Tetangga Masa Gitu di Net TV

Kalau beberapa bulan lalu saya sudah membicarakan acara-acara favorit saya yang ada di Net TV, sekarang acaranya nambah lagi, hihi. Yaa, berhubung acara ini juga baru muncul sih, sekarang malah baru sampe episode 28 dan tayang setiap hari Sabtu-Minggu jam 18.30 malam. Sudah tau serial apa? Yaa, dari judul juga udah tau kalii XP

Iyes, “Tetangga Masa Gitu?”. Ini serial lucu deh. Gak komedi-komedi banget sih, tapi cukup menghibur. Menghibur saya dan suami sih khususnya. Nah, suami tadinya gak aware tiap kali saya ngomongin ini. Tapi, 2 minggu terakhir malah dia yang keranjingan nonton. Terlebih karena ada si Chelsea Islannya -_- Etapi dia emang lucu imut gitu sih, haha.

Tersebutlah ada dua pasangan suami istri tetanggaan. Yang satu baru saja menikah, yaa mungkin 1 bulanan laah. Yang lainnya sudah 10 tahun menikah. Yang lucu adalah, si Adi (suami dari pasangan 10 tahun menikah) ini sering belajar bagaimana caranya bersikap romantis pada Bastian (si suami dari pasangan baru menikah).

Nah, berhubung kita gak ada TV, kita jadinya nonton dari YouTube deh, hihihi. Di situ ada channelnya tersendiri, lengkap loh dari episode 1. Jadi, sekarang saya dan suami kalo mau menghabiskan waktu santai yang tidak begitu lama, tinggal nonton Tetangga Masa Gitu aja, hihi.

Btw, ada playlist YouTube-nya juga lho:

[youtube=”http://www.youtube.com/watch?v=cvsNll-1t8w&list=PLObURnEFJ80UFwQQZP_v9zR8zbW6Pq-T8″]

Sebenernya ada 1 lagi sih serial yang lucu. Judulnya “Keluarga Masa Kini”. Kalau yang ini menceritakan keluarga yang unik gitu deh. Walaupun sama-sama lucu, tapi saya gak bisa bercerita banyak, karena jarang-jarang nonton ini, lebih kepincut sama Tetangga Masa Gitu soalnya, hehe.

[youtube=”http://www.youtube.com/watch?v=dWqQ9CQZH_M&list=PLObURnEFJ80VMf37q8pTGHoZ5Lzhm9Yq-“]

Makin demen deh mantengin Net TV kalo begini, hihi.

 

Rekreasi ke Taman Mini Indonesia Indah

Hari Kamis awal bulan, kira-kira tanggal 5 Juni 2014 kemarin saya berinisiatif ngajak Naia pergi ke TMII. Yaah, daripada Naia bosen ya kan main di rumah mulu. Sebenernya tadinya antara mau ke rumah teman, ke taman kota, atau ke TMII. Akhirnya pilihannya jatuh ke TMII deh. And yap, suami gak ikut karena kerja. It’s mother and daughter’s tiime, yeaa. XP

Seperti biasa, saya kalo pergi-pergi berdua sama Naia ya naik angkot. Angkot yang saya tumpangi adalah S15 A dengan rute Pasar Minggu – TMII. Tapi, masuk Taman Mini-nya bukan dari pintu Utama, melainkan pintu 2. Sama aja lah yaa, yang penting masuk TMII. Sepanjang perjalanan di angkot ini Naia tidur dengan pulas. Alhamdulillah, sesampainya di pintu 2 TMII dia bangun. Dan semoga dia segar saat kita berkeliling nanti.

Tiket masuk untuk 1 orang hanya 10.000 rupiah, gak mahal ya? Hihi, lagi-lagi rekreasi yang murmer. Oh iya, saya bayar angkot juga cuma 4.000 rupiah lho.

