Pertengahan (hampir akhir sih) Desember lalu aku mengikuti suami mewakili DailySEO ID untuk pergi ke Jogja dan menghadiri acara RHD Fest yang dibuat oleh https://turnbacklink.com/. Berhubung ini urusan kerja, jadi kami pergi hanya berdua saja tanpa anak-anak.
Aku tau, banyak yang bilang “Ihiy, pacaran lagii,” ya kaan? Tapi bener sih, setiap kesempatan kerja berdua gini ya sekaligus kami jadi pacaran lagi juga, ehehe.
Anw, kali ini perjalanannya kami putuskan untuk naik kereta api saja, hitung-hitung sudah lama gak naik kereta juga gitu. Plus budgetnya juga lebih ramah di kantong lah ya, ihihi.

Setelah beberapa kali membandingkan tipe kereta, kami akhirnya naik Taksaka yang eksekutif dengan rute Gambir-Yogyakarta. Nah, kali ini aku mau sedikit menceritakan pengalaman kami naik kereta Taksaka deh, sudah sebagus dan senyaman apa ya?
Luxury atau Eksekutif?
Oiya, Kereta api Taksaka itu sendiri merupakan layanan kereta api penumpang kelas eksekutif dan luxury yang dioperasikan oleh Kereta Api Indonesia untuk melayani relasi Yogyakarta–Gambir melalui lintas selatan Jawa (via Cirebon–Purwokerto) ya1.
Kereta api ini beroperasi sebanyak tiga kali perjalanan dengan menempuh jarak 512Â km dalam waktu sekitar 6 jam 8 menit. Waktu tempuh segitu lama ternyata bener sih. Kami jalan sekitar 07.45, dan sampai Jogja sekitar jam 2 siang. 6 jam lebih lah ya bener.
Awalnya, aku sempat melirik tipe Luxury sih. Namun, karena ini adalah perjalanan dinas dan suami yang mengatur logistiknya, akhirnya kami naik kelas Eksekutif saja lah. 😀
Untungnya kalau memesan tiket kereta mah kita bisa memilih bangku sendiri kan. Jadi kami pilih bangku tengah gerbong dengan aku di sisi jendela.

Pilihan eksekutif ini pun berdasarkan waktu keberangkatan serta durasi perjalanan sih. Soalnya kami mah berniatnya berangkat pagi saja (setelah membangunkan anak-anak untuk sekolah).
Nah, kalau berangkat pagi berarti kan kami menghabiskan waktu pagi-siang di kereta, jadi gapapa lah untuk ambil yang Eksekutif yang nyaman ini gitu.
Aku bilang nyaman karena memang fasilitasnya lumayan memberi kepuasan gitu untuk menempuh perjalanan selama 6 jam lebih. Aku ceritakan di bagian berikutnya ya.
Harga Tiket Kereta Taksaka
Berhubung kami memilih yang kelas Eksekutif, seingat aku harga tiket kereta Taksaka per orangnya sekitar 650 ribu rupiah sekali jalan. Jadi bolak-balik menghabiskan sekitar 1,3 juta rupiah per orang.
Nah, kalau kalian mengincar yang luxury, harganya 2x lipat dari itu, bahkan lebih sih. Barusan banget (tanggal 17 Januari 2026) aku cek sekitar 1,375 ribu per orangnya sekali jalan.
Memang sih yang tipe Luxury pastilah menghadirkan fasilitas yang lebih lengkap dan lebih nyaman, jadi mungkin banget worth it dengan harga segitu. Mudah-mudahan next-nya aku bisa ngerasain yang Luxury yaa, ihihi.
Berangkat Sejak Pagi
Berhubung kereta kami jam 7.45an, jadi kami memang harus pagi dan bisa-bisa berangkat bareng orang berangkat kerja sih.
Tapi kami pilih untuk lebih awal. Ya supaya ada waktu lowong aja di Gambir, dan kalau misalnya lalu lintas padat, kami jadi gak mepet-mepet amat.
Sekitar jam 5.30an kami baru berangkat dari rumah dengan menggunakan taksi Bluebird yang sudah dipesan oleh suami sebelumnya. Alhamdulillah taksinya tepat waktu, sehingga kami pun berangkat di waktu yang sudah kami tetapkan itu.

