MariPro Margonda, Depok

Foto Keluarga
Foto Keluarga

Berhubung kemarin kita foto keluarganya di sini ~mariPro Margonda~, saya cuma mau sharing pengalamannya aja ya. Ini kumpulan twitnya adik ipar saya semalem, pas dia lagi kesel-keselnya, hihihi.

Enjoy ­čśë

chirpstory
chirpstory

Sebenernya ini pelajaran juga sih buat kita. Ya pelajaran buat kita, pelajaran juga buat si pelaku bisnis ~dalam hal ini MariPro~

Buat kita, pelajarannya adalah, sebelum deal harus bener-bener ditanyain sampai detail banget.

Kesalahan kita kemarin itu kan karena gak nanya juga yang dikasih di CD nanti itu semua foto atau cuma yang dicetak makanya jadi kesel begini. Tapi, kita ga nanya hal itu karena berasumsi semua studio foto akan memberi copy-an foto yang mereka ‘jepret’ walaupun yang mau dicetak hanya beberapa.┬áSoalnya pengalaman saya selama ini, di semua studio foto yang pernah saya datangi memang begitu sistemnya. Sebelumnya saya dan keluarga saya pernah foto keluarga 2x pun begitu, mereka ngasih copy-an semua fotonya ke kita walaupun yang dicetak cuma 1.

Buat si pelaku bisnis, harusnya mereka menjelaskan selengkap-lengkapnya kan yang bakal didapet si pelanggan itu apa aja.

Kalau kaya begini, menurut saya bukan infonya yang abu-abu, tapi malah gak lengkap. Karena mereka cuma menjelaskan foto 25x + 4x dicetak 5R + 1x dicetak 14R dan diframe + dapet CD foto. Mereka berasumsi pelanggannya akan mengerti CD foto yang didapet itu berisi hanya foto yang akan dicetak.

Guys, coba baca "Liburan Musim Dingin ke Jepang? Saya Mauu Melakukan 5 Aktivitas Wisata ini!" juga ya. Mohon bantuan untuk ngeshare postingan tersebut. Terima kasih ;)

Oh, ada 1 pelajaran lagi, jangan mengandalkan asumsi. Baik untuk kita maupun untuk si pelaku bisnis.

Eh, tapi beneran recommended banget loh ini MariPro buat hasil fotonya. Baguuusss… Adik ipar saya pun bilang begitu kan? heheh.

The Family Time

The big family time actually, hihi

Last weekend, my husband, Naia, and I were having a really good time with my husband’s family┬áfamily in Kebagusan.

All was started at Saturday morning when we attended the ceremony of my husband’s cousin’s proposal ~Sarah~. Even though my father-in-law was at Semarang that time, the rest of us could still be there with my husband as a driver ­čśŤ

~She looked so pretty in pink.

Sarah's Proposal
Sarah’s Proposal

Sunday morning, my father-in-law has already home and we all planned that in the evening, we would have a family picture at professional photo studio.

There is a sad funny story about having a family picture. The plan of having family picture was already a month, since my sister-in-law having her graduation ceremony.

My father-in-law could not attend the graduation, so he promised to my sister-in-law to having her picture with parents on the other day along with family picture. Then, my mother-in-law we started to plan on having family picture on the weekend and started to pick the best professional photo studio.

So, last week we were having ourselves dressed up and going to photo studio, ready to have photo shoots. But, we were already too late for the shoot, the photo studio was already closed and finally we all just eat some dinner, haha. Yea, my sister-in-law was a bit disappointed. It showed from her face.

But, last Sunday was a GREAT day.

There were some fruits that haven’t been eaten, so in the afternoon we were having “rujakan”. After that, my husband and I made some instant noodles for the whole family.

Then, in the evening, we, once again, all dressed up for the photo shoot. These time, we were did the photo shoot, yeay. It was a fun time to having the photo shoot. The photographer was funny and easy going. We were felt satisfied.

After that, we managed to go to have some dinner. My father-in-law have already decided where to go, Margocity. Yap, we have some dinner at Margocity, yeay.

Having “rujakan”, instant noodles together, photo shoot, and some dinner. What a great weekend.┬á­čśÇ

~waw, writing in English is quite difficult now. I do really need to practice more.

PLN Penerang Nusantara

Pada tahun 2010, saya pernah membaca CEO notes pak Dahlan Iskan yang berjudul “Resiko Dihujat” ketika beliau masih menjabat sebagai Dirut PLN.┬áYang paling tertanam saat itu ialah ceritanya mengenai┬ápetugas yang sedang memulihkan tiang listrik di bibir jurang yang dalam di tengah kegelapan malam yang berhujan.