Jujur saja, saya belum punya rencana bakal ngapain aja di TMII ini saat berangkat tadi, pun saat sudah sampai di sana. Yaa, saya mengunjungi apa yang saya bisa temui saja deh. Tanpa peta dan tanpa rencana sepertinya lebih asik. Anjungan pertama yang terdekat dari pintu 2 ini adalah anjungan daerah Jambi. Berhubung Naia juga harus minum susu dan di anjungan biasanya ada tempat untuk beristirahat, saya masuk deh. Saat berada di anjungan itu saya melihat kereta gantung dan langsung berpikir selanjutnya naik itu saja untuk memperlihatkan TMII dari atas ke Naia. Semoga Naia gak takut yaa.

Continue reading “Rekreasi ke Taman Mini Indonesia Indah”

Mengenal Warna dengan Kardus Bekas

Kira-kira lebih dari setahun lalu, yaa setahun 4 bulanan yang lalu lah, kita sekeluarga ikut Cikal main-main. Cikal main-main itu semacam kegiatan bermain bersama yang diadakan oleh sekolah Cikal, playground dan TK gitu deh di daerah Cilandak. Di acara itu ada salah satu mainan dimana harus memasukkan bola-bola berwarna ke kardus besar dengan warna yang sesuai. Biru ke kardus biru, kuning ke kardus kuning, dan merah ke kardus merah.

Berhubung waktu itu umur Naia baru setahun lebih 1 bulan, jadi dia belum faseh banget sama yang namanya warna. Yaa, masih asal gitu masukin bolanya. Bola biru ke kardus kuniing, bola yang warna lain ke kardus lainnya gituu, hehehe. Kalaupun ada bola yang dimasukkan di kotak yang sesuai, itu cuma kebetulan :p

Naia memasukkan bola
Naia memasukkan bola

Sekarang, Naia sudah 2 tahun lebih. Dan saya yakin dia sudah mulai bisa mengenal warna. Keseharian sih suka ditanya ini warna apa dan itu warna apa, dan dia hafal sekali dengan warna hitam dan merah. Tapi, apa cuma itu? Saya ceritanya mau sekedar “ngetes” kemampuannya mengenal warna. Apa ia juga tau warna-warna lainnya selain hitam dan merah itu?

Continue reading “Mengenal Warna dengan Kardus Bekas”

Lampu Teman Berimajinasi Anak dari Philips Disney

Terkadang saat menjelang tidur, kami suka menceritakan Naia kisah-kisah apa saja. Bisa dongeng, bisa membacakan buku yang Naia punya, bisa juga ngarang sendiri. Lumayan, memancing imajinasinya Naia menjelang tidur gitu, siapa tau tidurnya bisa lebih nyenyak plus mimpi indah.

Nah, kalau kita mau bercerita gitu tetapi lampu kamar sudah dimatikan *yes, kita tidur dengan lampu mati*, biasanya kita menyalakan lampu satu lagi yang lebih temaram. Lampu tidur gitu istilahnya. Lampu tidur yang kami punya itu walaupun untuk menghidupkan dan mematikannya mudah, cukup sentuh saja, tapi karena bahan rangkanya terbuat dari besi serta lampunya bukan lampu LED, jadi saya cukup takut juga kalau-kalau Naia kena setrum atau panas lampu tidur. Karena jujur saja, Naia senang sekali memainkan lampu itu. Bahkan kalau saya dan suami sudah sangat mengantuk, tapi dia masih mau main, dia memilih memainkan lampu itu. Sayanya kan jadi gak tenang dan gak bisa tidur  -_-

Kemudian, hari Rabu kemarin, tanggal 11 Juni 2014, Philips mengadakan acara Launching Imaginative Lighting Philips Disney

Petualangan Mandi Naia

Naia itu sekarang kalau mandi gak bisa gak bawa mainan, hihi.

