu jadi MC di acara “Starwars Toysphotography” dan setelahnya PD untuk gak dibuka sampai pulang. Waktu acara selesai, tadinya sih suami mau ganti baju. Tapi saya kok merasa suami ganteng pake itu dan gak mau dia ganti pakaian. Yaudah, saya bilang aja “Udah sih pake aja, ganteng tau, aku suka”. Eh, ternyata dia jawab “Yaudah, itu ~dia ganteng di mata saya~ yang paling penting buatku”. Udah deh selanjutnya kita “ngider”in Plaza Indonesia dengan suami masih berpakaian ala Jedi, hihihi. Saya jadi senyum2 sendiri XP
Starwars Toysphotography
Pun saat dia meminta pendapat saya mengenai bukunya. Atau saat dia meminta pendapat mengenai artikel yang akan ditulisnya, saya dibiarkan mengedit tulisannya sebagai bahan pertimbangan lagi untuknya.
Yang terakhir sih mengenai hal yang akan dilakukan suami yang akan berdampak cukup besar. Semoga keputusan yang dihasilkan benar-benar terbaik. Terbaik untuk suami, terbaik untuk saya, dan terbaik untuk keluarga kecil kami. Aamiin.
Intinya, salah satu hal yang membuat saya bahagia menikah dengan Ilman Akbar adalah pendapat saya selalu menjadi concern terpenting untuknya. Terlepas dari status saya sebagai istri, setiap orang memang sangat senang kan kalau pendapatnya benar-benar diterima, terlebih lagi dipikirkan secara mendalam 😀
Beberapa bulan sebelum saya dan suami menikah, saya dikagetkan dengan berita perceraian salah satu orang yang sangat menginspirasi saya. Beliau baru saja menginjak 2 tahun pernikahan namun berpacaran sudah cukup lama, sekitar 8 tahunan. Saat ditanya mengapa akhirnya memutuskan bercerai, beliau hanya memberikan nasehat, bagusnya sebelum menikah benar-benar terdapat komunikasi satu sama lain mengenai hal-hal yang diharapkan dengan pernikahan, juga mengenai keadaan diri masing-masing, baik atau buruk.
Saya dan calon suami waktu itu akhirnya melaksanakan nasehatnya. Kami saling menceritakan sifat buruk kami dengan tidak mengharapkan apa-apa. Kalau memang cinta dan benar-benar berniat menjadikan pernikahan sebagai ibadah, insyaAllah sifat buruk kami masing-masing akan saling dikurangi.
Setelah saya menikah, tidak berapa lama terdapat lagi seorang sahabat yang pernikahannya berada di ujung tanduk. Di dalam hati, saya sebenarnya mengagumi keluarga beliau karena merupakan keluarga yang cukup harmonis dan sang ibu benar-benar menjadi pendidik yang asik bagi anak-anaknya. Fuah, saya jadi was-was lagi, huhu.
Akhirnya saya menjadikan umur pernikahan kedua sahabat itu menjadi patokan keberhasilan mempertahankan pernikahan saya dan suami. Patokan yang paling ringan adalah ketika memasuki usia 2 tahun pernikahan. Terbersit rasa lega yang tidak sedikit saat usia pernikahan kami menginjak umur 2 tahun 4 bulan yang lalu. Patokan selanjutnya adalah di umur pernikahan ke 10 nanti, sama dengan sahabat yang pernikahannya di ujung tanduk dan umur pernikahan mbak Uniek Kasgarwanti, seorang blogger yang saya kenal dari komunitas emak2 blogger (KEB) yang baru saja merayakan umur pernikahan ke 10 ~Semoga beliau bahagia selalu bersama suami dan pernikahannya langgeng sampai akhir hayat, aamiin~. Yang satu di ujung pernikahan, yang satu masih sangat langgeng, dari keduanya kita bisa belajar 😀
Selain menjadikan umur pernikahan kedua sahabat tersebut sebagai patokan ringan, saya juga menjadikan umur pernikahan orangtua saya dan suami sebagai patokan selanjutnya. Mereka masih tetap harmonis sejak awal menikah hingga sekarang, dan saya sangat mengagumi keduanya. Umur pernikahan mertua saya sudah mencapai 26. Dan umur pernikahan orangtua saya lebih dari itu, yaitu 38. Harapannya siih saya dan suami bisa langgeng seumur hidup. Bahkan dipersatukan kembali di surgaNya kelak, Aamiin.