Untungnya ternyata keberangkatan kami ini bertepatan dengan sekolah anak-anak yang sudah libur, jadi aku gak direpotkan dengan bikin bekal dulu pagi-pagi, hehe. Jadilah kami bersiap-siap dengan santai sambil mengajak anak-anak bangun juga.
Setelah memastikan mereka bisa sarapan dan sudah ada yang menjaga mereka, kami lalu berangkat sambil berdoa semoga perjalanan kami lancar dan terhindar dari kemacetan.
Sarapan di Gambir
Alhamdulillah benar, berhubung kami dari arah Selatan, menuju Gambir di jam sepagi itu, jadi lalu lintas juga belum memadat. Maka dari itu kami akhirnya bisa sampai di stasiun Gambir sekitar jam 6 lewat. Cukuplah untuk bisa sarapan dulu, pikir kami.
Sesampainya di Gambir, aku pikir kami masih harus mencetak tiket perjalanan. Namun ternyata sudah gak perlu dan nanti kita tinggal masuk saja ke gate pakai teknologi terbaru KAI.
Anw, sebelum itu, kami akhirnya mencari sarapan dulu di Gambir. Setelah memilih mana saja tempat yang kira-kira nyaman untuk kami, kami akhirnya sarapan di Bakmie GM deh, gak jauh dari pintu masuk dan gak jauh juga dari kopi kenangan.
Lha, kopi kenangan jadi patokan, wahaha. Soalnya suami memang berencana mau beli kopi itu sebelum benar-benar naik kereta, untuk minuman yang menemani sepanjang perjalanan lah gitu.
Face Recognition Check In
Nah ini dia yang baru pertama kali kami coba. Setelah sarapan dan membeli kopi, kami lalu mencoba check in dan suami memberi tahu kalau sekarang untuk check in sudah pakai face recognition gini aja, jadi kita tinggal jalan dan memperlihatkan muka ke layar.
Sebelum itu, tentulah harus me-register wajah kita dulu ya di aplikasi KAI supaya tercatat data dan ID penumpangnya. Proses “mendaftarkan” wajah ke aplikasi ini juga terhitung cepat. Kira-kira hanya membutuhkan waktu kurang dari 5 menit saja.
Cara Mendaftarkan Face Recognition di KAI Access
Proses yang aku bilang terhitung cepat itu kira-kira begini langkahnya:
- Buka aplikasi KAI Access lalu ke bagian Account (bagian kanan bawah)
- Kemudian scroll sampai kalian menemukan “Face Recognition Registration”
- Lalu arahkan wajah tercantik kalian ke arah kamera. Apps akan menanyakan apakah sudah cukup? Sehingga kita bisa mengulangnya lagi kalau masih belum puas
- Begitu merasa wajah kita sudah cukup terlihat dan kita pun puas dengan hasilnya, baru bisa klik done. Wajah kita sudah terdaftar deh

Aku sendiri juga sempat mengulang karena merasa wajah yang pertama kali diinput agak gelap sehingga kurang terlihat dan kecantikannya kurang terpancar *haiyah. Begitu sudah cukup terlihat, baru deh aku klik done dan yap sudah terdaftar semudah itu.
Begitu wajah sudah terdata, kami baru mencoba check in dengan cara baru ini. Dan betul saja, cuma butuh hitungan detik, kami sudah masuk dan tinggal menunggu kereta nya datang.
Kereta yang Nyaman
Selesai check in, kami gak langsung masuk ke dalam kereta. Karena masih ada waktu sekitar 15 menit lagi dan unit keretanya juga belum datang. Jadi kami masih menunggu dulu di ruang tunggu yang tersedia.
Ruang tunggunya di lantai dua ya, bisa diakses melalui eskalator maupun tangga biasa. Kami memilih naik eskalator karena membawa barang yang cukup berat (bilang aja koper).
Nah, di lantai 2 ini rupanya terdapat mushola juga yang menurut aku sudah cukup bersih dan terlihat nyaman. Jadi untuk perjalanan malam atau bahkan pagi subuh pun, kita bisa melaksanakan sholat di ruang tunggu ini ya.