Oke, mungkin gambarnya gak pas ya, hehe ­čśŤ

Kala itu, setiap di rumah saya terjadi pemadaman (kalau kata kami sih mati lampu :D), kami sekeluarga hanya bisa menghujat PLN. Tidak puas dengan hanya menghujat, kami pun selalu menghubungi PLN meminta kejelasan kenapa terjadi pemadaman dan sampai kapan pemadaman akan berlangsung.

Saat itu sama sekali tidak terbersit dalam benak saya bahwa mungkin saja terjadi kerusakan yang sangat sulit diperbaiki atau bahwa mungkin saja di luar sana petugas PLN sedang berupaya sekuat tenaga dan bersusah payah memperbaiki kerusakan yang ada.

Sejak membaca postingan tersebut, saya langsung merasa bersalah dan berpikir apabila yang sedang memperbaiki listrik di tepi jurang yang dalam dan di tengah hujan lebat seperti itu adalah keluarga saya, betapa sedih dan terharunya saya. Dan saya pastinya tidak akan serta merta menyalahkan dan menghujat PLN setiap kali ada pemadaman.

Ada satu lagi yang teringat juga sampai sekarang, yaitu semangat pak Dahlan Iskan dalam membuat PLN lebih terkenal dari Bandara Soekarno-Hatta.

Saya harus membuat PLN lebih terkenal daripada bandara Soekarno-Hatta. Dengan demikian kalau suatu saat ada mati lampu lagi di Bandara Soekarno-Hatta, orang tidak lagi menghujat PLN.

Dahlan Iskan

Dalam benak saya, terkenal di sini bukanlah sekedar terkenal, namun terkenal karena PLN berhasil bangkit dan menjadi perusahaan BUMN yang bersih dari korupsi serta kinerjanya sangat cemerlang.

Ya, semangat membara seperti itu tercermin dari tulisan dan hasil kerjanya.

Beliau menjadikan tulisannya sebagai bahan renungan dalam pedoman perilaku yang digunakan untuk dokumen pendukung diterapkannya Good Corporate Governance (GCG).

Bebaskan Indonesia dari kegelapan,

Bebaskan konsumen dari keluhan,

Bebaskan warga PLN dari cap yang hina ini:

Cap sebagai sarang korupsi

Cap sebagai pengemis subsidi

Penghisap uang negeri

Dahlan Iskan

GCG merupakan tata kelola suatu perusahaan secara baik. Dengan kata lain, GCG merupakan sistem dan cara suatu perusahaan dikelola dengan benar dan bersih. Sistem tersebut menyangkut berbagai aspek dan merupakan salah satu upaya dalam menjadikan perusahaan bebas dari korupsi.

Sampai saat ini, upaya PLN dalam menerapkan GCG sudah cukup baik dan transparan. Bukti ketransparanannya adalah disebarkannya dokumen-dokumen pendukung GCG dalam situsnya: http://www.pln.co.id/?p=6498. Dengan begitu, yang menjadi pengawas dalam penerapan GCG nantinya bukan hanya jajaran direksi PLN sendiri, melainkan semua yang membaca serta yang mempelajari dokumen tersebut.

Harapan saya? Pasti ada, apalagi untuk pemasok listrik negara seperti PLN ini. Namun, harapan saya tidaklah secemerlang harapan pak Dahlan Iskan juga bukanlah harapan yang muluk-muluk. Saya hanya berharap agar komitmen serta semangat PLN dalam menerapkan GCG akan terus terjaga. Jajaran direksi, staff, serta karyawannya dapat bertindak sesuai dengan pedoman perilaku yang telah dibuat dan disepakati.

Dan, saya juga terus berharap agar lebih banyak lagi karyawan-karyawan serta pemimpin-pemimpin berdedikasi seperti petugas yang memulihkan tiang listrik di bibir jurang yang dalam di tengah malam yang berhujan tersebut dan seperti pak Dahlan Iskan selaku mantan Dirut PLN.

Yap, harapan tersebut saya buat agar PLN┬ádapat terus menjadi penerang nusantara kita ini dan menjadi sumber pelita di tengah kegelapan negeri ini ­čÖé

Kangen Bacain Blog Ilmanakbar

Heheh, kebangun malem2 gini tiba-tiba kepikiran buat baca blog suami tentang ulang tahunnya ke 22 pada tahun 2010 dulu :p

Dan sekarang entah kenapa dia jadi sangat jarang ngeblog. Saya tiba-tiba pula kangen baca tulisan-tulisan ringannya lewat blog.