Namun, dari pengalaman buruk kedua sahabat itu serta dari keharmonisan keluarga orangtua kami, saya mengambil beberapa pelajaran dalam pernikahan.
*Saya pernah bikin postingan mengenai persiapan mental sebelum menikah, nah kali ini pendapat saya untuk membuat pernikahan langgeng dengan melihat pengalaman-pengalaman pernikahan teman maupun sanak saudara.
1. Selalu komunikasi
Tanpa adanya komunikasi yang baik, hubungan juga tidak akan berjalan baik. Saya dan suami Alhamdulillah selalu berkomunikasi dengan baik. Biasanya kami menyediakan waktu 1 hari kosong untuk hanya di rumah saja dan bersantai, hihi. 1 hari bersantai itu kita gunakan untuk saling bercerita panjang lebar mengenai segala hal. Tapi jika dalam satu minggu kami tidak memiliki hari libur yang bisa digunakan untuk di rumah saja, suami kadang-kadang ijin kerja di weekdays 😛
2. Saling percaya dan menjaga kepercayaan
Huah, ini penting banget nih. Walaupun komunikasi berjalan mulus, tapi tanpa adanya rasa saling percaya tetap saja komunikasi yang berjalan hanya akan saling mencurigai dan itu tidak baik bagi sebuah hubungan. Ini yang saya pelajari dari orangtua saya dan suami. Mereka, walaupun tanpa berkomunikasi, benar-benar bisa saling percaya dan saling menjaga kepercayaan itu. Sekali saja kita mengkhianati kepercayaan pasangan, selanjutnya tidak akan pernah bisa sepenuhnya dipercaya lagi. Huhu.
3. Selalu mempelajari dan mengerti kekurangan pasangan
Iya, mempelajari, hehe. Kita biasanya akan terus menemui kekurangan pasangan yang tidak bisa kita tolerir. Nah, buat saya sih, kekurangan tersebut dipelajari untuk dimengerti. Jadi, saat kita melihat kekurangan pasangan, kita sudah tau cara mengatasinya untuk selanjutnya kita kurangi sedikit demi sedikit. Kita juga harus tau kekurangan kita untuk dikurangi sedikit demi sedikit juga.
4. Selalu belajar untuk menjadi lebih baik
Tanpa belajar, kita gak bisa mengubah diri kita untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Tentunya agar pernikahan langgeng, kita mau selalu lebih baik lagi kan? Nah, dengan selalu berkomunikasi, saya dan suami jadi tau harapan dan kekurangan masing-masing. Dengan begitu, kita bisa selalu belajar untuk bisa memenuhi harapan tersebut atau memperbaiki kekurangan agar hubungan terjaga.
5. Jangan malu untuk sering-sering berhias
Bukan cuma istri, suami juga perlu berhias untuk menyenangkan istrinya, hehe. Biasanya kan yang menuntut selalu suami agar istrinya bisa terlihat cantik di matanya. Nah, istri juga bisa donk menuntut suaminya tampil ganteng dan rapi, hihihi. Maka dari itu, jangan gengsi untuk sesekali berhias diri walaupun gak pergi keman-mana, yaa sekedar menyenangkan hati pasangan 😀
6. Samakan visi dan misi keluarga
Hihi, kaya apaan aja yak punya visi dan misi. Etapi bener lho, suami istri itu harus punya pandangan yang sama terhadap keluarga yang mereka bentuk, ya punya visi dan misi yang harus sama gitu. Kalau visi yang dipegang suami berbeda dengan istri, ya bisa wassalam deh, dan bisa selalu terangkat ketika terjadi keadaan yang tidak enak *alias emosi*. Kalau untuk hal-hal kecil sih gak masalah bisa beda, tapi visi dan misi ini adalah suatu hal yang prinsipil bentuknya.
