Balita Senang, Kita Nyaman

Sewaktu umur keponakan saya belum menginjak usia 5 tahun alias masih balita, saya menyaksikan sendiri bagaimana keingintahuannya dan kreativitasnya berkembang. Apalagi saat mereka baru pertama kali diberi pulpen atau semacamnya. Mereka jadi berpikir bisa corat-coret seenaknya deh di mana-mana. Tembok rumah ibu saya pun bisa jadi korban. Dan saya yang tinggal di dalamnya jadi risih sendiri melihat tembok yang tidak bersih rapi. Tapi mau diapain lagi, namanya juga balita yang masih suka corat-coret di mana-mana.

524606342_2a788d5da9

Image by Toni Verdú Carbó on Flickr

Saya jadi berpikir gimana supaya anak saya nanti gak corat-coret sembarangan di tembok begitu. Bikin saya gak nyamaaan euy rumah penuh coretan, huhu. Bagusnya sih diberi arahan sebaiknya mereka boleh nulis itu di mana saja. Saya pernah lho mempraktekkannya langsung ke anak tetangga, itung-itung uji coba lah sebelum ke anak sendiri, hihi. Dia meminta pulpen karena ingin menulis-nulis sesuatu. Saya kasih deh dia pulpen tapi dengan perjanjian kalau hanya boleh menulis di kertas atau buku yang saya kasih aja *alias buku kakaknya* dan kalau dia menulis di tempat selain itu, pulpennya saya ambil lagi. Dia setuju dan berhasil, gak ada tuh coretan di tembok.

Tapii coretan di tembok kan bisa jadi bagus juga yaa

Sabar dan Pengendalian Emosi

sabar

Image by Montecruz Foto on Flickr

Punya anak ituh yah seakan-akan kita belajar mengenai diri kita sendiri juga. Bagaimana tidak, kita sebagai orangtua biasanya menuntut anak untuk bisa ini itu dan untuk punya segala kebiasaan baik. Sedangkan kita sendiri gimana? Apa kita udah punya kebiasaan baik yang kita inginkan dari anak kita?

Walaupun saya baru punya anak 1 dan itu juga baru mau 2 tahun, saya udah sering banget nulis hal-hal tentang parenting. Bukan karena saya udah jadi orangtua yang segitu sempurnanya banget. Belum. Sama sekali belum. Masih jauh banget malah dari sempurna. Saya memang gak mencari kesempurnaan sih, saya mencari kebahagiaan. #asseek

Saya hanya mau menuliskan hasil yang saya pelajari saja dari buku-buku yang saya baca, milis yang saya ikuti, sampai seminar yang saya datangi. Dan ditambah lagi dengan pengalaman yang masih jauh dari cukup ini. Dan hal itu bukan untuk menggurui siapa-siapa, tapi saya gunakan sebagai pengingat diri pribadi. Sukur-sukur tulisan saya ada yang baca jadi bisa menjaring lebih banyak orang lagi yang sadar akan pentingnya hal yang namanya pengasuhan anak ini.

Saya juga orangtua yang sering kesal dan pernah marah kok.

[Parenting] Perhatian itu Penting!

Baru saja kemarin saya membaca sebuah artikel yang menyebutkan kalau kasus pembunuhan yang baru-baru ini ramai terdengar merupakan ketidaksengajaan. Yap, pembunuhan remaja perempuan yang bernama Ade Sara Angelina (18) yang itu. Yang dibunuh oleh mantan pacar dengan pacar barunya si mantan, yang ternyata adalah teman satu SMA.

Memang saya menyetujui kalau terbunuhnya Sara mungkin ketidaksengajaan. Namun saya tetap tidak bisa membenarkan tindakan penganiayaan terhadapnya. Bahkan bisa dibilang saya mengutuk tindakan seperti itu. Walaupun mungkin Sara tidak sengaja terbunuh, mereka tetap merencanakan tindakan kejahatan untuk menyiksanya. Dan hal itu adalah tindakan yang sangat buruk. Mereka tidak bisa memperkirakan apa dampak negatif dari rencana jahat mereka. Mereka tidak bisa memperkirakan konsekuensi dari tindakannya.

Dan, beberapa waktu yang lalu saya membatin kalau…

[Parenting] Kebiasaan Buruk 9, Menakuti Anak

Terkadang demi membuat anak kita diam dan tenang dari tangisannya, kita malah menakut-nakutinya dengan hal yang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Seperti saat anak tidak henti-hentinya menangis, orangtua malah bilang padanya “Diem gak? Nanti mama bawa ke dokter ya biar disuntik” atau “Hadeuh, nanti mama panggil polisi nih ya biar kamu diem”. Atau malah ada yang menakut-nakutinya dengan hantu-hantuan atau hal-hal yang berbau mistis, hiiy.

scaring (1)

Image by Beth Jusino on Flickr

Mungkin memang dengan begitu anak akan berhenti menangis, tapi

[Parenting] Kebiasaan Buruk 8, Campur Tangan Pihak Lain

Ada yang masih tinggal dengan orangtua walaupun sudah punya 1 atau 2 anak? Pasti ada lah yaa, hehe. Tapi sering gak sih kita gak kompak sama orangtua masalah pengasuhan anak kita? Misalnya saja, kita sedang mengajarkan anak bertanggung jawab dengan membiarkannya mengambil lap dan membersihkan sendiri tumpahan susu yang tadi diminumnya. Tapi tiba-tiba si nenek *ibu mertua atau ibu kita sendiri* melihat itu dan langsung menghentikan aksi cucu kecilnya itu. Beliau berkata, “ealah, mau ngapain bawa2 lap itu? udah, nanti biar bibi aja yang beresin, kamu main aja gih sana”. Nah lho, padahal kitanya ada di situ, tapi si nenek “mengambil alih” kewenangan kita terhadap anak.

Kita biasanya ya cuman ngedumel dalem hati karena gak enak untuk menegurnya. Atau merasa capek untuk sekedar menjelaskan alasan kita. Siapapun yang tinggal di rumah sebetulnya bisa banget melakukan ini. Mereka ngerasa gak tega, kok ya anak kecil disuruh-suruh ngerjain kerjaan rumah gitu atau kok ya anak kecil gak dibantu. Padahal maksud kita kan baik, demi mengajarkannya tanggung jawab dan kemandirian. Tapi kok ya pihak lain rasanya gak mau tinggal diam dan selalu mau menginterupsi cara kita.

Gangguan Pihak Lain

Image by Wayne Large on Flickr

Terus gimana donk menyikapi hal ini?