Tidak sampai 10 menit, kereta Taksaka tiba dan kami baru naik lagi ke lantai 3 untuk menuju peron keberangkatan.
Setelah mencari gerbong yang sesuai, kami lalu duduk dan menikmati perjalanan sambil aku memperhatikan beberapa fasilitas yang perlu diperhatikan.
Beberapa fasilitas yang aku perhatikan dan menambah kenyamanan penumpang yaitu:
1. Area Kursi & Produktivitas
- Colokan Listrik & USB Port: Selain stop kontak standar di dinding kereta untuk laptop, kursi Eksekutif Taksaka terbaru sudah dilengkapi dengan USB Charger Port di setiap kursi. Hal ini tuh sangat membantu kami untuk memperpanjang baterai hp atau perangkat lainnya sepanjang perjalanan sih.
- Gantungan Serbaguna: Di setiap kursi tersedia gantungan yang sangat berguna untuk menggantung tas kecil, jaket, atau plastik sampah agar area kaki tetap rapi. Gantungan ini aku gunakan juga untuk menggantung tas yang berisi macam-macam camilan agar mudah dijangkau saat kami membutuhkan.
- Meja Lipat: Terdapat meja lipat yang cukup stabil deh, sehingga bisa kami manfaatkan untuk curi-curi waktu bekerja atau membaca buku.
- Sandaran kaki: Kaki kita juga gak pegal dengan adanya sandaran kaki yang bisa kita sesuaikan ketinggiannya di bagian depan.




2. Kenyamanan Kabin & Interior
- Pintu Geser Otomatis: Berbeda dengan kereta lama, pintu antar-kereta di Taksaka New Generation menggunakan sistem geser elektrik otomatis yang lebih senyap dan modern. Hal ini bikin penumpang cenderung lebih aman akan keselamatannya saat melewati pintu.
Juga bikin penumpang lain gak keberisikan kalau ada yang melewati pintu ini sehingga bolak-balik dibuka tutup.
Tinggal pencet tombol yang tersedia, pintu ini akan terbuka secara otomatis dan beberapa menit kemudian menutup kembali secara otomatis. - Peredam Suara: Nah, di Taksaka, setiap rangkaian gerbongnya sudah menggunakan teknologi Stainless Steel yang membuat kabin lebih kedap suara dan minim getaran ya, sehingga kalau kita tidur pun, tidurnya jadi lebih enak. Minim guncangan gitu.
Kalau pengalaman tidur ini aku rasakan saat di perjalanan pulang. Dengan kereta Taksaka yang sama, kami memilih waktu keberangkatan malam hari supaya sampai rumah masih pagi.
Berhubung malam itu kami memang lelah setelah acara RHD sampai sore harinya, aku langsung tertidur tidak berapa lama setelah kereta beranjak dari stasiun Jogjakarta.
Nah, pengalaman tidur itu cukup nyaman. Selain mungkin karena lelah juga ya, tapi keretanya memang minim guncangan, jadi lumayan bisa diandalkan lah untuk beristirahat sepanjang perjalanan 🙂


- Lampu Tanam untuk Mode Malam. Satu yang menarik perhatian saat memasuki gerbongnya adalah adanya lampu tanam ini yang menjadi panduan jalan keluar di setiap gerbong.
Lampu ini juga digunakan saat mode malam, sehingga para penumpang yang berjalan di gerbong bisa berjalan dengan nyaman tanpa mengganggu penumpang lainnya yang sedang beristirahat. - Informasi Digital: Terdapat layar Public Information Display System (PIDS) yang menampilkan informasi kecepatan kereta, suhu kabin, dan stasiun pemberhentian berikutnya.
3. Fasilitas Kebersihan (Toilet)