7. Rutin memberi kejutan-kejutan kecil
Hihi, kejutan-kejutan kecil gini bisa membuat makin cinta dengan pasangan lho. Pernah suatu hari, suami ada acara di *lupa tempatnya*, karena saya orang yang penakut, jadi saya tidak membolehkan suami pulang terlalu malam ~paling malam ya jam 8 lah~. Nah, karena waktu itu suami pulang agak lebih malam, saya sudah terlanjur tidur dan sudah terlanjur *sedikit* kesal, huhu *mana saya lagi hamil pula*. Tetapi, akalnya suami pinter banget deh. Dia membawakan makanan favorit saya plus hadiah kecil. Seumur-umur saya memang menginginkan barang itu dan belum kesampean sampai dia membelikan XP *sampai saya posting di facebook juga, hihi*
8. Mesra di manapun
Asal jangan vulgar yaa, hehe. Sekedar mencuri2 cium saat berdua saja di lift atau di tempat umum atau sekedar mencolek-colek iseng suami juga bisa membuat hubungan gak datar lhoo. Malah bisa semakin harmonis, hihi
9. Jangan remehkan kata tolong, terima kasih, dan maaf
Yap, ketiga kata ini penting digunakan agar pasangan selalu merasa dihargai dan bermanfaat. Pada bagian ini, saya juga pernah membuat postingan sendiri di sini.
10. Sering-sering ucapkan “I love you”
Jangan gengsi juga untuk sering-sering mengatakan “I love you” untuk pasangan, tiap hari juga boleh XP Bener deh, kata-kata ini menjadi penyemangat hati yang sedang suntuk atau tidak bersemangat.
Rasanya baru segitu saja dari saya. No 8 sampai 10 baru ditulis setelah diingatkan oleh kakak sepupu yang komen, hehehe. Memang saya newbie sih untuk urusan pernikahan, hihi maklum baru 2,5 tahun :P. Tapi saya mau dan semangat untuk terus belajar menyenangkan suami, anak, dan juga membuat keluarga yang harmonis. Aamiin.
Saat perasaan terhadap pasangan sedang tidak enak dikarenakan entah siapa yang salah, jika keduanya benar saling mencintai maka keduanya akan berusaha membuat keadaan menjadi enak kembali. Betul kan? hehe
Jadi pernah suatu saat saya dan suami mengalami perasaan tidak enak tersebut, mungkin saat saya PMS. Tapi, karena saya sangat menghargai suami dan suami pun menginginkan keadaan baik kembali, masing2 dari kami berusaha untuk memperbaiki keadaan itu. Saya berdandan untuk menyambut suami pulang, suami pun membawakan hal yang saya sukai *biasanya makanan* sebagai kejutan. Dan keadaan pun menjadi enak kembali dengan kemudian saling meminta maaf atas kejadian sebelumnya.
Hal tersebut ya dikarenakan kedua pihak masih saling mencintai dan masih sama-sama saling peduli.
Ah iya, saya jadi memikirkan hal itu karena kemarin baru saja melihat gambar di facebook yang akhirnya saya share ke suami XP. So sweet banget deh fotonya, ihihi.
Bener gak ya kita akan otomatis memaafkan kalau benar saling mencintai? At least dari perasaan yang tidak berhenti saling peduli dan keinginan untuk mempertahankan hubungan itu sendiri.
Kalau saya sendiri yang diperlakukan seperti yang di gambar tersebut, hati saya pasti langsung luluh dan saya akan berusaha merayunya agar dia tidak marah lagi, ihihi.
Menurut saya sih, ketika ada konflik antara dua orang yang berpasangan, kalau keduanya benar saling mencintai, maka keduanya akan saling berusaha meminta maaf untuk menjaga kelangsungan hidup hubungan mereka berdua. Kalau sama-sama tidak mau berusaha, ya wassalam deh sama hubungannya XD
Menuruti orangtua itu banyak hikmahnya. Dan juga berkah. Saya dan suami membuktikannya malam ini.