Jadi, sejak umur Naia 18 bulanan, dia sudah agak susah untuk diajak mandi. Entah yang meledek, lari-larian, sampai pura-pura tidur lagi. Iyaa, pura-pura tiduuur. Dia suka pura-pura merem kalau kita bilang “Naia mandi yuk” -_-

Karena itulah saya harus lebih pintar lagi dalam membujuknya mandi. Kenapa saya sebut petualangan mandi? Karena dalam hal membawa mainannya, dia seperti sedang berpetualang untuk mencari cara yang paling pas untuk menemaninya mandi. Entah ya apa imajinasinya sampai dia membawa mainan tertentu. Tapi mainan yang sama bisa bertahan sampai beberapa waktu tertentu. Dan membujuknya mandi akan sangat mudah saat Naia masih dalam rentang waktu menyukai mainan tertentu itu. Kalau sudah bosan, saya dan suami harus mencari cara lagi agar mandinya lebih mengasyikkan dari sebelumnya. Malah kalau bisa, selain mengasyikkan, dia juga belajar sesuatu 😀

Mengapung dan tenggelam

Iyes, saat Naia awal-awal susah diajak mandi, dia lagi seneng-senengnya masukin batu-batu kecil ke got. Saya memberitahunya kalau itu namanya tenggelam, dan dia suka sekali dengan hal itu.

Berhubung di rumah ada mobil-mobilan terbuat dari plastik, saya pergunakanlah mainannya itu untuk membujuknya mandi. Caranya gimana? Berhubung Naia sedang sangat menggemari permainan tenggelam tadi, saya bilang ke dia “Mobil-mobilan ini kalau dicemplungin ke air tenggelam atau mengapung yaaa?” Mukanya langsung terlihat berubah menjadi lebih excited dan ia segera berlari ke kamar mandi. Yes, berhasil!

Oiya, dia tidak sekedar melempar-lemparkan mobil-mobilan ini ke air

Membuat Second’s Anniversary Album dengan Pictalogi

*Updated*

Sejak menikah dengan Ilman Akbar, saya sudah punya keinginan untuk mencetak foto-foto kenangan kita bersama seiring waktu berlalu. Salah satu proyek tahunan hidup saya adalah dengan adanya album foto di setiap tahun pernikahan. Jadi, umur pernikahan kita bisa dilihat dari berapa banyak album foto yang kita punya, hehe. Pastinya setelah dikurangi album foto saat menikah yaa 😀

Nah, di tahun pertama kemarin, saya suksess merealisasikan keinginan saya itu dengan baik. Alhamdulillah saya mengetahui ada salah satu studio foto yang sedang melakukan promo sehingga membuat album cetak jadi lebih murah. Mulai deh saya mengumpulkan foto sejak awal menikah sampai kira-kira foto tahun pertama menikah.

Album Setahun Pernikahan
Album Setahun Pernikahan

Sayangnya walaupun sekarang pernikahan kami sudah hampir memasuki tahun

Naia Ngepel

Kejadian ini berlangsung kemarin 😀

Naia, 26m. Saat tau saya mau ngepel rumah, dia jalan ke rak buku dan berinisiatif ngambil buku mewarnai lengkap dengan crayonnya. Daaan, dengan tenangnya dia mewarnai di kasur sampai saya selesai ngepel rumah. Subhanallah yah.

Tapi begitu saya mau ngepel teras, dia lalu lari keluar dan ngomong “Naia”. Maksudnyah Naia aja gitu yang ngepel, berhubung dia sebelumnya juga udah pernah 2x saya biarkan mengepel teras yang sebelumnya sudah dipel. Akhirnya begitu saya selesai ngepel teras, saya kasih deh pel yang bergagang itu ke dia.

Rasanya gimanaa gitu  ya melihat anak dengan bangganya bilang “ciih, antai, pel” -> artinya bersiiih lantainyaaa udah dipel. Saya tanya siapa yang ngepel dan dia jawab lagi dengan bangga “Naia”. Wahaha

Haha, sampai gede ya nak begitu, lumayan nanti ngurang-ngurangin kerjaan emaknya XP

Brain Child

brainchild

image credits

Judul: Brain Child – Cara Pintar Membuat Anak Menjadi Pintar
Karangan: Tony Buzan
Tahun: 2003
Rating: 4/5

Preview

Tahukah anda jumlah sel otak anak saat dilahirkan mencapai 166 kali lipat jumlah seluruh manusia yang saat ini tinggal di planet kita? Jumlahnya yang juta-jutaan itu membuat kemampuan otak anak sungguh tak terbatas. Tetapi, kemampuan tersebut harus diasah, dirangsang, dan diberi lingkungan yang tepat agar bisa digunakan secara maksimal.

Ini adalah buku petunjuk bagi para orangtua untuk membimbing anak agar mereka memanfaatkan setiap sel otaknya secara optimal. Di dalamnya terdapat cara-cara untuk:

  • Menggali potensi otak anak
  • Membesarkan anak agar menjadi pribadi yang bahagia dan percaya diri
  • Melatih kecerdasan majemuk anak
  • Berbagi keceriaan bersama anak dengan menggunakan permainan memori, keterampilan berhitung, dan Mind Map berwarna

Melalui buku ini, Tony Buzan mengajak Anda menempuh sebuah perjalanan mengasyikkan untuk menyusuri seluk beluk otak anak dan memunculkan kegeniusannya yang selama ini terpendam.

***

Buku ini sudah saya baca sejak saya lahiran. Untuk mengisi waktu di rumah gitu selain mengurus Naia, hehe.

Buku ini membahas semua hal mengenai

Kriteria Memilih Sekolah

Iyes, saya setuju banget sama 25 kriteria tambahan ini untuk memilih sekolah. Justru mungkin inilah yang terpenting buat saya dan suami saat memilih sekolah untuk anak nantinya. Selain tentu saja si anak suka atau tidak dengan kondisi sekolahnya ya 😀

checklist
Photo Credit: StockMonkeys.com via Compfight cc

Biasanya orangtua memilih sekolah baik berdasarkan kriteria: nilai ujian siswa, passing grade, atau biayanya. Namun pakar pendidikan Ian Gilbert dalam bukunya, Independent Thinking, mengajukan 25 parameter yang bisa jadi panduan bagi orangtua dalam memilih sekolah yang baik untuk anaknya. Bagi pengelola sekolah, daftar ini bisa jadi panduan tambahan untuk menciptakan atmosfer pembelajaran yang kondusif.

1. Apakah para siswa menikmati belajar di sekolah itu?
2. Apakah para guru menikmati mendidik di sekolah itu?
3. Apakah para siswa merasa tertantang dengan kegiatan-kegiatan di sekolah itu?
4. Apakah para siswa juga mengembangkan kompetensi, tidak hanya mendapat nilai tinggi belaka?
5. Apakah para siswa juga mempelajari keterampilan dan tidak hanya fakta-fakta pengetahuan?
6. Apakah nilai-nilai moral juga menjadi fokus dan diteladankan oleh setiap anggota komunitas sekolah?
7. Apakah terdapat cukup atmosfer inklusif di mana semua siswa dihargai berdasar jati diri mereka dan apa yang mereka bisa?
8. Apakah isu-isu penting seperti bullying dan berbagai aspek sosial dan emosional lain dalam kehidupan sekolah didiskusikan secara terbuka dan positif?
9. Apakah kemampuan untuk berpikir sendiri didorong dan dikembangkan bagi seluruh siswa?
10. Apakah sekolah memiliki unsur kesenangan dan keriangan?
11. Apakah aspek-aspek seperti rasa ingin tahu, kekaguman, keberanian, kegigihan dan ketahanan didorong dan disambut secara aktif?
12. Apakah para guru terbuka terhadap ide-ide baru dan tertarik melakukan berbagai kegiatan bersama – bukan terhadap – para siswa?
13. Apakah sekolah mengikuti perkembangan terbaru dalam dunia pendidikan dan pembelajaran?
14. Apakah sekolah mengikuti perkembangan terbaru dalam dunia teknologi pendidikan?
15. Apakah harapan yang tinggi juga disematkan kepada para guru dan pengelola sekolah, seperti juga disematkan kepada para siswa?
16. Apakah kepala sekolah “terlihat” dan mudah diajak berinteraksi?
17. Apakah para siswa disadarkan bahwa mengeluarkan yang terbaik dari diri sendiri tidak harus berarti menjadi lebih baik dari orang lain?
18. Apakah sekolah terbuka terhadap hal-hal di luar dugaan (yang positif)?
19. Apakah para siswa diajak berpikir tentang, berinteraksi dengan, dan berusaha berkontribusi pada kehidupan di luar dinding sekolah?
20. Apakah sekolah sadar bahwa pembelajaran adalah sesuatu yang bisa dilakukan siswa kapan pun, di mana pun, dan hanya sebagian di antaranya saja yang perlu dilakukan di dalam dinding sekolah?
21. Apakah komunitas sekolah terbentang sampai keluar dinding sekolah (melibatkan masyarakat)?
22. Apakah proses belajar mengajar di dalam sekolah memasukkan berbagai variasi kemungkinan dan kesempatan pembelajaran?
23. Apakah para siswa diberi kesempatan untuk bertanggung jawab terhadap sesuatu dan untuk mengambil keputusan yang berdampak penting?
24. Apakah hasil pembelajaran yang didapatkan cukup sebagai bekal siswa untuk melangkah ke fase hidupnya berikutnya?
25. Apakah resepsionis, guru, petugas kebersihan, dan seluruh staf sekolah tersenyum kepada orangtua dan pengunjung sekolah?

Emang mungkin susah sih nyari sekolah yang benar-benar ideal. Dan jaman sekarang sudah banyak yang menerapkan home schooling. Tapi saya merasa saya dan suami masih akan menyekolahkan anak di lembaga sekolah yang paling tidak mendekati sekolah ideal menurut kami. Semoga kami mendapatkan yang terbaik 🙂

Daan, credits go to Kreshna Aditya. Dialah yang membuat status Facebook berisi 25 kriteria itu ^^

[Parenting] Kebiasaan Buruk 12 & 13, Merasa Salah dan Pasrah

Keputusan saya untuk bekerja di rumah setelah punya anak sangat saya syukuri. Pasalnya, saya bisa menyediakan waktu seharian penuh untuk anak saya. Tapi terkadang, waktu seharian itu bukan waktu yang benar-benar berkualitas sih karena pikiran saya dipenuhi oleh hal lain #ups. Ya misalnya saja pekerjaan yang belum selesai, atau sekedar masih ingin ngobrol atau berinteraksi di dunia maya. Terkadang walaupun saya bersama Naia, tangan saya tidak lepas dari gadget *huhu*. Iya, saya jadi merasa bersalah kalau sadar telah begitu.

Yang membuat saya sadar dan merasa bersalah terkadang karena Naia yang mulai melempar-lempar mainannya atau merengek-rengek gak jelas minta perhatian. Alih-alih kesal *awalnya sebel juga sih padahal XP* dengan rengekan dan tindakannya melempar barang itu, saya yang jadi mikir ke dalam diri sendiri, ini berarti saya sudah mengambil waktu berharga kami. Ya seketika itu juga saya berusaha biar bisa asik lagi dan main berdua lagi deh. Dengan begitu, waktunya dihabiskan dengan berkualitas lagi, hehe.

Namun, biasanya orangtua yang keduanya bekerja memaklumi kenakalan anaknya

Teka-Teki Terakhir

Yap, ini judul buku Teenlit karangan teman saya, Annisa Ihsani. Salah satu buku yang gak bisa ditutup sekali dibuka. Walaupun saya menyelesaikannya selama 2 hari juga sih, itu juga karena terpotong bermain sama anak. Untung esok harinya suami libur, jadi saya bisa melanjutkannya sampai habis dan menghilangkan rasa penasaran, hehehe.

teka_teki_terakhir

Image Credits

Judul: Teka-Teki Terakhir
Karangan: Annisa Ihsani
Tahun: 2014
Rating: 5/5

Sinopsis

Gosipnya, suami-istri Maxwell penyihir. Ada juga yang bilang pasangan itu ilmuwan gila. Tidak sedikit yang mengatakan mereka keluarga ningrat yang melarikan diri ke Littlewood. Hanya itu yang Laura tahu tentang tetangganya tersebut.

Dia tidak pernah menyangka kenyataan tentang mereka lebih misterius daripada yang digosipkan. Di balik pintu rumah putih di Jalan Eddington, ada sekumpulan teka-teki logika, paradoks membingungkan tentang tukang cukur, dan obsesi terhadap pernyataan matematika yang belum terpecahkan selama lebih dari tiga abad. Terlebih lagi, Laura tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari semua itu.

Tahun 1992, Laura berusia dua belas tahun, dan teka-teki terakhir mengubah hidupnya selamanya…

***

Saya ikut senang saat buku pertama karangan teman saya ini dicetak oleh penerbit ternama sekelas GPU (Gramedia Pustaka Utama). Dari ceritanya, dia hanya mengirim 1 kali saja ke penerbit dan langsung diterima. Wow banget kan? Begitu ada di toko buku, gak pake mikir 2 kali lagi deh untuk beli ini.

Dari kategorinya *Teenlit*, saya udah ngebayangin

Me-Time

Kalau beberapa waktu yang lalu saya menyebutkan “me-time” sebagai salah satu sarana penyaluran emosi, sekarang saya mau ngelist kegiatan apa aja yang bisa saya sebut sebagai me-time itu 😀

Berlama-lama di kamar mandi

Terkadang waktu untuk mandi adalah saat-saat saya bisa melakukan me-time dengan sangat puass. Berlama-lamanya tentu bukan untuk gak ngapa-ngapain juga. Kadang saya keramas, yang biasanya mengaplikasikan shampo hanya 1 kali, kalau sedang me-time bisa2 sampai 2 atau 3 kali *sayang samphonyaaah* XP.

Atau, terkadang saya luluran *uhuk*. Iya, luluran sendiri pake lulur mandi. Untungnya kalau sedang me-time di kamar mandi ini, suami sangat mengerti. Jadi, dia gak akan deh gedor2 kamar mandi nyuruh saya cepet2 udahan, hehe.

Dan, ternyata me-time di kamar mandi ini kayaknya nurun ke Naia deh, hahaha. Dia suka berlama-lama di kamar mandi. Tapi, dia sih terkadang sambil mainan atau mandiin mainannya sekalian.

Btw, me-time di kamar mandi ini tidak dilakukan setiap kali saya mandi loh, cuma sesekali aja. Jadi, mandi saya yang normal mah sebentar, paling 10-15 menit aja. Tapii kalau sedang me-time, ya bisa sampai 30 menit sampai 1 jam deh 😀

Blogwalking

Seriously, blogwalking adalah salah satu me-time yang sangat-sangat melegakan hati. Seneng aja gitu bisa baca banyak tulisan. Pengetahuan saya bisa bertambah sekaligus saya jadi tau banyak banget pemikiran dari banyak orang. Dan semakin mengerti kalau setiap kita itu memang berbeda dan unik, makanya pemikirannya pun belum tentu sama, hampir pasti berbeda juga malah.

Dibanding baca portal berita atau gosip, blogwalking jauh lebih menarik untuk saya, hehehe.

Berdandan

Wahaha. Saya emang jaraaaang banget dandan. Paling2 kalau mau kondangan doank. Nah, kalo saya lagi iseng2 gini, ya emang beneran lagi mau me-time aja. Dan itu juga cuman buat suami di rumah jadinya. Makanya gak akan ada yang protes kalau dandanan saya jelek atau tidak sesuai harapan, hahaha.

FYI, saya gak jago dandan. Jadi, saat-saat me-time dandan ini bener2 dandan ngasal & asal oles2 yang bisa dioles, wkwkwk.

Menulis

Awalnya saya hanya tertarik untuk menulis keseharian saya di blog. Tapi semenjak gabung di komunitas keren KEB, saya jadi kepikiran untuk memfokuskan blog ini di salah satu hal *ya keseharian lah yak, hahaha*. Bukan, bukan, emang sih masih suka saya selipkan cerita keseharian, tapi maksudnya mau difokuskan untuk parenting. Hihi, padahal ilmu saya juga masih cetek, tapi ya Bismillah aja lah ya. Itung2 saya belajar sendiri juga. Setiap ada topik parenting menarik hati, langsung saya catat di blog dengan kata-kata saya sendiri biar saya bisa inget terus apa yang saya baca.

Plus, karena suami saya menerbitkan buku 101 Young CEO dan itu artinya tulisan dia dibaca dan dihargai oleh banyak orang, saya jadi iriiii, huhu. Terlebih lagi, teman kuliah saya, Annisa Ihsani juga sudah menerbitkan buku (Teka-Teki Terakhir). Ditambah, saya diajak untuk mengikuti workshop menulis Asma Nadia beberapa waktu lalu bareng suami. Makin nempel deh hobi menulisnyah, hehe. Dan jadi makin tertarik untuk menulis dengan berbagai gaya dan berbagai sudut pandang *ini seriusan dipengaruhi oleh workshop itu, haha*.

Kayanya saya lupa apalagi XP. Kalau ingat, nanti kapan2 saya tambahin aaah 😀

It’s All About Giving

Have we already give something today? Giving is not only about thing. What I mean with giving is much more than that.

I have just realized that this life is all about giving. Giving your best smile, giving your precious time to precious people, giving your maximum energy to do the office work, or just giving your best potential to do the things you can do with the best result.

Focusing on giving will make us live the better life. It could be more peaceful and we could be more grateful. What’s the connection about giving and grateful, you asked? When we giving something with our heart, we will not really care what we can get. We don’t really care if we get nothing from giving. But we will be soo much grateful if we get something unexpectedly. Yea, just care about giving. Anywhere. Anytime. Would you?

giving
giving

image credits

When we have no intention in always giving, we will be live in sorrow. Also, we will always be envious in what other people can get. On the other hand, if we always giving, the blessed that we can get from Allah SWT will always be seen. So that, there is no sorrow or feeling envy. It’s a better life, isn’t it?

Hope I could always be giving the best of me. To my family, my environment and my only one God, Allah SWT 🙂

[Parenting] Kebiasaan Buruk 11, Hadiah untuk Perilaku Buruk Anak

Pernah gak sih kita lagi asik-asik belanja eh “direcokin” sama bocil alias anak kita? Kita sih berharap bocil yang kita ajak itu gak minta macem-macem saat kita belanja ya dan sudah memberi pengertian padanya. Etapi tiba-tiba di supermarket saat si bocil itu liat mainan dan sesuatu  yang menarik matanya dia malah merengek-rengek minta mainan itu. Dan kalau tidak kita turuti, dia akan menangis sejadi-jadinya. Kalau sudah menangis begini kita biasanya ngapain sih?

6149793560_0b279ca83d_o

 image credits

Kayanya kebanyakan dari kita biasanya langsung memberi apa yang dia minta tadi lah yaa, hehe. Padahal, ternyata hal itu malah salah loh. Karena kalau kita menuruti, sama saja si bocil akhirnya dapet hadiah atas rengekannya itu alias perilaku buruknya. Dan, ya gak heran kalau nanti dia bakal begitu lagi begitu lagi di kesempatan selanjutnya.

Terus gimana donk? Intinya sih balik lagi tentang kesepakatan ortu dan anak. Kalau sebelum ke supermarket kita sudah bersepakat dengan anak apa yang mau dibeli dan apa yang gak mau dibeli, si anak akan mengerti kalau dia nantinya tidak akan dibelikan hal yang gak mau dibeli tadi.

Misalnya, tujuan kita ke supermarket adalah untuk belanja bulanan dan bukan untuk membeli mainan. Jadi, nantinya si anak mengerti kalau kita tidak akan membelikannya mainan karena bukan itu tujuan ke supermarket saat itu. Kecuali ya di rumah bersepakat setelah belanja bulanan atau selama belanja bulanan, si anak boleh membeli 1 mainan saja. Intinya sih, tergantung gimana isi kesepakatan ortu dan anak lagi yaa 😀

Nah, kalau ternyata anaknya minta terus dengan merengek dan belum biasa bersepakat gimana? Permulaan pembiasaan bersepakat perlu sedikit rasa “tega” sih menurut saya. Karena sebaiknya saat dia merengek, kita tidak menghiraukannya alias “nyuekin”. Kalau dicuekin seperti itu, memang sih berisik dan akan membuat kita jadi pusat perhatian, tapi percaya deh, anak akan capek sendiri dan menyadari kalau rengekannya tersebut tidak berhasil. Atau malah akan terjadi kesepakatan baru. Misalnya, kalau dia benar2 mau apa yang diinginkan, buat ia bersabar sampai urusan kita selesai. Kalau ia mau bersabar, maka ia akan mendapat apa yang diinginkannya, tapi kalau tetap merengek, ya dia tidak akan mendapat apa2.

Hadiah untuk perilaku buruk ini juga gak melulu terjadi di tempat keramaian lho ya. Di rumah juga bisa. Contohnya sih kalau dia ingin jajan tapi karena kita tau itu jajanan yang tidak sehat kita tidak akan membelikannya. Nah, si anak juga bisa merengek karena hal ini. Kalau akhirnya kita berikan jajanan tersebut, jajanan itulah yang menjadi hadiah rengekannya itu. 😀

So, intinya, biasakan bersepakat yuk! Dan, jangan cepat menuruti keinginan anak saat perilaku buruknya muncul. Happy Parenting 😉

Naia Meniru Ekspresi

Suatu hari, Naia lagi iseng nyari-nyari buku buat dibaca dari lemari bukunya ~yap, saya memberi satu ruang di lemari buku yang saya punya khusus untuk buku2nya Naia, hihi~. Eh, bukannya ngambil buku, dia malah nemu sesuatu. Saya tau dia gak ngambil buku karena tiba-tiba dia mengangkat satu tangannya dan bilang “ama” *maksudnya “sama”*. Saya bertanya, “Apa yang sama?” dia lalu menunjuk ke salah satu cover VCD lalu mengangkat tangannya lagi. Ternyata dia sedang menirukan gayanya Ujo yang ada di cover film Mengejar Matahari bagian belakang, hahaha.

Ujo paling belakang :D
Ujo paling belakang 😀

gambar dari sini

Setelah itu, tanpa diminta, Naia menirukan semua gaya yang ada di cover bagian belakang itu, hihihi.

Di kemudian hari lagi, saya membaca buku Raditya Dika yang “Marmut Merah Jambu” di rumah Yangtinya Naia *alias rumah mertua*. Tiba-tiba Naia menghampiri dan meragakan apa yang dilakukan oleh Raditya Dika di cover buku itu. Saya lalu tertawa dan adik ipar saya lalu mengambil buku lain, yaitu buku “Akhirnya Tertawa Juga” dan meminta Naia meragakan kembali gaya cover buku tersebut. Dan sekali lagi, walaupun sedikit lebih sulit dan dia perlu bersusah payah, Naia berhasil meragakan gaya itu, hehe.

Gambar dari goodreads

Baru-baru ini dia lagi keranjingan film Frozen. Jadi hampir tiap hari nonton ituuuu terus. Nah, di situ, dia paling ingat dengan kata-kata “Yoohoo” yang big summer blowout serta paling faseh meragakan gaya Anna saat jalan cepat-cepat sambil kedinginan setelah sebelumnya jatuh ke sungai.

[youtube url=”http://www.youtube.com/watch?v=lpzvS0ATxB4″]

Lucunya kamu nak, ciuum :-*

Btw, kalau lagi senang2 begitu, saya memang suka lupa untuk mengambil fotonya, jadilah gak ada foto Naia sama sekali di bagian meniru ekspresi ini, hee.