- Toilet Mewah & Lega: Toilet di kelas Eksekutif Taksaka kini menggunakan model toilet duduk dengan vacuum system yang lebih higienis, lengkap dengan cermin besar dan wastafel yang estetik.
Ini poin penting yang bikin betah perjalanan jauh sih. Apalagi kalau bawa anak-anak.
Dengan toilet yang bersih dan menyediakan baik tissue maupun air, orangtua bisa nyaman menemani anaknya pup atau pipis di sini.
Aku sendiri sempat beberapa kali menggunakan toilet yang ada di bagian belakang gerbong kami. Jadilah aku bisa bilang toiletnya nyaman, karena aku pun merasa cukup mudah untuk membasuh serta mencuci tangan setelah buang air kecil.
4. Fasilitas Penunjang Lainnya
- Multimedia on Demand: Beberapa rangkaian menyediakan akses hiburan yang bisa diakses melalui gadget masing-masing via jaringan Wi-Fi lokal kereta. Aku gak sempat melihat-lihat ini sih, soalnya sepanjang perjalanan aku habiskan dengan membaca buku dan sedikit melanjutkan pekerjaan.
- CCTV & Keamanan: Terdapat kamera pengawas di setiap sudut kereta untuk menjamin keamanan barang bawaan penumpang.
Sedikit Kekurangan
Hanya saja, aku merasa ada sedikit kekurangan yang cukup signifikan. Saat duduk dan menyandarkan diri pada kursinya, aku merasa si kursi ini agak terlalu tegak gitu lho bentuknya, jadi kurang ergonomis dan kurang nyaman untuk duduk lama.
Bukan masalah belum dimiringin, tapi memang desainnya yang terlalu lurus. Biasanya kan kursi empuk gitu ada sedikit lekukan lekukannya gitu ya, tapi kali ini enggak. Apa mungkin memang yang lurus yang bagus? Aku kurang ngerti juga.
Tapi yang pasti, aku sudah bilang dari awal, “kok kursinya lurus banget ya?” gitu. Suami pun ikut mengamini, dia setuju dan bilang juga, katanya menurut orang lain pun kursi di kereta baru ini agak terlalu lurus jadi bikin kurang nyaman.
Entah lah ya.
Alhamdulillahnya sih kami tetap bisa duduk dan menikmati perjalanannya 😀
Memanfaatkan Waktu di Kereta
Seperti yang aku bilang, aku memanfaatkan waktu di kereta Taksaka ini dengan membaca buku dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda (plus menulis blog juga) 😀
Suami pun demikian. Berhubung ada meja lipat plus ada colokan, dia langsung saja mengatur mejanya jadi meja kerja dan langsung lanjut bekerja.


Berhubung saat itu aku baru saja membeli buku “Di Luar Radar”nya mbak Trinity, jadi aku baca itu sepanjang perjalanan dan selalu takjub dengan cerita-ceritanya yang menakjubkan dan menarik.
Walaupu gak langsung selesai juga ya dalam satu kali duduk itu, tapi lumayan lah, aku bisa mendapat 2 atau 3 bab sebelum akhirnya aku ikutan membuka laptop.
Jadi Alhamdulillah kami tetap bisa produktif sepanjang perjalanan ya, hehe.
Kejutan Estetik di Basement Stasiun Yogyakarta
Oiya, sebetulnya tuh tersedia makanan juga ya di dalam kereta, bahkan tadinya aku juga mengajak suami untuk mampir ke gerbong restorasi untuk makan. Tapi kami juga masih kenyang dan sepanjang perjalanan pun aku sudah menyiapkan camilan, jadi gak perlu perlu banget deh makan di sini.
Kami akhirnya memutuskan makan siang setelah sampai di Jogja saja. Suami langsung mencari pintu keluar dan kami diarahkan untuk melewati underpass-nya untuk keluar.
Yasudah, kami langsung ke underpass donk melalui eskalator. Tapi begitu eskalator semakin ke bawah, aku semakin melihat underpass yang lorongnya ternyata dibuat estetik.
Bukan estetik karena hiasan macem-macemnya, melainkan karena terdapat hiasan dinding yang menceritakan sejarah Stasiun Yogyakarta dengan sangat kreatif.
Setiap foto yang dipajang mewakili satu huruf dari kata “YOGYAKARTA”. Misalnya, huruf Y mungkin menceritakan tentang Yogyakarta masa lalu, lalu diikuti huruf lainnya yang memiliki narasi sejarahnya sendiri.
Berjalan di basement ini rasanya seperti masuk ke museum mini sebelum benar-benar menginjakkan kaki di aspal Kota Gudeg lho.
Sesampainya kami di ujung lorong satunya, kami naik lagi dan kali ini beneran menuju luar dan mencari taksi untuk beranjak ke tempat makan siang yang telah kami tetapkan.
Taksaka Kereta yang Nyaman
Begitu lah pengalaman kami naik kereta Taksaka kelas Eksekutif ya. Beneran udah nyaman dan enak untuk menikmati perjalanan 6 jam atau lebih.
Selain karena fasilitas di bagian tempat duduknya sudah cukup lengkap, toilet serta bagian lainnya juga sudah canggih dan gak ketinggalan zaman.
Toiletnya juga bersih dan cukup lega pula, bikin perjalanan panjang makin nyaman juga jadinya.
Apalagi ditambah proses check in yang makin improved juga dengan face recognitionnya, bikin perjalanan kemarin ke Jogja Alhamdulillah lancar, nyaman, tanpa hambatan berarti.
Kalian sendiri sudah pernah naik kereta Taksaka atau bahkan check in di kereta pakai face recognition belum? Jadi makin cepat yaa proses check in-nya 😉
Sumber lain:
