[Parenting] Bukan “Mengharamkan”, Hanya “Mengurangi”

Sejak mengenal ilmu pengasuhan alias parenting, saya menyadari dan memahami kenapa kata ‘jangan’ tidak bisa sering-sering kita gunakan. Saya bahkan pernah membuktikannya sendiri. Dengan tidak menggunakan kata ‘jangan’, si anak malah lebih mengerti apa yang seharusnya dia lakukan.

Namun, beberapa waktu lalu saya sempat kaget dengan salah satu artikel di salah satu situs islami yang berjudul “Untukmu yang Mengharamkan Kata “Jangan”, Adakah Engkau Telah Melupakan Kitabmu?

Sesungguhnya artikel tersebut sangat bermanfaat sebagai pengingat bagi kita-kita yang sangat anti dengan kata ‘jangan’. Namun, yang saya tangkap, dengan adanya artikel itu, kata ‘jangan’ jadi sangat diperbolehkan dan dipersilakan untuk sering-sering menggunakannya, termasuk untuk hal yang remeh temeh sekalipun. Dan yang saya pahami, artikel tersebut tidaklah menampilkan perbandingan yang setara. Artikel tersebut malah membuat para orangtua menjadi bingung mengenai cara pengasuhan mereka yang telah mengurangi kata ‘jangan’ ini.

Yayasan parenting akhirnya menjawab kebingungan para orangtua mengenai hal ini

[Parenting] Kebiasaan Buruk 4 (Bicara Tidak Tepat Sasaran) dan 5 (Menekankan Pada Hal-hal yang Salah)

BICARA TIDAK TEPAT SASARAN [4] DAN MENEKANKAN PADA HAL-HAL YANG SALAH [5]

Kenapa kebiasaan buruk 4 dan 5 ini saya jadikan satu? Karena kedua kebiasaan ini biasa berjalan bersamaan. Misalnya, saat anak sudah remaja dan ingin pergi dengan teman-temannya padahal dia masih memiliki satu kewajiban yang belum dikerjakan, yaitu membereskan kamarnya. Nah, contoh bicara tidak tepat sasaran dan menekankan pada hal-hal yang salah adalah saat orangtua sebenarnya ingin agar anaknya membereskan kamarnya terlebih dahulu, tapi omongannya malah jadi kemana-mana.

orangtua: Nak, itu kamarnya belum diberesin, kok kamu udah mau pergi aja? kamu tu emang anak yang gak bertanggung jawab banget ya. papa mama udah sering ngasih tau juga kalau mau pergi kemana2 harus beresin kamar dulu. kemaren juga tuh, kamu gak nyuci baju kamu sendiri  yang menumpuk. jadi anak kok gak rapi banget. papa mama gak suka deh kamu kayak gitu

anak: X0*lkr$*%(2 o_O

Bicara tidak tepat sasaran.

Apa yang diinginkan orangtua? Agar si anak membereskan kamarnya bukan? Di ocehan tersebut si orangtua malah membicarakan banyak hal. Tentang anak yang tidak bertanggung jawab, tentang baju yang tidak dicuci, tentang anak yang tidak rapi. Si anak malah jadi bingung dan merasa sangat dipojokkan dan malah membuatnya frustasi.

Buatlah kesepakatan

[Parenting] Kebiasaan Buruk 3, Banyak Mengancam

Kakaaak, ganti baju..!!! Dari tadi gw suruh ganti baju gak ganti2 nih anak. Gw tendang luh kalo gak ganti-ganti, cepet ganti!!!

si anak: santai, main-main, ngeledek.

si ibu: tetap teriak-teriak tanpa melakukan apa yang diancamnya: menendang.

lama kelamaan si Ibu tetap teriak-teriak lalu sambil mencubit yang akhirnya membuat si anak ganti baju sambil menangis

Pernah kalian mendengar cerita serupa? Atau bahkan cerita lain dimana si ibu memerintahkan anaknya untuk membereskan mainan dengan ancaman kalau mainannya akan dibuang? Namun apa yang dilakukan kalau anak tetap tidak mau membereskan mainan? Si ibu lah yang akhirnya membereskan mainan tanpa membuang mainan tersebut.

sumber gambar: http://www.parenting.co.id/
sumber gambar: http://www.parenting.co.id/

Jadi bagaimana agar tidak mengancam?

NYALEM a.k.a meNYALurkan EMosi

Sebagai manusia, kita pasti selalu merasakan yang namanya emosi. Entah kita termasuk yang cepat tersulut atau yang sabar. Menurut saya, orang yang sabar bukanlah orang yang tidak pernah merasa emosi atau marah. Tapi dia bisa menyalurkan emosinya tersebut dengan aman dan nyaman.

Emosi yang aman dan nyaman adalah disaat emosi kita yang meluap tidak menjadikan kita akhirnya menyakiti diri sendiri. Tidak menjadikan kita meluapkan emosi tersebut ke orang lain sehingga menyakiti orang tersebut. Tidak juga menyakiti lingkungan sekitar kita. Piring yang pecah atau barang yang rusak misalnya, atau bahkan rumah yang kebakaran *Naudzubillah*.

Nah, sudah sejak dari *kira-kira* tahun 2010an saya berusaha dan belajar agar saya bisa menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman seperti itu. Awalnya memang tidak mudah. Saya masih sering meluapkan emosi ke orang lain yang hasilnya orang yang tidak memiliki salah apapun tersebut malah terkena luapan emosi saya sehingga ia kesal. Sering juga saya membuat keputusan saat itu yang akhirnya saya sesali kemudian.

