Traveling

Bukan Cuma Lihat Anggrek, Banyak Aktivitas Seru di Orchid Forest Cikole untuk Keluarga!

Sejak kunjungan pertama kami ke Orchid Forest Cikole di tahun 2019 lalu, aku tuh jatuh cinta banget sama tempatnya. Selain tempatnya menenangkan, aktivitas yang bisa dilakukan di Orchid Forest ini tuh terbilang cocok untuk keluarga.

Dari yang jalan santai, piknik, sampai melakukan hal yang seru, bisa dilakukan di sini soalnya. Aku pribadi sih ngerasa di sini bisa menarik napas sejenak supaya badan terasa lebih tenang dan lebih rileks.

Melupakan dulu urusan rumah, kerepotan jalan-jalan, dan semua hal yang bisa membuat kepala ini penuh. Rasanya definisi healing buat aku tuh betul-batul bisa banget dilakukan di sini.

Santai menikmati waktu bersama

Perjalanan Berangkat Lewat Subang

Berhubung Orchid Forest Cikole ini berlokasi di daerah Lembang, Bandung (bukan di kota Bandungnya dan ternyata lebih dekat ke daerah Subang), jadi suami memutuskan perjalanan ke sana akan melewati daerah Subang tersebut.

Berangkatlah kami sejak setelah sholat Subuh. Alhamdulillah anak-anak sangat mudah untuk dibangunkan dan diajak berangkat pagi.

Suami memang senangnya berangkat pagi hari kalau mau jalan-jalan begini. Selain jalanan memang biasanya masih lengang, udaranya juga masih enak, waktu juga jadi terasa lebih panjang. Kami jadi bisa menikmati tempat-tempat yang ingin kami datangi dengan lebih puas.

Ke Orchid Forest lewat Subang

Rute melewati Subang ini juga bertujuan menghindari macet di daerah Bandung kota sih. Soalnya kami berangkat persis sehari setelah tahun baru, jadi masih dalam rangka libur panjang, sehingga rasanya Bandung masih penuh dan lalu lintas jadi masih macet.

Baru berapa jam di jalan, kami sudah sampai Subang dan perut juga sudah mulai keroncongan. Jadi kami mencari sarapan terlebih dulu di sini. Mampir deh ke Almaz Fried Chicken Subang yang lokasinya berdampingan dengan alun-alun Subang.

Setelah sarapan, kami jadi bisa mampir sebentar ke Alun-alun Subang ini juga deh 😀

Setelah menuntaskan urusan di toilet serta berfoto sedikit di alun-alun Subang, baru lah kami melanjutkan perjalanan ke Orchid Forest Cikole.

Tidak membutuhkan waktu lama, mungkin sekitar 1 jam saja, kami sudah sampai di Orchid Forest. Jalanan juga masih sepi, sehingga kami gak menemui kendala berarti sepanjang perjalanan.

Tripod Patah di Pintu Masuk Orchid Forest Cikole

Sempat terjadi “drama” sedikit saat kami baru mau masuk ke kawasan Orchid Forest Cikole ini. Setelah parkir mobil, kami lalu menuju pintu masuk Orchid Forest untuk membeli tiketnya kan.

Ooiya, tiket Orchid Forest per orangnya sebesar Rp40.000. Tapi sekarang terdapat biaya masuk LHI Jayagiri juga ya sebesar 11.000 per orang. Jadi total per orang untuk ke Orchid Forest sebesar Rp51.000.

Menuju Loket Orchid Forest

Sebelum loket tiket tersebut, tersedia backdrop besar berlatar belakang hutan dengan tulisan Orchid Forest Cikole yang memang bertujuan supaya pengunjung bisa berfoto sebentar.

Nah, kami pun gak ketinggalan donk. Setiap perjalanan berlima gini, suami yang selalu ingat untuk selalu membawa tripod. Saat itu dia sudah men-setting tripodnya untuk siap mengambil gambar kami berlima di sini.