Padahal tadinya suami saya itu berkecimpung dalam hal tulis-menulis. Bahkan pernah sampai jadi penulis di Penn Olson dan freelancer advertorialnya Detik.

Ah, betapa kangennya saya dengan hobinya yang satu itu.
Ayo donk Ilmanakbar, tulis menulis lagi, setidaknya lebih rajin lagi ngeblognya. Hobi saya yang satu (ngeblog) itu kan ditularkan olehmu.

Ah, saya juga tiba-tiba jadi berharap semoga dirimu menjadi penulis besar, membuat beberapa buku yang menginspirasi, serta membangun bisnis di bidang tulis menulis. *harapan seorang istri, semoga bisa menjadi kenyataan, heheh. Amiiiin*

Padahal waktu itu saya juga ya yang memanas-manasi dirimu untuk bisa bersekolah lagi :p

Teether Naia

Jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu ~yah, kira-kira waktu Naia masuk umur 4 bulan lah ya~ Naia udah sering banget jilat-jilatin gusinya. Kita (saya dan suami) pikir sih gusinya udah gatel, yaudah kita beliin teether deh.

Teether
Teether

Yaa lumayan sih, bisa digigit-gigit dan agak awet. Naia cukup seneng gigit-gigit teether yang kita beliin.

Nah, tapiii begitu udah bisa ngangsur ~apa ya bahasa bagusnya? merayap? *jadi kaya cicek*~ dia jadi ngejar apapun yang bunyi, sebut saja plastik ­čśŤ Selain ngejar yang berbunyi, dia juga ngejar yang warnanya mencolok ~merah terang, biru terang, kuning, dsb~ dan paling sering ngemut-ngemut kain juga. Walhasil teether yang waktu itu kita beliin jadi ga kepake, hiks.

Waktu pertama kali bisa maju aja diumpaninnya pake beng-beng, hadeuh *tepok jidat*.

Yaudah, saya punya ide buat beliin teether yang kaya bahan tapi bunyinya kaya plastik. Terus iseng browsing, nemu ini deh:

Bookteether
Bookteether

Bookteether yang dalemnya ada plastiknya, jadi bisa mancing pake bunyi2an plastik. Plus, dalemnya juga ada mainan bunyi2an. Jadi, 1 alat bisa jadi teether, bunyi kaya plastik, bunyi mainannya, bisa diunyel-unyel *unyel-unyel apa dah* kaya bahan dan bisa dibaca juga ­čśÇ

Hihi, pas dibeliin dia nafsu banget ngejar ituh bookteether, seneng deh. Tapi, namanya anak kecil dan rasa ingin tahu Naia yang besar, dia jadi cepet bosen dan akhirnya tetep ngejar yang lain, hahaha.

Oh, ada 1 cerita lagi. Waktu di priuk, Naia terlihat bersemangat banget ngeliat gantungan kunci beserta kuncinya yang rame pas diunjukin di depan mukanya. Dia pengen ngeraih2 gitu. Akhirnya, sekalian beli bookteether tadi, saya juga beli yang kaya gantungan kunci juga deh kaya gini:

Teether Gantungan Kunci
Teether Gantungan Kunci

Heheheh, dasar ya orang tua, seneng aja beliin mainan buat anaknya ­čśÇ

Daan sekarang hobinya Naia adalah menjelajah rumah ­čśŤ

Udah pernah matiin kipas angin, udah pernah jatohin tas2 bahan, dan udah pernah juga masuk kolong box bayi, hihi.

Matiin Kipas Angin
Matiin Kipas Angin
Masuk Kolong Box
Masuk Kolong Box

Etapi gak segitu dianggurinnya ko si bookteether dan si gantungan kunci mainan itu. Kalo lagi pengen diem aja dan cuma gapai2 doank sambil tiduran, dia biasanya ngemut-ngemut atau gigit-gigit tuh teether.

Dan sekarang-sekarang kalo cuma gatel gusi aja ~lagi capek menjelajah rumah~ dia juga masih mau mainan teether yang dulu ko, hihi.  Jadi punya banyak teether dah ini si Naia, bisa milih lagi pengen yang mana ^^

Sehat terus ya Naiaaa :*

Naia Sehat Yaa :*
Naia Sehat Yaa :*