[Review] A Hole In The Head

Waah, ini udah buku ketiga Annisa Ihsani looh, temen kuliah sayaa (penting amat mesti nyebut2 temen kuliah, wkwkwk). Buku pertamanya, Teka Teki Terakhir saya review juga di blog.

Tapi buku keduanya, A untuk Amanda belum sempet saya review, uhuhu. Mengingat cerita di buku kedua itu tentang Amanda yang depresi, jadi agak-agak ragu juga untuk mereviewnya sih 😀

Buku kedua terkesan lebih gloomy & dark soalnya, jadi bacanya aja udah bikin saya jadi tertekan sendirian dan jadi mempertanyakan semua hal dalam hidup ini, ahahah. Continue reading “[Review] A Hole In The Head”

[Parenting] Kebiasaan Buruk 4 (Bicara Tidak Tepat Sasaran) dan 5 (Menekankan Pada Hal-hal yang Salah)

BICARA TIDAK TEPAT SASARAN [4] DAN MENEKANKAN PADA HAL-HAL YANG SALAH [5]

Kenapa kebiasaan buruk 4 dan 5 ini saya jadikan satu? Karena kedua kebiasaan ini biasa berjalan bersamaan. Misalnya, saat anak sudah remaja dan ingin pergi dengan teman-temannya padahal dia masih memiliki satu kewajiban yang belum dikerjakan, yaitu membereskan kamarnya. Nah, contoh bicara tidak tepat sasaran dan menekankan pada hal-hal yang salah adalah saat orangtua sebenarnya ingin agar anaknya membereskan kamarnya terlebih dahulu, tapi omongannya malah jadi kemana-mana.

orangtua: Nak, itu kamarnya belum diberesin, kok kamu udah mau pergi aja? kamu tu emang anak yang gak bertanggung jawab banget ya. papa mama udah sering ngasih tau juga kalau mau pergi kemana2 harus beresin kamar dulu. kemaren juga tuh, kamu gak nyuci baju kamu sendiri  yang menumpuk. jadi anak kok gak rapi banget. papa mama gak suka deh kamu kayak gitu

anak: X0*lkr$*%(2 o_O

Bicara tidak tepat sasaran.

Apa yang diinginkan orangtua? Agar si anak membereskan kamarnya bukan? Di ocehan tersebut si orangtua malah membicarakan banyak hal. Tentang anak yang tidak bertanggung jawab, tentang baju yang tidak dicuci, tentang anak yang tidak rapi. Si anak malah jadi bingung dan merasa sangat dipojokkan dan malah membuatnya frustasi.

Buatlah kesepakatan