Tapi tiba-tiba, Nara yang juga semangat mau melihat handphone yang siap dipasang di tripod, oleng dan hampir terjatuh sehingga berpegangan pada tripod sampai membuat salah satu kaki tripodnya patah T_T

Aku yang sudah takut suami marah, sudah bersiap menangkap Nara untuk menenangkan hatinya. Memang suami sempat marah dan kecewa, seharusnya kami bisa berfoto sendiri, jadi terpaksa meminta bantuan orang lain.

Namun, setelah akhirnya kami jadi foto berlima dengan bantuan orang lain, aku dan anak-anak ke toilet sebentar sekaligus memberi waktu suami untuk meredakan marahnya dulu.

Foto di depan Orchid Forest

Alhamdulillah, seusai kami dari toilet, suami sudah tenang kembali dan bisa membicarakan “konsekuensi” apa yang harus dilakukan oleh Nara. Suami langsung memesan online tripod serupa dengan uang dari tabungan Nara. Nara pun menerimanya sambil tetap meminta maaf karena masih merasa bersalah.

Pembelajaran dari Tripod Patah

Yah, jadinya semua belajar ya. Suami jadi belajar mengendalikan emosinya, Nara jadi belajar menerima konsekuensi dari ketidaksengajaannya.

Alhamdulillah lagi, walaupun gak sempurna, tripodnya masih bisa kami pakai untuk menopang hp sepanjang liburan. Tapi memang tetap harus mengandalkan beberapa “bantuan alami” sih. Seperti batu untuk jadi salah satu kaki-nya sebagai ganti kaki yang patah, atau menyenderkan tripodnya pada batang pohon atau sesuatu yang lebih kokoh.

Begitu lah ya, kami pun belajar jadi lebih kreatif lagi sepanjang liburan ini. Kreatif menyetting tripod yang tidak sempurna, ihihi.

Hunting Footage Video Lomba

Anw, aku sengaja mengajak suami kembali ke Orchid Forest Cikole ini salah satu tujuannya supaya bisa sedikit hunting video yang mau aku daftarkan untuk lomba #TravelPostcardContest yang diadakan oleh SonyAlpha, hehe.

Walaupun gak berharap menang sih xp. Aku cuma penasaran mau ikutan aja dan cobain gimana sih bikin video estetik itu. Video aku bukan yang estetik sih ya, cuma ngaku-ngaku aja, haha.

Jadi tujuan ikutan lomba-nya lebih ke melihat referensi dan mendapatkan pengalaman yang baru.

Itu pun aku rekam videonya sambil jalan juga, gak sampai mengganggu waktu liburannya anak-anak karena berhenti berhenti. Jadi ya sambil mereka aktivitas, aku rekam, sambil jalan, aku rekam, gitu aja. Begitulah jadinya yaa 😀

Eiya, tadi kan aku mau ngelist aktivitas apa saja yang bisa kita lakukan di Orchid Forest Cikole ini. Salah satunya ternyata hunting foto/video itu lah yaa. Nah, aktivitas lainnya aku list di bawah ini.

Kalau mau informasi lengkap mengenai lokasi, jam operasional, sampai fasilitas lengkapnya kalian bisa baca di Orchid Forest Cikole: Surga di Dalam Hutan Pinus yaa.

1. Berjalan Santai sambil Menghirup Udara Segar

Ini justru tujuan utama aku mengajak suami kembali ke Orchid Forest Cikole lagi, yaitu hanya untuk sekedar menikmati suasana dan udara yang segar di sana.

Beneran nikmat banget banget buat aku untuk berjalan santai sambil menikmati kesegaran dan suasana hutan yang syahdu.

Sesekali kami mencari spot foto supaya bisa foto lengkap berlima dengan latar belakang hutan yang cantik. Kalaupun gak foto bersama, ya kami foto anak-anak saja yang asik bercengkerama.

Dari awal, aku pun sudah bilang ke anak-anak kalau selama di dalam, kita bakal jalan kaki sampai ke pintu keluar ya. Berhubung Orchid Forest Cikole ini membentang sepanjang 1km dari atas sampai bawah, jadi memang harus jalan kaki untuk berkeliling di dalamnya.

Jalannya juga bukan yang lurus saja, melainkan akan melewati semacam lahan tanah yang cukup luas, lapangan semacam mini theater, sampai tempat-tempat makan yang estetik.

Alhamdulillah banyak bangku juga sepanjang perjalanan, sehingga kalau capek sedikit, kami bisa langsung istirahat duduk di bangku bangku tersebut.

2. Bermain di Lapangan Luas

Saat melihat ada lahan tanah yang cukup lapang, suami mengajak anak-anak untuk bermain sebentar di sini. Aku lupa sih nama permainannya apa, yang jelas Alhamdulillah anak-anak sangat menikmati permainan tersebut.

Jadi, pastikan kalau kalian mengajak anak-anak berkunjung ke Orchid Forest Cikole ini, juga membiarkan mereka bermain sepuasnya di tanah lapang yang ada ya. Selain supaya kita, orangtuanya, bisa istirahat, anak-anak bisa tersalurkan kebutuhan geraknya 😀

Bahkan, tanah lapang begini gak cuma ada satu, melainkan beberapa. Ini juga yang jadi salah satu alasan aku sangat menyukai Orchid Forest, yaitu lahan luasnya dibiarkan saja memang untuk dinikmati bersama.

3. Foto di “Studio” Alami

Kayanya ini memang sudah dilakukan sejal awal tadi ya, hehe. Dengan backdrop di dekat pintu masuk tadi, secara gak langsung kami ya jadi foto di “studio alami” yang berlatar belakang hutan.

Enggak sekali juga kami singgah di tempat yang kami pikir cukup bagus sebagai latar belakang. Jadi memang bisa banget lah untuk foto-foto di sini.

Eh, selain itu, memang tersedia juga lho mesin foto cetak supaya pengunjung bisa berfoto dengan latar belakang hutan dan bisa langsung dicetak hasilnya.

Tentunya dengan biaya tambahan sih, sekitar Rp40.000, kalian bisa berfoto langsung dan mencetak fotonya seakan foto studio gitu ya.

Tapi alih-alih ada di ruangan kecil, mesin ini berdiri sendiri di bagian depan Teras Paphio, semacam tanah lapang dengan banyak kursi di sekelilingnya, jadi seperti mini theater.

self foto di Orchid Forest

Ini juga yang aku bilang bisa berfoto di “studio” alami 😀

Eh, tapi kami gak mencoba mesin ini ya, soalnya sudah cukup puas rasanya pakai HP dan kamera yang kami bawa 🙂

Anw, sangat disayangkan, waktu kami sedang menikmati udara di teras Paphio ini, terlihat ada yang merokok dari kejauhan. Mirisnya dia tuh sedang mendorong stroller 🙁

Sayang ya kayanya belum semua pengunjung mengerti untuk tidak merokok dan mengotori udara yang sejuk di Orchjid Forest ini.

Merokok di Orchid Forest

4. Melihat Koleksi Anggrek

Setelah puas foto dan membiarkan anak-anak bermain serta berlarian di Teras Paphio tadi, kami melanjutkan perjalanan dan masuk ke area Orchid House, alias rumah anggrek.

Nawa sempat berceletuk sesampainya di bagian depan rumah anggrek ini. “Wah, berarti rumah kita juga bisa disebut Orchid House donk ya, kan rumah kita di jl. Anggrek”, hahaha.

Anw, buat pecinta anggrek, kayanya bisa deh berlama-lama di dalam sini dan melihat langsung berbagai jenis anggrek yang tersedia dan dibudidayakan. Aku saja puas melihat indahnya warna-warni bunga yang satu ini.

Tidak jauh dari rumah anggrek ini kita juga bisa beli beberapa tanaman untuk oleh-oleh ya. Tapi berhubung tangan aku kayak gak bersahabat sama tanaman, kami gak beli, takut gak bisa merawatnya 🙁

5. Bermain Mini Golf

Mini golf Orchid Forest

Foto dari Instagram Orchid Forest

Nah, sebetulnya berseberangan dengan pintu masuk rumah anggrek tuh terdapat area mini golf gitu juga sih. Tapi berhubung kami tadi memilih rute ke rumah anggrek, jadi kami melewatkan si mini golf ini.

Padahal sepertinya anak-anak bakal suka banget sih. Soalnya waktu ke museum golf yang ada di Tanah Abang tahun lalu saja mereka ternyata suka dan tertantang untuk bisa memasukkan bola golfnya ke lubang-lubang tersebut.

Gapapa lah ya, mungkin lain kali mau berkunjung untuk ketiga kalinya? wkwkwk. Doyan banget ya kayanya. Eh tapi gak menutup kemungkinan sih, soalnya aku memang suka banget sama suasana di dalamnya, huhuhu.

6. Memberi Makan Kelinci dan Kambing, dan Naik Kuda di Rabbit House

Begitu berjalan beberapa langkah lagi, kami lalu melihat rumah kecil-kecil gitu yang ternyata areanya dinamakan Rabbit House.

Kalau dulu saat kami ke sini hanya ada kelinci-kelinci saja yang terlihat, rupanya kali ini juga ada burung dan kuda.

Jadi pengunjung bisa berfoto bersama burung-burung tersebut, juga bisa menaiki kuda yang tersedia.

Anak-anak lebih tertarik dengan memberi makan, jadilah kami memberi makan si kelinci dan kambing saja ya. Melewatkan naik kuda, karena nanti biayanya jadi double xp

7. Bermain di Playground (Orchid Castle)

Setelah memberi makan binatang, perut kami pun sudah meminta jatah juga, ahaha. Jadilah kami menuju semacam food court untuk makan siang.

Nah, rupanya food court ini terletak persis di sebelah playground yang terlihat cukup besar, yang dinamakan Orchid Castle. Ini sih jadi aktivitas Orchid Forest yang paling disuka anak-anak ya, terutama untuk balita xp

Untuk bermain di Orchid Castle ini terdapat biaya tambahan ya, sekitar Rp40.000 sudah termasuk pendamping.

Playground-nya cukup besar dengan beberapa permainan kayu yang menantang, terutama untuk anak di bawah 8 tahun ya.

Awalnya sih Nara ingin juga bermain di sini. Tapi berhubung dari Orchid Forest kami juga mau ke tempat selanjutnya, yaitu glamping, jadi aku membujuk dia untuk hanya melihat saja playground-nya sampai puas, tanpa bermain di dalamnya.

Alhamdulillah berhasil yaa, hehehe.

8. Menerima Tantangan untuk Berjalan di Wood Bridge dan Flying Fox

Wood Bridge Orchid Forest

Selain karena kami mau glamping, kakak-kakaknya Nara juga gak sabar mau naik flying fox yang ada di sini lagi. Flying fox ini jadi salah satu aktivitas Orchid Forest yang paling diingat sama Naia Nawa soalnya.

Nara juga aku ajak, namun awalnya dia menolak sih untuk naik flying fox ini. Cuma aja, kami berusaha tetap tenang dan tetap membujuknya. Aku bilang, aku yang duluan naik supaya nanti di ujung satunya bisa “menangkap” Nara saat dia meluncur.

Alhamdulillah anaknya mau. Jadilah kami membeli tiket lagi untuk naik ke Wood Bridge-nya dan menutupnya dengan meluncur di flying fox. Tenang, tiket Wood Bridge sekaligus flying fox ini cukup Rp20.000 saja per orang kok, jadi lumayan lah yaa 😀

Nara masih agak takut nih saat kami berjalan di Wood Bridge-nya. Maklum ya, jembatannya memang terpasang di bagian atas pohon sehingga cukup tinggi dan lumayan memacu adrenalin.

Namun, karena selalu aku gandeng, dia jadi gak terlalu takut dan berhasil berjalan sampai akhir dan tiba di spot flying fox.

Kami lalu melaksanakan yang telah kami sepakati tadi, aku meluncur duluan baru setelah itu Nara. Jadi dia bisa aku sambut saat sampai di akhir.

Bersiap Flying Fox

Senang sekali rasanya kami berlima bisa menyelesaikan Wood Bridge ini sampai flying foxnya. Nara malah minta naik lagi karena ternyata flying fox-nya cukup menyenangkan dan seru buat dia.

Tuh kaan, kalau belum dicoba jangan menolak dulu lah yaa. Karena begitu dicoba, anaknya malah ketagihan, wahaha.

Membeli Foto Flying Fox

Ternyata saat kami meluncur, salah satu staff Orchid Forest sudah siaga dengan kameranya dan membantu mengabadikan foto saat flying fox.

Terus setelah kami lihat-lihat, ternyata foto anak-anak yang sedang meluncur lumayan bagus juga. Jadilah kami membeli 3 fotonya deh (masing-masing anak 1 foto yes!) dengan harga 1 foto sekitar Rp 35.000. Selain foto yang dicetak, kami juga diberikan semua foto personal yang ada di mereka.

Misal, kami cetak foto Nara saja nih, nah yang didapat ya semua foto yang ada Naranya saja deh.

Menonton Orkestra

Oiya, sebetulnya Orchid Forest ini rutin mengadakan orkestra dalam hutan gitu sih yang berjudul Forestra.

Biasanya orkestra ini dilakukan di bulan-bulan Agustus. Pengen sih aku sesekali menyaksikan acara itu. Tapi kayanya gak ngajak anak-anak deh, wehehe.

Biar ceritanya bulan madu aja lah gitu ya sama suami. Mudah-mudahan tahun ini bisa kali ya 😀

Perhatikan Peta Orchid Forest

Peta Orchid Forest

Oiya, kalau ada 1 tips yang bisa aku bagi, kalian sebaiknya perhatikan peta Orchid Forest dengan seksama di bagian pintu masuk. Hal ini supaya kalian jadi bisa memilih jalur yang paling pas untuk melakukan aktivitas yang kalian inginkan.

Juga lumayan bisa mengincar tempat makan yang kalian mau juga, ihihi. Lumayan makan deklilingi hutan yang syahdu gini, rasanya jadi lebih nikmat. Walaupun harganya juga lebih “nikmat” juga sih ya xp

Tenang dan Damai, Healing yang Sesungguhnya

Yap, tenang dan damai ini lah yang aku rasakan selama berada di Orchid Forest Cikole. Walaupun suasananya syahdu dan menenangkan, aktivitas di dalamnya terhitung cukup banyak juga ya.

Sehingga mau sendirian, berdua suami, maupun ramai-ramai sama anak-anak tetap seru dan worth it ke sini menurut aku.

Aku mau kok ke sini lagi kalau ada kesempatannya. Tapi mungkin memang gak dalam waktu dekat ini juga lah yaa, hehe.

Ini saja kami lakukan setelah berapa tahun coba tuh dari 2019. Waktu itu Nara baru lahir dan aku yang gendong sambil jalan menyusuri hutan pinus Orchid Forest Cikole. Sekarang anaknya sudah bisa jalan, bahkan bisa naik flying fox sendiri sampai ketagihan ya kan, ahaha.

Semoga tempatnya terjaga terus dan berumur panjang banget jadi kami bisa ke sana lagi kapan-kapan 😀

Kalian sendiri, sudah pernah belum ke Orchid Forest ini? Kalau belum, coba jadikan salah satu destinasi utama saat ke Bandung ya. Lewat Subang aja kayak kami supaya gak terlalu macet 😉

istianasutanti

Halo, salam kenal ya.

Aku Istiana Sutanti, seorang ibu dari 3 orang perempuan yang hobi sekali mengajak anak-anak untuk traveling bersama.

Di blog ini aku sharing pengalaman traveling kami sekeluarga plus pelajaran parenting yang aku dapatkan, baik dari pengalaman pun dari seminar parenting.

Semoga kalian suka membaca pengalaman traveling kami dan semoga membantu untuk menentukan tujuan traveling kalian berikutnya! ;)

You may also like...

25 Comments

  1. seru dan adem banget bisa wisata alam 😀

  2. Ini keknya kalo dari GerLong ngga terlalu jauh juga kali yha Mbaa

    Rumah adekku di GerLong. Moga² bln September ntar (kalo jadi) kami mau ke BDG dan bisa main ke sini

    Penasaran pengin naik jembatan dan ber flying fox jugaak

  3. Ngakak banget liat ekspresi mukanya Mas Ilman pas foto bareng pertama, keliatan banget ekspresi emosinya ya, hahahaha. Begitulah mbak, kalo sama anak memang kesabaran harus seluas samudera, karena pasti adaaaa aja tingkah laku ajaibnya, serta insiden yang mungkin tak terduga.
    Aku sempet liat video yg diupload mbak Isti ke Instagram itu, dan menurutku bagusss lho itu, karena memang suasana di Orchid Forest ini memang syahdu banget ya, jadi hampir semua sudutnya tuh bagus untuk dijadika objek video dan foto-foto. Mantappp betull.
    Ngiler pas liat Castlenya itu si, kok banguuusss ya. Anakku kalo diajak main disitu, kayaknya bakal betah deh berlama-lama.

    Membeli ipod beserta aksesorinya
    Membeli mobil suzuki ertiga
    Insiden tripod dan juga lainnya
    Adalah bumbu perjalanan keluarga

  4. eryka says:

    Ini murah banget mbaa biaya masuknya dari yang 40rb jadi 11 ribu aja dh gitu tempatnya juga luas banget ngetttt…fasilitsanya juga lengkap ada berbagai macam pilihan wahana..kalo maen sekeluarga ini pasti semua juga dapet hiburan ya mbaaa….bayangin udara segar syahdu di tengah pepohonan yang tinggi…duhhh ademnya bener2 berasa healing keluar dari rutinitas sehari2 yang kdang bikin gerah,,,
    Ngomong2 soal wood bridge aku juga punyapengalama menyeberangi wood bridge niatny aajak ponakan tapi ternyata dia nya takut padahal udah aku rayu2 looo tapi kekeh gak mau pilih turun balik ke glamping hehehe…

  5. Fenni Bungsu says:

    Paling sebel sih kalau di tempat umum yang notabene banyak pepohonan begitu masih ada aja yang smoking, huhu. Keknya kesadaran diri itu kurangnya banget² ya, lebih meninggikan egonya.
    Ah dahlah, tak ingin bahas panjang itu, soalnya sedang menikmati nuansa apik tanaman anggrek walau juga ada drama si kaki tripod patah hehe. Cara memberikan konsekuensi-nya perlu juga nih ditiru, karena bagian dari didikan juga ya.

  6. Tapi emng jujur orchid cikole ini emng hutan yang keren dan cantik tapi jauh dari bandung yg sebenarnya kalapun crowded gak ush takut luas bangeut. Bawa family itu pilhan tepat
    sekali kali nya aku ke orchid pas gaathering di kantor , pertama kali kesini dduh ini hutan bisa sebagus ini , ya adem ya dingin yaa teduh , ternyata Bandung punya tmpat sekeren ini

  7. Ah iya, bener juga mbak
    Klo ke Orchid Cikole ini nggak cuka bisa lihat anggrek yang cantik cantik ya
    Tapi bisa seru seruan menikmati smeua wahana yang ada di sana
    Plus foto foto cantik di studio alami ya

  8. Mentang-mentang di alam terbuka Kali ya. Jadi, dia seenaknya saja merokok. Mungkin dipikirnya, bukan di ruangan ber-AC ini.

    Menyebalkan sekali. Foto-foto pake backdrop alami memang lebih menarik, kakak.

  9. Orchid Forest Cikole memang juara ya buat healing bareng keluarga. Saya setuju banget, udara Lembang yang segar itu ampuh buat “tarik napas” sejenak dari rutinitas.
    Drama tripod patah di awal malah jadi bumbu perjalanan yang edukatif ya buat anak-anak. Salut sama cara Mbak dan suami mengatasinya. Ternyata banyak banget ya aktivitas baru sekarang, sampai ada memberi makan kambing dan naik kuda juga. Tips rute via Subang ini berguna banget buat menghindari macet Bandung yang legendaris itu. Jadi makin pengen mampir lagi ke sana!

  10. Aku dan keluarga termasuk yang sering ke Lembang, dan beberapa kali pula rencanain mau ke Orchid Forest, tapi pas udah di sana, gak jadi mulu. Ada aja rencana dadakan mau ke sana, sini, situ akhirnya gak jadi haha. Btw itu lewat Subang ya, kami pernah lewat Subang gara-gara menghindari macet keluar tol masuk Bandung yang arah ke Lembang, eh ga taunya malah ketemu resto ASSTRO Subang yang punya tempat wisata dan glamping cakep itu. Dan ini pernah jadi salah satu penyebab kami cancel ke Orchid Forest hahaha.

    Abis baca artikel ini, aku jadi nyesel nunda-nunda ke Orchid. Ternyata sebagus itu dan gak nyangka banyak aktivitas yang bisa dilakukan selama di sana ya. Makasih Isti udah bagi info lengkapnya. Semoga nanti kalau ke Bandung lagi bisa dijadiin.

    Tripnya minta di-lem biru lho itu 😀

    1. Maaf typo, TRIPOD.

  11. Aku baru sekali kesana, itupun ramean sama sodara sekalian mau silaturahmi dengan saudara jauh keluarga Bapak. Nggak terlalu lama kami explore Orchid Forest Cikole. Jadi emang nggak terlalu tau banyak terkait spot menariknya.

    Jadi, kalau ditanya mau kesana lagi apa nggak? Jelas mau bangetlah.

    Drama tripod ini kasih banyak pembelajaran sekali ya, Alhamdulillah Nara juga mau menerima konsekuensi dan salutnya setelah itu semua kembali enjoy menikmati liburan. Luas, nyaman, alam banget.

    Selalu menarik dan penuh cerita berkesan kalau baca blog Mbak Isti nih. Ayo liburan lagi ke Bandung Mbak, sama mampirin kembali Orchid Forest Cikole. Pasti ada aja improvement atau hal baru disana (tebakan ku hehehe).

  12. Aku sebagai warga Bandung malah belum pernah main ke Orchid Forest Cikole ini mbak. Sejak pindah lagi ke Bandung tahun 2022, belum pernah menginjakkan kaki lagi di Lembang. Ternyata luas banget ya tempatnya. Dan emang cakep, sejuk dan meneduhkan hati. Apalagi setelah lihat video yang mbak bikin. Jadi pengen jalan-jalan ke sana.

    Flying fox-nya pengen nyobain, tapi bisa nggak tanpa melewati jembatan gantung? Ngeri hahhahaha

  13. Orchid Forest Cikole memang destinasi yang paket lengkap ya, suasananya yang sejuk di tengah hutan pinus ditambah koleksi anggreknya yang beragam bikin pikiran segar lagi. Dan ikut sedih nih ada yang ngerokok mengotori udara sejuknya, miris ya dia padahal bawa bayi 🙁 hiks

  14. Heni Hikmayani Fauzia says:

    Saya terakhir kesini tuh udah lamaaa bangeet sekitar 5 tahun yang lalu sepertinya. Zaman anak-anak masih sekolah SMP deh kayaknya. Disana ada cafee yang enak banget cozy tempatnya dan kopinya enaak,,,,jadi pengen kesana lagi,,,menikmati berbagai anggrek dan kesegaran pepohonan hijau nan rimbun plus udara dingiiin Lembang.

  15. Ternyata banyak yang bisa kita lakukan di Orchid forest Cikole karena teus terang Pas saya ke sana itu Beneran pengen lihat anggrek-anggrek yang cantik tanpa tidak terlalu memperhatikan kegiatan lainnya yang seru terutama buat anak-anak dan family keren juga ya lain kali akan lebih memperhatikan dan nyobain juga

  16. Loh banyak banget nih aktivitas seru di Orchid Forest Cikole ini ya mbak Isti. Kaget bgt ada Forestra jg. Wah penamaannya juara bgt sih. Ada playground hingga mini golf jg loh. Anak2 sampe org tua jg ga bakalan bosen ya kalo ke sini. Smua ada playground masing2. Jd ga khawatir ga dpt area bermain di situ. Lha org tua jg bs menghirup udara segar bgt tuh di situ. Meski ada yg nyempil ngerokok hehe. Hrs disediain area buat merokok sih biar ga mengganggu.

    Dan yg aku notice, foto kalian bgs2, kirain ada yg motretin. Ternyata serempong itu ya hrs pake tripod. Prosesnya ini ga gampang loh. Hrs setting sana sini dulu biar kece. Blm lagi kalo ada yg lewat. Dan drama kaki tripod patah beneran kejadian. Sabar ya ngurusin si kecil. Jgn dimarahin, ckp dikasih tahu kalo ga hati2 pegangnya. Salut sih buat parentingnya.