Jadi malam ini ada acara pernikahan teman di taman mini. Alangkah lebih dekat kalau kita berangkat ke acara itu dari rumah kontrakan kita di pasar minggu.
Tapi… Karena kita sudah cukup lama tidak berkunjung ke rumah orangtua saya di priuk, jadilah saya dan suami memutuskan untuk menginap di priuk saja sampai besok dengan tetap akan ke acara tersebut dari priuk. Jauuh yah. Apalah artinya jarak untuk menyenangkan orang yang kita cintai *cieeeh*.
Nah, saat saya menyampaikan ke ibu saya kami mau ke acara pernikahan itu, ibu saya menyarankan agar kami berangkat setelah sholat ashar saja agar tidak pulang terlalu malam. Awalnya saya dan suami mau berangkat setelah maghrib, tapi dipikir2 benar juga sih sarannya. Dengan mempertimbangkan lalu lintas juga, kami menuruti saran itu deh, walaupun akhirnya tetap berangkat jam 5 sore.
Alhamdulillah lalu lintas saat kami berangkat itu lancaar jaya, jadi sampai di taman mini baru jam 6.15 sore. Suami bisa sholat dulu *kebetulan saya sedang libur sholat :D* dan kita bisa bersantai sejenak.
Ngomong-ngomong berkah, banyak banget yang kami dapatkan karena berangkat lebih awal. Kalau dituliskan, inilah berkah yg kami dapatkan malam ini:
1. Jalan2. Hihi, jalan2 sekeluarga itu memang sesuatu banget xp. Jadi merasa family time banget. 2. Malam mingguan. Haha, awalnya gk engeh kalau sekarang malam minggu, tapi pas bersantai sejenak karena datang awal jadi terpikir dan senyum2 berdua deh 😀 3. Reuni/ silaturahmi. Iya banget nih, jadi kaya reuni fasilkom, secara berhubung yg menikah itu “orangtua” dan “anak” kita, hehe. Sesama angkatan ganjil, yg satu mendidik angkatan saya dan suami, yg satu lagi angkatan yg kita didik. 4. Makan enak. Acara pernikahan itu emang satu paket dengan makan enak kan? Hehehe 5. Kembang api. Ini salah satu acara yang bikin acara pernikahan ini beda dari yang lain. 6. Boneka. Ini satu lagi yang bikin beda dari yg lain. Mereka bagi-bagi 10 buah boneka dan saya dapet satuuu, buat Naia doonk pastinya 😀
Boneka Gratisan XP
Yg terakhir, pernikahannya berbeda dari biasanya jadi memberikan kesan tersendiri dan pastinya akan diingat terus 😉
Nah yg paling utama…
Kalau kita berangkat sedikit lebih lama saja, kita tidak akan sampai secepat itu dan tidak bisa bersantai deh. Berhubung yang mengadakan acara pernikahan di taman mini itu banyak, jadi sedikit lebih lama lagi akan lebih banyak mobil dan membuat lalu lintas menjadi macet. Dan memang itu yang terjadi, jalanan macet cet cet.
Ada seorang teman yang menghabiskan waktu 2 jam untuk menuju tempat acara padahal hanya dari daerah Depok. Ada lagi 2 orang yang akhirnya terpaksa membatalkan kehadirannya, padahal mereka sudah berada di sekitaran taman mini.
Karena menuruti orangtua,kami jadi tidak terkena macet sama sekali. Jalanan pergi dan pulang lancaar jaya jadi kami bisa mendapatkan berkah sebanyak itu *malam penuh berkah doonk xp
Alhamdulillah sebentar lagi bukunya terbit. Bukunya merupakan cerita perjuangan membangun bisnis para 101 pengusaha muda di bawah 30 tahun yang sudah sukses. Selain itu, buku ini juga “ngomporin” kita buat jadi young CEO selanjutnya, hehe. Keren nih, terutama buat anak-anak SMA atau anak kuliahan yang mau mulai usaha sendiri.
Untuk info lengkapnya ada di websitenya: http://101youngceo.com/. Yap, suami saya sudah bikin websitenya juga, hehe.
Sukses terus yaa teruntuk suamiku tercinta, Ilman Akbar.