Jangan membuat keputusan saat emosi. Jangan membuat janji saat bahagia.

Dua hal inilah yang akhirnya paling saya ingat selalu. Saat sedang marah atau emosi, kita tidak akan mengerti apa yang kita pikirkan yang selanjutnya apabila kita membuat keputusan saat itu akan sangat mungkin sekali kita akan menyesalinya di kemudian hari. Maka dari itu disaat kita emosi kita harus benar-benar menahan diri untuk tidak mengambil keputusan. Tunggu sampai emosi mereda baru kita bisa berpikir secara dewasa kembali dan bisa berpikir lebih baik.

Nah, saya memiliki beberapa cara atau beberapa penyaluran emosi disaat emosi saya sedang tidak terbendung. Salah satunya adalah dengan menulis di blog ini. Ada beberapa hasil tulisan saya yang merupakan penyaluran emosi, seperti tulisan ini, hehe. Terkadang saya juga hanya berdiam diri, membaca-baca buku yang belum selesai saya baca, mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk, membuat makanan yang enak yang bisa meningkatkan mood, dan terkadang juga dengan ‘menikmati’ waktu dengan diri sendiri alias me-time. Yap, cara-cara tersebut ampuh untuk meredakan emosi saya. Emosi yang kembali mereda membuat saya bisa bergaul lagi dengan Naia dan suami tanpa menyakiti hati mereka.

Buat saya, cara menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman ini sangat penting. Ya berhubung saya sehari-hari di rumah hanya bersama Naia, saya gak mau kalau sampai akhirnya emosi saya tersalurkan ke Naia. Alhamdulillah hasil belajar menyalurkan emosi yang aman dan nyaman ini sudah terlihat sedikit demi sedikit.

Juga agar saya bisa mengajarkan Naia menyalurkan emosinya dengan aman dan nyaman nantinya. Yang tidak membuatnya menyakiti diri sendiri, lebih-lebih orang sekitar, bahkan tidak membuatnya membanting barang-barang. Karena saya percaya, orangtua yang tidak mengerti bagaimana cara menyalurkan emosi tidak akan bisa mengajarkan anak menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman.

So, sudahkah kalian menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman?  😀

Mommychi: Demi Anak dan Waktu Yang Tidak Akan Pernah Kembali

Sejak umur 12 bulanan, Naia memiliki berat badan jauh di bawah rata-rata berat badan anak seusianya. Saat itu saya dan suami masih tenang-tenang saja karena orangtua saya mengatakan saya pun dulu seperti itu. Jadi, saya dan suami menganggapnya hal genetik yang mungkin diturunkan oleh saya.

Tapi nyatanya hal tersebut salah. Kami (saya dan suami) mulai menyadari kalau Naia ‘ada apa-apa’ pada saat usianya menginjak 16 bulan. Memang sih, porsi makan Naia sangat imut dan sedikit sekali. Awalnya dokter hanya memberi vitamin penambah nafsu makan dan menyarankan untuk memberinya susu tambahan. Tapi akhirnya kamipun mulai mengikuti prosedur dari dokter untuk mencari tau ada apa sebenarnya di dalam tubuh Naia yang membuat beratnya jauh di bawah rata-rata itu, mulai dari tes urin, tes feses, sampai tes mantu (tes untuk melihat ada atau tidaknya penyakit TBC). Alhamdulillah tes mantunya ternyata negatif. Namun, dari tes feses, ternyata Naia mengalami penyerapan gizi yang kurang, karena terlihat dari banyaknya serat dan lemak baik yang keluar lagi melalui fesesnya. Akhirnya, selain diberi vitamin penambah nafsu makan, Naia juga diberi enzim tambahan untuk membantunya menyerap gizi dengan sempurna.
Pertanyaannya adalah, kenapa bisa sampai terjadi hal demikian?

Keluarga Bahagia

Hihi, ini sih dari status facebook. Saya copy paste, jadi credit bukan di saya lhoo.. ^^

[Serial Motivasi Islami]

Keluarga Bahagia Itu Sederhana Saja….

Keluarga mesra itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat bilang sama isterinya, “Bu pijitin bapak dong.. pegel neh kerja seharian.” Sementara sang isteri di lain waktu juga dapat dengan ringan bilang, “Pak, pijitan ibu dong, pegel neh seharian bersihin rumah…”

Keluarga rukun itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat melihat akun FB, Twitter atau HP isterinya tanpa isteri merasa dicurigai dan isteri dengan ringan dapat melihat akun FB, Twitter atau HP suaminya tanpa suami merasa dimata-matai….

Keluarga hangat itu sederhana saja; Kalau suami dan isteri dapat ngobrol panjang lebar berduaan dengan tema apa saja, dapat diselingi joke ringan sampai bercanda hingga ‘tonjok-tonjokan’….

Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dengan tulus memuji masakan isterinya yang sedap sedangkan di lain waktu dengan ringan dapat menegur makanannya yang kurang garam…. Sementara isteri tidak terlalu khawatir jika makanan yang dia sediakan membuat suaminya marah, atau bahkan dengan ringan suatu saat dia mengatakan, “Pak, hari ini ibu tidak masak, kita beli saja yak…”

Keluarga akrab itu