  17. Ngobrolin tripod jadi keinget mbak2 di threads yang open kolabs buat motoin dia buat liburan, eh ternyata kolabs yang dia maksud tu gratisan wkwk. Emang yang namanya tripod tuh yaaa bermanfaat banget buat motoin sekeluarga biar tampak badan dan lokasinya tanpa minta tolong org wkwk, kalau selfie pakai tangan kan kurang puas. Untung masih bisa diganjel2 pakai batu2 ya tripodnya walaupun tetep kudu beli baru buat dipakai ntar2.
    Kyknya tempat wisata ini walaupun udah dijadikan lokasi wisata tetapi tetep dijaga ya keasriannya. Wahana mainan dan juga kandang2 hewannya gak dibuat lebay dengan cat warna-warni melainkan tetep bisa bersanding dengan kealamian hutannya.
    Jembatan kayunya ikonik yaa. Bisa main flying fox juga. Tapi keknya yang berkesan playgroundnya ya, terlihat luas.
    Oh ternyata ada semacam amphiteatare gitu ya buat pertunjukan2? gede pula ya lokasinya.

  18. wah keren! ternyata selain melihat koleksi anggrek ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di orchid forest cikole ini ya dan bahkan ada orkestra juga. pas banget ini buat ngajak anak-anak biar mereka bisa lebih dekat dengan alam

  19. Alhamdulillah perjalanan lancar yaah..
    Suka saluutt ternyata dibalik senyum bahagia ituu.. selalu ada kenangan yang tak terlupakan yang bikin kita tuh inget sama momen itu terusss..
    Gimana excitingnya anak, terutamaa..
    Apalagi pagi dan dingin kan yaa… jadi antara gerak bikin badan lebih hangat jugaa…

    Btw, videonya sumpah esketek, Is..
    Hangat sekalii.. aku jadi inget film “Sabtu Bersama Bapak” yang tone videonya bikin haruu..
    “This is how a family should be.”

    1. Huaa, makasih teehh. Ini ikutan bikin video postcard emang cuma mau belajar lebih jauh ajaa. Apakah aku bisa bikin video ala ala sinematik gituu, ihihi.

  20. puk puk Nara, tak mengapa salah yang penting bisa belajar dari kesalahan ya, salut deh Nara menerima konsekuensi mengganti tripodnya dengan uang tabungannya
    Yang penting jalan-jalannya tetap seru ya mbak, cakep banget itu orchid-orchidnya, beneran healing ya, damai dan nyaman

  21. Wisata di lembang memang selalu menyusuhkan pengalaman berwisata yang asik dan menyenangkan. Tempat wisata ini juga walau sudah lama, namun selalu update setiap tahunya

  22. Aaaaahhhh Mbak Isti bagus-bagus banget fotonya … sepakat sih kalau alam tuh jadi studio foto yang paling oke menurutku ..karena cara lighting udah Wow banget ya… Mbak by the way ini muter lewat Subang tuh sekarang masih nggak macet gitu ya mbak ya.. aku tuh suka bingung soalnya kan itu muter lumayan jauh … Berarti harus masuk ke yang patung nanas baru turun dari Cikole Gitu kan ya ..tapi ya muter jauh pun kalau nggak macet tetap aman sih ya.. Soalnya kalau Bandung macet kan stuck berjam-jam yang nyetir juga bisa bete gitu

    1. Bener mbak. Tapi orang-orang bilang, justru kalau ke Lembang ini emang lebih enak lewat Subang. Selain karena gak macet, katanya emang jalurnya lebih deket karena dari atas gitu. Kalau dari Bandung tuh ke bawah dulu baru ke atas lagi (ini kalau di peta). Gitu deh mbak.
      Tapi walaupun muter, bener, mendingan muter agak jauh tapi lancar, dibanding kena macet dan stuck berjam jam, huhu. Supir bete, seisi mobil juga bisa bete. Apalagi bawa anak-anak yaa, huhuhu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.